Siapkan Siswa Hadapi Tantangan Global, MTs TBS Buka Ekskul Bahasa Mandarin

BETANEWS.ID, KUDUS – Madrasah Tsanawiyah Tasywiquth Thullab Salafiyyah (MTs TBS) Kudus mulai mengembangkan kemampuan bahasa asing siswa melalui ekstrakurikuler Bahasa Mandarin. Program ini diinisiasi sebagai upaya membekali peserta didik agar mampu mengikuti perkembangan zaman.

Apalagi, ekstrakurikuler Bahasa Mandarin di lingkungan madrasah tersebut disebut-sebut sebagai yang pertama di Jawa Tengah. Kehadiran kegiatan ini diharapkan menjadi terobosan dalam dunia pendidikan berbasis pesantren.

Waka Kesiswaan MTs TBS Kudus, Baidhowi, menyampaikan bahwa program ini lahir dari keinginan pimpinan madrasah untuk meningkatkan kompetensi bahasa siswa, khususnya dalam menghadapi tantangan global.

-Advertisement-

“Tujuannya untuk membekali anak-anak supaya mengenal bahasa asing, terutama Mandarin, agar mereka dapat mengikuti perkembangan zaman dan tidak tertinggal,” ujarnya saat ditemui di sekolah, Minggu (26/4/2026).

Menurutnya, kegiatan ekstrakurikuler ini tergolong baru dan dilaksanakan di tengah tahun ajaran. Meski begitu, program tetap berjalan dengan baik. Antusiasme siswa juga tinggi, terbukti dengan adanya belasan siswa yang ikut serta.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan dilakukan satu kali dalam sepekan dengan durasi satu jam per pertemuan. Peserta berasal dari siswa kelas 7 dan 8, sementara kelas 9 tidak diikutkan karena mendekati masa kelulusan.

Baca juga : SMK Muhammadiyah Kudus Go Internasional, 15 Siswa dan Alumni Magang ke Jepang

“Memang ini program baru dan berjalan mendadak di tengah tahun ajaran. Namun alhamdulillah bisa terlaksana dengan cukup baik. Program ini baru berjalan pekan lalu,” jelasnya.

Baidhowi menambahkan, selain Bahasa Mandarin, ekstrakurikuler di MTs TBS Kudus juga mencakup Bahasa Inggris dan Bahasa Arab.

Ekstrakurikuler ini diajarkan langsung oleh alumni madrasah, Faisal Firdaus, yang memiliki pengalaman belajar di Tiongkok. Ia menjelaskan bahwa metode pembelajaran yang digunakan mengacu pada standar internasional, yakni sistem HSK (Hanyu Shuiping Kaoshi), yang merupakan standar kemampuan Bahasa Mandarin bagi penutur asing.

“HSK itu seperti TOEFL atau IELTS untuk Bahasa Inggris. Jadi pembelajaran kami sudah mengikuti standar internasional,” ujarnya.

Pada tahap awal, siswa dikenalkan pada level dasar (HSK 1), yang mencakup percakapan sederhana serta pengenalan aksara Mandarin (hanzi).

“Pembelajaran dimulai dari percakapan terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan ke penulisan. Yang paling sulit biasanya memang di penulisan aksara,” tambahnya.

Selain sebagai bekal komunikasi, penguasaan Bahasa Mandarin juga dinilai memiliki prospek besar di dunia kerja. Faisal menyebut, kebutuhan tenaga penerjemah Mandarin saat ini cukup tinggi, terutama di sektor industri.

“Sekarang banyak investor, khususnya di Jawa Tengah. Setiap pabrik biasanya membutuhkan penerjemah Mandarin. Ini peluang besar bagi siswa ke depan,” ujarnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga membuka peluang bagi siswa untuk melanjutkan studi ke Tiongkok melalui jalur beasiswa.

“Harapannya nanti setelah lulus, siswa memiliki pilihan untuk kuliah di Tiongkok. Kami sudah menjalin komunikasi untuk membuka akses tersebut,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER