Beranda blog Halaman 1824

Pilkada di Tengah Pandemi, Ganjar Minta KPU Cari Titik Temu Rencana Anggaran

0
Ketua KPU Jawa Tengah menemui Gubernur Ganjar Pranowo untuk mengkoordinasikan pelaksanaan Pilkada, Rabu (17/6/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pelaksanaan Pilkada Serentak di 21 kabupaten/kota di Jawa Tengah masih terus digodok. Mengingat, pesta demokrasi lima tahunan itu akan dilakukan di tengah pandemi Covid-19. Untuk itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah menemui Gubernur Ganjar Pranowo untuk mengkoordinasikan hal tersebut, Rabu (17/6/2020).

Pertemuan itu membahas standar protokol kesehatan, kebutuhan alat pelindung kesehatan, hingga pemfokusan anggaran di tiap pemerintah daerah.

Ganjar menyampaikan, untuk kebutuhan anggaran tersebut nanti akan dibahas lebih lanjut. Saat ini, semua daerah sudah memfokuskan anggaran untuk penanganan Covid-19. Makanya, jika diperlukan adanya anggaran yang difokuskan untuk pelaksanaan pilkada, maka akan segera dilakukan.

“Sekarang sudah terlalu refocusing, tapi kalau diperlukan refocusing untuk keperluan Pilkada, nanti akan kita bahas dengan kepala daerah,” kata Ganjar.

Baca juga: KPU Pastikan Pilkada Tetap Digelar saat Pandemi, Ganjar Usul Sistem E-Voting

Selain itu, dia juga meminta KPU untuk membuat rencana anggaran pilkada, agar kebutuhan bisa terpenuhi semua. Termasuk juga terus berkoordinasi dengan Gugus Tugas Covid-19 soal protokol kesehatan saat Pilkada.

“Saran saya, KPU membuat grading agar kebutuhan anggaran itu bisa terpenuhi semua. Kalau untuk kebutuhan alat pelindung kesehatan nanti coba dikoordinasikan dengan Gugus Tugas Covid-19,” pintanya.

Di sisi lain, Ketua KPU Jateng Yulianto Sudrajat mengatakan, KPU di 21 kabupaten/kota sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat. Termasuk di beberapa daerah sudah menyanggupi akan membantu untuk alat pelindung kesehatan dan sebagian juga membantu anggaran.

“Tapi antara kebutuhan dan efisiensi yang dilakukan KPU dan kesanggupan masing-masing daerah itu kan berbeda-beda. Kekurangan itu juga sudah kami sampaikan kepada Gubernur. Selain itu melalui KPU RI juga akan dimintakan melalui APBN,” jelasnya.

Baca juga: Sebut Pertumbuhan Ekonomi Mengerikan, Ganjar Siapkan APBD Pertolongan

Yulianto menyampaikan, pihaknya juga mendapatkan saran dari Gubernur soal pelaksanaan Pilkada di Jawa Tengah. Yaitu harus memenuhi standar protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

“Misalnya nanti seluruh perangkat KPPS kita lengkapi dengan alat pelindung kesehatan seperti masker, tersedia hand sanitizer, tersedia sarung tangan, dan ada jarak antar petugas. Terus kemudian pemilih maksimal di dalam TPS itu 12 orang, agar bisa jaga jarak, kemudian nanti alat coblos sekali pakaian,” tukas Yulianto.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Omah Kapal, Cagar Budaya yang Kondisinya Dipenuhi Semak Belukar

0
Kondisi Omah Kapal yang berada di Kelurahan Damaran, Kudus, kini kondisinya penuh semak belukar dan tak terawat. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Bangunan tua penuh semak belukar masih tampak menyerupai sebuah kapal. Bagunan tersebut menghadap ke arah timur laut. Pada sisi depannya berbentuk lancip seperti dek dasar kapal, dan pada sisi kiri bawah terdapat gambar jangkar berserta rantai.

Bangunan yang dibuat dengan komponen batu bata merah dan adukan semen tersebut, yakni Omah Kapal yang berada di Jalan KHR Asnawi, Kelurahan Damaran, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.

Menurut ahli waris dari pemilik bangunan Omah Kapal, Muhammad Bismark Muzahid (53), bangunan tersebut tidak pernah terawat sejak kakeknya meninggal.

Muhammad Bismark Muzahid, ahli waris dari pemilik bangunan Omah Kapal. Foto : Imam Arwindra

“Jadi yang membuat bangunan tersebut yakni kakek saya bernama Muzahid,” tuturnya saat ditemui di kediamannya Jalan Sunan Kudus, dekat perempatan Jember, Rabu (17/6/2020).

Baca juga : Nitisemito, Radja Rokok Kretek Asal Kudus (3)

Menurutnya, bangunan Omah Kapal yang dibangun tahun 1934 tersebut, tinggal kerangka bangunannya saja. Atapnya sudah hilang dan penuh dengan tumbuhan liar. “Ya tinggal 20 persen sampai 30 persen saja,” jelasnya.

Muhammad Bismark Muzahid, atau yang biasa dipanggil Mamak menceritakan, bangunan tersebut dibangun kakeknya setelah melaksanakan ibadah haji. Pada saat itu, pergi haji masih menggunakan jalur laut yakni dengan menggunakan kapal. Supaya selalu terkenang, akhirnya dibuatlah Omah Kapal.

“Jadi ini cerita dari ayah, dulunya kakek pergi melakukan haji. Kalau pergi haji zaman dahulu kan harus berbulan-bulan ya. Untuk mengenang, dibuatkanlah rumah berbentuk kapal,” jelas pria yang merupakan generasi ketiga tersebut.

Setelah bangunan tersebut dibuat kakeknya, Omah Kapal sering digunakan untuk liburan keluarga. Menurut Mamak, kakeknya meminta ponakan-ponakannya untuk tinggal bersamanya. Karena ketika neneknya mengandung, anaknya selalu meninggal.

“Jadi ayah saya sebenarnya punya kakak. Namun meninggal. Sampai usia perkawinan kakek dan nenek 25 tahun, akhirnya lahirlah anak bernama Abdullah Muzahid, yang merupakan ayah saya. Jadi anak kakek yang tinggal satu itu, ayah saya,” jelasnya.

Lanjutnya, setiap Jumat atau Kamis malam, dikatakan Mamak, keluarga besar kakeknya selalu berkumpul untuk liburan di Omah Kapal. Menurutnya, keluarga besarnya berkumpul sambil makan-makan.

“Kalau Kudus Kulon kan liburannya hari Jumat atau Kamis malam. Jadi Omah Kapal digunakan untuk liburan keluarga,” tambahnya.

Mengenai tidak terawatnya bangunan Omah Kapal, menurut Mamak, sejak kakeknya meninggal. Saat itu, cerita Mamak, kakeknya meninggal saat usia ayahnya tujuh tahun. Karena masih kecil dan kurang mengerti, akhirnya bangunan tersebut tidak terawat sampai sekarang.

“Kakek saya itu pengusaha rokok. Mereknya itu yang ada gambar nahkoda kapal. Saya lupa namanya apa,” tuturnya.

Baca juga : Nitisemito, Radja Rokok Kretek Asal Kudus (2)

Saat ini, bangunan yang berdiri di atas lahan 8.500 meter persegi, lanjut Mamak, pada bagian halaman depan digunakan untuk menjalankan bisnisnya. Sempat dia membuat pabrik kayu tahun 2003 namun harus tutup pada tahun 2016.

“Untuk Omah Kapalnya masih. Namun sekarang bagian depannya digunakan untuk parkir bus atau mobil peziarah Sunan Kudus,” tuturnya.

Ketika disinggung mengenai bangunan Omah Kapal sebagai cagar budaya, Mamak mengaku, orang tuanya dulu tidak pernah menitipkan pesan terkait hal tersebut. Dari Pemerintah Kabupaten Kudus pun tidak pernah berkontribusi apapun. “Ini pajak (PBB) saja, yang bayar masih saya sendiri,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar Pastikan Kompleks Stadion Jatidiri Selesai Tahun Depan

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menengok proses pengerjaan Kompleks Stadion Jatidiri, Rabu (17/6/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Komplek Stadion Jatidiri terlihat lengang saat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tiba di arena olahraga yang baru direnovasi itu, Rabu (17/6/2020). Sambil gowes, orang nomor satu di Jateng itu berkeliling ke sejumlah arena yang masih dalam tahap pengerjaan.

DI tempat tersebut, tidak banyak pekerja proyek yang sibuk seperti sebelum pandemi. Hanya ada beberapa pekerja yang melakukan pemeliharaan ringan di sekitar kompleks dengan memerhatikan protokol kesehatan.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menengok proses pengerjaan Kompleks Stadion Jatidiri, Rabu (17/6/2020). Foto: Ist.

Adapun lokasi pertama yang dilihat Ganjar adalah GOR lapangan basket dan futsal di sisi Timur. Di lokasi tersebut, dia mengecek fasilitas berupa single seat untuk VVIP yang menggunakan kursi busa dan VIP yang menggunakan kursi biasa.

Ditemui usai berkeliling, Ganjar menegaskan pembangunan semua arena olahraga akan selesai sesuai target, yakni tahun 2021. Meskipun, pembangunannya terhenti sementara lantaran Covid-19.

Baca juga: Sebut Pertumbuhan Ekonomi Mengerikan, Ganjar Siapkan APBD Pertolongan

“Target tahun depan sudah beres semuanya. (Pengerjaan) sementara ini berhenti yang ada di sini, tinggal mereka mengatur protokolnya, kalau pekerjaan yang besar belum ada,” kata Ganjar.

Setelah mencoba single seat di lapangan basket, Ganjar kemudian menuju ke gelanggang renang dan lapangan tenis yang berada di sisi Barat kompleks Jatidiri. Proses pembangunan kolam renang juga sudah hampir selesai, tinggal menyisakan pembangunan tempat terjun dan finishing di beberapa bagian.

“Kolam renangnya juga sudah disiapkan. Pompanya sudah baru semuanya. Kemudian ada tambahan lapangan tenis menjadi tiga blok lapangan,” ujarnya.

Baca juga: Arsitek Bandung Menangi Sayembara Desain MAJT Magelang

Sementara untuk stadion sepakbola juga sudah ada perkembangan dari saat terakhir kunjungan Gubernur ke sana. Kondisi lapangan dan rumput juga terlihat terawat. Begitu juga dengan pengaturan single seat yang sudah nyaman untuk duduk.

“Lapangan bolanya juga sebentar lagi. Mudah-mudahan nanti bisa memberikan fasilitas yang diupgrade untuk para atlet di Jawa Tengah,” tutup Ganjar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Meraup Untung dari Bisnis Bonsai

0
Beberapa tanaman yang dibonsai di outlet milik Pak Karno. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, KUDUS – Di sebuah kebun mungil yang juga menjadi outlet tanaman hias di dekat rambu lalulintas Perempatan Desa Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, tampak dua lelaki sedang melayani pembeli. Dia adalah Karno, pria paruh baya yang menekuni bisnis bonsai yang juga dibantu anaknya.

Karno, menyampaikan, jika usaha tersebut sudah ditekuni sejak empat tahun silam. “Di sini sebenarnya jual aneka macam tanaman hias. Namun, yang paling banyak memang bonsai,” ujar lelaki yang tercatat sebagai warga Desa Mlati Norowito, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Kamis (11/6/2020).

Baca juga : Awalnya Ikut-Ikutan, Kini Bonsai Jadi Mata Pencaharian Ali Fadli

Lelaki berambut cepak dan mulai memutih itu melanjutkan, bonsai menjadi tanaman inti yang dijual di tempat tersebut. Hal ini, karena dari segi pasar, bonsai cukup menjanjikan dan banyak yang mencari. Bahannya sendiri, Karno membeli tanaman dengan batang yang bisa di stek, lalu mereka rangkai sendiri untuk menjadi bentuk bonsai.

“Bahannya atau pohon awal, kami beli. Lalu kami stek dan bentuk sendiri hingga menjadi bonsai. Jadi jenisnya ya macam-macam. Dari pohon randu, pohon asem dan lainnya. Pokoknya pohon dasarnya itu yang punya batang besar. Nanti di stek sama tanaman lain,” paparnya.

Sedangkan untuk jenis bonsai, dikatakan Karno ada berbagai macam. Beberapa di antaranya ia sengaja menyetok dan menyediakan di lahan tersebut untuk dijual. Seperti halnya bonsai serut dan bonsai anting putri. Dirinya juga melayani pembuatan dan merawat bonsai taman. Untuk pembentukan bonsainya, ia katakan dikerjakan oleh sang anak. Hingga saat ini, usahanya tersebut laris manis dan punya pelanggan banyak.

“Kami juga bisa mencarikan berbagai bonsai yang diinginkan pembeli yang tidak ada di tempat kami,” katanya.

Baca juga : Bonsaiku, Jual Bonsai Cantik Harga Menarik

Untuk harganya sendiri, bonsai yang ia jual dikatakan Karno bervariatif. Mulai dari harga Rp 15 ribu sampai dengan Rp 2 jutaan. Bahkan, dikatakan bisa lebih. Tergantung dengan bentuk dan motif dari pohon bonsainya. Oleh karena itu, menurutnya bisnis bonsai cukup menjanjikan dan tidak terlalu rumit.

“Kalau harga variatif. Bisa murah, bisa juga sangat mahal. Bukan tentang jenis pohon dan besar kecilnya. Tapi lebih pada bentuk dan motif bonsainya yang membuat mahal. Makanya saya bilang, usaha ini cukup menjanjikan. Seminggu saja saya bisa kulakan bahannya sekitar 30 sampai 50 pohon,” ungkap dia.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pantau ODP dan PDP, Desa Rendeng Juara Kampung Tangguh Nusantara Candi

0
Kapolres Kudus AKBP Catur Gatot Efendi saat menyerahkan piala kepada desa pememang Lomba Kampung Tangguh Nusantara Candi, Senin (15/6/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Musik mulai dibunyikan saat rombongan Forum Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Kudus berjalan menuju halaman TPQ Al Husaini, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus, Senin (15/6/2020) sore. Kegiatan yang dihadiri Kapolres Kudus AKBP Catur Gatot Efendi dan Plt Bupati Kudus Hm Hartopo itu dalam rangka untuk mengumumkan pemenang Lomba Kampung Tangguh Nusantara Candi.

Ditemui seusai penyerahan hadiah, Kapolres Kudus menyampaikan, tujuan adanya lomba tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan Covid-19. Dalam lomba itu, juara 1 diraih oleh Desa Rendeng. Kemudian juara 2 diperoleh Desa Medini, dan juara 3 Desa Barongan.

Salah seorang warga saat melewati protokol kesehatan di Desa Rendeng, Senin (15/6/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

“Sebagai pemenang, di Desa Rendeng memiliki jadwal piket dan memiliki data warganya yang berstatus ODP (Orang Dalam pemantauan) maupun PDP (Pasien Dalam Pengawasan). Jadi setiap hari petugas piket melakukan pengecekan,” ujar Gatot.

Baca juga: Pemohon SIM Meningkat, Satlantas Polres Kudus Perketat Protokol Kesehatan

Dalam penilaian, pihaknya sudah berusaha untuk objektif. Agar yang menjadi juara layak dan bisa dicontoh bagi desa yang lain. Selain itu, jika ada lomba ke tingkat provinsi, pihaknya berharap bisa mendapat penilaian yang baik.

Selain dilombakan, dia menegaskan agar lebih fokus pada manfaat dari Kampung Tangguh Nusantara Candi. Menurutnya, kegiatan yang bagian dari program Polri itu, sebagai wujud kepedulian kepada masyarakat di masa pandemi.

“Dalam rangka menyambut new normal ini, mari kita saling menjaga dan mengingatkan. Selalu menjalankan protokol kesehatan saat beraktivitas. Sehingga kita bisa menekan kasus penyebaran Covid-19,” jelasnya.

Baca juga: Kampung Tangguh Nusantara Candi Diharapkan Jadi Solusi Penanganan Pandemi

Di sisi lain, Plt Bupati Kabupaten Kudus HM Hartopo menyampaikan dukungan pada kegiatan tersebut. Dirinya juga berharap ketiga desa itu bisa menjadi contoh desa-desa lain. Selain itu, dia menginginkan Desa Rendeng tidak hanya menjadi juara tingkat Kudus saja, tetapi hingga tingkat nasional.

“Harapan saya tiga desa ini nanti bisa menjadi contoh desa-desa yang lain. Desa Rendeng juga saya minta untuk mempertahankan dan terus ditingkatkan. Agar nanti jika ada lomba tingkat provinsi maupun nasional bisa menjadi juara lagi,” tandas Hartopo.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Ganjar Sesalkan Penjemputan Paksa Belasan Pasien Covid di Blora

0
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyesalkan adanya kasus penjemputan paksa belasan pasien positif Covid-19 di Kabupaten Blora. Ia meminta agar Pemkab Blora memastikan, bahwa pasien yang pulang itu melakukan isolasi di rumah dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Kemarin saya kontak Pak Bupati dan Wakil Bupati. Saya minta keterangan dan ada informasi, bahwa keluarga pasien tidak sabar karena lama tidak sembuh. Karena mungkin menganggap mereka orang tanpa gejala (OTG), maka memaksa dibawa pulang. Akhirya disepakati, tapi saya minta mereka semua harus isolasi mandiri di rumah dan dipastikan penerapan protokol kesehatan yang ketat,” kata Ganjar di ruang kerjanya, Rabu (17/6/2020).

Pengawasan lanjut dia, harus dilakukan agar pasien positif Covid-19 itu tidak menjangkiti warga lainnya. Pemkab Blora harus memastikan ada pihak yang bertugas menangani itu.

Baca juga : Grafiknya Naik Terus, Temanggung dan Kendal Jadi Perhatian Serius

“Apakah mau jarak jauh, atau pengawasan dititipkan pada front liner kesehatan terdekat, puskesmas misalnya untuk terus menyampaikan perkembangan,” tegasnya.

Pengawasan itu penting agar masyarakat tidak menganggap remeh. Sebab sejatinya, mesti OTG, mereka itu sedang sakit, sehingga harus diberikan treatment yang sesuai protokol kesehatan.

“Ini sakit lho ya, sebab ada yang punya persepsi ini tidak apa-apa, kemudian cuek saja. Kita memang perlu edukasi agar literasi masyarakat semakin tumbuh,” terangnya.

Ganjar sendiri sebenarnya menyesalkan kejadian penjemputan paksa itu. Ia meminta masyarakat untuk tidak melakukan hal yang sama, demi percepatan penanganan Covid-19 di Jateng.

“Jangan ditiru, sebaiknya kalau memang positif ya dirawat. Kalau seperti kemarin, menggunakan upaya paksa, kami khawatir yang lain ketularan. Memang masyarakat kita butuh edukasi terus menerus, karena kejadian ini kan bukan yang pertama kali, di beberapa daerah lain juga ada itu,” tutupnya.

Baca juga : Wilayahnya Masih Zona Merah, Ganjar Surati Tiga Kepala Daerah Ini

Sebelumnya, sejumlah warga di Blora menggeruduk Klinik Bhakti Padma Blora untuk menjemput paksa keluarganya yang dirawat di sana. Diketahui, terdapat 16 pasien positif Covid-19 yang merupakan klaster Temboro sedang menjalani perawatan di tempat itu.

Setelah melalui negosiasi panjang, akhirnya pihak klinik memperbolehkan 16 pasien tersebut dibawa pulang pihak keluarga. Meskipun, mereka diminta untuk melakukan isolasi diri di rumah dengan protokol kesehatan ketat.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Wayang Klithik, Warisan Budaya Penanda Berdirinya Desa Wonosoco

0
Dalang Sutikno saat memainkan sebuah lakon Wayang Klithik di acara Tradisi Resik-Resik Sendang di Desa Wonosoco, Sabtu (13/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara gamelan terdengar mengalun merdu saat masuk Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Sabtu (13/6/2020). Semakin didekati, suara tersebut ternyata bersumber dari pagelaran wayang di dekat sumber mata air desa setempat. Para niaga yang mengenakan masker terlihat menabuh alat musik masing-masing dengan mengikuti alur cerita yang dimainkan Sang Dalang.

Acara tersebut merupakan pagelaran Wayang Klithik, kesenian khas Desa Wonosoco yang melegenda dan terus dilestarikan oleh warga setempat. Desa yang terletak di lereng Pegunungan Kendeng Utara tersebut memang sudah memiliki kesenian itu sejak zaman penjajahan Belanda. Sejarah itu diceritakan oleh Sutikno (46), dalang dari Wayang Klithik.

Para Niaga saat mengiringi pagelaran Wayang Klithik di acara Tradisi Resik-Resik Sendang di Desa Wonosoco, Sabtu (13/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Seusai pagelaran, generasi ke-8 dari keluarga dalang tersebut mengkisahkan, saat ini dia meneruskan ilmu dan perjuangan sang ayah yang dulunya berprofesi sama.

Berbicara bentuk, Wayang Klithik ini terbuat dari kayu. Bentuknya pipih. Perajinnya juga dari desa setempat. Kalau cerita, ciri khas dari Wayang Klithik lebih ke babad. Seperti cerita Kerajaan Majapahit, Singosari, dan Demak Bintoro.

Baca juga: Berharap Berkah, Warga Berebut Air di Kirab Banyu Penguripan Kudus

“Dulu bapak saya, Pak Sumarlan, atau biasa dipanggil Mbah Marlan dalang juga. Jadi ini untuk melestarikan tradisi dan kesenian. Karena memang Wayang Klithik asli sini, bahkan seluruh niaga, sinden semuanya orang asli Desa Wonosoco,” ungkap Sutikno.

Dikatakannya, Wayang Klithik sendiri lahir bersamaan dengan awal mula berdirinya Desa Wonosoco. Itu bermula saat Pangeran Kajoran dari Mataram dan Ki Saji bersemedi untuk mencari petunjuk di tempat yang kemudian ditemukan dua sumber mata air.

“Nah, saat bersemedi meminta petunjuk. Saat itu kan masa perang Mataram melawan Belanda. Mereka bertemu dengan dua orang wanita cantik. Wanita itu namanya Mbah Kariyah dan Mbah Suminah. Sampai sekarang, mereka dipercaya yang menunggu di Sendang. Mbah Kariyah di Sendang Dewot ini. Kalau Mbah Suminah di Sendang Gading,” papar dia.

Setelah memenangkan peperangan, Pengeran Kajoran bersama pasukan menebang beberapa pohon dan membersihkan semak belukar di lereng pegunungan Kendeng itu untuk dijadikan perkampungan. Dalam babat alas itu, sang pangeran kehilangan mata cincinnya.

“Dari saat itu, lahir Desa Wonosoco. Yang berarti Wono adalah hutan atau alas dan Soco berarti batu akik,” ungkap pria yang sudah 10 tahun mendalang itu.

Baca juga: Masjid Wali Hadiwarno, Satu Abad Lebih Tua dari Masjid Menara Kudus

Singkat cerita, lanjut Sutikno, untuk menghormati ke dua leluhur itu, maka setiap tahun ada tradisi Resik-Resik Sendang dan dimeriahkan pagelaran Wayang Klithik. Cerita yang beredar di masyarakat, lahirnya kesenian itu memang dikhususkan untuk ritual tersebut. Warga desa meyakini, pagelaran Wayang Klithik harus ada dalam tradisi tersebut sebagai pelestarian dan perawatan tradisi untuk menghormati leluhur.

“Diceritakan Bapak, dulu pagelaran Wayang Klithik dalam tradisi Resik-Resik Sendang pernah diganti sama Tayuban. Setelah itu, air yang keluar dari sumber (malah) berwarna merah. Akhirnya balik lagi, pengiringnya, ya pagelaran Wayang Klithik ini,” tukas dia.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Inilah Cara Agar Remaja Pilih Sayur Jadi Makanan Favorit

2
Perkebunan selada hidroponik. Foto: Rabu Sipan

Penulis: Probo Y. Nugrahedi

*Dosen Teknologi Pangan, Unika Soegijapranata, Semarang

Banyak kalangan mengeluhkan rendahnya konsumsi buah dan sayur di kalangan anak-anak dan remaja. Tidak hanya di Indonesia, fenomena ini juga jamak terjadi di banyak tempat.

Salah satu kajian terhadap berbagai penelitian, yang dilakukan oleh Rosi dkk dan dipublikasikan di jurnal Nutrition, Metabolism and Cardiovascular Diseases (2019) menunjukkan, bahwa konsumsi buah dan sayur di kalangan remaja di Amerika Utara, Eropa atau Oceania masih di bawah angka asupan yang disarankan. Padahal diyakini mayoritas orang mengetahui bahwa konsumsi buah dan sayur merupakan satu faktor yang menunjang kebugaran dan kesehatan tubuh, termasuk pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

Dalam sebuah sesi pelatihan yang melibatkan enam puluhan remaja usia SMA di Semarang, mereka mengetahui bahwa konsumsi buah dan sayur sangatlah penting bagi kesehatan tubuh mereka. Saat diskusi terkuak penyebab mereka jarang mengonsumsi sayur antara lain tidak tersedianya menu tersebut secara rutin di rumah, rasa dan bau sayur yang cenderung tidak mereka sukai, makanan olahan dari sayur yang cenderung itu-itu saja, hingga alasan produk makanan lain yang lebih kekinian, atau lebih instagramable.

Membayangkan seorang remaja dengan wajah yang antusias di depan sepiring ca kangkung, nampaknya akan sulit dijumpai dalam akun instagram dibandingkan foto remaja sedang memegang segelas minuman boba.

Secara umum, konsumsi buah dan sayur yang dianjurkan bagi remaja sebesar 400-600 gram per orang per hari. Beberapa zat gizi mikro dalam sayuran yang penting bagi remaja adalah kalsium, zat besi, asam folat, dan vitamin D. Sayuran juga banyak mengandung zat penunjang kesehatan, seperti klorofil, karotenoid, polifenol, glukosinolat, dan berbagai antioksidan lainnya, termasuk vitamin C dan A. Konsumsi sayur dan buah membantu menurunkan risiko terkena jantung, kanker, dan obesitas. Apalagi di tengah wabah covid 19 saat ini, konsumsi sayur menjadi salah satu bagian penting untuk menjaga kesehatan.

Pembatasan kegiatan di luar rumah saat ini dapat dijadikan momentum positif untuk meningkatkan konsumsi sayur bagi anak dan remaja di dalam keluarga. Studi oleh Mahan & Raymond (2017), dan para peneliti lainnya, menunjukkan bahwa promosi makan bersama keluarga berefek positif terhadap perilaku makan, terutama bila dilakukan sedini mungkin.

Memanfaatkan tren kekinian para remaja, tantangan beraktivitas di rumah bisa dilakukan dengan mengunggah kegiatan masak dan mengonsumsi sayur di berbagai medsos dan membuat tagar tantangan (challenge) memasak sayur yang unik. Upaya ini dan berbagai upaya lainnya diharapkan dapat memberikan dampak peningkatan konsumsi sayur, terutama bagi anak-anak dan remaja.

- advertisement -

Ganjar Usul Wajibkan Wisatawan Dieng Pakai Pemandu Wisata

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mengunjungi Candi Arjuno di Dieng, Banjarnegara. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, BANJARNEGARA – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memberi usul kepada pengelola Pariwisata Dieng untuk mewajibkan pengunjung memakai pemandu wisata. Usulan ini dilontarkan orang nomor satu di Jateng itu saat mengunjungi Candi Arjuno di Dieng, Banjarnegara, Selasa (16/6/2020).

Dalam kunjungan itu, Ganjar ingin memastikan persiapan salah satu objek wisata terkenal di Jateng itusudah siap menyambut wisatawan saat dibuka kembali.

Sesampainya di tempat tersebut, dengan teliti Ganjar memastikan berbagai persiapan sudah berjalan sesuai protokol kesehatan. Mulai garis-garis pembatas, tempat cuci tangan, proses antrean masuk, hingga kesiapan petugas untuk melayani wisatawan.

“Ini sudah bagus, sudah disediakan garis pembatas jarak, ada tempat cuci tangan, pengecekan suhu badan hingga petugas yang mengenakan masker dan face shield. Tinggal proses pembelian tiket yang masih cash, saya minta disediakan tempat khusus untuk menaruh uang agar tidak dipegang tangan,” kata Ganjar.

Ganjar juga meminta pengelola membuat aturan baru apabila lokasi wisata itu dibuka kembali. Aturan tersebut adalah wajib menggunakan pemandu wisata.

“Saya usul saja, karena Covid-19, semua wisatawan nantinya wajib dipandu. Jadi dibagi per kelompok, misalnya satu kelompok 10-20 orang dengan satu pemandu. Pemandu ini selain menerangkan wisata, juga bisa mengontrol ketertiban wisatawan,” terangnya.

Baca juga: Ganjar Minta Segera Ada Simulasi Pembukaan Kembali Candi Gedong Songo

Dengan begitu, pengawasan ketertiban wisatawan akan semakin optimal. Kalau tidak ada pemandu, wisatawan akan jalan sendiri-sendiri, berkerumun, dan tidak patuh protokol kesehatan.

“Dengan pemandu itu, maka bisa optimal. Selain itu, penjelasan akan sejarah, nilai-nilai, dan informasi lain tentang objek wisata ini akan semakin efektif,” tegasnya.

Meski begitu, Ganjar meminta pengelola untuk tidak tergesa-gesa membuka objek wisata Dieng. Sebab, kondisi saat ini masih belum aman untuk dibukanya tempat wisata.

“Jangan tergesa-gesa dulu, kalau mau simulasi silakan, sehingga nanti dibuka sudah siap. Ajak travel agen, wartawan dan beberapa komunitas untuk uji coba itu,” imbuhnya.

Baca juga: Sudah Rindu Piknik? Akhir Pekan Ini Candi Borobudur Siap Dibuka

Selain itu, Ganjar juga meminta pengelola home stay untuk berhati-hati dan tidak terburu-buru menyewakan penginapannya.

“Kecuali kalau mau dibiasakan kebiasaan baru, misalnya dijaga kebersihannya, dipakai lampu ultraviolet yang bisa membunuh virus atau peralatan lain. Itu baru boleh, kalau tidak jangan dulu. Siapa yang bisa memastikan tamu yang datang sehat,” tutupnya.

Sementara itu, salah satu pengelola Candi Arjuno Dieng, Dwi Suryanto mengatakan telah melakukan sejumlah persiapan. Apabila nanti boleh dibuka, maka semua pengunjung akan diwajibkan taat protokol kesehatan.

“Termasuk tadi perintah Pak Ganjar untuk mengoptimalkan pemandu wisata, akan kami siapkan,” ucapnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Bejo Indarto, Satu-Satunya Pembuat Tahu Kacang Hijau di Karesidenan Pati

0
Bejo Indarto menunjukkan tahu yang diproduksi di tempatnya, Kamis (11/6/2020). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu, suara mesin diesel terdengar mengiringi aktivitas beberapa pria paruh baya di tempat produksi tahu di Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Asap yang mengepul di antara mereka seperti tak mengganggu kesibukan mencetak tahu.

Di bagian luar bangunan, dua orang pria dan satu perempuan sedang memotong tahu yang sudah tercetak. Tempat tersebut merupakan perusahaan tahu kacang hijau milik Bejo Indarto.

Seorang pekerja sedang menata wadah yang akan digunakan untuk mencetak tahu di tempat produksi milik Bejo Indarto, Kamis (11/6/2020). Foto: Rabu Sipan.

Ditemui di gudang penyimpanan kedelai, pria yang akrab disapa Bejo itu menuturkan, tempatnya tersebut merupakan satu-satunya yang memproduksi tahu kacang hijau di Kudus. Bahkan menurutnya, tidak hanya di Kudus saja, tapi juga satu-satunya di Karesidenan Pati.

“Ini perusahaan satu-satunya di Kudus bahkan se Karesidenan Pati, yang memproduksi tahu kacang hijau,” tegasnya saat ditemui betanews.id, Kamis (11/6/2020).

Baca juga: Tape Kuwawur, Usaha Turun Temurun yang Jadi Mata Pencaharian Warga

Dia mengatakan, tahu kacang hijau produksinya itu berbeda dengan tahu pada umumnya. Jika tahu lain hanya terbuat dari kedelai. Tahu milik Bejo campuran kacang hijau dan kedelai. Keunggulannya, rasanya lebih enak, lebih empuk dan tentu lebih diminati para pembeli.

Dia mengaku, mulai memproduksi tahu kacang hijau empat tahun lalu. Ia merasa saat itu persaingan usaha pembuatan tahu sangat ketat. Bahkan, banyak pengusaha tahu yang rela produknya dibawa para bakul dan dibayar setelah tahu terjual. Menurut Bejo, usaha seperti itu sangat riskan rugi.

Dari situ, dia berpikir untuk berinovasi agar tak terpengaruh oleh persaingan tersebut. Dalam pikirannya, dia harus membuat tahu yang lebih enak dan diminati banyak orang. Jadi nanti bukan dia yang cari konsumen, tapi konsumenlah yang berburu tahu miliknya. Lantas, terbersitlah ide membuat tahu kacang hijau.

“Sejak saat itu, selain tetap memproduksi tahu pada umumnya, saya mulai bereksperimen membuat tahu kacang hijau,” ungkapnya.

Layaknya bisnis coba-coba, ia juga sering gagal pada saat awal-awal beralih ke kacang hijau. Seperti tahunya tidak tercetak dengan baik, bentuknya mencair, dan warnanya hitam. Setelah beberapa kali percobaan, tahu kacang hijau Bejo bisa terbentuk, tapi warnanya tetap hitam.

“Setelah jadi, tahu kacang hijau itu saya tawarkan kepada para bakul. Mereka komplain, kok warnanya hitam. Namun saya meyakinkan mereka, hitam warnanya tapi rasanya dijamin lebih enak,” paparnya.

Baca juga: Dari Produksi Keripik, Abdul Banting Setir Bisnis Kopi Itheng

Para bakul itu pun, kata dia, percaya dan benar saja tahu kacang hijaunya diminati para pembeli. Hingga berangsurnya waktu, dia menemukan sebab tahu kacang hijaunya berwarna hitam, yakni dari kulit kacang hijau. Dari situ, setiap kacang hijau yang akan dicampur sama kedelai, kulitnya dihilangkan dulu.

“Alhamdulillah sekarang tahu kacang hijau produksi kami warnanya sudah sama seperti tahu pada umumnya,” kata Bejo.

Dia menuturkan, menjual tahu kacang hijau dengan harga Rp 24 ribu per papan. Harga tersebut untuk para bakul. Sedangkan harga ecer satunya dipatok Rp 6 ribu. Dia mengaku menjual tahunya itu cash, ada barang ada uang.

“Kami bersyukur dengan inovasi tersebut meski saya jual tahu secara cash, konsumen tetap berdatangan,” tutup Bejo.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Siasat Kerupuk Bandung Enak Rasa Bertahan di Tengah Pandemi

0
Karyawan usaha Kerupuk Bandung Enak Rasa sedang memisahkan kerupuk setelah dijemur, Rabu (10/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara mesin mixer tepung terdengar cukup keras di sebuah rumah yang berada di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Rabu (10/6/2020). Setelah adonannya dirasa kalis, beberapa karyawan kemudian memindahkannya ke mesin pencetak kerupuk.

Di bagian luar bangunan berdinding bata merah itu, terlihat beberapa karyawan lain mengangkat kerupuk dari jemuran. Kemudian mereka memisahkan satu per satu kerupuk, dan memasukkan kerupuk yang belum kering ke dalam oven.

Karyawan usaha Kerupuk Bandung Enak Rasa sedang menata kerupuk yang hendak dijemur, Rabu (10/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Sementara itu, sang pemilik usaha, Ahmad Riyadi (39) terlihat berada di ruang tengah. Sambil sesekali berdiri meraih kayu bakar, ia menjaga nyala api pada tungku. Dari keterangannya, siang itu mereka baru saja selesai menggoreng kerupuk bandung yang nanti siap diambil oleh pelanggan.

Menurutnya, di hari normal, ia bisa menghabiskan 5 kwintal tepung tapioka. Namun, sejak ada Pandemi Covid-19, produksinya dikurangi jadi 2 kwintal per hari. Jam kerja juga dipersingkat jadi empat hari saja dalam sepekan, dari sebelumnya yang seminggu full.

Baca juga: Selama Pandemi, Jagung Bakar Paini Laris Manis Dibeli Lewat Ojol

“Produksi hari normal per hari bisa sampai 5 kwintal, tetapi kalau sepi seperti pandemi semacam ini, paling 2 kwintal per hari sudah syukur. Yang penting usaha masih terus jalan. Ini saja, karena kondisi ini, hari kerja cuma empat hari per minggu. Padahal kalau sebelumnya bisa seminggu full,” ungkapnya.

Maka dari itu, ia terus berharap semoga Corona cepat hilang dan kondisi bisa balik normal lagi. Pengharapan ini tentunya agar para karyawan bisa kerja setiap hari dan penghasilannya mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

“Harapannya ke depan, kondisi bisa normal kembali. Supaya para karyawan juga bisa kerja setiap hari,” harap dia.

Riyadi lantas menjelaskan sedikit proses membuat kerupuk di tempatnya. Hal pertama setelah menyiapkan bahan adalah mengaduk bahan tersebut dengan mesin pencampur. Bumbu yang dia gunakan adalah garam, terasi, bawang putih, dan penyedap rasa. Setelah kalis, adonan kemudian dicetak dengan mesin dan selanjutnya digodok. Baru lah setelah itu, kerupuk dijemur sampai kering.

“Untuk penggodakan membutuhkan waktu sekitar 5 sampai 10 menit. Habis itu dijemur,” papar Ahmad.

Baca juga: Kafe Susu Moeria, Tempat Nongkrong Sehat Ala Anak Muda Kudus

Diakuinya, proses paling lama untuk produksi adalah penjemuran. Makanya, terik matahari menjadi kunci untuk kerupuk siap digoreng atau tidak. Namun, kadang ia juga mengandalkan oven untuk mengeringkan kerupuk mentah yang sudah setengah kering dari penjemuran.

“Untuk hasil yang maksimal, cukup membutuhkan sekitar 1,5 jam pengovenan. Sedangkan saat permintaan banyak dan musim penghujan, butuh waktu sekitar 4 jam pengovenan untuk kerupuk basah tanpa dijemur,” tutup Riyadi.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Pemohon SIM Meningkat, Satlantas Polres Kudus Perketat Protokol Kesehatan

0
Petugas mengecek suhu badan bagi pemohon SIM. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang petugas mengenakan seragam dengan wajah tertutup face shield tampak sedang mengecek suhu badan di depan pintu masuk Satlantas Polres Kudus, Senin (15/6/2020). Memasuki ruang antrean, tampak sejumlah pemohon yang hendak mengurus surat izin mengemudi (SIM) yang duduk dengan jarak aman di sana.

Kasat Lantas Polres Kudus AKP Galuh Pandu Pandega menjelaskan, jika saat ini pemohon SIM sudah mulai ada peningkatan. Jika saat awal pandemi hanya sekitar 10 orang per hari, saat ini mulai meningkat 40 hingga 50 orang perhari.

Proses pembuatan SIM di Satlantas Polres Kudus. Foto : Ahmad Rosyidi

“Ada peningkatan jika dibandingkan dulu saat awal pandemi Covid-19, per hari hanya sekitar 10 orang yang datang. Ini sudah mulai meningkat, tetapi tidak sebanyak saat normal yang mencapai 100 orang per hari. Sekarang paling 40 hingga 50 orang,” terangnya kepada betanews.id.

Dirinya juga menegaskan, protokol kesehatan wajib untuk dijalankan. Pihaknya juga sudah menerapkan seperti mencuci tangan sebelum masuk, tes suhu badan dan wajib menggunakan masker. Selain itu juga ada bilik disinfektan juga, dan jarak aman di tempat duduk antrean.

Baca juga : Perpanjang SIM Wajib Tes Psikologi, Kuncoro Berharap Satlantas Kudus Aktif Sosialisasi

“Bagi petugas sudah kami imbau untuk mengikuti protokol kesehatan. Seperti mengenakan masker, sarung tangan, face shield dan pembatas interaksi dengan pemohon di setiap layanan,” tegasnya.

Layanan pembuatan SIM di sana buka mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB. Jika masih ada antrean belum dilayani bisa diperpanjang hingga pukul 15.00 WIB. Tidak ada pembatasan pemohon SIM untuk saat ini.

Sementara itu, Aipda Amien Fauzan (40), penguji praktik roda empat yang ditemui saat menguji tes SIM A menambahkan, sebelum praktik akan diberi penjelasan dan contoh terlebih dahulu. Dirinya juga menjelaskan, lapangan tes roda empat untuk zig zag maju dan mundur, jaraknya sama dengan panjang kendaraan ditambah setengahnya.

“Untuk maju mundur lebar kendaraan ditambah 30 cm. Tes tanjakan tingginya 2,5 meter, harus berhenti di tengah terlebih dahulu. Sedangkan tes parkir seri dan parkir paralel juga sama, lebar kendaraan ditambah 30 cm,” terangnya sambil menunjukkan lapangan tes SIM.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Demi Bantu Ekonomi Keluarga, Dua Bocah Ini Rela Jualan Arum Manis

0
Dua kakak beradik ini berjualan arum manis demi membantu ekonomi keluarga. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi timur Jalan KH Arwani, Desa Singocandi, Kecamatan Kota, tepatnya di samping barat SMPN 4 Kudus tampak seorang bocah sedang menunggui dagangannya. Sambil menunggu pembeli, dengan telaten ia mengemas barang yang dijualnya, kemudian digantung pada bilah bambu. Bocah tersebut bernama Salman Alfarizi (12), penjual rambut nenek atau arum manis.

Setelah mengemas dapat empat bungkus, terlihat ada perempuan mengendarai motor berhenti dan beli dua bungkus arum manis. Seusai melayani pembeli, bocah yang akrab disapa Salman itu melanjutkan mengemas dagangannya. Sembari melakukan aktivitasnya, ia bercerita, jika berjualan arum manis itu untuk membantu orang tuanya.

Salman Alfarizi dan adiknya sedang melayani pembeli. Foto : Rabu Sipan

Selama libur sekolah kata dia, sekolah tempatnya mengenyam pendidikan memberlakukan proses belajar mengajar dilakukan di rumah. Karena itu, selain mengerjakan tugas sekolah yang diberikan oleh gurunya, dia juga berjualan arum manis.

Baca juga : Novilia, Gadis Cantik Penjual Pisang Goreng Beromzet Rp 20 Juta Sebulan

“Selama libur sekolah, dari pada banyak waktu yang terbuang, saya manfaatkan untuk berjualan arum manis. Hasilnya diberikan orang tua, untuk bantu orang tua,” ujar Salman kepada betanews.id, Senin (15/6/2020).

Dia mengaku, mulai berjualan arum manis mulai pukul 07.30 WIB sampai pukul 17.30 WIB. Arum manisnya itu dijualnya dengan harga Rp 2 ribu perbungkus. Sehari berjualan tuturnya, uang yang didapatnya tidak menentu. Tergantung dagangannya bisa habis terjual apa tidak.

“Kalau habis saya bisa membawa pulang uang Rp 200 ribu. Namun, seringnya itu tidak habis, sehari palingan hanya dapat uang Rp 50 ribu,” beber anak pertama dari tiga bersaudara tersebut.

Dia menuturkan, orang tuanya merantau ke Kudus sejak 13 tahun yang lalu. Ibunya berasal dari Semarang dan ayahnya dari Lamongan. Saat ini ia dan orang tua serta kedua adiknya tinggal mengontrak di RT 3 RW 1 Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus.

Baca juga : 35 Tahun Jadi Primadona, Kunci Sukses Jagung Bakar Paini Ada di Sambal

Kedua orang tuanya, lanjutnya, bekerja sebagai pedagang. Sebelum ada corona, ibunya berjualan mainan di sekolah – sekolah yang ada di Kudus. Sedangkan ayahnya jualan arum manis dan gulali.

“Semoga jualan saya laris manis. Sehingga bisa membantu perekonomian keluarga,” harap Salman yang sebelum ada pandemi setiap Ahad berjualan arum manis di acara CFD.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Warung Gratis, Cara Desa Gambasan Temanggung Aplikasikan Jogo Tonggo

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat melihat program Jogo Tonggo masyarakat Jetis, Selasa (16/6/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, TEMANGGUNG – Beberapa warga tampak silih berganti mendatangi sebuah warung kebutuhan pokok di Dusun Jetis, Desa Gambasan, Kabupaten Temanggung. Mereka kemudian memilih-milih aneka bahan makanan sehari-hari untuk dibawa pulang.

Uniknya, tak ada penjual di warung itu. Masyarakat yang mengambil bahan-bahan juga tidak perlu membayar. Syaratnya, setiap hari hanya boleh mengambil dua jenis bahan makanan.

Itulah praktik program Jogo Tonggo di Dusun Jetis, Desa Gambasan. Sejak wabah covid-19 melanda, warga berinisitif membantu sesama dengan membuat warung gratis. Mereka yang mampu diminta membantu, sementara yang tidak mampu dapat mengambil.

“Di Desa Gambasan ada enam warung seperti ini. Semuanya gratis karena untuk membantu masyarakat agar tidak kesusahan saat musibah Corona,” kata Kepala Desa Gambasan, Wahyu Cinto, Selasa (16/6/2020).

Baca juga: Lewat Jogo Tonggo, Warga Jomblang Terdampak Corona Bisa Makan Gratis di Dapur Umum

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang hendak menghadiri beberapa kegiatan di Temanggung sengaja mampir untuk melihat program Jogo Tonggo masyarakat Jetis itu. Di sana, Ganjar bangga melihat praktik gotong royong antara warga masih berjalan baik.

Dalam kunjungan itu, Ganjar melihat sendiri antusias warga dalam membantu mengisi warung tersebut. Termasuk Eni Lestari (56) yang hari itu membantu bermacam-macam sayuran, seperti kacang panjang, kol, tomat dan tauge.

Ganjar pun meminta warga untuk memanggil Eni. Kepada Ganjar, Eni mengatakan sengaja menyumbang agar masyarakat adem ayem.

“Kersane masyarakat adem ayem, Pak (biar masyarakat tenang, Pak). Meski kulo mampune bantu kacang panjang, tomat, kol lan tauge, tapi kulo ikhlas,” kata Eni.

Jawaban itu langsung membuat Ganjar terenyuh. Ia pun spontan mengacungkan dua jempolnya pada perempuan paruh baya itu.

Baca juga: Begini Konsep Jogo Tonggo yang Diterapkan di Perumahan SUPM Tegalsari Kota Tegal

“Ini keren, Bu Eni mau membantu dengan ikhlas, meskipun dia hanya bekerja bantu-bantu. Ini nilai-nilai yang harus kita jaga dari masyarakat, nilai-nilai kemanusiaan yang menurut saya keren,” kata Ganjar.

Tak hanya soal pangan, Ganjar juga menitipkan urusan kesehatan khususnya pada ibu hamil, menyusui dan balita, lansia dan penyandang disabilitas.

“Mereka semua adalah kelompok rentan yang harus mendapat perhatian,” tukas Ganjar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Serap Tenaga Kerja di Tengah Pandemi, Nojorono Luncurkan Minak Djinggo Rempah

0
Rempah-rempah menjadi bahan baku untuk produk terbaru dari Nojorono, yaitu Minak Djinggo Rempah. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – PT Nojorono Tobacco International melaunching produk terbarunya, yakni Minak Djinggo Rempah, Selasa (16/06/2020) di Kantor PT Nojorono Tobacco International Jalan Raya Kudus-Colo KM 5, Kudus.

Produk rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) tersebut memang sengaja diluncurkan ditengah pandemi Covid-19. Hal tersebut dilakukan, agar masyarakat bisa tetap bekerja dan mendapatkan penghasilan.

Presdir PT NTI, Stefanus JJ Batihalim melakukan pemukulan gong sebagai tanda peluncuran Menak Djinggo Rempah, disaksikan Plt Bupati Kudus HM Hartopo. Foto : Imam Arwindra

Presiden Direktur PT Nojorono Tobacco International Stefanus JJ Batihalim menuturkan, pihaknya sengaja memilih rokok jenis SKT, karena akan lebih banyak menyerap tenaga kerja. Menurutnya, pemikiran tersebut yakni, satu dari berbagai upaya perusahaan dalam ikut menjamin keberlangsungan lapangan kerja dan ekonomi masyarakat di Indonesia.

Baca juga : Sambut New Normal, Perusahaan di Kudus Perketat Protokol Kesehatan

“Kita akan mulai produksi massal hari ini. Sementara tenaga kerja yang digunakan yang sudah ada dulu,” tuturnya.

Menurutnya, tidak menutup kemungkinan, pihaknya akan membutuhkan karyawan baru. Karena dirinya optimis, produk terbarunya yang berbeda akan langsung diterima oleh masyarakat.

“Produk ini rokok kretek pertama yang menggunakan rempah. Jadi sangat berbeda,” jelasnya.

Sementara itu, Managing Director PT Nojorono Tobacco International Arief Goenadibrata menuturkan, rokok rempah yang diproduksinya terdiri dari tiga bahan baku. Yakni tembakau, cengkeh dan rempah.

“Rempah-rempahan seperti jahe, sereh, secang kayu manis dan berbagai rempah lainnya. Jadi ada rasa hangat dan aroma yang menyegarkan,” tuturnya.

Setiap satu batang rokok, lanjut Arief, dibuat melalui proses racikan sigaret berbahan dasar alami tanpa perisai sintetis. Selain itu juga, diklaim memiliki metode proses racik yang hampir mirip dengan pembuatan wedang rempah.

“Yang tidak rokok, kami persilakan minum wedang rempah. Nanti rasanya akan sama seperti yang merokok,” tuturnya saat meminta tamu undangan yang hadir.

Selain itu, dari sisi kemasan, produk Minak Djinggo Rempah dikemas khusus dengan teknik double protection. Artinya, kemasan dalam menggunakan sistem shell dan slide. Selain itu, juga terdapat pembungkus alumunium foil.

Baca juga : Di Ko-Mbako Ednik, Anda Bisa Coba Tembakau dari Aceh Hingga Madura

Pada bagian luar, lanjut Arief, terdapat bungkus lagi dengan sistem Biaxially Oriented Polypropylene (BOPP). Menurutnya, dengan bungkus BOPP bertujuan untuk menjaga produk selalu bagus dan juga terdapat design motif batik dengan dominasi warna kuning.

“Jadi produk ini fokus pada rasa, bukan aroma. Rasa untuk semua kalangan. Sesuai dengan taglinnya, Rasa Jang Beloem Pernah Ada,” jelasnya.

Menurut Arief, produk tersebut akan beredar di pasaran dalam dua pekan mendatang. Mengenai harga, pihaknya belum merilis harga untuk produk Minak Djinggo Rempah.

“Kalau harga kami belum selesai hitung. Ya sekitar tidak jauh dengan produk kami terdahulu Minak Djinggo,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -