Beranda blog Halaman 1811

Ganjar Apresiasi Petugas Coklit Pakai APD Lengkap

0
Ganjar Pranowo memasang stiker yang menunjukkan bahwa keluarganya sudah di Coklit, Sabtu Sabtu (18/7/2020) malam. Foto: Ist.

BETANEWSW.ID, SEMARANG – Rombongan petugas penyelenggara pemilu mendatangi kediaman Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Sabtu (18/7/2020) malam. Mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap, mereka datang untuk melakukan pencocokan dan penelitian (Coklit) data Pemilu 2020.

Petugas yang datang itu mengenakan masker, face shield, dan sarung tangan. Namun yang menarik, sarung tangan yang dikenakan salah satu Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) adalah sarung tangan plastik yang biasa digunakan untuk memasak. Karuan saja sarung tangan petugas bernama Widji Purwaningsih itu menjadi perhatian Ganjar.

Ganjar Pranowo saat dicoklit petugas KPU Kota Semarang, Sabtu Sabtu (18/7/2020) malam. Foto: Ist.

“Ini keren lho, sudah pakai masker, face shield dan juga sarung tangan. Ya, meskipun sarung tangannya pakai yang dari plastik, tapi ini ikhtiar yang luar biasa dari para petugas untuk tetap menjalankan tugasnya di tengah pandemi,” kata Ganjar disambut tawa petugas lain.

Ganjar pun langsung memerintahkan ajudannya mengambil stok sarung tangan kesehatan di ruangannya. Sarung tangan itu kemudian diberikan kepada petugas PPDP tersebut.

“Ini bu saya kasih ya, biar lebih aman. Tapi ibu sudah keren, ikhtiarnya luar biasa. Kalau pakai ini (sarung tangan kesehatan), lebih top,” imbuhnya disambut senyum petugas PPDP.

Baca juga: Pilkada di Tengah Pandemi, Ganjar Minta KPU Cari Titik Temu Rencana Anggaran

Setelah selesai pencoklitan, Ganjar pun meminta masyarakat yang daerahnya menggelar Pilkada 2020 untuk mendukung program Coklit ini. Proses tersebut penting, agar calon pemilih sesuai dengan data, sehingga memastikan setiap masyarakat yang sudah terdaftar mempunyai hak pilih.

“Ayo peduli pada daerahnya masing-masing. Suaramu menentukan nasib daerahmu,” imbaunya.

Selain itu, Ganjar juga meminta penyelenggara pemilu untuk menyiapkan skenario-skenario proses pemilihan. Sebab, kondisi pandemi masih belum bisa diprediksi kapan akan selesai.

“Harapannya Desember nanti sudah menurun. Tapi jika belum, maka penyelenggara pemilu saya harap sudah mengantisipasinya. Jarak harus diatur ketat, semua pakai masker, petugas pemilihan pakai APD lengkap, disediakan tempat cuci tangan dan lainnya. Juga yang paling penting adalah pengaturan jam, bisa diatur agar lebih panjang sehingga tidak menumpuk,” tutupnya.

Baca juga: Ganjar ke Gibran: ‘Bisa Selesaikan Problem Saat Pandemi Pasti Dipilih’

Sementara itu, Ketua KPU Kota Semarang Henry C Gultom yang mendampingi petugas PPDP mengatakan, proses coklit dilakukan serentak secara nasional mulai Sabtu ((18/7/2020). Targetnya, proses itu akan selesai pada 13 Agustus mendatang.

“Meskipun saat ini masih pandemi, namun kegiatan Coklit harus tetap berjalan. Kami tetap berupaya melayani masyarakat dan tetap mematuhi protokol kesehatan,” kata Henry.

Tujuan Coklit ini, lanjut dia, untuk memastikan data peserta pemilu. Hasil Coklit ini akan dijadikan dasar penyusunan daftar pemilih tetap saat Pilkada berlangsung.

“Harapannya bisa maksimal sehingga penyelenggaraan nantinya juga bisa sukses,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Anang-Ashanty Kaget Ditemui Ganjar Pakai Kaus Oblong dan Sandal Jepit

0
Ganjar Pranowo (kanan) menemui pasangan selebritas Anang Hermansyah dan Ashanty, di Rumah Dinas Gubernur Jateng, Minggu (19/7/2020) malam. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pasangan sebritas Indonesia Anang Hermansyah dan Ashanty tampil rapi mengenakan batik warna merah saat tiba di Purigedeh, Semarang, Minggu (19/7/2020) malam. Niat mereka untuk bertemu Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dipersiapkan serius dari kediamannya di Jakarta dan menempuh jalur darat menuju Kota Atlas.

Saat tuan rumah muncul, betapa terkejut mereka. Mereka yang sengaja berpakaikan rapi, justru ditemui orang nomor satu di Jateng itu dengan berpakaian santai. Ganjar tampak mengenakan kaus oblong warna hitam, celana jins, dan bersandal jepit.

“Wah salah kostum kita,” ujar Ashanty kepada suaminya saat Ganjar muncul menemui mereka.

Anang dan Ahanty berbincang santai bersama Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Foto: Ist

Ganjar yang tak ingin tamunya merasa bersalah mengatakan, dirinya memang sering tampil santai mengenakan kaus oblong. Alasannya, dengan mengenakan kaus oblong dia bisa sambil kampanye sosialisasi pencegahan penularan Covid-19.

“Saya suka pakai kaos karena bisa kampanye. Ini kan tulisannya bagus, Kitorang Basudara, Kecuali Sama Corona,” kata Ganjar sambil menunjukkan tulisan yang tertera di kaus yang ia kenakan kepada Ashanty dan Anang.

Baca juga: Setiap Minggu Ganjar Buka Lapak Tawarkan Produk UKM di Instagram

Pertemuan tersebut berlangsung santai dan penuh canda tawa. Pasangan selebritas yang kini rajin mengunggah konten di Youtube milik mereka tersebut, juga mengulik kehidupan pribadi Gubernur Jateng dua periode tersebut.

Selain mengulik masa kecil Ganjar, Anang juga tak segan mengulik kisah cintanya bersama Siti Atikoh, istri Ganjar. Anang mengatakann pasangan Ganjar-Atikoh sangat romantis dan banyak diidolakan oleh kalangan anak muda. “Soalnya mas Ganjar ini romantis ya, jadi tertarik,” imbuhnya.

Baca juga: Rumah Kemasan Jateng Bikin Tampilan Produk UKM Berkelas Internasional

Kepada awak media, Anang membeberkan alasan kenapa dia menemui Ganjar. Dia mengaku penasaran dengan keberhasilan yang dicapai politisi PDI Perjuangan tersebut dalam memimpin rakyat Jawa Tengah.

Anang berharap Ganjar terus sukses dalam memimpin Jawa Tengah. Meskipun sudah dua periode dan tidak mungkin lagi maju sebagai Gubernur, Anang berharap Ganjar tetap berkiprah di dunia politik.

“Harapannya mas Ganjar tetap berkiprah di dunia politik. Masyarakat masih menunggu kiprahnya lebih besar lagi. Saya sebagai teman dan juga masyarakat Indonesia, tentu senang memiliki pemimpin seperti Ganjar,” katanya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Pernah Terancam Putus Sekolah, Nikmah Kini Sukses Jadi Peronce Melati

0
Nikmah menunjukkan roncean bunga hasilo karyanya di rumahnya, di Desa Desa Jepang, Mejobo, Kudus, Selasa (14/7/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Wangi bunga melati langsung tercium saat memasuki rumah dua lantai di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Tempat tersebut memang terkenal di kalangan perias atau Makeup Artist (MUA) di Kota Kretek. Lantaran, pemilik rumah, Nikmah, telah jadi penyuplai roncean bunga melati untuk kebutuhan pernikahan selama beberapa tahun ini.

Ditemui di sela-sela aktivitasnya meronce melati, Nikmah menceritakan awal mula dirinya terjun menjadi peronce kembang pengantin hingga punya ratusan pelanggan. Menurutnya, jadi peronce itu bermula saat ia kesulitan biaya untuk meneruskan sekolah ke jenjang SMA. Bahkan, dulunya ia terancam putus sekolah lantaran orang tuanya tidak punya biaya.

Nikmah sedang mengerjakan roncean melati di rumahnya, di Desa Desa Jepang, Mejobo, Kudus, Selasa (14/7/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Padahal, Nikmah merupakan lulusan terbaik di SMP-nya dan mendapatkan beasiswa masuk secara gratis di SMEA Negeri. Namun, karena dia masih harus bayar biaya bulanan, orang tuanya tidak mampu menyekolahkan.

“Saya anak kedua dari 6 bersaudara. Pekerjaan ayah hanya tukang ojek di Terminal Pati. Kakak dan adik-adik hanya menuntut ilmu sampai ke jenjang SMP saja. Ya memang tidak mampu membiayai,” ungkap perempuan asal Pati itu, Selasa (14/7/2020).

Baca juga: Nikmah, Peronce Bunga Pernikahan Langganan 80 Persen MUA Kudus

Saat itulah, ia dapat jalan untuk meneruskan sekolah. Yaitu dengan cara kerja ikut jadi peronce bunga pengantin di usaha milik tetangganya. Setelah keluarganya merestui, ia kemudian ikut bekerja setelah pulang sekolah.

“Jadi saya mencari uang itu dari bekerja meronce kembang sepulang sekolah selama 3 tahun. Dari sana saya belajar dan akhirnya bisa meronce,” papar dia.

Setelah mahir, ia mulai membuka usaha meronce melati di Kudus. Karena belum punya banyak kenalan, Nikmah menawarkan roncean melati dari pintu ke pintu perias yang ada di Kudus. Berbekal brosur sederhana berisi hasil karyanya, akhirnya dalam waktu sebulan ia bisa memiliki banyak pelanggan.

“Pokoknya tiap rumah yang ada tulisan Rias Pengantin saya masuki. Saya tawarkan satu persatu. Ada yang menerima, tapi banyak juga yang meremehkan. Dari sana saya mendapat banyak pelanggan,” beber Nikmah.

Baca juga: Produk Boneka Kanza Handicraft Dijual Mulai Rp 25 Ribu

Dari usaha yang ia beri nama Sekar Jagat itu pula, kini Nikmah sudah punya Rumah, mobil, bahkan sempat punya toko peralatan alat tulis dan fotokopi. Selain itu, dirinya juga bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain.

“Dari usaha meronce itu, alhamdulilah saya mendapat berkah yang luar biasa. Bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan bisa dibilang lebih dari cukup. Saya juga bisa mempekerjakan para tetangga untuk menjadi peronce kembang,” tandas Nikmah.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Tidak Suka Bunga Alami, Yanti Malah Temukan Ladang Rezeki dengan Jual Bunga Sintetis

0
Yanti sedang menyusun bunga sintetis di rak. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Dinding sebuah rumah bernomer 29 yang berada di Perumahan Muria Indah Jalan Muria Raya 2 nampak terpajang aneka bunga. Di tempat tersebut juga tampak perempuan mengenakan kaus oblong sedang menata tanaman bunga tersebut. Perempuan itu yakni Sri Haryanti (32) penjual bunga sintetis.

Seusai menyelesaikan pekerjaannya, perempuan yang akrab disapa Yanti itu sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengatakan, mulai berjualan tanaman sintetis sejak sebulan yang lalu. Hal itu berawal dari dirinya yang tidak suka dengan tanaman bunga hidup. Sehingga untuk memperindah bagian rumahnya, ia pun membeli tanaman bunga sintetis.

Aneka bunga sintetis yang dijual Yanti. Foto: Rabu Sipan

Baca juga : Versi Aslinya Lagi Ngehits, Bunga Janda Bolong  Sintetis Yanti Laris Diborong Pelanggan

“Saya memang tidak suka tanaman bunga yang hidup ya. Sebab ribet harus menyiram dan merawat. Oleh karena itu untuk memperindah rumah, saya beli bunga sintetis lengkap dengan rak tempat menaruh bunga tersebut,” ujar Yanti kepada betanews.id, Rabu (15/7/2020).

Setelah beli, lanjutnya, rak dan bunga itu dipajang di samping di pojok pintu. Karena terlihat bagus, ia kemudian iseng memfotonya dan menjadikannya story WhatsAppnya. Saat dijadikan story WhatsApp itulah banyak temannya yang bertanya di mana beli bunga dan rak itu.

“Saya pun langsung memanfaatkan momentum itu. Saya pun jawab semua pertanyaan teman itu, kalau ingin beli bunga sintetis dan rak itu bisa langsung ke saya,” ungkap perempuan yang dikaruniai dua anak itu.

Kemudian, tuturnya, para temannya itu pun banyak yang pesan. Karena banyak permintaan, ia pun kini menyetok bunga sintetis di rumahnya, agar para pembeli bisa lihat langsung. Dia mengatakan, menyediakan aneka jenis bunga sintetis.
Di antaranya, bunga melati, mawar, anggrek, sakura, tulip dan lainnya. Ada juga tanaman sintetis yang tidak berbunga, antara lain, agloenema, monstera, hingga janda bolong. Untuk harga bervariasi. Mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu.

“Itu untuk tanaman pot duduk ya. Kalau tanaman pot gantung dan nempel di dinding harganya mulai Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu,” rincinya.

Selain jualan tanaman bunga sintetis ia juga menjual rak tempat bunga. Ada rak dinding yang dijual mulai Rp 40 ribu sampai Rp 55 ribu. Ada juga rak berdiri dari kayu yang ditawarkan dengan harga Rp 130 ribu. Serta ada juga rak besi yang dibanderol mulai Rp 50 ribu.

Baca juga : Yanto Jemput Rezeki dengan Jualan Bunga Keliling yang Selalu Laris Manis

Harga yang dirincinya itu, kata dia, bisa lebih murah untuk para resellernya dan pembelian grosir. Dia mengaku, dari jualan tanaman bunga sintetis itu bisa mengantongi uang Rp 500 ribu sehari.

“Semoga ke depan usaha saya bisa makin berkembang. Serta jualan bunga sintetis saya makin laris,” harap Yanti mantap.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

UMK Siapkan Dana Sekitar Rp 5 Miliar untuk Bantu UKT Mahasiswa

0
Suparnyo, Rektor UMK. Foto: M Khaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Universitas Muria Kudus (UMK) menyiapkan dana sekitar Rp 5 miliar untuk membantu meringankan Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswanya. Bahkan, 100 mahasiswanya akan digratiskan bagi yang benar-benar terdampak pandemi Covid-19.

Rektor UMK Suparnyo menuturkan, pemerintah telah memberikan subsidi kepada 100 mahasiswa yang terdampak Covid-19. Besaran nilai uang setiap orangnya yakni Rp 2,4 juta di semester ganjil ini.

Dia menjelaskan, jika subsidi dari pemerintah sebesar Rp 2,4 juta kurang, nantinya, sisanya akan ditanggung oleh UMK.

Baca juga : Wisuda Drive Thru ala UMK, Ada yang Pakai Sepeda Balap

“Misal mahasiswa UKT semester ganjil membayar Rp 6 juta, nanti akan mendapatkan subsidi dari pemerintah Rp 2,4 juta. Sisanya Rp 3,6 juta akan ditanggung yayasan. Namun itu hanya untuk 100 mahasiswa yang memenuhi syarat,” jelasnya saat ditemui selepas kegiatan wisuda drive thru di UMK, Sabtu (18/7/2020).

Dia melanjutkan, syarat yang diberikan yakni mahasiswa tidak bisa membayar sama sekali karena pandemi. Selanjutnya, orang tua terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan penghasilan orang tua menurun signifikan karena pandemi.

“Ada juga gaji orang tua di bawah Rp 4 juta. Nanti, setelah mereka mengajukan dengan sesuai syarat, kami akan cek kebenarannya ke lapangan. Jangan sampai salah sasaran,” tuturnya.

Suparnyo merinci, 100 mahasiswa yang akan dibebaskan UKTnya terdiri dari semester tiga 20 orang, semester lima 30 orang dan semester tujuh 50 orang. Sementara untuk mahasiswa lainnya juga akan mendapatkan keringanan sebesar Rp 300 ribu.

Dia menuturkan, keringanan sebesar Rp 300 ribu akan diberikan ke seluruh mahasiswa semester ganjil tahun ini. Secara teknis, pemberian subsidi tersebut akan dipotongkan di pembayaran her-registrasi semester ini sekitar bulan September.

Baca juga : Wisuda Oktober Mendatang, Diperkirakan UMK Masih Gunakan Sistem Drive Thru

“Untuk yang tahun ini semester tiga, lima dan tujuh akan mendapatkan keringanan Rp 500 ribu. Karena keringanan UKT semester kemarin (Rp 200 ribu) akan dijadikan satu di semester ganjil ini. Sedangkan semester satu hanya Rp 300 ribu,” terangnya.

Pihaknya berharap, dengan adanya keringan UKT ini dapat membantu meringankan beban orang tua.

“Harapannya bisa membantu beban orang tua, terutama yang terdampak Covid-19,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kolam Taman Kreasi Busiri Bisa Didapat Mulai Rp 250 Ribu

0
Busiri sedang menyelesaikan ornamen kolam taman di kediamannya di Desa Garung Lor, Kaliwungu, Kudus. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi utara Jalan Raya Kudus-Jepara, Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus tampak beberapa kolam taman dan beberapa ornamennya. Di antara barang tersebut, terlihat pria paruh baya sedang mengecat ornamen berbentuk gentong kecil. Pria tersebut adalah Busiri, pembuat ornamen dan kolam taman.

Sembari melakukan aktivitasnya, Busiri sudi berbagi penjelasan tentang usahanya tersebut. Dia mengatakan, mulai merintis pembuatan ornamen taman sejak empat tahun lalu. Dia mengaku membuat kerajinan secara otodidak, dan pemasaran hanya mengandalkan teras rumahnya yang berada di tepi jalan raya.

Busiri menunjukkan kolam taman beserta ornamennya di kediamannya, Desa Garung Lor, Kaliwungu, Kudus. Foto: Rabu Sipan.

“Saya bisa membuat ornamen taman itu secara otodidak. Awalnya saya beli di tempat penjual bunga. Kemudian saya jiplak dengan membuat cetakannya,” ujar Busiri kepada Betanews.id, Rabu (15/7/2020).

Pria yang sudah dikaruniai tiga cucu itu menuturkan, setelah jadi, hasil karyanya itu dipajang di depan rumahnya. Tujuannya agar bisa dilihat banyak orang yang lewat dan yang tertarik bisa mampir untuk membeli.

Baca juga: Terkenal Awet Serta Mewah, Batu Paras Ukir Makin Berkibar

“Pemasaran saya memang mengandalkan posisi rumah di pinggir jalan raya. Saya tidak pernah memasarkannya dengan cara lain, termasuk lewat online,” ungkapnya.

Dia menuturkan, saat memulai usaha, Busiri hanya membuat ornamen taman saja. Baru sejak dua pekan lalu, ia membuat taman kolam karena banyak yang berminat.

Soal harga, untuk ornamen leher angsa mulai dari Rp 50 ribu. Jika ingin beli satu set, harganya Rp 300 ribu. Sedangkan jika beli satu set ornamen beserta kolamnya, pembeli bisa menebusnya sebesar Rp 400 ribu. Kemudian untuk harga taman kolam, dibanderol mulai Rp 250 ribu hingga Rp 1,5 juta, tergantung ukuran.

“Selain itu saya juga membuat pot bonsai dengan harga Rp 35 ribu. Pot berbentuk akar pohon mulai Rp 40 ribu. Serta ornamen tempat lampu pagar saya jual Rp 60 ribu,” rincinya.

Baca juga: Kerjaan Terkenal Rapi, Furnitur dari Multiplek Buatan Asro Banyak Dilirik

Meski pemasaran hanya andalkan lokasi di tepi jalan, dia mengaku karyanya tersebut lumayan diminati. Selain orang Kudus, pembeli ada yang datang dari Jepara, Demak, dan Pati.

“Bahkan ada beberapa pemilik usaha tanaman hias yang ingin kerja sama, agar saya menyuplai pot dan ornamen. Namun saya tolak. Selain harganya tidak cocok, orang lewat yang beli hasil karya saya lumayan banyak,” tutup Busiri.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Nikmah, Peronce Bunga Pernikahan Langganan 80 Persen MUA Kudus

0
Nikmah sedang mengerjakan roncean melati di rumahnya, di Desa Desa Jepang, Mejobo, Kudus, Selasa (14/7/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Nikmah (35) tampak begitu telaten memilah bunga melati di rumah berlantai dua miliknya. Dengan berbekal jarum dan benang, siang itu dia sudah menyelesaikan beberapa roncean bunga yang dipesan untuk pernikahan. Hari itu, Nikmah sedang menyelesaikan dua rangkaian ronce untuk kalung pengantin pria dan hiasan sanggul rambut pengantin perempuan.

Di rumah yang terletak di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus itu, Nikmah memang banyak menerima pesanan peroncean melati. Bisa dibilang, usaha yang dinamai Sekar Jagat itu laris manis di Kota Kretek.

Nikmah sedang mengerjakan roncean melati di rumahnya, di Desa Desa Jepang, Mejobo, Kudus, Selasa (14/7/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Nikmah mengatakan, saat ini dia sudah punya kurang lebih 250 pelanggan. Bahkan, ia mengakui hampir 80 persen Makeup Artist (MUA) atau perias di Kudus merupakan pelanggan tetapnya. Dari usaha yang sudah dijalani sejak SMA itu pula, kini Nikmah bisa mempekerjakan para tetangga untuk menjadi peronce kembang di tempatnya.

“Dari usaha meronce itu, alhamdulilah saya mendapat berkah yang luar biasa. Bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan bisa dibilang lebih dari cukup. Rumah, mobil, bahkan sempat punya toko peralatan alat tulis dan fotokopi,” bebernya, Selasa (14/7/2020).

Baca juga: Meraup Untung dari Bisnis Bonsai

Di Sekar Jagat, Nikmah bisa mengerjakan berbagai model roncean bunga pengantin. Baik sesuai dengan katalog yang disediakan, maupun model roncean yang dibawa pelanggan.

“Sekarang kan banyak sekali model-model baru roncean bunga. Nah, jika tidak ada di katalog, pelanggan bisa membawa contoh gambarnya dan saya akan membuatkan persis seperti di gambar,” beber Nikmah.

Di musim pernikahan, Sekar Jagat bisa menyelesaikan hingga 100 roncean bunga per hari. Jika pesanan sudah mencapai 100, dirinya akan menutup orderan karena sudah tidak sanggup melayani lagi.

“Kalau hari biasa (bukan bulan pernikahan), pesanan bunga antara 3 sampai 7 per hari. Nah, jika masuk musim pernikahan dan puncaknya di bulan Besar (Dzulhijjah) pesanan mencapai 100 roncean per hari,” ungkap perempuan asli Kabupaten Pati itu.

Baca juga: Bunga Adenium di Pondok Bunga Ambar Banyak Diminati Bapak-Bapak

Untuk bahan, Lanjut Nikmah, pihaknya dulunya mengambil bunga segar dari Pasar kembang Randusari Semarang. Setelah punya banyak pelanggan, kemudian beralih langsung dari pusatnya yaitu di Pemalang.

“Itu dianterin ke sini via paketan Bus. Di bulan-bulan rame, setiap hari selalu datang. Jadi bunganya selalu segar,” kata Nikmah.

Untuk harga, Nikmah merinci, roncean muslim standar harganya Rp 150 ribu, Sunda Muslim Rp 250 ribu, Sunda Sanggul Rp 350 ribu, Solo Muslim Rp 350 ribu, Solo Sanggul Rp 400 ribu, dan Solo Basahan Rp 500 ribu.

“Harganya bisa berubah sesuai bahan baku dan kesulitan pengerjaan. Karena makin ke sini, roncean melati makin banyak model dan kesulitannya,” tutup Nikmah.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Versi Aslinya Lagi Ngehits, Bunga Janda Bolong Sintetis Yanti Laris Diborong Pelanggan

0
Bunga janda bolong yang laris diburu konsumen. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di teras sebuah rumah tampak terpajang aneka tanaman sintetis. Satu di antaranya yang berada di rak kerucut putih itu adalah tanaman yang diwadahi pot putih itu tidak berbunga, daunnya tampak bolong – bolong. Tanaman itu bernama Janda Bolong, bunga sintetis yang paling laris dijual oleh Sri Haryanti (32).

Perempuan yang tinggal di Perumahan Muria Indah Kudus, Jalan Muria Raya Dua, Nomor 29 itu mengatakan, saat ini di tempat penjual bunga hidup yang lagi hits itu janda bolong. Ternyata hal itu juga berbanding lurus di versi bunga sintetisnya. Tanaman janda bolong selalu laris manis diborong para pembeli.

Yanti sedang menyusun bunga sintetis di rak. Foto: Rabu Sipan

Baca juga : Bunga Adenium di Pondok Bunga Ambar Banyak Diminati Bapak-Bapak

“Ini stok bunga janda bolong saya tinggal satu saja. Baru kemarin datang banyak, langsung diborong para reseller dan pembeli ecer. Sekarang ya tinggal satu itu saja,” ujar perempuan yang akrab disapa Yanti sambil menunjuk bunga janda bolong sintetis yang dimaksud.

Untuk harga, lanjutnya, tanaman bunga janda bolong sintetis memang tak semahal bunga aslinya yang sampai ratusan ribu. Bunga janda bolong versi sintetis hanya dibanderol Rp 50 ribu dengan ukuran pot diameter 15 sentimeter. Selain janda bolong tuturnya, tanaman sintetis tanpa bunga yang diburu pembeli itu aglonema.

“Untuk aglonema satu ini yang tersedia ukuran kecil, harganya Rp 20 ribu. Ukuran besar sudah terjual semua,” ungkap Yanti kepada betanews.id, Rabu (16/7/2020).

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak itu menuturkan, sebenarnya tanaman bunga sintetis yang dijualnya hampir semua laris. Semuanya laris diminati para pembeli, di antaranya bunga anggrek, mawar merah dan putih, tulip serta bunga sakura, labender dan lain sebagainya.

Baca juga : Bonsaiku, Jual Bonsai Cantik Harga Menarik

Menurutnya, berjualan tanaman bunga sintetis itu lebih aman dari risiko kerugian. Karena tidak bakal layu dan mati, yang terpenting rajin dibersihkan agar selalu indah dipandang. Serta harus tahu bunga kesukaan para pembeli dan paham bunga yang lagi hits saat ini.

“Sebab saat ada bunga aslinya lagi hits. Bunga versi sintetisnya pasti juga banyak diburu pembeli,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Menikmati Wisata Waduk Logung dengan Perahu

0
Salah satu destinasi wisata yang ada di Kudus. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Semilir angin cukup terasa di sekitar Waduk Logung, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus siang itu. Beberapa orang nampak sedang duduk-duduk santai gazebo kecil tempat tersebut, dan juga beberapa orang yang sedang asyik memancing. Beberapa perahu pun terlihat terparkir rapi di tepi waduk.

Beberapa perahu, juga terlihat beroperasi di perairan waduk yang panjangnya kurang lebih 3 kilometer itu. Ternyata, wisata perahu tersebut sudah dibuka sejak Juli 2018. Hal itu dikatakan oleh salah satu pemilik sekaligus nahkoda perahu di wisata tersebut. Ialah Wahyu (32) bersama temannya Iwan (27), warga Kandangmas.

Beberapa warga sedang berwisata di Waduk Logung dengan menggunakan perahu. Foto: Titis Widjayanti

Baca juga : Pesona Keindahan Alam Bak Raja Ampat, Bukit Puser Angin Diserbu Wisatawan

“Sebenarnya ini belum resmi dibuka untuk wisata. Tetapi memang warga sini yang punya perahu, mengelola wisata sini. Ya fasilitasnya wisata naik perahu,” papar Wahyu, Sabtu (4/7/2020).

Lelaki yang dulunya berprofesi sebagai pengantar pupuk itu melanjutkan, jika setiap hari wisata perahu buka dari pukul 07.00 WIB sampai dengan 16.00 WIB. Para wisatawan yang datang untuk menyewa satu perahu, dikatakan Wahyu maksimal berjumlah 6 orang sekali jalan. Untuk biayanya sendiri, ia katakan, wisatawan cukup merogoh kocek Rp 15 ribu per orang.

“Kalau di sini, wisatawan bisa menikmati pemandangan di atas perahu. Sambil foto-foto, keliling waduk sekitar 30-40 menit. Itu cuma Rp 15 ribu per orang. Saat ini ada sekitar 23 perahu. Tetapi yang aktif sekitar 17 perahu,” kata dia.

Baca juga : Dibuka Kembali, Wisata Ternadi yang Suguhkan Indahnya Alam Muria Ramai Pengunjung

Untuk kondisinya sendiri, dikatakan Wahyu, sejak pandemi memang agak sepi. Namun, jika hari besar atau hari libur biasanya masih tetap ramai oleh pengunjung. Ia, bahkan bisa mendapat 10 lebih pengunjung tiap hari libur. Namun untuk hari biasa, ia katakan hanya 5-6 orang penumpang perahu.

Selain wisata naik perahu, di sana juga ada beberapa orang yang terlihat santai duduk sambil memegang pancing. Seperti yang diinformasikan Wahyu, Waduk Logung memang sering dijadikan tempat memancing orang-orang sekitar Kudus. Selain itu, beberapa muda-mudi juga nampak sedang duduk asyik di gazebo dan tempat duduk yang berada di sekitar tepi waduk.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Penambahan 9 Anggota Baru Ojek Colo Diminati 152 Peserta

0
Salah satu Ojek Muria sedang menurunkan penumpang. Foto: Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara lalu-lalang kendaraan terdengar dari Pangkalan Ojek Muria, Sabtu (18/7/2020). Sejumlah tukang ojek tampak sedang antre menunggu penumpang. Satu di antara sejumlah orang di sana yakni Muh Shokib Darno Sunarno (56), Ketua Umum Paguyuban Ojek Muria.

Sambil duduk bersila, pria yang akrab disapa Shokib itu berbagi cerita kepada betanews.id tentang penambahan anggota baru Ojek Muria. Dirinya mengatakan, hal tersebut demi menggenapkan jumlah pengojek di sana. Sebelumnya ada 241 tukang ojek, kemudian dilakukan penambahan 9 agar menjadi 250 anggota.

Baca juga : Rekor Baru, Lelang Anggota Ojek Muria Tembus Rp 226 Juta

“Proses penambahan dengan cara undian, jadi kami undi perwakilan dari dukuh-dukuh di Colo itu dilaksanakan (30/6/2020). Di sini kan ada empat dukuh, jadi kami ambil perwakilan dari masing- masing dukuh. Dari empat dukuh ada 152 orang yang mendaftarkan diri,” ungkap warga Desa Colo, RT 03 RW 01, Kecamatan Dawe, Kudus itu.

Karena ada empat dukuh, undian dikelompokan perdukuh agar bisa merata. Kemudian nama yang keluar harus membayar kepada pihak paguyuban senilai Rp 150 juta.

“Empat dukuh itu ada empat RW. Karena sembilan orang yang dibutuhkan, jadi RW 01 tiga orang, RW 02, RW 03 dan RW 04 dua orang. Semua berjalan lancar, dan peminatnya juga banyak,” terangnya.

Baca juga : Masih Sepi Penumpang, Ojek Colo Dibuat Jadwal Narik Agar Merata

Pria yang pernah menjadi tukang Ojek Muria sejak Tahun 1992 hingga Tahun 1997 itu juga menambahkan, keanggotaan bisa dicabut jika melanggar tata tertib. Seperti selingkuh dan tersangkut perkara pidana, maka keanggotaan akan dicabut.

“Jika minum-minuman keras akan diskors satu tahun, kemudian melanggar disiplin seperti tidak memakai helm, spion atau ketentuan-ketentuan lain akan diskors selama satu pekan,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Rekor Baru, Lelang Anggota Ojek Muria Tembus Rp 226 Juta

0
Beberapa pengojek di kawasan Makam Sunan Muria mau menaikkan penumpang dari pangkalan. Foto: Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan orang di Pangkalan Ojek Muria terlihat mendapat arahan dari seorang pria mengenakan topi dan masker. Pria itu tak lain adalah Muh Shokib Darno Sunarno (56), Ketua Umum Paguyuban Ojek Muria. Setelah memberi arahan kepada anggota yang ada di sana, dia berbagi cerita kepada betanews.id terkait lelang keanggotaan baru.

Menurut pria yang akrab disapa Shokib itu mengungkapkan, jika lelang yang dilaksanakan pada Selasa (14/7/2020) berjalan dengan lancar. Lelang tersebut juga memecahkan rekor lelang sebelumnya. Sedangkan peserta lelang ada delapan orang yang ikut, dan limit lelang dibuka dengan nominal Rp 120 juta.

Baca juga : Masih Sepi Penumpang, Ojek Colo Dibuat Jadwal Narik Agar Merata

“Lelang kemarin berjalan lancar, sebelum lelang juga sudah kita sosialisasikan. Ada delapan warga yang ikut lelang dan dimenangkan Handoko dengan penawaran Rp 226 juta. Ini juga menjadi nilai tertinggi sepanjang sejarah lelang keanggotaan,” ungkapnya saat ditemui di Pangkalan Ojek Muria, Sabtu (18/7/2020).

Sebelumnya, rekor tertinggi senilai Rp 205 juta. Menurutnya, lelang bisa naik dan turun, menyesuaikan kemampuan finansial peserta lelang. Dirinya juga tidak menyangka nominal lelang hingga Rp 226 juta.

“Mungkin merasa nyaman menjadi tukang ojek di sini. Karena paguyubannya guyup rukun dan kompak. Selain itu, sekarang mencari pekerjaan kan memang sulit, dan di sini itu santai, dekat rumah, bisa kumpul dengan keluarga setiap waktu,” terang Ketua Paguyuban sejak tahun 1992 itu.

Pemenang lelang kali ini memang sudah menjadi tukang ojek sejak lama, tapi belum menjadi anggota. “Sebelumnya dia masih sewa keanggotaan, mungkin senang dan nyaman menjadi tukang ojek di sini,” sambungnya.

Baca juga : Jalankan Protokol Kesehatan, Penumpang Ojek Colo Wajib Gunakan Face Shield

Dia juga menjelaskan, jika limit lelang yang sebelumnya Rp 120 juta akan dinaikkan menjadi Rp 150 juta. Dengan syarat masih sama, yaitu harus menjadi warga Desa Colo, untuk pendatang minimal sudah tinggal di sana selama 3 tahun.

“Syarat harus warga sini, dan nanti bisa diwariskan kepada anggota keluarga. Bisa juga disewakan jika sudah tidak narik. Yang penting tidak melanggar aturan tidak kami cabut keanggotaannya,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Wisuda Oktober Mendatang, Diperkirakan UMK Masih Gunakan Sistem Drive Thru

0
Prosesi wisuda mahasiswa UMK. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Universitas Muria Kudus (UMK) melaksanakan prosesi wisuda mahasiswa ke-64 dengan cara yang tidak biasanya. Tahun-tahun sebelumnya, wisuda dilakukan di Ruang Auditorium UMK dengan prosesi sidang senat hingga pemindahan tali toga. Namun kali ini, wisuda dilakukan secara drive thru.

Rektor UMK Suparnyo menuturkan, dilakukannya wisuda secara drive thru akibat dari pandemi Covid-19. Menurutnya, wisuda yang dilakukan bulan Juli 2020 seharusnya dilakukan di bulan April 2020.

Mahasiswa saat menghadiri wisuda drive thru di UMK. Foto: Imam Arwindra

Baca juga : Wisuda Drive Thru ala UMK, Ada yang Pakai Sepeda Balap

“Kemarin kan ada pandemi. Akhirnya wisuda bulan April 2020 diundur dan bisa dilaksanakan hari ini,” tuturnya saat ditemui selepas kegiatan wisuda drive thru, Sabtu (18/7/2020).

Menurutnya, wisuda kali ini dilakukan empat tahap atau empat gelombang. Yakni, untuk tahap pertama digelar pada tanggal 18 Juli, kemudian dilanjutkan 19 Juli, lalu pekan depan yakni pada 25 dan 26 Juli.

Katanya, secara keseluruhan pelaksanaan hari pertama wisuda drive thru tidak ada kendala. Namun, pihaknya tetap akan melakukan evaluasi agar pelaksanaan wisuda di hari selanjutnya berjalan lancar.

Baca juga : Wisuda Drive Thru UMK Dibagi Empat Gelombang, Ini Jadwalnya

Dirinya juga menyampaikan, pada Oktober mendatang rencananya juga akan digelar wisuda lagi. Untuk sistem pelaksanaannya juga dimungkinkan masih menggunakan cara drive thru.

Menurutnya, pelaksanaan wisuda di bulan Oktober biasanya jumlah wisudawan akan lebih banyak.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Wisuda Drive Thru ala UMK, Ada yang Pakai Sepeda Balap

0
Mahasiswa Fakultas Psikologi UMK menghadiri wisuda drive thru dengan naik sepeda. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Kampus Universitas Muria Kudus (UMK) melaksanakan wisuda secara drive thru, Sabtu (18/7/2020). Terlihat puluhan orang berdatangan menggunakan mobil bersama keluarganya. Namun menariknya, ada satu wisudawan yang memilih mengendarai sepeda.

Dia yakni Jamaah, wisudawan dari Fakultas Psikologi tersebut mengendari sepeda jenis balap. Menurutnya, selain menghadiri acara wisuda, dirinya ingin mengkampanyekan hidup sehat saat pandemi Covid-19.

Jamaah menerima ijazah dalam wisuda drive thru. Foto: Imam Arwindra

“Saya memang sengaja naik sepeda. Sekalian saya mengkampanyekan hidup sehat,” tuturnya saat ditemui selepas wisuda, Sabtu (18/7/2020).

Baca juga : Wisuda Drive Thru UMK Dibagi Empat Gelombang, Ini Jadwalnya

Lengkap dengan atribut wisuda, Jamaah mengayuh sepeda sejauh empat kilometer dari rumahnya di Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Sesampai di pintu masuk kampus sebelah timur, dirinya disemprot dengan disinfektan oleh petugas.

Setelah itu, sejumlah petugas mengetes suhu badannya menggunakan thermo gun. Dirinya pun mendapatkan nomor urut 1-068.

“Saya tadi sampai di depan gedung rektorat langsung berhenti. Terus pita pada toga disematkan Pak Rektor, terus mendapatkan ijazah,” jelasnya.

Dia mengaku senang akhirnya bisa lulus dan mendapatkan gelar strata satu (S1). Menurutnya, dirinya mulai belajar di UMK sejak tahun 2014. “Alhamdulillah saya lega,” tuturnya yang hobi bersepeda tersebut.

Dirinya mengungkapkan terima kasih kepada jajaran akademisi di UMK, sudah mendidiknya dengan baik hingga bisa meraih gelar S1. Walaupun wisudanya sempat ditunda karena pandemi, namun dirinya senang akhirnya dapat diwisuda langsung dengan cara yang berkesan.

“Sebenarnya wisudanya bulan April kemarin. Namun pelaksanaannya ditunda bulan Juli ini,” tuturnya.

Sementara itu, Rektor UMK Suparnyo mengungkapkan, wisuda yang dilakukannya kali ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Akibat pandemi, pihaknya harus berfikir lebih kreatif dalam pelaksanaan wisuda. Yakni menggunakan cara drive thru.

“Sebenarnya hanya tradisi saja. Misal secara online pun atau semacam ini (drive thru) tidak mengurangi arti dan makna dari pelepasan,” jelasnya.

Dalam kegiatan wisuda drive thru, pihaknya memberi kebebasan wisudawan. Bisa menggunakan mobil, kendaraan roda dua, becak ataupun sepeda. Hal tersebut diberikan sesuai dengan kemampuan wisudawan.

Baca juga : UMK Tunda Wisuda 600 Mahasiswa

“Proses wisuda kita bagi menjadi empat hari. Hari ini (18/7/2020), besok (19/7/2020) dan pekan depan lagi (25-26/7/2020),” tuturnya.

Lebih jauh Suparnyo menjelaskan, total mahasiswa yang diwisuda yakni 607 orang. Dengan rincian, tanggal 18 Juli yakni Fakultas Pertanian, Hukum dan Psikologi sejumlah 84 orang. Tanggal 19 Juli yakni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sejumlah 150 orang.

Selanjutnya, tanggal 25 Juli yakni Fakultas Teknik sejumlah 135 orang dan terakhir tanggal 26 Juli yakni Fakultas Ekonomi dan Bisnis sejumlah 238 orang.

“Hari ini tadi ada yang tidak menghadiri satu orang karena sakit,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Meski Gowes Lagi Tren, Penjualan Sepeda Antik Tetap Sepi

0
Para pecinta sepeda antik tampak memilih sepeda di toko Setia Kawan Putra Sepeda Antik, Selasa (14/7/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa orang terlihat keluar masuk bangunan yang berisi sepeda lawas di Jalan Raya Kudus-Jepara, tepatnya di depan Pasar Jember Kudus. Dengan sabar dan telaten, penjual sepeda antik itu melayani calon pembeli. Pria tersebut yakni Umar (52), pemilik toko Setia Kawan Putra Sepeda Antik.

Ditemui seusai melayani pengunjung, Umur mengungkapkan keresahan penjualan sepeda antiknya yang tidak mampu terkerak tren sepeda selama pandemi. Itu tampak saat beberapa pengunjung yang datang, hanya bertanya dan kemudian pergi begitu saja dari tempatnya tersebut.

Para pecinta sepeda antik tampak memilih sepeda di toko Setia Kawan Putra Sepeda Antik, Selasa (14/7/2020). Foto: Rabu Sipan.

“Meski bersepeda lagi ngetren, tapi penjualan sepeda antik saya tidak ikut terimbas sehingga tidak mengalami kenaikan,” ujar Umar, Selasa (14/7/2020).

Baca juga: Setia Kawan Putra, Satu-Satunya Toko Sepeda Onthel Antik di Kudus

Warga Desa Karangampel, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus itu menuturkan, sepeda yang banyak dicari selama pandemi itu Jenis sepada gunung, BMX, atau sepeda yang lagi booming yakni sepeda minions. Bahkan beberapa pembeli antre atau bahkan sampai inden.

Makanya, dia memaklumi jika sepeda antik miliknya, penjualan masih seperti biasa. Sebab, peminat sepeda antik bisa dibilang terbatas dan tidak semua kalangan. Penggunanya hanya mereka yang senang dengan sesuatu yang klasik dan orisinal. Oleh sebab itu, penjualan sepeda lawas di masa pamdemi ini biasa saja.

“Kalau pun ada peningkatan tidak signifikan. Ya sekitar satu persen saja dari penjualan sebelum ada Corona,” ungkapnya Umar.

Dia lantas menjelaskan berbagai jenis sepeda produk Eropa yang dijual di Toko Setia Kawan Putra. DI antaranya adalah Teha Hatog, Fongers, Simplex, Relly, hingga Gazelle. Selain menyediakan sepeda antik, ia juga menyediakan aneka onderdilnya lengkap.

Baca juga: Gudang Sepeda Milik Fais, Surganya Spare Part Baru dan Bekas di Kudus

Untuk pelanggan, tambahnya, selain orang Kudus ada orang Pati, Jepara, Demak, Purwodadi, Rembang, Tuban, Solo, dan daerah lainnya. Dia mengaku juga sering dapat order dari luar Pulau Jawa, tapi selalu terkendala oleh ongkos kirim.

“Ongkos kirim ke luar pulau sangat mahal. Transaksi selalu saya gagalkan kalau ongkos kirim dibebankan kepada saya. Sebab tidak sesuai. Kalau pelanggan berani tanggung ongkos kirimnya, saya berani kirim ke mana pun,” tandas Umar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Berbakat Lukis Sejak Belia, Sutup Sukses Usaha Batu Paras Ukir

0
Sutup sedang memantau beberapa pengukir yang sedang memahat batu paras di Desa Undaan Lor, Undaan, Kudus, Jumat (10/7/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan batu paras berbentuk persegi panjang terlihat tertata rapi di sebuah rumah yang berada di gang lima Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Di pelataran yang beratap galvalum itu, beberapa pria sedang mengukir batu berwarna putih kekuningan tersebut.

Sedangkan satu pria yang memegang pensil, sesekali memberi coretan-coretan. Pria tersebut adalah Slamet Sukamto (35) perajin ukir batu paras.

Seorang pengukir sedang memahat relief batu paras di Desa Undaan Lor, Undaan, Kudus, Jumat (10/7/2020). Foto: Rabu Sipan.

Dalam penjelasannya, pria yang akrab disapa Sutup itu mulai merintis usaha ukir batu paras sejak 2015. Karirnya di dunia seni itu tak terlepas dari kesukaannya melukis sejak masih belia.

“Sejak kecil memang saya sudah suka dengan seni. Bahkan saat masih di bangku sekolah dasar (SD) saya juara satu lomba lukis se kecamatan dan juara tiga se kabupaten,” ujar Sutup kepada Betanews.id, Jumat (10/7/2020).

Baca juga: Terkenal Awet Serta Mewah, Batu Paras Ukir Makin Berkibar

Setelah lulus SMP, ia mengaku tidak melanjutkan sekolah. Waktu itu, bersama temannya bernama Agus, mereka menimba ilmu ukir ke Jepara. Di sana mereka dapat pelajaran ukir secara gratis. Bahkan saat pulang ke Kudus, diberi pesangon atau istilahnya uang jajan.

“Saat itu saya belajar ukir patung kayu. Belajarnya lumayan lama. Butuh waktu sekitar satu setengah tahun untuk bisa mahir membuat patung kayu,” ungkap pria lajang tersebut.

Setelah bisa, Sutup pun ditampung kerja di galeri tersebut. Dia mengaku cukup betah kerja di Kota Ukir selama 10 tahun karena memang sesuai passionnya. Hingga pada 2010, ukir batu paras sedang ngetren di kalangan para perajin tukang taman.

“Dari situ saya sama Agus penasaran. Hingga memutuskan untuk pindah kerja ikut para tukang taman, sekaligus belajar ukir batu paras,” tutur pria berkaus hitam kombinasi merah itu.

Baca juga: Nazar Paint, Satu-Satunya Toko di Kudus yang Jual Cat Kiloan

Karena sudah punya dasar skil mengukir, Sutup tak butuh lama belajar mengukir batu paras samapai mahir. Orderan pertamanya datang di 2013, yaitu pesanan membuat patung berbagai dewa agama Buddha. Orderan itu lumayan banyak, bahkan berlanjut terus hingga dua tahun.

“Berawal dari orderan itu, serta dari mulut ke mulut, orderan ukir batu paras berlanjut terus hingga sekarang,” tutupnya.

Meski ramai, kendala utama di ukir batu paras adalah tidak banyaknya pengukir saat pesanan ramai. Sebab di Kudus ini pengukir batu paras sangat terbatas. Peminat belajar ukir juga sangat sedikit lantaran orang Kudus dan sekitarnya sudah enggan belajar ukir saat dunia usaha permebelan Indonesia kalah bersaing dengan luar negeri.

Baca juga: Produk Mebel Jati Agung jadi Langganan Toko Furnitur di Jateng dan Jatim

Selain itu, mereka enggan belajar seni karena tidak ada kepastian masa depan. Sehingga banyak orang tua yang melarang putranya belajar seni termasuk seni ukir.

“Saya berharap pemerintah bisa hadir dan jadi wadah bagi anak bangsa untuk berkesenian. Agar kesenian itu lebih dihargai, jangan dipandang sebelah mata,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -