BETANEWS.ID, KUDUS – Sore itu, awan kemerahan mulai terlihat dari halaman Balai Diklat Sonyawarih, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus. Seorang perempuan mengenakan masker tampak memanggil warga yang sedang menjalani karantina di sana. Warga berdatangan dan menduduki kursi yang sudah disiapkan di halaman tersebut.
Perempuan bersuara serak itu adalah Tri Lestari, Kepala Desa Menawan, sedang mengajak warga untuk mengikuti siraman rohani. Setelah mengumpulkan warga, dia berbagi cerita kepada betanews.id tentang karantina di sana. Saat Lebaran, karantina di Balai Diklat Sonyawarih akan diliburkan hingga tanggal 26 Mei 2020.
Baca juga : Sebelum Berbuka, Warga yang Dikarantina Dapat Siraman Rohani
“Karena ini sudah mendekati Lebaran, rencana akan diliburkan mulai H-2 hingga H+3. Jadi jika ada pemudik, saat ini kami minta untuk karantina mandiri. Meski karantina mulai aktif H+3 (26/5/2020), tetapi satgas dan penjaga tetap aktif piket seperti biasa,” terang Ririn sapaan akrabnya.
Sejak tangga 13 Maret 2020 digunakan, sudah ada sekitar 75 warga yang dikarantina di Balai Diklat Sonyawarih. 49 warga sudah selesai dan pulang. Sisanya masih ada 26 warga yang saat ini masih dikarantina. Kemungkinan semua akan selesai maksimal tanggal 22 Mei mendatang.
“Sebelum tempat ini digunakan, warga sudah melakukan karantina mandiri. Saat itu ada sekitar 130 warga yang karantina mandiri. Dan saat ini masih banyak warga kami yang belum pulang merantau, jadi kemungkinan setelah Lebaran masih ada pemudik,” jelasnya.
Ririn juga menambahkan, bahwa siang itu ada dua pemuda di desannya yang mudik dari Jogja. Pihaknya meminta warga untuk melakukan karantina mandiri. Karena sudah ada kesepakatan untuk meliburkan karantina saat Lebaran.
Baca juga : Lumbung Pangan jadi Prioritas Program Jogo Tonggo di Desa Menawan
“Kalau karantina di sini kan Lebaran tidak bisa pulang. Petugas juga ingin diliburkan saat Lebaran. Jadi kami tidak bisa memaksakan. Karena petugas di sini semua relawan, semua sukarela,” tambahnya.
Dari sejumlah warga yang dikarantina, ada satu pemuda yang bergabung menjadi relawan. Setelah menjalani karantina selama dua pekan, pemuda itu kemudian ikut membantu bagian kebersihan di Balai Diklat Sonyawarih selama digunakan menjadi tempat karantina.
Editor : Kholistiono

