BETANEWS.ID, KUDUS – Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriyah, penjualan jajanan khas Lebaran di Pasar Kliwon Kudus mulai mengalami peningkatan. Sejumlah pedagang mengaku, pembeli mulai ramai setelah pertengahan bulan Ramadan.
Salah satu pedagang jajan, Triwahyuningsih mengatakan, permintaan jajanan seperti kue kering, kacang-kacangan, hingga keripik mulai meningkat dibanding hari-hari biasa. Beberapa jenis yang paling banyak diminati pembeli antara lain sumpia, nastar, kacang, serta berbagai keripik.
“Mulai ramai sejak pertengahan Ramadan atau ketika puasa memasuki 13 hari. Yang paling banyak diminati biasanya sumpia, nastar, kacang-kacangan, dan keripik,” bebernya saat ditemui di tokonya, Senin (9/3/2026).
Di lapaknya, berbagai jajanan tersedia seperti keripik, kacang mete, roti-roti, kue kering seperti nastar dan kastengel, usus krispi, ceriping pisang, hingga basreng. Produk tersebut dijual dengan harga bervariasi, baik secara ecer maupun per kilogram.
Meski demikian, ia mengaku harga jajanan juga mengalami kenaikan menjelang Lebaran. Salah satu contohnya adalah kacang mete yang sebelumnya sekitar Rp180 ribu per kilogram, kini naik menjadi sekitar Rp190 ribu.
Baca juga: Penjualan Baju Lebaran di Pasar Kliwon Kudus Mulai Ramai, Baju Family Set Laris Manis
Kenaikan harga tersebut sudah mulai terasa bahkan sejak sebelum Ramadan. Pedagang memperkirakan puncak kenaikan harga biasanya terjadi sekitar satu pekan menjelang Lebaran.
Selain kenaikan harga, pedagang juga mengeluhkan ketersediaan stok barang yang mulai menipis. Menurutnya, sebagian produk yang biasanya tersedia kini lebih sulit didapatkan karena banyak diserap untuk kebutuhan program MBG (Makan Bergizi Gratis).
“Stok beberapa jajanan berkurang karena ada yang terserap untuk kebutuhan MBG, seperti kentang, usus, dan beberapa bahan lainnya,” jelas owner Gunawan Jajan tersebut.
Di sisi lain, pedagang jajan Pasar Kliwon lainnya, Kesi mengungkapkan, penjualan tahun ini justru mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Ia memperkirakan, penurunannya mencapai sekitar 50 persen.
Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah maraknya penjualan makanan secara online yang membuat sebagian pembeli beralih dari pasar tradisional.
“Merosot tidak seperti dulu, salah satu faktornya karena online. Banyak yang jual lewat online,” katanya.
Editor: Kholistiono

