Beranda blog Halaman 1840

Plt Bupati Kudus: Tidak Boleh Ada Takbir Keliling

0
HM Hartopo, Plt Bupati Kudus. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Plt Bupati Kudus HM Hartopo melarang adanya kegiatan takbir keliling pada malam Lebaran tahun ini. Meski hal tersebut diakuinya sudah menjadi tradisi masyarakat yang dilaksanakan hampir di seluruh desa di Kabupaten Kudus.

“Tidak boleh. Takbir keliling tidak boleh,” ungkapnya selepas menerima bantuan sembako dari BPR BKK Kudus, Selasa (19/5/2020).

Alasan dilarangnya takbir keliling, karena saat ini terdapat pandemi Covid-19. Menurutnya, takbir keliling akan membuat kerumunan masa dan tentu tidak memperhatikan social distancing dan physical distancing.

Hartopo menyarankan untuk mengumandangkan takbir di masjid saja dengan menggunakan pengeras suara. Hal itu menurutnya sudah cukup. “Namun harus memperhatikan protokol kesehatan,” jelasnya.

Baca juga : Masjid Agung Kudus Pastikan Tak Gelar Salat Idul Fitri

Selain itu, kegiatan halalbihalal atau silaturahmi dapat dilaksanakan menggunakan media sosial atau video conference. Hal tersebut sangat disarankan di tengah pandemi Covid-19.

Selanjutnya, pihaknya juga sudah menerbitkan Surat Edaran Bupati Kudus Nomor 451/2775/04.00/2020 yang ditandatangani tanggal 20 Mei 2020. Dalam surat edaran tersebut dijelaskan, Pemerintah Kabupaten Kudus mengimbau agar melaksanakan Salat Idul Fitri di rumah saja.

Surat edaran tersebut juga melampirkan tuntunan Salat Idul Fitri dan naskah khotbah yang dapat digunakan untuk referensi salat di rumah.

“Masyarakat Kudus memiliki kultur Islam yang sangat kuat. Bila harus salat di masjid, harus memperhatikan protokol kesehatan. Nanti saya minta kepala desa dan Satgas Jogo Tonggo untuk membantu memantau,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Iba Terhadap Nasib Tetangga, Arif Nekat Produksi Kue Meski Terimbas Corona

0
Beberapa pekerja yang merupakan tetangga dari Arif sedang membuat kue kering. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Pagi itu seorang pria mengenakan kaus oblong warna hitam tampak sibuk. Di ruangan dapur rumahnya, dengan sabar dia mengintruksikan satu pekerjanya membuat adonan kue. Kemudian dia pergi ke garasi rumahnya. Di sana terlihat lima perempuan paruh baya mencetak kue dengan aneka bentuk. Pria itu bernama Arif Nur Habibi (30) yang memutuskan tetap produksi kue kering dan nastar meski di tengah pandemi Corona.

Di sela aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Arif itu sudi berbagi penjelasannya tentang keputusannya tersebut. Dia mengatakan, pada bulan Ramadan tahun ini, sebenarnya berniat tidak akan produksi kue kering. Namun, keputusannya berubah saat beberapa tetangganya menanyakan, apakah dirinya akan produksi kue apa tidak. Kalau produksi mereka berharap bisa ikut kerja membuat kue kering.

Arif menunjukkan kue kering yang diproduksi di kediamannya. Foto : Rabu Sipan

“Tetanggaku itu biasanya kerja dan jualan di kantin sekolah. Namun sejak ada pandemi Corona, mereka menganggur, sebab semua sekolah libur. Karena iba dengan nasib para tetanggaku, saya pun putuskan untuk produksi kue kering,” ujar Arif kepada betanews.id, Jumat (15/5/2020).

Baca juga : Berhenti jadi Guru Honorer, Arif Pilih Tekuni Usaha Kue Kering

Pria yang istrinya lagi hamil itu menuturkan, saat mulai produksi ia tidak memikirkan kira – kira laku apa tidak nanti kue produksinya itu. Dia pun sementara menepikan untung dan rugi. Di pikirannya saat itu, bagaimana agar dia bisa bantu dan memberikan pekerjaan kepada para tetangganya.

“Saya mikirnya, yang penting tetangga saya bisa bekerja. Kalau urusan kue kering nanti laku, biar itu jadi urusan saya. Saya pun mencoba produksi 10 karton terlebih dulu,” bebernya.

Kemudian lanjutnya, 10 karton itu ditawarkannya para bakul di pasar dan toko langganannya. Namun mereka menolak. Mereka beralasan, khawatir tidak laku dan mengakibatkan rugi. Dengan ditolaknya produknya di pemasaran konvensional. Di pun harus memutar otak agar produknya bisa laku.

“Karena buntu di pemasaran konvensional. Saya pun mencoba memasarkan kue nastar produk kami lewat media daring. Mulai dari Facebook dan beberapa marketplace,” ungkapnya.

Saat dipasarkan lewat daring itu tuturnya, ada beberapa reseller onlinenya yang mulai pesan. Dari 10 karton, kata dia, mereka mengambil tujuh karton. Saat menanti pembeli lainnya, malah datang seorang politikus Kudus dan saat ini anggota DPRD Jawa Tengah datang pesan 20 karton, yang akan digunakan bakti sosial.

Baca juga : Dari Usaha Gapit Wijen, Masruroh Bertekad Biayai Kuliah Anaknya Hingga Sarjana

“Itu ibarat sebuah pertolongan bagi kami. Setelah dapat pesanan 20 karton itu selang beberapa hari gantian dapat pesanan kue 29 karton,” ujarnya.

Pria yang tinggal di Perumahan Al Maya Residence, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus itu mengatakan, memasuki pertengahan Ramadan, pesanan makin meningkat. Walaupun diakui, bila dibanding dengan tahun – tahun sebelumnya produksinya mengalami penurunan lumayan banyak.

“Kalau biasanya saya bisa produksi 300 toples sehari. Kini palingan hanya 150 hingga 160 toples sehari. Namun saya tetap bersyukur, dengan tetap produksi, saya bisa menolong dan memberi penghasilan kepada para tetanggaku,” ujar Arif yang menjual aneka kue nastarnya Rp 12 ribu satu toples.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Masjid Agung Kudus Pastikan Tak Gelar Salat Idul Fitri

0
Noor Badi, Ketua Takmir Masjid Agung Kudus. Foto : Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Masjid Agung Kudus dipastikan tidak menggelar Salat Idul Fitri,1 Syawal 1441 Hijriyah. Hal itu diungkapkan Ketua Takmir Masjid Agung Kudus Noor Badi, Kamis (21/5/2020). Keputusan tersebut diambilnya setelah melakukan rapat dengan pengurus takmir lainnya.

“Sesuai dengan hasil rapat mengurus harian lengkap, Masjid Agung tidak menyelenggarakan Salat Idul Fitri,” jelasnya yang didampingi seluruh Pengurus Harian Takmir Masjid Agung Kudus.

Noor Badi menjelaskan, pihaknya mengambil keputusan tersebut dengan mempertimbangkan Surat Edaran dari Kementerian Agama Nomor 6 tahun 2020 tentang Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri di Tengah pandemi Covid-19 dan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 28 tahun 2020 tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Salat Idul Fitri saat Pandemi.

Baca juga : Salat Idul Fitri, Hartopo: ‘Saya Instruksikan untuk Ditiadakan’

Selanjutnya, Surat Gubernur Provinsi Jawa Tengah Nomor 451/0008315 tentang Pelaksanaan Salat Idul Fitri 1441 Hijriyah Dalam Situasi Darurat Covid-19. Dan juga Surat Edaran Bupati Kudus Nomor 451/2775/04.00/2020 tentang Ketentuan Salat Idul Fitri 1441 Hijriyah Dalam Situasi Darurat Covid-19.

Menurutnya, jika pelaksanaan Salat Idul Fitri diadakan, jemaah yang datang diprediksi akan membludak. Selain itu, jemaah yang datang dari luar kota juga akan banyak.

“Kita tidak tahu jemaah datangnya dari mana saja. Dengan pertimbangan tersebut kami terpaksa meniadakan Salat Idul Fitri,” ungkapnya.

Namun, pihaknya masih memperbolehkan mengumandangkan takbir di masjid. Menurutnya, nanti terdapat petugas takmir yang mengumandangkan takbir mulai malam 1 Syawal.
“Namun tetap sesuai dengan protokol kesehatan. Yang penting nanti tidak ada perkumpulan majelis, apalagi tabuh bedug,” ungkapnya.

Baca juga : Beredar Kabar Boleh Salat Id di Masjid, Ganjar Tegaskan Salat Id di Rumah Saja

Sebelumnya, Plt Bupati Kudus HM Hartopo melalui Surat Edaran Nomor 451/2775/04.00/2020 mengimbau kepada masyarakat di Kudus untuk melaksanakan salat di rumah masing-masing. Dirinya juga tidak menyarankan untuk melakukan salat di masjid dan lapangan.

“Sesuai intruksi dari pemerintah pusat, salat Idul Fitri ditiadakan (di masjid) . Saya juga memberikan intruksi untuk ditiadakan,” tuturnya Senin (18/5/2020) di Pendopo Kabupaten Kudus.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Paska Melahirkan, Ibu Asal Kudus Positif Covid-19

0
Ilustrasi

BETANEWS.ID, KUDUS – Sempat tidak ada pasien positif Covid-19 yang dirawat di rumah sakit pada Selasa dan Rabu (18-19/05/2020), di Kudus kembali terdapat satu pasien baru yang terkonfirmasi positif Covid-19 pada Kamis (21/5/2020).

Menurut Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi, pasien baru tersebut yakni perempuan usia 35 tahun asal Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.

Andini memberitahukan, pasien tersebut dinyatakan positif Covid-19 setelah melakukan proses persalinan secara caesar di RSUP dr Kariadi Semarang.

Baca juga : Kabar Baik dari Kudus, Tak Ada Lagi Pasien Corona yang Dirawat di Rumah Sakit

“Saat ini, pasien sedang dirawat di Rumah Sakit Aisyiyah. Sedangkan bayinya masih di RSUP dr Kariadi Semarang,” jelasnya, Kamis (21/5/2020) sore.

Dia menjelaskan, pasien perempuan tersebut ketika masih hamil sudah dirawat di RS Aisyiyah Kudus sejak 14 Mei 2020. Setelah dilakukan Rapid Diagnostic Test (RDT), perempuan tersebut dinyatakan reaktif Covid-19.

“Pasien memiliki penyakit penyerta. Setelah dinyatakan reaktif Covid-19, selanjutnya dilakukan tes swab RT-PCR (Real Time Polymerase Chain Reaction),” jelasnya.

Sambil menunggu hasil, pasien dirujuk ke RSUP dr Kariadi Semarang untuk proses caesar. Setelah dilakukan persalinan, hasil swab RT-PCR keluar dengan hasil terkonfirmasi positif Covid-19.

Baca juga : Lima Pasien Terakhir Positif Covid-19 di RSUD Kudus Dinyatakan Sembuh

Dengan penambahan satu kasus baru positif Covid-19, jumlah kasus di Kudus berjumlah 48 orang. Andini merinci, satu orang dirawat, 43 sembuh dan empat meninggal.

“Untuk empat tenaga kesehatan positif Covid-19 yang kemarin melakukan isolasi mandiri, semua sudah sembuh,” tambahnya.

Sementara itu, untuk pasien dalam pengawasan (PDP) berjumlah 42 pasien. Dengan rincian, dirawat enam orang, isolasi mandiri 14 orang dan meninggal 22 orang.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

535 Nasabah BPR BKK Kudus Ajukan Restrukturisasi Kredit, 159 Disetujui

0
Direktur Utama PD BPR BKK Kudus Noor Mastiko . Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah 535 nasabah Bank Perkreditan Rakyat Badan Kredit Kecamatan (BPR BKK) Kudus telah mengajukan restrukturisasi kredit yang nilainya mencapai Rp 13,4 miliyar, terhitung hingga Selasa (19/5/2020). Pengajuan ini banyak disebabkan adanya pandemi Covid-19.

Direktur Utama PD BPR BKK Kudus Noor Mastiko menuturkan, pihaknya sangat selektif dalam melakukan restrukturisasi kredit, sehingga tidak semua pengajuan disetujui.

“Jika sebelum adanya Covid-19 angsurannya sudah macet, maka pengajuan penangguhan atau keringanan kreditnya tidak wajar. Ini yang perlu diwaspadai,” ungkapnya saat menyerahkan bantuan sembako di Pendopo Kabupaten Kudus, Selasa (19/5/2020).

Menurutnya, dari total 535 nasabah yang mengajukan penangguhan dan keringanan, pihaknya sudah menyetujui 159 nasabah. Hal itu sudah sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) tentang restrukturisasi dan relaksasi kredit.

“Yang diberikan kepada nasabah variatif. Ada penangguhan pokok utang, ada juga perpanjang tenor. Kondisi tersebut menyesuaikan nasabah,” jelasnya.

Baca juga: Bantu Warga Terdampak Covid-19, BPR BKK Kudus Sumbang 1.000 Sembako

Selain itu, banyak juga dari nasabah yang tidak mengajukan restrukturisasi kredit. Hal tersebut dikarenakan nasabah masih mampu membayar kredit.

“Walau di tengah pandemi Covid-19 masih banyak nasabah yang mau membayar,” tuturnya.

Noor Mastiko menuturkan, dalam masa pandemi ini, pihaknya bisa menjaga likuiditas perbankan tetap aman. Namun, penyaluran kredit dan dana pihak ketiga (DPK) hingga akhir tahun 2020 diprediksi menurun.

“Penyaluran kredit dari target kredit semula Rp 9 miliar sampai Rp 10 miliar per bulan, kini hanya sekitar Rp 4 miliar per bulan. Penurunan sebesar 50 persen dari kondisi normal,” jelasnya.

Baca juga: Pemkab Kudus Gratiskan Retribusi Pasar Selama Tiga Bulan

Sedangkan untuk DPK, dari target Rp 20 miliar, diprediksi akan terpenuhi Rp 15 miliar. Jadi terdapat penurunan Rp 5 miliar.

“Dari bulan Januari hingga April 2020 pengumpulan dana nasabah meningkat. Namun bulan Mei 2020 mengalami penurunan. Sebulan kira-kira Rp 1,8 miliar,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Promosi ala Rom Lee Channel dengan Berbagi Takjil dan Masker

0
Berbagi takjil oleh beberapa orang yang digawangi Rom Lee Channel. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Waktu menunjukan pukul 16.30 WIB. Lalu lalang kendaraan tampak padat di Jalan Wergu Wetan, Kudus, Selasa (19/5/2020). Belasan pemuda memakai seragam kaus berwarna hitam dengan tulisan Rom Lee Channel terlihat mengeluarkan sejumlah kardus dari mobil. Kardus berisi ratusan masker dan takjil dibungkus plastik itu kemudian dibagikan kepada warga yang melewati jalan tersebut.

Satu di antara pemuda yang ada di sana yakni Muhammad Romli (28), pemilik Rom Lee Channel. Dia mengungkapkan, kegiatan tersebut muncul secara mendadak. Selain berbagi di bulan Ramadan, dia juga ingin mempromosikan Channel Youtubenya.

Baca juga : Komunitas Generasi Satu Kudus Bagikan Takjil

“Kegiatan ini memang cukup mendadak. Awalnya ingin membagikan 1.000 takjil dan masker. Karena kurang persiapan, akhirnya ini membagikan 500 takjil dan masker,” terang warga Desa Karangbener, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu kepada betanews.id.

Dalam pelaksanaan, dia meminta bantuan kepada sejumlah temannya. Dia merasa senang karena antusias teman-temannya sangat bagus dan mendukung kegiatan tersebut. Mereka mempersiapkan takjil mulai pagi hari.

“Untuk rencana ke depan inginnya masih ada lagi. Tetapi coba nanti kita lihat kondisinya. Untuk anggaran ini dari saya pribadi. Selain mencari berkah di bulan Ramadan, ya sekalian promosi,” terangnya sambil tersenyum.

Baca juga : Sedekah Berkah ala Warga Singocandi, Ambil Secukupnya Ngelingi Koncone

Sementara itu, warga yang mendapat takjil dari Rom Lee Channel, Surya Khairul Huda (25), mengaku senang mendapat takjil. Sebelumnya dia tidak tahu channel tersebut. Tetapi setelah melihat mereka membahi takjil jadi tahu.

“Bagus lah ada pemuda yang melakukan kegiatan sosial bagi-bagi seperti ini. Saya tidak tahu jika ada Rom Lee Channel. Ini jadi tahu, coba nanti saya buka di rumah,” ungkap warga Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sesalkan Keputusan Bupati yang Perbolehkan Salat Id di Masjid, Ganjar : Ikuti Ketentuan Pemerintah

0
Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah meminta seluruh bupati/wali kota se-Jateng satu suara dalam penyelenggaraan salat Idul Fitri 1441 H. Sesuai anjuran pemerintah, pelaksanaan salat id tahun ini tidak dianjurkan dilaksanakan berjemaah di masjid atau lapangan, melainkan di rumah masing-masing.

Hal itu disampaikan Ganjar menanggapi beberapa kabupaten/kota di Jateng yang memperbolehkan warganya menggelar salat Id berjemaah di masjid atau lapangan. Beberapa bupati/wali kota yang sudah memperbolehkan itu misalnya Bupati Karanganyar, Wali Kota Tegal dan Bupati Kudus.

“Saya menyarankan kepada bupati/wali kota, mari kita ikuti ketentuan dari pemerintah, dari Kementerian Agama atau Majelis Ulama Indonesia. Saya sarankan, mari kita ikuti aturan untuk melaksanakan Salat Idul Fitri di rumah masing-masing,” kata Ganjar di rumah dinasnya, Rabu (20/5/2020).

Baca juga : Putus Penyebaran Covid-19, MUI Jateng Anjurkan Salat Id di Rumah

MUI Jateng, lanjut Ganjar, juga sudah memberikan petunjuk tentang tata cara salat Id di rumah. Tata cara disiapkan, naskah khotbah disiapkan lebih singkat namun tidak mengurangi syarat rukun pelaksanaan ibadah itu.

“Kepala keluarga yang jadi imam dan khotib, bisa bapak atau putra yang sudah dewasa. Khotbahnya juga sudah disiapkan lebih singkat. Kalau itu bisa dilakukan, itu bisa mencegah,” terangnya.

Ganjar menyesalkan keputusan sejumlah bupati/wali kota yang memperbolehkan pelaksanaan salat Id di masjid. Dirinya mengatakan, konsolidasi nasional harus dilakukan agar seluruh keputusannya bisa sama.

Meskipun Ganjar menyadari, memang ada banyak pertimbangan bupati/wali kota di Jateng untuk mengambil tindakan semacam memperbolehkan pelaksanaan salat Id. Tapi sebenarnya lanjut dia, syarat untuk melakukan itu sangat ketat, yakni bisa dikendalikan dan daerahnya berwarna hijau (tidak ada kasus positif Covid-19).

“Tapi problemnya, kalau ada yang OTG (orang tanpa gejala), ini kan tidak bisa terdeteksi. Kekhawatiran kami, kalau OTG ini menjadi bagian dalam kegiatan itu, kan sulit mengontrolnya,” terangnya.

Apalagi, banyak orang saat ini yang masih nekat mudik dari daerah zona merah. Kalau salat Id diizinkan, bukan tidak mungkin akan terjadi penularan.

“Meskipun jarak sudah diatur, tapi tanpa sadar orang bersalaman, berdekatan. Itu ada potensi yang membahayakan,” tegasnya.

Baca juga : Beredar Kabar Boleh Salat Id di Masjid, Ganjar Tegaskan Salat Id di Rumah Saja

Ganjar juga sudah melakukan komunikasi dengan para bupati/wali kota yang memperbolehkan pelaksanaan salat Id di masjid. Tujuannya agar keputusan itu bisa ditinjau kembali.

“Saya sudah komunikasi dengan Bupati Karanganyar, tapi belum ada jawaban sampai sekarang. Saya coba WA terus, dan dari Kemenag akan menghampiri untuk diajak bicara. Kalau Kota Tegal, saat saya konfirmasi Wali Kotanya bilang tidak begitu, dia meralat pernyataanya. Untuk Kabupaten Kudus, belum ada laporan soal ini. Saya menyarankan kepada semuanya, mari kita ikuti aturan untuk salat Id di rumah saja,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pelanggan dari Puskesmas Hingga Rumah Sakit, Juice Taxi Terkenal Ramah Kantong

0
Penjual Juice Taxi sedang menunggu pembeli. Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Jalan Raya di sekitar Balai Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, sore itu tampak ramai oleh pembeli yang berburu takjil. Dari jejeran lapak itu, ada satu yang terlihat mencolok. Penggunaan warna kuning menyala di hampir seluruh bagian, membuatnya lebih mudah dikenali dari kejauhan. Lapak tersebut adalah Juice Taxi milik Yoggie Bachtiar (24).

Dengan menggunakan motor roda tiga yang disulap jadi tempat jualan yang menarik, Yoggie memang berharap lapaknya mudah dikenali masyarakat. Tak hanya soal warna, pengambilan namanya juga terinspirasi dari brand luar negeri yang cukup familiar di kalangan anak muda.

Penjual Juice Taxi sedang menunggu pembeli. Foto: Titis Widjayanti.

Yoggie mengatakan, konsep awal bisnisnya itu adalah mengantarkan pesanan jus ke pelanggan. Makanya, nama yang dipilih juga ada sangkut pautnya dengan konsep jualannya. Selain itu, pilihan berjualan dengan kendaraan juga disebabkan oleh belum adanya tempat jualan secara permanen.

“Juice Taxi ini mitra sama temen saya. Sudah sekitar 5 tahun. Ide namanya sendiri, ya, awalnya memang sengaja ngambil dari salah satu brand situs dari luar negeri. Karena selama ini cara berjualan menggunakan kendaraan, jadi pas juga,” katanya saat ditemui, Senin (18/5/2020).

Baca juga: Kontak, Minuman Legendaris dari Undaan Kudus 

Selama ini, Juice Taxi menjajakan produknya di seluruh puskesmas, rumah sakit dan kantor-kantor di sekitar Kota Kudus, hingga akhirnya punya banyak pelanggan dari sana. Dari berkeliling itu, Yoggie betrkesempatan meluaskan pasar untuk menambah langganan dengan cara mangkal di beberapa tempat.

“Kalau produknya memang kami mengedepankan kualitas dan kepraktisan. Jus yang kami jual tentu sehat karena memakai gula pasir asli tanpa pemanis buatan. Terus lebih kental juga. Jusnya sudah kami pack dari rumah, kemudian ditaruh di boks yang dikasih es batu. Jadi diminum tetap segar,” papar dia.

Pria yang pernah jadi sales desain interior kaligrafi itu mengklaim harga produknya sangat murah. Harga masing-masing jus tergantung dengan jenis buah yang dipilih.

“Jadi kalau harga untuk saat ini berkisar dari Rp 5 ribu sampai Rp 7 ribu. Paling mahal alpukat sama buah naga. Karena memang di pasaran yang cukup mahal itu dari semua buah yang kami olah jadi jus,” bebernya.

Baca juga: Resep Turun Temurun yang Membuat Madu Mongso Mbah Uti Selalu Diburu Pembeli

Sambil memperlihatkan aneka jus di boks penyimpanan, Yoggie mengaku bisa menjual sekitar 100 gelar per hari. Akan tetapi untuk bulan puasa ini, jumlahnya menurun lantaran ia buka mulai habis asar.

“Pelanggan bisa memesan produk dan kami siap antarkan. Pelanggan bisa menghubungi kami di kontak yang tercantum di Intagram kami di Juice_Taxi dan Juice.Taxi.Ontheroad,” tutup Yoggie.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Kisah Mbah Jaimah, Hidup Sebatang Kara Tinggal di Rumah Tak Layak Huni

0
Mbah Jaimah sedang membersihkan pekarangan rumah. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Api tampak berkobar di belakang sebuah rumah berukuran 5×4 meter persegi di tepi Jalan Pacikaran Lau, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Seorang pria paruh baya terlihat membantu membakar sampah di belakang rumah tersebut. Dia yakni Legiman (65), Ketua RT yang ikut membantu Komunitas Peduli Lau merenovasi rumah Mbah Jaimah.

Sambil membersihkan kebun belakang rumah itu, Legiman sudi berbagi cerita tentang Mbah Jaimah. Sebelumnya, Mbah Jaimah memang sudah pernah diajak ikut cucunya, tetapi tidak mau. Dia lebih memilih menghuni rumah peninggalan suaminya.

Mbah Jaimah dibantu warga sedang membersihkan pekarangan rumah. Foto : Ahmad Rosyidi

“Keluarga Mbah Jaimah memang tidak mampu. Putrinya sudah meninggal, sekarang tinggal menantu dan dua cucunya. Mereka juga termasuk warga miskin, jadi ya tidak bisa membantu Mbah Jaimah,” tutur Ketua RT 01 RW 05 itu kepada betanews.id, Minggu (17/5/2020).

Baca juga : Komunitas Peduli Lau Renovasi Rumah Mbah Jaimah

Menurutnya, Mbah Jaimah masih sering dijenguk oleh cucunya. Selain cucunya, tetangga juga kadang memberi makanan kepada Mbah Jaimah. Tetapi hal tersebut tidak bisa terus digantungkan.

“Saya berharap ada bantuan dari pemerintah. Agar Mbah Jaimah bisa hidup layak di masa tuanya. Atap rumahnya ini juga perlu direnovasi, saya khawatir kalau roboh dibiarkan lama-lama,” sambungnya.

Sebelumnya, rumah peninggalan suami Mbah Jaimah itu cukup luas hingga belakang. Karena hidup sendiri, akhirnya diperkecil. Karena sudah tua, Mbah Jaimah tidak bisa merawat rumahnya itu.

“Selain tidak punya uang, dia juga sudah tua, jadi tidak bisa merawat rumah. Semua dibawa masuk ke dalam hingga berantakan penuh barang-barang. Saya bangga kepada pemuda Lau, yang masih memiliki jiwa sosial membantu warga,” ungkapnya.

Baca juga : Galang Dana untuk Warga, Komunitas Peduli Lau Salurkan 50 Paket Sembako

Sementara itu, Mbah Jaimah (75), mengaku pernah diajak tinggal di rumah cucunya. Tetapi tidak betah karena banyak nyamuk di sana. Dia juga tidak mau kalau disuruh menjual rumah warisan suaminya itu.

“Saya diajak ke sana, tapi tidak betah karena banyak nyamuk. Saya lebih senang di sini, ramai dan lebih dekat kalau mau ke pasar. Saya juga tidak mau disuruh jual rumah. Mereka yang jual rumah juga uangnya sudah habis,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kabar Baik dari Kudus, Tak Ada Lagi Pasien Corona yang Dirawat di Rumah Sakit

0
dr Andiri Aridewi, Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Perkembangan kasus Covid-19 di Kabupaten Kudus menurun. Dari total 47 pasien yang terkonfirmasi positif, tidak ada satu pun yang sedang melakukan perawatan.

Menurut Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 dr Andiri Aridewi, dari total keseluruhan 47 pasien, sudah sembuh 39 orang, meninggal empat orang dan melakukan isolasi mandiri empat orang.

Andini menjelaskan, empat orang yang melakukan isolasi mandiri tersebut yakni tenaga kesehatan. Menurutnya, kebijakan isolasi mandiri pada empat tenaga kesehatan telah sesuai dengan pedoman penanganan Covid-19 dari Kementerian Kesehatan.

Baca juga : Lima Pasien Terakhir Positif Covid-19 di RSUD Kudus Dinyatakan Sembuh

“Dengan dasar pertimbangan, kondisi keempat pasien dalam keadaan baik, tidak memiliki penyakit penyerta, memiliki pemahaman yang baik dan lingkungan yang mendukung kegiatan isolasi mandiri,” jelas Andiri, Rabu (20/5/2020).

Namun, lanjut Andini, Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan empat tenaga kesehatan dalam melakukan isolasi mandiri. Termasuk kegiatan mereka selama menjalani isolasi.

“Mereka melakukan isolasi mandiri difasilitasi tempat di mana mereka bekerja. Jadi proses isolasi mandiri dipastikan aman,” tuturnya.

Andini melanjutkan, hingga kini, empat tenaga kesehatan tersebut sudah menjalani swab Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) tahap ketiga dan keempat. Menurutnya, hasil dari tes swab RT-PCR tersebut masih proses tunggu.

Baca juga : Bantu Warga Terdampak Covid-19, BPR BKK Kudus Sumbang 1.000 Sembako

“Semoga swab terakhir hasilnya negatif dan tidak ada lagi kasus positif lagi di Kudus,” tuturnya.

Andini menuturkan, selain kasus terkonfirmasi positif Covid-19 sejumlah 47 pasien, pihaknya masih menangani pasien dalam pengawasan (PDP).

Menurutnya, saat ini terdapat 50 PDP. Dengan rincian, 12 orang yang sedang melakukan perawatan, 14 orang melakukan isolasi mandiri dan meninggal 24 orang.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Berhenti jadi Guru Honorer, Arif Pilih Tekuni Usaha Kue Kering

0
Arif Nur Habibi, menunjukkan kue kering yang diproduksinya. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang perempuan tampak sibuk membuat adonan kue kering di dapur rumah nomor 33, Perumahan Al Maya Residence, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus. Sedangkan di garasi rumah tersebut terlihat beberapa perempuan membuat aneka kue kering. Rumah tersebut yakni tempat pembuatan kue kering dan nastar berlabel Arini.

Arif Nur Habibi (30) pemilik usaha sudi berbagi kisah tentang usahanya itu. Dia mengatakan, merintis usaha pembuatan kue kering sepuluh tahun yang lalu. Sekitar dua pekan menjelang puasa, serta saat istrinya hamil tua. Pada saat itu, dia mengaku masih tinggal sama mertua dan hanya seorang guru honorer.

Aneka kue kering yang diproduksi oleh Arif Nur Habibi. Foto : Rabu Sipan

Waktu itu kata dia, gaji guru honorer sekitar Rp 350 ribu sebulan. Istrinya hamil tua, otomatis dia butuh uang untuk biaya persalinan dan juga untuk Lebaran. Dari situ, Arif mengaku memeras otaknya agar bisa punya penghasilan tambahan. Maka dia pun bersama istrinya nekat membuat kue kering dan dijualnya.

Baca juga : Dari Usaha Gapit Wijen, Masruroh Bertekad Biayai Kuliah Anaknya Hingga Sarjana

“Saat itu kami nekat saja. Karena yang saya tahu, istriku bisa membuat kue kering. Ya kami produksi kue kering dengan niat bismillah semoga laku,” kenang pria yang biasa disapa Arif kepada betanews.id, Jumat (15/5/2020).

Pria yang sedang menanti kelahiran anak keduanya itu menuturkan, awal produksi hanya dua karton dan dikerjakan sendiri, ia dan istrinya. Aneka kue kering miliknya kemudian dipasarkan secara konvensional ke pasar – pasar dan beberapa toko. Dengan sistem bayar separuh dulu dan di luar kota bayar cash.

“Alhamdulillah aneka kue kering dan nastar yang kami produksi diminati banyak orang. Bahkan saat itu, permintaan meningkat terus. Dan kami pun mulai mempekerjakan orang lain,” bebernya sambil memberikan arahan kepada salah satu pekerjanya.

Bahkan, di tahun selanjutnya tuturnya, produk kue keringnya mulai dikenal. Setiap harinya mampu produksi sekitar 300 toples. Serta membutuhkan sekitar 17 pekerja orang untuk memenuhi permintaan. Aneka kue kering dan nastar miliknya, dikemas dengan berat 250 gram dan harganya sangat murah yakni Rp 12 ribu per toples.

“Satu di antara keunggulan kami yaitu harganya yang murah. Namun, cita rasa kue kering kami sangat enak dan siap memanjakan lidah bagi penikmatnya,” ujarnya.

Baca juga : Resep Turun Temurun yang Membuat Madu Mongso Mbah Uti Selalu Diburu Pembeli

Harga yang sangat bersahabat dan rasa itulah, dia mampu punya banyak pelanggan. Pelangganya itu kebanyakan bakul yang tersebar di Seluruh Karesidenan Pati, Rembang, Demak, dan Semarang. Dengan larisnya produk kue kering dan nastar miliknya, Arif mengaku sudah berhenti kerja jadi guru honorer, serta fokus ke usaha, sejak empat tahun yang lalu.

“Saya bersyukur, meski dengan usaha musiman itu saya jadi mampu merambah usaha lainnya. Dan bisa punya rumah dan mobil sendiri,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Lebaran, Karantina di Balai Diklat Menawan Diliburkan

0
Pemudik menjalani karantina di Balai Diklat Sonyawarih Desa Menawan. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Sore itu, awan kemerahan mulai terlihat dari halaman Balai Diklat Sonyawarih, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus. Seorang perempuan mengenakan masker tampak memanggil warga yang sedang menjalani karantina di sana. Warga berdatangan dan menduduki kursi yang sudah disiapkan di halaman tersebut.

Perempuan bersuara serak itu adalah Tri Lestari, Kepala Desa Menawan, sedang mengajak warga untuk mengikuti siraman rohani. Setelah mengumpulkan warga, dia berbagi cerita kepada betanews.id tentang karantina di sana. Saat Lebaran, karantina di Balai Diklat Sonyawarih akan diliburkan hingga tanggal 26 Mei 2020.

Baca juga : Sebelum Berbuka, Warga yang Dikarantina Dapat Siraman Rohani

“Karena ini sudah mendekati Lebaran, rencana akan diliburkan mulai H-2 hingga H+3. Jadi jika ada pemudik, saat ini kami minta untuk karantina mandiri. Meski karantina mulai aktif H+3 (26/5/2020), tetapi satgas dan penjaga tetap aktif piket seperti biasa,” terang Ririn sapaan akrabnya.

Sejak tangga 13 Maret 2020 digunakan, sudah ada sekitar 75 warga yang dikarantina di Balai Diklat Sonyawarih. 49 warga sudah selesai dan pulang. Sisanya masih ada 26 warga yang saat ini masih dikarantina. Kemungkinan semua akan selesai maksimal tanggal 22 Mei mendatang.

“Sebelum tempat ini digunakan, warga sudah melakukan karantina mandiri. Saat itu ada sekitar 130 warga yang karantina mandiri. Dan saat ini masih banyak warga kami yang belum pulang merantau, jadi kemungkinan setelah Lebaran masih ada pemudik,” jelasnya.

Ririn juga menambahkan, bahwa siang itu ada dua pemuda di desannya yang mudik dari Jogja. Pihaknya meminta warga untuk melakukan karantina mandiri. Karena sudah ada kesepakatan untuk meliburkan karantina saat Lebaran.

Baca juga : Lumbung Pangan jadi Prioritas Program Jogo Tonggo di Desa Menawan

“Kalau karantina di sini kan Lebaran tidak bisa pulang. Petugas juga ingin diliburkan saat Lebaran. Jadi kami tidak bisa memaksakan. Karena petugas di sini semua relawan, semua sukarela,” tambahnya.

Dari sejumlah warga yang dikarantina, ada satu pemuda yang bergabung menjadi relawan. Setelah menjalani karantina selama dua pekan, pemuda itu kemudian ikut membantu bagian kebersihan di Balai Diklat Sonyawarih selama digunakan menjadi tempat karantina.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Siswa SMPN 1 Kudus Sumbang APD ke 4 Rumah Sakit

0
Kepala SMPN 1 Kudus Ahadi Setiawan saat memberikan bantuan ke rumah sakit rujukan covid-19, Rabu (20/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional diperingati Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMPN 1 Kudus dengan menyumbangkan perlengkapan alat pelindung diri (APD) kepada empat rumah sakit rujukan Covid-19 di Kabupaten Kudus. Kegiatan tersebut dilakukan di aula SMPN 1 Kudus, Rabu (20/5/2020).

Ketua OSIS SMPN 1 Kudus Muhammad Franchy Luthfan Rahmadina menuturkan, dirinya bersama pengurus OSIS lainnya mengajak semua siswa serta wali murid untuk berdonasi. Selain itu, para dewan guru dan alumni juga ikut mendukung dalam mengumpulkan donasi APD untuk tenaga medis.

Siswa SMPN 1 Kudus saat memberikan bantuan ke rumah sakit rujukan covid-19, Rabu (20/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

“Kepala sekolah, guru-guru dan alumni sangat mendukung. Semua ikut berdonasi” tuturnya.

Menurut Franchy, pengumpulan donasi tersebut dilakukan secara daring. Dia memanfaatkan sosial media untuk menjangkau para donatur.

“Sekolah kan libur. Jadi pakai Instagram, Whatsapp. Guru-guru dan alumni juga bantu. Bantuan bisa berupa uang nanti ditransfer. Juga bisa berupa APD,” jelasnya.

Baca juga: Bantu Warga Terdampak Covid-19, BPR BKK Kudus Sumbang 1.000 Sembako

Franchy mengungkapkan, dari donasi yang dikumpulkan selama dua pekan, terkumpul bantuan senilai Rp 37,6 juta. Rinciannya, Rp 28,2 juta murni bantuan uang tunai dan Rp 9,4 juta yakni sudah berupa APD.

“Jadi kira-kira bantuan yang sudah berupa APD kalau diuangkan Rp 9,4 juta,” ungkapnya.

Dia berharap, donasi yang diberikan dapat membantu petugas medis yang bertugas merawat pasien Covid-19.

“Kami tidak ingin dokter dan perawat sakit. Jadi kami berikan APD,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 1 Kudus Ahadi Setiawan menambahkan, dirinya hanya memfasilitasi ide dari anak didiknya. Menurutnya, dengan kegiatan yang diselenggarakan dapat mengajarkan pendidikan karakter kepada anak.

“Sengaja kami memilih momentum Hari Kebangkitan Nasional untuk kegiatan ini,” ungkapnya.

Baca juga: Sedekah Berkah ala Warga Singocandi, Ambil Secukupnya Ngelingi Koncone

Dia menjelaskan, donasi berupa uang sejumlah Rp 28,2 juta akan dibelikan APD. Selain itu, pihaknya juga sudah berkonsultasi dengan empat rumah sakit terkait kebutuhan APD.

“Jadi kami sudah berkonsultasi dengan RSUD dr Loekmono Hadi, RS Mardi Rahayu, RS Aisyiyah dan RSI Sunan Kudus mengenai kebutuhan APD. Semoga ini dapat sedikit membantu,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Banyak Pengunjung Bandel, ADA Swalayan Perketat Aturan Belanja

0
Para pengunjung ADA Swalayan sedang memilih pakaian yang hendak dibeli, Senin (18/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – ADA Swalayan Kudus mulai menerapkan beberapa aturan ketat sebagai antisipasi penyebaran Covid-19. Kebijakan ini sebagai respon masih banyaknya pengunjung yang tidak mematuhi protokal kesehatan selama pandemi. Bahkan tak jarang, pengelola harus berseteru dengan pengunjung yang masih bandel.

Store Manager ADA Swalayan Setyowati mengaku masih menemukan banyak pengunjung yang tidak mengikuti protokol kesehatan Covid-19, utamanya pakai masker. Padahal, pihaknya sudah menggalakkan aturan cuci tangan, pemakaian hand sanitizer, pengecekan suhu di pintu masuk, memberikan jarak pada tempat antrian dan mewajibkan pengunjung mengenakan masker.

Para pengunjung memadati pintu masuk ADA Swalayan, Senin (18/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

“Oke masuk sudah pakai masker. Namun setelah di dalam justru menurunkan maskernya ke leher. Masih ada pengunjung kayak gitu,” ungkapnya saat mendampingi sidak Plt Bupati Kudus, HM Hartopo, Senin (18/5/2020).

Oleh sebab itu, lanjut dia, pihaknya kemudian mengambil langkah tegas terhadap pengunjung bandel ini. Untuk penggunaan masker, jika teguran keras dari pengelola tidak diindahkan, pengunjung akan diminta untuk keluar dari ADA Swalayan.

Baca juga: Jelang Lebaran, Ramayana Kudus Ramai Dikunjungi Warga

Aturan lain yang juga diterapkan adalah melarang anak usia di bawah tiga tahun memasuki ADA Swalayan. Menurutnya, menjelang lebaran biasanya pengunjung yang datang akan lebih banyak. Dia khawatir akan membuat anak terganggu karena berdesak-desakan.

“Jadi saya larang masuk ke dalam. Jika mau menunggu saya persilakan. Namun tetap di luar,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga membatasi waktu layanan selama pandemi Covid-19 yakni buka mulai pukul 09.00 hingga 20.00 WIB.

“Jam delapan malam sudah tutup, tetapi kemarin ada pengunjung yang ngamuk mau masuk. Alasannya mau beli popok‎, padahal kami sudah mau tutup,” tuturnya.

Baca juga: Mendekati Lebaran, Harga Bawang Merah di Kudus Tembus Rp 65 Ribu per Kilogram

Mengenai viralnya foto antrean yang membludak, dia mengakui memang terjadi di ADA Swalayan Kudus. Menurut Setyowati itu terjadi Sabtu malam Minggu (16/5/2020). Setyowati mengaku kaget dan tidak mengira hal tersebut terjadi.

“Kami juga sudah lakukan pembatasan lagi, mulai dari pintu masuk dan parkiran. Jika di dalam dirasa sudah penuh, kami tidak memperbolehkan ada pengunjung baru, sampai yang di dalam keluar,” tutup Setyowati.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Pemkab Kudus Kirim Bantuan Sembako untuk Warganya di Jabodetabek

0
Plt Bupati Kudus, HM Hartopo. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS,ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus akan mengirimkan paket sembako kepada warganya yang berada di Jabodetabek. Paket sembako yang akan dikirim yakni berupa beras, gula, minyak, kopi dan bahan kebutuhan pokok lainnya senilai Rp 600 ribu.

Bantuan dengan total anggaran Rp 30 juta tersebut bersumber dari Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Bencana (P3AP2KB) Kabupaten Kudus‎.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo menjelaskan, bantuan tersebut akan diberikan kepada 50 warga Kudus yang kehilangan pekerjaan dan tinggal di rumah kontrakan.

“Yang mendapatkan nanti yang masih ber-KTP Kudus saja. Untuk yang ber-KTP Jakarta sudah dapat bantuan dari sana,” ungkapnya saat ditemui di Pendopo Kabupaten Kudus, Selasa (20/5/2020).

Baca juga: 41 Warga Kudus Kena PHK di Jabodetabek, Hartopo: ‘Akan Dibantu untuk Pulang’

Menurutnya, pengiriman bantuan dilakukan, setelah rencana memulangkan warga Kudus yang berada di Jabodetabek gagal. Hartopo mengakui, perizinan yang diterapkan di Jakarta sangatlah ketat.

“Persyaratan untuk memulangkan warga Kudus dari Jakarta sangatlah ketat. Kami  terganjal masalah perizinan,” ungkapnya.

Hartopo sudah berupaya menyiapkan bus PO Haryanto untuk menjemput warganya. Namun, karena masalah perizinan, akhirnya dia mengirimkan bantuan berupa sembako.

“Sebenarnya saya inginnya uang tunai Rp 600 ribu. Nanti ditransfer by name, prosesnya cepat. Namun di sana ternyata tidak semua punya rekening. Terutama yang buruh kasar,” jelasnya.

Baca juga: Ganjar Kirim Sembako untuk Warga Jateng di Jabodetabek yang Tidak Mudik

Hartopo menambahkan, dalam proses pendistibusian, Hartopo meminta bantuan Forum Komunikasi Masyarakat Kudus (FKMK) yang ada di Jakarta.

“Saya sudah komunikasi sama Jendral Eris (Marsekal Madya (Purn) Eris Heryanto),” tutup Hartopo.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -