Beranda blog Halaman 1854

Larangan Berkunjung, Puluhan Orang Gagal Masuk Desa Wonosoco

0
Satuan Tugas Covid-19 Desa Wonosoco melakukan penjagaan di depan gapura masuk Desa Wonosoco. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Belasan warga terlihat di sekitar gapura masuk Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Rabu (29/4/2020). Satu di antara sejumlah orang yang ada di sana yaitu Tony Kuswoyo (45), selaku Ketua Satgas Covid-19 yang sedang berjaga. Dia mengungkapkan, pada hari pertama diberlakukan larangan bagi pengunjung atau warga luar desa masuk ke Desa Wonosoco, sudah ada sekitar 70 orang yang hendak memasuki desa.

Warga dari luar Desa Wonosoco dilarang berkunjung ke Desa Wonosoco. Foto : Ahmad Rosyidi

Dari 70 orang yang hendak masuk dan berkunjung, ada sebanyak 59 orang yang tidak diizinkan. Hal tersebut dikarenakan alasan berkunjung yang tidak penting. Sedangkan, 11 orang yang diizinkan memang memiliki alasan kepentingan yang mendesak.

“Hingga siang ini, ada 11 orang yang kami izinkan dengan alasan kepentingan yang jelas. Seperti berkunjung dengan kepentingan tertentu ke tempat saudara, warga Desa Pakem yang hendak ke lahan juga kami izinkan. Selebihnya tidak kami izinkan masuk jika alasannya hanya hendak bersepeda masuk ke tempat wisata,” jelas pria yang akrab disapa Tony itu.

Baca juga : Meski Penting, Warga Luar Desa yang Berkunjung ke Wonosoco Tak Boleh Lebih dari 10 menit

Pihaknya menjaga pintu masuk mulai pukul 05.30 WIB hingga pukul 17.30 WIB. Setelah itu, akan dilanjutkan relawan dari karang taruna hingga dini hari. Dari 14 orang petugas Satgas Covid-19 Desa Wonosoco, sudah dibuat piket untuk jaga.

“Yang piket itu dua orang dari satgas. Pagi mulai pukul 05.30 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Kemudian akan dilanjutkan mulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 17.30 WIB. Petugas nantinya akan menghentikan orang yang akan masuk ke desa,” terang Ketua Satgas sekaligus Kadus Desa Wonosoco itu.

Sementara itu, Setiyo Budi (42), Kepala Desa Wonosoco juga menambahkan, aktivitas warga masih normal. Pembatasan hanya berlaku kepada pengunjung saja. Menurutnya, pembatasan bagi pengunjung akan dilakukan selama bulan Ramadan.

Baca juga : Satu Warganya Positif Covid-19, Desa Kutuk Berlakukan Lockdown

“Sementara kami akan membatasi selama bulan Ramadan ini. Sambil kita lihat nanti perkembangannya seperti apa. Yang jelas kami sudah koordinasi dengan Pak Camat, dan sudah diizinkan. Demi keselamatan bersama, menjaga dari penyebaran Covid-19,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Berbekal Pengalaman dan Doa Orang Tua, Priyo Sukses jadi Penebas Kencur

0
Supriyo, tekuni bisnis sebagai penebas kencur. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa pria dan wanita paruh baya mengenakan caping bambu tampak duduk di atas tanah di sebuah ladang, di Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Sengatan sinar matahari dan semilir angin menemani mereka memisahkan gumpalan tanah dari kencur yang baru saja dipanen. Sesekali terdengar canda tawa mereka untuk hiburan di sela kegiatan memanen kencur.

Di ladang tersebut, juga terlihat seorang pria mengenakan topi hitam. Pria itu tampak memperhatikan kegiatan memanen satu di antara komoditas empon – empon tersebut. Pria itu yakni Supriyo (52), yang merupakan penebas kencur. Selain memperhatikan para pekerjanya, sesekali dia memeriksa kencur hasil panen yang dibelinya itu.

Para pekerja sedang memanen kencur di salah satu ladang. Foto : Rabu Sipan

Pekerjaan jadi penebas kencur sudah dijalaninya satu dasa warsa. Namun, untuk jadi penebas kencur, tuturnya, dirinya membutuhkan waktu dan proses yang panjang. Karena memang keterbatasan modal.

“Saya itu terlahir dari keluarga tidak mampu. Sejak lulus SMP saya langsung kerja serabutan ikut orang. Dari kuli tebang tebu, kuli ladang, nimbang tebu dan lainnya. Bahkan upahnya dulu itu sehari Rp 1500,” ujar pria yang akrab disapa Priyo kepada betanews.id, Sabtu (18/4/2020).

Baca juga : Meski Pernah Rugi Puluhan Juta, Priyo Tak Patah Semangat jadi Penebas Kencur

Belasan tahun kerja jadi kuli lanjutnya, pada tahun 2000 Priyo menikah. Setelah menikah, dia mengaku mencoba bertani kencur dengan modal tabungan sewaktu muda. Uang modal itu digunakannya untuk menyewa tanah, beli bibit serta perawatan kencur hingga panen.

“Saya sadar, karena memang anaknya orang tidak mampu, jadi harus hemat dan menabung. Dari tabungan itu saya buat modal bertani. Aku bersyukur dari bertani kencur itu lama – kelamaan saya punya modal untuk terjun jadi penebas kencur,” ujarnya sambil tersenyum.

Pria warga RT 01 RW 15, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus itu mengatakan, khusus menjadi penebas kencur. Tanaman kencur para petani yang masih di ladang itu dia beli secara borongan. Kalau perhitungannya tepat, Priyo akan untung, tapi jika meleset dia pun akan merugi.

Baca juga : Dari Produksi Keripik, Abdul Banting Setir Bisnis Kopi Itheng

“Ya namanya juga usaha terkadang untung, kadang juga rugi itu lumrah. Namun alhamdulillah berbekal pengalaman, selama ini lebih banyak untungnya dari pada ruginya,” ujarnya.

Pria yang sudah dikaruniai tiga anak itu mengaku bersyukur, dari usaha membeli secara borong kencur di ladang petani itu hasilnya sudah lumayan banyak. Dia mengaku, bisa beli tanah, mobil truk untuk operasional, serta juga punya mobil keluarga, serta mampu menguliahkan anaknya.

“Saya bersyukur meski tidak dibekali harta orang tua. Namun saya punya bekal doa orang tua, sehingga usaha yang saya jalani selama ini sudah terlihat hasilnya. Semoga usaha saya makin lancar dan berkah,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jemaah Masjid Agung Semarang Dapat Bantuan Sembako dari Pemprov Jateng

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menyalurkan ratusan paket bantuan ke jemaah Masjid Agung Kota Semarang. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo kepada perwakilan Pengurus Yayasan Badan Pengelola Masjid Agung Semarang, di masjid setempat, Rabu (29/4/2020).

Ganjar mengatakan, bantuan ini merupakan salah satu bantuk kepedulian kepada warga dalam situasi Covid-19. Sebab dalam kondisi seperti sekarang, saling membantu adalah hal penting untuk meringankan.

“Bantuan ini dari kawan Korpri (Korps Pegawai Republik Indonesia),” kata Ganjar di sela-sela sambutannya.

Baca juga: Napi dan Tahanan di Jateng Produksi APD untuk Bantu Tenaga Medis

Ganjar lantas mengingatkan agar jemaah atau warga tidak ngeyel dengan aturan pemerintah. Mulai dari tidak mudik, menjaga hidup bersih, memakai masker, hingga rajin mencuci tangan. Termasuk juga mengonsumsi buah-buahan yang ada di sekitar.

“Vitamin nggak usah beli. Ada sambal, buah pisang, jambu, pepaya, dan buah di sekitar kita,” ujarnya.

Di sisi lain, Ketua Yayasan Badan Pengelola Masjid Agung Semarang Khammad Maksum mengatakan, pihaknya sudah membentuk tim gugus tugas di masjid yang di antaranya bertugas mengumpulkan dan menyalurkan bantuan untuk warga terdampak Covid-19.

Seperti hari ini, pihaknya menerima bantuan dari gubernur berupa 400 paket beras, serta dari salah satu perusahaan percetakan buku. Total bantuan yang diterima 1.625 paket, dengan masing-masing paket berisi 5 kilogram beras. Jika dinominalkan, nilainya mencapai sekitar Rp 93 juta.

Baca juga: Jateng Dapat Bantuan 50 Ribu Reagen, Tes Swab Kini Bisa Lebih Cepat

Bantuan itu disalurkan ke warga yang terdampak Covid-19, seperti mereka yang kehilangan pekerjaan, fakir miskin, dan masyarakat sekitar masjid yang hidup dalam kekurangan.

“Bantuan juga diberikan ke masyarakat baik muslim maupun non muslim. Kalau dia kena dampak, kita berikan bantuan,” tutup Khammad.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Hasil Swab 16 Tenaga Medis RS Mardi Rahayu Dinyatakan Negatif Covid-19

0
Petugas kesehatan sedang mempersiapkan alat untuk tes swab terhadap 12 tenaga medis puskesmas. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – 16 tenaga medis Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus yang hasil rapid testnya dinyatakan reaktif Covid-19, hari ini dinyatakan negatif Covid-19. Kabar ini diketahui setelah tes swabnya turun.

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi mengatakan, data hingga Selasa (28/4/2020), jumlah tenaga kesehatan yang reaktif Corona setelah rapid test di RS Mardi Rahayu ada 72 orang, yang sebelumnya 32 orang. Selanjutnya, RSUD dr Loekmono Hadi yang awalnya hanya satu orang, bertambah menjadi 10 orang.

“16 ini bisa pulang dan bekerja kembali,” tuturnya, Rabu (29/4/2020).

Baca juga: 12 Tenaga Medis Puskesmas di Kudus Jalani Tes Swab

Andini mengungkapkan, pihaknya masih menunggu hasil tes swab tenaga kesehatan lain yang belum keluar. Selain itu, pihaknya juga masih akan melakukan hal yang sama untuk tenaga kesehatan lainnya yang reaktif virus Corona.

Menurutnya, tes swab dapat menjadi alat ukur tegaknya diagnosis pasien terkonfirmasi positif atau negatif Covid-19. Jika hasil tes swab positif, maka pasien harus dirawat di rumah sakit.

“Masih ada yang belum diswab juga, saya tidak hapal berapa,” tuturnya.

Baca juga: Pasien Positif Covid-19 di Kudus Capai 21 Orang, 5 Sembuh, 4 Meninggal

Menurut Andini, peningkatan jumlah tenaga medis yang hasil rapid testnya reaktif Corona, diperkirakan karena terpapar adanya orang tanpa gejala (OTG).

“Protokol kesehatan sudah dilakukan tenaga kesehatan, namun banyak juga pasien yang datang tanpa gejala,” tutup Andini.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Meski Penting, Warga Luar Desa yang Berkunjung ke Wonosoco Tak Boleh Lebih dari 10 menit

0
Desa Wonosoco berlakukan pelarangan warga luar desa untuk berkunjung ke desa tersebut. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Rintik hujan turun siang itu. Gapura berwarna biru dengan banner terbentang dengan tulisan ‘Larangan Bagi Pengunjung / Warga Luar Desa Masuk ke Desa Wonosoco’. Saat hujan reda, sejumlah orang mulai datang ke pos yang ada di samping gapura tersebut.

Satu di antara sejumlah orang yang ke sana yaitu Setiyo Budi (42), Kepala Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus. Usai mengecek pos itu, dia menjelaskan, bahwa Desa Wonosoco saat ini membatasi warga yang hendak berkunjung. Hal tersebut dilakukan demi mencegah penyebaran Virus Covid-19.

Akses jalan masuk ke tempat wisata di Desa Wonosoco ditutup. Foto : Ahmad Rosyidi

“Karena di Desa Kutuk sudah ada yang positif, jadi kita akan membatasi orang yang datang. Jika tidak berkepentingan maka tidak kami izinkan. Misal berkepentingan juga kami beri batasan waktu kurang lebih 10 menit,” Jelas Kepala Desa yang akrab disapa Budi itu, Rabu (29/4/2020).

Baca juga : Satu Warganya Positif Covid-19, Desa Kutuk Berlakukan Lockdown

Menurutnya, masih banyak warga dari luar desa yang belum sadar. Sehingga masih bersepeda memasuki kawasan wisata Wonosoco. Karena mendapat masukan dari warga dan tokoh-tokoh desa, kemudian Desa Wonosoco memutuskan untuk membatasi orang yang datang.

“Ini sudah kami berlakukan sejak tadi malam. Jadi akan ada piket penjagaan pintu masuk dari Satgas Covid-19 Desa Wonosoco. Selain satgas, kami juga dibantu Babinsa, Bhabinkamtibmas, RT, RW dan pemuda karang taruna,” terangnya kepada betanews.id.

Budi juga menambahkan, Desa Wonosoco sudah menjadi desa rintisan wisata, sejak bulan Maret lalu sudah menutup tempat wisata. Hal ini sesuai imbauan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus.

Baca juga : Tak Ada Pengucilan, Warga Kutuk Berikan Dukungan untuk Keluarga Pasien Positif Covid-19

“Tetapi masih banyak orang yang belum memahami. Karena ditutup dan tidak ada yang jaga, malah menjadi kesempatan masuk gratis. Terutama bulan Ramadan ini, setelah Subuh dan menjelang Maghrib banyak yang datang bersepeda kemari,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Mulai Besok, Jalan Mayor Basuno Akan Ditempati Pedagang Pasar Bitingan

0
Beberapa pengguna jalan tampak melewati Pasar Bitingan, Rabu (28/4/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Sepanjang Jalan Mayor Basuno hingga Jembatan Ploso terlihat ada tambahan garis putih di tepi jalan. Jarak antar satu garis dengan yang lain sekitar 1,5 meter. Garis-garis tersebut menurut Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sudiharti, adalah rancangan baru tempat pedagang sayur di Pasar Bitingan.

Selama pandemi Covid-19, dia menjelaskan, pedagang sayur yang berada di Pasar Bitingan akan dibuatkan tempat baru di sepanjang Jalan Mayor Basuno hingga jembatan Ploso.

“Ini akan dimulai nanti malam (Kamis dini hari),” jelasnya saat ditemui di ruangannya, Rabu (29/4/2020).

Pengendara tampak melewati garis-garis yang disiapkan untuk ditempati pedagang Pasar Bitingan di sepanjang Jalan Mayor Basuno, Rabu (29/4/2020). Foto: Imam Arwindra.

Sudiharti melanjutkan, pasar yang beroperasi mulai pukul 01.00 WIB tersebut akan ditempati sekitar 500 pedagang. Mereka akan diberi jarak 1,5 meter supaya dapat menjalankan physical distancing. Pengaturan jarak ini penting, lantaran pembeli yang datang di pasar tersebut tidak hanya dari Kudus saja, melainkan juga dari Pati, Jepara, Demak dan Grobogan.

“Kami ingin menata para pedagang malam untuk tidak lagi berdempet-dempetan seperti dulu. Ini untuk menghindari tersebarnya Covid-19,” jelasnya.

Baca juga: Atur Jarak Pedagang Pasar, Ganjar Minta Seluruh Daerah Tiru Salatiga

Di hari yang sama, dirinya bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Kudus, Polres Kudus dan Kodim Kudus telah membuat sketsa susunan tempat pedagang. Selain memetakan pelataran Pasar Bitingan, pihaknya juga memetakan jalan raya di Jalan Mayor Basuno. Menurutnya, jika pelataran tidak muat, Jalan Mayor Basuno akan digunakan.

“Pedagang akan kami tempatkan berjajar di jalan raya. Namun pada pukul 07.00 WIB pagi semua pedagang harus sudah bersih seperti semula, biar bisa digunakan untuk aktivitas kendaraan,” tambahnya.

Dia mengungkapkan, setelah pukul 07.00 WIB, kegiatan tetap berlangsung normal. Halaman pasar dan lantai atas tetap bisa digunakan untuk berdagang.

Baca juga: Pemkab Kudus Enggan Terapkan PSBB

“Jadi pasar ini ramainya pagi hari. Mulai jam 01.00 WIB sudah ramai,” tambahnya.

Dirinya lantas berpesan kepada pedagang dan pembeli untuk selalu mengenakan masker. Pihaknya akan melarang berdagang, jika anjuran pemerintah tidak dihiraukan.

“Ikuti anjuran dari pemerintah. Lakukan social distancing, phisycal distancing dan mengenakan masker,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Polisi Diminta Tindak Tegas Begal dan Pencuri, Ganjar : ‘Jika Melawan Dor Saja’

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Banyaknya masyarakat yang mengeluhkan maraknya pencurian sampai pembegalan, membuat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo geram. Ganjar meminta kepolisian menindak tegas para pelaku kejahatan di tengah masa pandemi ini.

Untuk mengantisipasi adanya kejahatan-kejahatan tersebut, Ganjar mengatakan, masyarakat mesti menghidupkan kembali ronda-ronda, baik di perkotaan maupun pedesaan. “Kita perlu ronda lagi. Dan kita kerjasama dengan kepolisian,” kata Ganjar, Rabu (29/4/2020).

Dirinya juga menyampaikan, jika telah berkoordinasi dengan Kapolda Jateng dan Pangdam IV Diponegoro saat rapat Forkopimda beberapa waktu lalu. Bahkan kepada dua tokoh tersebut Ganjar mengatakan tidak usah ragu menindak para pelaku.

Baca juga : Wilayah Jateng yang Masuk Zona Merah Diminta Segera Ambil Tindakan

“Pak Kapolda dan Pangdam sudah rapat dan beliau mengatakan, “Pak Gubernur percayakan pada kami.” Saya bilang, kalau ada kejahatan tindak tegas tidak usah ragu-ragu, kalau dia melawan dor saja,” katanya.

Kalau sudah kondisi seperti ini, kata Ganjar, jangan sampai ada yang menumpangi. Karena semua tahu negara sedang mengalami masa sulit menghadapi Covid-19.

“Kalau butuh bantuan lebih baik lapor saja, menyampaikan ke perangkat desa. Kita akan bantu. Kita sedang diuji, semoga kita mampu,” katanya.

Baca juga : Tanggapi Pemudik Bandel, Ganjar: ‘Tolong Jangan Ngumpet-Ngumpet, Bahaya!’

Ganjar pun menyangkal, kejahatan yang saat ini marak terjadi berasal dari para narapidana asimilasi. Namun dirinya juga melakukan upaya pendampingan pada mereka dengan memberikan pelatihan.

“Banyak Hoaks yang ditebar kejahatan dari asimilasi karena persentasemya 0,01 persen. Maka tugas saya membina mereka memberikan pelatihan sampai kampung-kampung. Maka kami di Jawa Tengah membuat Jogo Tonggo. Di sana kita mengelola pangan sampai keamanan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sumardi Semringah Bisa Pulang ke Rumah Setelah Jalani Karantina di Rusunawa

0
Beberapa pemudik yang menjalani karantina di Rusunawa sudah diperbolehkan pulang. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Sumardi (58) terlihat sibuk menjinjing tas dan plastik hitam keluar dari Rusunawa Twin Blok (TB) 4 Bakalankrapyak, Kudus. Raut wajahnya pun tampak semringah setelah diberikan selembar kertas dari petugas. Isi surat tersebut yakni keterangan bahwa dia sudah menjalani karantina selama 14 hari di rusunawa.

Sumardi mengungkapkan, dirinya merasa senang bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga. Menurutnya, dia harus menjalani karantina selama 14 hari untuk memastikan sehat dari Covid-19.

Beberapa pemudik yang sudah selesai mengikuti karantina di rusunawa Kudus bersiap untuk pulang. Foto : Imam Arwindra

“Saya bekerja di Tangerang. Saya kerja bangunan sudah lama. Karena proyek selesai, saya pulang saja ke rumah.Sampai Kudus tanggal 16 April dan langsung dikarantina,” ungkapnya, Rabu (29/4/2020).

Baca juga : Jalani Karantina saat Ramadan, Begini Aktivitas ODP di Rusunawa

Selama menjalani masa karantina sebagai orang dalam pemantauan (ODP), dirinya menempati lantai lima rusunawa. Walau merasa bosan, Sumardi berterima kasih telah diperlakukan dengan baik.

“Tempatnya enak. Ada kasurnya. Makanannya pun enak-enak. Sebelum Ramadan, makan tiga kali sehari. Selama puasa dua kali. Sahur dan berbuka,” tutur warga yang beralamat di Desa Margorejo, Kacamatan Dawe, Kudus.

Selama Ramadan, dirinya pun menjalani ibadah puasa seperti biasa. Seperti salat rawatib dan tarawih di kamar. Selanjutnya, setiap pagi melakukan senam sambil berjemur matahari. “Saya pulang sudah ada yang jemput naik motor,” tuturnya.

Sementara itu, Petugas Rusunawa Indayani (38) mengungkapkan, selain Sumardi ada tujuh pemudik lainnya yang dipulangkan. Menurutnya, dari keseluruhan ODP yang dikarantina, sudah 39 orang yang pulang.

“Jumlah total yang pernah dikarantina 128 orang. Sudah pulang 39 orang dan di sini masih 89 orang,” jelasnya.

Selamat dikarantina 14 hari, ODP tersebut menempati 95 kamar yang sudah disiapkan. Menurutnya, setiap kamar ada yang ditempati satu orang dan dua orang.

“Selama di sini, kami kasih fasilitas tempat tidur, perlengkapan mandi, makan dan WiFi gratis. Selain itu juga ada dokter dan perawat yang 24 jam mengawasi mereka,” tuturnya.

Setelah menjalani karantina selama 14 hari, para ODP tersebut akan diberi surat keterangan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, yang isinya keterangan, bahwa yang bersangkutan sudah menjalani karantina 14 hari di rusunawa.

Baca juga : Rusunawa Penuh, Pemkab Kudus Alihkan Tempat Karantina ke Hotel Graha Muria

Mengenai tentang kesehatan ODP, dr Abdul Khanan mengungkapkan, keseluruhan ODP yang dikarantina di rusunawa dalam kondisi sehat semua. Menurutnya, sampai saat ini belum ada yang menunjukkan gejala Covid-19.

Dirinya berpesan, untuk pemudik yang sudah menjalani karantina selama 14 hari, agar terus menjaga hidup sehat di rumah. Selalu menggunakan masker saat keluar rumah dan melakukan physical distancing.

“Selalu waspada saja. Di sini sehat. Namun bisa juga tertular di lingkungan rumahnya,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Melihat Proses Pengasapan Ikan di Doropayung Pati

0
Proses pengasapan ikan di Desa Doropayung, Kecamatan Juwana, Pati. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, PATI – Aroma amis ikan segar dan aroma khas ikan asap sangat terasa ketika memasuki area salah satu rumah produksi pengolahan ikan di Desa Doropayung, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Asap terlihat mengepul dari cerobong tempat tersebut, menandakan sedang berlangsung proses pemanggangan ikan.

Di salah satu sudut rumah berdinding kayu dan beratap asbes tersebut, tampak terpasang sebuah para-para. Ada bara api yang masih menyala di bawahnya. Di atas para-para itu tersusun puluhan ekor ikan yang tengah diasapi.

Ikan yang sudah melalui proses pengasapan siap dikemas. Foto : Titis Widjayanti

Sementara di bagian, tampak seorang pemuda sedang mengawasi beberapa pekerja yang sedang memproduksi ikan asap. Dia adalah Dwi Angga (24), pengelola dari usaha tersebut.

Baca juga : Dianggap Bisnis Tak Bergengsi, Kini Usaha Terasi Selok Jaya Omzetnya Capai Ratusan Juta Sebulan

“Di sini ada banyak jenis ikan yang diolah. Mulai dari manyung, pari, jahan, keropak dan sejenisnya. Kalau pengolahan mulai dari ikan yang sudah dibersihkan terus dipotong. Pemotongan itu nanti yang daging sama yang kepala di bedakan. Setelah itu ditusuk pakai bilah kayu kecil-kecil. Terus ditaruh dibesi panggangan untuk selanjutnya diasapi,” papar Dwi Angga, Senin (20/4/2020).

Menurutnya, proses pengasapan ikan sendiri memiliki durasi waktu yang berbeda. Yakni untuk kepala ikan membutuhkan waktu sekitar 15 menit dan untuk daging biasanya hanya butuh waktu 5 menit. Akan tetapi, durasi tersebut juga bergantung pada kualitas api yang bersumber dari bara batok kelapa. Dikatakan Dwi, bisa lebih cepat sekaligus bisa lebih lama. Oleh karena itu, kualitas bara di tungku terus dijaga oleh dua orang pegawai lelaki untuk mengontrol tingkat kematangan ikan.

“Nah, setelah diasapi biasanya ditunggu agak dingin. Jadi dibiarkan dulu di atas besi pemanggang, sambil diangini sama kipas angin. Kalau sudah, nanti siap di packing,” papar dia.

Baca juga : Bisnis Rebana Sunarwi Punya Pelanggan Hingga Luar Jawa

Dwi Angga mengatakan, jika bisnis yang sudah digeluti oleh keluarganya selama hampir 20 tahun tersebut, kini memiliki beberapa pelanggan tetap. Seperti rumah-rumah makan di Kota Yogyakarta dan Kota Semarang. Oleh karena itu, di tempatnya selalu ada produksi tiap hari bahkan saat hari Minggu. Untuk bahan baku, ia mengaku membeli langsung dari nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Juwana setiap harinya, guna menjaga kualitas produksi. Selain itu, ia juga telah memiliki kapal langganan yang hasil dari penangkapannya langsung menjadi bahan baku di tempatnya.

“Kami kebetulan sudah ada pelanggan tetap yang setiap hari kami setor, jadi tiap hari ada produksi. Kira-kira per hari ya bisa produksi daging ikan asap 2 kuintal sama kepala sampai 5 kuintal,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Gazebo Karya Gimbal Mampu Bertahan Puluhan Tahun, Begini Cara Bangunnya

0
Seniman Bambu Toyib Bukhairi sedang mengerjakan gazebo di Arjuna Resto, Jum'at (17/4/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Bangunan di sisi belakang Arjuna Resto sudah mulai terlihat bentuknya, siang itu. Tampak beberapa pekerja bahu membahu merangkai bambu yang sudah mereka kerjakan tiga bulan ini. Pondokan tersebut adalah gazebo karya seniman bambu Toyib Bukhairi (39).

Pria yang akrab disapa Gimbal itu mengatakan, kedatangannya ke Kabupaten Kudus adalah untuk membangun empat gazebo sebagai pengembangan resto yang berada di Jalan Lingkar Utara, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Pondokan bambu ini ada yang satu lantai, dua lantai, dan tiga lantai.

Seniman Bambu Toyib Bukhairi sedang mengerjakan gazebo di Arjuna Resto, Jum’at (17/4/2020). Foto: Rabu Sipan.

“Sebagai seniman bambu, saya menerima semua order pembuatan karya dari bambu. Sesulit dan serumit apa pun pasti saya bisa kerjakan,” ujar pria berambut gimbal sepunggung tersebut, Jum’at (17/4/2020).

Ada empat model gazebo yang dibangunnya di Arjuna Resto. Gazebo paling utara bermodel payung dan berlantai dua. Dua gazebo tengah berlantai satu dengan konsep santai untuk ngopi. Sedangkan gazebo paling selatan berkonsep tiga lantai.

“Itu yang gazebo tengah dindingnya ada anyaman bambu membentuk cangkir kopi,” beber pria yang sudah dikaruniai tiga anak itu.

Baca juga: Panggilan Mertua Pembuka Jalan Takdir Gimbal Jadi Seniman Bambu

Dia menjamin, meski berbahan bambu, gazebo karyanya mampu bertahan hingga puluhan tahun. Keyakinannya ini didasarkan atas pilihan jenis bambu dan metode pembangunan yang sudah lama ia praktikkan.

“Gazebo yang saya bangun ini semuanya berbahan bambu. Hanya atapnya saja yang dari welit. Meskipun dari bambu, saya jamin kuat,” tegas pria yang pernah bekerja sebagai sopir angkutan itu.

Untuk gazebo ini, Pria asal Kabupaten Ngawi, Jawa Timur itu memilih bambu apus dan bambu hitam. Menurutnya, saat membuat bangunan dari bambu harus terencana kekuatan serta seninya. Kuat itu agar yang menempati nyaman, sedangkan seninya itu agar bangunan terlihat bagus dan punya nilai seni tinggi.

“Pondasi gazebo tetap saya cor agar kuat. Untuk bagian atasnya selain memikirkan kekuatan kita juga harus memikirkan seni dan artistiknya,” ujarnya.

Baca juga: Jandaku, Tawarkan Aneka Produk Mebel dari Jati Belanda

Untuk memperkuat bangunan, Gimbal memilih menggunakan baut. Karena menurutnya, mengaitkan atau menyatukan satu bambu dengan lainnya akan lebih aman menggunakan baut. Beberapa bagian bangunan yang menggunakan baut ini seperti penyangga lantai panggung, sekur, tangga dan lainnya.

“Kalau hanya pakai paku dan tali itu sudah tidak relevan. Apalagi untuk bangunan bambu bertingkat. Sangat bahaya dan bisa roboh,” tutup Gimbal.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Napi dan Tahanan di Jateng Produksi APD untuk Bantu Tenaga Medis

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menerima bantuan APD yang dibuat warga Binaan Lapas dan Rutan di rumah dinasnya, Rabu (29/4/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Sejumlah lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) di Jawa Tengah berhasil membina warga binaan untuk memproduksi alat pelindung diri (APD). Alat wajib tenaga medis dalam menangani Covid-19 ini kemudian diserahkan kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk kemudian disalurkan kepada rumah sakit rujukan.

Kakanwil Kemenkumham Jawa Tengah Tarsono mengatakan, bantuan kali ini merupakan karya dari warga binaan di Lapas dan Rutan di Jawa Tengah. Ia merinci, bantuan tersebut berupa 200 baju pelindung, 200 pelindung wajah dan 1.000 masker. Selain itu, ada 500 kilogram telur.

“Kami memberikan bantuan APD dan semuanya merupakan karya warga binaan Lapas dan Rutan di Jawa Tengah,” ujarnya saat ditemui seusai menyalurkan bantuan di rumah dinas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Rabu (29/4/2020).

Baca juga: Jateng Dapat Bantuan 50 Ribu Reagen, Tes Swab Kini Bisa Lebih Cepat

Selain itu, Kemenkumham juga menyumbangkan 1.000 paket sembako untuk Jawa Tengah. Bantuan ini merupakan program nasional yang akan disalurkan ke setiap provinsi.

“Secara nasional Kemenkumham memberikan bantuan 1.000 boks sembako untuk Jawa Tengah,” lanjutnya.

Sementara itu, Ganjar Pranowo mengaku kaget karena bantuan APD kali ini merupakan karya warga binaan lapas dan rutan.

“Iya, saya berterimakasih. Ini surprise karena bantuan dari Kemenkumham, dan lebih surprise ini karya warga binaan,” paparnya.

Baca juga: Ngabuburit ala Ganjar, Motoran Kunjungi Mahasiswa Luar Daerah

Dalam kesempatan itu, ia berpesan bahwa pentingnya memakai masker dalam mencegah penyebaran virus Corona.

“Memakai masker itu gaya hidup baru, karena yang kita hadapi tidak kelihatan. Covid-19 terus berjalan, tapi kita tidak boleh berhenti. Maka kita pakai masker,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Siap-Siap! Aturan Jarak Juga Akan Berlaku di Angkutan Umum

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Setelah memberlakukan aturan jaga jarak untuk pedagang pasar, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sudah menyiapkan kebijakan serupa di angkutan umum. Cara-cara tersebut diyakininya bakal jadi gaya hidup baru di masyarakat.

Ganjar mengatakan, pemberlakuan status tersebut mesti mendapat dukungan dari semua pihak. Karena jika tidak didukung dan hanya dilakukan oleh jajarannya, Ganjar khawatir akan terjadi lonjakan kasus positif Covid-19 di Jawa Tengah.

“Covid-19-nya tidak berhenti, kita juga tidak boleh berhenti. Caranya ayo tetap hidup. Kalau tidak mau PSBB, ayo kita ubah, selalu jaga jarak. Angkutan tidak boleh uyel-uyelan. Nanti akan kita awasi,” katanya, Rabu (29/4/2020).

Baca juga: Atur Jarak Pedagang Pasar, Ganjar Minta Seluruh Daerah Tiru Salatiga

Dengan kebijakan ini, Ganjar berharap masyarakat tidak ngeyel dan langsung menyesuaikan diri agar penyebaran penularan Covid-19 di Jawa Tengah tidak semakin melonjak.

“Jadi jangan ada ilmu ngeyel karena itu sudah diatur. Kita harus move on, harus mengubah cara hidup kita bahwa kita hari ini hidup berdampingan dengan Covid-19,” pesan Ganjar.

Ganjar juga mengaku telah mendapat protes usai pemberlakuan sistem Pembatasan Kegiatan Masyarakat di Kota Semarang, terutama dari para pedagang cafe dan angkringan. Menurut Ganjar, karena situasi masih menghadapi pandemi, dia berharap masyarakat mengikuti peraturan dan tidak bandel.

Baca juga: Wilayah Jateng yang Masuk Zona Merah Diminta Segera Ambil Tindakan

Setelah diberlakukan PKM, seluruh cafe, restoran, warung bahkan sampai angkringan hanya diizinkan beroperasi maksimal sampai pukul 20.00 WIB. Jika melebihi batas waktu tersebut, maka pedagang yang bersangkutan akan menerima sanksi.

“Baru beberapa hari diterapkan. Orang protes sudah ada, dari pedagang angkringan. ‘Pak, kok jam delapan sudah bubar.’ Ya bagus tidak jam tujuh. Karena situasinya seperti ini,” tutup Ganjar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Meski Pernah Rugi Puluhan Juta, Priyo Tak Patah Semangat jadi Penebas Kencur

0
Beberapa pekerja dari Priyo sedang memanen kencur. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria paruh baya mengenakan kaus oblong sedang duduk mengawasi para pekerjanya yang sedang memanen kencur. Sambil mengawasi, sesekali dia terlihat memberi arahan para pekejanya tersebut. Setelah Pukul 11.00 WIB, dia pun mengajak para pekerjanya untuk makan bersama. Pria tersebut yakni Supriyo yang tak lain adalah penebas kencur. Dia mengaku tak kapok, meski pernah rugi puluhan juta dalam bisnis tersebut.

Seusai makan, pria yang akrab disapa Priyo itu sudi berbagi cerita tentang pengalamannya tersebut. Dia mengaku, menjadi pengepul kencur pada tahun 2010, atau sepuluh tahun yang lalu. Namun, lima tahun yang lalu dirinya mengalami nasib buruk di usaha yang ditekuninya itu. Menurutnya, dalam satu panen kencur dirinya mengalami kerugian hingga Rp 35 juta.

Proses memanen kencur di salah satu kebun milik warga. Foto : Rabu Sipan

“Kerugian itu dalam satu lokasi dan satu panen. Meski rugi puluhan juta, tapi saya tidak menyerah atau mundur jadi pengepul kencur,” ujarnya kepada betanews.id, Sabtu (18/4/2020).

Baca juga : Baru Rilis, Peci dari Karung Goni ini Laris Manis di Pasaran

Pria yang sudah dikaruniai tiga anak itu menuturkan, kerugian tersebut malah memantik semangat untuk memperbaiki kesalahannya. Sebab usaha yang ditekuni itu memang sangat berisiko rugi bila tidak jeli dan tidak tepat perhitungannya.

“Saya itu penebas kencur, yang membeli secara borongan di petani saat kencur masih di dalam tanah. Salah sedikit perhitungan, rugi sudah jadi risiko,” ungkapnya dengan serius.

Dengan tetap menekuni jadi penebas kencur, tambahnya, kerugian itu akan cepat terlunasi. Karena namanya usaha itu pasti ada rugi juga pasti ada untung. Benar saja, masih di tahun yang sama, kerugian tersebut bisa tertutup dengan keuntungan dari panenan kencur yang lain.

“Saya memang pernah rugi Rp 35 juta di satu lokasi panen kencur. Namun saya juga pernah meraup untung Rp 100 juta di satu lokasi panen kencur,” ungkap Priyo sambil tersenyum.

Menurutnya, keuntungan bisa didapat jika perhitungannya tepat serta kalau ada kenaikan harga. Sedangkan kerugian itu biasanya disebabkan perhitungan salah, harga turun, serta barang banyak yang rusak. Soalnya, kencur yang dikirim ke tengkulak itu tidak dibayar tunai. Sedangkan dirinya harus membayar lunas pada petani kencur.

Pria yang merupakan warga Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus itu menuturkan, saat ini harga kencur merah putih Rp 22 ribu per kilogram. Sedangkan kencur khusus merah di pasaran harganya Rp 44 ribu sampai Rp 50 ribu satu kilogram.

“Dengan harga tersebut, saat ini satu kotak ladang kencur saya beli Rp 50 juta hingga Rp 60 juta,” ungkapnya.

Baca juga : Dianggap Bisnis Tak Bergengsi, Kini Usaha Terasi Selok Jaya Omzetnya Capai Ratusan Juta Sebulan

Dia mengatakan, umur kencur siap panen itu sekitar delapan bulan. Namun untuk kencur yang dipanennya saat ini katanya sudah berumur 15 bulan. Untuk memanen kencur seluas satu bakon dia membutuhkan 12 orang, yang biasanya membutuhkan waktu hingga empat hari untuk memanen.

“Para pekerja pemanen kencur, saya upah harian. Namun di rumah, saya juga masih mempekerjakan orang lagi untuk membersihkan kencur. Upahnya borongan, yakni seribu rupiah sekilo,” jelasnya.

Dirinya mengaku bersyukur, berkat pengalaman, kerugian yang pernah dialaminya itu kini jarang terjadi. “Saya juga sudah punya pelanggan luar kota yang siap menampung kencur yang saya beli. Antara lain, di Bandung, Mojosari, Babat, Tuban, Solo dan kota lainnya,” bebernya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Tak Ada Pengucilan, Warga Kutuk Berikan Dukungan untuk Keluarga Pasien Positif Covid-19

0
Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, berlakukan lockdown karena ada salah satu warganya yang positif Covid-19. Meski begitu, warga memberikan dukungan penuh kepada keluarga pasien Covid-19. Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Terik sinar matahari cukup menyengat siang itu. Sebuah spanduk bertuliskan Kutuk Lockdown terbentang di gapura pintu masuk Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Satu di antara sejumlah orang yang berjaga di sana yakni Muhammad Irham (27), anggota Tim Satgas Covid-19 Desa Kutuk.

Irham mengungkapkan, pemberlakuan lockdown di Desa Kutuk, lantaran ada warga desa yang positif Covid-19. Meski ada yang positif, warga Desa Kutuk tetap memberi semangat dan dukungan terhadap keluarga dan korban. Para tetangga juga bersimpati dengan memberikan makanan kepada pihak keluarga korban.

“Tetap mendukung dan memberi semangat. Tidak ada yang mengucilkan, tetangga malah membagi makanan kepada keluarga. Jadi kami berharap bisa segera sembuh dan kondisi desa juga kembali normal,” terangnya kepada betanews.id, Selasa (28/4/2020).

Baca juga : Satu Warganya Positif Covid-19, Desa Kutuk Berlakukan Lockdown

Warga Desa Kutuk RT 08 RW 04 itu juga menyampaikan, bahwa saat ini Tim Satgas Covid-19 sedang melakukan penelusuran riwayat aktivitas dan interaksi warga yang dinyatakan positif Covid-19. Menurutnya, warga yang positif tidak punya riwayat pergi keluar kota. Bahkan sebelumnya, jauh-jauh hari memang sudah sakit-sakitan dan tidak keluar rumah.

“Setahu kami yang bersangkutan memang sudah sakit komplikasi dan tidak keluar rumah sejak lama. Bahkan sebelum pandemi Covid-19. Saat ini kami dari Satgas sedang mencari informasi riwayat interaksi korban,” ungkapnya.

Baca juga : Desa Gondangmanis Siapkan Lima Ruangan untuk Karantina Pemudik

Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi menjelaskan, pasien laki-laki tersebut berusia 56 tahun. Pasien dirawat di RS Mardi Rahayu sejak 18 April 2020 silam. Kemudian, hasil swab keluar pada hari Sabtu (25/4/2020).

“Pasien memang dirawat dengan penyakit penyerta di RS Mardi Rahayu. Dan pasien ini tidak ada riwayat perjalanan maupun kontak Positif Covid-19,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pasien Positif Covid-19 di Kudus Capai 21 Orang, 5 Sembuh, 4 Meninggal

0
Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi. Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Jumlah pasien positif Covid-19 di Kabupaten Kudus terus bertambah. Data 29 April 2020 pukul 08.00 WIB, jumlah kasus yang terkonfirmasi mencapai 21 orang, setelah ada tambahan dua kasus yang hasil swabnya keluar, Senin (27/4/2020).

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi mengatakan, tambahan dua pasien tersebut berasal dari wilayah Kudus dan satu kasus dari Kabupaten Pati.

“Ada tambahan dua kasus yang terkonfirmasi pada hari Senin (27/4/2020). Satu diantaranya sudah meninggal, yaitu wanita usia 58 tahun asal Kecamatan Jati,” ungkapnya.

Baca juga: Bayi Berusia 40 Hari PDP Covid-19 di Kudus Meninggal Dunia

Dia menjelaskan, pasien tersebut meninggal di RSUP dr Kariadi Semarang dengan penyakit penyerta, dan meninggal dunia pada Sabtu 11 April 2020 lalu.

“Meninggal sudah tanggal 11 April silam. Hasil swab resminya baru keluar kemarin, Senin (26/4/2020),” jelasnya.

Kasus tambahan kedua yakni pasien berjenis kelamin laki-laki berusia 60 tahun asal Kabupaten Pati. Sebelumnya, pasien dirawat di RS Keluarga Sehat Hospital (KSH) Pati dengan penyakit penyerta. Pasien kemudian dirujuk ke RS Mardi Rahayu Kudus pada Senin 13 April 2020.

“Pasien masih dalam perawatan. Hasil swab resminya juga baru kemarin, Senin (26/4/2020),” tuturnya.

Baca juga: 12 Tenaga Medis Puskesmas di Kudus Jalani Tes Swab

Andini lantas merinci, dari 21 pasien positif Covid-19, 13 pasien dari dalam Kudus dan 8 pasien dari luar Kudus. Sementara itu, dari jumlah 21 pasien terkonfirmasi positif, 12 masih dirawat, 5 pasien sembuh dan 4 meninggal.

Untuk pasien dalam pengawasan (PDP) 25 orang masih dirawat, 3 dirujuk, 20 meninggal dan 35 pulang sehat.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -