BETANEWS.ID, JEPARA — Setiap pagi pukul 06.00 WIB, menjadi awal bagi Triningsih (48) atau yang akrab dipanggil Ningsih, untuk memulai berbagai aktivitas di dapur sederhana peninggalan ibunya.
Di dapur itu, Ningsih tidak sendiri. Ia bersama enam hingga tujuh pekerja yang setiap hari berbagi tugas menyiapkan Lontong Gebyur, makanan khas Kabupaten Jepara.
Sebagai pelengkap, Ningsih juga menjual menu lain, seperti pecel, rujak, gorengan, aneka bubur, serta es campur.
Setiap pagi, ada yang bertugas menyiapkan kuah, memotong sayuran, menggoreng udang dan gorengan, hingga memasak lima jenis bubur untuk dijual.
Semua itu harus sudah siap disajikan di atas meja pada pukul 09.00 WIB. Sementara pada hari libur, semuanya harus siap lebih awal, yakni pukul 08.00 WIB.
Warung sederhana dengan dominasi warna hijau yang berada di depan Kali Wiso, Jalan Brigjen Katamso Nomor 28, Kelurahan Panggang, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara itu merupakan warisan dari ibunya yang dirintis sekitar tahun 1991.
Warung tersebut kini dikelola bersama adiknya. Namun, sebagai anak yang mewarisi ilmu dan resep dari sang ibu, Ningsih bertugas menjaga keautentikan rasa Lontong Gebyur serta aneka makanan yang dijual.
“Sebelum ibu meninggal, resep dan ilmu cara membuatnya sudah diturunkan semua kepada saya. Jadi insyaallah semuanya masih sama, resep masih sama, komposisi penggunaan bumbu dan kaldu juga masih sama,” tutur Ningsih saat ditemui di sela melayani pembeli pada Kamis (14/5/2026).
Satu piring Lontong Gebyur yang dijual Ningsih berisi lontong, kecambah, kol, soun, tahu, dan udang goreng. Kemudian ditaburi bawang goreng, diberi bumbu kacang dan kecap, lalu disiram kuah udang.
Ningsih menjelaskan, Lontong Gebyur sebenarnya hampir mirip dengan sop. Perbedaannya terletak pada penggunaan bumbu kacang dan rempah untuk membuat kuah.
Jika kuah sop cenderung bening, kuah Lontong Gebyur lebih pekat karena dicampur gula merah. Rempah yang digunakan sebenarnya hampir sama, tetapi kuah Lontong Gebyur ditambah daun salam dan serai.
Baca juga : Bayar Hotel dan Kos di Jepara Kini Beralih Pakai QRIS
“Kalau sop itu penyajiannya tidak pakai bumbu kacang dan makannya pakai nasi. Kalau ini pakai bumbu kacang dan lontong. Terus rasa kuahnya lebih khas karena pakai daun salam, serai, serta tambahan gula merah,” kata Ningsih.
Sepiring Lontong Gebyur dijual dengan harga Rp13 ribu. Dalam sehari, Ningsih biasanya mampu menjual sekitar 100 porsi. Jumlah itu meningkat perlahan dibanding saat awal ibunya berjualan yang hanya mampu menjual 30 hingga 40 porsi per hari.
Menjual makanan khas daerah di tengah kota, tantangan yang dihadapi Ningsih bukan pada jumlah penjualan, melainkan cara pembeli bertransaksi.
Banyak pembeli yang tidak membawa uang tunai, terutama anak muda. Awalnya, Ningsih tidak mengetahui adanya sistem pembayaran berbasis kode QR yang terhubung dengan aplikasi pembayaran digital bernama QRIS.
“Waktu itu belum ngeh, kalau ada yang beli tanya, ‘Bu ada ShopeePay, ada DANA?’. Terus saya tanya sama anak-anak yang lebih paham, ternyata sekarang anak muda banyak pakainya itu,” beber Ningsih.
Karena banyak pelanggannya merupakan pegawai bank, Ningsih kemudian ditawari pembuatan QRIS. Ia menggunakan QRIS dari BRI karena menjadi pihak pertama yang menawarkan layanan tersebut.
Saat itu, Ningsih tidak diminta datang ke kantor bank. Pegawai BRI Jepara justru mendatangi warungnya. Ningsih hanya diminta menyerahkan KTP, lalu dibuatkan rekening dan diberikan kode QRIS.
“Yang pertama nawarin itu dari BRI. Mereka yang datang ke sini, mungkin karena lihat pelanggannya banyak. Saya cuma menyerahkan KTP, tahu-tahu sudah jadi, dikasih QRIS sama buku tabungan,” kata Ningsih.
Ningsih mulai menggunakan QRIS sekitar lima tahun lalu. Meskipun belum mendominasi, hampir setiap hari ada pelanggan yang bertransaksi menggunakan QRIS.
“Tiap hari ada yang pakai QRIS. Enggak cuma anak muda, ibu-ibu sekarang juga ada yang bayarnya pakai QRIS,” ujar Ningsih.
Salah satu pelanggan Warung Lontong Gebyur milik Ningsih, Nur Ithratul Fadhillah (26), warga Desa Sowan Kidul, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, mengaku jarang menyimpan uang tunai di dompetnya.
Kebiasaan itu membuat dirinya harus memilih tempat saat membeli sesuatu, terutama makanan yang dijual di warung atau pinggir jalan.
“Kalau bayarnya harus tunai, kadang jadi enggak beli. Untungnya di sini bisa QRIS. Selain karena rasanya enak, saya suka beli di sini karena bisa bayar pakai QRIS,” ujar perempuan yang akrab disapa Lala itu.
Terpisah, dosen Program Pascasarjana Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, Dr. Mohamad Rifqy Roosdhani, mengungkapkan berdasarkan pengamatannya penggunaan QRIS bagi pedagang atau pelaku UMKM di Jepara kini mulai marak.
Menurut Rifqy, ada dua alasan utama pedagang mulai beralih ke pembayaran digital.
Pertama, perubahan perilaku masyarakat, terutama generasi Z, dalam berbelanja. Banyak anak muda yang kini jarang membawa uang tunai sehingga pedagang dituntut beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Kedua, transaksi digital selalu terekam. Jika rekam jejak transaksi bagus, hal itu bisa menjadi pertimbangan pihak perbankan saat pelaku UMKM mengajukan kredit usaha.
“Kalau pedagang tidak mau beradaptasi memakai QRIS, lama-lama mungkin bisa ditinggalkan pembeli. Meskipun bukan berarti uang tunai akan hilang. Namun, penggunaan QRIS bisa menjadi nilai tawar bagi pembeli, terutama generasi Z yang sudah terbiasa dengan transaksi cashless,” jelas Rifqy.
Kini, Warung Lontong Gebyur milik Ningsih yang dulunya hanya menerima pembayaran tunai perlahan mulai beradaptasi dengan pembayaran digital agar mampu melayani seluruh segmen pelanggan.
Editor: Kholistiono

