BETANEWS.ID, KUDUS – Empat menara dengan kombinasi warna putih dan hijau terlihat mengapit sebuah kubah Masjid Jami’ Nganguk Wali, di Desa Nganguk, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Kubah yang warnanya senada dengan empat menara itu tampak terdapat tulisan Allah di atasnya. Di sebelahnya, terlihat atap masjid limasan yang masih berupa atap sirap lengkap dengan mustaka yang terbuat dari tanah liat. Dua benda tersebut merupakan bagian yang masih dipertahankan hingga sekarang.
Sambil berdiri di atas cor dak Masjid Jami’ Nganguk Wali, Abdul Rahmat Nur (42) juru pelihara masjid tersebut memberi penjelasan kepasa betanews.id. Dia mengatakan, Masjid Jami’ Nganguk Wali merupakan bagian dari cagar budaya Kabupaten Kudus. Oleh sebab itu, harus ada bagian yang dipertahankan keasliannya.

“Di Masjid Jami’ Nganguk Wali ini ada sekitar enam bagian yang masih dipertahankan. Bagian tersebut tidak diganti atau masih asli sejak zaman para wali hingga sekarang,” jelas pria yang akrab disapa Rahmat, Jumat (24/4/2020).
Pria yang juga warga Desa Nganguk, Kecamatan Kota, Kudus itu pun kemudian merinci satu persatu bagian tersebut. Dari atas tuturnya bagian yang dipertahankan yakni mustaka dari tanah liat. Terbuat dari tanah liat itu filosofinya agar setiap manusia selalu ingat. Bahwa setiap manusia hidup kelak akan meninggal. Serta menyatu dan kembali ke tanah.
Baca juga : Menyusuri Sejarah Berdirinya Masjid Jami’ Nganguk Wali
Di mustaka itu, lanjutnya, siripnya berbentuk daun kluweh. Punya filosofi saat manusia punya harta melimpah hendaknya bersedekah pada sesama. “Daun kluweh itu maksutnya kalau punya harta luweh – luweh sodakohlah pada orang lain,” ujarnya sambil menunjuk bagian yang dimaksut.
Di atas daun kluweh tambahnya, berbentuk burung rajawali tapi menunduk. Filosofinya itu setinggi apa pun kedudukan dan derajat manusia hendaknya tetap tawaduk. Jangan congkak dan sombong. Sedangkan bentuk gada di bagian atas mustaka menandakan bahwa masjid itu peninggalan orang Arab.
“Di bagian atas, selain mustaka juga ada genteng sirap yang masih dipertahankan keasliannya. Genteng sirap itu terbuat dari tanah liat dan dibuat tangan oleh orang zaman dulu. Kalau istilah sekarang itu handmade,” jelas Rahmat sambil menyeka keringatnya.
Setelah selesai menjelaskan, Rahmat pun mengajak turun dan langsung menuju ruang utama masjid. Di situ, dia menunjukan 16 tiang masjid yang masih posisi tiang masih tetap sama sejak dulu. Hanya ketinggian tiang yang diubah. Kemudian dia pun menunjuk angka Arab di atas mihrab masjid.
“Angka itu kayaknya prasasti tahun pertama Masjid Jami’ Nganguk Wali dipugar,” ujarnya.
Rahmat pun kemudian mengajak ke tempat wudlu. Di tempat bersuci itu dia menunjukan jemblok di dalam tanah yang berisi air. Jemblok atau gentong besar itu juga masih terjaga keasliannya sejak zaman wali.
Baca juga : Jelang Ramadan, Penjual Bunga di Kudus Laris Manis
“Ayo lanjut keluar, di luar tempat wudlu ini ada sumur air penguripan peninggalan wali,” tuturnya sambil berjalan keluar dan berhenti di samping sumur yang di pagar besi.
Dia mengatakan, sumur tersebut bentuknya juga masih dipertahankan dari dulu hingga sekarang. Sumur tersebut berbentuk kotak dan airnya masih dipercaya masyarakat sekitar mengandung berkah para wali.
Berkah yang dipercaya antara lain untuk obat segala penyakit. Ada yang dibuat memandikan motor dan mobil baru agar selamat. Serta masyarakat juga masih menjaga tradisi membawa nasi dan ayam ingkung untuk didoakan di samping sumur agar dapat berkah wali.
“Itu bagi yang percaya ya, dan warga tetap yakin dan percaya bahwa Allah yang menentukan. Kita hanya menjaga tradisi yang diwariskan leluhur,” pungkasnya.
Editor : Kholistiono

