31 C
Kudus
Rabu, Februari 21, 2024

Antisipasi Overload, DPRD Kudus Rekomendasikan Penambahan Alat Tes Swab

BETANEWS.ID, KUDUS – Komisi D DPRD Kabupaten Kudus merekomendasikan RSUD dr Loekmono Hadi untuk menambah alat Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) yang digunakan untuk tes swab.

Usulan tersebut dikemukakan saat rapat koordinasi dengan RSUD dr Loekmono Hadi di ruang rapat Komisi D DPRD Kudus, Rabu (10/6/2020).

Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Kudus Mukhasiron menuturkan, usulan tersebut diberikan mengingat di Karesidenan Pati hanya Kudus yang memiliki alat tes swab. Hal tersebut memungkinkan kabupaten sekitar akan datang berbondong-bondong untuk melakukan tes swab.

Komisi D DPRD Kudus saat menggelar rapat dengan RSUD dr Loekmono Hadi Kudus, Rabu (10/6/2020). Foto: Imam Arwindra.

“RSUD (dr Loekmono Hadi) pasti nanti akan menjadi barometer. Ini satu hari saja dari kabupaten sekitar sudah datang. Ada dari Kelet (RSUD Rehatta Kelet Jepara) dan RSI (Rumah Sakit Islam Pati),” tuturnya.

Mukhasiron menjelaskan, alat yang sudah tersedia yakni bantuan dari PT Djarum Kudus. Menurutnya, RSUD dr Loekmono Hadi harus menambah satu lagi, agar ketika ada banyak sample tes swab masuk, tidak overload.

Baca juga: Alat Tes Swab di RSUD Kudus Sudah Bisa Dioperasikan

“Kami mendorong untuk melakukan itu. Saya pikir harganya juga tidak terlalu mahal, cuma Rp 2 miliar. Anggaran Covid-19 kita masih banyak,” jelasnya.

Jika terkait masalah tenaga operator, lanjut Mukhasiron, pihak RSUD dr Loekmono Hadi bisa koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus. Menurutnya, Kabupaten Kudus masih banyak tenaga analis yang bisa digunakan.

“Sehari, alat RT-PCR yang sudah ada bisa melakukan 98 sample. Jika bisa tambah, tentu penangan Covid-19 akan semakin cepat,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur RSUD dr Loekmono Hadi Kudus Abdul Azis Achyar menuturkan, pihaknya menerima usulan dari DPRD Kabupaten Kudus. Menurutnya, usulan tersebut bagus agar pelayanan tes swab dimungkinkan tidak overload.

Dirinya juga tidak ingin RSUD dr Loekmono Hadi overload, seperti yang terjadi di Rumah Sakit Nasional Diponegoro Semarang, B2P2VRP Salatiga, BBTKLPP Yogyakarta dan RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang.

“Usulannya memang masuk akal. Namun harus melihat kondisi yang lain. Jangan hanya persoalan tambah mesin saja,” tuturnya.

Baca juga: Persyaratan Terlalu Berat, Nakes di Kudus Terancam Gagal Dapat Insentif

Menurutnya, selain harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 2 miliar untuk alat RT-PCR lengkap, pihaknya juga harus memikirkan sumber daya manusia (SDM).

Saat ini, lanjut Aziz, pihaknya hanya memiliki 11 tenaga kesehatan saja yang mengoperasikan alat tersebut. Menurutnya, 11 orang tersebut pun sudah memiliki banyak tugas.

“Kami hanya punya 11 orang saja. Itu pun sudah mepet. Jadi dua analis penerimaan sampel. Terus dua orang di ruangan ekstraksi. Ruangan tersebut sangat ketat dalam penggunaan APD (Alat Pelindung Diri). Terus dua orang lagi di mesin RT-PCR, sisanya nanti untuk gantian (shift),” jelasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

Imam Arwindra
Imam Arwindrahttps://betanews.id
Jurnalis Beta Media yang sejak awal ikut terlibat dalam pembentukan Seputarkudus.com, cikal bakal Betanews.id.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
6,574PengikutMengikuti
129,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER