BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa pria paruh baya terlihat sibuk di dalam sebuah bangunan di Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Mereka terlihat berbagi tugas. Ada yang menunggu parapian. Ada juga yang menggiling kedelai, serta dua orang yang mencetak tahu. Sedangkan di gudang kedelai seorang pria mengenakan baju koko sedang sibuk dengan nota. Pria tersebut yakni Bejo Indarto (57) pemilik usaha pembuatan tahu.
Di sela aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Bejo itu sudi berbagi kisah tentang usahanya. Dia mengatakan, mulai merintis usaha pembuatan tahu sejak 1996. Ia mengaku, tidak merintis sejak awal tempat pembuatan tahu tersebut. Usaha itu hasil tukar guling dengan salah satu rekannya.

Dahulu, dia merupakan bakul kedelai dan rekannya yang punya usaha tahu itu adalah pelanggannya. Karena pada tahun 1996 harga kedelai naik tinggi mengakibatkan banyak pengusaha tahu rugi, termasuk rekannya tersebut. Bahkan rekannya tersebut juga masih menunggak pembayaran kedelai miliknya.
“Karena rugi itu, rekannya (berencana) menjual perusahaan tahunya. Namun, karena dia punya sangkutan kedelai sama saya, akhirnya dia berniat menukar guling perusahaan tahu dengan kedelai yang masih belum terlunasi,” ujar Bejo kepada betanews.id, Kamis (11/6/2020).
Baca juga: Bejo Indarto, Satu-Satunya Pembuat Tahu Kacang Hijau di Karesidenan Pati
Diakuinya, nilai harga kedelai yang belum terbayar itu sebenarnya masih kurang untuk membayar perusahaan tahu tersebut. Tapi rekannya itu memberi keringanan, dengan mencicil kekurangannya. Dia pun menyetujuinya, meski saat itu masa-masa susah bagi para pengusaha tahu. Selain itu, dia berpikir, dengan meneruskan usaha, otomatis juga mewarisi pelanggannya.
“Saya mikirnya yang terpenting uangku bisa kepegang. Serta tahu itu banyak yang suka dan setiap hari dibeli orang. Saya juga yakin keadaan pasti akan kembali baik,” ungkapnya.
Usaha tahu yang baru dimulainya itu sebenarnya pernah berhenti produksi selama delapan tahun akibat krisis moneter pada 2000. Saat berhenti itu, dia kembali jadi penjual kedelai.
“Saya berhenti produksi lumayan lama, delapan tahun. Setelah saya rasa keadaan sudah normal. Harga kedelai juga terkendali, saya putuskan mulai produksi lagi tahun 2008 hingga sekarang,” beber Bejo.
Baca juga: Demi Punya Rumah Sendiri, Masruroh Tak Kenal Lelah Produksi Gapit Wijen
Sebenarnya, terang Bejo, saat ada Covid-19 perusahaan tahu juga terkena imbas. Sebab saat ada wabah, negara-negara memberlakukan pembatasan. Sehingga kedelai jadi langka dan mengakibatkan harganya naik. Akibatnya banyak yang rugi. Untuk masalah ini, para pengusaha tahu kemudian sepakat untuk menaikan harga tahu jadi Rp 24 ribu per papan dari sebelumnya Rp 22 ribu.
“Semoga saja Corona cepat hilang. Sehingga dunia usaha bisa kembali normal. Serta kedepannya harga komoditas kedelai selalu terkendali, agar kami para pengusaha tahu bisa bekerja dan dapat hasil,” tutup Bejo.
Editor: Ahmad Muhlisin

