Tradisi Resik-Resik Sendang, Wujud Syukur Warga Wonosoco Atas Berkah Alam

BETANEWS.ID, KUDUS – Sutikno (46) terlihat begitu lincah memainkan Wayang Klithik di sebuah panggung mini. Para niaga yang berada di belakangnya terdengar mengalunkan musik mengikuti alur cerita yang dilakonkan. Tak jauh dari tempatnya mendalang, beberapa penduduk setempat terlihat menikmati pertunjukan yang dilangsungkan setahun sekali itu.

Pertunjukan Wayang Klithik tersebut merupakan bagian dari tradisi Resik-Resik Sendang Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus yang dilaksanakan, Sabtu dan Minggu (13-14/6/2020).

Dalang Sutikno saat memainkan sebuah lakon Wayang Klithik di acara Tradisi Resik-Resik Sendang di Desa Wonosoco, Sabtu (13/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Sutikno menjelaskan, tradisi tersebut merupakan bentuk syukur warga setempat atas berkah alam dan hasil bumi. Pelaksanaanya mengikuti tanggal perhitungan Jawa, yakni Sabtu Kliwon dan Minggu Legi di Bulan Apit (Dzulqo’dah). Selama dua hari, warga setempat mengadakan kirab di dua sumber mata air yang ada di desa itu.

-Advertisement-

Baca juga: Wayang Klithik, Warisan Budaya Penanda Berdirinya Desa Wonosoco

Menurutnya, ada tiga kegiatan wajib yang dilakukan. Pada Kamis Pon, terdapat penyembelihan kambing dan penanaman kepala kambing dan kaki kambing. Lalu Sabtu Kliwon resik-resik Sendang Dewot dan pagelaran Wayang Klithik. Kemudian di Hari Minggu Legi ada resik-resik Sendang Gading dan pagelaran Wayang Klithik juga.

“Nah, untuk menghormati dua penghuni sumber mata air itu, tradisi ini kami lakukan tiap tahun. Tradisi diakhiri dengan syukuran bersama yang dikenal dengan sebutan bancakan,” ungkap dia.

Menurut pria yang sudah mendalang selama 10 tahun itu, tradisi Resik-Resik Sendang mulai diadakan bersamaan dengan berdirinya Desa Wonosoco, termasuk juga kemunculan Wayang Klithik. Sebagai kesenian tradisi, selanjutnya Wayang Klithik menjadi pengiring saat ada ritual budaya dan tradisi masyarakat.

“Tradisi ini untuk melestarikan budaya. Sudah dimulai sejak berdirinya Desa Wonosoco. Jadi ceritanya dua sendang yang kami bersihkan itu namanya Sendang Dewot dan Sendang Gading. Dua sumber mata air yang ditemukan oleh Pangeran Kajoran saat melawan penjajah dulu,” papar Sutikno.

Baca juga: Menyusuri Sejarah Berdirinya Masjid Jami’ Nganguk Wali

Khusus di masa pandemi Covid-19, lanjut Sutikno, tradisi tersebut tetap dilaksanakan dengan penyesuaian-penyesuaian. Seperti tiadanya kirab budaya yang selalu menjadi bagian acara. meskipun diadakan dan masuk dalam zona hijau, warga sepakat untuk tidak mengundang pihak luar desa. Selain itu, mereka juga menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker dan penyediaan hand sanitizer.

“Kalau tahun ini memang cukup berbeda. Tidak ada kirab, karena kondisi semacam ini, ya. Bahkan ini sebenarnya sifatnya intern. Meskipun kami masuk wilayah hijau, tapi kami tetap masih waspada. Selain itu, kami juga tetap memakai protokol kesehatan,” tukas dia.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER