Anak Muda Bikin Pedagang di Jepara Melek Pakai QRIS

BETANEWS.ID, JEPARA – Kertas berkode QR bertuliskan “QRIS” kini mudah ditemui di lapak-lapak pedagang kecil di Jepara. Banyak pedagang mulai melek pembayaran digital bukan karena mengikuti kelas atau pelatihan formal, melainkan karena sering mendapat pertanyaan dari pembeli muda, “Ada QRIS, Bu?”

Pertanyaan itu pula yang akhirnya membuat Anis Kusuma (44) dan Turyaningsih (48), dua pedagang kecil di Jepara, mulai menggunakan QRIS dalam transaksi sehari-hari.

Anis merupakan pedagang kimbab di depan SD Kampus, Kelurahan Panggang, Kecamatan Jepara. Sebelumnya, ia berjualan perabot rumah tangga selama 10 tahun di pasar.

-Advertisement-

Namun, semuanya berubah saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020. Usaha perabot rumah tangga yang dijalaninya terpaksa gulung tikar. Anis kemudian beralih berjualan corndog dan tteokbokki, jajanan khas Korea Selatan yang saat itu tengah viral.

Modal Anis untuk berjualan juga bukan berasal dari pelatihan formal. Ia belajar meracik resep jajanan Korea secara otodidak melalui video di YouTube. Saat itu, ia membuka warung kecil di depan rumahnya.

Penjualannya cukup menjanjikan. Namun, pada akhir 2023, suaminya yang bekerja sebagai karyawan pabrik di Semarang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Dari uang pesangon PHK itu, akhirnya saya nekat jualan di luar. Alhamdulillah, di sini makin ramai,” kata Anis saat ditemui di sela melayani pembeli, Jumat (29/5/2026).

Di lokasi barunya, Anis menambah menu dagangan berupa kimbab, salah satu makanan khas Korea Selatan. Resepnya pun masih dipelajari secara mandiri melalui YouTube.

Dalam sehari, ia mampu menjual sekitar 290 potong kimbab dengan harga mulai Rp2.000 hingga Rp4.000 per buah. Pelanggannya beragam, mulai dari anak TK hingga perempuan dewasa.

Awalnya, Anis tidak menggunakan QRIS. Jika ada pembeli yang tidak membawa uang tunai, ia biasanya memberikan nomor akun DANA milik anaknya untuk pembayaran melalui transfer.

Namun, karena semakin banyak pembeli yang menanyakan QRIS, Anis akhirnya memutuskan membuat akun QRIS sendiri.

Menariknya, alasan utama Anis menggunakan QRIS adalah permintaan dari pembeli usia muda. Bahkan, banyak di antaranya masih duduk di bangku SMP karena lokasi lapaknya memang dekat dengan sekolah.

“Dulu tidak pakai. Karena banyak yang tanya, akhirnya saya bikin. Yang pakai juga banyak anak-anak SMP. Mereka bawa HP, pas pulang sekolah jajan, bayarnya pakai QRIS,” ungkap Anis.

Kisah serupa dialami Turyaningsih (48), pedagang Lontong Gebyur di Jalan Brigjen Katamso Nomor 28, Kelurahan Panggang, Kecamatan Jepara.

Ningsih melanjutkan usaha Lontong Gebyur milik ibunya yang telah berdiri sejak 1991. Kini, usaha tersebut dijalankan bersama sang adik.

Ningsih bertugas menjaga resep dan proses memasak Lontong Gebyur warisan keluarganya. Sementara adiknya mengelola keuangan usaha.

Sama seperti Anis, Ningsih awalnya juga belum menggunakan QRIS. Hingga suatu saat, banyak pembeli, terutama anak muda, yang menanyakan apakah warungnya menerima pembayaran digital.

“Waktu itu belum paham. Sampai banyak yang tanya, ‘Bu ada ShopeePay, ada GoPay tidak?’ Akhirnya saya tanya ke anak-anak. Ternyata sekarang anak muda banyak pakainya itu,” ujar Ningsih saat ditemui di warungnya beberapa waktu lalu.

Akhirnya, Ningsih memutuskan menggunakan QRIS. Baik Anis maupun Ningsih sama-sama menggunakan layanan QRIS dari BRI.

Ningsih mulai menggunakan QRIS sekitar lima tahun lalu, sedangkan Anis baru menggunakannya pada Mei 2025.

Sebagai pengguna baru, Anis mengaku belum menemukan kendala berarti. Sementara Ningsih mengaku proses pencairan dana dari QRIS terkadang terasa cukup merepotkan.

“Ya walaupun ribet, tetap pakai karena sekarang hampir semua pakai QRIS,” kata Ningsih.

Terpisah, Relationship Manager Funding & Transaction (RMFT) Individu Unit BRI Cabang Jepara, Frido Duta Wibisono, menyebutkan hingga saat ini jumlah pengguna QRIS di Jepara telah mencapai 5.571 merchant atau pedagang.

Untuk memudahkan pedagang memantau transaksi yang masuk ke rekening, BRI menyediakan aplikasi BRImo Merchant atau BRImerchant.

“Pendampingan juga selalu kami berikan kepada nasabah yang memiliki QRIS BRI. Mulai dari edukasi cara kerja QRIS, pembuatan akun BRImerchant, penanganan kendala transaksi, hingga mengikutsertakan nasabah dalam berbagai program transaksi QRIS,” jelas Frido.

Kisah Anis dan Ningsih menunjukkan bahwa transformasi digital tidak selalu diawali dari kelas atau pelatihan resmi. Perubahan itu justru lahir dari kebutuhan sehari-hari dan dorongan para pelanggan muda yang semakin akrab dengan pembayaran digital.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER