BETANEWS.ID, SEMARANG – Siang itu, Sabtu (20/6/2026), Alde Jovanta (28), seorang driver ojek online (ojol), baru saja tiba di Kantor Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Aji Bodronoyo, Desa Sumowono, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang.
Notifikasi WhatsApp (WA)-nya tiba-tiba berbunyi, pertanda ada pesanan yang masuk. Alde merupakan driver Onno, salah satu unit usaha BUMDes yang dikenal sebagai layanan ojol lokal Desa Sumowono.
Berbeda dengan ojol pada umumnya, sistem pemesanan Onno menggunakan pesan WA. Pelanggan bisa menghubungi driver secara langsung maupun melalui admin Onno.
Siang itu, Alde mendapat pesanan. Bukan jasa ojek, melainkan permintaan tarik tunai sebesar Rp100 ribu. Setelah dana ditransfer oleh admin Onno, Alde segera menuju ATM terdekat untuk mengambil uang tunai tersebut dan mengantarkannya kepada pelanggan.
Alde bercerita, sebagai driver Onno yang baru bergabung sekitar Februari lalu, pesanan yang diterimanya cukup beragam. Paling banyak adalah jasa antar-jemput anak sekolah pada pagi dan siang hari, serta melayani ibu-ibu dan lansia.
“Tapi enggak cuma ojek, bisa belanja juga. Kadang banyak pelanggan yang terkendala tidak bisa ke ATM atau bank, jadi kami juga melayani setor dan tarik tunai. Sistemnya ditransfer ke BUMDes, nanti kami tinggal tarik di ATM terdekat. Cuma kalau di sini yang paling dekat BRI,” ungkap Alde saat ditemui di Kantor BUMDes usai mengantarkan pesanan pelanggan.
Direktur BUMDes Aji Bodronoyo, Bambang Wahyu Nugroho, menjelaskan ide munculnya Onno atau Delivery Online Sumowono berawal dari keinginannya membantu pelaku UMKM lokal agar bisa go digital.
Keinginan itu muncul ketika Bambang pulang ke desa setelah merantau sejak lulus SMK hingga menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.
Hal tersebut didorong oleh latar belakangnya sebagai lulusan Teknik Informatika (TI) saat SMK, serta pengalamannya mengelola toko online.
“Angen-angen (cita-cita) saya kan pengin UMKM di Desa Sumowono bisa go digital. Cuma nyuwun sewu (mohon maaf), SDM-nya sudah sepuh (tua), jadi kalau dikasih pelatihan agak susah,” tutur Bambang.
Namun, kondisi itu tidak membuat Bambang berhenti. Ia tetap mewujudkan keinginannya. Kini terdapat dua divisi usaha yang dikelola Onno.
Yaitu Onno Factory atau Onno Marketplace yang bertindak sebagai reseller untuk memasarkan produk UMKM warga ke berbagai marketplace, serta Onno Delivery yang merupakan layanan ojek online. Onno resmi diluncurkan pada 30 Juni 2024.
“Onno Delivery ini muncul di tengah jalan karena ada peluang. Grab dan Gojek kan belum masuk Sumowono. Sementara animo, keinginan, dan permintaannya cukup tinggi,” ungkap Bambang.
Untuk menyesuaikan dengan demografi masyarakat desa, Onno belum memiliki aplikasi sendiri. Seluruh layanan masih mengandalkan pemesanan melalui WA. Namun, keputusan itu dinilai tepat karena mampu mendekatkan layanan kepada masyarakat.
Tidak hanya mengantar penumpang dan makanan, operasional Onno kini berkembang lebih luas. Terintegrasi dengan Agen BRILink BUMDes, driver Onno juga melayani setor dan tarik tunai layaknya ATM berjalan atau bank desa.

Integrasi tersebut pula yang membuat BUMDes Aji Bodronoyo lolos 15 besar Desa BRILiaN BRI, program nasional yang menilai desa berdasarkan adopsi ekosistem keuangan digital BRI.
“Jadi BRILink di BUMDes itu ada dua. Satu dikelola LKD (Lembaga Keuangan Desa) dan satu di Onno yang sama-sama mulai pada 2014,” sebut Bambang.
Terpisah, Manajer Onno, Annisa Aina (26), mengatakan perkembangan Onno saat ini cukup pesat. Dari awal diluncurkan yang hanya memiliki dua driver, kini jumlahnya menjadi 20 orang, terdiri atas 18 laki-laki dan dua perempuan.
Dari semula hanya melayani sekitar 10 pesanan per hari, kini jumlah pelanggan bisa mencapai lebih dari 100 pesanan setiap hari.
“Alhamdulillah sekarang sudah sampai 100 lebih pesanan sehari. Kalau pas hujan itu sudah pasti melonjak banget,” kata Aina.
Terkait layanan setor dan tarik tunai yang menjadi bagian dari Agen BRILink, Annisa mengatakan layanan tersebut sudah ada sejak Onno diluncurkan.
Saat ini memang tidak setiap hari ada pelanggan yang menggunakan layanan tersebut. Namun, hampir setiap minggu selalu ada permintaan tarik tunai. Nominalnya beragam, mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.
Pelanggan yang menggunakan layanan setor dan tarik tunai melalui Onno hanya membayar ongkos kirim serta biaya administrasi transfer. Tarif dasar Onno sebesar Rp8 ribu untuk jarak tempuh hingga tiga kilometer. Selanjutnya, setiap kelipatan jarak dikenakan tambahan Rp2.500.
“Nominal tertinggi itu pernah sampai Rp30 juta, setor tunai. Kalau paling kecil Rp100 ribu,” sebut Annisa.
Untuk layanan tarik tunai, pelanggan mentransfer dana ke rekening BUMDes, kemudian diteruskan kepada driver. Selanjutnya, driver melakukan penarikan di ATM.
Sementara untuk setor tunai dengan nominal tertentu, admin Onno biasanya memilih driver yang sudah berpengalaman dan bersedia. Uang tunai dari pelanggan dapat dibawa langsung ke Agen BRILink BUMDes atau disetorkan secara mandiri oleh driver melalui ATM.
Itulah yang sejak awal ingin dibuktikan Bambang ketika memilih pulang ke desa, bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi.
Di Sumowono yang belum terjangkau Grab maupun Gojek, BUMDes Aji Bodronoyo justru melahirkan inovasi yang lebih jauh, yakni ojek online lokal bernama Onno yang sekaligus berfungsi sebagai layanan keuangan desa. Terintegrasi dengan Agen BRILink, Onno menjadi bukti bahwa inklusi keuangan tidak selalu membutuhkan infrastruktur besar. Terkadang, cukup dengan sepeda motor, WhatsApp, dan kepercayaan warga.
Editor: Kholistiono

