BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi Jalan Raya Kudus-Jepara, Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus tampak puluhan becak terparkir di halaman rumah bercat putih. Di antara becak itu terlihat seorang pria mengenakan kaus hitam duduk di atas becak. Pria tersebut yakni Suroto (76) pemilik usaha persewaan becak Kudus.
Saat ditemui, pria asal Gunung Kidul, Yogyakarta itu dengan ramah menyapa dan mengajak duduk di ruang tamu rumahnya. Kemudian dia pun antusias berkisah awal mulai datang ke Kota Kretek serta perjalanan merintis usaha persewaan kendaraan roda tiga itu.

Dia mengaku datang ke Kudus pada 1958. Setelah lulus SMP pada 1964, ia pun kemudian kerja di bengkel sepeda dan becak milik warga Tionghoa. Dari sana lah usaha sewa becaknya berawal.
“Saya kerja itu sekitar lima tahun. Setelah itu saya mendirikan bengkel sepeda dan becak sendiri. Uang hasil bengkel saya kumpulkan, dan saya belikan becak untuk saya sewakan,” jelas Suroto kepada Betanews.id, Kamis (11/6/2020).
Baca juga: Bengkel Pak Pwa, Saksi Sejarah Perjalanan Sepeda di Kudus
Pria yang sudah mempunyai cucu delapan itu menuturkan, saat pertama itu harga sewa becak hanya Rp 20. Dia mengaku, meski usahanya sekarang sudah tidak populer, dulunya kendaraan roda tiga itu pernah mengalami masa jayanya. Bahkan pada 1975, dia pernah punya lebih dari 50 unit becak.
“Di masa jaya usaha sewa becak itu, saya mampu beli rumah. Bahkan sampai tiga kali dan yang terakhir rumah yang saya tempati ini,” ungkapnya.
Namun, kata dia, dengan berjalannya waktu, keberadaan becak mulai terpinggirkan, setelah ada banyak angkutan kota (angkot), motor dan sekarang itu ada ojek online. Namun, meski begitu becak juga masih tetap diminati sebagian orang, hingga bisa tetap eksis sampai sekarang. Terutama di sekitaran pasar yang ada di Kudus.
“Oleh sebab itu, usaha sewa becak saat ini masih bisa memberi pemasukan bagi saya. Sekarang saya masih punya 35 unit becak yang saya sewakan,” beber Suroto yang mematok harga sewa becak sebesar Rp 5 ribu sehari.
Baca juga: Jerit Pilu Tukang Becak Kudus saat Pandemi Corona Merebak
Menurutnya, sebelum ada Corona, 35 becak itu bisa tersewa semua. Namun sejak ada wabah, becak yang tersewa hanya 30 persennya saja. Makanya, dia berharap Corona secepatnya hilang, sehingga keadaan bisa normal kembali.
“Meski pengguna becak berkurang drastis. Meski becak sudah terpinggirkan. Namun, selama saya masih hidup dan sehat, usaha sewa becak ini akan saya pertahankan. Karena saya hidup itu dari becak. Aku ke Kudus tidak punya apa-apa, hingga punya rumah dan mampu menyekolahkan semua anak saya, ya dari becak, kok,” tutup Suroto.
Editor: Ahmad Muhlisin

