BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa pegawai berbaju warna merah di Warung Jagung Bakar Paini tampak sibuk di bagian masing-masing. Ada yang mendapat bagian membakar, ada yang menyiapkan piring sebagai wadah jagung yang diserut, dan sebagian menyiapkan minum untuk para pembeli yang siang itu cukup ramai.
Keramaian tersebut menjadi pemandangan sehari-hari di warung yang berada di komplek kios jajanan Gor Taman Krida, tepatnya di Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus.

Pegawai Jagung Bakar Paini, Susi (40) mengatakan, usaha yang berdiri sejak 35 tahun yang lalu itu memang selalu ramai setiap harinya, termasuk juga di masa pandemi Covid-19. Tak hanya dari Kudus, pembeli juga berdatangan dari luar daerah. Meski saat ada wabah omzet harian menurun, tetapi pihaknya bersyukur masih banyak pembeli yang memesan via ojek online (ojol).
“Kalau pengaruh, pasti jelas mempengaruhi. Karena biasanya, sebelum pandemi ini, setiap hari bisa habis sampai satu kwintal jagung. Sekarang paling 50 sampai 80 kilogram per hari. Kecuali hari Jumat, Sabtu, dan Minggu, itu bisa habis satu kwintal,” ungkapnya saat ditemui, Sabtu (6/6/2020).
Baca juga: 35 Tahun Jadi Primadona, Kunci Sukses Jagung Bakar Paini Ada di Sambal
Selain itu, pihaknya juga mengikuti aturan pemerintah untuk melaksanakan protokol kesehatan di warungnya. Beberap hal yang dilakukan seperti jam buka diperpendek, penggiliran karyawan yang masuk, pesanan melalui ojol, dan berbagai penyiapan protokol kesehatan lain di warung.
“Sejak ada pandemi, kami ikut serta aturan pemerintah. Awalnya yang bisa tutup sampai malam, saat ini paling jam 21.00 WIB kami sudah tutup. Sampai kami ambil kebijakan untuk menggilir karyawan yang masuk setiap harinya. Saat ini, banyak yang pesan melalui ojek online di Grab. Pesanan lebih banyak daripada yang datang langsung ke sini. Ya alhamdulilah, kami bisa tetap bertahan di kondisi saat ini, ya melalui itu,” kata dia.
Selain memanfaatkan pengiriman via ojol, Susi juga mengungkapkan hal lain yang membuat warung itu bisa bertahan. Yaitu mengandalkan servis dan keramahan dalam melayani pembeli. Sehingga, mereka nyaman dan menjadikan warung tersebut sebagai tujuan untuk berkuliner jagung bakar.
“Hal itu sangat penting dan terus dilakukan, bahkan sejak awal dibukanya warung itu oleh almarhum Ibu Paini,” ungkap Susi.
Baca juga: Kopi dan Ketan, Menu Andalan yang Jadi Nama Kafe
Hal lain yang menjadi andalan warung tersebut adalah banyaknya varian rasa yang bisa dipilih pembeli. Dia menyebut, rasa yang bisa dipilih pelanggan adalah bumbu pedas yang menjadi ciri khas, kemudian coklat, asin manis, asin gurih, dan nano-nano (pedas, manis, asem, asin). Termasuk berbagai lauk pelengkap yang disediakan di warung.
“Kalau selain bumbu andalan yang turun temurun, ada banyak varian bumbu itu. Sesuai permintaan pembeli. Terus lauk lain yang hanya ada di sini, kami menyediakan pepes ndok kodok. Sedangkan yang sering banyak disukai pembeli itu bakwan jagungnya,” pungkas Susi.
Editor: Ahmad Muhlisin

