Resep Turun Temurun yang Membuat Madu Mongso Mbah Uti Selalu Diburu Pembeli

BETANEWS.ID, KUDUS – Adonan warna hitam yang diaduk seorang wanita paruh baya di sebuah wajan terlihat mulai mengental. Setelah memastikan adonannya itu sudah cukup keras, dia lalu mengangkat dan membawanya ke ruang lain.

Di sana, seorang wanita yang lain terlihat sedang memotong-motong adonan menggunakan tangan terbungkus plastik. Adonan itu dipotong sekitar lima sentimeter dan dibungkus plastik transparan. Rumah tersebut yakni tempat produksi Madu Mongso Mbah Uti di Dukuh Kauman, Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

Zulifa Ariani sedang mengecek pengepakan produk Madu Mongso Mbah Uti, Senin (11/5/2020). Foto: Rabu Sipan.

Pemilik usaha, Zulifa Ariani (37) menuturkan, usaha pembuatan madu mongso ini sudah dimulai leluhurnya sejak 1960 dengan merek Kelapa Gading. Usaha ini terus berlanjut turun temurun hingga sekarang dengan merek Madu Mongso Mbah Uti.

-Advertisement-

“Bisa dibilang resep turun temurun. Dari mbah buyut kemudian turun ke mama saya,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Senin (11/5/2020).

Baca juga: Andalkan Resep Leluhur, Keciput Baskuni Jaya Tetap Bertahan Lebih dari Dua Dasawarsa

Wanita yang akrab disapa Ani itu menambahkan, ciri khas produknya itu rasanya manis, kecut, gurih serta legit. Rasa ini didapatkan dari bahan ketan hitam pilihan, gula pasir serta santan yang kental. Berbeda dengan madu mongso di tempat lain, produknya dikemas dengan plastik transparan.

“Keunggulan lain madu mongso kami, bahannya full tape ketan hitam. Jadi warna lebih bagus, teksturnya itu agak lengket saat digigit serta agak mulur. Jadi legit nikmat serta kecut-kecut, gimana gitu,” beber wanita berkerudung hitam tersebut.

Perempuan yang dikaruniai lima anak itu mengatakan, Madu Mongso Mbah Uti diproduksi setiap menjelang bulan Ramadan. Pemilihan waktu ini, karena madu mongso seolah jadi hidangan wajib di Hari Raya Idul Fitri, khususnya di Kudus.

Biasanya, lanjut Ani, ibunya bisa memproduksi sekitar 2,4 kwintal madu mongso, yang menghabiskan beras ketan hitam 1,5 kwintal sehari. Namun, sejak ada pandemi Corona, produksinya turun.

“Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini produksi Madu Mongso Mbah Uti turun. Yang dulunya mampu menghabiskan 1,5 kwintal beras ketan hitam sehari, kini paling hanya 50 kilogram sehari,” jelas Ani.

Baca juga: Kopi dan Ketan, Menu Andalan yang Jadi Nama Kafe

Ani menjelaskan, produk tersebut dijual dengan harga Rp 75 ribu per kilogram. Kemasan yang tersedia ada dua ukuran, yakni setengah kilogram dan seperempat kilogram.

“Ukuran seperempat kilogram itu biasanya digunakan untuk parsel,” ungkap Ani.

Untuk pemasaran, kata dia, Madu Mongso Mbah Uti dipasarkan lewat media daring. Berbeda dengan zaman dulu yang hanya mengandalkan mulut ke mulut.

“Madu Mongso Mbah Uti juga sudah punya pelanggan tetap, meliputi Karesidenan Pati, Semarang, Surabaya, Solo, Jakarta, Lampung, Jambi, Balikpapan, dan kota lainnya,” tutup Ani.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER