BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan batu paras berbentuk persegi panjang terlihat tertata rapi di sebuah rumah yang berada di gang lima Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Di pelataran yang beratap galvalum itu, beberapa pria sedang mengukir batu berwarna putih kekuningan tersebut.
Sedangkan satu pria yang memegang pensil, sesekali memberi coretan-coretan. Pria tersebut adalah Slamet Sukamto (35) perajin ukir batu paras.

Dalam penjelasannya, pria yang akrab disapa Sutup itu mulai merintis usaha ukir batu paras sejak 2015. Karirnya di dunia seni itu tak terlepas dari kesukaannya melukis sejak masih belia.
“Sejak kecil memang saya sudah suka dengan seni. Bahkan saat masih di bangku sekolah dasar (SD) saya juara satu lomba lukis se kecamatan dan juara tiga se kabupaten,” ujar Sutup kepada Betanews.id, Jumat (10/7/2020).
Baca juga: Terkenal Awet Serta Mewah, Batu Paras Ukir Makin Berkibar
Setelah lulus SMP, ia mengaku tidak melanjutkan sekolah. Waktu itu, bersama temannya bernama Agus, mereka menimba ilmu ukir ke Jepara. Di sana mereka dapat pelajaran ukir secara gratis. Bahkan saat pulang ke Kudus, diberi pesangon atau istilahnya uang jajan.
“Saat itu saya belajar ukir patung kayu. Belajarnya lumayan lama. Butuh waktu sekitar satu setengah tahun untuk bisa mahir membuat patung kayu,” ungkap pria lajang tersebut.
Setelah bisa, Sutup pun ditampung kerja di galeri tersebut. Dia mengaku cukup betah kerja di Kota Ukir selama 10 tahun karena memang sesuai passionnya. Hingga pada 2010, ukir batu paras sedang ngetren di kalangan para perajin tukang taman.
“Dari situ saya sama Agus penasaran. Hingga memutuskan untuk pindah kerja ikut para tukang taman, sekaligus belajar ukir batu paras,” tutur pria berkaus hitam kombinasi merah itu.
Baca juga: Nazar Paint, Satu-Satunya Toko di Kudus yang Jual Cat Kiloan
Karena sudah punya dasar skil mengukir, Sutup tak butuh lama belajar mengukir batu paras samapai mahir. Orderan pertamanya datang di 2013, yaitu pesanan membuat patung berbagai dewa agama Buddha. Orderan itu lumayan banyak, bahkan berlanjut terus hingga dua tahun.
“Berawal dari orderan itu, serta dari mulut ke mulut, orderan ukir batu paras berlanjut terus hingga sekarang,” tutupnya.
Meski ramai, kendala utama di ukir batu paras adalah tidak banyaknya pengukir saat pesanan ramai. Sebab di Kudus ini pengukir batu paras sangat terbatas. Peminat belajar ukir juga sangat sedikit lantaran orang Kudus dan sekitarnya sudah enggan belajar ukir saat dunia usaha permebelan Indonesia kalah bersaing dengan luar negeri.
Baca juga: Produk Mebel Jati Agung jadi Langganan Toko Furnitur di Jateng dan Jatim
Selain itu, mereka enggan belajar seni karena tidak ada kepastian masa depan. Sehingga banyak orang tua yang melarang putranya belajar seni termasuk seni ukir.
“Saya berharap pemerintah bisa hadir dan jadi wadah bagi anak bangsa untuk berkesenian. Agar kesenian itu lebih dihargai, jangan dipandang sebelah mata,” tutupnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

