Jerit Pilu Tukang Becak Kudus saat Pandemi Corona Merebak

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa becak berjajar rapi di belakang Pasar Kliwon Kudus. Di atas becak tersebut, terlihat para pengayuhnya. Ada yang sedang ngobrol sesama pengayuh becak, ada juga yang tampak lesu menanti orderan. Satu di antaranya adalah Suparjan yang merasakan dampak corona, yakni orderan sepi.


Suparjan mengatakan, bekerja jadi pengayuh becak di Pasar Kliwon Kudus sudah 15 tahun. Belasan tahun mengayuh kendaraan roda tiga tersebut, dia mengaku saat inilah orderan paling sepi. Saat ada corona, pengunjung Pasar Kliwon Kudus sepi. Tentu juga itu sejalan dengan orderannya yang ikut sepi.

Salah satu tukang becak yang sedang mangkal di Pasar Kliwon Kudus. Foto : Rabu Sipan


“Sejak ada corona, Pasar Kliwon Kudus itu sepi. Biasanya pukul 11.00 WIB, saya bisa dapat delapan tarikan. Setelah ada corona, ini loh saya baru narik sekali,” ujar pria yang akrab disapa Parjan kepada betanews.id, Sabtu (4/4/2020).

-Advertisement-

Baca juga : Produksi Masker, Abyadl Konveksi Tidak Ada Niatan Cari Untung dari Pandemi Corona


Pria warga Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kudus itu menuturkan, karena orderan sepi itu, penghasilannya juga sangat minim. Bahkan sekarang tuturnya, dirinya juga kesulitan untuk membayar angsuran piutang bank pemerintah serta angsuran kendaraan roda dua.

“Aku kira janji Pak Jokowi itu bisa kami rasakan. Kata Pak Jokowi rakyat kecil yang terkena imbas corona dapat keringanan angsuran. Ternyata tidak, aku tetap disuruh bayar angsuran tepat waktu,” ungkapnya.

Senada dengan Parjan, tukang becak di Pasar Bitingan Kudus nasibnya juga tak jauh berbeda sejak corona merebak. Satu di antaranya Agus Supardi. Pria yang sedang menunggu orderan itu mengaku belum dapat orderan sama sekali.

“Sajak ada corona tidak ada yang naik becak Mas. Ini sudah hampir pukul 10.00 WIB belum dapat penglaris,” ungkap pria yang akrab disapa Agus tersebut.

Pria yang siang itu bersama rekannya menanti orderan di sebelah utara pasar tersebut menuturkan, sebenarnya sepi orderan bagi tukang becak itu sudah terasa sejak ada ojek online di Kudus. Keadaan itu makin parah sejak wabah corona merebak.

Baca juga : Meski Jalan Tertatih, Imam Tetap Kerja Bikin Buis Beton Demi Hidupi Keluarga

“Dulu sebelum ada corona, sehari saya bisa dapat tujuh tarikan. Sekarang paling dapat tiga, mentok lima tarikan. Padahal saya harus menhidupi istri dan tiga anak di rumah,” bebernya.

Dia berharap ada bantuan dari pemerintah. Agar beban rakyat kecil seperti dirinya saat pandemi corona bisa teringankan. “Harapan saya, pemerintah itu ada peran aktif sejahterakan rakyatnya di saat susah seperti ini,” cetusnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER