Beranda blog Halaman 1843

Penerbangan Beroperasi Lagi, Ganjar Cek Protokol Kesehatan Bandara Ahmad Yani

0
Ganjar Pranowo saat mengecek Bandara Ahmad Yani, Sabtu (16/5/2020). Foto: Ist

BETANEWS. ID, SEMARANG – Pagi itu, Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang tampak lengang. Meski pemerintah pusat membuka kembali moda transportasi umum, tidak terlihat ada penumpukan calon penumpang di beberapa konter maskapai.

Kondisi yang sepi membuat deretan bangku yang ada di dalam bandara terlihat kosong melompong. Puluhan toko yang biasanya menjajakan penganan juga tutup.

Hal itu terlihat saat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meninjau tempat tersebut, Sabtu (16/5/2020). Saat Ganjar datang, desain terminal keberangkatan yang dilewatinya sedikit berbeda dari biasanya. Di lantai, terdapat garis-garis antrean dan di samping kiri kanan ada penyekat para calon penumpang yang mengarahkan pada mesin pengecek suhu otomatis.

Ganjar Pranowo saat mengecek Bandara Ahmad Yani, Sabtu (16/5/2020). Foto: Ist

Usai dari pengecekan suhu tubuh, penumpang kemudian diarahkan ke ruang tunggu pemeriksaan berkas. Tempat itulah yang menentukan penumpang boleh naik pesawat atau harus pulang karena syaratnya tidak lengkap.

“Ini keren ya, jadi saat penumpang masuk, sudah terdeteksi suhu tubuhnya. Ada jarak yang diatur dan setelah itu dicek persyaratannya di sini. Saya minta protokol kesehatannya benar-benar diterapkan, baik di kedatangan maupun keberangkatan,” pesannya.

Baca juga: Penerapan Physical Distancing oleh PT Djarum Akan Dijadikan Percontohan

Saat melihat-lihat di dalam terminal keberangkatan, Ganjar hanya menemukan beberapa petugas bandara dan tiga calon penumpang. Tiga calon penumpang itu diketahui hendak ke Jepang untuk urusan pekerjaan.

“Syaratnya sudah lengkap, kan? Mana coba saya lihat,” kata Ganjar kepada tiga calon penumpang itu.

Kepada Ganjar, mereka memperlihatkan persyaratan yang cukup banyak. Ternyata, semuanya telah mempersiapkan persyaratan sesuai peraturan dari pemerintah.

Ditemui usai keliling, Ganjar mengaku puas dengan penerapan protokol kesehatan di bandara. Pengecekan kesehatan dan persyaratan dilakukan cukup ketat dan disiapkan tempat mengantri sesuai dengan petunjuk yang ada.

“Saya lihat sudah disiapkan, protokol kesehatannya cukup ketat, ada pengecekan suhu tuhuh, pengecekan persyaratan dan sebagainya,” kata Ganjar.

Baca juga: Begini Situasi Stasiun Tawang di Hari Pertama Disinggahi KA Luar Biasa

Dari informasi yang dia dapat, dalam sehari, Bandara Ahmad Yani hanya melayani satu penerbangan, dengan rata-rata penumpang sekitar 30.

“Jadi kalau dari sisi penerbangan, tidak ada lonjakan berarti. Mudah-mudahan ini bisa mengontrol semuanya,” tegasnya.

Ganjar juga meminta para petugas bandara untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan secara ketat. Ia meyakini, semua petugas bandara sudah paham terkait mekanisme itu.

“Mereka sudah tahu semuanya, termasuk informasi berapa penumpang yang ada, dari mana saja, termasuk para pekerja migran kita dari luar negeri. Checking sudah dilakukan, dan para penumpang yang mau mendarat itu di tempat asal sudah dilakukan pemeriksaan, jadi saat mendarat di sini, tinggal cek ulang saja. Mudah-mudahan semua aman,” tutupnya.

Editor: AHmad Muhlisin

- advertisement -

Dari Usaha Gapit Wijen, Masruroh Bertekad Biayai Kuliah Anaknya Hingga Sarjana

0
Siti Masruroh sedang membuat gapit di kediamannya, Selasa (12/5/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu, Siti Masruroh (46) tampak sibuk dengan beberapa alat panggang. Terlihat dia beberapa kali menggeser dan membuka alat panggang, untuk menuang dan mengambil adonan yang dianggapnya sudah masak. Setelah dibentuk dengan tangannya, kue gapit tersebut kemudian diletakkan pada lingkaran besi.

Masruroh menuturkan, usaha pembuatan kue gapit wijen yang digelutinya sejak empat tahun yang lalu bisa dikatakan sebagai penopang ekonomi keluarga. Karena dari hasil produksi dan penjualan kue gapit itulah, dia mampu membiayai anak pertamanya kuliah di Kota Gudeg, Yogyakarta.

Siti Masruroh sedang membuat gapit di kediamannya, Selasa (12/5/2020). Foto: Rabu Sipan.

“Saya memulai usaha empat tahun lalu. Saya bersyukur, dua tahun setelahnya bisa membiayai kuliah anak di jurusan komputer Universitas Amikom Yogyakarta,” ujanya saat ditemui, Selasa (12/5/2020).

Perempuan yang dikaruniai dua orang anak itu berharap, bisa membiayai kuliah anak pertamanya hingga lulus. Termasuk juga melakukan hal sama kepada anak keduanya yang saat ini akan masuk Sekolah Menengah Atas (SMA).

Baca juga: Demi Punya Rumah Sendiri, Masruroh Tak Kenal Lelah Produksi Gapit Wijen

“Semoga saja usaha kue gapit saya lancar. Sehingga bisa membiayai pendidikan anak kami hingga jenjang tertinggi,” harap warga Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu.

Sebagai orang tua yang ekonominya pas-pasan, dia merasa sangat bangga jika mampu membekali pendidikan tinggi pada kedua anaknya. Karena menurutnya, pendidikan itu sangat penting.

“Dengan membekali anak kami pendidikan tinggi, saya berharap anak kami kelak bisa sukses,” ungkapnya.

Masruroh menambahkan, saat ini suaminya hanya seorang buruh pocok di perusahaan rokok di Kudus. Kalau berharap dari penghasilan dari suaminya saja, bisa jadi pendidikan anaknya terbengkalai. Oleh sebab itu, empat tahun lalu dia merintis usaha pembuatan gapit wijen.

Baca juga: Resep Turun Temurun yang Membuat Madu Mongso Mbah Uti Selalu Diburu Pembeli

Menurutnya, gapit wijen banyak diminati sebagai suguhan hajatan, serta untuk hidangan lebaran. Di momen-momen itulah, pesanan meningkat. Jika di bulan biasa, dia hanya mampu produksi sepekan tiga kali. Di bulan puasa, produksi dilakukan setiap hari.

“Jumlah produksinya pun ada peningkatan. Jika di hari biasa hanya menghabiskan tiga kilogram adonan setiap berproduksi. Saat bulan puasa saya bisa produksi 12 kilogram adonan setiap harinya. Dari adonan 12 kilogram tersebut, saya mampu memproduksi kue gapit wijen ribuan butir,” tutup Masruroh.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Paska Ganjar Turun Sendiri Atur Lalulintas, Kini Sayung Dipenuhi Petugas

0
Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng saat berbicara dengan petugas Dishub. Foto : Ist

BETANEWS.ID, DEMAK – Untuk memastikan penanganan rob di kawasan Sayung, Kabupaten Demak, berjalan sesuai harapan, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo kembali melakukan sidak di tempat tersebut pada Sabtu (16/5/2020).

Saat tiba di lokasi, beberapa petugas kepolisian tampak berjaga dan mengatur lalulintas. Terlihat pula petugas Dinas Perhubungan yang ikut membantu. Hal ini berbeda dengan Jumat (15/5/2020) kemarin, Ganjar marah-marah di lokasi itu karena tidak ada petugas saat kemacetan panjang.

Pekerja proyek perbaikan saluran juga terlihat semakin banyak. Jika saat Ganjar marah-marah sehari sebelumnya hanya sekitar lima orang petugas, hari ini pekerjanya sudah semakin banyak.

Ganjar Pranowo sedang melakukan sidak di Sayung, Demak, Sabtu (16/5/2020). Foto :Ist

Kemacetan memang masih terjadi saat Ganjar sidak untuk kedua kalinya itu. Namun, kemacetan dapat dikendalikan karena ada petugas yang mengatur arus lalulintas.

Baca juga : Tak Ada Petugas Satupun Tangani Kemacetan di Sayung, Ganjar Turun Langsung Atur Lalulintas

“Saya titip dijaga ya Bu, kalau macet panjang dilakukan contra flow agar bisa terurai. Kalau tidak ada petugas jaga, pasti macetnya akan mengular,” kata Ganjar kepada Kasatlantas Polres Demak, AKP Nyi Ayu Fitria.

Tak hanya kepada petugas kepolisian dan Dishub, Ganjar juga menanyakan progres peninggian saluran yang dilaksanakan. Kepada Ganjar, Supervisi proyek itu mengatakan bahwa proyek peninggian selesai lima hari lagi.

“Nggak bisa, itu terlalu lama. Kalau perlu tambah petugas biar cepat. Kalau tidak ini akan macet terus,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Ganjar mengatakan, bahwa tindakan darurat penanganan rob di Sayung sedang dilakukan. Saat ini, pihak Balai Besar Jalan Nasional sudah melakukan tindakan.

“Pihak PSDA kami juga sedang melakukan rekayasa di pinggir laut untuk menyedot air. Kami gunakan pompa agar lebih cepat,” terangnya.

Ganjar juga meminta semua pihak memperhatikan siklus rob. Prediksi itu bisa dipantau di banyak aplikasi, sehingga dapat dilakukan tindakan antisipatif.

“Misalnya sekarang ini prediksinya April sampai Mei rob akan tinggi. Untuk hari ini misalnya, itu jam 16.00 rob akan naik. Maka dengan itu, bisa digunakan referensi untuk tambah personil dari kepolisian atau Dishub dalam pengaturan lalulintasnya. Kalau perlu libatkan Satpol PP,” tegasnya.

Ganjar juga meminta pekerjaan proyek peninggian saluran di jalur Pantura dipercepat. Jika dari laporan Supervisi proyek itu baru selesai lima hari, dirinya mengatakan terlalu lama.

“Tadi disampaikan lima hari selesai, ndak bisa itu kesuwen (terlalu lama). Saya minta personelnya ditambahi sehingga lebih cepat. Kalau kemarin yang saya lihat hanya 3-4 pekerja, ya ndak bisa. Karena kondisi seperti ini, harus cepat. Ini sudah terlalu lama macetnya,” tutupnya.

Baca juga : Sayung Kembali Terendam Rob, Ganjar Kena Marah Warga

Sementara itu, Dinas PU PSDA Jateng sedang melakukan rekayasa untk mengurangi rob di jalur Pantura itu. Pihaknya sedang membuat tanggul darurat di Kali Meong Kampung Sri Wulan Kecamatan Sayung, Demak serta menaruh mobil pompa portabel.

“Jadi kami lakukan istilahnya isolasi, air laut tidak terkoneksi dengan darat. Upayanya ya ditanggul dan dipompa,” kata Kepala DPU PSDA Jateng, Eko Yunianto.

Proses pembuatan rekayasa itu lanjut Eko sedang berlangsung. Setelah selesai, maka penyedotan bisa dilakukan.

“Tadi malam sudah kami sedot, tapi belum optimal karena tanggul belum selesai. Kami kebut ini, kalau sudah langsung kami sedot. Kami menggunakan mobil portabel yang di dalamnya terdapat dua mesin pompa,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Polda Jateng Bagikan Ratusan Sembako di Kudus

0
Karorena Polda Jateng Kombes Pol Revindo saat memberikan sembako kepada warga Kudus terdampak Covid-19, Jumat (15/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah menyalurkan bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat terdampak Covid-19 di Kudus, Jumat (15/5/2020).

Kepala Biro Perencanaan Umum dan Anggaran (Karorena) Polda Jateng Kombes Pol Revindo mengatakan, pihaknya membagikan ratusan sembako dan uang di 96 titik. Sasarannya adalah tukang ojek pangkalan, ojek online, tukang becak, Pedagang Kaki Lima (PKL) dan pekerja jalanan.

Tukang ojek online penerima bantuan sembako dari Polda Jateng, Jumat (15/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

“Hari ini kami bersama Polres Kudus melakukan pembagian sembako bagi masyarakat yang terdampak Covid-19. Bantuan ini tidak seberapa, namun semoga bisa meringankan beban masyarakat,” ungkapnya saat membagikan sembako di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus.

Dia memberitahukan, di Polda Jawa Tengah punya program bakti sosial yakni Jumat Berkah. Program tersebut memberikan bantuan sosial kepada masyarakat yang membutuhkan di hari Jumat.

Baca juga: Galang Dana untuk Warga, Komunitas Peduli Lau Salurkan 50 Paket Sembako

“Kegiatan Jumat berkah telah berjalan sekitar satu bulan yang lalu. Semoga program ini tetap berlanjut dan Covid-19 segera selesai,” ungkapnya.

Selain memberikan bantuan, Revindo juga mengedukasi penerima bantuan untuk selalu mengikuti arahan protokol kesehatan dari pemerintah. Dia mencontohkan, untuk para pekerja lapangan seperti petugas kebersihan, harus selalu mengenakan masker. Selain itu, sebelum masuk rumah harus selalu cuci tangan dan jaga kebersihan.

“Virus ini tidak mengenal jabatan dan status sosial. Kami pun di kepolisian juga bisa terkena virus Corona. Kami mohon bapak dan ibu harus jaga kesehatan, keluar rumah harus mengenakan masker, lakukan sosial dan phisycal distancing. Ini untuk kebaikan bersama,” pesannya.

Sementara itu, penerima bantuan sosial Noor Rohmat (34) mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan. Dia yang bekerja sebagai tukang ojek online mengaku sangat terbantu.

Baca juga: Hasil Jimpitan, Petani di Jateng Sumbang 5 Ton Beras untuk Pemerintah

Sejak terjadinya pandemi Covid-19 awal Maret 2020, dia mengaku pendapatannya berkurang. Menurutnya, sebelum terjadi pandemi sehari bisa mendapatkan Rp 120 ribu hingga Rp 150 ribu.

“Dulu bisa Rp 120 ribu hingga Rp 150 ribu. Bintangnya pun sampai dapat tiga. Namun sekarang sepi banget. Sehari kadang Rp 15 ribu,” tutup warga Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kudus itu.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Atap Rumah Bocor, Mbah Rumiati Hanya Bisa Duduk Pasrah Diguyur Air Hujan

0
Kediaman Mbah Rumiati yang masuk kategori laik huni. Atap rumah ini banyak yang sudah bocor, sehingga jika hujan turun airnya masuk ke dalam rumah. Foto : Imam Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara ketukan pintu terdengar di sebuah rumah warga yang bagian dinding depannya terbuat dari kayu. Seorang perempuan bertubuh kurus mengenakan kaus berwarna biru keluar dari rumah tersebut menerima bingkisan sembako dari sejumlah pemuda. Saat berdiri di depan pintu, sinar matahari siang itu tampak jelas menerobos dari sela-sela lubang genting atap rumah perempuan paruh baya yang tinggal di Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kudus tersebut.

Perempuan yang mendapat sembako dari Komunitas Peduli Lau tersebut tak lain adalah Rumiati (55). Dirinya sudah menjanda sejak 16 tahun yang lalu. Sambil berdiri di depan pintu, ia berbagi kisah kepada betanews.id tentang kondisi rumahnya.

Komunitas Peduli Lau menyalurkan bantuan sembako kepada Mbah Rumiati. Foto : Ahmad Rosyidi

Setiap hujan turun, Rumiati hanya bisa pasrah diguyur air hujan melalui sela-sela atap rumahnya. “Jika hujan ya saya hanya duduk sambil kehujanan. Semua atap penuh dengan lubang. Kalau hujannya malam ya saya tidak tidur,” ungkapnya, Kamis (14/5/2020).

Baca juga : Galang Dana untuk Warga, Komunitas Peduli Lau Salurkan 50 Paket Sembako

Rumiati tinggal berdua dengan putranya. Saat suaminya meninggal, putranya baru berusia dua tahun. Dia bekerja sendiri demi membesarkan putranya itu.

“Saat ini, putra saya sudah berusia 18 tahun. Dia baru belajar bekerja jadi kuli bangunan. Waktu bapaknya meninggal dia masih kecil, baru bisa merangkak,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Warga Dukuh Dalangan RT 01 RW 05 Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kudus itu, menambahkan, jika sebelumnya sudah pernah diminta foto KTP dan KK. Selain itu juga sudah ditanya tentang kondisi ekonomi dan rumahnya. Tetapi hingga saat ini Rumiati masih belum mendapat bantuan.

“Dulu pernah ditanya-tanya, diminta foto KTP dan KK juga. Tetapi saya tunggu-tunggu masih belum dapat bantuan. Selama pandemi Covid-19 ini saya baru dapat bantuan berupa beras,” tambahnya.

Baca juga : 15 Tahun Tak Tersentuh Bantuan, Tamini Menangis Haru Saat Terima Bansos

Semenjak ada pengumuman semua siswa belajar di rumah. Rumiati yang berjualan di kantin sekolah, tidak lagi mendapat pemasukan. Dia merasa terbantu karena putra semata wayangnya sudah bisa bekerja.

“Meski masih belajar bekerja menjadi kuli bangunan, tapi saya bersyukur dia sudah bisa membantu orang tua,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Setelah Lebaran, BLK Siapkan Tiga Pelatihan Penanganan Corona

0
Seorang warga tampak akan keluar dari Kantor UPTD BLK Kudus, , Selasa (12/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi dan UKM Kabupaten Kudus berencana membuat pelatihan kerja untuk membantu penanganan Covid-19. Rencana tersebut akan dilaksanakan setelah Hari Raya Idul Fitri.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) BLK Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kabupaten Kudus Anggun Nugroho menuturkan, pelatihan kerja tersebut akan difokuskan ke dalam tiga pelatihan, yakni pembuatan masker kain, wastafel portabel dan memasak.

“Produk yang dihasilkan nantinya untuk membantu masyarakat di masa pandemi covid-19 ini,” tuturnya saat ditemui di Kantor UPTD BLK Kudus, Selasa (12/5/2020).

Anggun menjelaskan, setiap kelas pelatihan akan diikuti 16 peserta. Untuk pendaftaran akan dimulai setelah Lebaran. Pelatihan ini bisa diikuti masyarakat umum, terutama yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dirumahkan perusahaan. Syaratnya, warga harus membawa fotokopi KTP, fotokopi kartu keluarga, pas foto dan fotokopi ijazah saat mendaftar.

“Tanggal 11 Mei 2020 kemarin kami sudah mendapatkan petunjuk pelaksanaan teknis dari Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Semarang dan Kementerian Ketenagakerjaan. Kemungkinan setelah lebaran, minggu pertama,” jelasnya.

Baca juga: Lewat Grab Asisten, Kini Belanja di Pasar Bisa Secara Daring

Targetnya, pelatihan yang didanai dari APBN sebesar Rp 40 Juta per pelatihan itu akan memproduksi 6.000 masker, 13 sampai 15 wastafel portabel, dan pembuatan dapur umum yang bisa menyediakan 300 porsi makanan setiap hari.

“Pelatihan ini memang dilakukan di tengah pandemi. Daerah lain juga sudah melakukan hal serupa. Yakni BBPLK Semarang, BBPLK Serang Banten dan BLK Purworejo,” tutup Anggun.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Cari Busana Muslim Anak yang Trendi? Yuk Mampir di Hawwa Baby & Kids Fashion

0
Zhafarina Hadyan sedang menyusun gamis anak. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu agak mendung ketika Zhafarina Hadyan (27), seorang ibu muda yang sibuk menata dagangannya di dalam sebuah toko bernama Hawwa Baby & Kids Fashion. Sebuah toko mungil yang dibangun menjadi satu dengan komplek rumah. Tepat berada di kawasan Jalan HM Subchan, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Hawwa Baby & Kids Fashion terlihat penuh dengan baju muslim anak-anak.

Berbagai bentuk dan warna warni baju ukuran mungil itu digantung rapi. Mulai dari kerudung, gamis, kemeja, celana hingga mukena, lengkap dijual di sana. Sambil melayani dua orang pembeli, Zhafarina mengatakan, jika di tokonya menjual aneka pakaian anak mulai dari usia baru lahir hingga 12 tahun. Khususnya baju-baju muslim dan kerudung. Ia juga menyebutkan, berbagai merek yang dijual dari lokal hingga impor dari beberapa negara.

Baca juga : Sambut Lebaran, Saptaria Fashion Luncurkan Hijab Couple Ibu dan Anak

“Kalau di sini emang saya ambil dari beberapa agen langsung. Baik itu merek lokal maupun impor. Produk lokalnya berbagai merek, dan kalau impor sejauh ini dari Hong Kong sama China,” papar Pemilik Hawwa Baby & Kids Fashion tersebut, Senin (11/5/2020).

Setelah memperlihatkan berbagai produk yang dimaksud, Zhafarina mengatakan, jika bisnis baju anak yang ia geluti dimulai Oktober 2019 itu. Awal dari bisnisnya didapatkan atas ide sang ibu yang sebelumnya juga berjualan baju anak. Sebelumnya, ia mencoba berjualan fashion dewasa, namun peminatnya tidak seramai produk anak-anak.

“Kalau fashion orang dewasa lebih cepat ganti model. Jadi penjual sering berbondong-bondong mengikuti model terbaru untuk permintaan pasar. Sedangkan kalau fashion anak lebih ke timeless atau abadi. Apalagi, kadang orang tua kan seneng ya kalau lihat anaknya ambil baju yang dia suka, ya istilahnya ngikuti keinginan anak,” kata Zhafarina.

Baca juga : Tampil Beda dengan Gamis Eksklusif Produksi Aneka Griya Muslim

Ia mengatakan, jika di Hawwa Baby & Kids Fashion menyediakan berbagai macam pakaian anak. Mulai dari baju keseharian hingga baju muslim. Akan tetapi, sejauh ini produk unggulan yang banyak diminati pelanggan adalah gamis anak. Utamanya gamis anak usia baru lahir.

“Kalau pasar gamis yang paling banyak diminati justru gamis anak new born. Karena setahu saya masih jarang yang jual gamis bayi. Dan itu cukup laris di pasaran. Gamis plus kerudungnya. Bahannya dari jersey adem. Untuk harga, kalau gamis di sini antara Rp 35 ribu sampai dengan Rp 220 ribu,” jelas dia.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Tak Ada Petugas Satupun Tangani Kemacetan di Sayung, Ganjar Turun Langsung Atur Lalulintas

0
Tak ada petugas atasi kemacetan, Ganjar Pranowo turun langsung atur lalulintas di Sayung. Foto : Ist

BETANEWS.ID, DEMAK – Mobil yang dinaiki Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo terjebak macet cukup panjang ketika sampai Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Hal itu terjadi saat perjalanan pulang, usai Ganjar melakukan kunjungan di pabrik rokok di Kudus. Usut punya usut, air pasang atau rob menggenangi sebagian jalan pantura itu membuat kendaraan harus bergantian melintas.

Karena macet cukup lama, Ganjar pun meminta mobil Patwal yang mengawalnya untuk contra flow atau melawan arus. Bukan untuk mencari aman, Ganjar justru memutuskan lawan arah untuk mencari penyebab kemacetan. Saat tiba di ujung kemacetan, ia melihat mobil bergantian melintas dengan pelan karena air rob cukup tinggi.

Selain itu, di ujung kemacetan tersebut terdapat perlintasan untuk putar arah dan gudang yang banyak kendaraan keluar masuk. Anehnya lagi, tak ada petugas baik dari Dinas Perhubungan atau kepolisian yang mengatur jalan.

Baca juga : Penerapan Physical Distancing oleh PT Djarum Akan Dijadikan Percontohan

Tiba-tiba mobil yang dinaiki Ganjar berhenti. Ia kemudian turun dari mobil dan berdiri di bahu jalan sambil mengatur arus lalulintas.

“Ayo terus, terus. Itu kendaraan yang mau keluar berhenti dulu, tunggu dulu kendaraan lainnya lewat. Ayo maju pak, ayo terus,” kata Ganjar seolah menjadi petugas pengatur jalan dadakan.

Ia pun langsung mengeluarkan teleponnya. Sambil mengenakan headset, ia berbicara dengan seseorang dan meminta segera turun tangan.

“Saya di sini pak, ini nggak ada petugas. Saya minta sekarang diterjunkan petugas. Saya minta lokasi ini dijaga 24 jam,” ucapnya kepada lawan bicaranya di handphone tersebut.

Usai menelepon, Ganjar kembali mengatur lalulintas. Melihat ada beberapa pekerja yang membetulkan saluran, ia pun langsung menghampiri dan menanyakan kapan akan selesai.

Ia juga menghampiri salah satu warga yang ada di lokasi itu. Kepada warga tersebut, Ganjar meminta agar melaporkan kepadanya apabila ada kemacetan akibat rob, dan tidak ada petugas yang jaga.

“Laporkan ke saya ya pak, nanti saya tindaklanjuti. Ini catat nomor saya,” tegasnya.

Saat dikonfirmasi, Ganjar mengatakan, bahwa penanganan rob di kawasan Sayung Demak ini memang harus ekstra. Dirinya sudah meminta BBWS dan PSDA untuk mencarikan solusi tercepat dan terbaik.

Baca juga : Sayung Kembali Terendam Rob, Ganjar Kena Marah Warga

“Saya juga minta dipasangi orang (petugas) di sini, karena sebenarnya titik macetnya ya di sini ini. Di titik akhir rob ini harusnya ditaruh petugas, biar bisa menarik kendaraan yang jalan,” kata Ganjar.

Sebab kalau tidak, kendaraan akan berjalan pelan dan akan menimbulkan kemacetan lama. Buktinya, itu sudah terjadi saat ia melintas. “Tapi ternyata tidak ada petugas,” tegasnya.

Saat ditanya dirinya menelepon siapa, Ganjar mengatakan, bahwa orang yang ditelepon itu adalah Kadishub Jateng. Sebab menurutnya, sudah sejak awal Ganjar meminta ada petugas yang standby di lokasi macet itu.

“Tadi yang saya telpon Pak Kadishub, saya minta pasang orang di sini selama 24 jam,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Putus Penyebaran Covid-19, MUI Jateng Anjurkan Salat Id di Rumah

0
Ketua MUI Jateng Ahmad Darodjie. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah mengeluarkan anjuran kepada warga untuk melakukan Salat Idul Fitri di rumah masing-masing. Ini dilakukan sebagai upaya pemutusan rantai penyebaran Covid-19.

Ketua MUI Jateng Ahmad Darodji menjelaskan, untuk khatib di rumah masing-masing bisa dilakukan oleh bapak, suami, atau anak laki-laki dewasa. Mereka bisa bergantian, atau satu orang merangkap imam sekaligus khatib salat Id.

“Pendapat ulama (MUI)  bahwa Salat Id bisa dilakukan di rumah. Kalau sendirian, ya, tanpa khotbah. Mosok ngotbahi dewe. Tapi kalau itu berjamaah, ada anaknya, ada istrinya, dia bisa lakukan Salat Idul Fitri berjamaah, sehingga ada khatibnya,” kata Darodjie kepada awak media di kantornya di kompleks Masjid Baiturrahman Kota Semarang, Jumat (15/5/2020).

Baca juga: Program Ramadan Cashback, Pertamina Obral Pertamax

Menurut Darodji, pilihan terbaik dalam kondisi saat ini adalah salat id di rumah. Bila salat tetap dilakukan di masjid atau di lapangan, akan sulit menghindari jaga jarak saf maupun salaman. Belum lagi, jika ada pendatang atau pemudik ikut salat.

Selain itu, MUI  juga telah mengeluarkan tuntunan tata cara Salat Id dan kutbahnya, sehingga masyarakat tidak perlu bingung untuk melakukannya di rumah masing-masing. Bagi yang belum terbiasa menjadi imam salat id, menurut Darodji, tidak perlu khawatir.

“Misal, wah, saya tidak pernah (jadi imam), lupa. Ya tidak apa-apa. Meskipun tidak membaca Allahu akbar tujuh kali pada rakaat pertama, tidak membaca Allahu akbar lima kali pada rakaat kedua, tetap sah,” terang Darodji.

Baca juga: Sambut Lebaran, Saptaria Fashion Luncurkan Hijab Couple Ibu dan Anak

MUI juga telah mengeluarkan contoh teks yang bisa mereka baca, dengan durasi sekitar tujuh menit sehingga mudah dibaca siapapun.

Pihaknya juga menyinggung halal bihalal bisa dilakukan tanpa harus bertemu. Masyarakat bisa memanfaatkan aplikasi Zoom, telepon, SMS, WhatsApp dan sejenisnya.

“Kalau halal bihalal silakan karena itu tidak terikat waktunya, tidak terikat dengan ibadah. Jadi monggo kita pakai itu boleh. Sekarang ada jalan keluarnya mau telepon, SMS, WA, Instagram, atau Zoom untuk halal bihalal, ya silakan,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Galang Dana untuk Warga, Komunitas Peduli Lau Salurkan 50 Paket Sembako

0
Komunitas Peduli Lau menyerahkan bantuan sembako kepada warga. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah kendaraan roda dua tampak berhenti di sebuah halaman rumah warga Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kudus. Rombongan pemuda yang turun dari kendaraan tersebut mendatangi sebuah rumah. Mereka tak lain adalah Komunitas Peduli Lau yang hendak menyalurkan bantuan sembako kepada warga yang membutuhkan.

Satu di antara mereka yakni Agus Manshurudin (32). Ia mengungkapkan, jika gerakan tersebut dipelopori oleh karangtaruna, Ansor, Banser dan pemuda Desa Lau lainnya. Mereka membuka donasi untuk warga Desa Lau yang membutuhkan bantuan dan terdampak Covid-19 khususnya. Saat ini mereka menyalurkan bantuan berupa 50 paket sembako.

“Ini penyaluran yang ke tiga kali hasil kami galang dana. Kerena di Lau masih ada beberapa warga kurang mampu dengan rumah tidak layak huni juga. Dan kami ingin membantu untuk renovasi jika dana sudah terkumpul,” jelas Ketua Ansor Ranting Lau itu kepada betanews.id, Kamis (14/5/2020).

Baca juga : 15 Tahun Tak Tersentuh Bantuan, Tamini Menangis Haru Saat Terima Bansos

Total donasi yang mereka kumpulkan hingga saat ini kurang lebih sudah mencapai sekitar Rp 5 juta. Donasi mereka galang dari warga Desa Lau sendiri dan rekan-rekan luar desa yang mau membantu. “Bagi yang ingin ikut berpartisipasi bisa bisa menghubungi nomor 085727332277, Koordinator Komunitas Peduli Lau,” imbuhnya.

Sementara itu, Vivi Dwi Astuti (19), juga mengaku senang bergabung di Komunitas Peduli Lau. Dia mengajak teman-teman kuliahnya untuk berdonasi semampunya. “Saya senang ikut kegiatan sosial seperti ini, bisa membatu orang jadi senang aja,” terang warga Dukuh Pranak, RT 07 RW 04, Desa Lau itu.

Pun demikian dengan Ika Larasati (24). Dia juga mengajak teman-temannya untuk berdonasi. “Antusias teman-teman sangat baik. Saya cuma buka donasi melalui WA dan banyak yang merespon,” tambah alumni Universitas Muria Kudus itu.

Ika sapaan akrabnya, merinci isi paket sembako yang dibagikan kepada 50 warga itu. Di antaranya beras 2,5 kilogram, gula satu kilogram, minyak satu liter, mie instan tiga bungkus, teh celup satu pak, biskuit dan masker.

Baca juga : Dukuh Ongol-Ongol Kudus Bangun Gapura Penyemprot Disinfektan Otomatis

Satu di antara 50 orang yang menerima sembako, Rumiati (55), merasa senang mendapat sembako. Sebelumnya dia sudah mendapat bantuan berupa beras. “Jadi selama pandemi Covid-19, ini bantuan yang kedua. Sebelumnya dapat bantuan beras,” ujar warga Dukuh Dalangan RT 01 RW 05 Desa Lau.

Pun demikian dengan Suwarni (55), warga Dukuh Pacikaran RT 03 RW 06 Desa Lau. Dia juga mendapat bantuan berupa beras sebelumnya. “Saya berterima kasih sudah dibantu. Saya doakan semoga panjang umur, sehat selalu dan Allah membalas kebaikan ini,” doanya sambil memegang bingkisan sembako.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

45 Ribu Rumah Ditempeli Stiker Miskin, Jika Dilepas Bantuan Distop

0
Petugas Dinas Sosial saat menempelkan stiker di rumah warga penrima bantuan, Jumat (15/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS,ID, KUDUS – Sebanyak 45 ribu rumah warga miskin yang masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) di Kabupaten Kudus mulai ditempel stiker sebagai penanda keluarga penerima manfaat. Penempelan stiker ini akan dilakukan selama sepekan di seluruh Kabupaten Kudus.

Plt Kepala ‎Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Bencana (P3AP2KB) Kabupaten Kudus Sunardi mengatakan, penempelan stiker dimaksudkan sebagai tanda bahwa keluarga tersebut merupakan keluarga prasejahtera yang berhak menerima bantuan sosial.

Petugas Dinas Sosial saat menempelkan stiker di rumah warga penrima bantuan, Jumat (15/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

Rumah yang masuk dalam kategori ini adalah para penerima bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Program Keluarga Harapan (PKH) dan Penerima Bantuan Iuran (PBI).

“Jadi hari ini kami mulai tempelkan stiker. Jika ingin melihat jenis bantuan yang diberikan bisa cek tanda centangnya,” ungkapnya saat melakukan penempelan di Kelurahan Wergu Kulon, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jumat (15/5/2020).

Baca juga: Hartopo Minta Data Penerima Bansos Ditempelkan di Setiap RT

Sunardi menegaskan, pemilik rumah yang menerima bantuan harus memperbolehkan penempelan stiker. Bila nanti setelah ditempel dan kedapatan dilepas, pihaknya akan memberikan sanksi.

“Sanksinya yakni dianggap keluar dari program bantuan,” tegasnya.

Sementara itu, penerima bantuan sosial Dwi Winarti mengaku tidak keberatan jika rumahnya ditempel stiker. Menurutnya, dia memang sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah.

“Tidak ada apa-apa. Saya butuh bantuan ini terutama untuk anak-anak saya,” jelasnya saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Wergu Kulon RT 2, RW 01, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.

Dwi Winarti mendapatkan empat bantuan dari pemerintah, yakni PKH, BPNT, PBI dan KIP.

“Saya bekerja sebagai buruh serabutan. Punya lima anak. Satu sudah menikah dan empatnya masih sekolah SMP dan SD,” jelasnya.

Baca juga: 1.069 Warga Kudus Terima Bantuan Rp 600 Ribu dari Kemensos

Hal sama juga diutarakan Suhaemah. Warga Kelurahan Wergu Kulon RT 7, RW 3 mengaku mendapatkan bantuan dari pemerintah lewat program PKH, dan BPNT.

Saat ini, dirinya harus tinggal bersama empat orang anaknya. Apalagi, kondisi keuangan keluarganya sedang sulit, dan empat anaknya juga sudah menjadi janda.

“Anak saya perempuan semua, sekarang sudah jadi janda,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Merantau dari Semarang, Agustian Was-Was Jasa Tukar Uang Sepi

0
Penyedia jasa tukar uang Agustian saat ditemui di depan Apotek Sehat Prima, Rabu (13/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Penyedia jasa penukaran uang baru mulai terlihat di Jalan Sunan Kudus kawasan Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus, Rabu (13/5/2020). Dengan menggunakan lapak sederhana, mereka memajang beberapa pecahan uang baru. Satu diantara penyedia jasa itu adalah Agustian (27).

Dia mengaku mulai membuka lapak sejak Rabu (13/5/2020). Dia memberitahukan, seluruh penyedia penukaran uang yang berada di Jalan Sunan Kudus berasal dari desanya yaitu Desa Tlogomulyo, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang.

Penyedia jasa tukar uang Agustian saat ditemui di depan Apotek Sehat Prima, Rabu (13/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

“Totalnya sekitar 10 orang. Jadi ada satu bos yang kasih modal. Kita yang menjalankan. Nanti keuntungan dibagi. Setiap tahunnya kita mengadu nasib ke beberapa kota,” jelasnya saat ditemui di depan Apotek Sehat Prima, Rabu (13/5/2020).

Tahun ini, dirinya mengedarkan uang baru pecahan Rp 1.000 hingga Rp 20.000. Menurutnya, pecahan uang tersebut yang paling banyak dicari masyarakat untuk dibagikan ke sanak saudara saat Lebaran.

“Namun, yang paling sering pecahan Rp 5 ribu dan Rp 10 ribu,” jelasnya.

Baca juga: Lewat Grab Asisten, Kini Belanja di Pasar Bisa Secara Daring

Dari jasanya tersebut, dirinya mengambil keuntungan 10 persen dari setiap transaksi. Agustian mencontohkan, jika masyarakat menukar uang Rp 100.000 dengan nominal berapapun, akan dikenai tambahan biaya Rp 10 ribu. “Jadi 10 persen dari total nominal uang yang ditukar,” tuturnya.

Agustian mengaku membawa uang Rp 30 juta ke Kudus. Namun, dia memprediksi jasa yang ia tawarkan bakalan sepi. Hal tersebut dikarenakan adanya Covid-19. Sebenarnya, tahun ini dirinya telat karena baru membuka lapak 10 hari menjelang Hari Raya Idul Fitri. Biasanya di tahun-tahun sebelumnya, ia buka mulai H-15 Lebaran.

“Tahun ini serba susah. Banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan pendapatan yang menurun,” ungkapnya yang sehari-hari bekerja sebagai ojek online itu.

Namun dirinya optimis akan menghabiskan semua uang yang dibawanya. Dia menceritakan, 2019 lalu mampu meraup untung Rp 3,5 juta.

“Semoga tahun ini tidak ada kendala,” tutup Agustian.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Demi Punya Rumah Sendiri, Masruroh Tak Kenal Lelah Produksi Gapit Wijen

0
Siti Masruroh sedang membuat gapit di kediamannya, Selasa (12/5/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Siti Masruroh (46) tampak cekatan memasukkan adonan gapit wijen ke dalam alat panggang. Setelah dirasa matang, dia kemudian mengambil dan membentuknya seperti corong. Adukan yang sudah jadi tersebut lantas dikumpulkan di sebuah wadah dari besi yang tak jauh darinya.

Mendekati akhir Ramadan ini, Masruroh memang dapat banyak pesanan gapit yang diberi merek Azkia itu. Rata-rata para pemesan datang sendiri ke rumahnya yang berada di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

Siti Masruroh sedang membuat gapit di kediamannya, Selasa (12/5/2020). Foto: Rabu Sipan.

Dia mengaku mulai membuat gapit wijen sejak empat tahun lalu. Menurutnya, sebelum produksi sendiri, terlebih dulu ia bekerja ikut orang di usaha serupa. Namun, karena tempat kerjanya yang terdahulu berhenti produksi, dia mencoba membuat gapit sendiri, daripada nganggur.

Alhamdulillah, ternyata gapit produksiku banyak diminati dan laku. Untuk pemasaran hanya dari mulut ke mulut para pelanggannya. Kebanyakan orang Kudus sendiri. Ada yang bakul dan perorangan,” paparnya saat ditemui, Selasa  (12/5/2020).

Baca juga: Andalkan Resep Leluhur, Keciput Baskuni Jaya Tetap Bertahan Lebih dari Dua Dasawarsa

Di hari normal, wanita yang sudah dikaruniai dua anak itu biasa produksi tiga kali dalam sepekan. Jika masuk Ramadan, produksi ditingkatkan menjadi setiap hari. Dia berharap, usaha produksi gapit wijennya lancar dan banyak peminat.

Selama ini, Masruroh memang menumpang di rumah mertua, karena belum punya rumah sendiri. Makanya, rintisan usaha ini menjadi salah satu cara agar impian punya hunian bisa segera terwujud.

“Semoga saja usaha saya ini makin lancar dan berkah. Biar kami bisa punya rumah sendiri, tidak numpang mertua dan keluarga lainnya,” harap Masruroh sambil mengaduk adonan bakal gapit di mangkuk.

Menurutnya, dengan tinggal bersama keluarga besar, dia harus bisa memanfaatkan ruangan seadanya, yang penting tetap bisa produksi gapit. Saat ini, dia mengubah ruang tamu keluarga sebagai dapur. Hal itu dilakukannya agar bisa tetap produksi gapit wijen. Mengingat, ruang dapur rumah tersebut sempit dan teras rumah masih berupa tanah liat.

“Awal memproduksi gapit wijen dulunya di teras rumah. Namun sejak daftar produk industri rumah tangga (PIRT) dan ada peninjauan, proses produksi tidak diperbolehkan beralaskan tanah liat. Karena yang diproduksi adalah olahan makanan,” terangnya.

Baca juga: Ani Bagikan Tips Pembuatan Madu Mongso Anti Gagal, Bisa Tahan 1 Tahun

Soal harga, dia mengungkapkan, gapit wijen berbentuk corong dihargai Rp 55 ribu per kilogram. Sedangkan untuk gapit wijen berbentuk linting dijual Rp 60 ribu per kilogram.

“Meski harga per satu kilogram, kami hanya menyediakan dalam kemasan seperempat kilogram, untuk gapit corong. Serta kemasan setengah kilogram untuk gapit linting,” tutup Masruroh.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Penerapan Physical Distancing oleh PT Djarum Akan Dijadikan Percontohan

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mengunjungi PT Djarum Kudus. Foto : Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengunjungi PT Djarum Kudus pada Jumat (15/5/2020). Ribuan karyawan yang sedang antre untuk ganti shift langsung berteriak dan melambaikan tangan untuk menyapa, begitu melihat kedatangan orang nomor satu di Jawa Tengah itu.

Saat Ganjar datang, ribuan karyawan yang hendak masuk terlihat tetap tertib berbaris dengan jarak sekitar satu meter. Tak seperti biasanya, kali ini Ganjar tidak menjadi rebutan selfie para karyawan.

Ganjar pun dengan telaten menyapa para karyawan pabrik rokok tersebut. Sesekali, ia tak lelah mengingatkan saat masih ada karyawan yang berdesakan dan keluar garis.

“Ayo jaga jarak, itu jangan keluar dari garis. Ayo belajar tertib. Ayo Bu mundur,” teriaknya disambut tawa ibu-ibu pekerja.

Baca juga : PT Djarum Bagikan THR Rp 97,02 Miliar

Tak hanya melihat proses pergantian shift di luar pabrik, Ganjar juga menyempatkan diri menengok kondisi di dalam perusahaan itu. Di sana, ia melihat ribuan karyawan duduk dengan rapi, tidak berhadap, memakai masker dan jaraknya tidak berhimpitan karena telah diatur jaga jarak satu meter.

Ganjar Pranowo menyapa karyawan PT Djarum. Foto : Ist

“Ini keren ya, Djarum sudah mulai menata. Kalau kita bicara normal baru, maka sebenarnya perusahaan mau tidak mau harus melakukan ini, protokol kesehatan harus dilakukan ketat,” kata Ganjar.

Ganjar pun ingin menjadikan penerapan physical distancing PT Djarum sebagai percontohan. Dirinya sudah bicara dengan manajemen dan pemilik, agar seluruh perusahaannya menerapkan physical distancing.

“Hari ini saya lihat mulai dieksekusi, karyawan mau masuk tertib, pakai masker semuanya, antrean masuk dikasih jarak dengan garis, ada tempat cuci tangan dan tidak berdesakan. Ya meskipun masih ada beberapa yang berdesakan, tapi sebagian besar sudah mulai taat,” terangnya.

Termasuk kondisi di dalam pabrik, Ganjar juga melihat para karyawan dengan tertib menjaga jarak. Meski padat karya, namun tempat duduk karyawan diatur, tidak berdekatan, tidak berhadapan dan lainnya.

“Perusahaan juga menerapkan shift, jadi yang biasanya satu bangku dua orang, sekarang diisi satu orang,” ucapnya.

Cara-cara itulah lanjut Ganjar yang akan dipakai agar normal baru dapat berjalan. Seluruh perusahaan di Jawa Tengah lanjut Ganjar harus bisa melakukan hal serupa.

“Agar perusahaan tetap bisa berjalan, roda ekonomi berjalan tapi buruhnya diatur. Manajemen harus bisa mengatur dengan baik, sehingga kondisi buruk bisa dicegah. Mudah-mudahan semua perusahaan meniru ini,” tutupnya.

Baca juga : Djarum Sumbang Alat Tes Swab ke Pemkab Kudus, Hasil Keluar dalam Satu Hari

Sementara itu, Senior Manager Public Affairs PT Djarum Kudus, Purwono mengatakan, perusahannya itu memiliki 50.000 karyawan. Untuk itu, perusahaan berupaya menerapkan protokol kesehatan yang ketat agar tetap bisa berproduksi.

“Kita mulai dari saat karyawan masuk sampai di dalam ruangan. Semua wajib pakai masker dan selalu jaga jarak minimal satu meter. Kami juga memberlakukan pembagian shift agar tidak terjadi penumpukan karyawan,” kata dia.

Cara itu diambil untuk mencegah terjadinya penularan penyakit Covid-19. Meski tidak mudah karena merubah kebiasaan puluhan ribu karyawan, namun cara itu harus diambil.

“Bagaimanapun caranya, penyebaran Covid-19 ini hanya dapat diminimalisir dengan physical distancing dan penerapan protokol kesehatan yang ketat,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Modis dan Trendi Cuma Modal Rp 35 Ribu di Istana Kolor

0
Rizka Luthfiana sedang melayani pembeli di lapak Istana Kolor, Sabtu (9/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Rintik hujan tampak membasahi jalanan sekitar Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Sabtu (9/5/2020). Tepat di depan pemakaman setempat, seorang wanita terlihat sedang menata celana jeans di sebuah lapak pakaian semi permanen.

Setelah didekati, banner bertuliskan harga jual pakaian mulai Rp 50 ribu sampai Rp 75 ribu tercetak cukup besar terpasang di meja tempat menaruh beberapa jenis pakaian. Lapak tersebut rupanya milik Istana Kolor yang terpaksa buka di tempat tersebut, lantaran Tradisi Dandangan ditiadakan akibat pandemi Covid-19.

Rizka Luthfiana sedang menunggu pembeli di lapak Istana Kolor, Sabtu (9/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Penjaga lapak, Rizka Luthfiana (19) mengatakan, lapak yang baru dibuka sekitar lima hari yang lalu itu biasanya buka saat acara Dandangan. Akan tetapi, karena tahun ini ditiadakan, mereka kemudian membuka lapak di sana. Beberapa produk juga dijual dengan harga miring untuk memenuhi permintaan pasar, utamanya menjelang lebaran.

“Setahu saya memang baru kali ini membuka lapak di sini. Ini lapak cabang satu-satunya dari Istana Kolor. Makanya, harganya pun sama dengan di toko. Bahkan selain murah, ada potongan harga juga,” ungkap wanita berkerudung cokelat itu.

Baca juga: Starcross Kudus Jorjoran Diskon Hingga 50 Persen

Dikatakan Rizka, produk unggulan lapaknya adalah celana jeans. Sejauh ini, produk tersebut paling banyak diburu oleh pembeli. Untuk modelnya, ada celana pensil untuk perempuan dan laki-laki, celana slim fit dan celana longgar untuk laki-laki.

“Kalau pembeli sejak hari pertama kebanyakan memang malam. Kami buka dari sekitar pukul 13.00 WIB sampai 22.00 WIB. Biasanya ibu-ibu yang lewat mampir membelikan celana untuk anaknya. Ya, kalau dirata-rata per hari pasti ada sekitar 10an orang yang beli,” ungkap Rizka.

Rizka menginfokan, harga untuk celana tergantung ukuran dan bahan. Menurutnya, bahan kain lebih mahal daripada jeans. Akan tetapi, keseluruhan produk tidak ada yang harganya mencapai lebih dari Rp 85 ribu.

“Kalau harganya variatif. Dari yang Rp 35 ribu sampai Rp 85 ribu. Tergantung baju apa. Kalau baju anak-anak dan kemeja harga mulai dari Rp 35 ribu. Kalau celana jeans sampai Rp 85 ribu. Tapi tidak ada yang lebih dari harga itu,” rincinya.

Selain itu, Istana Kolor yang punya toko pusat di Desa Gribik, Kecamatan Gebog itu juga memberikan diskon di pembelian tertentu. Misal di kemeja yang per potong dihargai Rp 35 ribu, jika beli tiga cukup membayar Rp 100 ribu saja. Lalu ada juga yang per item dapat potongan Rp 2 ribu.

Baca juga: Rindy dan Rizka Mulai Jual Hijab Pintu ke Pintu Hingga Tembus Pasar Mancanegara

Meskipun sudah dibanderol dengan harga murah dan ada juga potongan harga khusus, Rizka mengaku masih ada saja pembeli yang menawar. Bahkan tak jarang harga yang diajukan pembeli jauh dari harga normal. Hal Itulah yang membuatnya cukup kesusahan.

“Meskipun hanya berbentuk lapak semi permanen, harga sudah sesuai toko pusat. Jadi banderol dengan potongan harga yang ditetapkan tidak bisa ditawar,” pungkas Rizka.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -