Beranda blog Halaman 1841

Bantu Warga Terdampak Covid-19, BPR BKK Kudus Sumbang 1.000 Sembako

0
Direktur Utama PD BPR BKK Kudus Noor Mastiko saat menyerahkan bantuan sembako kepada Plt Bupati Kudus HM Hartopo di Pendapa Kabupaten Kudus, Selasa (19/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah 500 paket sembako didonasikan Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Badan Kredit Kecamatan (PD BPR BKK) Kabupaten Kudus kepada Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 di Kabupaten Kudus, Selasa (19/5/2020).

Paket sembako tersebut berisi beras, gula, minyak goreng dan mi instan yang sudah diwadahi goody bag.

Bantuan sembako dari PD BPR BKK Kudus saat tiba di Pendapa Kabupaten Kudus, Selasa (19/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

Direktur Utama PD BPR BKK Kudus Noor Mastiko menuturkan, pihaknya mendonasikan 500 paket sembako untuk diberikan kepada masyarakat yang terdampak Covid-19. Menurutnya, banyak masyarakat di Kudus yang terdampak Covid-19, terutama dari sisi ekonomi.

“Saya terima kasih kepada pak Plt (HM Hartopo) sudah memfasilitasi kami. Walaupun tidak seberapa, semoga bisa membantu,” ungkapnya saat melakukan penyerahan di Pendapa Kabupaten Kudus.

Baca juga: Polda Jateng Bagikan Ratusan Sembako di Kudus

Selain memberikan 500 paket sembako kepada tim gugus tugas, Noor Mastiko juga membagikan 500 paket sembako kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kantor PD BPR BKK.

“Kami juga mendistribusikan di setiap kecamatan. Semoga bantuan ini dapat berguna bagi masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Plt Bupati Kudus yang juga Ketua Gugus Tugas Covid-19 HM Hartopo mengapresiasi langkah PD BPR BKK, karena sudah peduli dengan masyarakat yang terdampak Covid-19 di Kudus.

Nantinya, bantuan yang diberikan akan diserahkan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Kudus untuk distribusikan kepada masyarakat.

“Semoga donasi ini bisa meringankan beban masyarakat,” ungkap Hartopo.

Baca juga: Galang Dana untuk Warga, Komunitas Peduli Lau Salurkan 50 Paket Sembako

Hartopo meminta kepada BPBD agar bantuan tersebut diberikan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Menurutnya, daftar nama penerima Jaring Pengaman Sosial (JPS) bisa jadi referensi agar tepat sasaran.

“Nanti juga bisa dikasihkan ke penerima JPS, biar untuk tambahan,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Hartopo Akan Tutup Pasar dan Swalayan yang Tidak Taat Protokol Kesehatan

0
Plt Bupati Kudus HM Hartopo saat meninjau Pasar Bitingan, Senin (18/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – HM Hartopo segera turun dari mobil untuk menemui Kepala Dinas Perdagangan Kudus Sudiharti saat tiba di depan Pasar Bitingan, Senin (18/5/2020). Melihat beberapa pedagang dan pengunjung tidak mengenakan masker, dia kemudian meminta anggota Satpol PP untuk mengambilkan pengeras suara.

“Itu ada petugasnya apa tidak? Di pintu itu ada petugasnya apa tidak?” tanya Hartopo kepada Sudiharti sambil menunjuk pintu utama lantai dua Pasar Bitingan.

“Kalau tidak ada petugasnya, tutup sekarang,” tegas Hartopo.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo saat meninjau Pasar Bitingan, Senin (18/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

Seketika itu juga, petugas pasar berlari menaiki tangga untuk menutup pintu masuk lantai dua Pasar Bitingan.

Melihat pasar yang ramai, Hartopo kemudian berjalan cepat ke dalam pasar. Sambil berjalan dari pintu ke pintu, dia tak henti-hentinya mengingatkan para pedagang dan pembeli untuk memakai masker.

“Mas punya masker apa tidak? Ini saya kasih. Kalau tidak mau pakai, akan saya tutup,” tegasnya kepada pedagang pakaian yang menempati los pasar.

Baca juga: Banyak Pengunjung Bandel, ADA Swalayan Perketat Aturan Belanja

Hartopo juga terus meminta pintu-pintu yang tidak dijaga petugas pasar untuk segera ditutup. Menurutnya, setiap pedagang dan pembeli yang masuk pasar harus mengenakan masker. Dia ingin protokol kesehatan penanganan Covid-19 dilaksanakan dengan baik.

Setelah selesai dari Pasar Bitingan, dirinya segera bergegas pergi ke ADA Swalayan. Dia berjalan mengecek satu persatu protokol kesehatan yang diberlakukan di salah satu pusat perbelanjaan tersebut.

“Tolong pak, buk, jaga jarak,” tuturnya saat berada di antrian kasir ADA Swalayan.

Sebelum ke Pasar Bitingan dan ADA Swalayan, dirinya sudah menyidak Pasar Kliwon, Ramayana dan Kudus Extension Mall (Hypermart). Dia ingin memastikan semua protokol kesehatan dijalankan.

“Saya selalu tekankan baik kepada masyarakat, pihak pengelola maupun pedagang agar jangan sampai mengabaikan aturan yang dibuat oleh pemerintah. Semua demi keselamatan bersama,” tekan Hartopo.

Baca juga: Jelang Lebaran, Ramayana Kudus Ramai Dikunjungi Warga

Hartopo akan bertindak tegas jika di kemudian hari masih ditemukan pelanggaran mengenai protokol kesehatan. Sanksi yang diterapkan kepada yang masih bandel adalah menutup lokasi tersebut.

“Saya tidak akan segan-segan menutup pasar atau swalayan jika masih ditemukan pelanggaran. Jangan sampai terulang kembali. Pengelola harus memberlakukan pembatasan pengunjung,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Komunitas Peduli Lau Renovasi Rumah Mbah Jaimah

0
Komunitas Peduli Lau sedang merehab rumah Mbah Jaimah. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan pemuda terlihat bergotong royong mengeluarkan barang-barang dari sebuah rumah di tepi Jalan Pacikaran Lau, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kudus. Rumah berukuran 5×4 meter persegi itu tampak dibongkar bagian lantai dan dapurnya. Mereka adalah Komunitas Peduli Lau, yang melakukan renovasi rumah tak layak huni milik Mbah Jaimah.

Satu di antara pemuda di sana yakni Muhammadun (37) mengungkapkan, jika bagian yang direnovasi adalah lantai, dapur, halaman dan juga tembok yang rusak. Untuk biaya, mereka mengalokasikan uang hasil donasi senilai Rp 1 juta.

Rumah Mbah Jaimah sedang direhab oleh warga. Foto : Ahmad Rosyidi

Baca juga : Galang Dana untuk Warga, Komunitas Peduli Lau Salurkan 50 Paket Sembako

“Uangnya memang tidak begitu banyak, kami mengalokasikan donasi Rp 1 juta. Tetapi selain uang, sudah ada donatur yang siap menanggung kebutuhan pasir dan semennya. Jadi itu sangat membantu,” ungkap Satkorkel Banser Ranting Desa Lau itu, kepada betanews.id, Minggu (17/5/2020).

Dalam proses renovasi, pria yang akrab disapa Madun itu menggerakkan sekitar 20 pemuda untuk membantu. Menurutnya, antusias pemuda yang tergabung di Komunitas Peduli Lau sangat tinggi. Jadi tidak ada kendala saat pelaksanaannya.

“Mayoritas pemuda yang ikut renovasi ini dari Banser. Selain itu juga ada Ansor dan Karang Taruna juga yang membantu. Di belakang juga ada Pak RT bantu bersih-bersih. Kami berharap donasi bisa terus berjalan, agar bisa membantu warga yang lain,” terang warga Desa Lau, RT 05 RW 01 itu.

Sementara itu, Manshurudin (32) selaku Koordinator Komunitas Peduli Lau menambahkan, Mbah Jaimah saat ini hidup sebatang kara. Rumahnya sudah tidak layak huni, semua barang berserakan. Hal itu yang membuat para pemuda tergerak untuk membantu.

“Mbah Jaimah ini tinggal sendiri sebatang kara. Kami cuma bisa membantu semampunya. Berharap bisa lebih diperhatikan pemerintah untuk bantuan selanjutnya,” tambah Ketua Ansor Ranting Desa Lau itu.

Baca juga : Atap Rumah Bocor, Mbah Rumiati Hanya Bisa Duduk Pasrah Diguyur Air Hujan

Di samping rumah, Mbah Jaimah (75), sambil duduk melihat para pemuda di halaman rumahnya mengaku senang rumahnya direnovasi. Apa lagi saat momen menjelang Lebaran. Dirinya juga berterima kasih kepada para pemuda, sudah membantu membersihkan dan merenovasi rumahnya.

“Seneng aku, meh bodo diewangi resik-resik. Matursuwun akeh karo anak-anakku,” ujar Mbah Jaimah sambil tersenyum.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jual Produk dari 12 Brand Lokal Ternama, Seventyfour Paling Diminati di Distro Javaz

0
Muhammad Lutfi , Kepala Toko Distro Javas menunjukkan salah satu produk kemeja yang ada di Javas. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa orang tampak masuk ke dalam bangunan megah berlantai dua yang berada di Desa Piji, Kecamatan Dawe, Kudus. Di dalam, mereka terlihat dilayani seorang penjaga toko memilih aneka pakaian yang terpajang. Tampak aneka pakaian yang terpajang di dalam bangunan tersebut beraneka jenis serta beraneka merek. Sekitar ada 12 brand lokal ternama yang dipajang di Distro Javaz.


“Ya benar. Ada 12 merek atau brand pakaian lokal terkenal yang dijual di Distro Javaz. 12 brand tersebut sudah sangat familiar bagi pria remaja masa kini,” ujar Muhammad Lutfi Prasetya (20) kepada betanews.id, Kamis (14/5/2020).

Beberapa pengunjung sedang memilih baju yang ada di Distro Javaz. Foto : Rabu Sipan

Ke dua belas brand lokal itu lanjutnya, anatara lain, Seventyfour, Proshop, Warming, Kick Denim, Back ID, Magma, Amway, Sevenlight, Cemo, Fogat, Mexico, serta Epidemic. Dari dua belas brand lokal ternama itu, saat ini yang paling diminati adalah merek Seventyfour, Proshop serta Warming.

Baca juga : Javaz, Distro yang Pertama Kali Berdiri di Kudus

“Sebenarnya semua brand banyak peminatnya. Namun yang paling laris itu ya tiga merek yang saya sebut tadi, yakni, Seventyfour, Proshop dan Warming,” ungkapnya.

Menurutnya, brand Seventyfour lebih diminati karena bahannya yang bagus, kualitas premium, serta desainnya yang elegan, modis serta keren. Jadi sangat cocok dengan selera para remaja yang ingin bergaya.

Bahkan kata dia, Distro Javaz didapuk sebagai agen resmi merek Seventyfour sebagai pemasaran wilayah Karesidenan Pati. Hal itu terjadi, karena distro tempatnya bekerja dianggap berjasa mempopulerkan ketiga brand tersebut di wilayah Kudus, Jepara, Pati, Grobogan serta Blora.

“Untuk brand Seventyfour, kami adalah agen resmi utamanya. Jadi kalau ada daerah yang saya sebut tadi memasarkan produk Seventyfour, ambilnya dari Distro Javaz,” jelas Lutfi.

Dengan 12 brand lokat tersebut, Distro Javaz menyediakan aneka pakaian pria remaja. Dari kaus, kemeja, celana, tas, dompet, topi, ikat pinggang serta sandal. Dari sekian jenis pakaian tersebut Distro Javaz mampu ribuan pcs sebulan.

Baca juga : Starcross Kudus Jorjoran Diskon Hingga 50 Persen

Selama Ramadan tuturnya, penjualan pakaian di Distro Javas memang ada peningkatan hampir 100 persen dari bulan biasa. Namun kata dia, akibat ada corona penjualan di bulan Ramadan ini belum bisa menyamai penjualan di bulan puasa tahun lalu.

“Memang harus diakui, corona ini juga berimbas pada penjualan aneka pakaian di Distro Javas,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Perawatan Mudah dan Makin Diminati, Ida Rintis Wisata Edukasi Kaktus

0
Noor Hidayati sedang merawat kaktus yang dijual di Kakaktus.kudus. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS,ID, KUDUS – Siang itu, beberapa orang tampak sibuk di rumah sederhana di gang Gatotkaca, Desa Getaspejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Sebagian dari mereka terlihat memasukan beberapa pot kaktus ke dalam kardus, dan sebagian lagi sedang merawat ribuan kaktus beraneka jenis. Tempat tersebut adalah Kakaktus.kudus.

Pemilik Kakaktus.kudus Noor Hidayah (30) menuturkan, dalam beberapa bulan ini, pihaknya telah menjual puluhan ribu kaktus berbagai jenis. Menurutnya, antusiasme masyarakat ini lantaran tanaman kaktus makin diminati.

Suami Noor Hidayati sedang merawat kaktus yang dijual di Kakaktus.kudus. Foto: Rabu Sipan.

“Kaktus sendiri dikenal tanaman daerah kering, ya. Jadi perawatannya sangat mudah. Bentuknya juga unik, lucu dan menarik,” kata perempuan yang akrab disapa Ida itu, Rabu (13/5/2020).

Kaktus mini yang disediakannya itu, lanjut Ida, sangat cocok dijadikan hiasan rumah. Bisa ditaruh di meja ruang tamu atau sebagai penghias dinding yang ditaruh di rak yang menempel di dinding. Selain itu bisa juga dijadikan penghias ruang kantor.

Baca juga: Berawal dari Hobi, Kini Ida Bisa Jual Seribuan Kaktus dalam Sepekan

Di tempatnya, kaktus yang paling laris berjenis mickey mouse. Berapapun stok kaktus mickey mouse yang dimilikinya, pasti ludes terjual dalam waktu singkat. Selain itu, harganya juga murah, yakni hanya Rp 25 ribu saja.

“Saat ini kami baru dapat kiriman ribuan kaktus. Dan ada 100 tanaman kaktus mickey mouse. Jumlah tersebut palingan beberapa hari sudah habis. Serta dua pekan ke depan semua kaktus yang tersedia itu palingan tinggal beberapa saja,” bebernya.

Melihat fenonena ini, pihaknya berencana membuat tempat wisata edukasi tanaman kaktus yang berada di Desa Bacin. Konsepnya, dia akan bekerja sama dengan beberapa Taman Kanak-Kanak (TK). Di situ akan diajarkan tentang kaktus, dari tanam, perawatan, serta cara mempercantik.

“Tentunya juga menjualnya bila ada siswa yang berminat. Sebab, ternyata kaktus itu juga sangat diminati anak anak. Harganya juga relatif murah. Pokoknya tidak membuat kantong orang tua bolong,” ujar Ida.

Baca juga: Di Lahan 3000 Meter Persegi, Aan Wujudkan Mimpi Buat Tempat Wisata Edukasi Buah Anggur

Selain menjual kaktus serta sukulen, pihaknya juga menjual bambu hoki dengan harga Rp 10 ribu. Ada juga pot plastik warna putih yang dihargai mulai Rp 2 ribu sampai Rp 30 ribu.

Dia berharap, usaha kaktusnya makin lancar dan semakin berkembang. Serta semoga impiannya untuk membuat tempat wisata edukasi tanaman kaktus bisa terlaksana dan tanpa kendala.

“Semoga lancar dan segera punya tempat wisata edukasi,” tutup Ida.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Sebelum Berbuka, Warga yang Dikarantina Dapat Siraman Rohani

0
Pemudik yang dikarantina di Balai Diklat Sonyawarih Menawan diberikan siraman rohani jelang berbuka puasa. Foto Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan orang duduk di halaman Balai Diklat Sonyawarih, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus. Mereka tak lain adalah warga yang sedang dikarantina setelah pulang dari perantauan. Di depan mereka, terlihat seorang pria mengenakan kaca mata dengan peci hitam di kepalanya.

Dia tak lain adalah Muhammad Ali Mujandi (45), satu di antara dua ustadz yang memberikan siraman rohani bagi warga yang dikarantina. Usai memberi siraman rohani, dia berbagi penjelasan kepada betanews.id tentang kegiatan setiap sore di sana. Selama Ramadan, warga mendapat siraman rohani sebelum berbuka puasa.

“Hal ini dilakukan agar warga yang dikarantina tetap sabar dan menjalani dengan iklas. Karena hal ini harus dilakukan demi kebaikan bersama,” ungkap Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Menawan itu.

Baca juga : Desa Menawan Kudus Terapkan Program Jogo Tonggo

Selain dirinya, masih ada Ustad Nurhadi, salah satu Pengasuh di Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan. Mereka bergantian memberi siraman rohani setiap sore. Sedangkan di pagi hari, semua warga yang dikarantina diajak senam bersama.

“Selain tabah menjalani karantina ini, kami juga ingin warga tetap menjaga kesehatan. Jadi kami ajak senam bersama di pagi hari. Menu makanan juga kami jaga agar tetap sehat dan memiliki selera makan,” terang warga RT 04 RW 03 itu, belum lama ini.

Kepala Desa Menawan Tri Lestari juga menambahkan, sebagian Pos Jogo Tonggo di desanya juga menyediakan tempat untuk karantina. Meski hingga saat ini belum digunakan, tetapi sudah disiapkan.

Baca juga : Lumbung Pangan jadi Prioritas Program Jogo Tonggo di Desa Menawan

Katanya ia juga sudah berkoordinasi dengan Ketua RW dan RT, agar semua pro aktif gotong royong dalam upaya pencegahan Covid-19. Menurutnya, peran RT dan RW sangat penting dalam mengawasi dan mengingatkan seluruh warga Desa Menawan.

“Mengingat banyaknya warga menawan yang merantau, tentu kami harus melakukan antisipasi jika kapasitas di Balai Diklat tidak mampu menampung. Dan saat ini masih banyak warga yang belum mudik,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Masker Transparan, Ramah Bagi Penyandang Tuna Rungu

0
Masker transparan yang diproduksi warga penyandang tuna rungu. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pasangan suami-istri penyandang tuna rungu, yakni Agus Sutanto dan Heti berinovasi membuat masker bersama rekan senasibnya. Masker yang diproduksi secara mandiri oleh kaum difabel itu memang berbeda. Di bagian mulut dibuat transparan agar kaum penyandang tuna rungu dapat berkomunikasi melalui bahasa bibir.

Saat ini, masker ramah bagi tuna rungu itu diproduksi di rumah Yuktiasih Proborini, Eksekutif Direktur Sejiwa Foundation di Jalan Kanfer Raya blok O-15 Banyumanik Semarang. Selain untuk penyandang tuna rungu, masker tersebut nantinya akan dijual bebas untuk warga.

“Saya belajar menjahit saat menjadi siswa SLB di Wonosobo jurusan tata busana,” kata Agus Sutanto dengan terbata-bata, Selasa (19/5/2020).

Baca juga : Gerakkan Sektor UMKM, Ganjar Borong 3 Juta Masker Senilai Rp 10 Miliar

Kemampuannya itu kemudian menginisiasi bersama Sejiwa Foundation untuk membuat masker yang ramah bagi penyandang tuna rungu. “Untuk satu Minggu, kita bisa menghasilkan sekitar 300 masker seperti ini,” lanjutnya.

Masker transparan memudahkan penyandang tuna rungu untuk berkomunikasi. Foto : Ist

Sementara itu, Yuktiasih Proborini, Eksekutif Direktur Sejiwa Foundation menuturkan bahwa masker transparan tersebut sangat penting bagi masyarakat terutama untuk penyandang tuna rungu. Selain itu, dimaksudkan untuk pelayan masyarakat seperti tenaga medis, pejabat pemerintahan, dan lainnya.

“Selain bahasa isyarat, teman tuna rungu biasanya melihat gerak bibir untuk berkomunikasi dengan orang lain. Sehingga kami berinovasi membuat masker transparan ini,” tuturnya.

Nantinya, jelas dia, makser tersebut akan diberikan kepada penyandang tuna rungu. Selain itu, juga akan dijual bebas di masyarakat. ” Rencananya akan dibagikan ke teman tuna rungu, tapi juga akan dijual,” jelasnya.

Baca juga : Eks Napiter Sumbang Ribuan Masker, Harun : ‘Ini Jahit Sendiri Selama Sepekan’

Ketua Gerakan Kesejahteraan Untuk Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) Kota Semarang, Mahendra Teguh Priswanto menambahkan, bahwa anggotanya saat ini ada sekitar 100 orang. Mulai dari usia 17 tahun hingga lebih dari 50 tahun.

“Dari sini kami juga peduli kepada tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19. Kami ada simbol atau bahasa tubuh untuk mengucapkan terima kasih dan semangat kepada tenaga medis,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

23.914 Santri di Jateng Tidak Mudik, Ganjar Bantu Rp 2,3 Miliar

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat mengunjungi Pondok Pesantren Darul Falah Semarang. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Sebanyak 23.914 santri di 400 pondok pesantren di Jawa Tengah memutuskan untuk tidak mudik Lebaran saat pandemi Covid-19. Dalam hal ini, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo telah mengeluarkan Rp 2,3 miliar untuk membantu para santri tersebut. Tak cukup hanya di situ, Ganjar menyempatkan diri berkunjung ke beberapa pondok pesantren di Kota Semarang untuk menengok kondisi para santri itu sekaligus membagikan sembako.

Seperti halnya pada Selasa (19/5/2020), Ganjar mengunjungi dua pondok pesantren. Keduanya adalah Ponpes Darul Falah Besongo Ngaliyan dan Ponpes Raudlatut Thalibin Tugurejo Semarang. Di dua pondok pesantren tersebut, masih ada puluhan santri yang beraktivitas dan memutuskan tidak mudik.

Baca juga : Disambangi Ganjar di Rusunawa, Mahasiswa Curhat Sudah 3 Bulan Belum Dapat Kiriman

“Saya hanya memastikan kondisi para santri yang tidak mudik ini. Sebab menurut informasi dari Biro Kesra saya, dari Kemenag dan Baznas, bahwa ada 400 ponpes di Jateng yang masih aktif saat ini, dengan 23.914 santri yang tidak mudik,” kata Ganjar.

Menurutnya, setelah beberapa waktu lalu ia rajin berkeliling menengok para mahasiswa dari luar daerah, kali ini dirinya memang sengaha menengok santri di pondok pesantren. Ternyata, banyak santri yang dikunjunginya juga berstatus mahasiswa dari luar daerah.

“Banyak santri juga kuliah, mereka dari banyak daerah dari luar Jawa ada. Bahkan tadi ada yang dari luar negeri, dari Somalia dan Thailand. Alhamdulillah mereka semuanya sehat-sehat saja,” katanya.

Bantuan yang diberikan, lanjut Ganjar tidaklah seberapa. Namun dengan bantuan itu, diharapkan para santri bisa tenang menjalani hidup selama tidak mudik ini.

“Ini cerita kemanusiaan saja, kalau bisa kita bantu, mereka bisa tenang belajar. Mereka juga bisa mengabarkan pada orang tua, bahwa ananda baik-baik saja, bisa sekolah, ngaji dan nyantri dengan tenang. Kalau semua tenang, semua bahagia, maka imun akan meningkat,” pungkasnya.

Baca juga : Ngabuburit ala Ganjar, Motoran Kunjungi Mahasiswa Luar Daerah

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Darul Falah Besongo Ngaliyan, Prof Imam Taufiq mengatakan, sejak wabah Covid-19 menyerang, pihaknya memberikan dua pilihan pada santrinya. Pertama boleh pulang kampung tapi tidak boleh kembali sampai kondisi membaik, kedua tetap tinggal di pondok dan mengikuti kegiatan mengaji seperti biasanya.

“Alhamdulillah banyak santri yang memutuskan tidak pulang, tetep di pondok dan ngaji,” kata Imam.

Imam sangat berterima kasih atas kunjungan dan bantuan yang diberikan Ganjar kepada para santri. Ia berdoa semoga wabah ini segera berakhir dan kehidupan berjalan dengan normal.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sambangi Mahasiswa Asal Somalia dan Thailand, Ganjar Pesan untuk Giat Belajar

0
Ganjar Pranowo saat menengok 28 mahasiswa asing asal Somalia dan Thailand yang kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Selasa (19/5). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyempatkan diri menengok 28 mahasiswa asing asal Somalia dan Thailand yang kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Selasa (19/5). Selain memastikan kesehatan, Ganjar juga datang membawa bantuan berupa paket sembako untuk mereka yang tidak bisa pulang.

Saat menemui mahasiswa asing tersebut di wisma mahasiswa kampus UIN Walisongo, Keceriaan terjadi saat berdialog dengan para mahasiswa. Meski baru di Semarang, namun beberapa sudah fasih berbahasa Indonesia dan sedikit menguasai Bahasa Jawa.

Ganjar Pranowo saat menengok 28 mahasiswa asing asal Somalia dan Thailand yang kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Selasa (19/5). Foto: Ist.

Kepada para mahasiswa luar negeri itu, Ganjar berpesan untuk tetap tinggal di kampus dan tidak pulang. Kesempatan ini bisa digunakan untuk belajar lebih ekstra.

Ganjar juga meminta mahasiswa untuk rajin berkabar dengan orang tua dan keluarga di negaranya masing-masing. Kabar baik harus diberikan agar semua tenang.

Baca juga: Disambangi Ganjar di Rusunawa, Mahasiswa Curhat Sudah 3 Bulan Belum Dapat Kiriman

“Saya hanya ingin memastikan semua sehat dan baik-baik saja. Kami dari pemerintah ingin berusaha membantu para mahasiswa dari suku apapun, bangsa, dan negara apapun kami upayakan untuk kami tolong agar mereka bisa belajar dengan baik di sini. Nggak usah pulang, ya. Di sini saja belajar yang giat. Semangat terus, belajar terus,” pesan Ganjar.

Sementara itu, salah satu mahasiswa asal Thailand, Wal’asri mengatakan, wabah covid-19 membuat ia dan kawan-kawannya tidak bisa pulang. Sementara kiriman uang dari rumah juga sudah tersendat.

“Bapak ibu saya petani, biasanya kirim uang Rp 1 juta per bulan. Sekarang karena kondisi ini, sudah kesulitan,” kata Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang itu.

Baca juga: Ngabuburit ala Ganjar, Motoran Kunjungi Mahasiswa Luar Daerah

Maka dari itu, Wal’asri sangat senang dikunjungi Ganjar. Menurutnya, kunjungan dan bantuan yang diberikan kepadanya dan teman-temannya itu sangatlah berarti.

“Ini luar biasa bagi kami, karena kami memang membutuhkan ini. Saya sebagai anak asing, tinggal di negara asing yakni Indonesia, masih diperhatikan. Kalau seperti ini, saya sangat suka dan banyak mengucapkan terima kasih pada Pak Gubernur,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Pada Jam Berikut Ini, Pedagang Makanan di Kudus Tak Boleh Layani Makan di Tempat

0
Plt Bupati Kudus, HM Hartopo. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Plt Bupati Kudus HM Hartopo telah menerbitkan Intruksi Bupati Kudus dengan Nomor 130/01/2020, pada Selasa (19/5). Intruksi tersebut, mengatur tentang Pengaturan Kegiatan Masyarakat dan Pembentukan Satgas Jogo Tonggo guna percepatan penanganan Covid-19 di Kabupaten Kudus. Intruksi itu akan secara resmi berlaku pada Kamis (21/5) lusa hingga pandemi Covid-19 dinyatakan selesai.

Menurut Hartopo, di antara isi dari intruksi tersebut adalah terkait dengan pembatasan jam malam mulai dari pukul 21.00 hingga 06.00 WIB. Pembatasan jam malam ini diberlakukan untuk seluruh wilayah di Kabupaten Kudus.

Selain pembatasan jam malam, intruksi tersebut juga mengatur cara pelayanan pedagang kaki lima (PKL), kafe, rumah makan dan restoran sesuai jam yang telah ditentukan.

Baca juga : Jam Malam Akan Diberlakukan di Seluruh Kudus

“Baik untuk restoran, rumah makan, kafe maupun PKL diperbolehkan melayani makan di tempat hanya sampai pukul 19.00 WIB. Sedangkan untuk pukul 19.00 hingga 21.00 WIB, hanya boleh dibungkus, ” ungkap Hartopo usai menerima bantuan dari PD BPR BKK Kudus di Pendopo Kabupaten Kudus, Selasa (19/5/2020).

Menurutnya, setelah pukul 21.00 WIB, semua pedagang harus tutup. Begitu juga dengan toko kelontong, toko modern dan mall plaza. Kebijakan ini menurut Hartopo berlaku di seluruh wilayah Kabupaten Kudus.

Intruksi Bupati tersebut juga berisi, agar setiap orang yang keluar dari rumah wajib mengenakan masker. Selain itu, wajib melakukan physical distancing, social distancing dan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat.

“Kalau tidak mematuhi intruksi ini tentu ada sanksinya, terutama untuk pedagang. Yang tidak ikut nanti kita akan tegur, kita peringatkan. Setelah berulang kali diperingatkan namun masih tidak menghiraukan, kita tutup,” jelasnya.

Hartopo menuturkan, dalam pembatasan jam malam yang dimulai pukul 21.00 hingga 06.00 WIB tersebut, tidak berlaku bagi pelayanan SPBU, rumah sakit, klinik, pusat kesehatan masyarakat, praktik dokter, apotek dan hotel.

Baca juga : Beri Kelonggaran PKL Hingga Jam 9 Malam, Pemkab Kudus Beri Syarat Khusus

Selain itu, pembatasan jam malam juga tidak berlaku bagi aktivitas distribusi sayuran dan buah-buahan di Pasar Bitingan. Menurutnya aktivitas tersebut bersifat penting.

“Bagi karyawan yang berangkat atau pulang kerja pada saat pembatasan jam malam harus dibuktikan dengan surat tugas atau surat keterangan dari tempat usaha,” terangnya.

Mulai hari ini, pihaknya akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Dia berharap, dengan adanya Intruksi Bupati tersebut, dapat memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Kabupaten Kudus.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jelang Lebaran, Ramayana Kudus Ramai Dikunjungi Warga

0
Para pengunjung Mall Ramayana Kudus sedang memilih pakaian yang hendak dibeli, Senin (18/5/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Antrean warga tampak di pintu masuk Mall Ramayana Kudus, Senin (18/5/2020). Mereka menunggu giliran dites suhu oleh petugas keamanan di pintu masuk yang diseting hanya bisa dimasuki satu orang itu.

Dari pantauan, suasana mall yang berada di kawasan Alun-Alun Kudus itu tampak ramai. Beberapa pengunjung terlihat memilih beberapa jenis pakaian di stand masing-masing untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. Di sisi lain, para petugas Ramayana juga tampak bergerak aktif mengingatkan konsumen yang berkerumun di kasir atau di tempat lain.

Para pengunjung Mall Ramayana Kudus sedang memilih pakaian yang hendak dibeli, Senin (18/5/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

Mendekati kasir, terlihat lantai sudah ditempel lakban membentuk kotak dan silang untuk jarak antrean. Pengunjung pun terlihat mematuhi aturan jaga jarak tersebut.

Asisten Manajer Mall Ramayana Kudus Muhammad Umri (29) menjelaskan, pihaknya sudah menerapkan protokol pencegahan Covid-19 sejak buka kembali awal April lalu. Mulai pintu masuk, pengunjung diwajibkan untuk cuci tangan, lalu menggunakan hand sanitizer, dan kemudian dicek suhu tubuhnya. Selain itu, pengunjung juga harus memakai masker.

Baca juga: Cuma Rp 35 Ribu, Flat Shoes Paling Diburu di Toko BSO

“Jika tidak memakai masker maka akan diarahkan untuk membeli masker di bagian kasir. Di sana sudah kami sediakan masker bagi pelanggan yang tidak menggunakan untuk membeli masker terlebih dahulu,” terangnya.

Umri sapaan akrabnya, juga selalu keliling dan mengingatkan pelanggan yang berkerumun di kasir, karena masih banyak pelanggan yang tidak menghiraukan aturan jaga jarak. Padahal, sudah banyak dipasang spanduk imbauan agar menjaga jarak.

Mendapati Ramayana ramai pengunjung, salah satu pengunjung Wawan mengaku waswas, meski pihak mall sudah menjalankan protokol pencegahan Virus Covid-19.

“Ini sama adik nyari baju koko buat lebaran. Tetap ada rasa waswas meski sudah ada protokol kesehatan di sini. Apa lagi di tempat keramaian, kita tidak tahu jika ada yang terpapar di sini,” terang Warga Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara itu sambil memegang baju koko.

Baca juga: Cari Busana Muslim Anak yang Trendi? Yuk Mampir di Hawwa Baby & Kids Fashion

Hal sama juga diutarakan Tika Aisyah (23). Dia mengaku khawatir berada di tempat keramaian. Makanya, dia selalu membawa masker dan hand sanitizer. Menurutnya, Mall Ramayana sudah cukup bagus dalam antisipasi penyebaran Covid-19.

“Ini tadi mencari sandal, sama saudara. Sebelumnya sudah ke beberapa mall, dan di sini memang lumayan bagus. Mungkin karena pas tidak terlalu ramai,” tutup Warga Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Javaz, Distro yang Pertama Kali Berdiri di Kudus

0
Distro Javas yang berada di Desa Piji, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi Jalan Kudus – Colo, tepatnya di Desa Piji, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, tampak bangunan berlantai dua. Di dalam bangunan berpintu kaca tersebut terlihat aneka jenis pakaian tergantung rapi. Tempat tersebut yakni Distro Javaz, distro yang diklaim pertama kali di Kudus.

Muhammad Lutfi Prasetya (24) kepala toko menuturkan, Distro Javaz dirintis sejak 2006. Pada saat itu, kata dia, di Kudus belum ada toko pakaian berkonsep distro. Dan bisa dianggap Javaz itu distro pertama di kudus.

Salah seorang konsumen sedang memilih baju di Distro Javaz. Foto : Rabu Sipan

“Berbeda dengan sekarang ya, distro sudah menjamur di Kudus. Kalau dulu orang tahunya distro ya Javas,” kata pria yang akrab disapa Lutfi kepada betanews.id, Rabu (14/5/2020).

Baca juga : Starcross Kudus Jorjoran Diskon Hingga 50 Persen

Pria yang bekerja di Distro Javaz selama dua tahun itu menuturkan, tempatnya bekerja itu dulu masih kecil ruangannya, masih sempit belum seluas sekarang. Dulu masih memanfaatkan ruangan rumah terus disekat. Kalau sekarang sudah luas dan berlantai dua.

Distro Javaz lanjutnya, menyediakan aneka jenis pakaian pria. Antar lain kaus oblong serta berkerah, lengan pendek maupun panjang. Ada juga kemeja pendek dan panjang. Celana bahan dan celana jeans tambahnya, juga tersedia. Serta ada topi, jaket, sandal, dompet maupun aneka jenis tas.

“Untuk tas tersedia tas punggung, tas selempang maupun tas pinggang,” bebernya sambil menyapa pelanggan yang datang.

Pria lajang tersebut mengatakan, aneka jenis pakaian yang dipajang di Distro Javaz merupakan dari brand – brand lokal terkenal. Di antaranya, Seventyfour, Proshop, Kick Denim, Sevenlight dan lain sebagainya.

“Semua produk di Distro Javaz itu original dari perusahaan pemilik mereknya ya. Jadi bukan barang tiruan atau KW,” jelasnya sambil mengajak duduk di bangku yang sudah disediakan.

Baca juga : Tiara Manfaatkan Waktu Luang Kuliah dengan Kerja di Distro

Distro Javaz tuturnya, sudah banyak dikenal para remaja sebagai gudangnya pakaian modis dan keren. Bahkan pelanggan tidak datang dari Kudus saja, melainkan juga ada yang dari daerah sekitar. Di antaranya, Pati, Jepara, Demak, Purwodadi, serta Blora.

Sehari, kata dia, Distro Javaz mampu menjual sekitar 40 hingga 80 aneka jenis pakaian. Berarti dalam sebulan toko tempat kerjanya itu mampu jual sekitar 1.200 pcs pakaian. Penjualan tersebut untuk bulan biasa. Kalau memasuki bulan Ramadan penjualan naik darstis.

“Kalau bulan puasa penjualan bisa sampai 150 pcs sehari. Berarti ada peningkatan penjualan hampir 100 persen,” rinci Lutfi yang menyebut Distro Javaz buka setiap hari mulai pukul 09:00 WIB sampai pukul 21:00 WIB.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Salat Idul Fitri, Hartopo: ‘Saya Instruksikan untuk Ditiadakan’

0
Plt Bupati Kudus HM Hartopo. Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus tidak memperbolehkan melakukan Ibadah Salat Idul Fitri di masjid dan lapangan. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya memutus penyebaran Covid-19 di kota Kretek.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo menuturkan, pemberian instruksi untuk meniadakan salat Idul Fitri sudah sesuai dengan arahan pemerintah pusat dan Majlis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah.

“Sesuai intruksi dari pemerintah pusat salat Idul Fitri ditiadakan. Saya juga memberikan intruksi untuk ditiadakan,” ungkapnya saat ditemui selepas membagikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Balai Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus, Senin (18/5/2020).

Baca juga: Putus Penyebaran Covid-19, MUI Jateng Anjurkan Salat Id di Rumah

Namun, karena masyarakat di Kudus memiliki kultur Islam yang kuat, jika ada yang melaksanakan Salat Idul Fitri harus mengikuti protokol kesehatan yang ditentukan pemerintah.

Selain itu, pihaknya juga meminta kepala desa dan satuan tugas (Satgas) Jogo Tonggo di setiap RW untuk ikut memantau pelaksanaan Salat Idul Fitri di desanya. Hal tersebut untuk memastikan protokol kesehatan sudah diterapkan.

“Protokol kesehatan seperti menyediakan tempat mencuci tangan, mengenakan masker, tidak boleh bersalaman dan ada jarak antar jemaah,” jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah Ahmad Darodji sudah mengeluarkan anjuran untuk melakukan salat Idul Fitri di rumah. Termasuk juga mengeluarkan tuntunan tata cara salat Idul Fitri dan khotbahnya. Sehingga masyarakat tidak perlu bingung untuk melakukan ibadah di rumah.

“Pilihan terbaik kondisi saat ini yakni salat Id di rumah. Bila salat tetap dilaksanakan di masjid atau di lapangan, akan sulit menghindari jarak saf maupun salaman,” ungkapnya.

Baca juga: Beredar Kabar Boleh Salat Id di Masjid, Ganjar Tegaskan Salat Id di Rumah Saja

Dalam Fatwa MUI Nomor 28 tahun 2020 tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Salat Idul Fitri Saat Pandemi Covid-19 menjelaskan, salat Idul Fitri boleh dilaksanakan secara jamaah di masjid, musala dan lapangan. Asalkan kawasan yang dimaksud penanganan Covid-19 sudah terkendali. Satu di antaranya ditandai dengan angka penularan cenderung menurun dan terdapat kebijakan pelonggaran aktivitas sosial.

Selanjutnya, kawasan tersebut yakni kawasan terkendali dan diyakini bebas Covid-19. Seperti di pedesaan atau perumahan terbatas yang homogen. Warga di daerah tersebut tidak ada yang terpapar Covid-19 serta tidak ada aktivitas keluar masuk orang dari daerah lain.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Ganjar Pastikan Protokol Kesehatan Penanganan PMI di Bandara Berjalan Ketat

0
Ganjar Pranowo meninjau langsung penanganan para Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang baru mendarat di Bandara Ahmad Yani Semarang, Selasa (20/5/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meninjau langsung penanganan para Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang baru mendarat di Bandara Ahmad Yani Semarang, Selasa (20/5/2020). Kedatangannya itu untuk memastikan protokol kesehatan dijalankan ketat oleh pihak bandara, sesuai ketentuan pemerintah.

Dalam kesempatan itu, Ganjar ikut memantau penanganan 39 PMI yang baru tiba dari Malaysia. Bersama General Manager Angkasa Pura I Hardi Ariyanto dan Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jateng Sakina Rosellasari, Ganjar berkeliling untuk memastikan tidak ada yang terlewatkan dalam penanganan para PMI.

Penanganan para Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang baru mendarat di Bandara Ahmad Yani Semarang, Selasa (20/5/2020). Foto: Ist.

Setelah berkeliling, Ganjar mengaku cukup puas dengan penerapan protokol kesehatan di bandara. Begitu turun dari pesawat, semua PMI dibawa ke ruangan khusus yang terletak di depan Ruang Imigrasi Bandara untuk dicek kesehatannya.

Satu persatu, mereka menjalani rapid test serta pengecekan kesehatan lain oleh puluhan petugas yang dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri (APD). Saat antre, mereka juga duduk dengan kursi yang diatur jaraknya.

Baca juga: Ganjar Siapkan Badan Diklat Srondol untuk Karantina Ratusan Pekerja Migran yang Mudik

Ganjar mengatakan, penerapan protokol kesehatan terhadap PMI di Bandara Ahmad Yani Semarang sudah dilakukan ketat. Pihak Dinas Kesehatan dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) sudah menyiapkan semua protokol dengan baik.

“Alhamdulillah bagus, semuanya bisa lancar karena sudah dipersiapkan dengan baik. Sehingga, meski pengecekan secara ketat, tapi mereka kawan-kawan PMI ini tetap merasa nyaman dengan pelayanan ini,” katanya.

Usai dicek kesehatannya di bandara, lanjut Ganjar, mereka akan dibawa ke tempat karantina sementara di BPSDM Jateng, sebelum dijemput pihak kabupaten/kota untuk dikarantina di daerah masing-masing.

“Semua kami pull di BPSDM, sambil kami komunikasi dengan kabupaten/kota untuk dijemput. Tapi ada yang dijemput ada yang tidak, nanti yang tidak tetap kami fasilitasi di tempat karantina kami itu,” terangnya.

Baca juga: Penerbangan Beroperasi Lagi, Ganjar Cek Protokol Kesehatan Bandara Ahmad Yani

Ganjar juga memastikan hasil tes PMI semuanya menunjukkan hasil yang baik. Untuk PMI yang turun melalui bandara Ahmad Yani Semarang, rapid testnya semuanya tidak reaktif. Hanya ada satu PMI yang reaktif, yakni dai pelabuhan.

“Hasil tes mereka yang sampai hari ini negatif. Hanya satu yang turun dari kapal (pelabuhan) ada satu yang reaktif. Kami siapkan swab test pada satu PMI itu siang ini, mudah-mudahan hasilnya negatif,” tutupnya.

Sementara itu, salah seorang PMI Karyono menyatakan siap mengikuti peraturan pemerintah. Ia juga siap melakukan karantina selama 14 hari saat tiba di kampung halaman.

“Saya sudah dites di Malaysia, hasilnya negatif. Tadi juga di tes di sini (bandara) hasilnya negatif. Tapi saya siap dikarantina, demi kesehatan bersama tidak masalah,” tutup warga Pati itu.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Berawal dari Hobi, Kini Ida Bisa Jual Seribuan Kaktus dalam Sepekan

0
Noor Hidayati menunjukkan kaktus yang dijual di Kakaktus.kudus. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Di pelataran rumah bercat putih yang berada di Desa Getaspejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus terlihat ribuan pot dengan aneka macam jenis kaktus. Di antara tanaman, duduk dua orang pria dan seorang perempuan sedang merawat tumbuhan berduri tersebut. Tak lama berselang, datang perempuan berhijab ikut membantu. Perempuan itu yakni Noor Hidayati, pemilik Kakaktus.kudus.

Perempuan yang akrab disapa Ida itu mengatakan, ide bisnis ini berawal dari hobi suaminya yang punya sekitar 200 pot kaktus. Mereka kemudian mulai berjualan kaktus sejak Oktober 2019, saat ada ekspo di Graha Mustika yang berada di desanya.

Berbagai jenis kaktus yang dijual di Kakaktus.kudus. Foto: Rabu Sipan.

“Saat suamiku akan ikut ekspo itu, saya sempat tanya barang apa yang akan kita jual. Pas dijawab kaktus, saya ragu apakah ada yang minat,” cerita Ida saat ditemui, Rabu (13/5/2020).

Meski ragu, lanjutnya, sebagai seorang istri, ia pun tetap mendukung dan ikut jualan di stand ekspo. Karena Ida sadar, saat itu tanaman kaktus belum populer di Kudus.

“Tak disangka, ternyata setelah dipajang. Banyak para pengunjung yang datang ke stand kami. Bahkan kaktus koleksi suamiku laris dibeli para pengunjung,” ujarnya.

Baca juga: Sediakan Aneka Bibit Anggur Unggulan, Aan Punya Pelanggan dari Seantero Nusantara

Sejak itu, ia bersama suaminya pun rajin memasarkan tanaman kaktus. Di antaranya ikut berdagang di car free day (CFD), dan rutin ikut CFD di Perumahan Muria Indah Kudus setiap tiga pekan sekali.

“Setiap CFD itu penjualan kaktus kami lumayan bagus. Bahkan kami bisa mendapatkan uang Rp 600 ribu hingga Rp 1,6 juta sehari,” ujarnya sambil menaruh kaktus di kardus.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak itu mengungkapkan, kakaktus.kudus menyediakan aneka jenis kaktus dan sukulen. Kaktus yang dijualnya kini ada ribuan pot, dengan berbagai jenis kaktus. Di antaranya kaktus mikcey mouse, kaktus otak, echeveria, black pink, lidah mertua mini, golden barrel dan masih banyak jenis lainnya.

Aneka jenis kaktus tersebut, tambahnya, didatangkan dari daerah Jawa Barat. Sedangkan untuk harga dia banderol bervariasi, mulai Rp 6 ribu hingga Rp 100 ribu.

“Itu untuk harga kaktus yang ready di sini ya. Kalau kaktus yang harganya di atas Rp 100 ribu, kami hanya melayani pesanan saja,” ungkapnya.

Baca juga: Melihat Proses Pengasapan Ikan di Doropayung Pati

Dia mengungkapkan, setiap kali mendatangkan tanaman berduri itu bisa ribuan pot kaktus. Jumlahnya antara 1.400 hingga 2.000 kaktus yang biasanya habis dalam dua pekan.

Selain dipajang di depan rumahnya, dia juga memasarkan kaktusnya lewat daring. Pelanggannya meliputi Karesidenan Pati, Demak, Semarang, dan beberapa wilayah Jawa Timur. “Bahkan beberapa kali kita kirim ke pulau seberang,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -