Meski Gowes Lagi Tren, Penjualan Sepeda Antik Tetap Sepi

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa orang terlihat keluar masuk bangunan yang berisi sepeda lawas di Jalan Raya Kudus-Jepara, tepatnya di depan Pasar Jember Kudus. Dengan sabar dan telaten, penjual sepeda antik itu melayani calon pembeli. Pria tersebut yakni Umar (52), pemilik toko Setia Kawan Putra Sepeda Antik.

Ditemui seusai melayani pengunjung, Umur mengungkapkan keresahan penjualan sepeda antiknya yang tidak mampu terkerak tren sepeda selama pandemi. Itu tampak saat beberapa pengunjung yang datang, hanya bertanya dan kemudian pergi begitu saja dari tempatnya tersebut.

Para pecinta sepeda antik tampak memilih sepeda di toko Setia Kawan Putra Sepeda Antik, Selasa (14/7/2020). Foto: Rabu Sipan.

“Meski bersepeda lagi ngetren, tapi penjualan sepeda antik saya tidak ikut terimbas sehingga tidak mengalami kenaikan,” ujar Umar, Selasa (14/7/2020).

-Advertisement-

Baca juga: Setia Kawan Putra, Satu-Satunya Toko Sepeda Onthel Antik di Kudus

Warga Desa Karangampel, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus itu menuturkan, sepeda yang banyak dicari selama pandemi itu Jenis sepada gunung, BMX, atau sepeda yang lagi booming yakni sepeda minions. Bahkan beberapa pembeli antre atau bahkan sampai inden.

Makanya, dia memaklumi jika sepeda antik miliknya, penjualan masih seperti biasa. Sebab, peminat sepeda antik bisa dibilang terbatas dan tidak semua kalangan. Penggunanya hanya mereka yang senang dengan sesuatu yang klasik dan orisinal. Oleh sebab itu, penjualan sepeda lawas di masa pamdemi ini biasa saja.

“Kalau pun ada peningkatan tidak signifikan. Ya sekitar satu persen saja dari penjualan sebelum ada Corona,” ungkapnya Umar.

Dia lantas menjelaskan berbagai jenis sepeda produk Eropa yang dijual di Toko Setia Kawan Putra. DI antaranya adalah Teha Hatog, Fongers, Simplex, Relly, hingga Gazelle. Selain menyediakan sepeda antik, ia juga menyediakan aneka onderdilnya lengkap.

Baca juga: Gudang Sepeda Milik Fais, Surganya Spare Part Baru dan Bekas di Kudus

Untuk pelanggan, tambahnya, selain orang Kudus ada orang Pati, Jepara, Demak, Purwodadi, Rembang, Tuban, Solo, dan daerah lainnya. Dia mengaku juga sering dapat order dari luar Pulau Jawa, tapi selalu terkendala oleh ongkos kirim.

“Ongkos kirim ke luar pulau sangat mahal. Transaksi selalu saya gagalkan kalau ongkos kirim dibebankan kepada saya. Sebab tidak sesuai. Kalau pelanggan berani tanggung ongkos kirimnya, saya berani kirim ke mana pun,” tandas Umar.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER