Ide Teman Pembuka Jalan Sukses Usaha Kerupuk Bandung Enak Rasa

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa pria tampak sibuk membolak-balik kerupuk yang sedang dijemur di tempat produksi yang berada di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Rabu (10/6/2020). Setelah dianggap kering, kerupuk itu kemudian diangkat dan kemudian dikumpulkan dalam beberapa wadah untuk dilanjutkan ke proses penggorengan.

Aktivitas tersebut merupakan kegiatan harian yang bisa ditemui di usaha Kerupuk Bandung Enak Rasa milik Ahmad Riyadi (39). Sambil memilah-milah kerupuk, Riyadi kemudian bercerita usaha yang telah berusia 22 tahun itu.

Karyawan usaha Kerupuk Bandung Enak Rasa sedang memisahkan kerupuk setelah dijemur, Rabu (10/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Pria yang saat ditemui memakai kaos warna oranye itu menceritakan, bisnis makanan ringan itu sebenarnya dirintis oleh ayahnya. Namun, karena sudah sepuh, ia kemudian dipasrahi untuk meneruskan usaha rumahan itu.

-Advertisement-

“Bapak dulu penjual kerupuk, tapi ngambil di orang. Terus punya teman orang Pati yang menyarankan untuk produksi sendiri. Orang itu juga yang mengajarkan caranya kepada Bapak. Sejak itu mulai produksi sendiri. Saya pribadi dari 20 tahun lalu sudah ikut kerja. Bantu-bantulah. Sekarang, meskipun Bapak masih ada dan sesekali ngecek ke sini, tapi sudah saya pegang,” ungkap Riyadi.

Baca juga: Siasat Kerupuk Bandung Enak Rasa Bertahan di Tengah Pandemi

Sebelumnya, Kerupuk Bandung Enak Rasa diproduksi di rumahnya, yaitu di Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Setelah pesanan terus meningkat, pihaknya kemudian menyewa rumah di Desa Gribig yang area produksinya lebih luas.

“Akhirnya kami mengontrak di sini sampai saat ini. Karena kalau produksi di rumah terlalu sempit. Sedangkan pelanggan semakin banyak. Otomatis produksi juga menyesuaikan. Kalau menjemur kerupuk, kan butuh ruang yang luas juga. Nah, kalau di rumah tidak ada tempatnya,” papar dia.

Hingga saat ini, Kerupuk Bandung Enak Rasa sudah memiliki banyak pelanggan. Produksi setiap hari pun bisa menghabiskan sampai 5 kwintal tepung tapioka. Jumlah sebanyak itu, dikerjakan oleh delapan karyawan yang kesemuanya laki-laki.

Diakuinya, ada musim-musim tertentu yang membuat produksinya naik dan turun. Yakni ketika musim pernikahan dan musim sehabis lebaran.

Baca juga: Cita Rasa Khas Pisang Goreng di Raja Banana Crispy Jadi Buruan Pembeli

“Kalau pelanggan tetap ada. Ada yang langsung ambil ke sini ada yang kami antar. Kami ada kurir untuk mengantar. Cuma memang, kadang banyaknya produksi itu dipengaruhi sama musim. Kalau musim pernikahan begitu, bisa lebih banyak. Kalau bulan Apit (Dzulqo’dah), produksinya lebih sedikit,” beber dia.

Di tempatnya, Riyadi memproduksi kerupuk dalam dua bentuk, yaitu ukuran kecil dan besar. Warnanya pun ada dua, yakni putih dan kuning.

“Untuk harga, kerupuk per plastik dijual Rp 62 ribu, baik itu kerupuk ukuran kecil maupun besar. Yang membedakan adalah jumlah per butirnya. Untuk yang kecil isinya 1.200, sedangkan yang besar ada 600 buah,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER