Beranda blog Halaman 1823

Berawal Ketika Main ke Pasar, Ridho Dapat Ide untuk Produksi Kandang Jangkrik

0
Muhammad Ridho, Perajin Kandang Jangkrik. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Tiga pria terlihat sibuk di teras sebuah rumah di RT 2 RW 3 Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus. Satu pria tampak sedang membuat lubang pada bahan partikel. Sedangkan dua orang lainnya sedang merapikan partikel menggunakan gunting. Satu di antara pria tersebut yakni Muhammad Ridho (35) perajin kandang jangkrik.

Di sela kesibukannya, pria yang akrab disapa Ridho itu sudi berbagi kisah tentang usahanya. Dia mengatakan, mulai usaha pembuatan kandang jangkrik pada tahun 2013. Dia mengaku, tidak sengaja mendapatkan ide pembuatan kandang hewan yang mampu mengerik tersebut.

Beberapa orang terlihat sedang membuat kandang jangkrik. Foto : Rabu Sipan

“Idenya itu tidak sengaja. Saat saya ke Pasar Johar Kudus, saya melihat kandang jangkrik. Terus saya amati. Dalam batin, saya bisa membuat kandang ini, apalagi bahannya di Kudus banyak,” kenang Ridho kepada betanews.id, Senin (15/6/2020).

Baca juga : Muji Jaya, Toko Sangkar Burung Terlengkap dan Terbesar di Kudus

Sepulang dari pasar, lanjutnya, ia pun mencari partikel sebagai bahan pembuatan kandang jangkrik. Seperti yang di pikirannya, bahan partikel itu banyak di Kudus, apalagi di Kota Kretek terdapat pabrik elektronik besar. Menurutnya, bahan yang dicarinya itu sama dengan bahan untuk pembuatan sound sistem.

“Saya pun dapat partikel itu dari limbah pabrik. Jadi harganya lebih murah. Setelah dapat bahannya, saya pun membuat empat sampel kandang jangkrik,” ungkap pria yang sudah dikaruniai dua orang anak itu.

Sampel tersebut kemudian ia tawarkan ke tengkulak di Pasar Johar Kudus. Ternyata responnya bagus, tengkulak tersebut langsung pesan 500 barang per sampel. Jadi saat itu ada 2 ribu pesanan.

Dia berpikir, ternyata kandang jangkrik laku juga. Kemudian ia pun nekat produksi 4 ribu kandang, dan dipasarkan ke Malang. Dia mengaku sengaja memilih Kota Malang yang tempatnya berada di ujung Jawa Timur, agar nanti saat tidak habis, bisa dipasarkan di kota lainnya sambil perjalanan pulang.

“Tapi alhamdulillah, saat di Pasar Splindet Malang, semua kandang jangkrik saya diborong oleh tengkulak di sana,” ujar pria bertato tersebut.

Baca juga : Sangkar Motif Kejawen Paling Diburu Penghobi Perkutut

Sejak saat itu, tambahnya, sambil menanti order selanjutnya, ia pun produksi lagi serta menawarkannya ke berbagai kota. Dia mengaku pelanggan kandang jangkriknya saat ini lumayan banyak. Pemesan ada dari beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur

Untuk harga, masih kata Ridho, dipatoknya bervariasi, mulai Rp 3 ribu hingga yang termahal Rp 7 ribu per kandangnya. Harga tergantung dari ukuran tinggi kandang. “Saya berharap usaha saya makin lancar, pelanggan dan pemesanan juga makin banyak,” Tutup Ridho.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Tukang Ojek Muria Diminta Kenakan Partisi Portabel

0
Ilustrasi

BETANEWS.ID, KUDUS – Plt Bupati Kudus HM Hartopo menginginkan, agar tukang ojek di kawasan Makam Sunan Muria mengenakan alat partisi portabel. Alat itu digunakan untuk memberikan sekat, antara pengemudi dengan penumpang. Penggunaan partisi portabel tersebut dilakukan, guna menghadapi persiapan new normal atau kenormalan baru.

Hartopo menuturkan, sejak 8 Juni 2020, pihaknya sudah melakukan simulasi persiapan new normal di kawasan Makam Sunan Muria. Dimulai dari penataan tempat parkir, pedagang, hingga lokasi Makam Sunan Muria yang digunakan peziarah untuk berdoa.

Selain itu, tukang ojek yang mengantar para peziarah juga diminta untuk mengikuti protokol kesehatan Covid-19.

Baca juga : Ojek Colo Tutup, Idho : ‘Ini Bertahan Hidup dengan Sisa-sisa Tabungan’

“Jadi, ada sekat di punggung tukang ojek. Nanti bahannya bisa pakai aklirik,” tuturnya saat ditemui di Pendapa Kabupaten Kudus, Rabu (17/06/2020).

Hartopo menjelaskan, partisi portabel yang terbuat dari bahan aklirik tersebut diletakkan pada punggung pengemudi. Secara teknis, bisa sama seperti pengemudi ojek online Grab. “Fungsinya untuk pembatas ketika berboncengan,” jelasnya.

Menurutnya, dirinya sudah berkomunikasi mengenai usulan tersebut kepada Asosiasi Angkutan Sepeda Motor Muria (AASMM). Saat ini, tukang ojek masih proses menabung untuk pengadaan alat tersebut.

“Akibat dari krisis uang kemarin (Covid-19), mereka masih menabung. Aklirik harganya di atas Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu,” tuturnya.

Hartopo menuturkan, selama partisi portabel tersebut belum tersedia, tukang ojek dapat menggunakan face shield dan masker. “Kita standarnya seperti itu. Harus tetap pakai masker,” tambahnya.

Baca juga : Sepekan Makam Sunan Muria Dibuka untuk Simulasi, Begini Situasinya

Sementara itu, satu di antara tukang ojek Makam Sunan Muria, Abdul Rohman menuturkan, tidak keberatan jika harus menggunakan partisi portabel saat bekerja. Menurutnya, dirinya akan mengikuti arahan pemerintah terkait dengan protokol kesehatan Covid-19. “Iya tidak apa-apa. Kami akan ikut. Yang penting bisa bekerja,” tuturnya.

Menurutnya, dirinya akan bingung jika kawasan Makam Sunan Muria akan ditutup seperti yang dilakukan waktu lalu. “Intinya semua protokol kesehatan apapun kami akan ikuti. Itu juga baik untuk kami,” tambahnya.

Ketua AASMM, Shohib pun tidak masalah jika ojek Makam Sunan Muria mengenakan partisi portabel. Menurutnya, usulan tersebut baik untuk kesehatan bersama. “Jumlah ojek Makam Sunan Muria yakni 391 orang,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar Mengaku Dapat Banyak Titipan Siswa di PPDB Online

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menegaskan untuk tidak memanfaatkan praktik kolusi dalam proses PPDB online tahun ini. Bahkan, anak-anak hendaknya diajarkan berintegritas serta jujur dalam mengikuti proses pendaftaran sekolah.

“Sekarang ini banyak yang titip ke saya, banyak sekali alasane, tetek-bengek (macam-macam) jadi satu. Intinya pokoke piye carane masuk. Jadi sebenarnya kita mengedukasi, enggak usah kolusi, ikuti saja aturan,” kata Ganjar di kompleks kantor Gubernur Jateng, di Kota Semarang, Kamis (18/6/2020).

Apa yang disampaikan Ganjar ini muncul setelah adanya warga yang bertindak kurang bijak saat menyertakan berkas PPDB daring. Seperti kartu keluarga (KK) yang tidak sesuai atau masalah KK lain yang banyak ditanyakan masyarakat.

“Ketentuannya KK satu tahun. Maka satu tahun silakan diurus. Dan ternyata banyak orang yang kurang sekian bulan atau tidak satu tahun, dikhawatirkan ini modus mendekati sekolah,” singgungnya.

Baca juga: PPDB Daring Hari Pertama Banyak Dikomplain, Ganjar Sidak Kantor Disdikbud

Dia melihat, isu KK memang seolah sudah lama disiapkan. Misal KK bisa ikut saudaranya dulu atau kost dulu yang dekat dengan sekolah. Bahkan saat ini ada pula masyarakat yang ditawari surat kesehatan hingga surat keterangan lainnya. Oleh karena itu, Ganjar mempersilakan warga untuk menghubungi hotline yang tersedia di sistem online PPDB.

“Yang penting, ajari anak-anak jujur, berikan mereka data yang benar, dan ajari berintegritas. Karena kalau masuknya saja dengan cara tidak benar, ya enggak baik,” tegasnya.

Hal lain yang disoroti Ganjar adalah surat pindah tugas kerja orang tua yang bisa disertakan dalam pendaftaran. Hanya nanti semua akan diverifikasi lebih dulu.

Baca juga: Dapat Prioritas saat PPDB, Anak Nakes di Jateng Diberikan Jalur Khusus

“Tinggal pindah beneran atau tidak, kita verifikasi. Sebenarnya verifikasi KK, verifikasi pindah, dan sebagainya itu memang sering kali tidak clear,” sambung Ganjar.

Saat ini, masyarakat juga tak perlu khawatir saat mendaftar. Sebab, akses NIK yang semula hanya 300 ribu per hari, kemarin sudah ditambah kapasitasnya menjadi 1 juta per hari.

“Enggak ada kendala. Servernya juga enggak ada kendala,” tutup Ganjar.

- advertisement -

Simulasi Selesai, Pembukaan Makam Sunan Muria dan Taman Sardi Tunggu Hasil Evaluasi

0
Pembukaan Taman Sardi masih menunggu hasil evaluasi dari pemerintah. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah orang tampak berbincang-bincang di Aula Graha Muria Colo, Rabu (17/6/2020). Satu diantara mereka adalah Mutrika (53), Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, yang baru saja mengikuti rapat evaluasi simulasi pembukaan wisata Makam Sunan Muria dan Taman Sardi. Kepada betanews.id, dia sudi berbagi penjelasan tentang hasil rapat tersebut.

Menurutnya, hasil rapat evaluasi itu belum ada keputusan, karena masih menunggu hasil penilaian organisasi perangkat daerah (OPD) yang berhak menilai. Nantinya penilaian itu akan ditindaklanjuti Gugus Tugas Covid-19 untuk memberikan rekomendasi kepada Bupati Kudus.

Mutrika, Kabid Pariwisata pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus. Foto : Ahmad Rosyidi

“Jadi ini masih belum tahu hasilnya, kami masih menunggu penilaian OPD. Jadi dari Dinas tidak punya wewenang memutuskan. Nanti dari gugus tugas yang akan memberi rekomendasi, dan bupati yang memiliki kewenangan,” ujarnya.

Baca juga : Sepekan Makam Sunan Muria Dibuka untuk Simulasi, Begini Situasinya

OPD yang akan memberikan penilaian evaluasi di antaranya Forkopimcam, polsek, koramil, Satpol PP dan petugas kesehatan. Penilaian tersebut akan dilaporkan kepada Gugus Tugas Covid-19 dan dilanjutkan rekomendasi kepada Bupati Kudus.

Dalam pembukaan tempat wisata nantinya, para pelaku wisata dan wisatawan harus bersama-sama untuk komitmen menerapkan protokol kesehatan. Wajib menggunkan masker, cuci tangan dan menjaga jarak. Diperlukan kesadaran dari semua pihak untuk menjalankan new normal di tempat wisata.

Ia katakan, selama sepekan simulasi, protokol kesehatan sudah berjalan dengan baik. Meski ada masukan terkait phisical distancing, menurutnya itu hal yang wajar dan menjadi PR bersama.

“Untuk phisical distancing ini memang cukup sulit. Coba kalau mau foto, pasti masih reflek berdekatan. Saat antre juga, kebiasaan untuk berdesakan masih sering terbawa. Jadi ini menjadi PR kita bersama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat,” ungkapnya.

Sambil menunggu hasil evaluasi, pihaknya akan melakukan sosialisasi kepada pelaku pariwisata. Sehingga saat dibuka dengan new normal tempat-tempat wisata di Kudus sudah siap. Untuk menyiapkan sarana dan prasarana kesehatan, tempat yang bersih melakukan protokol kesehatan dengan kenormalan yang baru.

Baca juga : Tugu Pete, Ikon Baru Penambah Keelokan Taman Sardi

Sedangkan menurut Mochamad Destari Andryasmoro (38), Kepala Desa Colo, simulasi di sana berjalan dengan baik dan sudah taat peraturan. Dengan adanya simulasi itu, pedagang, tukang ojek maupun pengunjung jadi lebih kondusif.

“Pengunjung lebih nyaman karena lebih tertib. Saya lihat tukang ojek juga lebih tertib, tidak saling berebut. Parkir juga tidak ada masalah, protokol kesehatan semua sudah dijalankan. Saya yakin para wisatawan ingin datang dengan sehat dan pulang juga dengan sehat, jadi sama-sama menjaga,” ungkapnya.

Dia juga berharap, ke depan imbauan menaati protokol kesehatan dengan pengeras suara yang difasilitasi dinas bisa lebih sering diputar. Hal itu agar pelaku wisata dan wisatawan tidak lalai, karena diingatkan terus menerus.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ribuan Gamer Ikut Perang dari Rumah di National Esport Java Governor Cup 2020

0
Peserta National Esport War From Home Central Java Governor Cup 2020 saat bertanding. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Ribuan gamer Mobile Legend dari berbagai penjuru Tanah Air bertanding di National Esport War From Home Central Java Governor Cup 2020. Event yang digelar sejak Rabu (17/6/2020) sampai Minggu (21/6/2020) itu bakal merebutkan total hadiah Rp 30 juta rupiah.

Ketua Penyelenggara Ibrahim mengatakan, sejak dibuka pada awal Juni lalu, jumlah pendaftar di ajang yang menggandeng Gmedia itu telah melebihi ekspektasi.

“Total ada 1.024 tim atau sekitar 5.000 gamer yang mengikuti ajang ini. Padahal target awal kami hanya 300 tim atau 1.500 gamer,” kata Ibrahim, Kamis (18/6/2020).

Baca juga: Ganjar Gelar Kompetisi Mobile Legend War From Home Berhadiah Rp 30 Juta

Ajang ini banyak menarik minat, lantaran lombanya bisa diikuti dari rumah masing-masing. Makanya, lombanya sendiri dilabeli war from home untuk mendukung gerakan di rumah aja selama pandemi Covid-19.

“Di hari pertama kemarin telah berlangsung tiga kali pertandingan. Pertandingan perdana oleh 1.024 tim, dilanjutkan pertandingan 512 besar, dan 256 besar,” katanya.

Untuk hari kedua ini, tim yang bertanding bakal merebutkan tiket ke 128 besar yang berlanjut pada 64 besar. Mulai Jumat (19/6/2020) besok, pertandingan akan dilanjutkan babak 32 besar sampai grand final. Pertandingan tersebut bakal ditayangkan secara live streaming di channel Youtube Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

“Minatnya esport di kalangan milenial kan sangat besar. Apalagi banyak gamer yang tidak bisa mengikuti ajang ini. Sebagai obatnya, mereka bisa nyimak secara online di channel Gubernur Jateng,” katanya.

Baca juga: K-Plug, Alat Perekam Canggih Buatan Warga Kudus Diminati Musisi Mancanegara

Bahkan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga bakal turut berlaga di ajang tersebut dengan melakoni pertandingan persahabatan melawan peserta pemenang dengan viewer terbanyak.

“Untuk kalian yang tidak ikut, ayo tonton keseruannya di channel Youtube saya, Ganjar Pranowo mulai tanggal 19, 20 dan 21 Juni. Saya juga akan main lho, melawan tim pemenang pertandingan dengan viewer terbanyak. Ok bro? Jangan lupa nonton ya,” kata Ganjar melalui video yang dia unggah di akun Instagramnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Cara Siswa SD Pangudi Luhur Rayakan Kelulusan dengan Berdonasi

0
Beberapa perwakilan siswa dari SD Pangudi Luhur menyerahkan donasi untuk penanganan Covid-19 kepada Ganjar Pranowo. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – SD Pangudi Luhur punya cara tersendiri untuk merayakan kelulusan siswa pada tahun 2020 ini. Di tengah pandemi ini, pihak sekolah lebih memilih merayakan kelulusan dengan berdonasi untuk penanganan Covid-19. Donasi tersebut berupa 500 paket sembako hasil yang dikumpulkan dari sekitar 150 siswa kelas VI. Donasi diterima langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang juga memberikan pujian dan apresiasi kepada siswa.

Kepala SD Pangudi Luhur, Agustinus Marjito mengatakan, donasi ini merupakan pengganti dari kehendak anak-anak merayakan kelulusan kelas VI. Pilihan untuk memberikan donasi tersebut ada setelah melihat kondisi saat ini serta keinginan dari para siswa dan orangtua siswa.

“Jadi dana yang sudah terkumpul kami donasikan ke pemprov untuk penanganan Covid-19. Berupa bahan makanan pokok seperti beras, minyak, gula, dan sebagainya,” ujarnya saat mendampingi perwakilan Kelas VI SD Pangudi Luhur Bernadus menyerahkan bantuan di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kamis (18/6/2020).

Baca juga : Ganjar Pertimbangkan Pembukaan Sekolah Kembali, Siswa Akan Duduk Sendiri-Sendiri

Agustinus menambahkan, donasi tersebut merupakan cara SD Pangudi Luhur Bernadus untuk mengembangkan sikap peduli anak-anak kepada orang tuanya dan kepedulian sosial kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Ini paling penting bagi anak-anak kita di masa yang akan datang, mengembangkan sikap peduli,” ungkapnya.

Di antara perwakilan siswa kelas VI yang hadir dalam acara penyerahan donasi tersebut adalah Nathan, Caca, Andrea, dan Charles. Mereka juga mendapat kesempatan untuk berdialog langsung dengan gubernur. Di antara mereka, saat ditanya mengenai cara agar tidak terkena Covid-19 juga terlihat sudah memahami bagaimana pentingnya menjaga jarak, makan makanan sehat, pakai masker, dan cuci tangan pakai sabun.

Ganjar yang menerima langsung donasi tersebut menyampaikan apresiasi dan pujian kepada para siswa kelas VI yang baru lulus tersebut. Menurut Ganjar, donasi ini merupakan suara anak-anak yang memberikan semangat. Bagaimana anak-anak memindahkan dari yang biasanya pesta kemudian dikumpulkan dan menyumbang.

“Mudah-mudahan ini menjadi bagian dari semangat anak-anak yang hebat untuk kita saling mendukung, saling menguatkan. Agar hubungan di antara kita dengan saudara-saudara kita yang lain jauh lebih dekat,” katanya.

Baca juga : Masuk Zona Hijau, Sekolah di Rembang dan Kota Tegal Sudah Bisa Buka

Ganjar juga berpesan kepada pihak sekolah untuk tetap bersabar dan tidak tergesa-gesa sekolah dulu. Ia menyarankan agar dilakukan penataan dan menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan sesuai protokol kesehatan.

“Memang anak-anak ada yang bilang sudah bosan di rumah. Maka saat ini dukungan guru dan orang tua sangat penting agar anak-anak tidak bosan. Guru juga sebisa mungkin secara random berkomunikasi dengan siswa, ditelepon satu-satu. Ini tugas guru dan orang tua untuk memberikan pemahaman kepada anak,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Tradisi Resik-Resik Sendang, Wujud Syukur Warga Wonosoco Atas Berkah Alam

0
Dalang Sutikno saat memainkan sebuah lakon Wayang Klithik di acara Tradisi Resik-Resik Sendang di Desa Wonosoco, Sabtu (13/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Sutikno (46) terlihat begitu lincah memainkan Wayang Klithik di sebuah panggung mini. Para niaga yang berada di belakangnya terdengar mengalunkan musik mengikuti alur cerita yang dilakonkan. Tak jauh dari tempatnya mendalang, beberapa penduduk setempat terlihat menikmati pertunjukan yang dilangsungkan setahun sekali itu.

Pertunjukan Wayang Klithik tersebut merupakan bagian dari tradisi Resik-Resik Sendang Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus yang dilaksanakan, Sabtu dan Minggu (13-14/6/2020).

Dalang Sutikno saat memainkan sebuah lakon Wayang Klithik di acara Tradisi Resik-Resik Sendang di Desa Wonosoco, Sabtu (13/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Sutikno menjelaskan, tradisi tersebut merupakan bentuk syukur warga setempat atas berkah alam dan hasil bumi. Pelaksanaanya mengikuti tanggal perhitungan Jawa, yakni Sabtu Kliwon dan Minggu Legi di Bulan Apit (Dzulqo’dah). Selama dua hari, warga setempat mengadakan kirab di dua sumber mata air yang ada di desa itu.

Baca juga: Wayang Klithik, Warisan Budaya Penanda Berdirinya Desa Wonosoco

Menurutnya, ada tiga kegiatan wajib yang dilakukan. Pada Kamis Pon, terdapat penyembelihan kambing dan penanaman kepala kambing dan kaki kambing. Lalu Sabtu Kliwon resik-resik Sendang Dewot dan pagelaran Wayang Klithik. Kemudian di Hari Minggu Legi ada resik-resik Sendang Gading dan pagelaran Wayang Klithik juga.

“Nah, untuk menghormati dua penghuni sumber mata air itu, tradisi ini kami lakukan tiap tahun. Tradisi diakhiri dengan syukuran bersama yang dikenal dengan sebutan bancakan,” ungkap dia.

Menurut pria yang sudah mendalang selama 10 tahun itu, tradisi Resik-Resik Sendang mulai diadakan bersamaan dengan berdirinya Desa Wonosoco, termasuk juga kemunculan Wayang Klithik. Sebagai kesenian tradisi, selanjutnya Wayang Klithik menjadi pengiring saat ada ritual budaya dan tradisi masyarakat.

“Tradisi ini untuk melestarikan budaya. Sudah dimulai sejak berdirinya Desa Wonosoco. Jadi ceritanya dua sendang yang kami bersihkan itu namanya Sendang Dewot dan Sendang Gading. Dua sumber mata air yang ditemukan oleh Pangeran Kajoran saat melawan penjajah dulu,” papar Sutikno.

Baca juga: Menyusuri Sejarah Berdirinya Masjid Jami’ Nganguk Wali

Khusus di masa pandemi Covid-19, lanjut Sutikno, tradisi tersebut tetap dilaksanakan dengan penyesuaian-penyesuaian. Seperti tiadanya kirab budaya yang selalu menjadi bagian acara. meskipun diadakan dan masuk dalam zona hijau, warga sepakat untuk tidak mengundang pihak luar desa. Selain itu, mereka juga menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker dan penyediaan hand sanitizer.

“Kalau tahun ini memang cukup berbeda. Tidak ada kirab, karena kondisi semacam ini, ya. Bahkan ini sebenarnya sifatnya intern. Meskipun kami masuk wilayah hijau, tapi kami tetap masih waspada. Selain itu, kami juga tetap memakai protokol kesehatan,” tukas dia.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Temui Ganjar, Hanung Bramantyo Cerita Rencana Syuting Gatotkaca di Kota Lama

0
Hanung Bramantyo menemui Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Rabu (17/6/2020). Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Hanung Bramantyo berencana memulai syuting film terbarunya berjudul Gatotkaca di Semarang, Agustus 2020. Film tersebut mengisahkan suasana peperangan Mahabarata dengan setting masa kini.

Rencana pengambilan gambar pertama kali sejak Pandemi itu dia paparkan kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Rabu (17/6/2020).

Film tersebut, kata Hanung mestinya selesai pada April silam. Namun karena Corona, rencana syuting beberapa adegan dia urungkan, salah satunya syuting adegan yang memanfaatkan Kota Lama Semarang sebagai settingnya.

“Kota lama, karena artistik sekali dan sudah bagus. Jadi cocok. Saya sering bikin film biopik sejarah dan salah satu lokasi favorit di Semarang. Ini film keempat di Semarang,” kata suami Zaskia Adya Mecca itu.

Baca juga: Tak Mempan dengan Keris, Kekebalan Cakil Luntur Karena Disinfektan

Untuk mengatasi syuting di tengah Pandemi, Hanung mengatakan telah menyiapkan protokol kesehatan, bahkan dia mengaku telah membuat prototipe untuk panduan seluruh kru maupun para pemeran.

Khusus untuk kru, lanjut Hanung, mereka harus pakai masker, hand sanitizer, jaga jarak dan tidak bersentuhan. Hanung juga menerapkan pemisahan pemain yang berusia 50 tahun ke atas, termasuk juga adanya rapid test.

“Kami minta arahan, selain pemangku pemerintahan juga sebagai tokoh yang konsen banget di gerakan new normal. Ini akan jadi syuting pertama di antara kawan-kawan perfilman dan sebagai prototipe menjalankan syuting di masa pandemi,” beber Hanung.

Hanung lantas membeberkan sedikit cerita film Gatotkaca tersebut.  Terutama pemilihan tokoh Gatotkaca yang menurutnya lebih populer di kalangan anak muda.

“Ini dari kisah Mahabarata, tapi dibikin modern. Khususnya angle Gatotkaca. Gatotkaca, kan lebih ngetren di kalangan anak muda, selain juga Arjuna,” ungkapnya.

Baca juga: Mengenal Band Tanpa Nada, Tak Persoalkan Aliran Musik Agar Leluasa Berkarya

Sementara itu, Ganjar mengatakan, salah satu yang mendapat pukulan telak di tengah pandemi ini adalah industri perfilman. Makanya, dengan kondisi seperti ini, mesti ada peraturan baru di industri kreatif.

Peraturan tersebut minimal dengan menepati protokol kesehatan dan mendapat rekomendasi dari Gugus Tugas. Ketika shooting misalnya, para pemain harus dicek kesehatannya, hand sanitizer mesti disediakan, harus jaga jarak dan pakai masker.

“Ini ada momentum bagus untuk memulai. Temen-temen di film kan kreatif-kreatif itu, pasti bisa lah menyesuaikan dan memang harus kita mulai,” tutup Ganjar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Nasib Omah Kapal Jika Nanti Lahannya Dibikin Tempat Usaha

0
Muhammad Bismark Muzahid, ahli waris dari pemilik bangunan Omah Kapal. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Bangunan cagar budaya Omah Kapal terlihat tidak terawat. Bangunan yang berada di Jalan KHR Asnawi, Kelurahan Damaran, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus tersebut penuh dengan tumbuhan liar. Hanya cerobongnya saja yang masih terlihat jelas.

Dengan kondisi Omah Kapal yang tidak terawat, ahli waris dari pemilik bangunan Omah Kapal, Muhammad Bismark Muzahid (53) mengajukan pencabutan dari daftar cagar budaya. Surat tersebut, diakuinya sudah dikirim ke Pemerintah Kabupaten Kudus sejak Desember 2019.

Menurutnya, selain pemerintah tidak memiliki kontribusi apapun, dirinya juga tidak leluasa dalam memanfaatkan lahan sekitar Omah Kapal seluas 8.500 meter persegi.

Baca juga : Omah Kapal, Cagar Budaya yang Kondisinya Dipenuhi Semak Belukar

“Walau untuk usaha, Rumah Kapal tidak dirobohkan. Tapi nanti direstorasi,” tuturnya saat ditemui di kediamannya di Jalan Sunan Kudus, dekat Perempatan Jember, Rabu (17/6/2020).

Mamak, panggilan Muhammad Bismark Muzahid mengungkapkan, dirinya hanya ingin tanah seluas 8.500 meter persegi tersebut bisa dimanfaatkan. Menurutnya, dirinya lebih ingin membangun usaha ketimbang menjualnya.

“Belum tahu nanti untuk apa. Mungkin bisa untuk wisata, hotel dan sebagainya. Karena situasi sekarang tidak menentu, terutama ada Covid-19. Kalau buat usaha nanti yang segmentasinya tepat sesuai di Kudus. Karena Kudus agak unik,” tuturnya.

Selama ini, tutur Mamak, tanah yang berada di sekitar Omah Kapal sudah digunakannya untuk membangun usaha.

Dia menceritakan, tahun 2003, Mamak membangun usaha pabrik kayu di lokasi tersebut. Namun tahun 2016 bisnis tersebut harus berhenti.

Selanjutnya, setelah pabrik kayunya tutup, lokasi tersebut digunakan untuk lokasi parkir peziarah Makam Sunan Kudus.

“Jadi kalau Terminal Bakalankrapyak penuh, peziarah parkirnya di sana (kawasan Omah Kapal). Jadi bisa mobil pribadi dan bus,” jelasnya.

Baca juga : Ahli Waris Ajukan Pencabutan Omah Kapal dari Daftar Cagar Budaya

Selain itu, persis di pinggir jalan, Mamak juga membuat bisnis Apotek. Menurutnya, jika Omah Kapal masih menjadi cagar budaya, pihaknya mau membangun rumah toko (ruko) dan paviliun juga tidak bisa leluasa. “Pasti nanti ada inilah, itulah. Soalnya cagar budaya,” tuturnya.

Sementara itu, Plt Bupati Kudus HM Hartopo berharap, agar Omah Kapal tetap menjadi cagar budaya yang harus dilestarikan. Menurutnya, pihaknya sudah menerima surat dari ahli waris bangunan Omah Kapal.

“Secara pribadi saya ingin Omah Kapal tetap menjadi warisan cagar budaya,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

PPDB Daring Hari Pertama Banyak Dikomplain, Ganjar Sidak Kantor Disdikbud

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menemui wali murid yang konsultasi PPDB daring di Kantor Disdikbud Jateng, Rabu (17/6/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melakukan sidak ke kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah, Rabu (17/6/2020). Sidak itu dilakukan untuk melihat proses Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) daring hari pertama di Jawa Tengah. Kedatangannya itu sekaligus memantau jalannya pendaftaran yang banyak dikomplain dan server error.

Ganjar menjelaskan, beberapa faktor yang membuat server PPDB sempat sulit diakses adalah kuota 300.000 yang disediakan sudah habis pada pada pukul 10.30. Masalah tersebut sudah teratasi dengan penambahan kuota sampai 1 juta yang diajukan kek Kemendagri.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melakukan sidak ke Kantor Disdikbud soal pelaksanaan PPDB daring, Rabu (17/6/2020). Foto: Ist.

“Kedua, ini adalah hari pertama, ternyata masih cepat-cepatan seperti tahun lalu. Maka saya sampaikan jangan cepat-cepat, santai saja, waktunya masih ada. Kita sudah perbaiki sistem,” katanya.

Soal Kartu Keluarga (KK) yang juga banyak dipermasalahkan, Ganjar menjelaskan, aturan tahun ini untuk KK minimal satu tahun. Dalam sidak itu, Ganjar juga menemui para wali murid yang menanyakan aturan tersebut.

Baca juga: Dapat Prioritas saat PPDB, Anak Nakes di Jateng Diberikan Jalur Khusus

“Hampir banyak pertanyaan ke kami soal KK. KK ini satu modus, ingin dapat itu terus dititipkan. Saya ingatkan kalau memang sudah satu tahun, monggo. Tapi ada yang bilang sudah sejak kecil, lho Pak, tapi kita tidak sempat mikir KK, juga ada,” jelasnya didampingi Kepala Disdikbud Jumeri.

Ganjar juga kembali menegaskan terkait integritas dalam PPDB. Orangtua diminta kejujurannya dan tidak bohong dalam menginput data. Menurutnya, ini saatnya para orangtua mengajarkan integritas kepada anak, mulai dari hal mendaftar sekolah.

“Silakan konsultasi, asal jangan bohong. Kalau bohong, nanti ketahuan, ada yang komplain, dan kami verifikasi, maaf ya kami keluarkan. Jadi ini tidak hanya soal mencari sekolah tetapi soal kita belajar berintegritas,” tegasnya.

Baca juga: PPDB 2020 Tingkat SMA Sederajat Gunakan Nilai Rapor, Aturan Zonasi juga Berubah

Terakhir, dalam sidaknya tersebut Ganjar juga mengingatkan kepada petugas Disdikbud untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat yang datang untuk komplain dan konsultasi. Ia juga meminta kepada Kepala Disdikbud untuk menyediakan ruang khusus sesuai dengan protokol kesehatan.

“Tolong nanti sediakan ruangan lengkap dengan pembatas transparan dan tetap bisa jaga jarak. Kalau terlalu dekat kasihan,” tutup Ganjar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Tukar Guling Usahanya Bawa Tuah, Bejo Kini Jadi Juragan Tahu

0
Seorang pekerja sedang menata tahu yang sudah dicetak di tempat produksi milik Bejo Indarto, Kamis (11/6/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa pria paruh baya terlihat sibuk di dalam sebuah bangunan di Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Mereka terlihat berbagi tugas. Ada yang menunggu parapian. Ada juga yang menggiling kedelai, serta dua orang yang mencetak tahu. Sedangkan di gudang kedelai seorang pria mengenakan baju koko sedang sibuk dengan nota. Pria tersebut yakni Bejo Indarto (57) pemilik usaha pembuatan tahu.

Di sela aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Bejo itu sudi berbagi kisah tentang usahanya. Dia mengatakan, mulai merintis usaha pembuatan tahu sejak 1996. Ia mengaku, tidak merintis sejak awal tempat pembuatan tahu tersebut. Usaha itu hasil tukar guling dengan salah satu rekannya.

Seorang pekerja sedang menata wadah yang akan digunakan untuk mencetak tahu di tempat produksi milik Bejo Indarto, Kamis (11/6/2020). Foto: Rabu Sipan.

Dahulu, dia merupakan bakul kedelai dan rekannya yang punya usaha tahu itu adalah pelanggannya. Karena pada tahun 1996 harga kedelai naik tinggi mengakibatkan banyak pengusaha tahu rugi, termasuk rekannya tersebut. Bahkan rekannya tersebut juga masih menunggak pembayaran kedelai miliknya.

“Karena rugi itu, rekannya (berencana) menjual perusahaan tahunya. Namun, karena dia punya sangkutan kedelai sama saya, akhirnya dia berniat menukar guling perusahaan tahu dengan kedelai yang masih belum terlunasi,” ujar Bejo kepada betanews.id, Kamis (11/6/2020).

Baca juga: Bejo Indarto, Satu-Satunya Pembuat Tahu Kacang Hijau di Karesidenan Pati

Diakuinya, nilai harga kedelai yang belum terbayar itu sebenarnya masih kurang untuk membayar perusahaan tahu tersebut. Tapi rekannya itu memberi keringanan, dengan mencicil kekurangannya. Dia pun menyetujuinya, meski saat itu masa-masa susah bagi para pengusaha tahu. Selain itu, dia berpikir, dengan meneruskan usaha, otomatis juga mewarisi pelanggannya.

“Saya mikirnya yang terpenting uangku bisa kepegang. Serta tahu itu banyak yang suka dan setiap hari dibeli orang. Saya juga yakin keadaan pasti akan kembali baik,” ungkapnya.

Usaha tahu yang baru dimulainya itu sebenarnya pernah berhenti produksi selama delapan tahun akibat krisis moneter pada 2000. Saat berhenti itu, dia kembali jadi penjual kedelai.

“Saya berhenti produksi lumayan lama, delapan tahun. Setelah saya rasa keadaan sudah normal. Harga kedelai juga terkendali, saya putuskan mulai produksi lagi tahun 2008 hingga sekarang,” beber Bejo.

Baca juga: Demi Punya Rumah Sendiri, Masruroh Tak Kenal Lelah Produksi Gapit Wijen

Sebenarnya, terang Bejo, saat ada Covid-19 perusahaan tahu juga terkena imbas. Sebab saat ada wabah, negara-negara memberlakukan pembatasan. Sehingga kedelai jadi langka dan mengakibatkan harganya naik. Akibatnya banyak yang rugi. Untuk masalah ini, para pengusaha tahu kemudian sepakat untuk menaikan harga tahu jadi Rp 24 ribu per papan dari sebelumnya Rp 22 ribu.

“Semoga saja Corona cepat hilang. Sehingga dunia usaha bisa kembali normal. Serta kedepannya harga komoditas kedelai selalu terkendali, agar kami para pengusaha tahu bisa bekerja dan dapat hasil,” tutup Bejo.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Ide Teman Pembuka Jalan Sukses Usaha Kerupuk Bandung Enak Rasa

0
Karyawan usaha Kerupuk Bandung Enak Rasa sedang memisahkan kerupuk setelah dijemur, Rabu (10/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa pria tampak sibuk membolak-balik kerupuk yang sedang dijemur di tempat produksi yang berada di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Rabu (10/6/2020). Setelah dianggap kering, kerupuk itu kemudian diangkat dan kemudian dikumpulkan dalam beberapa wadah untuk dilanjutkan ke proses penggorengan.

Aktivitas tersebut merupakan kegiatan harian yang bisa ditemui di usaha Kerupuk Bandung Enak Rasa milik Ahmad Riyadi (39). Sambil memilah-milah kerupuk, Riyadi kemudian bercerita usaha yang telah berusia 22 tahun itu.

Karyawan usaha Kerupuk Bandung Enak Rasa sedang memisahkan kerupuk setelah dijemur, Rabu (10/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Pria yang saat ditemui memakai kaos warna oranye itu menceritakan, bisnis makanan ringan itu sebenarnya dirintis oleh ayahnya. Namun, karena sudah sepuh, ia kemudian dipasrahi untuk meneruskan usaha rumahan itu.

“Bapak dulu penjual kerupuk, tapi ngambil di orang. Terus punya teman orang Pati yang menyarankan untuk produksi sendiri. Orang itu juga yang mengajarkan caranya kepada Bapak. Sejak itu mulai produksi sendiri. Saya pribadi dari 20 tahun lalu sudah ikut kerja. Bantu-bantulah. Sekarang, meskipun Bapak masih ada dan sesekali ngecek ke sini, tapi sudah saya pegang,” ungkap Riyadi.

Baca juga: Siasat Kerupuk Bandung Enak Rasa Bertahan di Tengah Pandemi

Sebelumnya, Kerupuk Bandung Enak Rasa diproduksi di rumahnya, yaitu di Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Setelah pesanan terus meningkat, pihaknya kemudian menyewa rumah di Desa Gribig yang area produksinya lebih luas.

“Akhirnya kami mengontrak di sini sampai saat ini. Karena kalau produksi di rumah terlalu sempit. Sedangkan pelanggan semakin banyak. Otomatis produksi juga menyesuaikan. Kalau menjemur kerupuk, kan butuh ruang yang luas juga. Nah, kalau di rumah tidak ada tempatnya,” papar dia.

Hingga saat ini, Kerupuk Bandung Enak Rasa sudah memiliki banyak pelanggan. Produksi setiap hari pun bisa menghabiskan sampai 5 kwintal tepung tapioka. Jumlah sebanyak itu, dikerjakan oleh delapan karyawan yang kesemuanya laki-laki.

Diakuinya, ada musim-musim tertentu yang membuat produksinya naik dan turun. Yakni ketika musim pernikahan dan musim sehabis lebaran.

Baca juga: Cita Rasa Khas Pisang Goreng di Raja Banana Crispy Jadi Buruan Pembeli

“Kalau pelanggan tetap ada. Ada yang langsung ambil ke sini ada yang kami antar. Kami ada kurir untuk mengantar. Cuma memang, kadang banyaknya produksi itu dipengaruhi sama musim. Kalau musim pernikahan begitu, bisa lebih banyak. Kalau bulan Apit (Dzulqo’dah), produksinya lebih sedikit,” beber dia.

Di tempatnya, Riyadi memproduksi kerupuk dalam dua bentuk, yaitu ukuran kecil dan besar. Warnanya pun ada dua, yakni putih dan kuning.

“Untuk harga, kerupuk per plastik dijual Rp 62 ribu, baik itu kerupuk ukuran kecil maupun besar. Yang membedakan adalah jumlah per butirnya. Untuk yang kecil isinya 1.200, sedangkan yang besar ada 600 buah,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Jika Program SIM Gratis Juga Berlaku di Kudus, 1.692 Warga Berpeluang Bisa Ikut

0
Busono, Kabid Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan dan Pemanfaatan Data pada Dukcapil Kudus sedang menunjukkan data warga yang lahir 1 Juli. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria mengenakan kaca mata dengan masker hitam tampak sedang membuka data penduduk di Kabupaten Kudus. Dia tak lain adalah Busono (56), Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan dan Pemanfaatan Data pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kudus. Sambil menunjukkan layar laptop di hadapannya, dia menjelaskan jumlah data penduduk Kudus yang lahir pada 1 Juli.

Data yang ia tunjukan yakni data warga Kudus yang sudah melakukan perekaman Kartu Tanda Penduduk (KTP). Mulai tahun 1970 hingga 2003, atau usia 17 tahun hingga 50 tahun. Menurutnya, dari rentang waktu tersebut, ada 1.692 warga Kudus yang lahir pada 1 Juli.

“Dari data yang ada di Dukcapil, warga Kudus yang lahir pada 1 Juli dalam rentang waktu mulai tahun 1970 hingg 2003 ada 1.692 warga. Jadi ini usia aktif menggunakan kendaraan, dan sudah melakukan perekaman KTP,” terangnya kepada betanews.id, Selasa (16/6/2020).

Baca juga : Satlantas Polres Kudus Masih Tunggu Intruksi untuk Pembuatan SIM Gratis pada 1 Juli 2020

Jika benar adanya penggratisan pembuatan SIM di Kudus, dia sangat mendukung dan mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, itu hal yang bagus, terobosan baru memberi fasilitas SIM gratis sekaligus memperingati Hari Bhayangkara ke-74.

Dia juga berharap, warga Kudus yang lahir pada 1 Juli bisa memanfaatkan program tersebut. Karena SIM menjadi bagian syarat berkendara, jadi harus ditaati demi kenyamanan dan keamanan berkendara.

“Kalau sudah lengkap syarat berkendara kan lebih tenang. Taati peraturan demi keselamatan diri sendiri dan orang lain,” ujar warga Karangmalang, Gebog, Kudus itu.

Untuk diketahui, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) akan mengadakan program pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) gratis dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Bhayangkara.

Program ini direncanakan akan berlangsung pada 1 Juli 2020 bertepatan dengan HUT Bhayangkara.

Dalam program ini, pembuat SIM tidak akan dipungut biaya pembuatan SIM yang masuk dalam kategori penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Kemudian di antara syarat pembuatan SIM gratis bagi warga adalah mereka yang memiliki tanggal lahir 1 Juli. Kemudian, syarat lain adalah, hanya berlaku untuk kalangan tertentu. Dalam hal ini, kebijakan tersebut tergantung masing-masing daerah.

Baca juga : Pemohon SIM Meningkat, Satlantas Polres Kudus Perketat Protokol Kesehatan

Meski begitu, untuk di Kabupaten Kudus sendiri, program itu belum bisa dipastikan ada. Dalam hal ini, Kasat Lantas Polres Kudus AKP Galuh Pandu Pandega menjelaskan, pihaknya belum menerima surat edaran terkait penggratisan SIM pada 1 Juli 2020 nanti. Meski setiap HUT Bhayangkara memang ada kegiatan bakti sosial, dirinya belum bisa memastikan hal tersebut.

“Jadi ini masih menunggu petunjuk dari pusat terkait SIM gratis. Jadi kami belum bisa memberi keputusan,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Hindari PHK saat Tutup 3 Bulan, Pemilik Taman Sardi Kuras Tabungan

0
Tugu Pisang, salah satu bangunan ikonik Taman Sardi yang selalu ramai dibuat objek foto. Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS –  Sejumlah orang yang hendak masuk Taman Sardi terlihat dihentikan oleh petugas yang berada di pintu gerbang. Mereka kemudian dites suhu badan satu persatu sebelum menuju area parkir. Di tempat parkir, seorang pria paruh baya tampak mengarahkan untuk cuci tangan terlebih dahulu.

Tak lama kemudian, datanglah seorang pria mengenakan sarung dan kaus hitam bergambar tugu pisang di dadanya. Dia adalah Arief Hartawan (48), Pemilik tempat wisata Taman Sardi yang tutup kurang lebih sekitar tiga bulan.

Taman Sardi tampak lengang ketika dibuka untuk simulasi, Sabtu (13/6/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

Dia mengatakan, destinasi wisata yang berada di Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupeten Kudus itu tetap mempekerjakan 35 karyawannya, selama tutup karena pandemi Covid-19.

“Di sini ada 35 orang karyawan, dan semuanya tetap aktif bekerja meski kami tutup. Saya yakin semua terkena imbas dari virus ini, jadi kami berusaha untuk tetap bisa bertahan di masa pandemi. Tabungan semua keluar, entah sampai kapan kami bisa bertahan juga belum tahu,” terangnya kepada betanews.id, Sabtu (13/6/2020).

Baca juga: Tugu Pete, Ikon Baru Penambah Keelokan Taman Sardi

Pria yang akrab disapa Arief itu juga menjelaskan, meski ditutup, Taman Sardi masih butuh perawatan. Agar kapan pun tempat wisata mendapat izin buka, pihaknya sudah siap. Termasuk dalam simulasi pembukaan menggunakan protokol kesehatan.

“Tempat ini kan harus tetap dirawat, dan kami sudah siap buka setiap saat. Seperti saat simulasi seperti ini kami juga sudah menyiapkan semua. Mulai cek suhu badan, tempat cuci tangan dan menyediakan masker jika ada yang mau beli. Karena saat ini wajib memakai masker,” ujarnya.

Menurutnya, selama enam hari simulasi pembukaan tempat wisata di Taman Sardi masih sepi pengunjung. Hal itu dikarenakan Taman Sardi memang lebih fokus pada kegiatan outbound, hiking, camping, dan seminar, bukan pada wisatawan perorangan.

“Fokus kami memang kegiatan, pelanggan tetap, ya seperti sekolah, instansi, atau perusahaan yang membuat kegiatan di sini. Tetapi kami juga menerima dengan senang hati jika ada pengunjung perorangan yang hendak kemari,” jelasnya.

Baca juga: Embung Panguripan Desa Ngemplak Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Air, Ada Area Outbond

Salah seorang karyawan, Luvita Fitriani (21) menambahkan, saat melakukan simulasi, rata-rata pengunjung yang datang sekitar 20 orang. Protokol kesehatan yang diterapkan juga berjalan dengan baik. Semua pengunjung wajib menggunakan masker, cek suhu badan, dan cuci tangan.

“Selain itu jika ada kerumunan juga akan diingatkan. Jadi selama simulasi protokol kesehatan sudah berjalan, dan tiket masuk tidak ada kenaikan. Masih tetap Rp 10 ribu per orang,” tambahnya yang sudah bekerja selama tiga tahun di Taman Sardi itu.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Kampung Tangguh Nusantara Candi Diharapkan Jadi Solusi Penanganan Pandemi

0
Plt Bupati Kudus Hm Hartopo saat menyerahkan piala kepada desa pememang Lomba Kampung Tangguh Nusantara Candi, Senin (15/6/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Plt Bupati Kudus HM Hartopo terlihat melewati tempat penyemprotan disinfektan saat mengunjungi Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus. Setelah melewati salah satu protokol kesehatan itu, dia kemudian menuju Halaman TPQ Al Husaini yang dijadikan tempat pengumuman pemenang lomba Kampung Tangguh Nusantara Candi.

Penyediaan disinfektan itulah yang jadi salah satu alasan desa setempat memenangkan lomba yang diadakan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) tingkat Kabupaten Kudus.

Plt Bupati Kudus saat melewati penyemprotan disinfektan di Desa Rendeng, Senin (15/6/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

Dalam sambutannya, Hartopo mengapresiasi kegiatan lomba Kampung Tangguh Nusantara Candi itu. Menurutnya, desa-desa yang jadi pemenang bisa menjadi percontohan desa lain.

“Dari keseluruhan desa yang ada di Kudus, yang ikut ini baru 35 persen. Saya harap tiga desa ini nantinya bisa menjadi contoh bagi desa-desa yang lain. Karena program Kampung Tangguh Nusantara Candi ini nanti bisa menjadi sentra (program) Jogo Tonggo di Kabupaten Kudus,” ujarnya, Senin (15/6/2020).

Baca juga: Pantau ODP dan PDP, Desa Rendeng Juara Kampung Tangguh Nusantara Candi

Sebagai pemenang, lanjut Hartopo, Desa Rendeng harus tetap melakukan inovasi agar lebih baik lagi. Dengan harapan bisa mewakili Kudus jika ada lomba tingkat Jawa Tengah maupun nasional nanti.

“Tidak hanya Desa Rendeng, tetapi desa-desa yang lain juga harus terus membuat inovasi agar lebih baik. Dalam rangka persiapan new normal ini kita harus bersama-sama gotong royong saling bersinergi menerapkan protokol kesehatan,” jelasnya.

Di sisi lain, Kapolres Kudus AKBP Catur Gatot Efendi menambahkan, program tersebut sebelumnya sudah berjalan dengan nama Kampung Siaga. Dia berharap, program ini betul-betul bisa membantu masyarakat.

Baca juga: Lumbung Pangan jadi Prioritas Program Jogo Tonggo di Desa Menawan

“Dengan adanya label kampung tangguh, masyarakat harus saling bekerja sama. Terutama di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini. Jadi harus melakukan pemantauan terhadap warga secara langsung,” tuturnya.

Diketahui, Desa Rendeng berhasil meraih juara pertama dalam lomba Kampung Tangguh Nusantara Candi. Menyusul di peringkat kedua adalah Desa Medini, dan juara tiga adalah Desa Barongan. Ajang tersebut diikuti sekitar 50 desa yang ada di Kabupaten Kudus.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -