Beranda blog Halaman 1842

Disperindag Jateng Gelar Operasi Pasar Gula Pasir di Kudus, Harga Rp 12.500

0
Seorang warga saat membeli gula pasir dalam operasi pasar gula pasir di Pasar Bitingan, Senin (18/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah melakukan operasi pasar gula pasir di Pasar Bitingan Kabupaten Kudus, Senin (18/5/2020). Kegiatan ini dilakukan guna menekan harga kebutuhan pokok tersebut di pasaran.

Kepala Disperindag Muhammad Arif Sambodo menuturkan, operasi pasar yang dilakukannya fokus pada gula pasir. Menurutnya, sejak bulan Januari 2020 harga gula pasir naik lebih mahal dari harga eceran tinggi (HET) yang ditentukan sebesar Rp 12.500 per kilogram. Sehingga, operasi pasar akan terus dilakukannya sampai harganya kembali normal di harga tersebut.

Seorang warga saat membeli gula pasir dalam operasi pasar gula pasir di Pasar Bitingan, Senin (18/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

“Dari Januari hingga sekarang harganya naik. Akhir Februari kemarin saja sampai Rp 18.000 per kilogram,” ungkapnya.

Khusus di Kudus, lanjut Arif, harga di tingkat konsumen masih tinggi mencapai Rp 16.000 per kilogram. Sedangkan untuk distributor harganya Rp 13.500 per kilogram. Makanya, dalam operasi pasar ini, gula pasir yang dijual dihargai Rp 12.500.

Baca juga: Mendekati Lebaran, Harga Bawang Merah di Kudus Tembus Rp 65 Ribu per Kilogram

Menurutnya, operasi pasar sudah dilakukannya sejak awal Maret 2020 di seluruh Jawa Tengah. Selain di Kudus, pihaknya telah melaksanakannya di Kabupaten Batang, Kendal, Temanggung, Demak, Solo Raya dan kabupaten di daerah selatan Jawa Tengah.

“Total keseluruhan se Jawa Tengah ada 608 ton. Untuk Kudus sendiri 4 Ton,” jelasnya.

Dalam kegiatan ini, gula pasir yang dijual merupakan raw sugar impor yang diolah oleh PT Industri Gula Nusantara menjadi gula kristal putih. Dalam operasi pasar ini, setiap pembeli hanya dibatasi menebus dua kilogram saja.

“Kami kasih tinta di jarinya. Yang sudah ambil tidak boleh beli lagi,” tuturnya.

Sementara itu, pembeli gula pasir Muslimah mengaku senang mendapatkan gula lebih murah. Sebelumnya, dia harus membeli seharga Rp 17.000 ribu per kilogram.

Baca juga: Turun Drastis, Harga Cabai di Kudus Tak ‘Sepedas’ Rasanya

“Rasanya senang bisa mendapatkan lebih murah. Namun sayang, cuma dibatasi dua kilogram saja,” tutur warga Desa Blimbing Rejo, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara itu.

Dia berharap, harga gula pasir secepatnya dapat normal kembali. Mengingat, sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri. “Kebutuhan gula pasti akan semakin banyak,” tutup Muslimah.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Ganjar Siapkan Badan Diklat Srondol untuk Karantina Ratusan Pekerja Migran yang Mudik

0
Ganjar Pranowo saat menjenguk pekerja migran yang dikarantina di Gedung BPSDM Jateng, Srondol Kota Semarang, Senin (18/5/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo telah menyiapkan gedung BPSDM Jateng di Srondol Kota Semarang sebagai tempat karantina ratusan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang pulang ke kampung halaman. Di tempat tersebut, mereka akan diisolasi selama 2-3 hari sambil menunggu penjemputan dari daerah masing-masing.

Ganjar memastikan, protokol kesehatan sudah disiapkan secara ketat untuk menyambut para diaspora itu saat tiba di Bandara Ahmad Yani Semarang.

“Tadi pagi (Senin 18/5/2020) saya dapat laporan, ada 57 PMI dari Malaysia yang tiba di Bandara Ahmad Yani Semarang. Semuanya sudah diperiksa kesehatannya saat tiba di bandara, dilakukan rapid test dan dibawa ke BPSDM Jateng untuk karantina,” kata Ganjar.

Dari informasi yang didapatkannya, kepulangan para PMI ke Jateng itu akan terjadi setiap hari. Misalnya dari Kuala Lumpur, mulai 18-23 Mei, setiap hari akan ada penerbangan yang membawa pekerja Jateng.

Baca juga: Penerbangan Beroperasi Lagi, Ganjar Cek Protokol Kesehatan Bandara Ahmad Yani

Rinciannya, 18 Mei ada 158 orang, 19 Mei ada 135 orang, 20 Mei ada 140 orang, 21 Mei sebanyak 114 orang, 22 Mei sebanyak 106 orang dan 23 Mei sebanyak 94 orang.

“Itu data yang dikirimkan pihak sana, tapi realisasinya beda. Mungkin ada yang tidak berangkat dan sebagainya. Meski begitu, dengan data yang dikirim tersebut, kami jauh lebih siap,” terangnya.

Selama di gedung milik Pemprov Jateng itu, mereka akan dicek kesehatannya secara berkala, menjalani rapid test dan penerapan protokol kesehatan. Mereka yang sehat akan dipisahkan dengan yang menunjukkan reaksi saat pemeriksaan rapid test berlangsung.

“Kami siapkan ruangan cukup banyak. Mereka akan kami pisahkan mana yang sudah rapid test, mana yang reaktif, agar saat dijemput kabupaten/kota bisa dilakukan tindakan tertentu. Kami harap semuanya sehat,” tegasnya.

Tak hanya dari udara, sejumlah PMI asal Jateng yang bekerja di beberapa negara juga ada yang pulang menggunakan jalur laut. Di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang misalnya, sudah ada 21 orang yang mudik.

“Skemanya sama, kami terapkan protokol kesehatan yang ketat. Ada penjagaan juga di pelabuhan, ada dari Disnaker, Pemkot, KKP dan lainnya. Semua mengikuti standar yang sudah ditetapkan,” beber Ganjar.

Baca juga: Ganjar Kirim Sembako untuk Warga Jateng di Jabodetabek yang Tidak Mudik

Data 14 Mei 2020, sudah ada 1.124 PMI asal Jateng yang mudik menggunakan jalur udara dan turun di Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Selain itu, ada pula PMI yang mudik melalui lintas batas negara sebanyak 59 orang dan pelabuhan Tanjung Emas Semarang 21 orang.

“Jumat lalu, ada juga 69 repatriasi dari Dili Timor Leste, sudah mendarat di Bandara Juanda. Mereka sudah rapid test dan sudah kami siapkan tiga bus untuk membawa mereka ke Jateng,” imbuhnya.

Ganjar menegaskan, semua PMI yang pulang ke Jateng harus menjalani karantina minimal 14 hari. Untuk itu, dirinya meminta kabupaten/kota menyiapkan kebutuhan karantina.

“Semua harus karantina minimal 14 hari di tempat masing-masing. Kabupaten/kota hingga desa wajib menyiapkan tempat karantina, agar semua aman,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Sedekah Berkah ala Warga Singocandi, Ambil Secukupnya Ngelingi Koncone

0
Warga sedang mengambil takjil yang disediakan oleh warga RW 1 Desa Singocandi. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi selatan Jalan Dewi Sartika, Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus terlihat ratusan stereofom putih berisi nasi. Di sampingnya tampak seorang pria mengenakan peci dari bahan goni. Dengan menggunakan pengeras suara, pria tersebut mempersilakan bagi siapa saja mengambil nasi dan minuman yang tersedia. Itu merupakan kegiatan sedekah berkah.

Warga sekitar yang mendengar intruksi tersebut dengan serta merta menghampiri, untuk mengambil nasi dan es teh. Tampak yang berminat bukan hanya warga sekitar saja, namun orang yang melintas mengendarai motor juga menyempatkan berhenti, dan kemudian mengambil makanan yang disediakan.

Ketua RW 1, Sholeh Syakur memberikan takjil kepada warga. Foto : Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya mempersilakan para warga untuk mengambil makanan dan minuman, Sholeh Syakur (43) Ketua RW 01, Desa Singocandi menuturkan, kegiatan sedekah berkah dengan jargon Ambil Secukupnya Ngelingi Koncone itu, bertujuan untuk meringankan beban masyarakat di tengah pandemi corona. Setidaknya untuk berbuka puasa bagi mereka yang membutuhkan.

Baca juga : Komunitas Generasi Satu Kudus Bagikan Takjil

“Sejak ada pandemi corona melanda, banyak masyarakat yang terimbas. Oleh karena itu, dengan sedekah berkah ini, semoga mampu meringankan beban masyarakat,” ujarnya kepada betanews.id, Senin (18/5/2020).

Dana untuk mengadakan sedekah berkah, lanjutnya, berasal dari swadaya warga RW 01 Desa Singocandi serta ibu pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK). Sedangkan sedekah berkah itu, kata dia, diperuntukan bagi siapa saja yang membutuhkan.

“Ya seperti jargonnya Mas, ambil secukupnya, eling koncone. Biar yang lain juga kebagian,” ungkapnya.

Dia mengatakan, sedekah berkah itu mulai diadakan pada tanggal 14 Mei 2020 sampai nanti hari terakhir Ramadan. Pembagian dimulai pukul 15.00 WIB sampai selesai. Setiap hari, kata dia, selalu menyediakan ratusan porsi makanan dan minuman. Menu makanannya juga selalu beda tiap harinya.

“Alhamdulillah selama ini semua sedekah terdistrubusi degan baik. Antusias masyarakat yang membutuhkan sedekah juga banyak kok,” bebernya.

Baca juga : Bagikan Takjil, SPBU Matahari Kudus Wajibkan Warga Pakai Masker


Dari pantauan di lapangan, 150 nasi dan es teh dengan jumlah yang sama itu langsung habis dalam tempo setengah jam. Sedekah di mulai pukul 15.00 WIB, dan pada pukul 15.30 WIB semua nasi serta minumannya sudah habis diambil mereka yang membutuhkan.

“Semoga saja sedekah ini bermanfaat bagi mereka membutuhkan, dan semoga menjadi amal bagi mereka yang berdonasi,” harap Sholeh Syakur.


Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jadi Tulang Punggung Keluarga, Sukinah Terbantu Adanya Bantuan dari Kemensos

0
Warga Karanganyar Demak saat mengambil bantuan sosial tunai (BST) dari Kemensos di Kantor Pos Karanganyar, Jumat (15/5/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang perempuan tampak keluar dari Kantor Pos Indonesia, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jumat (15/5/2020). Sambil berjalan mendekati kendaraan roda duanya, wanita bernama Sukinah itu berbagi cerita tentang Bantuan Sosial Tunai (BST) dari Kementerian Sosial (Kemensos).

Sukinah mengaku terbantu adanya bantuan berupa uang sebesar Rp 600 ribu itu. Menurutnya, bantuan tersebut sangat menolong di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit. Apalagi, dia kena pengurangan jam kerja di tempat kerjanya, sehingga penghasilannya turun.

Dua warga Karanganyar Demak saat mengambil bantuan sosial tunai (BST) dari Kemensos di Kantor Pos Karanganyar, Jumat (15/5/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

Keadaan makin sulit, lantaran ia sudah lama menjanda, dan memiliki dua anak yang masih kecil. Sehingga mau tidak mau, ia harus jadi tulang punggung keluarga.

“Anak saya masih kecil-kecil, dan saat ini jam kerja saya mulai dikurangi gara-gara Corona ini. Bantuan uang ini sangat membantu meringankan saya di saat seperti ini,” ungkap warga RT 03 RW 01 Desa Ngemplik Wetan, yang bekerja menjadi buruh rokok di Kudus itu.

Baca juga: 18 Warga Karanganyar Demak Dicoret dari Penerima Bantuan Kemensos

Sama halnya dengan Sukinah, Sudarti (54) juga merasa senang mendapat bantuan. Menurutnya, bantuan tersebut sangat membantu selama ada pandemi Covid-19.

“Ini tadi saya ambil bantuan. Cukup membawa surat undangannya, KTP (Kartu Tanda Penduduk), dan KK (Kartu Keluarga). Ambilnya juga cepat, tidak perlu antre lama,” jelas warga Desa Ngemplik Wetan RT 01 RW 01 itu.

Di sisi lain, Kaur Kesra Desa Ngemplik Wetan Zuri (52) mengatakan, di desanya, bantuan tersebut berjalan sedikit rancu, terutama proses pendistribusiannya. Dari 189 warga Desa Ngemplik Wetan yang mendapat bantuan, 173 warga disalurkan melalui Kantor Pos. Sedangkan 16 warga yang lain melalui rekening BNI dan BRI.

“Jadi proses penyaluran ini menjadi aneh, kok bisa beda-beda. Saya juga kasihan kepada warga yang belum memiliki rekening sesuai bank penyaluran bantuannya. Selain itu, ini yang keluar juga data lama, mungkin lima tahun yang lalu,” terangnya.

Baca juga: Polda Jateng Bagikan Ratusan Sembako di Kudus

Dia juga menjelaskan, proses pengambilan bansos BST dari Kemensos berjalan lancar. Hingga pukul 15.00 WIB, masih ada sekitar 10 warga yang belum mengambil. Dirinya akan menghubungi warga yang belum mengambil agar segera datang.

“Ini lancar, cuma ada satu warga tadi yang diwakilkan tapi tidak bisa. Meski yang mewakilkan ibu kandungnya, tetapi sudah pisah KK, jadi tidak bisa,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Gerakkan Sektor UMKM, Ganjar Borong 3 Juta Masker Senilai Rp 10 Miliar

0
Ganjar Pranowo saat meninjau gudang masker di Kantor Dinkop UKM Jateng, Minggu (17/5/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tengah menyiapkan berbagai program penyelamatan untuk menggerakkan roda perekonomian selama pandemi Covid-19. Salah satunya adalah menggerakkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk memproduksi masker.

Tak tanggung-tanggung, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng sudah menyiapkan anggaran Rp 10 miliar untuk memborong 3 juta masker yang diproduksi.

Ganjar mengatakan, program pembelian masker dari pelaku UMKM merupakan tindakan darurat. Mereka yang bergerak di bidang fashion, didorong untuk membuat masker dan hasilnya dibeli pemerintah.

“Dalam Jaring Pengaman Ekonomi, kami membagi ada tiga penanganan, yakni darurat, jangka pendek dan menengah. Sekarang ini penanganan darurat dan harus direspon cepat agar para pelaku UMKM bisa tertolong,” kata Ganjar saat meninjau gudang masker di Kantor Dinkop UKM Jateng, Minggu (17/5/2020).

Baca juga: Ganjar Kirim Sembako untuk Warga Jateng di Jabodetabek yang Tidak Mudik

Selain UKM fashion, pihaknya kemudian akan memberi dukungan kepada UKM boga. Nantinya, mereka yang bisa memproduksi makanan, minuman atau snack, akan mendapat bantuan dari pemerintah berupa bahan baku.

“Nanti kami bantu bahan baku, agar mereka bisa memproduki snack, makanan atau minuman. Ini cara kami agar ekonomi tetap menggelinding, dan masyarakat tidak hanya menunggu bantuan,” ucapnya.

Di sisi lain, Kepala Dinkop UKM Jateng Ema Rachmawati menambahkan, program 3 juta masker merupakan ide Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk melindungi UKM agar tidak gulung tikar. Para pelaku UKM di bidang fashion dan jahit yang ada di bawah naungan Dinkop UKM, semuanya diberdayakan untuk mengikuti program ini.

“Sampai saat ini, sudah ada 2,1 juta masker kain yang dikirim ke kami. Targetnya 3 juta masker dari para pelaku UKM itu, untuk kami beli dan kami distribusikan secara gratis kepada masyarakat,” kata Ema.

Baca juga: Setelah Lebaran, BLK Siapkan Tiga Pelatihan Penanganan Corona

Masker kain hasil UKM itu lanjut dia akan didistribusikan kepada gugus tugas covid-19 di 35 kabupaten/kota se Jateng. Selain itu, masker tersebut nantinya juga akan dibagikan kepada para petugas TNI/Polri dan masyarakat serta pedagang di pasar.

“Pesanan sudah banyak, nanti kalau sudah terkumpul semuanya, langsung kami distribusikan. Sementara masih menunggu beberapa daerah yang belum kirim,” imbuhnya.

Ema melanjutkan, Pemprov juga sudah menyiapkan anggaran Rp 38 miliar untuk membantu bahan baku pelaku UKM boga se Jateng. Apalagi saat mendekati Lebaran seperti ini, banyak UKM boga di Jateng yang sudah berjalan dan memiliki pangsa pasar tertentu.

“Mereka masih bisa jalan, tapi memang kesulitan bahan baku. Jadi, nanti kami bantu berikan bahan baku seperti tepung, gula, minyak dan sebagainya. Masing-masing UKM akan mendapatkan bantuan bahan baku senilai Rp 3 juta,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Beredar Kabar Boleh Salat Id di Masjid, Ganjar Tegaskan Salat Id di Rumah Saja

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegaskan kabar pemberian izin salat Idul Fitri di masjid pada Minggu (24/5/2020) yang beredar lewat media sosial tidak benar alias hoaks.

Kabar itu menyebut Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah memberi izin pelaksanaan salat Idul Fitri di masjid atau di lapangan asal menepati beberapa syarat, seperti mengenakan masker sampai pengaturan barisan salat. Dalam pesan tersebut juga tertulis, peraturan diteken oleh Sekda Jateng Heru Setiadhie atas nama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Ganjar berharap masyarakat mematuhi perintah dari Kementerian Agama yang telah mengeluarkan ketentuan agar masyarakat melaksanakan salat di rumah saja.

Baca juga: Putus Penyebaran Covid-19, MUI Jateng Anjurkan Salat Id di Rumah

“Sebaiknya ikuti saja ketentuan yang sudah dikeluarkan oleh Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia, terus kemudian dari organisasi besar keagamaan,” tegas Ganjar, Minggu (17/5/2020).

Selain mengurangi mudarat, Ganjar mengatakan, untuk pelaksanaan salat Idul Fitri di rumah, Majelis Ulama Indonesia di Jawa Tengah telah mengeluarkan panduan bahkan teks khotbah yang bisa digunakan masyarakat untuk melaksanakan salat di rumah.

“Kalau kemudian ini bisa dilaksanakan di tempat masing-masing menurut saya akan lebih bagus, maksudnya di rumah. Saya juga salat Idul Fitri di rumah,” katanya.

Baca juga: Penerbangan Beroperasi Lagi, Ganjar Cek Protokol Kesehatan Bandara Ahmad Yani

Ganjar juga menanggapi keputusan Pemerintah Kota Tegal yang berencana melaksanakan salat Idul Fitri di masjid agung setempat. Bahkan, dirinya mengatakan belum ada jalinan komunikasi yang dilayangkan Pemkot Tegal pada dirinya.

“Tadi pagi pak Wakil Walikota melaporkan penanganan COVID-19 tapi tidak bertanya soal itu kepada saya. Belum komunikasi dengan saya. Sebaiknya ikuti saja ketentuan yang sudah dikeluarkan oleh Kementerian Agama,” pungkas Ganjar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

BLT dari Dana Desa Mulai Disalurkan di Kudus

0
Salah seorang warga sedang mencairkan dana bantuan yang bersumber dari dana desa. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Sembilan desa di Kabupaten Kudus, Senin (18/5/2020) pagi mulai menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bersumber dari dana desa (DD). Sembilan desa tersebut yakni Desa Tanjung Karang, Jetiskapuan, Pasuruan Kidul (Kecamatan Jati), Desa Golantepus (Kecamatan Mejobo) Desa Panjang, Karang Bener (Kecamatan Bae) Desa Garung Lor (Kecamatan Kaliwungu) Kecamatan Jurang (Kecamatan Gebog) dan Desa Glagah Kulon (Kecamatan Dawe).

Menurut Plt Bupati Kudus HM Hartopo, masyarakat penerima BLT akan mendapatkan uang tunai sebesar Rp 600 ribu setiap bulan dan diberikan selama tiga bulan. Pencairan dimulai bulan Mei 2020.

Pencairan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bersumber dari dana desa. Foto : Imam Arwindra

“Hari ini ada sembilan desa yang sudah bisa mencairkan. Tiga desa di antaranya berada di Kecamatan Jati,” ungkapnya saat ditemui di Balai Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus, Senin (18/5/2020).

Baca juga : Hartopo Minta Data Penerima Bansos Ditempelkan di Setiap RT

Menurutnya, pencairan bantuan dilakukan secara berjenjang. Dia mencontohkan, hari ini, Senin (18/5/2020) terdapat sembilan desa, kemudian Selasa besok ada 13 desa dan Rabu ada 17 desa.

Hartopo menuturkan, pihak desa telah melakukan pendataan yang sangat selektif. Menurutnya, hanya orang miskin saja yang bisa mendapatkannya.

“Tadi saya sempat berbicara dengan salah satu penerima. Dia memang kondisinya sangat membutuhkan, karena sedang sakit, tidak bekerja sama sekali. Dia saat ini ditopang anaknya. Ini sangat layak,” ungkapnya.

Hartopo berharap, dana BLT yang diberikan bisa bermanfaat bagi masyarakat yang terdampak Covid-19.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Kudus Adi Sadhono Murwanto menuturkan, penerima BLT yang bersumber dari dana desa yakni di luar dari Daftar Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Dia menjelaskan, DTKS yakni data warga miskin yang sudah sudah terdaftar di Kementerian Sosial. Masyarakat yang terdaftar DTKS sudah menerima bantuan sosial. Di antaranya, bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Sosial Tunai (BST) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

“Jadi yang sudah menerima batuan dari DTKS tidak bisa mendapatkan BLT dana desa,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya sudah menempel daftar nama penerima bantuan sosial di setiap balai desa. Menurutnya, dengan adanya daftar tersebut akan menghindari adanya data ganda penerima bantuan sosial.

Baca juga : 1,8 Juta Warga Jateng Akan Terima BLT, Anggaran Rp 1,4 T Sudah Disiapkan

“Sesuai dengan instruksi pimpinan (Plt Bupati Kudus), daftar tersebut sudah dibuat di setiap desa. Masyarakat bisa langsung mengecek dia mendapatkan bantuan dari kategori apa,” tuturnya.

Dia memberitahukan, dari jumlah 123 desa di Kudus, sejauh ini yang sudah mencairkan yakni 94 desa. Dari total tersebut, yang mendapatkan BLT dana desa sejumlah 23.195 kepala keluarga. Menurutnya, terus melakukan evaluasi. Sehingga, dalam perkembangannya, data tersebut akan berubah, yakni bisa bertambah atau bahkan sebaliknya.

Menurutnya, setiap desa jumlah penerima BLT berbeda. Adi merinci, untuk dana desa di bawah Rp 800 juta per tahun maksimal 25 persen dialokasikan BLT. Sementara dana desa Rp 800 juta sampai dengan Rp 1,2 miliar maksimal 30 persen. Terakhir, jika di atas Rp 1,2 miliar maka alokasi maksimal yakni 35 persen.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

18 Warga Karanganyar Demak Dicoret dari Penerima Bantuan Kemensos

0
Dua warga Karanganyar Demak saat mengambil bantuan sosial tunai (BST) dari Kemensos di Kantor Pos Karanganyar, Jumat (15/5/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, DEMAK – Kantor Pos Indonesia Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak tampak ramai, Jumat (15/5/2020). Dua orang petugas terlihat melayani warga yang datang untuk mengambil Bantuan Sosial Tunai (BST) dari Kementerian Sosial.

Satu di antara petugas tersebut adalah Supono (63). Pria yang menjabat Kepala Pos Indonesia Kecamatan Karanganyar itu menjelaskan, saat ini pihaknya menyalurkan bantuan tersebut kepada 1.185 warga di Kecamatan Karanganyar.

“Jika dari data yang masuk, sebelumnya ada 1.203 warga. Tetapi karena ada yang mendapat dobel bantuan, kemudian ada 18 warga yang dicoret. Jadi totalnya menjadi 1.185. Untuk detailnya, saya kurang paham dobel dalam bantuan jenis apa, karena saya cuma menyalurkan bantuan,” terangnya.

Supono melanjutkan, penyaluran bantuan dilakukan selama lima hari mulai Rabu hingga Minggu pada pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Untuk menghindari kerumunan, pihaknya sudah membuat jadwal pengambilan 17 desa di kecamatan tersebut.

Baca juga: 1.069 Warga Kudus Terima Bantuan Rp 600 Ribu dari Kemensos

Untuk Rabu, Desa Bandungrejo mulai pukul 08.00 hingga 09.00 WIB, Desa Cangkring pukul 09.00 hingga 14.00 WIB, Desa Cangkring Rembang pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. Sedangkan hari Kamis, Desa Jatirejo mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB, Desa Karanganyar pukul 12.00 hingga 16.00 WIB, Desa Kedungwaru Kidul pukul 08.00 hingga 12.00 WIB, Desa Kedungwaru Lor pukul 08.00 hingga 12.00 WIB, Desa Kotakan pukul 08.00 hingga 12.00 WIB.

“Hari Jumat, Desa Ketanjung pukul 08.00 hingga 12.00 WIB, Desa Ngaluran pukul 12.00 hingga 14.00 WIB, Desa Ngemplik Wetan pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. Hari Sabtu, Desa Tugu Lor mulai pukul 08.00 hingga 09.00 WIB, Desa Tuang pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, Desa Undaan Kidul pukul 12.00 hingga 14.00 WIB. Desa Undaan Lor pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. Hari minggu Desa Wonoketingal dan Desa Wonorejo pukul 08.00 hingga 14.00 WIB,” rincinya.

Baca juga: Ganjar Kirim Sembako untuk Warga Jateng di Jabodetabek yang Tidak Mudik

Sementara itu, Kaur Kesra Desa Ngemplik Wetan Zuri (52) mengatakan, dia sedang mendampingi warganya yang pada hari itu sedang mendapat giliran jadwal pengambilan BST. Selain itu, desanya juga tidak ada warga yang dicoret dari penerima bantuan.

“Sementara ini, desa kami belum ada yang dicoret. Ini ada 173 warga yang ambil melalui Kantor Pos, kami salurkan sesuai data yang ada. Selain itu juga tidak ada stiker atau pengecatan tanda warga miskin di desa kami,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Ganjar Kirim Sembako untuk Warga Jateng di Jabodetabek yang Tidak Mudik

0
Pengiriman bantuan paket sembako untuk warga Jateng di Jabodetabek. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Sebanyak 7.000 paket sembako dirimkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk warga Jateng yang ada di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) yang tidak mudik saat wabah Covid-19. Sabtu (17/5/2020), Ganjar mengirimkan bantuan tahap pertama kepada warga perantauan di kota-kota besar itu. Rinciannya, untuk warga Jakarta Timur sebanyak 2.707 paket, Bogor 990 paket, Depok 1.027 paket, Tangerang 967 paket dan Bekasi 1.309 paket.

Rencananya, pengiriman bantuan tahap selanjutnya akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Untuk penyalurannya kepada masyarakat, Ganjar menggandeng PT Pos.

“Alhamdulillah mulai kemarin kami laksanakan. Untuk tahap pertama ini, belum semua dari daftar yang menerima. Baru mereka yang ada di Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi. Jakartanya baru mereka yang ada di Jakarta Timur,” kata Ganjar ditemui di rumah dinasnya, Minggu (17/5/2020).

Baca juga : Tak Dapat Bantuan dari Pemprov DKI, Ganjar Akan Kirim Bantuan ke 26 Ribu Warganya

Total warga Jateng yang tidak mudik dan sudah terverifikasi di Jabodetabek, lanjut Ganjar, sebanyak 27.400. Meskipun sampai saat ini, pendaftarannya masih naik terus dan kemungkinan jumlahnya bertambah.

Bantuan untuk warga Jateng di Jabodetabek yang tidak mudik karena wabah Covid-19. Foto : Ist

“Saya minta jangan ditutup pendaftarannya, kemungkinan ada yang belum terkover dan datanya bertambah. Termasuk cadangan bagi mereka yang tercecer, tidak terdaftar di manapun yang menghubungi saya langsung, ini harus tercover,” terangnya.

Dari semua warga Jateng di Jabodetabek yang terdaftar itu, Ganjar memastikan semua mendapatkan bantuan. Bantuan yang diberikan berupa bahan sembako dan bukan dalam bentuk uang.

“Bantuannya sembako, kalau uang saya khawatir dibelikan yang lain seperti rokok atau pulsa. Makanya kami fokus ke makan dulu, minimal mereka tenang karena di rumah ada makanan. Kalau itu bisa, maka apapun bisa dilakukan dan mudah-mudahan mereka tetap bisa survive,” tegasnya.

Selain Jabodetabek, Ganjar juga akan memperhatikan warganya yang ada di daerah lain, termasuk mereka yang di luar Jawa atau luar negeri. Beberapa yang sudah berkomunikasi, juga sudah direspon meskipun tidak terlalu bisa mengkover semuanya.

Baca juga : Ganjar Minta Pemerintah Pusat Perhatikan Perantau yang Tidak Mudik

“Kami tetap berusaha respon meskipun tidak terlalu banyak. Kami tetap coba urus seoptimal mungkin,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penghubung Jateng di Jakarta Wachyu Alamsyah mengatakan, bantuan paket sembako itu sudah dibagikan kepada masyarakat pada Sabtu (17/5/2020). Untuk tahap selanjutnya, bantuan akan diberikan usai Lebaran.

“Total yang sudah mendaftar dan terverifikasi ada 28.000 an. Tahap pertama ini, 7.000 paket kami serahkan, sisanya nanti habis Lebaran,” kata Alam.

Paket sembako yang dibagikan itu terdiri dari beras, sarden, kornet, minyak goreng, kecap dan lainnya. Untuk beras lanjut Alam, langsung dikirim dari Jawa Tengah. Sementara kebutuhan lainnya, dibeli di Jakarta oleh PT Pos.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Madu Mongso Buatan Sanggar Kayun Diminati Hingga Mancanegara

0

BETANEWS.ID, PATI – Suasana pedesaan masih terasa di sekitar Sanggar Kayun, Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati. Sanggar yang berada satu lokasi dengan rumah penggagasnya itu nampak masih sepi, siang itu. Tak berapa lama, datang beberapa pemuda menggunakan sepeda motor yang akan membantu pembuatan madu mongso.

Dewi Yuni Lestari (45), salah seorang dari penggagas berdirinya Sanggar Kayun mengatakan, jika pembuatan madu mongso merupakan salah satu kegiatan yang biasanya dilakukan anak sanggar. Akan tetapi, sudah hampir 7 tahun ini makanan yang sudah ada sejak zaman Mataram Kuno itu diproduksi setiap menjelang Lebaran. Tidak hanya untuk dikonsumsi pribadi, Yuni mengatakan jika madu mongso miliknya juga dijual di beberapa pelanggan. Dari teman terdekat, tetangga, bahkan hingga Mancanegara.

Proses pembuatan madu mongso. Foto : Titis Widjayanti

Baca juga : Resep Turun Temurun yang Membuat Madu Mongso Mbah Uti Selalu Diburu Pembeli

“Awalnya dari keisengan saya yang memang nggak bisa berdiam diri. Dulunya sewaktu kuliah, punya temen daerah Ngawi. Waktu main ke sana, di rumahnya itu disuguhi madu mongso. Terus beberapa tahun setelah itu, saya inget. Dan saya mencoba. Awalnya memang cari resep di google, terus beberapa kali percobaan, sampai akhirnya saya bertemu lagi sama temen saya itu di facebook. Saya sempat tanya, resep dan cara ngolah dari keluarga dia. Terus akhirnya saya praktikkan,” papar Yuni, Rabu (13/5/2020).

Sambil mempersiapkan pengolahan, Yuni memaparkan resep yang didapatkan dari temannya itu. Awalnya, ketan yang mau difermentasi terlebih dahulu ditumbuk kasar. Setelah itu baru difermentasi selama 3 hari. Untuk resep dan langkah yang lain, dikatakan Yuni, hampir sama dengan pengolahan madu mongso di tempat lain. Sedangkan untuk rempah-rempah tambahan, sengaja ditambah kayu manis dan daun salam.

“Kalau untuk proses hampir sama. Paling ketannya itu yang dari info teman saya harus ditumbuk kasar dulu. Madu mongso buatan saya, awalnya saya share di Facebook, terus akhirnya beberapa temen mesen. Terus kok setiap menjelang Lebaran malah banyak yang mesen. Bahkan sampai teman-teman kami yang ada di luar negeri. Seperti Amerika,” kata dia.

Baca juga : Ani Bagikan Tips Pembuatan Madu Mongso Anti Gagal, Bisa Tahan 1 Tahun

Meskipun begitu, perempuan yang sebelumnya berprofesi sebagai tukang rias tersebut mengatakan, belum berani produksi masal. Hal tersebut disebabkan, karena dirinya belum berani mempercayakan pengolahan madu mongso kepada orang lain. Akhirnya berapa pun pesanan yang diterima, sebagaian besar proses pengolahan dipegang olehnya. Sedangkan untuk pengemasan, baru diperbolehkan untuk dibantu orang lain termasuk anak-anak sanggar.

Kendala lain ialah perihal pengiriman keluar negeri. Di mana, akhir-akhir ini cukup susah dan lama, sedangkan produknya bisa bertahan sekitar 1 bulan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Cuma Rp 35 Ribu, Flat Shoes Paling Diburu di Toko BSO

0
Beragam jenis sandal dan sepatu yang berada di Toko BSO Kudus. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan pasang sepatu dan sandal tampak tersusun rapi di rak sebuah toko yang berada di dekat rambu lalu lintas Jalan Kampus UMK, Desa Dersalam, Kecamatan Bae Kabupaten Kudus. Di atas tumpukan sandal maupun sepatu itu terlihat banner yang tergantung yang menunjukkan tulisan harga, mulai dari Rp 10 ribu.

Toko yang baru saja dibuka pada 8 Mei 2020 itu, adalah Bintang Sepatu Obral (BSO). Toko ini menjual aneka sandal dan sepatu dengan harga yang murah. Yakni mulai dari harga Rp 10 ribu.

Baca juga : Manjakan Konsumen, Mubarok Shoes Berikan Diskon Jelang Lebaran

Slamet Anggarista (20), karyawan Toko BSO menuturkan, jika di tempatnya itu pihaknya memberikan potongan harga lumayan banyak. Pemuda asli dari Pulau Madura itu mengatakan, jika harga tersebut bukan karena promo menjelang Lebaran, tetapi harga tetap dari awal toko dibuka.

“Beberapa produk kami obral, baik sandal sampai sepatu, khususnya yang stok lama. Istilahnya cuci gudang. Kalau produk yang masih baru dan bahan bagus juga harganya menyesuaikan. Bisa sampai Rp 225 ribuan. Tapi semua produk kami ada potongan harga,” papar Slamet, Selasa (12/5/2020).

Slamet mengatakan, jika pada grand opening beberapa hari lalu, pihaknya mematok harga dari Rp 10 ribu sampai dengan Rp 15 ribu saja. Ia bercerita jika sampai 75 pasang sepatu dan sandal ludes sewaktu acara tersebut. Sementara itu hingga hari ini, pengunjung mulai ramai mengunjungi toko mereka. Bahkan untuk empat hari saja, Slamet mengatakan rata-rata ada sekitar 35 pasang sandal dan sepatu yang selalu laku tiap harinya.

Baca juga : Mau Berburu Sneakers Murah Tapi Ori? Toko Nix.id Tempatnya

“Kalau yang dijual beragam. Harganya juga menyesuaikan model dan bahan.Tapi sejauh ini yang paling laris justru sepatu ballet atau flat shoes. Karena bahannya bagus, dan harganya juga terjangkau. Cuma Rp 35 ribu saja,” kata dia.

Sambil memperlihatkan berbagai model sepatu, Slamet mengatakan jika produk BSO diambil dari pabrikan dan handmade dari Bandung dan Yogyakarta. Oleh karena itu, harganya pun lebih murah. Hingga saat ini, BSO sudah membuka hingga 15 cabang di beberapa kota. Antara lain Pati, Kudus, Jepara, Purwodadi dan Salatiga.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Komunitas Generasi Satu Kudus Bagikan Takjil

0
Komunitas G1 Kudus membagikan takjil. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, KUDUS – Sekitar perempatan Jalan Lingkar Utara Kudus, Desa Gondang Manis, Kudus, terlihat ramai sore itu. Lalu lalang kendaraan yang melintas mulai dari roda dua hingga roda empat cukup padat. Beberapa orang berkaus dengan tulisan Generasi Satu tampak berkumpul di barat rambu lalu lintas, depan Kampus UMK Kudus ikut serta meramaikan suasana jalan. Mereka adalah komunitas ojek online Grab yang tergabung dalam Generasi Satu (G1) Kudus. Sore itu, mereka sedang membagi-bagikan takjil gratis.

Program tahunan tiap Ramadan itu digelar sebagai bentuk solodaritas dan saling berbagi dengan warga sekitar. Hal tersebut dikatakan oleh Imam Wahyudi (31), salah satu anggota komunitas. Sambil merapikan peralatan, ia mengatakan, jika program tersebut dilaksanakan di satu titik saja. Alasannya karena di titik tersebut mereka sering berkumpul saat menunggu orderan.

Anggota Komunitas G1 berfoto bersama usai membagikan takjil. Foto : Ist

“Ini memang titik kami sering ngumpul. Ada sekitar 500 bungkus yang kami bagikan untuk warga yang melintas di tempat ini,” papar Imam, Jumat (17/5/2020).

Dikatakan Imam, bahwa G1 sendiri merupakan komunitas jaringan para driver Grab angkatan pertama di Kota Kudus. Sebagai komunitas, katanya, ada beberapa program yang dicanangkan, termasuk bagi-bagi takjil tersebut.

Baca juga : Bagikan Takjil, SPBU Matahari Kudus Wajibkan Warga Pakai Masker

“Program sosial dari G1 ada beberapa. Selain bagi takjil, biasanya kami juga baksos rutin tiap tahun. Meskipun rencana itu masih tertunda karena adanya Covid-19. Di G1 memang kami ada dana sosial. Selain itu juga ada donatur. Jadi dana itu yang kami pakai untuk bagi-bagi takjil dan kegiatan sosial lain. Sebenarnya minggu besok ada rencana pembagian sembako untuk sesama driver juga,” sambung Atiq Ristianto (38), anggota G1.

Untuk dana sosial sendiri, Atiq menyebut datang dari iuran anggota serta saat ini mulai ada donatur. Sedangkan untuk takjil yang dibagikan sore itu, donasi dari para donatur beraneka ragam. Mulai dari uang hingga bahan makanan. Untuk pengolahan sendiri, ditambahkan Imam bahwa diolah oleh para anggota. Sampai akhirnya dibagikan setelah Ashar.

Mereka selanjutnya berharap supaya kegiatan semacam ini bisa terus rutin diadakan. Karena dengan berbagi, meskipun diakui sedang sulit di kondisi pandemi Covid-19, bisa ikut meringankan masyarakat umum yang juga terdampak. Sehingga nantinya berefek positif bagi rezeki mereka ke depan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Mendekati Lebaran, Harga Bawang Merah di Kudus Tembus Rp 65 Ribu per Kilogram

0
Yati sedang melayani pembeli bawang merah di lapaknya di Pasar baru Kudus, Sabtu (16/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Harga bawang merah di Pasar Baru Kabupaten Kudus melonjak 100 persen lebih dari Rp 25 ribu menjadi Rp 65 ribu per kilogram dalam sepekan ini.

Salah satu pedagang, Yati mengatakan, lonjakan harga bawang merah mencapai Rp 65 ribu per kilogram ini untuk ukuran besar. Sedangkan bawang merah dengan ukuran kecil harganya Rp 45 ribu per kilogram.

Warga sedang membeli kebutuhan pokok di Pasar baru Kudus, Sabtu (16/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

“Bawang merah dari kemarin hingga sekarang harganya mahal. Sekarang mencapai Rp 65 ribu per kilo yang besar. Untuk yang kecil naik juga Rp 45 ribu”, jelasnya saat ditemui di Pasar Baru, Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota Kudus, Sabtu (16/5/2020).

Yati menuturkan, tingginya kenaikan hingga lebih dari 100 persen tersebut dikarenakan langkanya pasokan barang. Alasan lainnya yakni bulan ini, petani bawang merah tidak panen.

“Pasokan ke sini tidak ada. Jadi barang yang saya jual cuma sedikit,” ungkapnya.

Baca juga: Turun Drastis, Harga Cabai di Kudus Tak ‘Sepedas’ Rasanya

Selanjutnya, barang yang langka tidak seimbang dengan kebutuhan yang masih stabil. Menurut Yati, permintaan bawang merah minggu ini terbilang normal. Namun dia menduga, mendekati Lebaran kebutuhan akan meningkat.

“Hari ini permintaan masih stabil. Makannya ini (bawang merah) habis terus,” tuturnya.

Senada dengan Yati, Mulikhah juga menuturkan kenaikan bawang merah naik drastis. Dia mengaku, banyak pembeli putar balik setelah diberi tahu harga terbaru.

“Kadang ada juga yang mengurangi pembeliannya. Asalnya mau beli empat kilogram, mungkin untuk stok lebaran, lalu cuma beli satu, dua kilogram saja,” jelasnya.

Menurutnya, kenaikan harga ini hanya berlaku di bawang merah saja. Untuk bawang putih dan cabai, harganya justru turun. Sedangkan sayur-sayuran seperti tomat, kentang, dan seledri, harganya masih stabil.

“Harga bawang putih semula Rp 120 ribu per kilogram, kini Rp 100 ribu. Untuk cabai merah dari Rp 10 ribu, kini Rp 8 ribu,” tutur Mulikhah.

Salah satu pembeli, Anik, mengaku kaget dengan harga bawang merah yang mencapai Rp 65 ribu. Menurutnya, dengan harga itu, tadinya dia bisa membeli tiga kilogram, kini hanya bisa mendapatkan satu kilogram saja.

“Coba saya cek dulu di Kliwon (Pasar Kliwon). Harganya sama atau tidak,” ungkapnya.

Baca juga: Berbekal Pengalaman dan Doa Orang Tua, Priyo Sukses jadi Penebas Kencur

Dengan kenaikan harga ini, dia mengambil langkah untuk mengurangi jumlah bawang merah yang dibeli.

“Kalau sama sekali tidak beli, tidak mungkin. Masakan pasti tidak enak. Ya, semoga saja harganya segera pulih,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Pandemi Covid-19, Angka Kematian di Kudus Justru Menurun Drastis

0
Aktivitas di Dukcapil Kabupaten Kudus nampak sepi. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Suasana sepi terlihat di Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Kudus, Jumat (15/5/2020). Seorang pria mengenakan baju berwarna putih dan membawa ransel hitam keluar dari sebuah ruangan. Dia tak lain adalah Sulistiyono (38), Administrator Data Base Dukcapil Kudus.

Sulis, begitu dia akrab disapa, berbagi informasi kepada betanews.id tentang data kematian yang ada di dinas tersebut. Sambil membuka laptop dari ranselnya, dia membuka data base angka kematian mulai tanggal 1 Januari 2020 hingga tanggal 15 Maret 2020.

“Dari data yang dimiliki Dukcapil, pada rentang waktu 1 Januari hingga 15 Maret 2020, angka kematian di Kudus ada 907 orang. Sedangkan data kematian mulai tanggal 16 Maret 2020 hingga 15 Mei 2020, jumlah yang meninggal ada 320 orang,” ungkapnya.

Baca juga : Antisipasi Penyebaran Covid-19, Dukcapil Kudus Maksimalkan Layanan Online

Berdasarkan data tersebut, katanya, ada penurunan jumlah kematian pada rentang waktu Maret hingga Mei 2020. Dia mengaku tidak tahu secara detail faktor penurunannya. Yang jelas data menunjukan penurunan. Terlepas ada pandemi Covid-19 atau tidak, Sulis tidak tahu.

“Saya tidak tahu penyebab detailnya, saya cuma menerima data yang masuk. Pengaruh Covid-19 atau tidak, saya tidak mau berkomentar,” katanya sambil memasukan laptop ke dalam tas.

Sementara itu, Putut Winarno, Sekretaris Dukcapil Kudus menyampaikan, bahwa saat ini Dukcapil Kudus memang meniadakan layanan tatap muka. Semua layanan diarahkan melalui online. Sehingga, kemungkinan masih ada data kematian yang belum dilaporkan.

“Karena pandemi Covid-19 ini kan kami arahkan semua layanan untuk online. Jadi tidak hanya data kematian yang menurun, termasuk perekaman KTP pemula juga menurun,” jelas Sekretaris Dukcapil Kudus itu.

Baca juga : Di Kudus, KIA Bakal Jadi Syarat Pendaftaran PPDB

Dia juga menambahkan, ditiadakannya layanan tatap muka di Dukcapil Kudus belum ditentukan hingga kapan. Pihaknya masih menunggu intruksi dari pusat. Jika sudah diperbolehkan maka akan segera dibuka.

“Saat ini sudah kami siapkan SOP untuk layanan tatap muka. Tetapi kami masih belum membuka karena masih menunggunintruksi dari puasat,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Di Hadapan Erick Thohir, Ganjar Minta Bank BUMN Buka Akses KUR

0
Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng ketika menyambut kedatangan Menteri BUMN Erick Thohir. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo kedatangan tamu di Rumah Dinas Puri Gedeh Semarang, Sabtu (16/5/2020). Kali ini, tamu Ganjar adalah Erick Thohir, Menteri BUMN. Selain menyerahkan sejumlah bantuan alat kesehatan, kedatangan Erick ke rumah Ganjar juga untuk membahas berbagai persoalan.

Kunjungan Erick Thohir di rumah dinasnya itu, dimanfaatkan Ganjar untuk menyampaikan beberapa progam yang sedang disusun dalam pencegahan Covid-19. Selain masalah kesehatan dan bantuan sosial, Ganjar juga menyingung persoalan ekonomi.

“Setelah kesehatan dan sosial, saat ini kami sudah mulai fokus pada ekonomi. Sebab, mau tidak mau ekonomi harus disiapkan skenario-skenario untuk bisa bangkit usai Covid-19 ini,” kata Ganjar.

Ganjar menerangkan, pihaknya telah menyiapkan skenario APBD 2021 adalah APBD Pertolongan. Anggaran yang ada nantinya digunakan untuk merescue berbagai sektor, salah satunya ekonomi.

Menteri BUMN, Erick Thohir saat menyerahkan bantuan untuk Jateng. Foto : Ist

Baca juga : Penerapan Physical Distancing oleh PT Djarum Akan Dijadikan Percontohan

“Kami juga sudah bekerja sama dengan sejumlah e-Commerce raksasa nasional untuk keperluan pelatihan dan kerja sama lainnya. Tapi kami masih kesulitan soal permodalan, maka dalam kesempatan baik ini, kami berharap ada perusahaan-perusahaan BUMN yang bisa membantu kami mengembangkan sektor ini,” ujarnya.

Bank-bank BUMN lanjut Ganjar, juga diharapkan bisa membuka akses Kredit Usaha Rakyat (KUR). Apabila itu bisa dilakukan, maka kebangkitan ekonomi Jateng khususnya dari industri kecil menengah bisa lebih cepat dilakukan.

Menteri BUMN, Erick Thohir sepakat dengan apa yang diprogramkan Ganjar. Menurutnya, sektor ekonomi khususnya UKM memang harus mendapat perhatian.

“Saya sangat setuju, karena dilihat kondisi hari ini dibandingkan sebelumnya, semuanya terdampak. UKM ini memang menjadi prioritas, karena mayoritas UKM menyerap tenaga kerja cukup besar dibanding koorporasi lainnya. Ini harus diprioritaskan,” katanya.

Selama Covid-19 ini berlangsung, bank BUMN sudah melakukan restrukturisasi untuk pelaku UKM dan lainnya. Sudah Rp 120 triliun lebih nilai restrukturisasi yang dilakukan.

“Itu sudah berjalan, tapi masih belum cukup. Maka kami sudah rapat dengan Menko dan lainnya untuk membahas banyak hal, termasuk suply change industri kesehatan yang kemungkinan dibangun di Jawa Tengah, termasuk pemanfaatan lahan PTPN dan Perhutani untuk kebutuhan pangan,” terangnya.

Baca juga : Hasil Jimpitan, Petani di Jateng Sumbang 5 Ton Beras untuk Pemerintah

Erick sepakat dengan Ganjar dalam pengembangan UKM untuk bangkit paska Covid-19. Meskipun menurutnya, saat ini kondisi BUMN tidak semuanya dalam kondisi sehat.

“Akan kami petakan BUMN mana yang kuat. Karena akibat Covid-19 ini, 90 persen BUMN terdampak, hanya 10 persen yang tidak terdampak. Maka harus dipetakan mana yang bisa mendukung program itu,” tutupnya.


Editor : Kholistiono

- advertisement -