Pengrajin Tempe di Jepara Keluhkan Harga Kedelai dan Plastik yang Naik Imbas Perang AS-Israel Vs Iran

BETANEWS.ID, JEPARA– Perang yang terjadi antara Amerika dan Israel melawan Iran tidak hanya berimbas pada pasokan minyak dunia, tetapi juga membuat harga kedelai dan plastik ikut naik.

Hal itu membuat pengrajin tempe mengeluh, sebab ongkos produksi mereka menjadi ikut naik. Namun harga jualnya belum bisa ikut dinaikkan.

Salah satu pengrajin tempe asal Desa Pecangaan Wetan, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Nur Santo menyebutkan harga kedelai di minggu ini sudah mencapai Rp11 ribu per kilogram.

-Advertisement-

Harga tersebut mengalami kenaikan cukup drastis, di mana sekitar awal bulan puasa atau pertengahan bulan Februari kemarin harganya masih Rp8.600 per kg.

“Naiknya banyak, sebelum puasa itu Rp8.600 per kg, di minggu ini harganya sudah Rp11 ribu per kg,” sebut Nur Santo saat ditemui di kediamannya, Desa Pecangaan Wetan RT 1 RW 5 pada Kamis, (2/4/2026).

Nur Santo menyebut, kedelai yang ia gunakan untuk bahan baku pembuatan tempe merupakan kedelai impor yang berasal dari Amerika Serikat.

Kedelai tersebut memiliki kelebihan berupa ukuran bijinya yang lebih besar, daripada kedelai lokal. Sehingga para pengrajin lebih senang menggunakan kedelai impor.

“Bahan baku ini kan dari Amerika, sehingga mungkin ikut naik karena imbas perang,” ungkap Nur Yanto.

Baca juga: Diproduksi di Jepara, Ratusan Ribu Gelang Jemaah Haji Indonesia Siap Didistribusikan Mulai 15 April

Selain harga kedelai, harga plastik yang digunakan untuk membungkus tempa saat ini menurut Nur Yanto juga ikut naik. Dari tadinya Rp36 ribu per kg, saat ini menjadi sekitar Rp70 ribu per kg.

Dua bahan tersebut, menurut Nur Yanto mengalami kenaikan harga di rentang waktu yang sama.

Namun, meskipun harga bahan baku mengalami kenaikan, ia tidak berani menaikkan harga jual tempe. Sebab, para pengrajin tempe di desanya yang berjumlah 36 orang juga belum menaikkan harga jual.

“Harganya masih sama, belum bisa naik. Soalnya yang lain belum naik, kalau harga tahu naik, harga tempe mungkin baru bisa ikut naik,” ujarnya.

Sehingga untuk menyiasati agar tidak rugi, ia terpaksa mengurangi ukuran tempe. Terdapat tiga ukuran tempe yang ia buat. Yaitu ukuran 17 x 9 cm dengan harga Rp2 ribu per potong, 22 x 9 cm dengan harga Rp2.500 per potong, dan ukuran 2 meter.

“masing-masing itu ukuran lebarnya rata-rata saya kurangi 0,5 cm, untuk mensiasati biaya produksi biar ngga rugi,” sebutnya.

Namun, meskipun ukuran tempe sudah dikurangi, omset produksi tempe yang ia peroleh tetap berkurang sekitar 5-10 persen dibanding biasanya. Dalam sehari ia biasanya memproduksi sekitar 3 kwintal kedelai dengan dibantu empat orang karyawan.

“Harapannya ini bisa diturunkan harganya supaya tidak terlalu menekan di pendapatan kita, supaya harga bisa stabil lagi,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER