BETANEWS.ID, KUDUS – Suara mesin mixer tepung terdengar cukup keras di sebuah rumah yang berada di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Rabu (10/6/2020). Setelah adonannya dirasa kalis, beberapa karyawan kemudian memindahkannya ke mesin pencetak kerupuk.
Di bagian luar bangunan berdinding bata merah itu, terlihat beberapa karyawan lain mengangkat kerupuk dari jemuran. Kemudian mereka memisahkan satu per satu kerupuk, dan memasukkan kerupuk yang belum kering ke dalam oven.

Sementara itu, sang pemilik usaha, Ahmad Riyadi (39) terlihat berada di ruang tengah. Sambil sesekali berdiri meraih kayu bakar, ia menjaga nyala api pada tungku. Dari keterangannya, siang itu mereka baru saja selesai menggoreng kerupuk bandung yang nanti siap diambil oleh pelanggan.
Menurutnya, di hari normal, ia bisa menghabiskan 5 kwintal tepung tapioka. Namun, sejak ada Pandemi Covid-19, produksinya dikurangi jadi 2 kwintal per hari. Jam kerja juga dipersingkat jadi empat hari saja dalam sepekan, dari sebelumnya yang seminggu full.
Baca juga: Selama Pandemi, Jagung Bakar Paini Laris Manis Dibeli Lewat Ojol
“Produksi hari normal per hari bisa sampai 5 kwintal, tetapi kalau sepi seperti pandemi semacam ini, paling 2 kwintal per hari sudah syukur. Yang penting usaha masih terus jalan. Ini saja, karena kondisi ini, hari kerja cuma empat hari per minggu. Padahal kalau sebelumnya bisa seminggu full,” ungkapnya.
Maka dari itu, ia terus berharap semoga Corona cepat hilang dan kondisi bisa balik normal lagi. Pengharapan ini tentunya agar para karyawan bisa kerja setiap hari dan penghasilannya mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.
“Harapannya ke depan, kondisi bisa normal kembali. Supaya para karyawan juga bisa kerja setiap hari,” harap dia.
Riyadi lantas menjelaskan sedikit proses membuat kerupuk di tempatnya. Hal pertama setelah menyiapkan bahan adalah mengaduk bahan tersebut dengan mesin pencampur. Bumbu yang dia gunakan adalah garam, terasi, bawang putih, dan penyedap rasa. Setelah kalis, adonan kemudian dicetak dengan mesin dan selanjutnya digodok. Baru lah setelah itu, kerupuk dijemur sampai kering.
“Untuk penggodakan membutuhkan waktu sekitar 5 sampai 10 menit. Habis itu dijemur,” papar Ahmad.
Baca juga: Kafe Susu Moeria, Tempat Nongkrong Sehat Ala Anak Muda Kudus
Diakuinya, proses paling lama untuk produksi adalah penjemuran. Makanya, terik matahari menjadi kunci untuk kerupuk siap digoreng atau tidak. Namun, kadang ia juga mengandalkan oven untuk mengeringkan kerupuk mentah yang sudah setengah kering dari penjemuran.
“Untuk hasil yang maksimal, cukup membutuhkan sekitar 1,5 jam pengovenan. Sedangkan saat permintaan banyak dan musim penghujan, butuh waktu sekitar 4 jam pengovenan untuk kerupuk basah tanpa dijemur,” tutup Riyadi.
Editor: Ahmad Muhlisin

