BETANEWS.ID, JEPARA – Cuaca ekstrem yang sempat terjadi di wilayah Kabupaten Jepara pada akhir 2025 membuat hasil panen kopi, khususnya di Desa Tempur, Kecamatan Keling, diprediksi berkurang dibandingkan tahun sebelumnya.
Salah satu petani kopi di Desa Tempur, Zainuddin (35), bercerita bahwa akibat curah hujan yang tinggi, banyak bunga kopi rontok pada masa pembungaan. Akibatnya, jumlah biji kopi yang dihasilkan menjadi lebih sedikit.
“Kondisinya, untuk buah tahun ini (panen) agak berkurang. Sebabnya karena faktor cuaca. Curah hujannya kemarin tinggi sehingga bunganya terkena kabut dan rontok,” kata Zainuddin saat ditemui di ladang kopinya di Dukuh Duplak, Desa Tempur, beberapa waktu lalu.
Menurut Zainuddin, masa panen kopi di Desa Tempur masih beberapa bulan lagi. Panen kopi di desanya biasanya berlangsung paling akhir dibandingkan beberapa desa lain yang juga menjadi penghasil kopi di wilayah lereng Gunung Muria.
Masa panen raya kopi di Desa Tempur diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September. Pada periode tersebut, biji kopi sudah banyak yang berwarna merah dan siap dipanen.
“Panen kopi diperkirakan Agustus sampai September. Pada September nanti biji kopi sudah merah semua,” ungkap Zainuddin.
Meski masa panen masih cukup lama, prediksi penurunan hasil panen membuat petani merasa dirugikan.
Terlebih, harga kopi saat ini juga sedang menurun, yakni berkisar Rp50.000 hingga Rp55.000 per kilogram untuk green bean atau biji kopi hijau, serta Rp12.000 hingga Rp15.000 per kilogram untuk kopi ceri.
“Kendalanya karena cuaca ekstrem. Petani agak merasa rugi karena buahnya berkurang,” ujar Zainuddin.
Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Makmur Desa Tempur, Saiful Anwar (50), mengatakan bahwa jika biasanya satu hektare lahan kopi mampu menghasilkan 1 hingga 1,2 ton biji kopi, tahun ini diperkirakan hanya menghasilkan 0,8 hingga 1 ton per hektare.
Menurut Saiful, penurunan hasil panen kopi merupakan hal yang wajar karena sudah menjadi siklus tahunan.
“Hasil panen kopi robusta ini biasanya memang bergantian. Kalau tahun sebelumnya banyak, tahun berikutnya agak berkurang. Itu sudah biasa,” ujar Saiful.
Untuk menyiasatinya, Saiful mengatakan selain mengelola lahan perkebunan kopi, para petani juga mengolah lahan pertanian lain seperti padi, jagung, maupun sayuran.
Selain itu, di lahan perkebunan kopi petani juga menanam tanaman lain yang berfungsi sebagai peneduh atau penyangga kopi dan memiliki nilai ekonomi, seperti lada, alpukat, dan vanili. Petani juga menanam porang di sela-sela tanaman kopi.
“Kalau petani bisa mengolah hasil perkebunan dengan baik, insyaallah hasilnya tetap aman meskipun panen kopi berkurang,” pungkas Saiful.
Editor: Kholistiono

