Beranda blog Halaman 1855

Bosan Merantau, Piti Rintis Bisnis Furnitur di Kudus Demi Dekat Keluarga

0
Era Kuswoyo sedang mengerjakan pesanan furnitur di Try Art Furniture Design Interior, Kamis (16/4/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria bertato tampak membelah triplek HPL dengan gergaji mesin di depan sebuah rumah yang berada di Dukuh Waduk, Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Seusai terbelah, triplek kemudian dibersihkannya dan dilumuri lem untuk ditempel pada dinding almari. Pria tersebut yakni Era Kuswoyo (37) pemilik Try Art Furniture Design Interior.

Di sela aktivitasnya, pria yang akrab disapa Piti itu sudi berbagi kisah tentang usaha yang dirintis enam bulan lalu. Keinginan untuk dekat dengan keluarga lah, yang kemudian menyudahi perantauannya selama belasan tahun di berbagai kota.

Era Kuswoyo sedang mengerjakan pesanan furnitur di Try Art Furniture Design Interior, Kamis (16/4/2020). Foto: Rabu Sipan.

“Saya itu sudah bosan merantau. Sebab saya itu merantau kerja di interioran sejak 2003. Sekarang saya buka usaha di rumah biar bisa lebih dekat sama keluarga,” ujar Piti saat ditemui, Kamis (16/4/2020).

Pria berambut ikal itu menambahkan, sejak lulus Madrasah Aliyah (MA) di desanya, Piti langsung merantau ke beberapa kota di Indonesia untuk kerja di desain interior. Beberapa di antaranya adalah Jakarta, Medan, Surabaya, Papua, dan Bali.

Baca juga: Jandaku, Tawarkan Aneka Produk Mebel dari Jati Belanda

“Saya merantau itu dari remaja hingga menikah dan punya anak tiga. Nah, karena punya tiga anak itu, usaha saya tak beri nama Try Art,” jelasnya sambil mengamplas sudut triplek.

Dia berharap, dengan memberi nama sesuai dengan jumlah anaknya, usaha yang ditekuninya makin lancar, bisa berkembang, serta ada banyak pelanggan yang memesan aneka produk furnitur interior darinya.

Dia lantas menjelaskan beberapa produk interior yang bisa dipesan pelanggan, mulai dari kitchen set, kamar set, mini bar, backdrop televisi dan lain-lain sesuai pesanan. Sedangkan untuk bahannya dari multipleks dan finishing dengan HPL.

“Untuk harganya Rp 1,4 juta per meter” ujar pria yang gemar memakai blangkon saat bekerja itu.

Baca juga: Kualitas dan Harga Murah, Kunci Noto Mebel Bisa Bertahan Lebih 20 Tahun

Meski baru dirintis enam bulan yang lalu, dia bersukur sudah lumayan banyak orang yang pesan hasil karyanya. Ia merinci, pesanan itu datang dari Kudus, Demak, Pati, bahkan ada yang dari Ambarawa.

“Selama ini, pemasaran hanya mengandalkan media sosial Facebook menggunakan akun ‘Piti Mbedesi’, serta dari mulut ke mulut,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Jangkau Gang Sempit, Bhabinkamtibmas Gondangmanis Modif Motor untuk Semprot Disinfektan

0
Bhabinkamtibmas Desa Gondangmanis Ipda Judi Kristianto sedang menyiapkan disinfektan di Balai Desa Gondangmanis, Senin (27/4/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah motor terparkir di depan Balai Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Senin (27/4/2020) siang. Seseorang berseragam polisi tampak membetulkan posisi tas kain berisi jeriken. Dia tak lain adalah Ipda Judi Kristianto (42), Bhabinkamtibmas Desa Gondangmanis.

Pria yang akrab disapa Judi itu lantas berbagi penjelasan tentang kendaraan dinasnya itu. Dia melakukan modifikasi ringan demi membantu penyemprotan disinfektan di gang-gang yang tidak bisa dijangkau dengan mobil.

Bhabinkamtibmas Desa Gondangmanis Ipda Judi Kristianto sedang menyiapkan disinfektan di Balai Desa Gondangmanis, Senin (27/4/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

“Ini sudah saya gunakan untuk melakukan penyemprotan disinfektan di daerah Gondangmanis yang jalannya tidak bisa diakses dengan mobil. Motor saya ini bisa masuk,” terangnya sambil membuka tas besar di motornya.

Dirinya mengaku belajar memodifikasi motor dari Youtube. Setelah membuka tutorial, kemudian dia mempraktikkan untuk membuatnya. Proses modifikasi motornya pun hanya membutuhkan waktu satu hari.

Baca juga: Desa Gondangmanis Siapkan Lima Ruangan untuk Karantina Pemudik

“Biaya yang saya keluarkan untuk membeli dinamo Rp 110 ribu, jeriken Rp 50 ribu, aki Rp 200 ribu dan tas Rp 200 ribu. Ada juga tambahan untuk hal-hal lain,” ungkapnya.

Di sisi lain, Sekretaris Desa Gondangmanis Suharto (53) mengatakan, selain penyemprotan disinfektan, pihaknya juga telah menyiapkan lima ruangan untuk karantina pemudik. Namun, penggunaanya menunggu fasilitas isolasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus telah penuh.

Dia memperkirakan masih ada warga yang mudik lagi. Sebagai antisipasi, pihaknya sudah punya relawan dan pos bantu di setiap RW untuk membantu jika ada warga yang pulang dari perantauan.

“Kami juga memanfaatkan RT dan RW untuk memberi imbauan dan penjelasan kepada pihak keluarga perantau agar keluarga yang merantau tidak mudik terlebih dahulu. Demi keselamatan keluarga dan diri sendiri,” tutup Suharto.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Panggilan Mertua Pembuka Jalan Takdir Gimbal Jadi Seniman Bambu

0
Seniman Bambu Toyib Bukhairi sedang memasang tiang gazebo di Arjuna Resto, Jum'at (17/4/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pagi itu, Toyib Bukhairi (39) tampak duduk santai di sisi belakang Arjuna Resto yang berada di Jalan Lingkar Utara, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Sambil menikmati secangkir kopi, ia terlihat asyik bercakap-cakap dengan rekan-rekannya yang sedang merangkai bambu.

Rangkaian bambu itu ada yang berupa pagar dan ada juga yang berbentuk ornamen-ornamen. Setelah jadi, beberapa dari mereka kemudian memasang pagar dan hiasan ke gazebo yang sudah berdiri lebih dulu.

Ditemui di sela-sela kerja, pria berpenampilan nyentrik dengan rambut gibal sepunggung itu ternyata seniman bambu yang didatangkan dari Kabupaten Ngawi, Jawa Timur untuk membuat gazebo di Arjuna Resto.

Seniman Bambu Toyib Bukhairi sedang mengerjakan ornamen gazebo di Arjuna Resto, Jum’at (17/4/2020). Foto: Rabu Sipan.

Pria yang akrab disapa Gimbal itu mengaku, kecintaannya pada bambu ini ternyata datang secara tak terduga. 2013 lalu, ia harus pulang dari perantauan ke kampung halaman sang istri di Ngawi untuk merawat mertuanya yang sedang sakit keras.

“Saya itu aslinya orang Lampung. Dulunya merantau di Cimahi jadi sopir angkutan selama belasan tahun. Di Cimahi itu pula saya dapat jodoh orang Ngawi,” ungkapnya saat ditemui, Jum’at (17/4/2020).

Saat awal-awal berada di Ngawi, dia mengaku kebingungan untuk bekerja, lantaran berada di daerah baru dengan orang-orang baru. Sehingga, ia belum punya kenalan yang bisa membantunya mencarikan ladang penghasilan.

“Bagaimana tidak bingung. Biasanya jadi sopir, kerja santai dapat duit, kemudian pindah ke kampung. Jadi saya bingung mau mengerjakan apa agar punya penghasilan,” tutur pria yang sudah dikaruniai tiga putra itu.

Baca juga: Aji Hanya Bermodal Rp 100 Ribu saat Rintis Usaha Servis Jok

Otak kreatifnya mulai terbuka saat mendapati desa istrinya ternyata jadi sentra kerajinan bambu. Para tetangga banyak yang mencari nafkah menjadi pengrajin bambu, seperti sangkar burung, tampah, dan perabot rumah tangga lainnya.

Mendapati itu, Gimbal kemudian mencoba belajar mengkreasikan bambu seperti warga kebanyakan.  Dengan jiwa seni yang dimilikinya, ia tidak butuh waktu lama untuk membuat aneka kerajinan dari bambu.

“Dulu pas di Cimahi saya pernah iseng membuat kaligrafi La ilaha illallah dari uang receh. Saat itu, hasil karya saya sempat menggegerkan Kota Cimahi dan Bandung, dan sempat masuk media lokal hingga nasional. Bahkan sempat ditawar oleh petinggi partai, tapi tidak saya jual,” ungkapnya sambil menggelung rambut gimbalnya.

Ia lantas menciptakan suatu alat yang mampu mempercepat pekerjaan pembuatan tampah. Dengan alat itu, warga yang biasanya hanya mampu membuat 40 tampah selama lima hari, sekarang bisa menciptakan 100 tampah dengan waktu yang sama.

“Bahkan saya dijuluki profesor tampah oleh tetangga saya, karena bisa menciptakan alat yang mampu mempercepat pekerjaan meraka,” tuturnya sambil tersenyum.

Karena terobosannya itulah, dia kemudian diajak seseorang untuk mengonsep upacara tradisi Kebo Ketan di Ngawi. Di tradisi yang dihadiri para seniman dalam hingga luar negeri itu, dia membuat kerbau, tangga kayangan dan lain sebagainya.

Tidak berhenti di situ, Gimbal juga pernah membuat reog tapi bulu meraknya menggunakan bambu. Hasil karyanya itu membuat dirinya makin dikenal sebagai seniman bambu.

Baca juga: Jandaku, Tawarkan Aneka Produk Mebel dari Jati Belanda

“Untuk memperdalam ilmu, saya pernah dikirim ke Bali selama sebulan. Di sana saya mempelajari secara detail tentang bambu. Dari teknik pemotongan, pemilihan bambu yang baik, kekuatan bambu serta membuat aneka kerajinan dari bambu,” bebernya.

Sepulang dari Bali, kemampuannya mengkreasikan bambu semakin terasah. Pesanan juga mulai sering berdatangan kepadanya, termasuk kepercayaan dari Pemerintahan Kepulauan Aru, Maluku untuk membuat patung ikan hiu martil sepanjang 17 meter dan mempercantik destinasi pariwisata setempat.

“Aku bersukur atas perjalanan hidup yang menuntunku ke Ngawi. Sebuah daerah penghasil bambu yang mendidikku jadi seniman bambu,” tutup Gimbal.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Pasar Juwana Sepi, Pedagang Minta Keringanan Bayar Retribusi

0
Pedagang di Pasar Juwana Baru sedang melayani pembeli, Senin (27/4/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, PATI – Pasar Juwana Baru terlihat cukup sepi, pagi itu. Beberapa toko di pasar yang berada di Growong Lor, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati itu tampak tutup. Hanya ada beberapa pedagang yang tetap buka dan duduk bercengkerama dengan pedagang lain sambil menunggu pembeli.

Menengok ke dalam, kios-kios pakaian yang biasanya ramai diserbu warga saat bulan Ramadan juga tak banyak aktivitas yang bisa ditemui. Sepinya pasar ini, membuat Eko Siswanto cukup was-was. Bahkan ia mengaku, lengangnya pasar sudah berlangsung beberapa minggu ini.

Beberapa tukang becak sedang menanti penumpang di depan Pasar Juwana baru, Senin (27/4/2020). Foto: Titis Widjayanti.

“Kondisinya sepi. Ya sejak ada wabah ini, pasar jadi sepi sekali. Biasanya kalau mau lebaran banyak pembeli, tapi ini sepi. Nggak seperti tahun-tahun sebelumnya,” keluhnya saat ditemui, Senin (27/4/2020).

Dengan kondisi tersebut, pria yang jualan di Blok 1 itu mengaku cukup keberatan untuk membayar retribusi, lantaran omzetnya turun drastis. Makanya, ia berharap adanya keringanan pembayaran retribusi.

Baca juga: Pemkab Kudus Gratiskan Retribusi Pasar Selama Tiga Bulan

“Bisa dilihat sendiri suasananya. Bahkan beberapa toko memilih tutup lebih awal, atau nggak buka dulu karena tidak ada yang beli,” ungkap pria yang jualan bersama istri dan dua anaknya itu.

Menurut pria asli Juwana itu, jika pun tidak bisa digratiskan, pembayaran retribusi bisa dikurangi karena sama-sama susah. Sehingga, pedagang masih bisa menggunakan penghasilannya tiap hari untuk kebutuhan lain.

“Ya harapannya ada keringanan. Misal dari Rp 5 ribu per hari, kalau bisa bayar setengahnya. Sistemnya, kalau toko semacam saya ini tiap buka harus bayar retribusi. Lha ini dari buka aja baru ada pembeli dua orang tadi. Belum lagi yang retribusinya Rp 300 ribu per bulan, mau buka atau tidak. Kan kasihan itu,” kata Eko.

Eko lantas membandingkan, sebelum ada virus Corona, setiap hari ia mampu meraup omzet hingga Rp 2 juta. Namun sejak adanya wabah, penghasilannya menurun drastis hingga hanya memperoleh sekitar Rp 300 ribu per hari.

Baca juga: Atur Jarak Pedagang Pasar, Ganjar Minta Seluruh Daerah Tiru Salatiga

“Saya akan tetap membuka toko, karena ini tempat kami mendapatkan penghasilan,” tutup pria yang sudah berjualan di pasar selama 12 tahun itu.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Buruh Minta Pemerintah Permudah Pendaftaran Kartu Prakerja

0
Gubernur Ganjar Pranowo saat melakukan audiensi. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Ketua Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (KSBI) Jawa Tengah, Wahyudi mengatakan, jika mekanisme Kartu Prakerja sangat menyulitkan dan membuat banyak buruh tidak dapat mengakses program itu. Selain dilakukan secara online, keterbatasan pengetahuan para buruh juga menjadi penyebabnya.

“Kami minta kebijakan pemerintah agar proses pendaftaran Kartu Prakerja ini dipermudah. Banyak teman-teman kami yang belum melek teknologi dan kesulitan mengakses soal itu,” ujarnya saat menemui Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, Selasa (28/4/2020).

Katanya, banyak buruh yang tidak memiliki atau tidak bisa mengoperasikan android. Sementara untuk masuk ke sistem Kartu Prakerja, harus bisa memaksimalkan itu.

“Sudah banyak anggota kami yang mengeluh soal ini. Sulit mengakses masuk kartu Prakerja. Padahal, Kartu Prakerja bagaikan angin surga buat kami para buruh yang di PHK atau dirumahkan saat ini,” tegasnya.

Baca juga : Pemegang Kartu Prakerja Bisa Dapat Rp 3,5 Juta, Ganjar: ‘Yang Kena PHK Buruan Daftar!’

Wahyudi menerangkan, selama Covid-19 berlangsung, ribuan buruh sudah di PHK atau dirumahkan tanpa adanya pesangon atau gaji yang diperoleh. Di serikat buruhnya saja, setidaknya ada 2.000 buruh yang di PHK atau dirumahkan.

“Kami berharap ada bantuan dari pemerintah, karena kami semua kesulitan dalam kondisi ini,” kata dia.

Persoalan lain yang disampaikan kepada Ganjar, yakni mengenai jaminan kesehatan dan jaminan hari tua yang dikelola BPJS. Menurutnya, akibat Covid-19 ini, banyak perusahaan yang nunggak bayar BPJS Kesehatan sehingga buruh kesulitan mendapat akses itu.

“Termasuk kami juga minta pencerahan, apakah kami yang di PHK atau dirumahkan bisa mencairkan JHT (jaminan hari tua) untuk menopang kehidupan kami. Kami sangat berharap dukungan pemerintah, termasuk adanya bantuan langsung tunai kepada kawan-kawan yang terdampak,” pungkasnya.

Satu persatu persoalan itu dicatat dan didengar baik-baik oleh Ganjar. Menurutnya, beberapa persoalan yang dikemukakan tersebut memang menjadi perhatiannya selama ini.

“Kawan-kawan buruh melaporkan soal nasibnya, ada yang di PHK, dirumahkan, BPJS nunggak dan bagaimana nasib mereka. Beberapa yang itu hubungannya dengan pusat, pasti akan kami bantu fasilitasi, seperti soal Kartu Prakerja atau BPJS,” kata Ganjar.

Diakuinya, mekanisme Kartu Prakerja memang di luar dari harapannya. Prosesnya yang sulit dan cukup membingungkan membuat para buruh kesulitan.

Persoalan itu sudah disampaikan Ganjar kepada pemerintah pusat. Ia meminta, seluruh buruh agar yang terdampak dan tidak bisa mengakses sistem kartu Prakerja, dapat dibackup dengan data manual.

“Sebab kalau hanya lewat satu pintu, sulit masuknya. Apalagi kuota hanya 5,5 juta itu, sekarang pendaftarnya sudah 7 juta. Kami sudah koordinasi dan kami sampaikan pada Presiden soal ini. Kami mendorong agar bisa dikirim manual, silahkan nanti pusat melakukan verifikasi,” terangnya.

Baca juga : Simak Langkah Daftar Kartu Pra Kerja di Situs Prakerja.go.id

Terkait nasib para buruh yang di PHK atau dirumahkan, Ganjar juga sudah berkomunikasi dengan semua perusahaan di Jateng. Menurutnya, sudah saatnya perusahaan peduli kepada pekerja di tengah pandemi ini.

“Tuntutan pekerja tidak sulit, mereka hanya minta selama dirumahkan atau di PHK tetap mendapat haknya yang disesuaikan. Paling tidak selama tiga bulan. Saya sudah mengajak seluruh perusahaan di Jateng untuk iuran bareng-bareng untuk membantu para buruh,” terangnya.

Dengan total 45.000 buruh yang dirumahkan di Jateng saat ini, tidak butuh uang banyak untuk menjamin hidup mereka selama tiga bulan. Minimal, kebutuhan sembako ada setiap harinya.

“Kalau buruh, Apindo atau Kadin bisa kompak soal ini, maka ini bisa sangat baik. Kita bisa menjadi contoh dan menghadapi proses ini dengan baik,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Desa Gondangmanis Siapkan Lima Ruangan untuk Karantina Pemudik

0
Beberapa perangkat Desa Gondangmanis tampak berjaga-jaga di Posko Kampung Siaga Covid-19 di desa tersebut, Senin (27/4/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Lima orang tampak duduk di tenda yang bertuliskan Posko Kampung Siaga Covid-19 yang terletak di Balai Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Salah satu dari mereka adalah Suharto (53). Pria yang siang itu menggunakan seragam dinas Aparatur Sipil Negara (ASN) itu tampak sedang memberi arahan kepada empat orang lain yang sedang berjaga.

Saat ditemui, Suharto menyampaikan, pihak desa sudah menyiapkan lima ruangan di balai desa sebagai tempat karantina pemudik. Ruangan ini sudah disiapkan sejak dua pekan lalu.

Suasana Balai Desa Gondangmanis yang telah menyiapkan tempat karantina untuk pemudik. Foto: Ahmad Rosyidi.

“Setiap warga yang merantau akan kami arahkan ke tempat karantina yang disediakan Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Kudus. Ini nanti akan kami gunakan jika tempat yang disediakan pemkab sudah tidak dapat menampung pemudik,” terang Sekretaris Desa Gondangmanis itu, Senin (27/4/2020).

Sambil membuka pintu ruangan yang disediakan untuk isolasi, dia melanjutkan, lima ruangan tersebut nantinya dapat menampung 15 orang pemudik. Adapun fasilitas yang disediakan adalah kasur, bantal, guling, tempat sampah, lampu, kipas angin, wifi dan tiga toilet. Tak hanya itu, desa juga menyiapkan makan tiga kali sehari.

“Saat ini sudah bisa digunakan, meski belum ada warga yang diisolasi. Sedangkan warga Gondangmanis yang mudik dan sudah melewati masa karantina mandiri selama dua pekan ada sekitar 350 orang,” jelasnya.

Bhabinkamtibmas Desa Gondangmanis Judi Kristianto (42) menambahkan, pihak kepolisian juga sudah mengecek lokasi isolasi. Menurutnya, lokasi tersebut memang sudah siap dan bisa digunakan.

Baca juga: Pemkab Kudus Enggan Terapkan PSBB

“Ini tadi dari kepolisian sudah datang kesini dan melakukan pengecekan dan penilaian. Ini juga ada jadwal Relawan Siaga Covid-19, jadi nanti ada yang jaga 24 jam di sini. Relawannya dari masyarakat dan perangkat desa. Untuk keamanan nanti dibantu dari bhabinkamtibmas,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Atur Jarak Pedagang Pasar, Ganjar Minta Seluruh Daerah Tiru Salatiga

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta seluruh daerah untuk meniru pasar di Kota Salatiga yang mengatur jarak antar pedagang. Menurutnya, pasar yang didesain khusus di jalanan dengan jarak antara kios itu patut dicontoh untuk antisipasi penumpukan warga.

Makanya, Ganjar mengapresiasi langkah Pemkot Salatiga itu, lantaran bisa jadi contoh yang sangat keren dan bagus untuk diterapkan di tengah wabah Covid-19. Ia berharap, daerah lain dapat menyamai Salatiga dalam melakukan pengetatan-pengetatan di berbagai bidang.

“Sebenarnya sudah lama saya usul penataan pasar itu kepada bupati dan wali kota. Idenya saya lihat di Myanmar, lalu saya share ke mereka, bisa tidak dilakukan. Ternyata Salatiga yang melakukan. Yang sudah komunikasi adalah Kota Semarang. Wali kota sedang menyiapkan itu. Nanti kami support dan saya minta masyarakat mendukung,” kata Ganjar saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (28/4/2020).

Baca juga: Seluruh Pasar dan Pabrik di Semarang Wajib Terapkan Protokol Kesehatan

Dia melanjutkan, paradigma saat ini harus benar-benar diubah. Mau tidak mau masyarakat kudu bisa hidup dengan covid-19 termasuk sistem pasar atau sistem ekonomi.

“Sistem pasar kita harus diubah. Kita harus bisa hidup dengan covid-19. Pilihannya adalah kita mengambil jalur tegas PSBB yang melarang semua orang keluar dan ekonomi berhenti, atau kita bisa melakukan seperti di Kota Semarang atau Banyumas yang melakukan pengetatan” terangnya.

Menurutnya, sekarang ini semua orang ketakutan. Banyak perusahaan bangkrut dan karyawan dirumahkan. Untuk itu, mekanisme dan perilaku ekonomi baru harus dilakukan.

Baca juga: Bukan PSBB, Senin Depan Kota Semarang Berlakukan Jogo Tonggo

“Bagaimana caranya, ya move on. Ayo kita tetap hidup dengan Covid-19. Mari jaga kesehatan, jaga jarak, perusahaan karyawannya diatur, wajib pakai masker, disediakan tempat cuci tangan dan lainnya. Kalau semua mendukung, maka kita pasti bisa melawan ini tanpa harus mematikan semua denyut nadi ekonomi,” tegasnya.

Kalau itu bisa dilakukan, maka model penanganan Covid-19 ala Taiwan, lanjut Ganjar, bisa dilakukan. Negara itu tidak melakukan lockdown, ekonomi tetap berjalan dan semuanya baik-baik saja.

“Ini tidak mudah, butuh dukungan semua masyarakat. Kalau tidak mau mendukung, maka jalan satu-satunya ya PSBB. Semua pasti akan sakit perut,” tutup Ganjar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

12 Tenaga Medis Puskesmas di Kudus Jalani Tes Swab

0
Petugas kesehatan sedang mempersiapkan alat untuk tes swab terhadap 12 tenaga medis puskesmas. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Tiga petugas lengkap mengenakan alat pelindung diri (APD) terlihat sibuk menyusun botol kecil di teras Puskesmas Jekulo, Kabupaten Kudus. Botol-botol tersebut digunakan untuk menampung air liur, sebagai bagian dari proses tes swab.

Menurut Kepala Puskesmas Jekulo dr Emy Ruyanah, para petugas tersebut sedang melakukan tes swab bagi petugas kesehatan dari beberapa puskesmas yang ada di Kudus. Katanya, ada 12 tenaga medis puskesmas yang menjalani tes swab.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo memberikan semangat kepada tenaga medis. Foto :Imam Arwindra

“Sebelumnya, tenaga medis tersebut sudah menjalani rapid test dan hasilnya dinyatakan positif,” tuturnya, Selasa (28/4/2020).

Emy melanjutkan, setelah dinyatakan reaktif Corona dari hasil rapid diagnostic test (RDT), pihaknya segera melakukan isolasi terhadap petugas medis dan juga dilakukan tes swab.

Baca juga : Bayi Berusia 40 Hari PDP Covid-19 di Kudus Meninggal Dunia

“Ini sudah tes swab kedua. Jarak antara dengan tes swab pertama yakni 24 jam,” jelasnya.

Menurutnya, hasil swab harus menunggu lima sampai tujuh hari. Sambil menunggu hasil tes swab, petugas medis akan diisolasi terlebih dahulu.

“Mereka kondisinya sehat sama seperti saya. Namun kita sudah mulai isolasi hari Senin (27/4/2020) kemarin. Mereka diisolasi di puskesmas,” tambahnya.

Emy memberitahukan, 12 tenaga medis yang di swab bukan dari Puskesmas Jekulo saja. Dia merinci, tujuh dari Puskesmas Jekulo, dua dari Puskesmas Dawe, dua Puskesmas Undaan dan satu dari Puskesmas Rendeng.

Di puskesmas yang dipimpinnya, rencana seluruh tenaga medis akan menjalani rapid test.

“Keseluruhan sekitar 80. Baru menjalani rapid tes sebanyak 40 orang. Rencana kalau tidak dua hari lagi, ya besok pagi,” jelasnya.

Sementara itu, Plt Bupati Kudus HM Hartopo yang datang di Puskesmas Jekulo menyampaikan, agar para petugas medis menjaga daya tahan tubuh supaya tetap kuat.

Menurutnya, tenaga medis merupakan garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan pasien. Bila banyak tenaga medis yang dirawat, tentu pasien tidak akan tertangani.

Baca juga : Kabar Baik dari Semarang, 26 Tenaga Medis RSUP Kariadi Dinyatakan Sembuh dari Covid-19

“Tetap jaga kesehatan dan tetap semangat agar bisa sembuh dan kembali membantu masyarakat,” ungkapnya yang datang untuk memotivasi dan memberikan bantuan APD.

Hartopo menduga, meningkatnya kasus tenaga medis yang positif, lantaran adanya orang tanpa gejala (OTG). Menurutnya, kondisi OTG dalam keadaan sehat namun membawa virus.

“Kepada masyarakat Kudus terus lakukan physical distancing dan selalu mengenakan masker,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Wilayah Jateng yang Masuk Zona Merah Diminta Segera Ambil Tindakan

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat menyambangi warga beberapa waktu lalu. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Daerah di Jawa Tengah yang telah menjadi zona merah penyebaran Covid-19 diminta untuk segera mengambil tindakan. Hal itu penting, agar peningkatan penyebaran Covid-19 dapat ditekan.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan, ada banyak pilihan yang dapat digunakan oleh daerah untuk mendisiplinkan warganya.

“Daerah zona merah bisa menggunakan model seperti Kota Semarang, tidak PSBB tapi melakukan pengetatan-pengetatan. Daerah zona merah seperti Solo dan Wonosobo bisa melakukan itu,” terangnya.

Baca juga : Jateng Dapat Bantuan 50 Ribu Reagen, Tes Swab Kini Bisa Lebih Cepat

Beberapa waktu lalu, dari Pemkab Wonosobo sudah berkoordinasi untuk menerapkan PSBB. Ganjar meminta agar jika memang itu yang akan diambil, maka segera diajukan.

“Kalau memang mau menerapkan pola itu (PSBB) kami buka ruang. Silakan saja. Atau sebenarnya bisa menggunakan model Kota Semarang atau Banyumas,” terangnya.

Di Banyumas lanjut Ganjar, pemda setempat tidak menerapkan PSBB. Namun kepala daerahnya mengeluarkan peraturan daerah untuk melakukan pengetatan-pengetatan di kalangan masyarakat untuk mengikuti ketentuan yang berlaku.

“Ada perda yang mengatur harus pakai masker, kalau tidak pakai bisa didenda atau dipidana. Itu lebih bagus dari Banyumas. Jadi mau pakai model Semarang atau Banyumas, yang penting harus ada tindakan lebih,” tegasnya.

Baca juga : Pemkab Kudus Enggan Terapkan PSBB

Tindakan pengetatan di zona merah lanjut Ganjar memang perlu. Sebab, data dari Google menunjukkan, tingkat keluyuran masyarakat Jateng masih terjadi cukup banyak.

“Jadi memang harus ada pengetatan, termasuk kabar para pemudik yang banyak masuk ke Jateng. Kami minta ini ditindaklanjuti dan dikawal betul,” ucapnya.

Terkait penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) di Kota Semarang, Ganjar mengatakan akan melakukan kontrol dan pengawasan. Pihak kepolisian didukung TNI lanjut dia sudah kompak untuk menerapkan itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Tanggapi Pemudik Bandel, Ganjar: ‘Tolong Jangan Ngumpet-Ngumpet, Bahaya!’

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo terus mewanti-wanti dan minta tolong kepada pemudik untuk tidak nekat pulang kampung dengan cara sembunyi-sembunyi. Ini disampaikannya setelah banyak laporan para perantau tidak mengindahkan larangan mudik yang dikeluarkan oleh pemerintah.

“Saya dikirimi beberapa gambarnya. Ada yang mobilnya dimasukkan ke dalam truk, ditutupi barang, ada juga, nggak tahu benar apa tidak, orang naik kontainer. Tolong jangan Ngumpet-ngumpet, bahaya,” tegas Ganjar, Selasa (28/4/2020).

Ganjar menegaskan, mudik dengan cara sembunyi-sembunyi akan berbahaya tidak hanya bagi kesehatan, tapi juga nyawa. Dirinya mengambil contoh, sebelumnya ada tujuh orang yang mudik naik travel ke Cilacap, semuanya dinyatakan positif.

“Saya ingatkan, itu bahaya. Blak-blakan saja kalau mau mudik. Kalau memang harus pulang, uruslah surat izin dan sebagainya. Saya kira pemerintah juga akan bijaksana,” saran Ganjar.

Baca juga: Ketahuan dari Zona Merah Covid-19, 50 Kendaraan Pemudik Diminta Putar Balik

Meski begitu, Ganjar tetap meminta warganya yang ada di Jabodetabek dan kota besar lainnya untuk tidak mudik tahun ini. Sebab dengan cara itu, maka rantai penyebaran covid-19 dapat diputus.

“Kalau Anda bisa bertahan, tolong tetap bertahan. Jangan khawatir, nanti kami urus. Setiap hari saya membalas WA, telepon, SMS bahkan DM  soal itu. Ada mekanisme yang dapat ditempuh, tolong patuhi peraturan pemerintah,” pintanya.

Ia juga meminta pemerintah pusat untuk benar-benar memastikan masyarakat yang tidak pulang bisa mendapatkan insentif. Soal mekanisme pembagiannya, ia menyerahkan kepada pemerintah. Yang jelas semua harus terdata dan mendapatkan insentif.

“Persoalan mudik memang kompleks. Makanya saya meminta masyarakat untuk menggunakan hati dan perasaannya dalam memahami persoalan ini,” kata Ganjar.

Baca juga: Tanpa Surat Jalan, Mobil Pribadi Dilarang Masuk Jateng

Pihaknya akan terus mengantisipasi pemudik yang nekat pulang kampung. Bupati/wali kota sampai kepala desa se Jateng sudah mempersiapkan protokol kesehatan masing-masing dan menyediakan tempat karantina.

“Bupati/wali kota dan kades sudah bagus responnya. Kalau ada pemudik langsung dikarantina dengan baik. Mudah-mudahan ini bisa menanggulangi,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Peduli Covid-19, di Warung Ma’e Tom’s Mejobo Bisa Makan Sepuasnya Bayar Seikhlasnya

0
Warung makan Ma'e Tom's memiliki program makan sepuasnya bayar seikhlasnya. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, KUDUS – Jajaran warung di area sebuah food court kiri jalan dari timur perempatan traffic light Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, sore itu masih tampak sepi pengunjung. Pada hari ke dua Ramadan ini, beberapa warung sudah tampak buka untuk mempersiapkan sajian untuk berbuka.

Pemandangan berbeda terletak di salah satu warung dengan banner besar yang terpasang di pinggir jalan masuk. Ialah warung Ma’e Tom’s, warung paling depan di pojok kanan lokasi food court itu memberikan fasilitas makan sepuasnya dengan membayar seikhlasnya.

Informasi itu tak hanya terlihat di banner, akan tetapi terlihat pula di kotak kaca yang di pasang di depan warung. Setelah di dekati, terlihat dua orang perempuan berjilbab yang lengkap memakai masker sedang menunggu warung tersebut. Mereka adalah karyawan warung yang sudah sejak awal buka, menjadi pramusaji sekaligus juru masak. Salah satu dari mereka mengatakan jika fasilitas makan sepuasnya dengan bayar seikhlasnya tersebut baru saja dibuka mulai Kamis, (23/4/2020).

Baca juga : Kelurahan Wergu Kulon Terapkan Program Si Kaya Bantu Si Miskin

“Kalau warungnya sudah empat tahun berdiri. Tapi kalau program ini baru kemarin mulainya. Terus kemarin hari pertama puasa tutup, dan ini baru buka lagi,” papar Julaikah (45), Sabtu (25/4/2020).

Meskipun terpampang besar dan di pasang di pinggir jalan, Julaikah mengatakan, jika informasi tersebut belum banyak warga sekitar yang mengetahui. Faktanya bisa dilihat dari pengunjung yang datang justru kebanyakan dari orang-orang yang lewat. Bukan dari warga sekitar. Padahal, ia menambahkan bahwa fasilitas tersebut memang sengaja diberikan untuk memberikan bantuan bagi masyarakat yang terdampak kondisi Covid-19 dan tidak bisa makan. Khususnya, warga sekitar.

“Kalau ini program dari beberapa pihak. Meskipun memang warungnya milik perseorangan. Tapi karena kondisi wabah yang membuat banyak orang kesusahan, terutama tidak bisa makan. Makanya dibuat program semacam ini. Ya semoga bisa membantu sesama,” kata perempuan asli Kudus tersebut.

Hal tersebut juga diperjelas oleh pemilik warung, Achadun (37) yang juga menjabat sebagai Bendahara MWCNU Mejobo, Kudus. Ia mengatakan, jika program ini dibuat bersama atas support dari MWCNU Mejobo terkait dampak dari Covid-19. Di mana nantinya akan dijalankan selama kurang lebih 3 bulan ke depan untuk memberikan bantuan makanan bagi warga yang terdampak wabah.

Ia mengatakan, bahwa makanan adalah kebutuhan pokok, oleh karena itu mereka menyasar kepada orang-orang yang sudah tidak punya pendapatan atau kesulitan ekonomi untuk tetap bisa makan.

Baca juga : Tak Lagi Jualan, Kartini Kini Hanya Andalkan Belas Kasih para Dermawan

“Sebenarnya ini program bersama dengan MWCNU Mejobo. Memang menjadi rangkaian penanganan Covid-19. Karena dari awal kami memang mempelopori penanganan di daerah Mejobo. Mulai dari penyemprotan desinfektan ke sekolah-sekolah, membagikan masker, lalu ini warung seikhlasnya. Kebetulan tempatnya di warung saya,” papar dia melalui telepon, Senin (27/4/2020).

Ia mengatakan jika setiap hari warung Ma’e Tom’s akan terus buka dengan persediaan 200 sampai dengan 300 porsi per hari. Untuk waktu bukanya, dikarenakan bulan puasa maka mulai pukul 15.30 WIB sampai dengan makanan habis.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Satu Warganya Positif Covid-19, Desa Kutuk Berlakukan Lockdown

0
Pemerintah Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus memberlakukan lockdown karena wilayahnya masuk zona merah. Foto : Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah truk memuat pasir, tampak dihadang sejumlah orang di depan gapura pintu masuk Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Selasa (28/4/2020). Sopir truk akhirnya turun dan cuci tangan di tempat yang telah disediakan. Setelah itu, sopir tersebut mendapat pertanyaan serta imbauan dari Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Desa Kutuk. Karena ada kepentingan, akhirnya truk tersebut diizinkan masuk desa.

Tim Satgas Covid-19 Desa Kutuk menyetop setiap kendaraan yang mau masuk desa tersebut. Foto: Ahmad Rosyidi

Seorang pria yang ikut menjaga di gapura pintu masuk tersebut yakni Muhammad Irham (27). Satu di antara sejumlah Tim Satgas Covid-19 Desa Kutuk. Dia sudi berbagi penjelasan kepada betanews.id tentang penerapan lockdown di desanya. Keputusan tersebut berlaku sejak Senin (27/4/2020) malam.

Baca juga : Desa Ternadi Kudus Berlakukan ‘Lockdown’

“Ini dimulai tadi malam, dan akan dilakukan paling tidak hingga 10 hari. Hal ini diputuskan, karena ada warga kami yang positif Covid-19. Jadi saat ini kami memutuskan untuk lockdown sementara, hingga desa kami dinyatakan aman dari zona merah,” terang warga Kutuk RT 08 RW 04 itu.

Pria yang akrab disapa Irham itu juga menyampaikan, jika warga Kutuk yang positif Covid-19 tidak punya riwayat pergi keluar kota. Bahkan sebelumnya memang sudah sakit-sakitan dan tidak keluar rumah. Saat ini, Tim Satgas Covid-19 Desa Kutuk sedang melakukan penelusuran riwayat aktivitas dan interaksinya.

“Saat ini kami sedang mencari informasi riwayat interaksi warga yang positif Covid-19 itu. Setahu kami, bapaknya memang sudah sakit komplikasi dan tidak keluar-keluar rumah sejak lama. Bahkan sebelum ada pandemi Covid-19 ini,” ungkapnya.

Irham juga menambahkan, lockdown di desanya masih semi pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Hal itu dilakukan demi keselamatan warga. Sehingga dilakukan pembatasan ruang gerak bagi warga dan meminimalisir kerumunan.

Baca juga : Geger Kota Tegal Lockdown, Ganjar: ‘Tidak, Hanya Isolasi Terbatas’

“Kalau ada warga mau keluar desa akan kami tanya dulu, jika tidak penting maka tidak diizinkan. Begitu juga warga luar yang hendak masuk ke desa. Mengingat Desa Kutuk sudah zona merah, jadi kami perketat,” tegasnya.

Akses pintu masuk ke Desa Kutuk nantinya akan di jaga selam 24 jam. Penjagaan melibatkan Tim Satgas dan Linmas. Selain itu juga dibantu oleh Bhabinkamtibmas.

“Nanti akan dijadwalkan untuk tugas 24 jam. Akses jalan yang di tutup saat ini adalah jalan utama, akses jalan ke Desa Terangmas, akses Dukuh Gatet dan akses jalan ke RW 01,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kabar Baik dari Semarang, 26 Tenaga Medis RSUP Kariadi Dinyatakan Sembuh dari Covid-19

0
Tenaga medis RSUP Karyadi yang sempat menjalani masa karantina di Hotel Kesambi Semarang mendapatkan dukungan dari masyarakat. Kini 26 di antaranya sudah dinyatakan sembuh. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Kabar baik datang dari Semarang. Sebanyak 26 tenaga medis RSUP Kariadi Semarang dinyatakan sembuh dari positif Covid-19. Hal ini setelah mereka menjalani masa karantina di Hotel Kesambi Hijau Semarang.

Kabar kesembuhan 26 tenaga medis itu disampaikan langsung oleh akun media sosial RSUP Kariadi Semarang. Di akun itu diterangkan, bahwa 26 tenaga medis telah dinyatakan negatif dan boleh pulang, sementara 8 sisanya masih menunggu proses selanjutnya.

Kabar itu, tentu saja membuat senang banyak orang, termasuk Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. “Alhamdulillah, kemarin beberapa kawan-kawan yang di Kesambi itu kontak saya. Dia kirim foto dan say hello sambil mengucapkan terima kasih. Saya senang mereka bisa sembuh dan bisa membuat semangat lagi bagi yang lainnya,” kata Ganjar usai rapat dengan perwakilan buruh di kantornya, Selasa (28/4/2020).

Baca juga : Memilukan, 46 Tenaga Medis RS Kariadi Semarang Positif Covid-19

Menurut Ganjar, selain karena mereka yang dikarantina di Hotel Kesambi itu adalah tenaga medis, sehingga mengetahui protokol kesehatan, dukungan penuh dari masyarakat juga menjadi faktor utama cepatnya pemulihan mereka. Masyarakat yang ada di sekitar hotel dan masyarakat Kota Semarang pada umumnya, bahu membahu saling memberikan dukungan.

“Ada yang mengirim vitamin, buah-buahan, ada yang bantu jaringan agar mereka bisa menggunakan alat virtualnya lebih baik sehingga bisa tetap mengajar atau melakukan aktivitas lainnya. Bantuan dan dukungan itu membuat para tenaga medis ini happy dalam menjalani masa karantina. Hebat mereka, kami senang dan bangga dengan kabar ini,” tegasnya.

Ganjar mengatakan akan terus memberikan perhatian pada tenaga medis di Jawa Tengah agar bisa bekerja dengan aman dan nyaman.

“Kita bantu terus, dengan urut-urutan yang seperti ini, akan kami dorong terus menerus supaya seluruh tenaga kesehatan di Jateng bisa bekerja dengan aman dan nyaman,” tutupnya.

Baca juga : Begini Kondisi Terkini 46 Tenaga Medis RS Kariadi Semarang yang Positif Covid-19

Sebelumnya, sebanyak 46 orang dikarantina di Hotel Kesambi Hijau Kota Semarang karena dinyatakan positif Covid-19. Dari jumlah itu, 34 di antaranya adalah dokter, perawat dan tenaga medis di RSUP Kariadi Semarang.

Para tenaga medis tersebut dinyatakan positif Covid-19 karena tertular dari pasien yang tidak jujur. Pasien yang sebenarnya baru pulang dari daerah zona merah itu tidak mengakuinya, sehingga saat periksa menulari para tenaga medis tersebut.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Buntut Pengusiran Tiga Perawat, Pemilik Kos Nangis dan Minta Maaf saat Ditelepon Ganjar

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Kabar adanya tiga perawat RSUD Bung Karno Surakarta yang diusir dari kos-kosan, karena sang pemilik indekost takut tertular Covid-19, akhirnya sampai juga di telinga Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Usai mendengar informasi itu, Ganjar langsung ambil tindakan untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Pada Senin (27/4/2020) malam, usai tarawih, Ganjar langsung menelepon perawat yang diusir dari kos-kosannya. Kepada tiga perawat itu, Ganjar meminta kronologis kejadian sekaligus nomor telepon sang pemilik kos.

“Tadi langsung saya telepon ketiganya, Alhamdulillah semuanya sudah aman karena sudah dijemput pihak rumah sakit. Karena itu rumah sakit baru, jadi ada banyak ruangan yang kosong yang dipakai untuk mereka sementara,” kata Ganjar, Senin (27/4/2020).

Selanjutnya, Ganjar juga menelepon pemilik kos-kosan yang telah mengusir mereka. Saat ditelepon tersebut, pemilik kos mengaku ketakutan suaminya tertular Covid-19. Mengingat, tiga perawat itu bertugas di rumah sakit yang menjadi rujukan pasien Covid-19.

Baca juga : Begini Kondisi Terkini 46 Tenaga Medis RS Kariadi Semarang yang Positif Covid-19

“Saya telepon pemiliknya, dia nangis-nangis dan minta maaf. Bahasanya dia tidak mengusir, hanya takut suaminya tertular. Saya heran kenapa bisa begitu, padahal si ibu pemilik kos ini adalah bidan,” terangnya.

Sampai saat ini ,lanjut dia, tiga perawat yang diusir dari kos-kosannya itu dalam kondisi aman. Mereka sementara tinggal di rumah sakit dengan fasilitas yang ada.

“Edukasi memang harus kita tingkatkan untuk menghindari hal-hal semacam ini. Selain itu, kami juga sudah menyiapkan tempat khusus yang dapat digunakan para tenaga medis untuk tinggal apabila terjadi hal serupa. Namun sebenarnya, kalau edukasi kepada publik sudah baik, tentu tidak akan terjadi hal semacam ini,” tegasnya.

Pihaknya, katanya juga sudah menyiapkan sejumlah tempat untuk tempat tinggal para dokter dan tenaga medis di Jateng. Sejumlah hotel milik Pemprov Jateng serta beberapa tempat lain sudah ia siapkan.

“Memang harus ada shelter yang disiapkan agar para tenaga medis ini tenang. Di Semarang sudah kami siapkan Hotel Kesambi, di Solo juga ada bekas Bakorwil yang bisa ditempati. Itu rumahnya besar, kamarnya banyak dan nyaman. Selain itu, ada juga hotel milik kami yang ada di Solo yang bisa ditempati,” terangnya.

Ganjar menyayangkan kejadian pengusiran tenaga medis dari tempat tinggalnya itu. Ia berharap, semua masyarakat mendukung para tenaga medis dengan tidak memberikan stigma negatif pada mereka termasuk keluarganya.

Sementara itu, salah satu perawat yang diusir dari kos-kosannya, Siska mengatakan, ia dan dua temannya yang bekerja di RSUD Bung Karno langsung dihubungi pemilik kos. Mereka diminta untuk pindah dari kos-kosan itu secepatnya.

“Saya baru bangun tidur, tiba-tiba dapat WA itu. Intinya disuruh pergi karena posisi rumah sakit kita jadi rujukan Covid-19. Mungkin ibu kosnya khawatir,” katanya.

Hal itu jelas membuatnya kebingungan. Karena diminta pergi mendadak, mereka bingung mencari tempat tinggal di mana.

Baca juga : Tenaga Medis Diwajibkan Pakai APD saat Tangai Pasien Atau Tidak

“Akhirnya kami dijemput pihak rumah sakit dan sekarang tinggal di rumah sakit ini. Jelas kami syok dan kecewa sekaligus sakit hati, kenapa kami diperlakukan semacam ini,” jelasnya.

Siska mengatakan, sangat senang karena permasalahannya itu langsung ditindaklanjuti oleh pemerintah. Gubernur Ganjar lanjut dia memang telah meneleponnya.

“Tadi pak Ganjar telepon dan menanyakan kronologis. Beliau juga tanya kondisi kami serta tanya nomor telpon ibu kos dan direktur rumah sakit kami,” pungkasnya.

Siska berharap masyarakat tidak memberikan stigma negatif pada tenaga medis yang merawat covid-19. Sebab lanjut dia, selama bertugas mereka dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD) dan menerapkan standar protokol kesehatan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Bayi Berusia 40 Hari PDP Covid-19 di Kudus Meninggal Dunia

0
Dua perawat sedang menggunakan alat pelindung diri (APD). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Satu pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 asal Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus meninggal dunia, Senin (27/4/2020). PDP tersebut masih bayi berusia 40 hari dan berjenis kelamin perempuan.

Juru bicara gugus tugas Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi menjelaskan, sebelum meninggal, pasien sempat diperiksa di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus pada Senin 27 April 2020. Sebelum dirujuk ke rumah sakit, PDP dirawat terlebih dahulu di Puskesmas Gondosari.

“Kemarin dirujuk dari Puskesmas Gondosari ke RSUD,” jelasnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (28/4/2020).

Baca juga: Sempat Dipulangkan ke Rumah, 6 PDP Dinyatakan Positif Corona

Dia melanjutkan, saat dirawat, PDP memiliki gejala sesak nafas. Namun, pasien yang sudah dimakamkan tersebut belum sempat dilakukan tes swab.

Dia melanjutkan, riwayat kontak bayi PDP ini pernah mengikuti acara hajatan di daerahnya. Selain itu, orang tuanya juga belum berstatus PDP.

“Keluarga masih proses tracking. Belum diketahui hasil kepastiannya. Akan kita tracking semua hari ini,” beber Andini.

Baca juga: Pemkab Kudus Enggan Terapkan PSBB

Sementara itu, data 28 April 2020 pukul 10.00 WIB, pasien positif Covid-19 ada 19 orang. 11 orang sedang dirawat, 5 sembuh, dan 3 meninggal.

PDP ada 18 masih dirawat, 3 dirujuk, 35 pulang sehat dan 19 meninggal. Sedangkan ODP ada 146 yang masih dipantau dan 149 selesai dipantau.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -