Harga Plastik Naik Drastis Imbas Perang Timur Tengah

BETANEWS.ID, KUDUS – Imbas bahan utama pembuat plastik, yakni minyak bumi sulit didapatkan akhir-akhir ini, membuat harga plastik di sejumlah tempat mengalami kenaikan. Seperti yang terjadi di Kabupaten Kudus, harga plastik kian menunjukan kenaikan drastis hingga mencapai 90-100 persen dari harga normalnya.

Dampaknya, penjualan plastik kini mengalami penurunan. Seperti yang dialami oleh pedagang plastik di Pasar Kliwon, Rohman. Katanya, penurunan daya beli hingga 40 persen. Apalagi untuk stok plastik saat ini kian sulit dijumpai.

Menurutnya, kenaikan harga plastik tersebut disebabkan adanya stok minyak di Indonesia yang semakin menipis. Hal itu dipicu karena akibat perang di timur tengah, sehingga pasokan minyak kini mulai berkurang.

-Advertisement-

“Kenaikan harga ini mulai naik pertengahan puasa. Harga berangsur-angsur naik hingga mencapai 90-100 persen,” bebernya saat ditemui di lapaknya, lantai 2 Pasar Kliwon Kudus, Jumat (3/4/2026).

Ia menuturkan, harga plastik yang sebelumnya Rp3.000 kini naik menjadi Rp6.000. Bahkan, untuk jenis plastik berbahan murni seperti PE, kenaikannya bisa mencapai 100 persen. Tak hanya itu, gelas cup yang teerbuat dari plastik juga mengalami kenaikan 100 persen, dari Rp12.500 menjadi Rp23.000 per slopnya.

Baca juga: Pengrajin Tempe di Jepara Keluhkan Harga Kedelai dan Plastik yang Naik Imbas Perang AS-Israel Vs Iran

“Harga berubah-ubah hampir setiap hari. Kami sebagai penjual juga bingung menentukan harga jual,” keluhnya.

Ia berharap kondisi harga bisa segera kembali stabil agar aktivitas perdagangan kembali normal, terutama bagi pelaku usaha kecil.

Dampak kenaikan harga plastik juga dirasakan pelaku UMKM makanan, salah satunya Romli yang berjualan cilor maklor. Ia mengaku harus menanggung kenaikan harga bahan baku tanpa berani menaikkan harga jual produknya.

“Keuntungan turun sekitar 5 persen. Harga plastik naiknya terasa sekali sejak pertengahan puasa, paling tinggi sejak awal pekan ini,” jelasnya.

Ia menyebut, harga plastik yang sebelumnya berkisar Rp13–14 ribu kini naik menjadi Rp19 ribu. Bahkan ada jenis lain yang melonjak dari Rp22 ribu menjadi Rp30 ribu.

Meski demikian, Romli tetap mempertahankan harga jual produk seperti cilok goreng (cilor), makaroni telur (maklor), dan mi telur (milor) agar pelanggan tidak berkurang.

“Kalau harga jual dinaikkan, takutnya pelanggan malah tidak beli,” ujarnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER