Beranda blog Halaman 1834

Ratusan Rumah Tergenang Akibat Rob, Bupati dan Walikota Diminta Turun Bantu Warga

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meninjau penyedotan rob di kawasan Sayung beberapa waktu lalu. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Sejumlah daerah di Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah dilanda bencara rob. Akibatnya, ratusan rumah tergenang limpahan air laut, mulai Brebes, Tegal, Pekalongan hingga Demak.

Terkait hal itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meminta semua bupati/wali kota yang terdampak untuk segera bertindak. Penyelamatan jiwa manusia dan melakukan tindakan darurat menjadi fokus utama.

“Saya minta semua bupati/wali kota yang daerahnya terkena rob untuk turun semuanya. Kami dari provinsi juga akan membantu. Kita butuh kerja sama untuk menyelamatkan orangnya, sambil melakukan tindakan-tindakan darurat,” kata Ganjar di kantornya, Kamis (4/6/2020).

Ganjar mengatakan, rob melanda beberapa daerah di Pantura Jateng dikarenakan cuaca yang buruk. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan, bahwa saat ini masuk musim pancaroba, sehingga gelombang laut cukup tinggi.

Baca juga : Sayung Kembali Terendam Rob, Ganjar Kena Marah Warga

“Gelombangnya sekarang tinggi, sehingga air laut masuk ke darat. Ini karena masuk musim pancaroba,” terangnya.

Tindakan darurat lanjut Ganjar, terus disebut saat ini. Meskipun sebenarnya, rencana penanggulangan sistematis rob kawasan pesisir Pantura Jateng sudah dilaksanakan.

“Misalnya di daerah Pekalongan itu, kan dibuat tanggul raksasa yang dulu rencananya selesai dalam satu tahun anggaran. Kalau tidak salah anggarannya Rp 90 miliar. Tapi karena Covid-19, Kementerian melakukan refocusing anggaran dan saat ini proyek itu dilaksanakan dengan mekanisme multiyears,” terangnya.

Pihaknya, lanjut Ganjar, juga sudah menggelar rapat tentang rencana kelanjutan proyek itu. Dinas terkait diminta segera bertemu dengan BBWS untuk tindak lanjut proyek itu.

“Karena BBWS yang punya proyek itu, kami hanya suporting saja. Saya harap proyek segera dilanjutkan kembali,” imbuhnya.

Untuk itu, tindakan darurat adalah cara yang bisa dilakukan saat ini. Masyarakat yang terdampak harus benar-benar diselamatkan dan diamankan.

Baca juga : Tak Ada Petugas Satupun Tangani Kemacetan di Sayung, Ganjar Turun Langsung Atur Lalulintas

“Kami sudah kirim bantuan, bahkan bupati/wali Kota sudah mengusulkan untuk mengeluarkan stok bantuan yang ada dan saya izinkan,” tegasnya.

Akibat bencana itu, Ganjar mengatakan ada sejumlah masyarakat yang mengungsi. Ia menegaskan bahwa sudah mengirimkan bantuan kepada para pengungsi itu.

“Saya juga meminta agar penerapan protokol kesehatan melekat dalam penanganan para pengungsi. Semua yang mengungsi harus diatur, saya sudah sampaikan khususnya pada Kepala BPBD wilayah-wilayah itu,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Setiap Tahun, 1.500 Bayi di Kudus Dites SHK untuk Deteksi Penyakit Bawaan

0
Muslimah, Kasi Kesga Gizi pada Dinas Kesehatan Kudus. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah pintu tertulis Kasi Kesga Gizi pada Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus. Di ruang tersebut tampak sejumlah perempuan sedang beraktivitas. Satu di antaranya yakni Muslimah (50), Kasi Kesga Gizi di dinas tersebut. Dia menjelaskan, bahwa setiap tahun di Kudus ada 1.500 bayi yang berusia kurang dari tujuh hari dites skrining hipotiroid kongenital (SHK).

Hal tersebut dilakukan, agar balita yang memiliki penyakit bisa segera mendapat penanganan. Saat ini, di Kudus ada sekitar 20 balita yang terkena gizi buruk. Angka tersebut sudah menurun jika dibandingkan tahun 2019, yakni ada 30 balita yang mengalami gizi buruk.

“Balita yang terkena gizi buruk biasanya karena ada penyakit bawaan seperti bibir sumbing, hidrosefalus, cerebral palsy dan down syndrome. Dari hasil SHK, kami pernah menemukan satu anak yang ada penyakit bawaan. Itu pada tahun 2018,” terangnya, kepada betanews.id.

Baca juga : Atasi Gizi Buruk, Rumah Gizi Bintangku Kudus Mulai Buka Hari Ini

Dari hasil tes SHK tahun 2018 itu, seorang balita yang memiliki penyakit bawaan kemudian mendapat penanganan, dan sekarang sudah baik dan tumbuh normal. Menurut Muslimah, jika penyakit bawaan diketahui sejak dini kemungkinan sembuh bisa lebih besar.

“Tes SHK ini dilakukan setiap tahun untuk 1.500 balita di Kudus. Kegiatan ini bekerja sama dengan RSU dr. Hasan Sadikin, Bandung. Biasanya dilakukan pada hari Senin dan Kamis,” ungkapnya, Selasa (2/6/2020).

Dia juga memnambahkan, penyakit bawaan bisa terjadi karena masa hamil. Bisa karena faktor penyakit penyerta ibu, tors, polusi, maupun gizi ibu. Pemeriksaan sebelum hamil juga diperlukan, agar menghindari risiko penyakit pada anak nantinya.

“Jadi lebih baik orang tua periksa dulu sebelum hamil. Bapak atau ibunya aman atau tidak. Punya penyakit seperti kromosom atau tidak. Kalau bisa periksa, untuk menghindari risiko pada orang tua dan anak nantinya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Bertahan di Tengah Pandemi, Kaus Selos Terima Pesanan Tema Covid-19

0
Sri utami sedang melayani pelanggan di tempat produksi Kaos Semar Polos (Selos), Senin (1/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Bau cat sablon menyeruak di ruangan paling ujung rumah pasangan Wahyu (42) dan Sri Utami (39) di Jalan Papandayan No 10 A, Kalilangse, Gajahmungkur, Semarang. Dua orang pemilik usaha kaus khas sejarah Semarangan bermerek Semar Polos (Selos) itu tampak baru saja menyelesaikan salah satu pesanan kaus dari pelanggan.

Hari-hari ini, memang tidak banyak kaus yang diproduksi di tempat usaha yang berdiri sejak 1998 itu. Makanya, sang pemilik kemudian membuka pesanan berbagai macam sablon kaus, termasuk tema Covid-19.

Sri Utami saat menunjukkan Kaos Semar Polos yang menjadi oleh-oleh Khas Semarang. Foto: Titis Widjayanti.

Sri Utami mengakui, sejak pandemi Covid-19, usahanya cukup terdampak. Hal ini dikarenakan beberapa titik stan penjualan yang biasanya ramai oleh pengunjung, mulai berkurang bahkan bisa dikatakan sepi. Oleh karena itu, mereka kemudian memutar otak untuk tetap bisa bertahan dengan menerima pesanan kaus dengan tema apapun.

“Akhirnya kami berpikir bagaimana tetap bisa bertahan yang sebagian hasilnya juga kami niatkan untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar yang terdampak. Alhamdulillah, dari niatan itu, kemudian berbagai pesanan dengan tema pandemi baik itu dari komunitas maupun dinas mulai berdatangan,” katanya saat ditemui, Senin (1/6/2020).

Baca juga: Kenalkan Sejarah Semarang Lewat Kaos Semar Polos

Wanita yang akrab disapa Uut itu menambahkan, pesanan tema pandemi ini tidak hanya dari dinas Kota Semarang hingga Provinsi Jawa Tengah saja, akan tetapi dari kota lain, seperti Kudus pun ada yang memesan. Dari sana lah, ia dan suami optimis bahwa niatan baik akan selalu mendapatkan pertolongan.

“Kalau untuk harga sablon yang pesanan seperti desain tema pandemi ini mulai dari Rp 50 ribuan. Dan itu bisa cetak satuan. Pokoknya kami tidak mengambil untung banyak. Yang penting usaha masih bisa berjalan, bisa sedikit membantu masyarakat sekitar juga,” bebernya sembari memperlihatkan salah satu contoh kaus pesanan tema pandemi.

Selain menerima pesanan berbagai tema kaus, pihaknya juga terus berupaya menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah yang ada di Kota Semarang. Harapannya, selain memberikan pelatihan penyablonan, mereka bisa ikut memperkenalkan sejarah Kota Atlas itu lewat media kaus.

Baca juga: Rindy dan Rizka Mulai Jual Hijab Pintu ke Pintu Hingga Tembus Pasar Mancanegara

Dikatakan Uut, hingga saat ini sudah ada beberapa sekolah dasar yang menjalin kerja sama dengan Semar Polos, yakni SD Kemala Bhayangkari 04 Akpol dan SD IT di Pedurungan.

“Temanya adalah seputar sejarah Kota Semarang. Sehingga sejak dini, anak-anak sudah mengenal sejarah daerahnya. Harapannya supaya setelah mengenal, nantinya mereka mencintai daerahnya,” tutup Uut.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Ikan Mas Koki Ankok Farm Mampu Tembus Pasar Mancanegara

0
Anis Nova menunjukkan Ikan Mas Koki. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Sore itu, di pekarangan belakang rumah di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus tampak ramai. Terlihat ada beberapa orang ngobrol di sebuah brak. Tak jauh dari mereka, terlihat belasan kolam beton. Di dalam kolam itu, terlihat puluhan ikan beraneka warna dengan bentuk unik. Ikan – ikan itu adalah Ikan Mas Koki koleksi Ankok Farm yang mampu tembus pasar hingga mancanegara.

Anis Nova (30), Pemilik Ankok Farm menuturkan, di tempatnya menyediakan aneka jenis dan grade Ikan Mas Koki. Ikan Mas Koki koleksi Ankok Farm selama ini sangat diminati banyak orang. Bahkan, secara rutin setiap bulan bisa ekspor ke luar negeri.

Ikan Mas Koki yang akan dipasarkan ke luar wilayah Kudus. Foto : Rabu Sipan

“Kami pertama kali ekspor Ikan Mas Koki pada tahun 2019. Dan Alhamdulillah, hingga sekarang mininal sebulan sekali pasti ada penjualan ke luar negeri,” ujar pria yang akrab disapa Anis kepada Betanews.id, Senin (1/6/2020).

Baca juga : Dari Sekadar Hobi, Bisnis Sampingan Ikan Mas Koki Bikin Hoki

Pria yang juga bekerja di perusahaan rokok di Kudus itu menuturkan, Ikan Mas Koki yang laku diekspor itu yang memang grade premium, atau ikan kelas kontes. Menurutnya, pertama permintaan ekspor itu dari Vietnam, terus lanjut Malaysia. Hingga sekarang hampir semua negara di Benua Asia sudah dikirimi Ikan Mas Koki dari Ankok Farm.

Dia mengatakan, di Ankok Farm ada tiga jenis Ikan Mas Koki yang dibudidaya. Yakni jenis Ranchu, Oranda dan Ryukin. Namun ungkapnya, dari ketiga jenis tersebut yang diminati pasar luar negeri itu Ikan Mas Koki jenis Ranchu dan Oranda. Sedangkan untuk jenis Ryukin lakunya hanya di pasar nasional.

Selain laku dijual hingga pasar luar negeri, kata dia, Ikan Mas Koki miliknya juga sering menjuarai kontes di beberapa kota besar di Indonesia. Menurutnya, kontes yang diikutinya itu kelas nasional, pesertanya juga bisa datang dari pelosok negeri.

“Yang dinilai dari kontes itu biasanya anatomi tubuh, warna, serta gaya renang. Alhamdulillah dari beberapa kali ikut event perlombaan skala nasional, kami sering juara,” ujarnya.

Dia pun kemudian memberi tips cara budi daya Ikan Mas Koki. Menurutnya, budi daya Ikan Mas Koki tidaklah susah. Yang penting telaten dan tekun. Pemberian pakan tiga kali sehari. Seminggu sekali air kolam diganti, serta secara rutin sebulan sekali dilakukan sortir.

“Dari pemijahan hingga siap jual, Ikan Mas Koki butuh sekitar tiga bulan,” paparnya.

Baca juga : Lebih Menjanjikan dan Tak Ada Matinya, Usman Sukses Budi Daya Lele

Sedangkan untuk kendala, tuturnya, setiap memasuki Bulan Juli hingga Oktober adalah masa pancaroba bagi pelaku budi daya Ikan Mas Koki. Karena pada masa itu seolah ada wabah yang mengakibatkan ikan mas koki itu bisa mati secara tiba – tiba dan massal.

“Saat itu adalah masa tersulit bagi peternak Ikan Mas Koki. Kalau saya biasanya berusaha mungkin menyelamatkan indukan jangan sampai ikut mati terkena wabah,” bebernya.

“Selain itu, kendala lainnya yakni pengiriman. Masalah pengiriman itu tidak hanya untuk luar negeri, tapi juga untuk yang dalam negeri,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Si Jago Merah Mengamuk di Istana Ban Kudus, Jalur Pantura Lumpuh

0
Petugas pemadam kebakaran berjibaku memadamkan api di gudang Istana Ban, Jalan Kudus-Pati, Kudus, Rabu (3/6/2020). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Bau karet terbakar menyengat di Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo, Kudus, Rabu (3/6/2020) malam. Bau tersebut datang dari gudang ban yang terbakar di tepi jalur pantura Jalan Kudus-Pati. Gudang yang menyimpan banyak ban tersebut milik toko Istana Ban, Kudus.

Puluhan petugas pemadam kebakaran terlihat berjibaku melawan kobaran si jago merah. Ban yang terbuat dari karet membuat api sulit dipadamkan. Meski telah dikerahkan 10 armada lebih dan sekitar satu jam tim pemadam berusaha, kobaran api tak juga bisa ditaklukkan.

Petugas pemadam kebakaran memadamkan api di gudang Istana Ban, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Bimo Aryo Tedjo, Kasi Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Kudus mengatakan, yang terbakar itu merupakan gudang ban dan velg mobil milik toko Istana Ban. Menurutnya kejadian kebakaran sekitar pukul 18.30 WIB. Setelah mendapat informasi kebakaran, dia bersama tim langsung menuju tempat kejadian.

“Kalau sebab kebakarannya kami tidak tahu pasti. Sesampai tempat kejadian api sudah besar. Kami pun sekuat tenaga untuk memadamkan api,” ujar Bimo kepada Betanews.id.

Dia mengatakan, proses pemadaman dibantu tim pemadam kebarakan dari PT Djarum, PT Nojorono, PT Pura Barutama serta dari tim pemadan kebakaran Kabupaten Pati. Menurutnya, api sulit ditaklukkan karena ban terbuat dari karet yang mudah terbakar.

Video kebakaran gudang Istana Ban di Kudus.

“Ini tadi kami sudah megerahkan 10 armada pemadam kebakaran tapi belum bisa padam. Perkiraan saya membutuhkan lebih dari 20 armada untuk memadamkan kebakaran ini. Semoga saja api bisa cepat padam,” harapnya.

Baca juga: Kiosnya di Pasar Kliwon Terimbas Kebakaran, Kini Nurul Justru Punya Dua Tempat Berjualan

Sementara itu, Sucipto pemilik bengkel tambal ban yang berlokasi di seberang jalan tempat kebakaran tersebut, mengaku tidak tahu sebab kebakaran. Menurutnya, tambal ban miliknya tutup pada pukul 18.00 WIB. Kemudian dia pulang ke rumahnya yang masih satu desa dengan tempat kejadian.

“Saya malah kaget ada apa kok ramai-ramai. Ternyata malah ada kebakaran. Saya tidak tahu sebab dan waktu kejadiannya. Kalau yang kebakar itu gudang ban dan velg ban milik Istana Ban,” jelasnya.

Jalur Pantura Macet Total

Akibat kejadian tersebut, lalu lintas di jalur pantura itu macet total. Pihak kepolisian harus menutup jalan agar tim pemadam kebakaran bisa bergerak memadamkan api. Akibatnya, puluhan kendaraan berat dan truk terjebak macet. Antrean kendaraan bahkan terpantau mengular hingga lampu merah Ngembal.

Baca juga: Tak Ada Petugas Satupun Tangani Kemacetan di Sayung, Ganjar Turun Langsung Atur Lalulintas

Kasatlantas Polres Kudus AKP Galuh Pandu Pandega mengatakan, kebakaran mengakibatkan arus lalu lintas Jalan Raya Kudus-Pati macet total. Untuk mencoba meminimalisir kemacetan, pihaknya merekayasa jalur lalu lintas untuk kendaraan roda dua dan mobil pribadi.

“Semua (motor dan kendaraan pribadi) kami arahkan ke selatan ke Desa Jepang, Mejobo Kudus. Kalau ke barat bisa tembus jalan lingkar, yang ke timur bisa tembus Kabupaten Pati. Sedangkan truk dan kendaraan besar lainnya terpaksa harus nunggu sampai proses pemadaman selesai,” jelasnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Atasi Gizi Buruk, Rumah Gizi Bintangku Kudus Mulai Buka Hari Ini

0
Rumah Gizi Bintangku Kudus hari ini mulai dibuka. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang perempuan tampak sedang membuka sejumlah tumpukan berkas yang ada di ruangan Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi pada Dinas Kesehatan Kudus. Sesekali dia tampak berbicara kepada rekan di sampingnya. Perempuan itu tak lain adalah Muslimah (50), Kasi Kesga Gizi di dinas tersebut.

Di sela-sela kesibukannya, dia sudi berbagi cerita kepada betanews.id tentang Rumah Gizi Bintangku yang berada di Jl. Kudus-Purwodadi,Tanjung Karang No 10, Jatimulyo, Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Tempat tersebut, dibuka mulai hari ini, 3 Juni 2020. Untuk sementara hanya akan melayani edukasi saja.

Baca juga : Jamin Kesehatan Anak, Ganjar Minta Semua Puskesmas Tetap Layani Imunisasi

“Rencana kami akan menyediakan dokter anak, ahli gizi, psikolog dan psikoterapi. Ini masih tahap proses menyiapkan untuk itu. Harapan kami dengan adanya Rumah Gizi Bintang Kudus di tahun ini sudah bisa mengentaskan semua kasus gizi buruk yang di Kudus,” ungkapnya, Selasa (2/6/2020).

Rumah Gizi Bintangku akan buka mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB, yakni dari Senin hingga Jumat. Rencananya ada pembatasan, dalam sehari tidak boleh lebih 10 orang.

“Demi pelayanan yang maksimal, rencana memang kami batasi tidak lebih dari 10 orang. Paling sehari 5 orang saja, karena bisa kami layani dengan maksimal. Lebih baik sedikit, tetapi maksimal,” jelasnya.

Baca juga : Hartopo Akan Tutup Pasar dan Swalayan yang Tidak Taat Protokol Kesehatan

Dalam pelaksanaannya, Rumah Gizi Bintangku akan menggunakan protokol kesehatan Covid-19. Terkhusus saat pandemi seperti ini, menurutnya Rumah Gizi menjadi penting untuk segera dibuka. Karena dengan mengkonsumsi makanan bergizi warga akan memiliki daya tahan tubuh yang kuat.

“Jika imun kuat maka kita akan kebal dari virus dan penyakit yang lain. Jadi Rumah Gizi memang perlu segera dibuka agar bisa memberi edukasi warga Kudus. Sebenarnya rencana pembukaan pada bulan Maret lalu, karena ada pandemi ini jadi kami undur,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kakek 89 Tahun Asal Kudus Hanya Bisa Pasrah Tidak Bisa Berangkat Haji Tahun Ini

0
Ahmad Sofyan (89) calon jemaah haji asal Demangan, Kudus, tahun ini harus gagal berangkat menjalankan ibadah haji. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Ahmad Sofyan (89) terlihat duduk sendirian di kursi samping rumahnya. Sesekali dirinya berjalan menghampiri jemuran baju yang ditaruh di samping rumah. Dia yakni satu di antara calon jemaah haji asal Kudus yang gagal berangkat tahun ini.

Saat ditemui betanews.id di rumahnya di Desa Demangan RT 04, RW 03, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Sofyan mengaku kecewa dengan keputusan tidak diselenggarakannya ibadah haji tahun ini. Namun, dirinya hanya pasrah. Menurutnya, keputusan tersebut adalah keputusan terbaik.

Kakek dengan delapan anak tersebut menuturkan, dirinya mengetahui tidak diselenggarakannya ibadah haji dari anaknya. Selain itu, informasi tersebut juga diberikan dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Annur tempatnya mendaftar.

“Iya saya tahu. Gagal ada virus (Covid-19) ,” tuturnya yang harus berulang-ulang saat diberikan pertanyaan, Rabu (03/6/2020).

Baca juga : Biro Umrah Terancam Merugi Miliaran Rupiah Akibat Kebijakan Kerajaan Arab Saudi

Sofyan menceritakan, dirinya mendaftar haji secara reguler tahun 2015. Karena sudah lanjut usia, dirinya mengaku mendapatkan jalur khusus dan bisa berangkat tahun 2020. Namun keinginannya untuk beribadah di usia senja harus tertunda tahun ini.

“Pendaftaran yang mengatur anak semua. Saya ikut anak,” tuturnya.

Menurutnya, dari Desa Demangan, jumlah calon jemaah haji yang akan berangkat yakni lima orang. Apakah ada yang usianya sama dengannya, Sofyan mengaku kurang mengetahuinya.

“Saya berangkat sendiri. Anak juga daftar haji namun nanti berangkatnya,” tambah lelaki yang pernah berdagang kain di Pasar Kliwon.
Sofyan juga menceritakan, selain merencanakan beribadah haji tahun ini. Dia juga mengaku sudah mendaftar ibadah umrah bersama 70 orang pendaftar lainnya.

“Kemarin saya sudah diminta membuat paspor dan visa. Penyelanggaranya dari Singapura. Namun sampai sekarang tidak ada kabar lagi. Saya belum keluar uang,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kantor Kementerian Agama Kudus Su’udi menuturkan, pembatalan penyelenggaraan haji tahun 2020 sesuai dengan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 494 tahun 2020.

Menurutnya, alasan utama pembatalan haji dikarenakan hingga tanggal 1 Juni 2020 Pemerintah Arab Saudi tidak memberitahukan tentang kepastian penyelenggaraan ibadah haji. Akhirnya, tanggal 2 Juni 2020, Menteri Agama memutuskan untuk membatalkan ibadah haji.

Baca juga : Ganjar Minta Calon Jemaah Umrah yang Gagal Berangkat Akibat Kebijakan Arab Saudi Tidak Dipungut Biaya Tambahan

“Karena harus mengurus visa dan kebutuhan lainnya seperti hotel. Waktunya tidak cukup. Ini juga sedang ada pandemi. Pasti ada protokol khusus,” tuturnya.

Menurut Mas’ud, di Kabupaten Kudus terdapat 1.033 jemaah yang gagal berangkat. Pihaknya mengaku belum memberikan surat resmi kepada para jemaah. Dirinya masih menunggu petunjuk teknis dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah (Kanwil Kemenag Jateng).

“Kalau Kanwil Kemenag Jateng tidak memberitahukan. Kantor Kemenag Kudus akan menindaklanjuti dengan dasar Keputusan Menteri Agama Nomor 494 Tahun 2020 mengenai Pembatalan Keberangkatan Jemaah Haji pada Penyelenggaraan Ibadah Haji 1441 Hijriah,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Bertambah Tiga, Kasus Positif Covid-19 di Kudus Menjadi 64 Orang

0
Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kudus, Andini Aridewi. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Kudus bertambah lagi. Hingga kini, Rabu (3/6/2020) total ada 64 kasus. Dari jumlah tersebut, tercatat ada tiga kasus baru, yakni semula 61 kini menjadi 64 kasus.

Menurut Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 dr Andini Aridewi, tiga kasus terbaru berasal dari dalam dan luar Kabupaten Kudus. Dia merinci, kasus pertama yakni perempuan 35 tahun berasal dari Kabupaten Demak.

Menurut Andini, pasien mulai masuk Rumah Sakit Mardi Rahayu pada 31 Mei. Pasien tidak memiliki riwayat perjalanan maupun kontak dengan penderita Covid-19.

Baca juga : Enam Nakes Positif Corona, Puskesmas Kaliwungu Ditutup Sementara

“Pasien tidak memiliki penyakit penyerta. Untuk tracking dilalukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Demak,” tuturnya.

Kasus kedua, yakni perempuan usia 29 tahun yang berasal dari Kecamatan Jati, Kudus. Menurut Andini, pasien memiliki kontak dengan penderita Covid-19. Selanjutnya, pasien tidak memiliki penyakit penyerta dan riwayat perjalanan.

“Kondisi pasien baik dan tidak memiliki penyakit penyerta. Pasien juga memiliki pemahaman baik tentang Covid-19. Akhirnya pasien melakukan isolasi mandiri,” katanya.

Terakhir, yakni perempuan 49 tahun berasal dari Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Andini menjelaskan, pasien tidak memiliki riwayat perjalanan dan kontak penderita Covid-19. “Sejak tanggal 30 Mei, pasien dirawat di RS Mardi Rahayu,” tuturnya.

Baca juga : Unika Soegijapranata Semarang Temukan Alat Pelumpuh Covid-19

Menurut Andini, dari jumlah keseluruhan 64 kasus, 10 orang sedang dirawat, empat orang melakukan isolasi mandiri, enam orang meninggal dan 44 orang sembuh.

“Untuk tiga kasus terbaru tidak ada hubungannya dengan klaster Puskesmas Kaliwungu,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar Kumpulkan Ulama Jateng Rumuskan Kenormalan Baru di Tempat Ibadah

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menghadiri halaqoh ulama di gedung A lantai 2 kantor gubernur Jateng, Rabu (3/6/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Sejumlah ulama di Jawa Tengah menggelar halaqoh (pertemuan) di gedung A lantai 2 Kantor Gubernur Jateng untuk membahas tatanan beribadah di era kenormalan baru, Rabu (3/6/2020).

Dalam kegiatan yang dipimpin Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah Ahmad Darodji dan diikuti para ulama dan pengasuh pondok pesantren di Jawa Tengah itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memberi gambaran kondisi penyebaran covid-19 di Jawa Tengah. Meski grafik mulai menurun, tetapi masih ada kasus baru di beberapa tempat.

“Para ulama Jateng berinisiatif untuk merumuskan bagaimana normal baru nanti berjalan. Bagaimana kebiasaan baru berjalan. Hari ini sudah banyak yang tanya kapan normal baru bisa dilaksanakan, saya jawab nunggu kurvanya turun. Tapi sekarang harus terus latihan dan disiapkan secara matang,” kata Ganjar.

Baca juga: MUI Jateng Putuskan Daerah Hijau Boleh Gelar Ibadah di Masjid

Ganjar berharap, pertemuan itu bisa memutuskan panduan dan tata cara penerapan kenormalan baru dari segi peribadatan, seperti pelaksanaan salat Jumat pakai shift. Menurut Ganjar, ada wacana membagi shift salat Jumat agar jemaah tidak berjubel.

“Saya minta para ulama merumuskan ini, agar nantinya dapat menjadi formula yang baik sehingga Jateng benar-benar siap. Mudah-mudahan ada alternatif dan masukan dari para ulama yang akan kami jadikan acuan untuk menerapkan normal baru itu, agar semuanya lebih aplikatif dan aman,” imbuhnya.

Meskipun Kementerian Agama sudah memperbolehkan masyarakat kembali beribadah di tempat ibadah dengan berbagai syarat, tapi Ganjar tidak mau gegabah. Menurutnya, semua harus dipersiapkan dengan matang untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

“Nanti dulu, memperbolehkan bukan berarti membiarkan masyarakat seperti air bah, semua keluar tanpa persiapan. Makanya daya dukung, fasilitas, dan kesadaran masyarakat harus dipersiapkan dulu,” tegasnya.

Baca juga: Ingin Pastikan Warga Siap, Ganjar Tak Gegabah Terapkan Kenormalan Baru

Maka dari itu, pihaknya terus mendorong masyarakat untuk berlatih menerapkan kenormalan baru. Untuk daerah hijau, boleh melakukan uji coba menggelar ibadah di tempat ibadah dengan menjalankan protokol kesehatan.

“Yang hijau saya izinkan untuk uji coba, misalnya menggelar salat berjamaah, tapi yang merah atau yang kuning jangan dulu. Kalau Kota Semarang yang sekarang masih naik terus kurvanya, ya jangan dulu. Bahaya nanti,” tekan Ganjar.

Ganjar juga meminta para ulama memikirkan persoalan pondok pesantren di daerahnya masing-masing. Sebab apabila santri-santri sudah mulai kembali masuk pondok, ada banyak hal yang harus disiapkan untuk penerapan kenormalan baru.

“Ada banyak fasilitas di pondok pesantren yang harus dibenahi agar semuanya tertib dan tidak ada kerumunan besar. Saya minta ini dibahas, mulai soal tata cara mengaji, soal kebersihan, ketersediaan air bersih dan lainnya,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

MUI Jateng Putuskan Daerah Hijau Boleh Gelar Ibadah di Masjid

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menghadiri halaqoh ulama di gedung A lantai 2 kantor gubernur Jateng, Rabu (3/6/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Memasuki fase kenormalan baru, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah memutuskan untuk memperbolehkan ibadah di masjid khusus untuk daerah zona hijau. Fatwa ini untuk mengganti putusan sebelumnya tentang tatanan beribadah selama pandemi Covid-19 yang menganjurkan beribadah di rumah.

Keputusan itu diambil dalam halaqoh ulama se Jawa Tengah yang membahas tatanan beribadah di era kenormalan baru di gedung A lantai 2 kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (3/6/2020). Hadir dalam kegiatan itu sejumlah ulama, perwakilan pengasuh pondok pesantren se Jateng, Gubernur, dan Wakil Gubernur Jateng.

Ketua MUI Jateng Ahmad Daroji menjelaskan, selama ini masyarakat sudah rindu untuk beribadah di masjid. Mereka rindu untuk Jumatan atau salat berjamaah di masjid-masjid kampung mereka.

“Hasil halaqoh ini, kami memutuskan akan memberikan kelonggaran untuk beribadah di masjid khusus untuk daerah zona hijau. Namun pelaksanaannya tetap harus menggunakan protokol kesehatan yang ketat,” tegasnya.

Baca juga: Ganjar Kumpulkan Ulama Jateng Rumuskan Kenormalan Baru di Tempat Ibadah

Melihat kondisi Jawa Tengah yang saat ini perkembangan kurva penularan Covid-19 belum turun drastis, kegiatan di tempat ibadah belum bisa dilakukan secara menyeluruh.

“Besok kami dari Komisi Fatwa MUI akan menggelar sidang terkait hasil halaqoh ini. Nantinya, akan ada kelonggaran beribadah di daerah zona hijau namun tetap menggunakan protokol kesehatan ketat. Untuk daerah kuning dan merah, nanti dulu karena itu bahaya,” terangnya.

Terkait pelaksanaan salat Jumat dibuat shift, Daroji mengaku sudah membahasnya bersama ulama. Namun, hal itu terkendala oleh fatwa MUI pusat yang pernah melarang pelaksanaannya secara shift, meski sebenarnya memungkinkan di tengah pendemi seperti ini.

“Kendalanya MUI pusat pernah mengeluarkan fatwa larangan itu (Jumatan shift), tapi kan itu dulu dan kondisinya berbeda. Tapi aturannya fatwa MUI daerah tidak boleh bertentangan dengan pusat. Untuk itu, kami akan usulkan ke pusat agar ada pembahasan soal ini,” tegasnya.

Baca juga: Simulasi New Normal, Makam Sunan Muria Dibuka Hanya untuk Peziarah Lokal

Sebab kalau tidak ada pembatasan secara shift, maka pelaksanaan salat Jumat di era pandemi ini bisa berbahaya. Ia mencontohkan, di masjid Baiturrahman Semarang, setiap pelaksanaan salat Jumat selalu dipenuhi jamaah.

“Sebelum salat itu jamaah sudah berjubel, antre sampai luar. Kalau tidak dibuat shift bisa bahaya. Maka nanti kami segera usulkan ini ke pusat. Mudah-mudahan ada fatwa soal Jumatan secara shift ini dikeluarkan oleh MUI pusat,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Unika Soegijapranata Semarang Temukan Alat Pelumpuh Covid-19

0
Asmara Samtesamka, mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Unika Soegijapranata Semarang kembangkan alat terapi untuk melemahkan virus. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pepohonan yang rindang di sekitar Universitas Katolik Unika Soegijapranata Semarang membuat udara semakin segar. Ditambah lagi, siang itu cukup mendung dengan aktivitas yang tampak tak begitu sibuk di area gedung-gedung perkuliahan. Termasuk satu ruangan di sisi kiri gerbang masuk kampus, yakni Laboratorium Elektro, yang tampak hanya beberapa mahasiswa sedang cermat menghadap ke meja penelitian, termasuk Asmara Samtesamka (28).

Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro tersebut, baru-baru ini sedang mengembangkan frekuensi suara untuk terapi mengurangi stres, meningkatkan daya tahan tubuh hingga melemahkan virus yang masuk di tubuh manusia. Berdasarkan pengakuan dari lelaki muda berambut pirang itu, penelitiannya hanya membutuhkan waktu sepekan. Dalam waktu yang sesingkat itu, Asmara yang dibimbing oleh Dr Florentinus Budi Setiawan melakukan penelitian untuk tugas akhir.

Asmara Samtesamka sedang mengutak atik alat frekuensi suara untuk terapi pelemahan virus. Foto : Titis Widjayanti

Baca juga : Masuki Fase New Normal, Perusahaan Wajib Buat Tim Penanganan Covid-19

“Ini sebenarnya sebagai tugas akhir. Jadi saya dibimbing oleh Pak Budi untuk mengonversi bentuk dari terapi cahaya Biophilia menjadi bentuk frekuensi suara. Di mana, sebenarnya penelitian tentang frekuensi suara untuk terapi ini sudah dilakukan oleh negara-negara lain, di antaranya China. Jadi penelitian ini istilahnya membuktikan hal itu,” papar Asmara, Rabu (3/6/2020).

Mahasiswa yang memang hobi dan suka dengan musik tersebut mengatakan, ia juga membaca buku-buku teori mengenai kekuatan frekuensi suara. Sehingga tidak dibutuhkan waktu lama untuk dirinya merancang penelitian yang dimaksud. Asmara kemudian menceritakan, dari ketiga fungsi terapi yang disebutkan, dua di antaranya sudah ia buktikan. Dikatakannya, untuk terapi stres dan meningkatkan daya tahan tubuh telah ia rasakan sendiri.

“Dua teori tentang terapi penurunan stres dan peningkatan daya tahan tubuh sudah saya uji coba sendiri. Saya mendengarkan frekuensi suara ini selama beberapa hari. Setiap hari dua kali, durasinya sekitar 40 sampai 60 menit. Frekuensinya masih di bawah 1.000 hertz. Antara 740, 1.237, 1.630, 1.855, 2.270 sampai 11.379 hertz. Untuk yang melemahkan virus belum dicoba,” kata dia.

Asmara mengatakan, fungsi frekuensi suara untuk lemahkan virus kemudian akan diuji coba dalam kasus Covid-19. Dikatakannya frekuensi yng dibutuhkan antara 12.400 sampai dengan 13.400 hertz. Kelemahannya, tingkat frekuensi tersebut terlalu tinggi. Sehingga jika didengarkan bisa membuat pendengar pusing sampai mual. Oleh karena itu, nantinya ia akan mencoba mixing frekuensi itu ke dalam lagu. Sehingga pengguna bisa mendengarkan lagu dan tanpa sadar sembari terapi.

“Untuk yang saya rangkai ini, dihubungkan dengan speaker. Jadi memang cara kerjanya sama dengan kalau kita mau dengerin musik pakai speaker. Karena ini bentuk filenya MP3, bisa didengarkan melalui HP dengan headset atau headphone, bisa pula dihubungkan dengan speaker. Dengan begini, jika nanti uji coba berhasil, harapannya bisa membantu masyarakat dalam memerangi virus Covid-19,” kata Asmara.

Baca juga : Masker Transparan, Ramah Bagi Penyandang Tuna Rungu

Hal tersebut dibenarkan oleh dosen pembimbing Asmara yang akrab di sapa Pak Budi. Dosen Teknik Elektro itu mengatakan, penelitian ini sebenarnya merupakan pengujian dari salah satu terapi oleh ayosehat.biz. Secara teknis kerjanya hampir sama dengan alat terapi Biophilia. Namun, kali ini dibuat lebih instan melalui frekuensi suara dengan bentuk file MP3, sehingga lebih mudah digunakan dan lebih murah secara biaya.

“Kalau frekuensi suara ini saya dapat dari ayosehat.biz. Di sana sudah ada menu terapi Covid-19 menggunakan frekuensi suara. Jadi setelah dikonversi dalam bentuk MP3 ini, pasien atau pendengar hanya membutuhkan headset atau speaker saja. Sehingga lebih praktis dan murah. Untuk uji cobanya sendiri, kami akan mencoba di Rumah Dinas Walikota Semarang daerah Manyaran, yang memang saat ini menjadi salah satu tempat untuk isolasi pasien Covid-19,” papar dia.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Makam Sunan Muria Dibuka 8 Juni, Jam Kunjungan dan Kapasitas Peziarah Dibatasi

1
Plt Bupati Kudus HM Hartopo saat meninjau persiapan simulasi di Makam Sunan Muria, Selasa (2/6). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus akan membuka Makam Sunan Muria untuk simulasi new normal atau kenormalan baru pada 8-14 Juni 2020 mendatang. Pembukaan itu dibarengi dengan pembatasan jam kunjungan dan kapasitas peziarah yang bisa masuk ke area makam.

Sekretaris Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria (YM2SM) Nur Hudlri menjelaskan, pihaknya mengikuti arahan dari pemerintah, terutama mengenai protokol kesehatan Covid-19 yang dilaksanakan di Makam Sunan Muria.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo saat meninjau persiapan simulasi di Makam Sunan Muria, Selasa (2/6). Foto: Ist.

“Peziarah yang datang harus cuci tangan dulu, setelah itu berwudu. Sebelum masuk juga tes suhu tubuh dan wajib mengenakan masker,” ungkapnya saat menerima kunjungan Plt Bupati Kudus dalam rangka persiapan kenormalan baru di Makam Sunan Muria, Selasa (2/6/2020).

Menurut Nur Hudlri, selama di dalam Makam Sunan Muria, peziarah hanya diberikan waktu selama 10 menit saja. Bilamana di dalam makam masih penuh, peziarah baru tidak boleh masuk.

“Nanti akan diatur jaraknya satu meter. Kapasitas makam 75 orang. Jadi kalau penuh menunggu di luar dulu,” jelasnya.

Baca juga: Simulasi New Normal, Makam Sunan Muria Dibuka Hanya untuk Peziarah Lokal

Tak hanya itu, jam kunjungan atau layanannya pun dibatasi. Setiap harinya, pengelola akan memberikan waktu peziarah dari pukul 05.30 hingga 21.00 WIB. Selain itu, masyarakat yang biasa meminum air gentong di pintu keluar makam, harus membawa botol sendiri. Pihaknya tidak menyediakan cangkir seperti yang biasa dilakukan.

“Ini untuk mengantisipasi adanya penyebaran Covid-19,” tutupnya.

Semantara itu, Plt Bupati Kudus HM Hartopo menambahkan, simulasi pembukaan Makam Sunan Muria tersebut dilakukan untuk persiapan menghadapi new normal. Saat masa simulasi, peziarah dapat mengunjungi Makam Sunan Muria kembali yang sebelumnya ditutup.

“Simulasi tersebut, untuk sementara waktu, hanya dikhususkan bagi peziarah atau wisatawan lokal,” ungkapnya.

Baca juga: Makam Sunan Muria dan Taman Sardi Akan Dibuka Sepekan untuk Simulasi

Untuk peziarah luar daerah, pihaknya punya wacana memberlakukan sistem pemesanan via daring. Dengan adanya sistem tersebut, peziarah yang datang dapat dikontrol. Selain itu, penumpukan peziarah yang berada di dalam makam bisa dikendalikan.

“Peziarah dari luar kota harus booking dulu ketika mau datang. Ini untuk mengontrol jumlah pengunjung,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Polres Kudus Gelar Simulasi Antisipasi Dampak Terburuk Covid-19

0
Kabag OPS Polres Kudus AKP Catur Kusuma Adhi saat memaparkan simulasi Tactical Floor Game (TFG) di Pendopo Kabupaten Kudus, Selasa (2/6/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus bersama dengan Kepolisian Resort (Polres) Kudus melakukan simulasi Tactical Floor Game (TFG) di Pendopo Kabupaten Kudus, Selasa (2/6/2020). Hal tersebut dilakukan guna mengantisipasi dampak terburuk pandemi Covid-19.

Dalam kegiatan TFG tersebut, terlihat diorama wilayah Kabupaten Kudus tersusun apik di bagian tengah ruang koordinasi. Tampak minatur gedung-gedung, di antaranya bangunan rumah sakit, kantor polisi, pusat perbelanjaan, dan fasilitas umum lainnya. Diorama tersebut juga menggambarkan detail jalan dan lokasi bangunan sesuai dengan kondisi lapangan. 

Kegiatan simulasi Tactical Floor Game (TFG) di Pendopo Kabupaten Kudus, Selasa (2/6/2020). Foto: Imam Arwindra.

Kapolres Kudus AKBP Catur Gatot Efendi mengungkapkan, TFG dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk terjadinya konflik sosial di Kudus saat pandemi. Menurutnya, jika hal tersebut benar-benar terjadi, pemerintah daerah sudah siap. 

“Tapi mudah-mudahan hal tersebut tidak terjadi. Namun jika diasumsikan terjadi, kita sudah siap,” tuturnya dalam kegiatang yang dihadiri Plt Bupati Kudus, Forkopimda, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), TNI, Polri, perwakilan rumah sakit, camat dan pengelola pasar swalayan.

Baca juga: Enam Nakes Positif Corona, Puskesmas Kaliwungu Ditutup Sementara

Menurutnya, jika Covid-19 trennya semakin meningkat, tidak menutup kemungkinan akan ada peningkatan kriminalitas, penjarahan, dan konflik sosial lainnya. 

Makanya, Catur menginginkan agar seluruh kalangan dan lapisan masyarakat untuk selalu menjaga kebersamaan, koordinasi, komunikasi dan gotong royong dalam menghadapi pandemi Covid-19. Dia memastikan, langkah-langkah pembatasan yang dilakukan bukan untuk mengekang masyarakat. Hal tersebut bentuk perhatian pemerintah daerah agar warganya terhindar dari Covid-19. 

“Kami ingin menyelamatkan warga Kudus. Kami cinta warga Kudus. Jadi kami berharap kerja sama dari semua pihak untuk menekan kedisiplinan serta tanggung jawab di tengah kebijakan New Normal,” tuturnya.

Kabag OPS Polres Kudus AKP Catur Kusuma Adhi menambahkan, kontijensi di tengah pandemi Covid-19 merupakan kondisi tidak pasti. Bisa saja akan lebih baik atau bahkan semakin memburuk.

“Akan ada tiga siaga dalam simulasi TFG ini. Yakni siaga merah satu, siaga merah dua, dan siaga merah tiga,” ungkapnya. 

Dia menjelaskan, siaga merah satu yakni suatu kejadian pasien yang terjangkit Covid-19 semakin banyak. Hingga tujuh rumah sakit rujukan di Kudus tidak mampu menampungnya. Maka perlu dipersiapkan rumah sakit darurat di Kudus. 

Baca juga: Waspada, Kudus Ditetapkan sebagai Wilayah Transmisi Lokal Covid-19

Selain itu, kemungkinan terburuk lainnya yakni pasien meninggal Covid-19 semakin banyak. Jika ada penolakan atau penuh, pihaknya sudah mempersiapkan lahan pemakaman di pemakaman umum Kelurahan Mlatinorowito, tepatnya di belakang Kantor Samsat Kudus.

“Kami sudah koordinasikan dengan Dinas Kesehatan, rencananya Akbid Kabupaten Kudus akan jadi rumah sakit darurat. Selain itu, Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) juga kami laksanakan,” tuturnya.

Selanjutnya yakni siaga merah dua. Kondisi ini ditandai dengan pandemi terus berlanjut, bahan pokok menipis, dilanjutkan munculnya keresahan masyarakat karena tidak bisa bekerja. Sehingga kemungkinan akan muncul kriminalitas serta penjarahan di Kota Kretek.

“Kami akan melakukan pengamanan di beberapa titik rawan kejahatan di Kudus. Terutama di tempat umum seperti swalayan, pasar tradisional, toko modern, fasilitas kesehatan dan tempat-tempat lainnya,” jelasnya sambil menunjuk lokasi-lokasi yang dimaksud menggunakan laser.

Baca juga: Makam Sunan Muria dan Taman Sardi Akan Dibuka Sepekan untuk Simulasi

Terakhir, lanjut Catur, yakni siaga merah tiga. Yaitu saat pandemi semakin memburuk. Dari dua status siaga sebelumnya strategi yang dicanangkan tidak berhasil. Menurutnya, pihaknya akan melakukan sistem pengamanan kota. Akses masuk ke dalam Kabupaten pun akan ditutup.

“Jika kondisi semakin memburuk. Masyarakat tidak mengindahkan protokol kesehatan, tidak dipungkiri kebijakan tersebut akan berlaku. Kami berharap semua pihak agar dapat bekerja sama dalam menyongsong kehidupan New Normal,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Simulasi New Normal, Makam Sunan Muria Dibuka Hanya untuk Peziarah Lokal

0
Beberapa warga tampak berada di gerbang masuk Makam Sunan Muria, Senin (1/6/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus sedang mempersiapkan new normal atau kenormalan baru di sektor pariwisata. Plt Bupati Kudus HM Hartopo mengatakan, pihaknya akan melakukan simulasi, tata letak dan pemetaan tempat terlebih dahulu untuk lokasi-lokasi wisata yang biasa dikunjungi masyarakat.

“Kita akan mulai simulasi dari Makam Sunan Muria,” ungkapnya saat ditemui, Senin (1/6/2020).

Menurutnya, simulasi, layout, dan pemetaan ini penting dilakukan di tempat-tempat yang digunakan untuk menjalankan protokol kesehatan Covid-19. Hasilnya, pihaknya akan mengetahui kapasitas tempat, serta peta protokol Covid-19 yang perlu dilaksanakan.

“Nanti ada pemberlakuan kapasitas berapa orang. Selain itu sebelum masuk harus cuci tangan, mengenakan masker dan ditembak termometer infra red,” jelasnya.

Baca juga: Makam Sunan Muria dan Taman Sardi Akan Dibuka Sepekan untuk Simulasi

Hartopo menuturkan, simulasi tahap pertama di Makam Sunan Muria akan dilaksanakan pada 8-14 Juni 2020. Setelah selesai, pihaknya akan mengevaluasi untuk dibuat kebijakan selanjutnya.

“Makam Sunan Muria sudah tutup beberapa waktu lalu untuk peziarah. Kami berencana membukanya dalam waktu dekat,” tuturnya.

Pihaknya juga memberi tahu, selama simulasi, peziarah yang diperbolehkan datang, dikhususkan masyarakat lokal saja. Baru setelah simulasi dikatakan sukses, maka akan dibuka untuk umum.

“Simulasi tersebut, untuk sementara waktu, hanya dikhususkan bagi peziarah atau wisatawan lokal. Kami akan juga wacanakan pendaftaran via online bagi peziarah yang berasal dari luar daerah. Jadi nanti booking dulu” tuturnya.

Baca juga: Masuki Fase New Normal, Perusahaan Wajib Buat Tim Penanganan Covid-19

Dengan adanya sistem booking secara daring, lanjut Hartopo, peziarah yang datang dapat dikontrol. Selain itu, penumpukan peziarah yang berada di dalam makam bisa dikendalikan.

“Jadi bila di dalam (Makam Sunan Muria) masih penuh, tidak boleh ada yang masuk lagi,” tuturnya.

Hartopo menambahkan, jika wisata di lokasi Makam Sunan Muria hidup kembali. Ekonomi masyarakat yang berada di daerah tersebut akan pulih.

New normal ini benar-benar kami persiapkan. Terutama pemulihan ekonomi. Kasian masyarakat,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Kenalkan Sejarah Semarang Lewat Kaus Semar Polos

0
Sri Utami saat menunjukkan desain Kaos Semar Polos yang menjadi oleh-oleh Khas Semarang. Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Wahyu (42) dan Sri Utami (39) sedang menyelesaikan pesanan kaus di rumah produksi yang berada di Jalan Papandayan No 10 A, Kalilangse, Gajahmungkur, Semarang, Senin (1/6/2020). Tempat sablon yang masih berada di area kediamannya itu sudah sejak 1998 lalu jadi lahan untuk mengais rezeki. Ialah Semar Polos, usaha konveksi sablon kaus yang jadi pelopor kaus oleh-oleh khas Semarang.

Sambil memperlihatkan beberapa produknya, Uut begitu sapaan akrabnya kemudian bercerita tentang awal mula jualan kaus. Dikatakannya, dari awal perintisan, ia dan suami masih belum memiliki ciri khas merek dagang. Mereka menerima pesanan cetak apapun yang dipesan, mulai dari kaus, spanduk, hingga berbagai merchandise lain.

Sri Utami saat menunjukkan pembuatan Kaos Semar Polos yang menjadi oleh-oleh Khas Semarang. Foto: Titis Widjayanti.

“Kalau merintis awal dari tahun 1998. Saat itu belum fokus ke kaus. Lalu atas dorongan teman-teman, kami akhirnya membuat merek sendiri sebagai kaus oleh-oleh pada tahun 2015,” bebernya.

Dari ide pembuatan kaus oleh-oleh itu, dia kemudian memikirkan ciri khas yang bisa menjadi andalan produknya. Akhirnya tercetuslah ide memperkenalkan sejarah Semarang lewat kaus bermerek Semar Polos.

Baca juga: Harga Mulai Rp 85 Ribuan, Dadiwae Jadi Solusi Cetak Kaos Hasil Desain Sendiri

“Karena kami suka kesenian dan sejarah, kami memutuskan untuk menjual produk sekaligus mengenalkan sejarah Semarang. Dari sana kami juga mengedukasi para pembeli baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara tentang Kota Semarang,” ungkap Uut.

Menurutnya, sejarah merupakan satu hal yang tidak bisa dilupakan oleh generasi sekarang. Oleh karena itu, melalui produk yang mereka jual, ia dan suami berharap bisa memberikan pengetahuan tersebut. Sehingga masyarakat mengenal, tahu, dan akhirnya bisa mencintai Kota Semarang.

“Langkah itu akhirnya diapresiasi oleh banyak pihak dan membuat Semar Polos menjadi merek yang diakui menjadi pelopor kaus khas Semarangan,” ungkap dia.

Dari pengakuan itu, 2018 lalu Semar Polos mendapatkan fasilitas dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk permohonan hak kekayaan intelektual (HKI) melalui Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Namun, karena merek Semar Polos dianggap memiliki sususan diksi yang umum, akhirnya Uut menyingkat merek itu menjadi Selos (Semar Polos). Akhirnya, merek dagang tersebut mendapatkan persetujuan dan sudah diakui secara legal.

Uut lantas menjelaskan arti nama beserta logo merek dagangnya. Gambar logo yang bentuk gajah, dimaksudkan untuk mengenalkan Gajahmungkur yang merupakan daerah asal pasutri tersebut. Kemudian untuk nama Semar Polos, Semar dari kata Asem Arang atau dua kata yang membentuk nama Semarang. Lalu Polos, yang berarti apa adanya.

Baca juga: Saptaria Fashion, Produksi Hijab Premium Harga Miring

“Harapannya sebagai manusia, kita selalu hidup apa adanya. Nggak neko-neko. Seperti itu,” harap Uut.

Saat ini, produk Semar Polos bisa didapatkan di beberapa titik tempat wisata, seperti Kota Lama, Gedung Dekranasda, Pasar UMKM Srondol, dan beberapa titik lainnya.

“Selain beberapa titik tempat wisata, kami juga menjual produk di pameran-pameran pariwisata, mulai dari pameran di dalam kota, luar kota hingga luar negeri. Harganya mulai Rp 95 ribu sampai Rp 100 ribu,” tutup Uut.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -