Beranda blog Halaman 1853

Bebaskan Retribusi Pasar, Dinas Perdagangan Rela Kehilangan Rp 6 Miliar

0
Beberapa pengguna jalan tampak melewati Pasar Bitingan, Rabu (28/4/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pembebasan Restribusi pasar selama tiga bulan membuat Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus merelakan pendapatan mencapai Rp 6 miliar.

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sudiharti mengatakan, pembebasan restribusi dilakukan dalam kondisi darurat. Menurutnya, di tengah pandemi Covid-19, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus harus membantu para pedagang.

“Karena kondisi darurat,‎ jadi tidak perlu Peraturan Bupati (Perbup), hanya butuh persetujuan dari Bupati Kudus dan anggota dewan,” jelasnya saat peninjauan di Pasar Kliwon Kudus, Kamis (30/4/2020).

Dia menjelaskan, pembebasan restribusi pasar dimulainya dari April hingga Juni 2020 mendatang. Pembebasan restribusi  hanya diperuntukkan bagi pedagang pasar tradisional.

“Biasanya retribusi ditarik setiap akhir bulan, tetapi ‎mulai bulan ini sudah tidak ditarik,” ungkapnya.

Baca juga: Pemkab Kudus Gratiskan Retribusi Pasar Selama Tiga Bulan

Pembebasan retribusi selama tiga bulan, menurutnya dapat diperpanjang sesuai situasi pagebluk. Pihaknya juga akan merevisi APBD perubahan 2020, yang semula dalam satu tahun pendapatannya Rp 15 miliar turun menjadi Rp 9 miliar.

“Penurunan sampai Rp 6 miliar, nanti kami revisi target pendapatan di sektor retribusi pasar,” ujarnya.

Kendati demikian, pedagang tetap harus membayar Pemakaian Kekayaan Daerah (PKD) yang dihitung berdasarkan luasan ruko, los dan kiosnya. PKD dibayarkan satu kali dalam setahun.

“Restribusi berbeda dengan PKD. Restribusi sebulan sekali. Jika PKD bayarnya setahun sekali,” tutupnya.

Baca juga: Pasar Juwana Sepi, Pedagang Minta Keringanan Bayar Retribusi

Terpisah, Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kabupaten Kudus Eko Djumartono ‎menuturkan, pandemi Covid-19 mempengaruhi pendapatan asli daerah (PAD).

Dia berasumsi, jika pandemi berlangsung hingga Juni 2020, akan menurunkan pendapatan hingga Rp 35 miliar.

Adapun pendapatan yang paling besar yakni dari sektor pajak hotel dan restoran. Namun, saat ini sektor tersebut dalam kondisi terpuruk. Menurutnya, target PAD tahun 2020 dari sektor pajak sebesar Rp 138 miliar.

“Itu asumsi jika dihitung sampai bulan Juni 2020. Jika ternyata lebih, diprediksi akan bertambah penurunannya,” tutup Eko.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Tetap Jalani Puasa saat Mengais Rezeki Meski Bekerja di Bawah Terik Matahari

0
Meski bekerja berpanas-panasan, namun salah satu kuli pengambil melon ini tetap jalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu, Rabu (29/4/2020) sinar matahari begitu terik di persawahan Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Di salah satu sawah terlihat seorang pria paruh baya memakai kaus serta topi terlihat memasukan satu persatu buah melon ke keranjang. Setelah dua keranjang penuh, pria tersebut kemudian memikulnya hingga ke tepi jalan. Pria itu yakni Hasim (54), yang tetap puasa Ramadan di sela kerja jadi tukang panggul melon.

Seusai menumpahkan melon yang dipikulnya di atas terpal pinggir jalan, sambil istirahat Hasim pun sudi memberi penjelasan. Menurutnya, sebagai seorang muslim menjalankan puasa merupakan kewajiban. Meski harus melakukan pekerjaan yang berat, dia tetap berusaha agar puasa yang dijalaninya tidak sampai batal.

Beberapa pekerja terlihat sedang memetik buah melon di ladang. Foto : Rabu Sipan

“Puasa itu wajib. Namun kerja cari nafkah untuk anak istri juga kewajiban. Berarti sama – sama penting, jadi harus dijalani semua,” kata Hasim kepada betanews.id.

Baca juga : Agus Kewalahan Penuhi Permintaan Melon yang Meningkat Drastis saat Ramadan

Hal senada juga diungkapkan rekan Hasim sesama kuli panggul melon dari sawah yakni Kismono. Pria yang mengenakan topi dirangkapi telapak meja untuk menghalau panas itu mengatakan, selama ini belum pernah batal buasa di sela menjalani pekerjaan jadi kuli di sawah.

Menurutnya, sayang saja bila puasa yang dijalaninya tidak penuh sebulan. Oleh sebab itu, seberat apa pun pekerjaannya, dia berusaha sebisa mungkin untuk tetap berpuasa. Kecuali kalau badan lagi sakit, soalnya orang sakit kan tidak wajib untuk berpuasa.

“Karena menurut saya, menjalankan puasa Ramadan dan cari nafkah buat keluarga itu sama – sama wajib dan dapat pahala. Kalau ditinggal salah satu, lha itu nanti malah kita berdosa,” ujarnya.

Pria yang berasal dari kecamatan yang sama dengan Hasim itu menuturkan, sudah terbiasa kerja berat sambil puasa. Antara lain, puasa sambil kerja bangunan, berpuasa sambil kerja memanen padi. Serta berpuasa sambil kerja memanen semangka atau pun melon.

Baca juga : Meski Pernah Rugi Puluhan Juta, Priyo Tak Patah Semangat jadi Penebas Kencur

Dia mengaku, memanen buah melon dari sawah diupah secara borongan. Untuk panen satu truk melon dibayar sama penebas yang mempekerjakannya sebesar Rp 1 juta. Uang tersebut kemudian dibagi rata lima orang.

Berarti, kata dia, upah yang diterimanya sekitar Rp 200 ribu. Dengan luas sawah setengah bahu, serta posisi sawah dekat jalan, perkiraan proses panen melon ini selesai pukul 13.00 WIB.

“Untuk menyelesaikan proses memanen melon ini, aku dan teman saya bisa bolak balik memikul melon hingga puluhan kali. dengan berat dua keranjang berisi penuh melon sekitar 60 kilogram,” kata Kismono.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jateng Raih Penghargaan Pembangunan Daerah Terbaik 2020

0
Gubernur Ganjar Pranowo menghadiri Pengarahan Bapak Presiden RI melalui Video Conference pada acara Pembukaan Musrenbangnas 2020 di Ruang Rapat Gd A Lt 2. Kamis (30/4/2020) Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Provinsi Jawa Tengah dinobatkan jadi yang terbaik dalam Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) tahun 2020 yang diselenggarakan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas.

Selain Jawa Tengah, dua daerahnya juga menjadi yang terbaik di kategori masing-masing. Kabupaten Temanggung menjadi terbaik pertama kategori perencanaan pembangunan tingkat kabupaten dan Kota Semarang menjadi terbaik pertama kategori kota.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa  Suharso mengatakan, Jawa Tengah dinilai terbaik dalam perencanaan pembangunan daerahnya karena inovasi dan capaian yang dihasilkan. Beberapa program unggulan yang menjadikan Jateng terbaik seperti Satu OPD Satu Desa Binaan, program sekolah tanpa sekat, rumah sakit tanpa dinding dan rescue bencana dan beberapa program lainnya.

Peringkat kedua dalam penghargaan ini diraih Provinsi Jawa Timur dan peringkat ketiga diraih Provinsi Bengkulu.

“Penghargaan ini kami berikan sebagai apresiasi keberhasilan daerah atas capaian yang dilakukan. Kami harap, penghargaan ini dapat memotivasi daerah lain untuk meningkatkan kualitas perencanaan dan pembangunan di daerah,” katanya dalam penganugerahan yang dilakukan bersamaan dengan rapat virtual Musrenbangnas 2020, Kamis (30/4/2020).

Baca juga: Napi dan Tahanan di Jateng Produksi APD untuk Bantu Tenaga Medis

Menurutnya, penilain penghargaan tahun ini dilakukan dengan cara berbeda. Karena adanya wabah covid-19, penilaian tidak dilakukan dengan kunjungan langsung ke lapangan.

“Selamat kepada para pemenang, semoga ini semakin membuat perencanaan ke depan lebih baik lagi,” tambah Suharso.

Di sisi lain, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku sangat bangga atas capaian itu. Apalagi secara level, Jawa Tengah mencetak hattrick karena menyabet semua penghargaan, baik di tingkat Kabupaten, Kota maupun Provinsi.

“Saya terima kasih pada kawan-kawan ASN yang bekerja luar biasa, kawan-kawan kelompol lain yang membantu serta partisipasi masyarakat dan perguruan tinggi. Ini kado bagus, tapi bukan terus membuat kita sombong, justru menjadi beban berat untuk kita merencanakan lebih baik lagi,” ucapnya.

Baca juga: Pemerintah Diminta Potong Total Pendapatan ASN Hingga 50 Persen

Ganjar juga mengapresiasi kinerja Bupati Temanggung dan Wali Kota Semarang yang telah berhasil membuat perencanaan pembangunan terbaiknya. Menurutnya, kedua pemimpin daerah itu hebat dan patut dicontoh.

“Yang harus dilakukan adalah menjaga agar lebih substantif dan lebih responsif lagi ke depan. Perencanaan akan lebih bisa diprediksi, dapat diperhitungkan dan menyangkut banyak sektor, sehingga kalau meleset tidak terlalu jauh kecuali saat adanya pandemi seperti ini,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

PPAT dan Notaris Berikan Bantuan Sembako dan APD

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menerima bantuan dari perwakilan PPAT dan Notaris di Jateng. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pengurus Wilayah (Pengwil) Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) Jawa Tengah dan Ikatan Notaris Indonesia (INI) Provinsi Jawa Tengah memberikan bantuan kepada pemerintah untuk atasi pandemi Covid-19. Para notaris dan pejabat pembuat akta tanah itu memberikan bantuan berupa sembilan bahan pokok (sembako). Kemudian, ada juga bantuan alat kesehatan untuk tenaga medis.

“Selain alat kesehatan seperti alat pelindung diri (APD), masker, handsanitizer, disinfektak, sabun antiseptik dan sarung tangan, kami juga memberikan bantuan sembako. Ada beras sebanyak 2,5 ton, minyak goreng 750 liter, gula pasir 750 kg dan mie telur 750 bungkus,” ujar Wakil Ketua Pengwil IPPAT Jateng, Ahmad Nasir.

Meskipun tidak banyak, namun bantuan itu lanjut Nasir diharapkan mampu membantu pemerintah dalam penanganan wabah Covid-19. Pihaknya mengatakan, bahwa seluruh pengurus daerah IPPAT di 35 kabupaten/kota di Jateng juga sudah melakukan bakti sosial yang sama.

“Sebenarnya kami rutin menggelar bakti sosial, tidak hanya saat musibah. Biasanya saat Ramadan, kami juga menggelar baksos Ramadan. Tapi karena sekarang sedang wabah Covid-19, bantuan kami alihkan untuk membantu pemerintah dalam menanggulangi pandemi ini,” tutupnya.

Baca juga : Jemaah Masjid Agung Semarang Dapat Bantuan Sembako dari Pemprov Jateng

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang menerima langsung bantuan mengucapkan banyak terima kasih. Menurutnya, semua bantuan dari masyarakat sangat membantu percepatan penanganan Covid-19.

“Mewakili masyarakat Jateng, kami ucapkan terima kasih kepada seluruh kawan-kawan dari PPAT dan notaris ini. Bantuan ini sangat membantu, akan segera kami distribusikan kepada masyarakat,” kata Ganjar.

Menurut Ganjar, penanganan Covid-19 di Jawa Tengah masih terkendali. Meskipun, pergolakan di luar masalah kesehatan masih cukup besar.

Baca juga : Jateng Dapat Bantuan 50 Ribu Reagen, Tes Swab Kini Bisa Lebih Cepat

“Banyak masyarakat yang di PHK, perusahaan banyak yang tidak kuat sehingga terpaksa merumahkan karyawan. Ini semua harus kita pikirkan bersama-sama dengan cara gotong royong. Saya senang, gotong royong di Jateng berjalan bagus sehingga banyak yang membantu untuk menyelesaikan masalah ini bersama-sama,” tegasnya.

Ganjar juga mengajak semua masyarakat untuk sadar akan pentingnya mematuhi peraturan dan protokol kesehatan. Semua pihak termasuk IPPAT dan INI juga diminta aktif berpartisipasi dalam mengedukasi masyarakat.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Harga Mulai Rp 85 Ribuan, Dadiwae Jadi Solusi Cetak Kaus Hasil Desain Sendiri

0
Pemilik toko dan sablon kaos Dadiwae Jatra Palepati (38) sedang mengerjakan pesanan kaos. Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, PATI – Suasana asri begitu terasa di Perumahan Rendole, Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati. Beberapa orang tampak sedang berbincang-bincang di depan sebuah rumah yang dijadikan toko pakaian.

Masuk ke dalam toko, tampak beberapa aktivitas pengelola yang sedang mengerjakan pesanan, seperti kaus, tas, dan topi beraneka ragam warna. Salah satunya adalah Jatra Palepati (38), pemilik toko dan sablon kaus Dadiwae.

Beberapa orang tampak sedang berbincang-bincang di depan toko Dadiwae. FOto: Titis Widjayanti.

Pria yang akrab disapa Attakk itu menjelaskan, setahun terakhir ini, dia sedang fokus menggarap bisnis kaus cetak digital. Menurutnya, metode pembuatan kaus seperti ini lebih memungkinkan seseorang untuk membuat kaus satuan.

“Sebelumnya juga menggeluti bidang yang sama, tapi yang manual. Basicnya dari sana, ini istilahnya pengembangan, lah,” papar lelaki berrambut gondrong itu, Kamis (16/4/2020).

Baca juga: Roemah Goegah Luncurkan Program Donasi Beras Lewat Beli Kaos

Meski mengedepankan cetak digital, pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk menerima pesanan dengan teknik manual. Sedangkan untuk harganya, Dadiwae mematok harga mulai Rp 85 ribu sampai Rp 105 ribu.

“Bedanya, sablon manual itu biasanya dikerjakan untuk pesanan partai besar. Karena cetakan dan modalnya itu biar cucuk (impas),” bebernya.

Kalau pakai digital, lanjut dia, lebih pada pilihan pelanggan yang minta satuan. Selain itu, pelanggan juga bebas mendesain sendiri kaus impiannya. Bahkan misal satu lusin dengan kaus warna-warni juga bisa dikerjakan. Namun kalau berbicara industri, sablon manual akan lebih menguntungkan daripada yang digital.

“Kalau kaus yang istilahnya orang mau buat dengan design limited atau berbeda dan nggak buat partai besar, ya ke sablon digital. Meskipun secara kualitas sama saja, nggak bisa diomongkan lebih bagus yang mana. Nah, di Dadiwae memang lebih ke komoditas pasar yang digital. Makanya kita menerima sablon kaus atau topi yang satuan,” tutup Attakk.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Ganjar Minta Buruh Tak Buat Kerumunan Massa saat May Day

0
Gubernur Ganjar Pranowo menghadiri Pengarahan Bapak Presiden RI melalui Video Conference pada acara Pembukaan Musrenbangnas 2020 di Ruang Rapat Gd A Lt 2. Kamis (30/4/2020) Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta para buruh tidak membuat kerumunan massa saat memperingati Hari Buruh atau May Day, besok (1/5/2020).

Menurut Ganjar, di tengah wabah Covid-19, perayaan May Day harus berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Perayaan Hari Buruh bisa dilakukan dengan cara lain atau dengan sesuatu yang kreatif.

“Saya berharap teman-teman buruh merayakan May Day dengan sesuatu yang kreatif. Tolong jangan mengumpulkan massa yang banyak, karena itu bahaya,” katanya usai rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo, Kamis (30/4/2020).

Baca juga: Kesadaran Sangat Rendah, Ganjar Minta Pemkot Semarang Tegas Terapkan PKM

Ganjar lantas mengusulkan perayaan May Day dapat dilakukan secara virtual. Apabila ada tuntutan yang ingin disampaikan pada pemerintah, maka bisa dilakukan secara tertulis atau audiensi perwakilan buruh.

“Kemarin perwakilan federasi buruh sudah menyampaikan pada kami dan menyampaikan beberapa tuntutan. Kalau memang masih ada tuntutan, silahkan sampaikan dengan surat atau lainnya,” tambahnya.

Lagipula, jika buruh ingin menyuarakan soal Omnibus Law, lanjut Ganjar, pembahasan terkait itu sudah ditunda oleh pemerintah.

Baca juga: Jika Warga Tak Disiplin, Semarang Berpotensi Jadi Episentrum Baru Covid-19

“Jadi buruh bisa tenang. Kemungkinan isu yang agak aktual soal Tunjangan Hari Raya (THR) atau kondisi ekonomi hari ini. Maka lebih baik besok dirayakan tanpa berkerumun dan saya mengajak para perusahaan untuk bersama kami membantu buruh. Minimal, sebulan di bulan Ramadan ini logistik rumah tangga mereka aman,” katanya.

Di sisi lain, pihaknya juga akan memberikan bantuan kepada buruh yang diPHK atau dirumahkan sejak adanya Covid-19. Bantuan itu diberikan sebagai bentuk kepedulian kepada mereka.

“Kami dari Pemprov Jateng besok akan mendatangi empat tempat, yakni Kota Semarang, Grobogan, Boyolali dan Demak. Ini bentuk bantuan pada mereka yang sedang nyandang susah (kesulitan). Mudah-mudahan bisa meringankan beban kawan-kawan kami,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Sa’ad Harus Berangkat Jam 8 Malam Agar Bisa Dapat Tempat Berjualan di Pasar Bitingan

0
Para pedagang di Pasar Bitingan, Kudus, kini menempati jalan dengan diatur jaraknya. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Pedagang sayur di Pasar Bitingan terlihat sibuk melayani para pembeli. Selain di pelataran pasar Bitingan, mereka juga menggelar lapak di sepanjang Jalan Mayor Basuno dan jalur lambat samping Kudus Extension Mall.

Menurut Noor Sa’ad (45), satu di antara pedagang, dia sebelumnya menempati pelataran Pasar Bitingan. Karena Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus melakukan penataan ulang, pihaknya harus pindah ke jalan raya.”Iya tidak apa-apa. Untuk mencegah Covid-19,” ungkapnya, Kamis (30/4).

Suasana jalan di kawasan Pasar Bitingan sejak diterapkannya jaga jarak antarpedagang. Foto : Imam Arwindra

Menurutnya, agar mendapatkan lapak, dirinya harus datang lebih awal, yakni sekitar jam 08.00 malam. Noor merasa, sosialisasi penataan pasar di masa Covid-19 dari dinas kurang. Sehingga masih banyak yang bingung.

Baca juga : Mulai Besok, Jalan Mayor Basuno Akan Ditempati Pedagang Pasar Bitingan

Selain itu, di hari pertama pemberlakuan lapak di jalan raya menurutnya masih banyak yang kosong. Dia menunjukkan, banyak lapak di sisi barat perempatan Pasar Bitingan kosong.

“Itu loh, lapaknya yang sudah dikasih garis-garis putih. Jadi dikasih jarak 1,5 meter,” jelas pedagang cabai asal Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kudus.

Sementara itu, Kepala Bidang Pasar pada Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Albertus Haris Yunanto mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi terkait penataan lapak pedagang sayur di Pasar Bitingan. Selain melakukan sosialisasi, dirinya juga sudah membuat sket tanda di sepanjang Jalan Mayor Basuno.

“Tandanya sudah jadi. Jadi antara pedagang dikasih jarak 1,5 meter,” tuturnya.

Haris menjelaskan, dalam menghadapi pandemi Covid-19, Pemerintah Kabupaten Kudus membuat kebijakan menata ulang lapak Pasar Bitingan.

Hal tersebut untuk menerapkan physical distancing supaya bisa membatasi penyebaran Virus Corona. Menurutnya, selain pelataran Pasar Bitingan, pihaknya juga menggunakan jalan lambat samping Kudus Extension Mall dan Jalan Mayor Basuno. “Untuk Jalan Mayor Basuno itu sampai jembatan Ploso,” imbuhnya.

Menurutnya dalam proses pembagiannya, Haris memberlakukan first come, first serve. Artinya, siapa yang datang lebih awal dapat menentukan lokasi terlebih dahulu.

Menurutnya, jumlah pedagang sayur yang akan menempati lokasi sekitar 300 orang. Pedagang diberikan waktu dari jam 22.00 WIB hingga jam 7.00 pagi.

Baca juga : Berlakukan Jaga Jarak, Pedagang di Pasar Bintoro Demak Pindah ke Tengah Jalan

Haris menjelaskan, Pasar Bitingan termasuk pasar 24 jam. Menurutnya, mulai pukul 10.00 malam hingga 07.00 pagi akan digunakan pedagang sayur. Selanjutnya, pukul 07.00 hingga siang juga digunakan pedagang sayur dan PKL. Sedangkan pada pukul 05.00 sore sampai malam jam 10.00 digunakan pedagang pakaian.

“Untuk pedagang sayur pada malam hari jumlahnya lebih banyak. Selain itu, pembeli yang datang juga dari kabupaten sekitar. Datangnya pakai truk,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pemerintah Diminta Potong Total Pendapatan ASN Hingga 50 Persen

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menghadiri Pengarahan Bapak Presiden RI melalui Video Conference pada acara Pembukaan Musrenbangnas 2020 di Ruang Rapat Gd A Lt 2, Kamis (30/4/2020). Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Rapat terbatas tentang Musrenbangnas 2020 secara virtual, digelar pada Kamis (30/4/2020). Dalam rapat tersebut, hadir pula Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Ma’ruf Amin, jajaran menteri kabinet dan sejumlah kepala daerah, termasuk Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Pada kesempatan itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengusulkan kepada pemerintah pusat agar memotong pendapatan aparatur sipil negara (ASN) di tengah wabah Covid-19. Tak tanggung-tanggung, Ganjar mengusulkan pemotongan dilakukan sebanyak 50 persen dari total pendapatan para pegawai yang sudah menapaki golongan III ke atas.

“Saya minta ke pemerintah pusat, agar secara nasional tolong diperhitungkan. Seluruh pegawai kita minimal yang gradenya di atas atau sudah menduduki jabatan, pendapatannya dipotong 50 persen. Pendapatan lho, bukan gaji,” kata Ganjar.

Baca juga : Jika Warga Tak Disiplin, Semarang Berpotensi Jadi Episentrum Baru Covid-19

Pemotongan itu lanjut dia dirasa penting untuk menunjukkan sensitivitas pegawai pemerintahan kepada masyarakat. Mengingat saat ini, banyak masyarakat yang mengalami kesulitan akibat terdampak Covid-19.

“Para buruh di PHK, pekerja informal tidak bisa bekerja dan banyak lagi masyarakat yang mengalami kesulitan hidup akibat wabah pandemi ini. Mari kita ikut peduli, bahwa kita saat ini semua sedang dalam masa kesulitan,” imbuhnya.

Pemotongan pendapatan ASN di tengah wabah covid-19 seperti saat ini lanjut Ganjar dapat membantu meringankan beban negara. Apalagi lanjut dia, kondisi ekonomi Indonesia masih belum menentu tahun depan. Semuanya masih buram dan tidak dapat diperhitungkan.

“Gambarannya masih buram, ekonomi kita masih buram. Maka kalau itu (pendapatan ASN) bisa dipotong minimum 50 persen, akan bisa menunjukkan sensitivitas dan anggarannya bisa dialokasikan untuk merescue masyarakat kecil yang saat ini sangat membutuhkan,” tegasnya.

Baca juga : Kesadaran Sangat Rendah, Ganjar Minta Pemkot Semarang Tegas Terapkan PKM

Ganjar menegaskan, usulan itu tidak diperuntukkan bagi seluruh ASN di Indonesia. Mereka para ASN yang ada di golongan I atau II, harus tetap diberikan pendapatannya secara utuh.

“Yang harus dipotong saya kira yang sudah golongan III ke atas, apalagi mereka yang sudah menempati jabatan penting. Saya minta usulan ini benar-benar dipertimbangkan agar secara nasional kita aware terhadap persoalan ini,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kesadaran Sangat Rendah, Ganjar Minta Pemkot Semarang Tegas Terapkan PKM

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mengedukasi pedagang yang belum tertib mengikuti protokal PKM. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Kesadaran masyarakat untuk mendukung program Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) di Kota Semarang, sampai hari ke tiga ini masih sangat rendah.

Hal itu terlihat saat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ngabuburit sepedaan keliling Kota Semarang, Rabu (29/4/2020). Sambil menunggu waktu berbuka, Ganjar melihat secara langsung penerapan PKM di Kota Semarang.

Dalam pantauannya, Ganjar masih menemukan masyarakat berkerumun dan tidak memakai masker. Melihat itu, dia langsung mengedukasi mereka. Beberapa ada yang langsung paham dan mengiyakan, tapi ada juga yang ngeyel dan tetap tidak peduli meskipun ditegur.

Baca juga: Jika Warga Tak Disiplin, Semarang Berpotensi Jadi Episentrum Baru Covid-19

Maka dari itu, Ganjar berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bersama jajaran aparat penegak hukum untuk lebih tegas dalam penerapan PKM. Masyarakat yang kedapatan melanggar, harus ditindak tegas dan berani.

“Memang butuh tindakan lebih keras lagi, karena saya masih melihat banyak orang berkerumun. Penjual pembeli tidak ada jarak dan banyak yang tidak pakai masker. Saya minta Pemkot bersama kepolisian, Satpol PP dan TNI rutin melakukan patroli untuk mengingatkan itu. Kalau perlu, kami bantu dari tim Satpol PP pemprov untuk keliling agar masyarakat paham,” tegas Ganjar.

Dia berpesan, apabila saat patroli melihat ada kerumunan di warung-warung, rumah makan atau kafe yang tidak mempedulikan jaga jarak dan tidak memakai masker, Ganjar meminta menindak tegas untuk membubarkan.

Baca juga: Siap-Siap! Aturan Jarak Juga Akan Berlaku di Angkutan Umum

“Kalau mereka ngumpul jarak kurang dari satu meter bubarkan saja. Kalau itu ada di toko, warung makan, yang punya ditanya bisa ngatur tidak. Kalau tidak bisa langsung catet, kalau mereka tidak mau ngatur, langsung kasih peringatan besok ditutup,” kata Ganjar.

Tak hanya itu, Ganjar juga meminta aparat gabungan untuk rutin patroli sampai ke pelosok-pelosok kampung.

“Dirutinkan saja, biar ada gregetnya. Saya minta seminggu ini teman-teman makin keras, karena saya lihat banyak yang belum taat. Biar ada efek kejutnya,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Agus Kewalahan Penuhi Permintaan Melon yang Meningkat Drastis saat Ramadan

0
Buah melon yang ditebas oleh Agus dari salah satu ladang milik petani. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan melon tampak terkumpul beralaskan terpal biru di tepi jalan di Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Tampak beberapa pria memilah melon tersebut sesuai ukuran dan beratnya. Melon yang besarnya kurang sesuai harapan dinaikkan ke bak motor roda tiga. Sedangkan melon yang beratnya tiga kilogram ke atas akan dinaikan ke truk dan dikirim ke Jakarta.

Agus Muntaha (48), penebas buah melon tersebut mengatakan, saat Ramadan seperti ini permintaan buah melon meningkat. Dia mengaku, sampai kewalahan melayani permintaan para bakulnya di kota – kota besar. Bahkan tak jarang dia tak bisa memenuhi semua permintaan para bakulnya tersebut.

Agus Muntaha (kanan), penebas buah melon. Foto : Rabu Sipan

“Saya itu punya beberapa mitra bandar buah di kota-kota besar. Saat ini mereka minta dikirim melon semua. Padahal hari ini hanya memanen satu tempat di sini saja,” ujar pria yang akrab disapa Agus kepada betanews.id, Rabu (29/4/2020).

Baca juga : Meski Pernah Rugi Puluhan Juta, Priyo Tak Patah Semangat jadi Penebas Kencur

Sambil ikut menyortir melon yang dipanennya, Agus bersedia melanjutkan memberi keterangan. Dia menuturkan, membeli buah melon dari sawah milik warga Kudus secara borongan. Panenan melon seluas setengah bahu ia beli dengan harga Rp 35 juta.

“Semoga saja prediksi saya tepat. Dengan harga yang saya bayarkan, saya berharap panenan melon bisa mencapai 6 ton. Soalnya kalau kurang dari itu bisa rugi,” ujar pria warga Welahan, Jepara tersebut.

Hasil panen melon yang dibeli itu lanjutnya, dipisah antara berat yang lebih dari tiga kilogram serta yang kurang dari tiga kilogram. Melon yang beratnya kurang dari tiga kilogram dijualnya kepada bakul pengecer lokal. Sedangkan melon dengan berat tiga kilogram atau lebih dikirim ke bakul luar kota.

“Khususus untuk panenan melon ini yang besar – besar akan saya kirim ke Jakarta. Sebenarnya bakul di kota lain juga minta, tapi bagaimana lagi barangnya tidak ada. Kalau dibagi, nanti tekor diongkos kirim,” ungkapnya sambil mengambil handpone dari kantongnya karena ada telepon masuk.

Selain Jakarta tuturnya, juga punya bandar buah di kota lain, di antaranya, Bandung, Cibitung, Banten, Yogyakarta, Surabaya dan kota lainnya. Sedangkan untuk memenuhi permintaan, Agus terkadang harus rela keliling Jawa untuk cari panenan buah melon.

“Pokoknya kalau badan saya lagi fit, setiap hari saya itu ya cari di mana wilayah yang sedang panen melon. Dari Jawa Barat hingga Jawa Timur agar bisa nyuplai melon ke para mitra saya,” ungkapnya.

Pria yang sudah dikaruniai satu anak itu mengatakan, sudah menekuni pekerjaan jadi penebas melon sekitar 20 tahun. Awal kepincut dengan usaha sebagai penebas melon karena tergiur sama temannya yang lebih dulu sukses dengan usaha serupa.

Baca juga : Miris dengan Nasib Kopi Muria, Hikma Munculkan Brand Kopi Muria Wilhelmina

“Awal merintis dulu saya rekoso. Jualan melon keliling bawa motor pakai keranjang. Beli melon dari penebas yang sedang panen di sawah dan jualan keliling dari desa satu ke desa lain di Jepara,” ungkapnya sambil menyeka keringatnya.

Jualan keliling itu tambahnya ditekuni selama lima tahun. Setelah punya kenalan bandar buah di kota – kota besar, dia pun jadi penebas atau membeli melon langsung dari petani. Melon yang dibelinya itu kemudian dikirim kepada para bandar buah tersebut.

“Semoga saja usaha atau pekerjaan yang saya jalani ini makin lancar. Serta semoga untung terus,” harapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Berlakukan Jaga Jarak, Pedagang di Pasar Bintoro Demak Pindah ke Tengah Jalan

0
Pedagang di Pasar Bintoro Demak menempati lokasi di tengah jalan karena pemberlakuan jaga jarak. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Dua baliho peringatan pencegahan Virus Corona terpasang di pagar dekat pintu utama Pasar Bintoro Demak. Di baliho tertulis kalimat berbahasa Jawa yang bernada imbauan kepada pedagang yang berjualan di luar pasar, untuk menempati atau membuka dasaran di tempat yang disediakan Pemkab Demak. Mulai dari jalan depan pasar sampai jembatan Kracaan hingga jembatan Pecinan. Mulai Rabu (29/4/2020) pukul 01.00 WIB.

Para pedagang yang biasa menempati tepian jalan sepanjang pasar itu akhirnya berpindah ke tengah jalan. Mereka menempati di dalam garis kotak bercat warna kuning. Masing-masing kotak ukurannya sekitar 2 meter x 2 meter. Tercatat ada sekitar 110 kotak yang berada di sepanjang jalan depan gedung Pasar Bintoro.

Kondisi tersebut merupakan penerapan jaga jarak untuk para pedagang yang ada di pasar tersebut. Hal itu dilakukan dalam upaya untuk mengurangi kerumuman guna menekan persebaran Covid-19. Di pasar yang terletak di Jalan Sultan Patah Demak ini, pemberlakuan jaga jarak berlangsung sejak dua hari ini. Yakni dengan menempatkan pedagang di tengah jalan.

Baca juga : Mulai Besok, Jalan Mayor Basuno Akan Ditempati Pedagang Pasar Bitingan

Menurut Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Bintoro Demak, Abdul Fatah, penataan pedagang dengan menjaga jarak ini memang berdasarkan imbauan dari pemerintah daerah. Sebelumnya, para pedagang berjualan dengan cara saling berhimpitan satu sama lain. “Tujuannya untuk mengurangi penyebaran Covid-19,” kata Fatah, Kamis (30/4/2020).

Pemerintah daerah pun memanfaatkan badan jalan raya ini untuk dipakai para pedagang. Sehingga mereka tidak berdagang dengan berhimpitan. Dengan menempati garis kotak yang juga diberi nomor, jarak pedagang satu dengan lain sekitar 1,5 meter hingga 2 meter. Kebijakan pemerintah itu berdampak positif dalam bentuk pengurangan kerumunan. “Pedagang bisa menempati jalan raya dari jam 00.00-06.00 WIB,” imbuhnya.

Pembatasan jam beroperasi para pedagang bertujuan agar pengendara bisa kembali melintas di jalan raya tersebut. Bila stok dagangannya masih, pihaknya mempersilakan pedagang berpindah ke lapak yang berada di bagian dalam gedung pasar. Tepatnya di lantai 2. Dari pantauannya dalam dua hari terakhir, dia melihat tidak lagi dijumpati adanya aktivitas pedagang dan pembeli yang saling berdekatan saat transaksi. “Tidak ada lagi uyek-uyekan di situ lah, istilahnya,” beber Fatah.

Pedagang menempati garis kotak untuk berjualan. Dengan jumlah kotak ada 110. Bila pedagang tidak ada yang libur maka kotak akan terisi penuh. Di dalam pasar pun, terangnya, ada sekat yang dibuat untuk para pedagang. Sehingga jarak antar pedagang terlihat.

Fatah mewakili pedagang juga menuturkan, bahwa pihaknya amat setuju dengan kebijakan pemberlakuan pasar dengan menjaga jarak. Sebab hal itu bisa menjadi upaya untuk mencegah penyebaran virus Corona ini. Bahkan paguyuban tak bosan-bosan mengigatkan pedagang dan pembeli untuk mengenakan masker. “Ada imbauan dari Pak Gubernur, mulai tanggal 27 April kemarin, itu harus diwajibkan dengan membawa masker,” sambungnya.

Dengan demikian bila pihaknya menjumpai ada pedagang atau pembeli tidak mengenakan masker, maka akan diminta kembali ke rumah untuk membawa masker. “Karena itu sudah menjadi peraturan dan jadi kewajiban dari pedagang atau wakil pedagang,” jelas Fatah.

Baca juga : Siap-Siap! Aturan Jarak Juga Akan Berlaku di Angkutan Umum

Seorang pedagang yang berjualan di jalan, Sumarmi (60) mengaku berdagang di jalan raya tidak membuatnya kehilangan pelanggan. Sebab pelanggannya tetap bisa bisa mendapatkan barang yang dicarinya. “Inggih, laris. Alhamdulilah laris,” kata Sumarmi pedagang bawang merah dan cabai sembari sibuk melayani pelanggannya.

Kusri (52) pedagang lain di jalan raya, mengaku baru dua hari berjualan di tempat yang baru yakni di jalan raya. “Biasanya saya jualan di emperan atau di atas trotoar. Sekarang di jalan raya. Agak sepi ini karena jalannya kan ditutup,” ungkapnya.

Aktivitas pasar di jalan raya itu berlangsung hanya sampai pukul 06.00 WIB. Setelah itu, petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja meminta pedagang untuk berpindah. Mengingat jalan raya harus kembali dilintasi. Baik dari arah Kudus maupun dari arah Semarang.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jika Warga Tak Disiplin, Semarang Berpotensi Jadi Episentrum Baru Covid-19

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Kota Semarang bersama Surabaya dan Makassar berpotensi jadi episentrum baru kasus Covid-19 di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan oleh Juru Bicara Pemerintah Khusus Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, berdasarkan tingginya kasus positif di tiga daerah itu.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menanggapi serius pernyataan itu. Menurutnya, prediksi itu bisa saja terjadi kalau masyarakat Kota Semarang tidak bisa melakukan pengendalian, tidak bisa disiplin dan tidak bisa tertib. Ganjar mengakui, peningkatan jumlah kasus positif di Kota Semarang memang cukup tinggi.

“Kalau masyarakat tidak disiplin, bukan tidak mungkin Kota Semarang akan benar-benar menjadi episentrum baru,” kata dia, Kamis (30/4/2020).

Baca juga: Siap-Siap! Aturan Jarak Juga Akan Berlaku di Angkutan Umum

Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang sebenarnya sudah melakukan tindakan tegas dengan menerapkan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM).

Terkait keputusan Pemkot Semarang menerapkan PKM dan bukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti daerah zona merah lainnya, Ganjar mengatakan sebenarnya itu pada prinsipnya sama. PKM dan PSBB adalah soal ketertiban masyarakat.

“Kita belajar di PSBB Jabodetabek, mereka melakukan hal yang sama yakni pengetatan, tapi di daerah pinggiran masih ada kerumunan. Jadi intinya bukan PKM atau PSBB, tapi kesadaran dari masing-masing masyarakat untuk bisa mengerti, memahami dan disiplin jaga jarak, pakai masker, cuci tangan dan lainnya,” tegasnya.

Baca juga: Wilayah Jateng yang Masuk Zona Merah Diminta Segera Ambil Tindakan

Menurut Ganjar, jika kebijakan PKM yang diterapkan Kota Semarang tidak berhasil dan masyarakat tetap tidak disiplin, bukan tidak mungkin kebijakan PSBB akan diambil nantinya.

“Kalau sudah PSBB, semua pasti akan terasa sakit. Semuanya susah. Maka ayo jangan sampai kita menaikkan status menjadi PSBB dengan cara disiplin dan taat aturan,” pungkasnya.

Diketahui, Kota Semarang menjadi salah satu daerah di Jateng dengan kasus covid-19 tertinggi. Data dari laman siagacorona.semarangkota.go.id pada Kamis (30/4/2020), jumlah kasus positif di Kota Semarang mencapai 117 kasus, orang dalam pemantauan (ODP) 629 kasus, dan pasien dalam pengawasan (PDP) sebanyak 287.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Lulus Kuliah Angga Langsung Terjun di Bisnis Pengolahan Ikan Asap

0
Produksi pengasapan ikan di Desa Doropayung, Kecamatan Juwana, Pati. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, PATI – Bau khas ikan panggang sudah tercium ketika masuk beberapa meter ke wilayah Desa Doropayung, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Sekitar 100 meter dari gapura masuk, terlihat kepulan asap membumbung tinggi ke angkasa dari cerobong beberapa rumah produksi pengasapan.

Tak terkecuali, salah satu rumah produksi milik Dwi Angga (24) yang terletak di antara rawa dan area pertambakan. Di sana, terlihat beberapa orang sedang sibuk beraktivitas. Ada yang memotong ikan, menusuk potongan ikan dengan sebilah batang kayu kecil-kecil. Ada pula yang mengasapi ikan di dapur bercerobong yang memakai bahan baku batok kelapa. Serta pada proses terakhir pengemasan memakai kertas koran bekas.

Baca juga : Melihat Proses Pengasapan Ikan di Doropayung Pati

“Usaha ini sudah 20 tahun. Saya sendiri meneruskan usaha milik orang tua. Memang dari dulu usahanya ya pengasapan ikan ini. Kebetulan, selesai kuliah sekitar dua tahun yang lalu, saya memutuskan untuk terjun langsung. Karena ya punya usaha sendiri lebih enak daripada ikut orang,” ungkap Dwi Angga yang siang itu juga sibuk menata beberapa ikan siap kemas untuk didinginkan dengan kipas angin, Senin (20/4/2020).

Pemuda berkaos lengan panjang lengkap dengan sepatu boot karet itu melanjutkan cerita. Sejauh ini, Dwi Angga katakan, mereka memproduksi ikan asap dari berbagai jenis ikan. Di antaranya ikan manyung, pari, jahan, dan kropak. Ikan-ikan itu dibeli langsung dari para nelayan.

Baca juga : Dianggap Bisnis Tak Bergengsi, Kini Usaha Terasi Selok Jaya Omzetnya Capai Ratusan Juta Sebulan

Setelahnya, mereka olah setiap hari untuk selanjutnya dikirimkan ke para pelanggan. Dwi Angga menyebutkan, ikan asap olahannya mempunyai pelanggan tetap yang kebanyakan adalah rumah makan di beberapa kota. Antara lain Kota Yogyakarta dan Kota Semarang.

“Kalau jumlah produksi yang daging bisa sampai 2 kwintal per hari, kalau kepala bisa 5 kwintal. Kalau untuk harga, paling mahal daging manyung, mulai Rp 60 ribu per kilogram. Kalau kepala dari harga Rp 30 ribu per kilogram,” papar dia.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Tenaga Medis Covid-19 Bisa Nikah Gratis di Pati, Pendaftaran Tutup Akhir Ramadan

0
Baliho Rahma Sanggar Rias yang dipasang di depan rumah Siti Rahma. Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, PATI – Siti Rahma (40) terlihat sedang merapikan beberapa pakaian pengantin di rumahnya di Desa Bermi, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Meski sedang sepi job sejak ada Covid-19, Pemilik Rahma Sanggar Rias itu harus tetap menjaga kebersihan gaun, jas dan kebaya yang disewakannya.

Saat ditemui, wanita berjilbab yang sudah tiga tahun menjadi perias pengantin ini lantas menceritakan usahanya untuk membantu para tenaga medis Covid-19 yang sudah siap menikah. Program tersebut adalah Aksi Peduli Wedding Gratis untuk para dokter dan perawat di Pati Bumi Mina Tani.

“Awalnya saya terenyuh membaca berita tentang tenaga medis yang ditolak pemakamannya. Padahal mereka adalah garda terdepan dalam menangani wabah ini. Dari sana, saya merasa ingin ikut serta membantu dengan mengadakan pernikahan gratis untuk mereka,” ungkapnya, Selasa (28/4/2020).

Setelah itu, dia kemudian menyampaikan ide tersebut ke teman-temannya yang bergerak di dunia pernikahan. Tanggapan mereka ternyata cukup bagus setelah ada tiga vendor yang tertarik untuk bergabung. Mereka adalah Djaya Dekorasi, Issamedia, dan Dulor Lanang Photography.

Baca juga: Kavesa Gratiskan Biaya Nikah Tenaga Medis Covid-19 di Kudus, Ini Syaratnya

“Djaya Dekorasi akan mengurusi dekorasi akad nikah, kemudian untuk foto pernikahan ada Issamedia dan Dulor Lanang Photography. Sedangkan MUA dari saya, Rahma Sanggar Rias,” papar wanita yang buka jasa rias pengantin, wisuda, make up, dan foto pre wedding itu.

Ibu dari dua anak ini menambahkan, syarat untuk mengikuti program tersebut adalah tenaga medis melaksanakan akad nikah di Kota Pati pada 2020. Untuk pendafatarannya sudah dimulai beberapa hari lalu dan ditutup akhir Ramadan.

“Tidak ada persyaratan khusus. Mau dia warga Pati atau nggak, asalkan akadnya di Kota Pati, ya sebisa mungkin kami layani. Selain itu, tanggalnya juga dipilih yang tidak tabrakan. Karena meskipun ini gratis, saya pribadi ingin memberikan layanan yang semaksimal mungkin. Sama seperti untuk pelanggan berbayar,” kata Rahma.

Di sisi lain, jika ada pendaftar yang sekalian mau mengadakan resepsi, pihaknya tidak bisa menanggung biayanya, alias mempelai harus mengeluarkan biaya sendiri.

“Yang kami gratiskan hanya akad nikah, bukan resepsi. Karena sejauh ini vendor yang sanggup baru empat itu,” tambahnya.

Baca juga: Roemah Goegah Luncurkan Program Donasi Beras Lewat Beli Kaos

Hingga hari ini, lanjut Rahma, sudah ada beberapa pendaftar yang dua di antaranya sudah pasti tanggal pelaksanaannya.

“ke depan, saya berharap semakin banyak vendor yang mau bergabung sebagai bentuk kepeduliaan dari para WO (Wedding Organizer) demi kemanusiaan,” tutup Rahma.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Mau Berburu Sneakers Murah Tapi Ori? Toko Nix.id Tempatnya

0
Muhammad Asfal Fuad, Pemilik Toko Nix.id. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi utara Jalan Patimura, Desa Getaspejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus tampak bangunan berpintu kaca. Di dalam bangunan terlihat puluhan sepatu aneka jenis terpajang di rak kayu jati Belanda. Tempat tersebut yakni toko Nix.id yang menjual aneka sepatu original.

Muhammad Asfal Fuad (28), Pemilik Toko Nix.id mengatakan, toko miliknya itu menjual aneka sepatu produk lokal maupun sepatu merk yang sudah mendunia. Menurutnya sepatu yang dijualnya itu semuanya barang original pabrik. Jadi dijamin kualitasnya.

Muhammad Asfal Fuad, saat membuka toko miliknya yang menyediakan aneka sneakers ori dengan harga terjangkau. Foto : Rabu Sipan

“Aneka sepatu di Nix.id itu merupakan barang original dari pabrik, bukan barang KW. Jadi kualitasnya tidak usah diragukan, dijamin bagus dan kuat,” ujar pria yang akrab disapa Asfal kepada betanews.id Senin (20/4/2020).

Baca juga : Sepatu Safety Paling Diburu di Bursa Sepatu Second

Selain kualitasnya yang bagus dan kuat, lanjutnya, keunggulan beli sepatu di Nix.id itu harganya yang sangat terjangkau. Karena harga yang ditawarkannya itu lebih murah dari harga retailnya. Bahkan bisa lebih murah hingga 65 persen dari harga aslinya.

“Itu yang merk sepatu yang sudah mendunia ya. Kalau sepatu merk lokal kami membandrolnya sama dengan harga retailnya,” ujar pria warga Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus.

Dia pun kemudian merinci jenis dan harga aneka sepatu yang dijualnya. Di antaranya sepatu running, trail running dan sepatu casual. Untuk merk sepatu yang sudah mendunia di Nix.id harganya berkisar antara Rp 300 ribu hingga Rp 750 ribu sepasang.

“Sedangkan sneaker merk lokal harganya mulai Rp 200 ribu sampai Rp 280 ribu sepasang. Sepatu merk lokal yang saya jual antara lain, Patrobas, merk Johnsons, dan sepatu yang lagi viral yakni Ventela,” ungkapnya sambil menunjukan sepatu yang disebutnya terakhir.

Asfal mengaku, usaha berjualan sepatu sneaker original tidak lepas dari kegemarannya sewaktu masih duduk di bangku kuliah. Menurutnya, saat masih kuliah dirinya sering mengoleksi sepatu original tapi dengan harga yang lebih murah dari harga retail.

Baca juga : Kisah Pilu Pak Slamet, Sudah Kena Tipu Masih Terlilit Utang

“Karena dapat harga yang lebih murah dari harga retail. Setelah kuliah dan bekerja saya pun berinisiatif nyari usaha sampingan dengan berjualan sepatu sneaker original secara daring,” beber Asfal yang mengaku juga bekerja di sebuah klinik.

Menurutnya, aneka sepatu sneaker original yang dijualnya lumayan diminati. Sehingga Bulan Maret lalu dia mantab membuka toko. Pelanggannya tidak hanya orang Kudus saja, tapi ada yang dari Bali, Kalimantan, Surabaya dan lainnya. Dalam sebulan, tuturnya dia mampu menjual sekitar 100 pasang sepatu.

“Saya berharap usaha saya ini bisa lancar dan besar. Sehingga saya bisa mengajak orang banyak untuk kerja sama jadi resseller,” harapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -