BETANEWS.ID, KUDUS – Tamini (58) masih membereskan botol bekas di samping rumahnya, saat ada pria bertubuh besar menghampirinya. Botol-botol bekas tersebut dimasukkan ke dalam karung dan ditumpuk rapi supaya muat.
Melihat ada tamu, dia kemudian bergegas ke depan rumahnya yang terlihat tidak layak huni itu. Pria tersebut adalah Winno Ardhana (31), petugas Program Keluarga Harapan (PKH). Hari itu, dia memberikan selembar kertas yang menyatakan Tamini menjadi salah satu penerima Bantuan Sosial Tunai (BST) dari Kementerian Sosial (Kemensos) selama tiga bulan ke depan.

Sontak saja, Tamini yang hidup sebatang kara itu terkejut dan menangis haru. Berulang kali dia mengucapkan terima kasih, lantaran bantuan tersebut sudah lama dinantinya. Dalam pengakuannya, selama 15 tahun terakhir, dirinya tidak tersentuh program bantuan pemerintahan. Padahal seingatnya, ia pernah diminta ketua RT untuk mengumpulkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK).
“Kira-kira sudah 15 tahun tidak dapat bantuan. Terima kasih bapak, mas-mas telah membantu saya. Ini bisa untuk menyambung hidup. Saya bisa gunakan makan dan beli obat,” jelasnya saat ditemui di rumahnya di Desa Lau RT 3 RW 5, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Selasa (12/5/2020).
Baca juga: 1.069 Warga Kudus Terima Bantuan Rp 600 Ribu dari Kemensos
Dalam kesempatan itu, Tamini bercerita soal hidupnya yang serba kekurangan. Pekerjaannya sebagai pemulung tidak bisa menghasilkan uang yang cukup untuk kehidupannya, bahkan sangat kurang. Ia mengungkapkan, sekarung botol yang cukup lama dikumpulkan itu, pengepul hanya membeli seharga Rp 2 ribu.
“Dalam seminggu biasanya hanya mendapatkan Rp 20 ribu saja,” ungkapnya yang akhir-akhir ini terkena penyakit asma itu.
Mendapati pendapatan hariannya tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup, tetangga sekitar rumahnya pun sering membantu. “Kadang ada yang memberikan nasi beserta lauknya. Kadang juga cuma lauk,” tuturnya.
Tamini mulai merasakan pahitnya hidup sejak ditinggal pergi suaminya. Sampai sekarang, dia tidak pernah tahu alasan sang suami meninggalkannya. Setelah itu, dirinya hidup berdua bersama neneknya. Dia mengingat betul, saat itu banyak sekali bantuan yang datang dari pemerintah. Namun, setelah neneknya meninggal, bantuan tidak kunjung datang lagi.
“Bantuan datang karena ada mbah (nenek). Setelah itu tidak ada lagi,” jelasnya.
Baca juga: Hartopo Minta Data Penerima Bansos Ditempelkan di Setiap RT
Sementara itu, Winno menjelaskan, Tamini memang tidak terdaftar di program bantuan sosial PKH, karena syarat yang ditentukan kurang memenuhi.
“Salah satu syaratnya itu usia. Program PKH, kan, kalau tidak sepuh (tua) harus anak-anak,” beber Winno.
Di sisi lain, anggota Karang Taruna Desa Lau Agus Manshur juga akan membantu Tamini dan warga lain yang belum mendapatkan bantuan.
“Kami kemarin menggalang iuran dan donasi. Hasilnya dibelikan sembako untuk dibagikan,” tutupnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

