Beranda blog Halaman 1825

Saldo E-Warung 422 Penerima BPNT di Kudus Kosong

0
Sembako berupa beras untuk penerima BPNT di Kudus beberapa waktu lalu. Foto : Dok. Betanews.id

BETANEWS.ID, KUDUS – Saldo E-Warung bagi 422 keluarga penerima manfaat (KPM) Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Kabupaten Kudus kosong. Kosongnya saldo di dalam rekening tersebut diketahui sejak bulan April 2020 lalu.

Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Kelembagaan Sosial dan Keluarga Miskin pada Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Bencana (Dinsos P3AP2KB) Kabupaten Kudus, Arini Budi Utami menuturkan, pihaknya mengetahui kosongnya saldo rekening tersebut berdasarkan laporan dari KPM kepada pendamping.

“Tahunya itu ada salah satu penerima BPNT ketika mau mengambil sembako di E-Warung, ternyata saldonya kosong,” tuturnya saat ditemui di kantornya, Senin (16/6/2020).

Baca juga : Hartopo Minta Data Penerima Bansos Ditempelkan di Setiap RT

Menurut Arini, kosongnya saldo E-Warung dimulai April 2020 sejumlah 214 KPM. Selanjutnya di bulan Mei 2020 sejumlah 208 KPM. “Jadi kalau ditotal 422 KPM,” terangnya.

Menurutnya, KPM yang mengeluh tentang kosongnya saldo ada yang hanya satu bulan, namun ada juga yang berturut-turut selama dua bulan.

“Kasus ini sebenarnya tidak hanya di Kudus saja. Namun juga terjadi hampir di seluruh Indonesia. Kami sudah melaporkan ke Kementerian Sosial dan ini masih proses,” terangnya.

Dia mengatakan, di Kabupaten Kudus terdapat 38.910 KPM E-Warung reguler. Namun karena ada pandemi Covid-19, jumlah KPM bertambah sebanyak 20.605 KPM.

“Karena ada Corona data bertambah 20.605 KPM. Jadi jumlah keseluruhan yakni 59.515 KPM”, jelasnya.

Sementara itu, Plt Bupati Kudus HM Hartopo menuturkan, akan berkoordinasi dengan Bank Nasional Indonesia (BNI) sebagai pihak yang menyalurkan bantuan tersebut. Menurutnya, dirinya belum mendapatkan informasi jelas terkait kosongnya ratusan rekening penerima BPNT.

Baca juga : 1.069 Warga Kudus Terima Bantuan Rp 600 Ribu dari Kemensos

“Nanti kami akan berkoordinasi dengan BNI kenapa bisa terjadi. Kami belum tahu secara jelas,” tuturnya.

Hartopo juga meminta Dinsos P3AP2KB Kabupaten Kudus untuk segera melakukan evaluasi E-Warung, agar kejadian serupa tidak terjadi. Selain itu, dia juga meminta agar Dinsos P3AP2KB Kabupaten Kudus melakukan pelayanan maksimal kepada masyarakat. “Jangan sampai ada keluhan dari masyarakat lagi,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Dewan Minta Pondok Pesantren Buat RKB Alat Kesehatan

0
Rakor Komisi D DPRD Kudus dengan Pimpinan Pondok Pesantren dan stake holder lainnya untuk persiapan new normal. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kudus meminta pondok pesantren untuk membuat Rencana Kegiatan Belanja (RKB). Permintaan tersebut seiring dengan persiapan new normal atau kenormalan baru yang akan diterapkan di pondok pesantren.

Ketua Komisi D DPRD Kudus Mukhasiron menuturkan, RKB dimaksudkan yakni data kebutuhan alat kesehatan yang diajukan oleh pondok pesantren. Nantinya, daftar tersebut akan diberikan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus untuk ditindaklanjuti.

“Hari ini (kemarin) kami kumpulkan perwakilan pondok pesantren sejumlah 115 pondok di Kudus. Hasil rapat di antaranya, pondok pesantren membuat RKB untuk menghadapi new normal,” tuturnya usai rapat di Kantor DPRD Kudus, Senin (16/6/2020).

Baca juga : Gus Yasin Minta Pesantren Buat Satgas Jaga Santri

Dalam RKB ini, lanjut Mukhasiron, bantuan yang diberikan Pemkab Kudus bukan berupa uang, melainkan alat kesehatan. Di antaranya, masker, face shield, hand sanitizer dan wastafel portable. Nantinya, bantuan berupa hibah yang bersumber dari dana tidak terduga.

“Dana tidak terduga kita untuk penanggulangan Covid-19 masih banyak, sekitar Rp 147 miliar. Selama presiden belum mengumumkan pandemi berakhir, dana masih bisa digunakan,” jelasnya.

Mukhasiron menceritakan, asal mula tercetusnya RKB pesantren yakni dari hasil tindak lanjut rapat koordinasi yang dilakukan antara Komisi D DPRD Kudus dengan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dan Badan Pengelolaan Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Kudus (BPPKAD).

Menurutnya, yang akan menjadi leading sector yakni Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kudus.

“Leading sectornya nanti dari Kesra. Pengadaan barangnya juga dari Kesra. Namun Kesra nanti tetap komunikasi dengan DKK untuk spek alksenya,” tuturnya.

Secara teknis, Mukhasiron menjelaskan, pondok pesantren akan menyerahkan data RKB kepada Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI). Nantinya RMI bersama Kemenag dan Kesra akan melakukan verifikasi dan validasi.

“Kesra bersama Kemenag dan RMI akan melakukan verifikasi apakah usulan pesantren sesuai dengan kebutuhan atau tidak,” tuturnya.

Baca juga : Dewan Sebut Pemkab Kudus Masih Banyak PR Soal Persiapan New Normal di Pesantren

Setelah data rampung, inspektorat akan melakukan review tentang tingkat kelayakan bantuan hibah. Selanjutnya, Bupati Kudus akan membuat surat keputusan (SK) mengenai bantuan hibah sarana kesehatan kepada pesantren.

“Karena bantuan ini sifatnya hibah, pesantren tidak perlu membuat SPj (Surat Pertanggungjawaban). Cukup surat serah terima barang dan dokumen,” jelasnya.

Pihaknya belum bisa memprediksi berapa anggaran dana belanja yang akan dikeluarkan. Karena menurutnya, RKB masih belum disetorkan oleh pihak pesantren.

“Belum bisa ditotal karena belum tahu RKB-nya. Setelah direkap baru tahu pondok ini dapat sekian. Dimungkinkan setiap pondok akan berbeda. Sesuai dengan jumlah santrinya,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Grafiknya Naik Terus, Temanggung dan Kendal Jadi Perhatian Serius

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengunjungi salah satu pasar di Temanggung. Foto : Ist

BETANEWS.ID, TEMANGGUNG – Zona merah Covid-19 di Jawa Tengah kemungkinan bertambah setelah Kabupaten Temanggung dan Kendal grafiknya merangkak naik. Sebelumnya, di Jateng ada tiga daerah berstatus merah yaitu Kota Semarang, Kabupaten Demak dan Kabupaten Magelang.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, kenaikan itu dikarenakan masifnya pengecekan dan tes massal di sejumlah daerah. Dua daerah yang menjadi perhatian serius Ganjar saat ini adalah Kabupaten Temanggung dan Kendal.

“Temanggung dan Kendal jadi perhatian saya, grafiknya naik terus. Ini bisa dikategorikan merah,” kata Ganjar saat mengecek Pasar Ngadirejo Temanggung, Selasa (16/6/2020).

Baca juga: Lima Pasar di Temanggung Ditutup Selama Tiga Hari

Meningkatnya jumlah kasus, lanjut dia, akan dibarengi dengan upaya-upaya percepatan penanganan. Langkah-langkah penataan di tempat-tempat yang berpotensi menjadi episentrum baru terus dilakukan.

“Penataan tempat publik seperti pasar tradisional ini terus kami lakukan. Termasuk kita lakukan rapid test massal, kalau ketahuan reaktif langsung PCR,” tegasnya.

Maka dari itu, dia meminta bupati/wali kota tidak resah dengan terjadinya peningkatan kasus dari upaya tracing ini.

“Jangan takut dan resah, justru dengan begini jadi ketahuan berapa yang positif kemudian diambil tindakan kongkretnya. Daripada terlihat landai dan bagus, tapi karena tidak dilakukan apa-apa. Tidak dilakukan tracing. Maka saya minta seluruh bupati/wali kota gencar melakukan pengecekan ini,” ucapnya.

Baca juga: Begini Respon Pedagang saat Ganjar Sosialisasi Penutupan Pasar di Temanggung

Pihaknya juga sudah menggelar rapat bersama jajaran termasuk pengelola laboratorium PCR di Jawa Tengah untuk keperluan itu. Menurutnya, semua lab sudah disiapkan dan semuanya siaga.

“Semua lab di Jateng siaga, kapasitasnya juga cukup. Tinggal saya minta mereka bekerja jauh lebih cepat, kalau biasanya hasil tes jadi 2-3 hari, saya minta sehari selesai,” tutupnya.

Data dari laman corona.jatengprov.go.id pada Selasa (16/6) pukul 12.00 WIB, peningkatan kasus di Temanggung dan Kendal memang terus meningkat. Kabupaten Temanggung tercatat ada 31 kasus positif covid-19 dan 10 pasien dalam pengawasan (PDP). Sementara di Kabupaten Kendal, ada 10 kasus positif covid dan 11 PDP serta 5 ODP.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Begini Respon Pedagang saat Ganjar Sosialisasi Penutupan Pasar di Temanggung

0
Gubernur Jawa Tengah didampingi Bupati Temanggung, M Al Khadziq melakukan mengunjungi salah satu pasar di Temanggung. Foto : Ist

BETANEWS.ID, TEMANGGUNG – Lima pasar di Kabupaten Temanggung akan ditutup akibat ditemukannya kasus positif covid-19. Tahap awal, ada lima pasar yang ditutup, yakni Pasar Kandangan, Ngadirejo, Gemawang, Tembarak dan Jumo.

Di antara lima pasar yang akan ditutup pada Rabu (17/6/2020) besok itu, dua pasar dikunjungi Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, yakni Pasar Kandangan dan Ngadirejo pada Selasa (16/6/2020). Di dua pasar itu, Ganjar mengedukasi sekaligus mensosialisasikan rencana penutupan itu.

“Bapak ibu, besok pasar ini mau ditutup setuju nggih, disemprot terus ditata. Besok bantu petugas ya untuk bersih-bersih,” kata Ganjar kepada para pedagang.

Jawaban para pedagang pasar itu membuat Ganjar lega. Sebab, mereka semua mendukung upaya pemerintah untuk melindungi masyarakat dari penularan wabah covid-19.

Baca juga : Penutupan Pasar Kliwon Diminta jadi Pembelajaran Pedagang

“Nggih Pak mboten nopo-nopo (iya pak tidak apa-apa ditutup), biar semuanya terlindungi,” kata Ellyn, salah satu pedagang Pasar Kandangan.

Hal senada disampaikan Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Ngadirejo, Warto. Kepada Ganjar, ia mengatakan, bahwa seluruh pedagang mendukung rencana penataan pasar oleh petugas.

“Kami setuju Pak ditutup total selama tiga hari. Karena ada kasus positif Covid-19, ya kami mengikuti aturan pemerintah. Hanya saja saya usul, kalau bisa penutupan pasar dilakukan keseluruhan, termasuk toko depan pasar agar tidak terjadi kecemburuan,” katanya.

Warto menerangkan, di Pasar Ngadirejo itu, terdapat sekitar 2.000 pedagang. Dari hasil rapid test beberapa waktu lalu, ia mendengar informasi ada yang positif di pasar itu.

“Katanya ada yang positif, tapi saya belum tahu datanya. Informasinya se Kecamatan Ngadirejo ada 54 orang yang positif,” terangnya.

Ganjar sendiri mengatakan lega dengan dukungan para pedagang di pasar yang dikunjunginya. Hal itu membuat tugas pemerintah semakin ringan, karena pedagang dengan sadar tidak menolak penutupan pasar untuk kebaikan bersama.

Baca juga : Ganjar Geram Lihat Pasar Mangkang Tak Ada Penataan, Masih Kumuh dan Berjubel

“Pemandangan saya masuk ke dalam pasar tadi menyenangkan, pedagang semua mendukung, tidak ada yang keberatan. Ini kerja sama yang bagus, jadi harus benar-benar dioptimalkan untuk penataan sebaik mungkin,” kata Ganjar.

Momentum penutupan pasar ini lanjut dia harus dibarengi dengan penataan dan pemenuhan sarana prasarana protokol kesehatan yang ada. Setelah pasar ditutup, tidak boleh hanya disemprot saja, tapi harus ditata dengan pembatasan jarak pedagang, penyediaan tempat cuci tangan, penyediaan petugas patroli dan lainnya.

“Saya sudah mengeluarkan ingub tentang pedoman penataan ini. Segera kami kirim ke bupati/wali kota se Jateng agar dijadikan pedoman, termasuk dalam penataan pasar,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Meski Terpinggirkan, Persewaan Becak Milik Suroto Menolak Punah

0
Suroto berpose di antara becak yang dia sewakan di rumahnya, Kamis (11/6/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi Jalan Raya Kudus-Jepara, Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus tampak puluhan becak terparkir di halaman rumah bercat putih. Di antara becak itu terlihat seorang pria mengenakan kaus hitam duduk di atas becak. Pria tersebut yakni Suroto (76) pemilik usaha persewaan becak Kudus.

Saat ditemui, pria asal Gunung Kidul, Yogyakarta itu dengan ramah menyapa dan mengajak duduk di ruang tamu rumahnya. Kemudian dia pun antusias berkisah awal mulai datang ke Kota Kretek serta perjalanan merintis usaha persewaan kendaraan roda tiga itu.

Deretan becak yang disewakan Suroto di rumahnya, Kamis (11/6/2020). Foto: Rabu Sipan.

Dia mengaku datang ke Kudus pada 1958. Setelah lulus SMP pada 1964, ia pun kemudian kerja di bengkel sepeda dan becak milik warga Tionghoa. Dari sana lah usaha sewa becaknya berawal.

“Saya kerja itu sekitar lima tahun. Setelah itu saya mendirikan bengkel sepeda dan becak sendiri. Uang hasil bengkel saya kumpulkan, dan saya belikan becak untuk saya sewakan,” jelas Suroto kepada Betanews.id, Kamis (11/6/2020).

Baca juga: Bengkel Pak Pwa, Saksi Sejarah Perjalanan Sepeda di Kudus

Pria yang sudah mempunyai cucu delapan itu menuturkan, saat pertama itu harga sewa becak hanya Rp 20. Dia mengaku, meski usahanya sekarang sudah tidak populer, dulunya kendaraan roda tiga itu pernah mengalami masa jayanya. Bahkan pada 1975, dia pernah punya lebih dari 50 unit becak.

“Di masa jaya usaha sewa becak itu, saya mampu beli rumah. Bahkan sampai tiga kali dan yang terakhir rumah yang saya tempati ini,” ungkapnya.

Namun, kata dia, dengan berjalannya waktu, keberadaan becak mulai terpinggirkan, setelah ada banyak angkutan kota (angkot), motor dan sekarang itu ada ojek online. Namun, meski begitu becak juga masih tetap diminati sebagian orang, hingga bisa tetap eksis sampai sekarang. Terutama di sekitaran pasar yang ada di Kudus.

“Oleh sebab itu, usaha sewa becak saat ini masih bisa memberi pemasukan bagi saya. Sekarang saya masih punya 35 unit becak yang saya sewakan,” beber Suroto yang mematok harga sewa becak sebesar Rp 5 ribu sehari.

Baca juga: Jerit Pilu Tukang Becak Kudus saat Pandemi Corona Merebak

Menurutnya, sebelum ada Corona, 35 becak itu bisa tersewa semua. Namun sejak ada wabah, becak yang tersewa hanya 30 persennya saja. Makanya, dia berharap Corona secepatnya hilang, sehingga keadaan bisa normal kembali.

“Meski pengguna becak berkurang drastis. Meski becak sudah terpinggirkan. Namun, selama saya masih hidup dan sehat, usaha sewa becak ini akan saya pertahankan. Karena saya hidup itu dari becak. Aku ke Kudus tidak punya apa-apa, hingga punya rumah dan mampu menyekolahkan semua anak saya, ya dari becak, kok,” tutup Suroto.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Satlantas Polres Kudus Masih Tunggu Intruksi untuk Pembuatan SIM Gratis pada 1 Juli 2020

0
Simulasi praktik pembuatan SIM C. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria mengenakan seragam polisi dengan sabuk putih di pinggangnya terlihat di sebuah ruangan yang berada di Satlantas Polres Kudus. Dia tak lain adalah Kasat Lantas Polres Kudus, AKP Galuh Pandu Pandega. Dirinya sudi berbagi penjelasan kepada betanews.id tentang adanya program penggratisan pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) pada tanggal 1 Juli 2020 yang sudah dicanangkan Polri, dalam rangka HUT Bhayangkara.

Namun saat ini, untuk Polres Kudus sendiri, pihaknya belum menerima surat edaran untuk program gratis pembuatan SIM. Menurutnya, setiap HUT Bhayangkara biasanya memang ada kegiatan bakti sosial. Tetapi untuk informasi yang beredar terkait penggratisan pembuatan SIM belum ada intruksi.

Praktik pembuatan SIM A. Foto : Ahmad Rosyidi

“Jadi ini masih menunggu petunjuk dari pusat terkait hal itu. Jadi kami belum bisa memberi keputusan. Biasanya memang ada kegiatan bantuan sosial, tapi untuk HUT Bhayangkara tahun ini kami belum mendapat surat edaran, jadi menunggu sosialisasi lebih lanjut,” jelasnya, Senin (15/6/2020).

Baca juga : Perpanjang SIM Wajib Tes Psikologi, Kuncoro Berharap Satlantas Kudus Aktif Sosialisasi

Sedangkan menurut Muhammad Chamdani (27), salah satu pemohon SIM, dirinya sudah membaca berita tentang penggratisan SIM tersebut. Karena dia tidak lahir pada tanggal 1 Juli 2020, jadi tidak ingin mencari kebenaran informasinya.

“Dari informasi yang saya baca, pembuatan SIM yang digratiskan hanya berlaku untuk warga yang lahir pada tanggal 1 Juli. Itu dalam rangka memperingati HUT Bhayangkara ke-74. Tidak untuk semua warga mendapat fasilitas gratis kok,” tambahnya.

Warga Desa Karangampel RT 02 RW 05, Kecamatan Kaliwungu, Kudus itu datang untuk membuat SIM A. Karena akan bekerja menjadi sopir, syaratnya harus memiliki SIM A. Sebelumnya dia sudah lama ikut menjadi kernet, sehingga bisa sekalian ikut belajar menyetir mobil.

“Ini mau buat SIM A, untuk melamar kerja jadi sopir. Semoga ini nanti berhasil tesnya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Lima Pasar di Temanggung Ditutup Selama Tiga Hari

0
Pasar Kliwong di Temanggung selama tiga hari. Foto : Ist

BETANEWS.ID, TEMANGGUNG – Sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Temanggung akan ditutup usai ditemukan kasus positif Covid-19. Terkait hal itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengunjungi sejumlah pasar tradisional untuk melihat persiapan penutupan.

Tiga pasar dicek Ganjar pagi itu, diantaranya Pasar Kliwon, Pasar Kandangan dan Pasar Ngadirejo. Selain mengecek persiapan penutupan, Ganjar yang didampingi Bupati Temanggung, M Al Khadziq juga berkeliling untuk mengedukasi para pedagang agar tidak mengabaikan penularan Covid-19 ini.

“Bapak ibu, tahu kenapa pasar ini besok ditutup, karena ada yang positif kan. Apa njenengan mau ketularan, tidak to. Maka ayo tertib, pakai masker, jaga jarak, rajin cuci tangan. Ayo kui sing umpel-umpelan mundur kabeh (itu yang berhimpitan semuanya mundur),” teriak Ganjar kepada pedagang di Pasar Ngadirejo.

Gubernjur Jateng Ganjar Pranowo saat mengecek pasar tradisional di Kabupaten Temanggung. Foto : Ist

Baca juga : Ganjar Geram Lihat Pasar Mangkang Tak Ada Penataan, Masih Kumuh dan Berjubel

Ganjar pun meminta Bupati Temanggung untuk mengoptimalkan rencana penutupan sejumlah pasar tradisional mulai 17-19 Juni. Tidak hanya disemprot disinfektan, penutupan pasar harus dibarengi dengan penataan dan pemenuhan sarana prasarana sesuai protokol kesehatan yang ketat.

“Saya minta diatur. Kalau sudah ada yang positif, pasarnya ditutup dulu dan dilakukan pengaturan. Diatur ini tidak hanya disemprot saja, harus diatur jaraknya, dikasih tempat cuci tangan dengan sabun, disiapkan petugas jaga di depan dan keliling pasar untuk memastikan pedagang dan pembeli semua tertib,” kata Ganjar.

Pihaknya sudah mengeluarkan panduan tentang penataan sejumlah sektor termasuk pasar tradisional. Ia meminta semua bupati/wali kota, termasuk Temanggung menerapkan pedoman itu, termasuk dalam penataan pasar tradisional.

“Selain Kota Semarang, Demak dan Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung ini juga menjadi perhatian kami. Saya minta semua serius untuk melakukan penataan. Saya minta Bupati Temanggung lebih intens menggerakkan peran gugus tugasnya,” tegasnya.

Meski terjadi peningkatan kasus di Temanggung, namun Ganjar meminta pemda setempat tidak kecil hati. Justru peningkatan karena masifnya pengecekan itu adalah langkah tepat, agar dapat dilakukan tindakan selanjutnya.

“Pak Bupati jangan takut, kalau ada lonjakan tinggi karena masifnya pengetesan, itu lebih bagus. Dengan begitu, kita tahu seberapa banyak masyarakat yang positif, dengan begitu bisa ditangani dengan baik. Jadi jangan khawatir, kami siap membantu percepatan penanganan Covid-19 di Temanggung,” tutupnya.

Baca juga : Hartopo Ancam Tutup Lagi Pasar Kliwon Jika Protokol Kesehatan Diabaikan

Sementara itu, Bupati Temanggung M Al Kadziq mengatakan, peningkatan kasus positif Covid-19 memang banyak terjadi di pasar tradisional. Rencananya, pihaknya akan menutup pasar-pasar itu dan dilakukan penyemprotan.

“Tahap awal ini lima pasar yang kami tutup selama tiga hari, yakni Pasar Kandangan, Pasar Ngadirejo, Pasar Gemawang, Pasar Tembarak dan Pasar Jumo. Sesuai perintah Pak Gubernur, nanti tidak hanya kami semprot, tapi juga akan kami tata dan lakukan pembinaan pada pedagang,” katanya.

Data penyebaran kasus positif Covid-19 di Kabupaten Temanggung memang menjadi perhatian. Saat ini, ada 96 kasus positif covid-19 di daerah itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Tugu Pete, Ikon Baru Penambah Keelokan Taman Sardi

2
Tugu Pete, ikon baru di Taman Sardi yang baru diresmikan Mei lalu. Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah orang tampak sedang menikmati pemandangan sore di Taman Sardi yang berada di Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Sabtu (13/6/2020). Beberapa di antaranya terlihat mengabadikan diri di bawah sebuah tugu berbentuk petai. Di bagian lain taman, seorang pria sedang mengamati para pengunjung yang tidak terlalu ramai. Dia adalah Arief Hartawan (48), pemilik Taman Sardi.

Saat ditemui, Arif menjelaskan, Tugu Pete itu memang baru diresmikan oleh Kapolres Kudus AKBP Catur Gatot Efendi pada 29 Mei 2020. Peresmian tersebut dalam rangka kesiapan menyambut new normal atau kenormalan baru, khususnya di objek pariwisata yang berada di Kabupaten Kudus.

Tugu Pete, ikon baru di Taman Sardi yang baru diresmikan Mei lalu. Foto: Ahmad Rosyidi.

“Selama tutup sekitar tiga bulan, kami manfaatkan waktu untuk percepatan pembangunan inovasi baru. Kami bangun Tugu Pete,” beber pria yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BP2D) Kudus itu.

Baca juga: Wisata Air Jratunseluna di Desa Temulus Kembali Dibuka

Dengan pendirian tugu ini, dia berharap wisata yang ada di Kudus bisa segera bangkit dan buka kembali. Apalagi, Taman Sardi merupakan satu dari dua objek pariwisata yang sudah dibuka untuk simulasi pembukaan kembali.

“Ini bagian dari upaya kami bangkit dari masa pandemi Covid-19. Sudah saatnya kita bangkit menyambut new normal dan mengembangkan tempat wisata,” terang Arief.

Arif menambahkan, pihaknya saat ini sedang melakukan promosi melalui media sosial. Isinya untuk menyuarakan kenormalan baru, agar masyarakat bisa mulai terbiasa beraktivitas dengan protokol kesehatan.

“Selain dengan inovasi, kami juga berusaha melakukan promosi melalui media sosial. Agar masyarakat bisa kembali beraktivitas normal dengan protokol kesehatan. Saya yakin semua sudah jenuh dengan pandemi ini. Maka dari itu, kita harus segera bangkit dengan kenormalan baru,” jelas pemilik tempat wisata dengan luas 2,5 hektare itu.

Baca juga: Sambut New Normal, Waterpark Mulia Wisata Beri Potongan Harga

Sementara itu, Didik Budi Wantoro (19), satu diantara sejumlah pengunjung di Taman Sardi mengatakan, sebelum masuk dia sudah dites suhu badan, kemudian juga disuruh cuci tangan. Youtuber yang akrab disapa Didik itu merasa senang jika tempat wisata di Kudus sudah bisa di buka.

“Senang pastinya, karena saya juga perlu syuting di tempat wisata. Ini saya mau membuat video klip untuk konten saya. Saya mendukung adanya protokol kesehatan, agar kita semua bisa kembali beraktivitas seperti biasa,” pungkas warga Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus itu.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Sayang Dilewatkan, Ini Oleh-oleh Khas Lereng Gunung Muria

0
Parijoto, salah satu oleh-oleh khas dari lereng Gunung Muria. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa perempuan berhijab duduk sambil menjajakan aneka dagangannya di kanan maupun kiri pintu masuk tangga Makam Sunan Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus. Satu di antara perempuan tersebut yakni Fitriyati (37) penjual hasil panen khas Gunung Muria.

Sambil menanti pembeli datang, perempuan yang akrab di sapa Yati itu sudi berbagi penjelasan tentang dagangannya. Dia menuturkan, berjualan di lokasi wisata religi Makam Sunan Muria sudah 20 tahun. Sejak pertama berjualan, ia hanya menjajakan hasil panen dari kekayaan lokal Gunung Muria.

Ganyong, jadi salah satu oleh-oleh yang mudah ditemui di kawasan Makam Sunan Muria. Foto : Rabu Sipan

“Yang saya jual, ganyong, talas, pisang byar, kerut, jeruk pamelo serta parijoto. Ziarah ke Makam Sunan Muria itu serasa kurang afdol dan lengkap kalau belum beli oleh – oleh yang saya sebut tadi,” ujar Yati kepada Betanews.id, Sabtu (13/6/2020).

Baca juga : Pedagang di Kawasan Makam Sunan Muria Bersyukur Diperbolehkan Berjualan Lagi

Perempuan warga Desa Colo itu mengatakan, tidak menanam sendiri hasil panen yang dijualnya. Namun membeli dari petani lokal Gunung Muria. Dia beralasan, puluhan tahun menjual aneka hasil panen tersebut karena modalnya lebih murah ketimbang jualan oleh – oleh lainnya.

Dia berkisah, berdagang itu merupakan warisan dari ibunya. Menurutnya, sejak masih gadis ia suka ikut membantu ibunya berjualan di kawasan Makam Sunan Muria. Setelah menikah, kemudian ia pun berjualan sendiri.

“Ibu saya dulu juga berjualan hasil panen dari Gunung Muria, jadi saya ikut. Saya mikirnya selain berdagang juga memperkenalkan kekayaan lokal kepada para peziarah yang datang dari kota lain,” beber perempuan mengenakan hijab abu – abu tersebut.

Baca juga : Sepekan Makam Sunan Muria Dibuka untuk Simulasi, Begini Situasinya

Asidiqi (21) peziarah dari Demak mengatakan, setiap datang ziarah ke Makam Sunan Muria selalu beli ganyong. Meski ganyong itu tidak hanya tumbuh di Gunung Muria saja, namun seolah ganyong itu khas oleh – oleh dari Muria. Karena memang banyak penjual ganyong di kawasan wisata Makam Sunan Muria.

“Ini saya juga beli ganyong untuk oleh – oleh keluarga. Tidak banyak sih, yang penting bisa mengobati rasa kepingin,” ujar Sidiq yang datang ziarah bersama temannya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Dengan GO-Darja, Kini Pendaftaran Pasien di RSUD Loekmono Hadi Tak Perlu Antre

0
Go-Darja, aplikasi pendaftaran pasien rawat jalan di RSUD dr Loekmono Hadi sudah bisa digunakan. Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – RSUD dr Loekmono Hadi Kudus meluncurkan aplikasi Go-Darja (Go- Daftar Antrian Rawat Jalan) untuk persiapan menuju new normal. Aplikasi tersebut akan memudahkan calon pasien untuk mendaftar secara daring tanpa harus mengantre untuk mendapatkan layanan di rumah sakit tersebut.

Direktur RSUD dr Loekmono Hadi Kudus Abdul Azis Achyar menuturkan, aplikasi Go-Darja diperuntukkan pasien rawat jalan. Di aplikasi berbasis android ini, masyarakat dapat mengatur waktu berobat dan mengetahui jadwal praktik dokter.

Direktur RSUD dr Loekmono Hadi Kudus Abdul Azis Achyar menunjukkan cara menggunakan aplikasi Go-Darja, Kamis (11/6/2020). Foto: Imam Arwindra.

“Aplikasi ini (Go-Darja) untuk mempermudah masyarakat dalam melakukan pendaftaran. Masyarakat tidak perlu antre lama, dan tentu akan mengurangi kerumunan di ruang pendaftaran. Namun, kami harapkan 30 menit sebelum waktu pemeriksaan (dokter) sudah berada di rumah sakit,” tuturnya saat di meluncurkan aplikasi Go-Darja di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus, Kamis (11/6/2020).

Baca juga: Mulai Berlakukan New Normal, Pasien RSUD Loekmono Hadi Boleh Dijenguk

Aziz menuturkan, aplikasi tersebut sudah disiapkan selama satu bulan yang lalu. Keunggulan dari Go-Darja yaitu dapat mencetak surat eligibilitas peserta (SEP) secara mandiri.

“Nanti akan ada barcode. Barcode dari layar HP discan di alat yang sudah disiapkan. Terus lembar SEP keluar dan langsung menuju Poliklinik,” tuturnya.

Lebih detail dia menjelaskan, aplikasi yang dapat diunduh gratis di PlayStore tersebut terdiri dari lima menu di halaman utama. Yakni Pendaftaran, Jadwal Praktik, Antrian, History, dan Keluarga. Bagi pengguna baru, diharuskan untuk melakukan pendaftaran akun di menu pendaftaran baru. Setelah itu, baru bisa menggunakan aplikasi dengan memasukkan user name dan password.

“Silakan melengkapi biodata seperti nama, nomor telepon, dan password. Akun bisa digunakan untuk diri sendiri maupun keluarga. Selain itu, layanan ini bisa diakses seluruh pasien. Baik melalui mandiri, BPJS maupun dengan asuransi yang lain,” tuturnya.

Baca juga: Alat Tes Swab di RSUD Kudus Sudah Bisa Dioperasikan

Di menu yang telah disediakan, masyarakat juga bisa mengecek daftar praktik dokter dan nomor antrian. Selain itu, pasien juga bisa melihat rekam jejak kunjungan berobat selama di RSUD dr Loekmono Hadi.

“Jadi di sini ada nama-nama dokter, hari praktiknya kapan, jam, dan lokasi praktik,” tuturnya sambil menunjukkan lewat ponsel pintar yang dipegangnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Gus Yasin Minta Pesantren Buat Satgas Jaga Santri

0
Beberapa santri di salah satu pesantren sedang mengaji kitab. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, SEMARANG – Untuk mengawasi protokol kesehatan sekaligus melakukan penanganan ketahanan ekonomi di pondok, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen atau Gus Yasin, minta pengurus pesantren untuk membuat Satgas Jaga Santri.

Hal itu dikatakan Gus Yasin, usai mengikuti rapat evaluasi penanganan Covid-19, di Ruang Rapat Gubernur, Senin (15/6/2020). Menurutnya, peran Jaga Santri tak ubahnya seperti konsep Jogo Tonggo Jawa Tengah.

Baca juga : Seluruh Santri yang Masuk ke Jateng Wajib Karantina

“Di pesantren ada yang kita istilahkan Jaga Santri , yang kemudian dilinkkan dengan Jogo Tonggo di desa setempat, sehingga lebih cepat. Itu untuk menangani dampak ekonomi, misalnya terkait pasokan bahan makanan di pesantren bagi para santri. Selain itu mereka juga akan bekerja sama dengan puskesmas bilamana ada santri yang sakit (gejala Covid-19),” ujarnya.

Menurutnya, hal itu penting, lantaran pondok pesantren merupakan institusi yang menggabungkan pendidikan formal dan agama. Selain itu, pola pendidikan di ponpes sulit jika harus meniru sekolah formal pada umumnya.

Terkait kembalinya santri ke pondok, Gus Yasin menyebut, sudah membuat berbagai pola acuan. Hal itu, didasarkan pada kunjungannya di beberapa ponpes yang memiliki skenario pembelajaran jika pondok pesantren diizinkan untuk menggelar kembali proses belajar mengajar.

Di antaranya, menggelar pendidikan dengan sistem shift, bilamana tidak semua santri menetap di pondok.

Baca juga : Pesantren di Kudus Belum Berani Terima Santri dari Luar Daerah

Hal yang terpenting, adalah proses karantina terhadap santri, yang baru datang dari wilayah asal. Selain itu, pengurus juga wajib menyediakan fasilitas basuh tangan dan sabun untuk para santrinya. Wagub menyebut, sudah melakukan konsultasi dengan dokter terkait mekanisme karantina.

“Kalau ponpes agak kesulitan (belajar online) maka mereka harus kembali ke pesantren. Tetapi ada yang bertahap, kemarin di Banyumas itu ada yang menerapkan kedatangan bertahap, 200 dulu, kemudian dikarantina setelahnya datang lagi,” urainya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sebut Pertumbuhan Ekonomi Mengerikan, Ganjar Siapkan APBD Pertolongan

0
Gubernur Ganjar Pranowo menghadiri Pengarahan Bapak Presiden RI melalui Video Conference pada acara Pembukaan Musrenbangnas 2020 di Ruang Rapat Gd A Lt 2. Kamis (30/4/2020) Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah selama pandemi Covid-19 atau pada kuartal pertama 2020 menurun drastis, hanya sebesar 2,60 persen. Untuk itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah telah mempersiapkan beberapa kebijakan dalam rangka mengangkat sektor ekonomi.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, Covid-19 membuat semua target dan rencana yang telah disusun sebelumnya tidak tercapai. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Jateng turun drastis dibanding tahun sebelumnya.

“Kalau pertumbuhan ekonomi, ya memang begitu. Ini mengerikan. Kita sudah tahu soal itu, makanya kami sedang membuat skenario-skenario karena memang tidak terlalu bagus,” katanya usai memimpin rapat percepatan penanganan Covid-19 di gedung A lantai 2 kantor Gubernur Jateng, Senin (15/6/2020).

Baca juga: Ganjar Gelontorkan Rp 38 M Demi UMKM Tetap Eksis di Tengah Pandemi

Pihaknya telah melakukan revisi total terkait kondisi pertumbuhan ekonomi Jateng. Salah satu cara yang akan digenjot adalah sektor investasi.

“Semua yang punya potensi investasi akan kami bantu dan dorong terus. Apalagi, investasi yang bisa menyedot tenaga kerja lebih banyak,” terangnya.

Percepatan investasi, lanjut dia, dirasa paling cepat untuk memperbaiki pertumbuhan ekonomi Jateng. Makanya, dirinya bersyukur ada sejumlah perusahaan besar dari luar negeri berencana berinvestasi ke Jateng dalam waktu dekat.

“Kemarin-kemarin masih ada investasi di kawasan industri. Masih berjalan dan itu lumayan. Tapi kalau mengharapkan target tercapai, itu pasti tidak mungkin,” tegasnya.

Baca juga: Di Hadapan Erick Thohir, Ganjar Minta Bank BUMN Buka Akses KUR

Selain mengoptimalkan peluang investasi, Ganjar juga telah mendesign APBD 2021 sebagai APBD Pertolongan. Beberapa program disiapkan untuk menyelamatkan sejumlah sektor, termasuk pemulihan ekonomi.

“APBD 2021 besok kami harapkan lebih banyak didesain agar lebih banyak dikerjakan dengan cara padat karya. Sehingga ini bisa mendongkrak ekonomi,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Wilayahnya Masih Zona Merah, Ganjar Surati Tiga Kepala Daerah Ini

0
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan melayangkan surat kepada tiga kepala daerah, yakni Kabupaten Demak, Kota Semarang, dan Kabupaten Magelang. Sebab, tiga daerah tersebut masuk zona merah kasus Covid-19. Karena itu, mereka agar memerhatikan kasus tersebut.

“Demak, Semarang (kota), Kabupaten Magelang itu merah. Tolong semuanya dikencengin lagi (tracing). Kemarin kita lihat CFD kan banyak banget itu, masih ada orang mengerikan (padat),” kata Gubernur Jateng Ganjar Pranowo usai Rapat Evaluasi di kantornya, Senin (15/6/2020).

Ganjar mengaku melihat sendiri suasana CFD di Simpang Lima Kota Semarang yang ramai dan seolah ada even. Hal itu menurutnya tidak bagus. Oleh karena itu apa yang sudah dilakukan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi telah lakukan tracing ketat hingga rapid test yang banyak. Maka jangan sampai nanti masyarakat tertular karena masalah kerumunan tak terkendali itu.

Baca juga : Ganjar Sebut Hanya Tinggal Tiga Daerah di Jateng yang Kategori Merah

Dari evaluasi, pihaknya membagi ada tiga daerah, kabupaten dan kota yang memang petanya merah, kuning dan hijau. Pihaknya akan mengirimkan surat kepada bupati, dan wali kota agar berhati-hati.

Selain itu, untuk daerah di Banyumas dan Wonosobo saat ini memasuki zona kuning mendekati hijau. Sedangkan kota lain di Jateng masih kuning semua. Dari tempat-tempat itulah, Ganjar meminta semua untuk hati-hati.

Pihaknya menegaskan, agar kabupaten dan kota untuk melakukan tracing yang lebih giat, serta memperbanyak surveilans. Sehingga akan tahu seberapa banyak yang tertular virus Corona.

Dalam surat itu akan ditegaskan agar tidak ada lagi kerumunan, dan dilakukan pembatasan kegiatan masyarakat sehingga pengawasan ketat bisa dilakukan.

Baca juga : Kembali Bertambah, Kasus Positif Covid-19 di Kudus Tembus 107

Pasar Diminta Ditata

Ganjar juga menuturkan, agar pasar seluruhnya ditata. Yaitu bukan berarti pasar ditutup tiga hari karena ada kejadian kasus Covid, tapi juga mesti dilakukan penjarangan atau menempatkan petugas di pasar untuk khusus mengawasi dan berpatroli. Selain juga sarana dan prasarananya disiapkan.”Itulah yang nanti kita akan kirim surat,” ujar dia.

Ganjar juga meminta agar seluruh laboratorium pemeriksaan hasil tes Corona untuk siap bekerja lebih keras lagi. “On 24 jam. Sehingga PCR test itu bisa dilakukan tidak dalam waktu 2-3 hari tapi satu hari Jika laboratorium tidak bisa melakukannya sehari maka menurutnya tidak usah,” tegasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Terjadi Penambahan 14 Kasus Baru Covid-19 di Kudus, Dua di Antaranya Anak-anak

0
Ilustrasi

BETANEWS.ID, KUDUS – Kasus Covid-19 di Kabupaten Kudus terus bertambah. Update pada Senin (15/6/2020), ada penambahan 14 kasus baru, yang dua di antaranya merupakan anak-anak. Dua anak tersebut berasal dari Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Mereka yakni laki-laki berusia lima tahun dan perempuan berusia tujuh tahun.

“Sekarang kedua anak ini sedang dirawat di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus sejak tanggal 12 Juni,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi, Senin, (15/6/2020).

Menurut Andini, kedua anak tersebut memiliki kontak dengan pasien Positif Covid-19 yang tidak lain adalah keluarganya sendiri.

Baca juga : Kembali Bertambah, Kasus Positif Covid-19 di Kudus Tembus 107

“Kondisinya baik. Mereka memiliki kontak erat dengan pasien Covid-19. Mereka tidak ada penyakit penyerta dan riwayat perjalanan dari wilayah terjangkit,” jelasnya.

Selain dua anak tersebut, lanjut Andini, penambahan dari Kecamatan Kaliwungu juga terdapat dua lagi. Yakni laki-laki usia 45 tahun. Pasien tidak memiliki penyakit penyerta dan riwayat perjalanan. Namun pasien ini memiliki kontak dengan pasien Covid-19. Pasien mulai dirawat di RSUD dr Loekmono Hadi sejak 13 Juni 2020.

“Jumlah yang Kaliwungu ada empat. Dua anak tadi, terus pasien laki-laki usia 45 tahun, satunya yakni perempuan usia 25 tahun. Untuk yang perempuan di RSUD sejak 8 Juni. Tanpa penyakit penyerta, tidak ada kontak pasien Covid-19 dan riwayat perjalanan,” jelasnya.

Selanjutnya, penambahan datang dari Kecamatan Mejobo. Menurut Andini, terdapat empat orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. Yakni laki-laki usia 32 tahun dan 57 tahun. Selanjutnya, perempuan usia 32 tahun dan 52 tahun. Keseluruhan memiliki kontak dengan pasien Covid-19.

“Tiga orang dirawat di RSUD, satu orang yang perempuan 32 tahun dirawat di RS Mardi Rahayu karena memiliki penyakit penyerta,” jelasnya.

Enam pasien selanjutnya, kata Andini, dari Kecamatan Undaan, yakni satu orang perempuan 44 tahun dan Kecamatan Jati yakni laki-laki 43 tahun. Keduanya dirawat di RSUD dr Loekmono Hadi, dan mereka tanpa penyakit penyerta dan kontak dengan pasien Covid-19.

“Untuk empat terakhir ini dari Gebog, yakni seorang laki-laki 44 tahun, Dawe satu laki-laki 46 tahun, Jekulo satu laki-laki 30 tahun dan dari Kabupaten Ngawi satu laki-laki 23 tahun. Keseluruhan tidak memiliki penyakit penyerta, namun ada kontak dengan pasien Covid-19,” tuturnya.

Baca juga : Mulai Berlakukan New Normal, Pasien RSUD Loekmono Hadi Boleh Dijenguk

Andini menuturkan, dengan kasus baru tersebut, jumlah kasus positif Covid di Kudus mencapai 134. Untuk itu, pihaknya meminta masyarakat untuk patuh terhadap protokol kesehatan yang berlaku.

Menurutnya, saat ini pihaknya sedang masif dalam melakukan traking kepada semua pasien yang terkonfirmasi Covid-19.

“Untuk 134 kasus itu, tidak dirawat semua ya. Rinciannya, 66 orang dirawat, 14 orang isolasi mandiri, 44 orang sembuh dan 10 orang meninggal,” terangnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Mulai Berlakukan New Normal, Pasien RSUD Loekmono Hadi Boleh Dijenguk

0
Direktur RSUD dr Loekmono Hadi Abdul Aziz Achyar saat mengecek persiapan kenormalan baru di rumah sakit tersebut, Kamis (11/06/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Loekmono Hadi Kudus sudah memperbolehkan pasien dijenguk oleh keluarganya. Kebijakan tersebut diambil seiring kesiapan rumah sakit plat merah itu dalam menyambut new normal atau kenormalan baru.

Direktur RSUD dr Loekmono Hadi Abdul Aziz Achyar menuturkan, langkah itu diambil lantaran banyak warga enggan berobat dan dirawat di rumah sakit setelah ada kebijakan larangan menjenguk pasien. Mereka khawatir, jika dirawat di tempat tersebut, tidak ada orang yang bisa datang serta menjenguknya.

Bangku di RSUD dr Loekmono Hadi sudah diatur jaga jarak. Foto: Imam Arwindra.

“Selama ini ada kehawatiran yang berlebihan. Sekarang sudah boleh, tapi harus mematuhi protokol kesehatan Covid-19,” tuturnya saat ditemui di RSUD dr Loekmono Hadi, Kamis (11/06/2020).

Selain memberlakukan protokol kesehatan Covid-19, pihaknya juga memberikan batasan-batasan lain kepada masyarakat yang datang. Yakni usia yang diperbolehkan masuk minimal 14 tahun dan maksimal 60 tahun. Selain  itu, dibatasi maksimal tiga orang saja.

Baca juga: Pencairan Insentif untuk 866 Nakes di Kudus Tunggu Verifikasi Kemenkes

“Misalkan ada sembilan orang datang. Nanti tiga orang masuk dulu, maksimal 15 menit. Setelah tiga orang yang masuk pertama tadi keluar, dilanjutkan tiga orang selanjutnya. Jadi bergantian,” jelasnya.

Pembesuk juga wajib mengenakan masker dan mencuci tangan ketika masuk dan keluar RSUD. Menurut Aziz, pihaknya sudah menyiapkan titik-titik tempat cuci tangan khusus yang bisa digunakan masyarakat.

“Yang penting lagi, jangan bergerombol,” tegas Aziz.

Aziz juga menuturkan, untuk mengurangi kontak antara pasien dan tenaga kesehatan, pihaknya menyediakan pembayaran non tunai. Baik dilakukan dengan ATM atau internet banking.

“Harapannya, pasien dan keluarganya bisa mudah dalam bertransaksi. Selain itu juga mencegah terjadinya penularan virus Corona,” tuturnya.

Terakhir, untuk pendaftaran pasien, terutama pasien rawat jalan. RSUD sudah meluncurkan aplikasi bernama Go-Darja. Aplikasi tersebut dapat diunduh melalui Playstore.

Baca juga: Alat Tes Swab di RSUD Kudus Sudah Bisa Dioperasikan

“Pasien sudah tidak perlu lagi mengantre lama. Karena sistemnya seperti booking. Aplikasi ini dapat mempersempit waktu tunggu, (dan) mengurangi kerumunan pasien. Harapannya physical distancing di rumah sakit (bisa) diberlakukan,” tutupnya.

Menurutnya, selama pemberlakuan kebijakan larangan besuk sejak Maret 2020 atau saat Ramadan, warga yang dirawat di RSUD hanya sekitar 30 persen dari 417 buah tempat tidur yang disediakan. Jumlah tersebut naik 32 persen sampai 37 persen ketika Lebaran. Untuk saat ini, penggunaannya sudah mencapai 52 persen.

“Itu sudah termasuk pasien positif Covid-19, PDP (pasien dalam pengawasan). Namun didominasi pasien manula. Untuk DB (pasien demam berdarah) tidak terlalu melonjak,” tutup Aziz.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -