Beranda blog Halaman 1827

Sepekan Makam Sunan Muria Dibuka untuk Simulasi, Begini Situasinya

0
Beberapa orang tampak usai berziarah di Makam Sunan Muria. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Semua kendaraan yang hendak berziarah ke Makam Sunan Muria tampak diarahkan ke terminal Wisata Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, Sabtu (13/6/2020). Di sana, peziarah yang berdatangan tampak mengenakan masker. Sebelum naik ke pangkalan Ojek Muria, mereka dites suhu badan dan diarahkan untuk cuci tangan terlebih dahulu.

Berjalan menaiki tangga menuju Makam Sunan Muria, tampak pedagang di sebelah kanan dan kiri tangga. Satu di antara sejumlah pedagang, yakni Amin Narwati (35). Dia mengeluhkan selama buka hampir sepekan, peziarah masih sepi. Menurutnya, jika dibandingkan hari-hari biasa, peziarah yang datang hanya 10 hingga 15 persen saja.

Baca juga : Makam Sunan Muria dan Taman Sardi Akan Dibuka Sepekan untuk Simulasi

“Peziarah masih sepi, paling 10 atau 15 persen saja. Tapi ya saya bersyukur masih bisa buka. Semoga cepat kembali normal dan ramai seperti biasa,” harap Warga Desa Japan RT 02 RW 01, Dawe, Kudus itu.

Dirinya juga menyampaikan, bahwa pedagang di sana sudah mendapat imbauan untuk selalu menggunakan masker. Karena masih simulasi, dia berharap semua berjalan lancar dan bisa dibuka kembali tempat wisata di Colo.

Sementara itu, Muhdi (58), Pengurus Yayasan Masjid Makam Sunan Muria (YM2SM) menjelaskan, bahwa pihaknya sudah menjalankan protokol kesehatan selama simulasi. Menurutnya semua berjalan dengan baik sesuai rencana.

“Setiap peziarah yang datang diwajibkan memakai masker. Saat masuk juga dicek suhu badan. Jadi jika tidak menggunakan masker dan suhu badan melebihi batas normal, tidak kami izinkan masuk,” jelasnya.

Baca juga : Makam Sunan Muria Dibuka 8 Juni, Jam Kunjungan dan Kapasitas Peziarah Dibatasi

Dia juga menambahkan, selama dibuka hampir satu pekan, belum ada lonjakan peziarah. Peziarah mayoritas masih warga setempat dan bukan rombongan sekala besar. Sehingga peziarah masih terbilang kondusif dan menjalankan protokol lesehatan yang berlaku.

“Sementara ini belum ada lonjakan peziarah, masih warga sekitar. Jadi ini masih belum ramai dan kondusif. Jika ada peziarah dari luar kota kami juga tidak bisa menolak. Tapi harus mengikuti protokol kesehatan yang berlaku,” tegasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar Minta Segera Ada Simulasi Pembukaan Kembali Candi Gedong Songo

0
Gubernur Ganjar Pranowo saat mengecek kesiapan pengelola Candi Gedong Songo dalam menghadapi kenormalan baru, Sabtu (13/6/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, BANDUNGAN – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendatangi Candi Gedong Songo, Sabtu (13/6/2020). Kedatangan orang nomor satu di Jateng itu untuk mengecek kesiapan salah satu destinasi wisata di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang itu dalam menyambut new normal atau kenormalan baru.

Kepada pengelola, Ganjar meminta agar disiapkan betul apabila nantinya dibuka lagi, seperti yang telah dilakukan di Candi Borobudur yang sudah masuk tahap simulasi pembukaan kembali.

Gubernur Ganjar Pranowo saat mengecek kesiapan pengelola Candi Gedong Songo dalam menghadapi kenormalan baru, Sabtu (13/6/2020). Foto: Ist.

“Flow mereka antri seperti apa, sarana prasana seperti tempat cuci tangan juga harus disiapkan, semua pengunjung wajib pakai masker, jaga jarak dan dicek suhu tubuhnya,” katanya yang datang sambil gowes sejauh 24 kilometer dari kediamannya itu.

Ganjar juga meminta pengelola untuk menyiapkan polisi wisata. Mereka akan ditugaskan untuk mengawasi pengunjung, menegur yang tidak taat aturan, serta membatasi agar tidak ada kerumunan.

Baca juga: Candi Gedong Songo 3 Bulan Tutup, Pedagang Curhat ke Ganjar Sudah Tak Berpenghasilan

“Saya minta segera dilakukan simulasi. Diujicoba dulu dengan sedikit pengunjung, mengajak wartawan dan pegiat pariwisata, sehingga bisa diketahui bagaimana pengelolaannya. Polisi wisata juga harus dioptimalkan untuk mengatur, agar semua yang ada di sini nantinya bisa aman dan nyaman,” tutupnya.

Sementara itu, salah satu pengurus objek wisata Candi Gedong Songo, Siswanto mengatakan, candi tersebut sudah ditutup sejak Maret lalu. Saat ini, pihaknya sedang mempersiapkan sarana prasarana apabila nanti kembali dibuka.

“Sedang disiapkan semuanya. Tempat cuci tangan, poster imbauan, garis-garis untuk jaga jarak, dan sebagainya. Minggu depan kemungkinan kami akan melakukan simulasi,” katanya.

Baca juga: Mulai Dibuka, Ganjar Minta Bus Wisata Terapkan Prosedur New Normal

Siswanto menerangkan, setiap hari tak kurang dari 500 wisatawan masuk ke tempat wisata itu. Apabila akhir pekan atau libur hari besar, pengunjung bisa mencapai 4 sampai 5 ribu.

“Kalau nanti dibuka kembali, tetap kami akan lakukan pembatasan, paling tidak 50 persen dari total pengunjung biasanya,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Candi Gedong Songo 3 Bulan Tutup, Pedagang Curhat ke Ganjar Sudah Tak Berpenghasilan

0
Gubernur Ganjar Pranowo saat dicurhati dua pedagang Candi Gedong Songo, Sabtu (13/6/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, BANDUNGAN – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo cukup kaget saat tiba-tiba dihampiri dua orang perempuan ketika baru saja tiba di Candi Gedong Songo, Sabtu (13/6/2020).  Mereka adalah Gini dan Rini Amri, pedagang yang biasa berjualan di obyek wisata tersebut.

Tanpa basa-basi, Gini dan Rini langsung bertanya kepada Ganjar, soal waktu pembukaan tempat wisata itu. Dalam kesempatan itu, mereka langsung curhat kepada orang nomor satu di Jateng tersebut soal kehidupan mereka paska adanya wabah Covid-19.

Gubernur Ganjar Pranowo saat dicurhati dua pedagang Candi Gedong Songo, Sabtu (13/6/2020). Foto: Ist.

Pak kapan bukane (kapan dibuka lagi) wis suwe ora dodolan pak, ndak ada penghasilan (sudah lama tidak jualan, tidak ada penghasilan),” kata Rini sambil menggendong anaknya yang masih balita.

Rini menerangkan, sejak obyek wisata itu tutup tiga bulan lalu, praktis mereka tidak mendapat penghasilan. Makanya, ia sangat berharap tempat wisata itu bisa segera dibuka. “Cepat dibuka, Pak, kami sudah tidak sabar,” tambah Gini.

Baca juga: Sudah Rindu Piknik? Akhir Pekan Ini Candi Borobudur Siap Dibuka

Meski ngos-ngosan setelah gowes sejauh 24 kilometer dari kediamannya, Ganjar tetap sabar menghadapi keluhan dua warganya itu. Bahkan, sesekali Ganjar memberikan jawaban dan edukasi diselingi candaan.

Nek sesuk tak buka pie, setuju mboten? (Kalau saya buka besok gimana, setuju tidak). Tapi sekarang sedang musim virus corona, sampean mau ketularan?” tanya Ganjar yang datang ke Candi Gedongsongo memang untuk mengecek persiapan di sana.

Mendengar jawaban itu, dua pedagang itu hanya terdiam. Sadar bahwa tempat itu belum akan dibuka dalam waktu dekat, mereka pun kemudian meminta solusi terbaik kepada Ganjar.

Baca juga: Pemuda Bandungan Bikin Aplikasi PSBB untuk Bantu Pedagang di Tengah Pandemi

Ganjar lantas meminta para pedagang tetap bersabar. Sebab saat ini, pemerintah sedang gencar melakukan persiapan untuk kembali membuka fasilitas-fasilitas publik termasuk pariwisata, dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

“Sabar, ini sedang kami siapkan. Kita latihan dulu, ya, disiapkan nanti kira-kira seperti apa. Kemarin saya sudah ke Borobudur juga sama, sedang menyiapkan. Nanti pedagang diajak simulasi, cara jual belinya gimana, pengaturan jaraknya gimana, pembayarannya langsung dipegang atau disiapkan tempat khusus. Ini kan, perlu latihan, tidak bisa cepat-cepat,” tutup Ganjar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Ruangan Masih Disegel, Direktur PDAM : Kami Bisa Kerja di Mana Saja

0
Ruangan Direktur PDAM Kudus tampak masih tersegel. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Pita segel yang dipasang Kejaksaan Negeri Kudus terlihat masih menyilang di dua pintu ruangan Kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Kudus pada Sabtu (13/6/2020). Segel tersebut berwarna merah dan putih serta terdapat tulisan Kejaksaan RI.

Di antara segel tersebut, juga terdapat tulisan tangan di kertas HVS. Tulisan tersebut yakni, tanggal 11/06/2020 dan juga terdapat nama Mulyono, Kejari Kudus.

Direktur PDAM Kabupaten Kudus, Ayatullah Humaini. Foto : Imam Arwindra

Menurut Direktur PDAM Kabupaten Kudus, Ayatullah Humaini, dua ruangan yang disegel Kejari yakni ruangan direksi dan server. Ruangan tersebut disegel karena berkaitan dengan kasus operasi tangkap tangan (OTT) yang melibatkan pegawai PDAM.

Baca juga : Inilah Sosok T, Pegawai PDAM yang Kena OTT Kejari Kudus

“Disegel tidak masalah. Pegawai PDAM bisa kerja di mana saja. Lebih sering di lapangan,” ungkapnya saat ditemui di Kantor PDAM Kudus, Sabtu (13/6/2020).

Dia menuturkan, OTT dilakukan pada hari Kamis (11/6/2020) yang melibatkan pegawainya berinisial T. Yang bersangkutan berkerja sebagai Kepala Pelayanan Kepegawaian PDAM.

Menurut informasi yang diterimanya, pihak Kejari juga mengambil beberapa dokumen dan CPU, serta menyegel dua ruangan di Kantor PDAM.

“Kami menghormati proses hukum yang berjalan di kejaksaan. Kami percaya sepenuhnya kepada kejaksaan akan penegakan hukum,” tuturnya.

Sementara itu, di hari sebelumnya, Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Kudus, Rustriningsih melakukan konferensi pers terkait OTT pegawai PDAM di Kejaksaan Negeri Kudus, Jumat (12/6/2020).

Dalam konferensi pers tersebut, Rustriningsih menuturkan telah melakukan OTT terhadap T dan sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Baca juga : Pekan Depan Kejari Bakal Periksa 24 Pegawai PDAM Kudus

“Dengan alat bukti uang hasil OTT Rp 65 juta, beberapa buku tabungan, HP dan motor, serta dari keterangan saksi, alat bukti surat dan petunjuk, maka kami menetapkan seorang sebagai tersangka dengan inisial T,” jelasnya.

Selain itu, untuk proses pengembangan, pihaknya juga membawa beberapa dokumen dan CPU dari Kantor PDAM, serta menyegel dua ruangan.

“Untuk beberapa yang tidak kami perlukan nanti akan dikembalikan. Ini masih proses, tolong bantu kami supaya kondusif,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Inilah Sosok T, Pegawai PDAM yang Kena OTT Kejari Kudus

0
Salah satu ruangan di PDAM Kudus disegel Kejari Kudus. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Kejaksaan Negeri Kudus telah menetapkan tersangka berinisial T dalam kasus operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan hari Kamis (11/06/2020). Dalam kasus tersebut, menyeret oknum karyawan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kudus yang diduga telah menerima uang terkait penerimaan dan pengangkatan pegawai di lingkungan PDAM Kudus.

Menurut Direktur PDAM Kabupaten Kudus, Ayatullah Humaini, karyawannya berinisial T yakni menjabat sebagai Kepala Pelayanan Kepegawaian PDAM Kudus. Sebagai kepala pelayanan kepegawaian, T dalam kesehariannya tergolong memiliki perilaku yang baik.

“T sebenarnya bukan orang yang mengurusi tentang rekruitmen. Pekerjaannya lebih berkaitan dengan administrasi pelayanan,” tuturnya saat ditemui di Kantor PDAM Kudus, Sabtu (13/6/2020).

Baca juga : Pekan Depan Kejari Bakal Periksa 24 Pegawai PDAM Kudus

Menurutnya, selain T, semua karaywan di PDAM memiliki perilaku yang baik. Mereka bekerja sesuai tupoksinya dan memiliki tanggung jawab sendiri-sendiri. “Semua bekerja dengan baik. Kalau tidak baik, kami sikat,” tuturnya dengan tegas.

Ketika ditanya apakah pernah merasa curiga dengan perilaku T terkait dugaan penerimaan dan pengangkatan pegawai di lingkungan PDAM Kudus. Humaini menuturkan, tidak pernah memiliki rasa curiga kepada orang lain.

Menurutnya, lanjut Humaini, dengan adanya kasus yang terjadi, bisa menjadi ajang pembuktian proses penerimaan dan pengangkatan pegawai di PDAM bersih atau tidak.

“Justru, momen ini bisa menjadi pembuktian apakah kita bersih atau tidak. Kita lihat saja,” ungkapnya.

Humaini memberitahukan, memang benar saat ini pihaknya sedang melakukan penerimaan karayawan baru berjumlah 17 orang. Menurutnya, setiap tahunnya pihaknya juga melakukan hal sama, namun jumlah penerimaan dan pengangkatan disesuaikan dengan kebutuhan.

Baca juga : Pegawai PDAM Kudus Jadi Tersangka Jual Beli Jabatan, Kejari Sita Rp 65 Juta Saat OTT

“Tidak ada spesialis khusus. Orang masuk PDAM harus bisa menyangkul, menyambung pipa, administrasi dan marketing.General spesialis. Dan rekruitmen tahun ini sudah sesuai dengan RBAT (Rencana Biaya Anggaran Tahunan) 2020,” jelasnya.

Dalam OTT sebesar Rp 65 juta, pihaknya menuturkan, akan mengikuti semua proses hukum yang berjalan. Dirinya bersama jajarannya akan bersikap kooperatif dan bersedia menjadi saksi untuk dimintai keterangan dengan sebenar-benarnya.

“Jika diperlukan, kami sudah siapkan pengacara. Namun untuk T, tampaknya harus dituntut maksimal lima tahun dulu ya,” tuturnya sambil menoleh ke arah pengacaranya Slamet Riyadi yang duduk di sebelah kanannya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sempat Naik 2 Kali Lipat, Tiket Bus Nusantara Kini Mulai Turun Harga

0
Bus Nusantara yang saat ini sebagian masih berada di pool. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah bus terparkir di garasi PO Nusantara yang berada di tepi Jalan Raya Kudus-Demak, Kecamatan Karanganyar, Demak. Sejumlah orang tampak sedang beraktivitas di sana. Satu di antaranya, yakni Agung Kurnawan Kusumo (37). Dirinya sudi berbagi informasi kepada betanews.id terkait harga tiket Bus Nusantara saat ini.

Setelah tidak beroperasi sekitar dua bulan, pihaknya mulai beroperasi pada tanggal 2 Juni 2020 lalu. Dia mengaku, awal beroperasi mematok tarif harga tiket tinggi. Seperti tujuan Kudus – Jakarta yang sebelumnya harga normal Rp 190 ribu untuk kelas eksekutif, menjadi Rp 450 ribu pada tanggal 2 Juni 2020.

Salah satu armada Bus Nusantara sedang dicuci. Foto : Ahmad Rosyidi

Baca juga : Virus Corona Merebak, PO Haryanto Kandangkan Armada

“Tetapi saat ini sudah kami turunkan, seperti tujuan Kudus – Jakarta. Pada tanggal 7 Juni 2020 turun menjadi Rp 400 ribu, dan pada tanggal 10 Juni 2020 kami turunkan lagi jadi Rp 350 ribu hingga hari ini,” terang Manajer Marketing itu, Jumat (12/6/2020).

Selain itu, dia juga menyebutkan beberapa tujuan lain, seperti Kudus-Tangerang harga sebelumnya Rp 450 ribu, turun menjadi Rp 350 ribu. Kudus-Bandung sebelumnya Rp 380 ribu menjadi Rp 250 ribu dan Kudus-Jogja masih tetap Rp 85 ribu.

Agung juga membeberkan, bahwa saat ini masih banyak armada yang belum beroperasi, karena masih sepi penumpang. Seperti tujuan Jakarta saat ini sekitar 50 persen armada yang beroperasi. Tujuan Jogja hanya dua armada yang beroperasi, berbeda saat kondisi normal ada 14 armada.

“Mungkin karena masih pada takut bepergian dengan kendaraan umum, jadi ini masih sepi. Jika harga normal sebelum pandemi Covid-19 memang lebih murah, seperti Kudus-Jakarta Rp 190 ribu, Kudus-Tangerang Rp 185 ribu, Kudus-Tangerang Rp 150 hingga 200 ribu,” ungkapnya.

Baca juga : Merasakan Kemewahan Bus Omah Mlayu di Kudus, Bus Termewah di Indonesia

Menurutnya, kenaikan harga di PO Nusantara saat ini tidak merata, berbeda tujuan beda tingkat kenaikan harganya. Hal itu dikarenakan jarak dan rata-rata jumlah penumpang.

“Beda tujuan beda kenaikan harganya, tidak merata. Ada yang tidak naik, seperti tujuan Kudus-Purwokerto masih sama. Saat ini Rp 80 ribu, sebelum pandemi juga Rp 80 ribu,” jelas pria kelahiran Temanggung, Jawa Tengah itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pekan Depan Kejari Bakal Periksa 24 Pegawai PDAM Kudus

0
Direktur PDAM Kudus, Ayatullah Humaini (kanan) memberikan keterangan kepada awak media terkait OTT anak buahnya. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebanyak 24 pegawai Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Kudus dijadwalkan akan dipanggil Kejaksaan Negeri (Kejari) Kudus pada pekan depan sebagai saksi. Rencana pemanggilan tersebut, diberitahukan Direktur PDAM Kabupaten Kudus, Ayatullah Humaini saat ditemui di kantornya, Sabtu (13/6/2020).

Humaini menjelaskan, pemanggilan akan dilakukan secara bertahap pada Senin dan Selasa (15-16/6/2020).

Pemanggilan tersebut, lanjut Humaini, terkait kasus operasi tangkap tangan (OTT) oknum pegawai PDAM pada Kamis (11/6/2020) lusa oleh penyidik Kejari Kudus.

Ruangan Direktur PDAM Kudus terlihat disegel oleh Kejari Kudus terkait dengan OTT oknum pegawai PDAM Kudus. Foto : Imam Arwindra

Baca juga : Sempat Dikabarkan Menghilang, Dirut PDAM Kudus: ‘Saya Tidak Kemana-Mana’

“Kami akan kooperatif memberikan keterangan yang sebenar-benarnya, hingga kasus ini terang benderang dan tidak terulang kembali,” terangnya.

Humaini meyakini, proses hukum akan berjalan dengan baik. Pihaknya juga mengungkapkan, tidak mendapat intervensi dari pihak manapun. Begitu juga dengan pihak kejaksaan.

“Terkait materi (hukum) kita bersama-sama menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Nanti akan disampaikan di pembuktian saja,” tuturnya.

Dia menuturkan, saat terjadi OTT oknum pegawai PDAM berinisial T, dirinya mengaku tidak tahu menahu kejadian tersebut. Karena saat kejadian, Humaini sedang berada di Semarang. “Saya tidak tahu dan saya kaget sekali, benar saya tidak tahu,” tuturnya.

Humaini menceritakan, pada Kamis (11/6/2020) lalu, dia mengaku sedang melakukan kontrol kesehatan di Semarang. Selanjutnya untuk hari Jumat (12/6/2020), dirinya harus menghadiri penerimaan rapor ketiga anaknya di Semarang.”Khawatir ada informasi salah, jadi saya silent saja,” jelasnya.

Baca juga : Dikabarkan Menghilang, Hartopo Tak Bisa Hubungi Direktur PDAM Kudus

Dirinya memohon maaf kepada masyarakat Kudus atas kegaduhan yang ditimbulkan. Menurutnya, kegaduhan karena OTT sesungguhnya tidak sesuai yang diharapkan.

“Kejadian ini tidak akan mengganggu pelayanan di PDAM. Semua masih bekerja sesuai tupoksi dan tanggung jawab masing-masing. Kami akan terus memberikan layanan terbaik untuk masyarakat Kudus, terutamanya mendapatkan air bersih,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Satu – Satunya Perempuan di Kudus yang Tekuni Usaha Jual Beli Mesin Jahit

0
Endang Setyoningsih, Pemilik Toko Mesin Jahit. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di pelataran bangunan beratap seng, tampak beberapa mesin jahit berjajar. Di sampingnya terlihat beberapa pria sedang memperbaiki mesin jahit. Sedangkan di dalam bangunan penuh sesak mesin jahit dengan berbagai merk dan jenis. Di pojok bangunan tampak perempuan mengenakan jilbab sedang sibuk dengan alat penghitung. Perempuan tersebut yakni Endang Setiyoningsih (43), satu – satunya perempuan di Kudus yang menekuni usaha mesin jahit.

Di sela kesibukannya tersebut, perempuan yang akrab disapa Endang itu sudi berbagi kisah tentang usahanya. Dia menuturkan, meski pengguna mesin jahit itu kebanyakan para perempuan, tapi di Kudus sendiri usaha jual beli mesin jahit masih didominasi kaum Adam.

Endang Setiyoningsih sedang memperbaiki mesin jahit. Foto : Rabu Sipan

“Bahkan di Kudus, saya itu satu – satunya perempuan yang menekuni usaha jual beli mesin jahit,” ujar Endang kepada betanews.id, Selasa (9/6/2029).

Baca juga : Beberapa Kali Lamaran Kerja Ditolak, Naini Kini Sukses dengan Usaha Menjahit

Perempuan warga Desa Pedawang itu mengatakan, sebenarnya toko mesin jahit miliknya yang bernama Singer itu dulu peninggalan suaminya. Toko tersebut dirintis sejak 2002. Namun sejak tahun 2012 suaminya meninggal dunia. Sehingga dia mau tidak mau harus meneruskan usaha tersebut untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

“Dulu saya juga ibu rumah tangga biasa. Ketika suami saya meninggal, saya pun harus meneruskan usaha tersebut. Awalnya jujur saya bingung, karena saat itu saya tidak tahu tentang mesin jahit,” ujarnya kemudian mengangkat panggilan telepon.

Setelah selesai menelepon, ia pun melanjutkan memberi keterangan. Untuk melanjutkan usaha mesin jahit tersebut, dia kemudian berinisiatif untuk bertanya perihal mesin jahit kepada teman almarhum suaminya. Dia bersyukur, para teman almarhum sangat baik, dan selalu memberi jawaban saat ditanya.

“Bahkan, dulu saat pekerja saya kebingungan memperbaiki mesin jahit, saya yang bertanya kepada teman almarhum suami saya. Kalau sekarang pekerja saya sudah ahli semua tentang mesin jahit,” jelasnya.

Baca juga : Sempat Terpuruk Usaha Baksonya Bangkrut, Resa Bangkit Jual Sembako dan Lauk Segar

Dia mengatakan, toko mesin jahit Singer yang berada di Ruko Ngasirah Nomor 2, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus itu, melayani jual beli mesin jahit berbagai merk dan jenis. Di antaranya, merk Butterfly, Singer, Typical dan lain sebagainya. Di tokonya juga melayani servis mesin jahit, serta menyediakan aneka spare part mesin jahit.

“Saya bersyukur, meski awalnya kebingungan untuk melanjutkan usaha toko mesin jahit, tapi dengan kegigihan, akhirnya saya bisa melewati masa – masa sulit itu. Dan yang paling saya syukuri para pelanggan mendiang suaminya tetap percaya kepada toko mesin jahit Singer,” tutup perempuan yang kini sudah menikah untuk kedua kali.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Susu Moeria, Penuhi Kebutuhan Susu Warga Kudus Sejak 1938

0
Susu Moeria yang sudah berdiri sejak 1938buntuk memenuhi kebutuhan susu warga Kudus. Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Lampu-lampu warna kuning mulai dinyalakan di Cafe Susu Moeria, Senin (8/6/2020) sore. Alunan musik pop yang diputar pelan-pelan, menambah kenyamanan pelanggan yang menikmati berbagai makan dan minuman dari olahan susu di tempat berkonsep semi indoor itu.

Kafe yang terletak di Jalan Pemuda Nomor 64, Desa Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus itu memang cukup legendaris. Berawal dari sebuah peternakan susu perah pada 1938, kini tempat itu berkembang menjadi kedai dengan konsep kekinian.

Dua orang pegawai sedang menurunkan susu di Kafe Susu Moeria. Foto: Titis Widjayanti.

Owner Cafe Susu Moeria Felicia Natali Yuwono (29) mengatakan, awalnya, usaha susu yang sudah masuk generasi ke empat itu dijajakan lewat sistem loper menggunakan sepeda kayuh dan sepeda motor. Melihat usaha yang terus berkembang, pihak keluarga kemudian berisiatif untuk mendirikan kafe susu pada 1996 di tempat yang sama.

“Awalnya memang peternakan susu perah. Kami punya sekitar 125 ekor sapi. Dulu, pada tahun-tahun (1938) itu. Kami menjual susu, ya, melalui loper. Yang pakai sepeda ontel sama sepeda motor. Terus akhirnya bisa buka kedai susu kecil-kecilan itu tahun 1996. Dari sana, pelanggan mulai bisa meminum susu di tempat,” ungkap Felicia.

Baca juga: Kafe Susu Moeria, Tempat Nongkrong Sehat Ala Anak Muda Kudus

Seiring berjalannya waktu, kedai tersebut mulai besar dan berinovasi. Dikatakan Felicia, sudah hampir tiga tahun terakhir konsep milenial mulai digunakan. Sedangkan untuk peternakannya sendiri, sejak 2018 mulai dipindahkan ke Kecamatan Kaliwungu. Hal ini berdasarkan usulan dan saran dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus.

“Sekitar 2017, konsep kedai (kembali) diubah, menjadi lebih milenial. Ya, mengikuti zaman, lah. Terus kalau peternakannya sendiri, 2018 itu kami pindahkan ke Kaliwungu. Hal itu terkait limbah dan beberapa saran lain yang muncul dari berbagai pihak. Termasuk pemerintah kota,” papar dia.

Baca juga: Sadis Abis, Warung Geprek Pertama di Kudus

Dikatakan Felicia, meski konsep jualan terus berubah, namun dia masih terus mempertahankan ciri khas produk yang berbahan susu perah murni dan tanpa bahan pengawet.

“Kami punya pelanggan dari berbagai kota. Seperti Pati, Jepara, Demak, hingga Semarang. Mereka biasanya datang saat hari libur. Selain bisa dinikmati sambil nongkrong di tempat, produk kami juga bisa dipesan melalui ojek online (Ojol),” tandas Felicia.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Sempat Dikabarkan Menghilang, Dirut PDAM Kudus: ‘Saya Tidak Kemana-Mana’

0
Direktur PDAM Kabupaten Kudus Ayatullah Humaini saat menemui awak media di Kantor PDAM Kudus, Sabtu (13/6/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Kudus, Ayatullah Humaini menegaskan, bahwa dirinya tidak menghilang atau bahkan melarikan diri.

Hal tersebut seiring dengan pernyataan Plt Bupati Kudus HM Hartopo saat Dirut PDAM susah dihubungi. Perihat tersebut terkait dengan terjadinya operasi tangkap tangan (OTT) pegawai PDAM yang dilakukan penyidik Kejaksaan Negeri Kudus.

“Saya tidak ke mana-mana, jenengan saja yang tidak tahu saya dimana,” tuturnya saat dihubungi lewat sambungan telepon, Sabtu (13/6/2020) pagi.

Menurutnya, dirinya belum tahu persis kronologi pasti terjadinya OTT yang melibatkan stafnya tersebut.

“Saya tidak tahu kejadian tersebut. Saat itu saya berada di Semarang sedang ada acara,” jelasnya.

Baca juga: Pegawai PDAM Kudus Jadi Tersangka Jual Beli Jabatan, Kejari Sita Rp 65 Juta Saat OTT

Namun sebagai direktur PDAM Kabupaten Kudus, dirinya meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi. Dirinya memastikan pelayanan di PDAM akan berjalan normal seperti biasanya.

“Saya pastikan tidak akan mengganggu pelayanan apapun. Terutama untuk pelanggan yang kami sangat cintai,” tuturnya.

Saat dimintai pendapat kasus OTT yang melibatkan pegawainya, dirinya menuturkan tidak bisa berpendapat banyak.

“Karena sudah masuk ranah hukum. Saya tidak dapat berpendapat banyak. Ikuti saja dengan baik dan sesuai dengan proposional,” ungkapnya.

Humaini menuturkan, dirinya nanti akan dipanggil pihak Kejaksaan Negeri Kudus pada hari Senin (15/6/2020) untuk dimintai jadi saksi.

“Saya pastikan hadir jika diberikan kesehatan. Saya akan ikuti prosesnya dengan baik,” tuturnya.

Baca juga: Dikabarkan Menghilang, Hartopo Tak Bisa Hubungi Direktur PDAM Kudus

Sebelumnya diberitakan, telah terjadi OTT pegawai PDAM Kudus pada Kamis (11/6/2020) saat berada di jalan raya pada pukul 14.30.

Kejaksaan sudah menetapkan oknum pegawai inisial T menjadi tersangka pada Jumat (12/6/2020), atas dugaan telah menerima uang terkait penerimaan dan pengangkatan pegawai di lingkungan PDAM Kudus.

Selain menyita barang bukti berupa uang Rp 65 juta, pihak kejaksaan juga mengamankan beberapa buku tabungan, handphone dan sepeda motor yang digunakan tersangka. Selain itu, kejaksaan juga menyita beberapa komputer, berkas dan menyegel dua ruangan di kantor PDAM.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Dapat Prioritas saat PPDB, Anak Nakes di Jateng Diberikan Jalur Khusus

0
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA/SMK tahun 2020 di Jawa Tengah dijadwalkan akan dimulai pada 17-25 Juni ini. Terkait hal ini, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo memberikan jalur khusus bagi anak-anak tenaga kesehatan dalam proses PPDB itu. Dengan jalur khusus itu, maka nantinya anak-anak tenaga kesehatan mendapatkan prioritas saat mendaftar di sekolah yang diinginkan, meskipun berada di luar zonasi sekolah.

“Mereka yang terkait dengan ini (penanganan Covid-19) akan mendapat prioritas. Lewatnya jalur khusus. Afirmasi,” kata Ganjar usai mengikuti rapat paripurna di Gedung DPRD Jateng, Jumat (12/6/2020).

Pemberian jalur khusus itu, lanjut Ganjar, dilakukan sebagai bentuk apresiasi kepada para tenaga kesehatan di Jateng. Mereka yang telah berjuang dalam penanganan Covid-19, menurut Ganjar layak untuk diberikan apresiasi.

“Ini salah satu cara kami mengapresiasi kepada mereka seluruh pemangku kepentingan yang sudah berjuang melawan Covid-19 di Jawa Tengah,” tegasnya.

Baca juga : PPDB 2020 Tingkat SMA Sederajat Gunakan Nilai Rapor, Aturan Zonasi juga Berubah

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Yulianto Prabowo mengatakan, saat ini pihaknya sedang mendata anak-anak tenaga medis yang lulus dari kelas IX SMP/MTs. Nantinya, data yang ada itu akan diverifikasi dan diajukan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng agar bisa masuk jalur afirmasi itu.

“Total data yang ada saat ini sekitar 1.600 anak. Tapi nanti akan kami verifikasi satu-satu, karena syarat mereka mendapatkan jalur afirmasi ini adalah anak-anak tenaga kesehatan yang benar-benar menangani Covid-19,” kata Yulianto.

Sejumlah persyaratan, lanjut dia, harus dipenuhi untuk bisa masuk jalur afirmasi tersebut. Di antaranya adanya surat keterangan (SK) yang memerintahkan orang tua calon siswa bertugas menangani Covid-19.

“Di antaranya ada SK itu, termasuk syarat lainnya. Sedang kami verifikasi saat ini,” ucapnya.

Di lain sisi, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng, Padmaningrum mengatakan, ada beberapa jalur afirmasi dalam pelaksanaan PPDB SMA/SMK dan SLB 2020. Selain untuk anak-anak tenaga kesehatan, ada juga kuota untuk siswa miskin, anak berkebutuhan khusus (ABK), siswa berprestasi dan atlet.

Baca juga : Tiga SMP Negeri di Kudus Ini Tidak Lakukan PPDB Online

“Afirmasi banyak untuk siswa dari keluarga miskin terus di panti asuhan dan prestasi-prestasi tadi. Dan di afirmasi tadi, ada untuk orang tua yang garda terdepan menangani Covid-19, baik petugas kesehatan, perawat, dokter, sopir ambulance kan ada surat keputusan di dinas kesehatan. Kita fasilitasi mereka berjuang untuk pemberantasan Covid-19 kita fasilitasi dalam afirmasi,” tutur dia.

Adapun proses penerimaan PPDB SMA/SMK sederajat di Provinsi Jateng tahun ini berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya. Salah satunya adalah acuan penerimaan tidak lagi menggunakan nilai ujian nasional (UN), melainkan menggunakan nilai rapor siswa dari semester 1-5.

Sistem zonasi juga ada perubahan. Jika tahun lalu kuota zonasi ditetapkan sebanyak 80 persen, tahun ini zonasi ditetapkan 50 persen. Sisanya digunakan untuk jalur prestasi 30 persen, jalur afirmasi 15 persen dan jalur perpindahan orang tua 5 persen.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Simak Tips dan Trik Merawat Kamera dari Yuka Kamera

0
Khoirul Umam menunjukkan dua kamera yang disewakan melalui YUka Kamera di kediamannya, Selasa (9/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Khoirul Umam (25) sedang membersihkan lensa kamera di rumahnya yang berada di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, siang itu. Kamera-kamera yang sudah dibersihkan, kemudian ditata di etalase kaca yang tak jauh dari jangkauannya. Di rumah bercat kuning itu, Umam menjalankan bisnis sewa dan jual beli kamera yang digelutinya selama kurang lebih tiga tahun ini.

Sambil beraktivitas, Umum menceritakan perjalanan bisnisnya di bidang kamera kepada betanews.id. Termasuk cara merawat kamera agar bisa digunakan dalam waktu lama.

Khoirul Umam menunjukkan kamera yang disewakan melalui YUka Kamera di kediamannya, Selasa (9/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Pengalamannya selama bertahun-tahun di dunia kamera, menjadikan Umam paham betul cara merawat kamera yang baik dan benar. Apalagi, selama ini ia menyediakan jasa penyewaan dan jual beli kamera yang mengharuskan kamera dalam kondisi baik.

Baca juga: Bisnis Kameranya Ramai, Modal Awal Umam Hanya Handycam Harga Sejuta

Menurut Umam, perawatan kamera dan semua peralatannya sebenarnya cukup simpel. Sebagai pengganti Dry Box Kamera, ia menggunakan etalase kaca di dalam kamar. Alasan Umam adalah karena dengan etalase kaca yang cukup besar, mampu memberikan ruang untuk seluruh kamera dan peralatan lainnya.

“Jadi karena pakainya etalase, saya menggunakan serap air. Ini fungsinya supaya ruang etalase tetap kering dan tidak lembab. Jadi serap air ini bentuknya kayak silica gel. Selain itu, saya gunakan lampu neon hijau untuk penghangatnya. Karena nanti kalau lembab, bisa membuat lensa jamuran,” papar Umam.

Baca juga: Tak Diizinkan Sekolah Fotografi, Albert Pernah Kabur dari Rumah

Setelah itu, pemuda ramah itu menunjukkan cara membersihkan kamera. Beberapa alat yang digunakan seperti blower, kain micro fiber, cairan pembersih lensa, dan lenspen. Dikatakannya, selain penyimpanan yang tepat, kamera dan lensa perlu sering dibersihkan dari debu-debu. Lalu untuk di tempat-tempat tertentu ia juga memberikan tips demi menjaga kamera.

“Misalnya saat ke gunung atau dataran tinggi yang lembab. Kalau bisa, kamera hanya digunakan saat memang mengambil momen. Artinya hindari sesering mungkin ditenteng tanpa wadah. Karena kalo basah dan lembab, nanti lensa bisa jamuran dan mempengaruhi kualitas foto. Terus juga usahakan memakai tas khusus yang lebih tebal dan beri silica gel seperti serap air ini,” tukas dia.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Novilia, Gadis Cantik Penjual Pisang Goreng Beromzet Rp 20 Juta Sebulan

0
Novilia menunjukkan produk pisang goreng krispi bermerek Raja Banana Crispy di outletnya, Jumat (12/6/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi utara Jalan Sunan Kudus, Desa Damaran, Kecamatan kota, Kudus, tampak bangunan bercat kuning. Di dalamnya terlihat perempuan berjilbab sedang menggoreng pisang. Sedang di sampingnya, perempuan dengan rambut sepunggung sibuk mencatat pesanan dari pelanggan. Perempuan tersebut adalah Novilia (28), gadis cantik penjual pisang goreng krispi bermerek Raja Banana Crispy.

Seusai menulis pesanan, Novilia berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengatakan, mulai usaha jualan pisang goreng krispi sejak 2018. Sebelum mantap berbisnis pisang, dia terlebih dulu bekerja ikut orang sejak lulus SMA.

Seorang pegawai hendak membungkus produk pisang goreng krispi bermerek Raja Banana Crispy di outletnya, Jumat (12/6/2020). Foto: Rabu Sipan.

“Sebelumnya saya pernah kerja di konter hanya digaji Rp 400 ribu sebulan. Pernah juga jadi sales promotion girl (SPG). Pokoknya dulu itu kerja apa saja, yang penting halal,” ujar Novilia kepada Betanews.id, Jumat (12/6/2020).

Gadis lajang itu mengaku dapat ide usaha saat membeli pisang goreng krispi bersama teman-temannya. Saat mencicipi itulah, Novilia berseloroh kepada mereka, kalau dia bisa membuat pisang krispi yang lebih enak dari yang dibeli itu.

Baca juga: Awalnya Iseng, Gethuk Tengu Buatan Nia Kini Jadi Bisnis Menjanjikan

Selang beberapa hari, dia pun iseng membuatnya dan temannya jadi tester. Benar saja, mereka semua bilang pisang krispi buatan Novilia itu enak.

“Saya sendiri itu gemar masak. Karena dari nenek dan ibu saya itu punya warung. Bisa dibilang keahlian memasak itu keturunan,” ungkap warga Desa Janggalan, Kecamatan Kota, Kudus itu.

Setelah yakin untuk buka usaha, Novilia kemudian memberanikan diri untuk buka pre order pisang goreng krispi. Dalam sehari itu, langsung ada pesanan 20 porsi. Dia pun berinisiatif mengiklankan pisang goreng krispi miliknya di akun Instagram.

“Setelah saya iklan, orderan meningkat dua kali lipat. Tadinya hanya 20 porsi, meningkat jadi 45 porsi sehari,” beber anak terakhir dari tiga bersaudara tersebut.

Dia pun mulai mengembangkan bisnisnya, termasuk ketika ojek online (ojol) masuk Kudus. Waktu itu, dia segera mendaftarkan usahannya untuk menjadi mitra. Sejak saat itu, penjualannya makin stabil dan ia pun nekat sewa tempat di tepi jalan raya.

“Lokasi sebelumnya itu agak di dalam gang. Jadi penjualan hanya lewat ojol saja. Dengan sewa lokasi di tepi jalan raya. Harapan saya, selain dapat order dari ojol juga dapat pelanggan dari orang yang lewat,” paparnya.

Baca juga: 35 Tahun Jadi Primadona, Kunci Sukses Jagung Bakar Paini Ada di Sambal

Benar saja, sejak menjajakan pisang goreng krispi di pinggir jalan raya, penjualannya meningkat pesat. Sebulan omzet penjualan pisang goreng krispinya mencapai Rp 20 juta. Jumlah itu hanya penjualan lewat ojol saja. Belum termasuk pembeli yang datang langsung ke toko.

“Sedangkan omzet dari pembeli yang datang ke toko sekitar Rp 1 juta sehari,” jelasnya.

Menurutnya, itu penghasilan kotor sebelum ada pandemi Corona. Sejak ada wabah itu, orderan Raja Banana Crispy dari ojol turun 50 persen. Namun, pembeli yang datang ke toko masih stabil.

“Semoga saja keadaan bisa kembali normal. Sehingga usaha saya bisa lancar lagi dan pelanggan Raja Banan Crispy makin banyak lagi,” harapnya sambil tersenyum.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Pencairan Insentif untuk 866 Nakes di Kudus Tunggu Verifikasi Kemenkes

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus telah mengirimkan data penerima dana insentif tenaga kesehatan (Nakes) ke Kementrian Kesehatan (Kemenkes), Rabu (10/6/2020) kemarin. Tunjangan tersebut akan diberikan kepada petugas medis yang menangani pasien Covid-19.

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi mengatakan, sejumlah 866 nakes telah lolos verifikasi oleh DKK Kudus. Selanjutnya, pihaknya mengirimkan data tersebut ke Kemenkes.

“Di Kemenkes masih ada lagi proses verifikasi. Jadi ini belum final,” tuturnya, Jumat (12/6/2020).

Andini menjelaskan, total keseluruhan nakes tersebut berasal dari rumah sakit rujukan Covid-19 lini pertama, rumah sakit lini kedua, dan Puskesmas. Menurutnya, untuk nakes yang berasal dari rumah sakit lini ketiga masih dipersiapkan regulasi untuk mendapatkan dana insentif.

Baca juga: Persyaratan Terlalu Berat, Nakes di Kudus Terancam Gagal Dapat Insentif

“Jumlah keseluruhan yang diusulkan ke Kemenkes itu dari RSUD dr Loekmono Hadi, RS Mardi Rahayu dan tujuh puskesmas,” jelasnya.

Disisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus Joko Dwi Putranto menuturkan, besaran insentif yang diberikan setiap nakes berbeda. Untuk dokter spesialis akan mendapatkan uang insentif maksimal sebesar Rp 15 juta. Selanjutnya dokter umum dan dokter gigi Rp 10 juta, bidan dan perawat Rp 7,5 juta, dan tenaga medis lainnya Rp 5 juta. Sementara untuk naskes yang meninggal karena Covid-19 akan mendapatkan uang santunan sebesar Rp 300 juta.

“Besaran dana insentif yang diberikan tidak mutlak. Besaran yang akan diterima oleh nakes nantinya akan berbeda. Hal tersebut sesuai dengan jenis profesi dan jumlah kasus yang ditangani,” tuturnya.

Baca juga: Alat Tes Swab di RSUD Kudus Sudah Bisa Dioperasikan

Joko memberitahukan, untuk nakes yang berada di rumah sakit rujukan Covid-19 lini ketiga, pihaknya masih mempersiapkan regulasi. Ini disebabkan adanya perubahan ketentuan dari surat edaran Kemenkes nomor HK. 02.01/Menkes/347/2020 tentang pelaksanaan pemberian insentif dan santunan kematian bagi tenaga kesehatan yang menangani Covid-19.

Sementara itu, Plt Bupati Kudus HM Hartopo mengatakan, ada dua sumber dana pemberian insentif kepada nakes. Pertama, dana bersumber dari APBN yang nantinya diberikan oleh Kemenkes. Dana insentif yang bersumber dari dana APBN hanya diberikan kepada rumah sakit lini pertama dan kedua.

Lalu yang kedua yakni bersumber dari dana APBD Kabupaten Kudus. Dana tersebut nantinya akan diambilkan dari relokasi anggaran dana tak terduga (TT). Dana insentif ini akan diperuntukkan bagi nakes yang tidak tercover oleh APBN.

“Ini masih dikaji terus. Nanti jika sudah siap, segera kami akan beritahu,” jelasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Kembali Bertambah, Kasus Positif Covid-19 di Kudus Tembus 107

0
Ilustrasi

BETANEWS.ID, KUDUS – Kasus Covid-19 di Kabupaten Kudus kembali bertambah. Pada Jumat (12/6/2020), ada penambahan enam kasus baru terkonfirmasi positif Covid-19. Dengan penambahan kasus baru itu, total menjadi 107 kasus.

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi mengatakan, penambahan enam kasus baru tersebut, dua berasal dari Kabupaten Kudus dan empat dari luar Kudus.

Andini menerangkan, untuk dua kasus dari Kabupaten Kudus, yang pertama adalah seorang laki-laki dengan usia 67 tahun, tinggal di Kecamatan Jati. Pasien tidak memiliki penyakit penyerta serta tidak memiliki riwayat perjalanan dan kontak dengan pasien Covid-19. Yang bersangkutan mulai dirawat di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus sejak 9 Juni.

Kemudian, untuk yang kedua, yakni perempuan usia 36 tahun yang berasal dari Kecamatan Kaliwungu. Pasien memiliki riwayat kontak dengan pasien Covid-19, namun tidak memiliki riwayat perjalanan.

“Sama seperti pasien dari Kecamatan Jati, tanpa penyakit penyerta dan tidak memiliki riwayat perjalanan,” tutur Andini.

Baca juga : Antisipasi Overload, DPRD Kudus Rekomendasikan Penambahan Alat Tes Swab

Sedangkan untuk empat kasus dari luar Kabupaten Kudus, yakni tiga di antaranya dari Kabupaten Demak dan satu dari Jepara. Untuk yang berasal dari Demak, semua laki-laki dengan usia 80 tahun, 57 tahun dan 29 tahun.

“Keseluruhan tanpa penyakit penyerta dan tidak memiliki kontak dengan pasien Covid-19. Namun ketiganya memiliki riwayat perjalanan dari daerah terjangkit. Saat ini mereka dirawat di RSUD dr Loekmono Hadi,” jelasnya.

Selanjutnya, pasien terakhir yang berasal dari Jepara, yakni laki-laki usia 43 tahun. Pasien tanpa penyakit penyerta dan tidak memiliki kontak dengan pasien Covid-19. Namun pasien tersebut memiliki riwayat perjalanan daerah terjangkit virus Corona. “Pasien sekarang dirawat di RSUD dr Loekmono Hadi sejak 7 Juni 2020,” tambahnya.
Andini melanjutkan, dari total 107 kasus tersebut, 41 orang dirawat, 14 melakukan isolasi mandiri, 44 orang sembuh dan yang meninggal 8 orang.

Dengan bertambahnya kasus Covid-19 di Kabupaten Kudus, Andini berharap, masyarakat benar-benar memperhatikan protokol kesehatan. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang menyepelekan, akibat yang akan diterima bersama akan semakin besar.

“Tolong masyarakat jika keluar rumah harus mengenakan masker, lakukan physical distancing, social distancing dan selalu mengkonsumsi makanan bergizi,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -