BETANEWS.ID, KUDUS – Pagi itu, Toyib Bukhairi (39) tampak duduk santai di sisi belakang Arjuna Resto yang berada di Jalan Lingkar Utara, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Sambil menikmati secangkir kopi, ia terlihat asyik bercakap-cakap dengan rekan-rekannya yang sedang merangkai bambu.
Rangkaian bambu itu ada yang berupa pagar dan ada juga yang berbentuk ornamen-ornamen. Setelah jadi, beberapa dari mereka kemudian memasang pagar dan hiasan ke gazebo yang sudah berdiri lebih dulu.
Ditemui di sela-sela kerja, pria berpenampilan nyentrik dengan rambut gibal sepunggung itu ternyata seniman bambu yang didatangkan dari Kabupaten Ngawi, Jawa Timur untuk membuat gazebo di Arjuna Resto.

Pria yang akrab disapa Gimbal itu mengaku, kecintaannya pada bambu ini ternyata datang secara tak terduga. 2013 lalu, ia harus pulang dari perantauan ke kampung halaman sang istri di Ngawi untuk merawat mertuanya yang sedang sakit keras.
“Saya itu aslinya orang Lampung. Dulunya merantau di Cimahi jadi sopir angkutan selama belasan tahun. Di Cimahi itu pula saya dapat jodoh orang Ngawi,” ungkapnya saat ditemui, Jum’at (17/4/2020).
Saat awal-awal berada di Ngawi, dia mengaku kebingungan untuk bekerja, lantaran berada di daerah baru dengan orang-orang baru. Sehingga, ia belum punya kenalan yang bisa membantunya mencarikan ladang penghasilan.
“Bagaimana tidak bingung. Biasanya jadi sopir, kerja santai dapat duit, kemudian pindah ke kampung. Jadi saya bingung mau mengerjakan apa agar punya penghasilan,” tutur pria yang sudah dikaruniai tiga putra itu.
Baca juga: Aji Hanya Bermodal Rp 100 Ribu saat Rintis Usaha Servis Jok
Otak kreatifnya mulai terbuka saat mendapati desa istrinya ternyata jadi sentra kerajinan bambu. Para tetangga banyak yang mencari nafkah menjadi pengrajin bambu, seperti sangkar burung, tampah, dan perabot rumah tangga lainnya.
Mendapati itu, Gimbal kemudian mencoba belajar mengkreasikan bambu seperti warga kebanyakan. Dengan jiwa seni yang dimilikinya, ia tidak butuh waktu lama untuk membuat aneka kerajinan dari bambu.
“Dulu pas di Cimahi saya pernah iseng membuat kaligrafi La ilaha illallah dari uang receh. Saat itu, hasil karya saya sempat menggegerkan Kota Cimahi dan Bandung, dan sempat masuk media lokal hingga nasional. Bahkan sempat ditawar oleh petinggi partai, tapi tidak saya jual,” ungkapnya sambil menggelung rambut gimbalnya.
Ia lantas menciptakan suatu alat yang mampu mempercepat pekerjaan pembuatan tampah. Dengan alat itu, warga yang biasanya hanya mampu membuat 40 tampah selama lima hari, sekarang bisa menciptakan 100 tampah dengan waktu yang sama.
“Bahkan saya dijuluki profesor tampah oleh tetangga saya, karena bisa menciptakan alat yang mampu mempercepat pekerjaan meraka,” tuturnya sambil tersenyum.
Karena terobosannya itulah, dia kemudian diajak seseorang untuk mengonsep upacara tradisi Kebo Ketan di Ngawi. Di tradisi yang dihadiri para seniman dalam hingga luar negeri itu, dia membuat kerbau, tangga kayangan dan lain sebagainya.
Tidak berhenti di situ, Gimbal juga pernah membuat reog tapi bulu meraknya menggunakan bambu. Hasil karyanya itu membuat dirinya makin dikenal sebagai seniman bambu.
Baca juga: Jandaku, Tawarkan Aneka Produk Mebel dari Jati Belanda
“Untuk memperdalam ilmu, saya pernah dikirim ke Bali selama sebulan. Di sana saya mempelajari secara detail tentang bambu. Dari teknik pemotongan, pemilihan bambu yang baik, kekuatan bambu serta membuat aneka kerajinan dari bambu,” bebernya.
Sepulang dari Bali, kemampuannya mengkreasikan bambu semakin terasah. Pesanan juga mulai sering berdatangan kepadanya, termasuk kepercayaan dari Pemerintahan Kepulauan Aru, Maluku untuk membuat patung ikan hiu martil sepanjang 17 meter dan mempercantik destinasi pariwisata setempat.
“Aku bersukur atas perjalanan hidup yang menuntunku ke Ngawi. Sebuah daerah penghasil bambu yang mendidikku jadi seniman bambu,” tutup Gimbal.
Editor: Ahmad Muhlisin

