Beranda blog Halaman 1847

Belajar Tes Swab, Sembilan Tenaga Kesehatan Dikirim ke Salatiga

0
Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus, Andini Aridewi. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus mengirim sembilan tenaga kesehatan untuk belajar swab Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) di Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga. Mengingat, Kudus nantinya bisa melakukan tes swab PCR secara mandiri.

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 dr Andini Aridewi menuturkan, kesembilan tenaga kesehatan yang dikirim yakni satu dokter spesialis dan sisanya analis laboratorium. Mereka nantinya akan ditugaskan untuk mengoperasikan alat RT-PCR untuk tes swab.

“Jumlah sembilan orang yang dikirim kemarin (7/5/2020) untuk melakukan studi banding di Salatiga,” tuturnya saat ditemui di Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Jumat (8/5/2020).

Baca juga: Djarum Sumbang Alat Tes Swab ke Pemkab Kudus, Hasil Keluar dalam Satu Hari

Selain mengirim tenaga kesehatan, pihaknya juga sudah mempersiapkan lokasi yang nanti digunakan tes swab, yang berada di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus.

“Artinya Kudus otomatis akan memiliki laboratorium untuk tes swab sendiri,” jelasnya.

Andini menjelaskan, tenaga kerja serta sarana dan prasarana yang disiapkan, sudah sesuai dengan standarisasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri Kesehatan No HK0201/Menkes/234/2020 tentang pedoman pemeriksaan uji RT-PCR bagi laboratorium yang melakukan pemeriksaan COVID-19.

Andini mengungkapkan, tes swab dianggapnya sangat penting untuk penanganan Covid-19. Menurutnya, tes swab menjadi patokan sesorang terkonfirmasi positif atau negatif Covid-19.

“Tes swab PCR menjadi diagnosa seseorang terkonfirmasi positif Covid-19,” tuturnya.

Selama ini, pihaknya harus melakukan tes swab di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) di Jakarta, Rumah Sakit Nasional Diponegoro Semarang, BBTKLPP Yogyakarta dan B2P2VRP Salatiga. Selanjutnya, waktu yang dibutuhkan untuk mengetahui hasilnya yakni lima sampai tujuh hari.

“Dengan kita memiliki sendiri, waktu yang dibutuhkan untuk mengetahui hasilnya, yakni satu hari saja. Kapasitas per hari bisa sampai 90 swab” terangnya.

Baca juga: Pemkab Kudus Bantu Isolation Transport untuk Tujuh Rumah Sakit Rujukan Covid-19

Sementara itu, Plt Bupati Kudus HM Hartopo menuturkan, alat RT-PCR yang akan digunakan yakni bantuan dari PT Djarum. Alat tersebut sudah dikirim dari Tiongkok dan datang di Jakarta, Jumat (8/5/2020).

“Jadi hari ini dikirim ke sini (Kudus),” jelasnya.

Menurutnya, dengan adanya alat tersebut, untuk mengetahui seseorang positif atau negatif Covid-19 akan lebih cepat. Ini tentu akan berpengaruh besar terhadap penangan Covid-19 di Kudus.

“Ini kami sudah kirim tenaga medis untuk belajar di Salatiga. Jadi ketika alat sudah datang, operator sudah siap,” tutup Hartopo.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Desa Menawan Kudus Terapkan Program Jogo Tonggo

0
Tri Lestari, Kepala Desa Menawan mendampingi Plt Bupati Kudus HM Hartopo saat berkunjung ke Desa Menawan. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Program Jogo Tonggo yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mulai diterapkan desa di Kudus. Salah satunya adalah Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.Program tersebut dinilai efektif untuk penanganan Covid-19.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo menyatakan, dirinya pada Jumat (8/5/2020) pagi telah meninjau salah satu RW di desa Menawan. Dirinya ingin melihat, bagaimana Program Jogo Tonggo diberlakukan di tempat tersebut.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo saat mengunjungi Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus. Foto : Imam Arwindra

Di tempat itu, Satgas Jogo Tonggo menerapkan aturan masuk melalui portal. Sehingga jika ada pemudik atau orang dari luar datang, dapat terkontrol dengan baik.

Baca juga : Pemkab Kudus Bakal Siapkan Dapur Umum di Setiap Kecamatan

“Saya sudah meninjau Desa Menawan, ternyata sudah diterapkan secara sempurna. Di RW sudah memasang portal dan ada pos satgas yang belibatkan ketua RW, RT dan semua elemen masyarakat,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Percepatan Penanganan Covid-19 dengan Forkopimcam di Pringgitan Pendopo Kabupaten Kudus, Jumat (8/5/2020).

Selain itu, ada juga tempat khusus yang digunakan untuk menerima dan menyimpan bantuan dari donatur. Bantuan tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mencukupi kebutuhan.

“Ini bisa menjadi percontohan desa lain. Forkopimcam bisa meninjau dan menjadikannya contoh juga,” tuturnya.

Hartopo juga meminta bantuan Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) untuk segera membentuk Satgas Jogo Tonggo. Program tersebut, menurutnya sangat sesuai diterapkan di Kudus. Untuk itu, Hartopo menegaskan, agar camat, kapolsek dan danramil segera memberikan arahan dan intruksi kepada pemerintah desa agar membentuk satgas di setiap RW.

Ia katakan, setiap desa dan kelurahan yang ada di Kudus, nanti akan dibentuk Satgas Jogo Tonggo. Di setiap desa/kelurahan, kemudian memiliki satgas yang dipimpin oleh masing-masing Ketua RW.

Baca juga : 41 Warga Kudus Kena PHK di Jabodetabek, Hartopo: ‘Akan Dibantu untuk Pulang’

Hartopo menegaskan, agar camat membantu data pendukung dan pencairan dana desa. Menurutnya, dana tidak terduga yang bersumber dari dana desa (DD) dapat digunakan untuk penangan Covid-19. Nantinya juga bisa digunakan untuk operasional relawan di setiap desa.

“Mohon untuk selalu dimonitoring dan disosialisasikan kepada semua pihak dalam proses pembuatan Satgas Jogo Tonggo. Setiap desa harus membuat pos Satgas Jogo Tonggo karena ini efektif. Dan, camat tolong bantu kepala desa agar dana desa bisa segera dicairkan. Jangan sampai tidak ada biaya operasional sama sekali,” katanya.

Hartopo menjelaskan, program Jogo Tonggo dimaksudkan agar seluruh lapisan masyarakat yakni linmas, karang taruna, dasa wisma, posyandu, organisasi masyarakat dan pemerintah desa bergotong-royong melawan Covid-19.

Dalam program Jogo Tonggo terdapat empat bidang yang memiliki peran dan fungsi berbeda. Antara lain, bidang kesehatan, bidang ekonomi, bidang sosial dan bidang hiburan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Turun Drastis, Harga Cabai di Kudus Tak ‘Sepedas’ Rasanya

0
Nur Diana sedang melayani pembeli cabai di lapak jualannya, Jumat (8/5/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Hembusan angin terlihat menerpa daun tanaman cabai di persawahaan Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Hamparan sawah yang luas itu terdapat ribuan tanaman cabai. Sebagian cabai-cabai yang menggantung pada cabangnya terlihat ada yang sudah memerah, pertanda siap dipanen. Namun sayang, panen kali ini harga cabai di pasaran lagi turun.

Petani Cabai Nur Diana (40) menuturkan, harga panen cabai saat ini turun drastis. Meski mengaku pusing dengan turunnya harga cabai, tetapi dia mengaku pasrah dengan keadaan. Karena naik turunnya harga cabai bukan petani seperti dirinya yang menentukan.

“Gimana ini, musim panen cabai malah harganya turun. Harga cabai jadi tak sepedas rasanya,” ujar perempuan yang akrab disapa Nur itu, Jumat (8/5/2020).

Nur Diana sedang menata sayur di lapak jualannya, Jumat (8/5/2020). Foto: Rabu Sipan.

Warga Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus itu menambahkan, cabai dari sawah saat ini cuma dihargai Rp 7 ribu per kilogram. Sedangkan harga eceran tidak jauh berbeda yakni Rp 10 ribu per kilogram.

“Kalau harga tersebut bertahan sampai habis dipanen. Ya siap-siap totalan kerugian,” keluhnya sambil menata cabai.

Baca juga: Agus Kewalahan Penuhi Permintaan Melon yang Meningkat Drastis saat Ramadan

Dia menuturkan, harga normal cabai di sawah itu seyogyanya sekitar Rp 20 ribu per kilogram. Dengan harga tersebut, para petani bisa meraup untung yang lumayan.

“Syukur-syukur lagi bila bisa lebih dari Rp 20 ribu per kilogram. Bisa makin lumayan untungnya,” tutur perempuan yang dikaruniai dua anak tersebut.

Rentang waktu yang dibutuhkan dari tanam cabai hingga panen, lanjutnya, sekitar dua setengah bulan. Setelah itu, cabai bisa dipanen terus-menerus selama tujuh bulan.

“Biasanya, setiap hari bisa memanen sekitar tiga kwintal cabai, dengan luas tanah yang ditanami sekitar satu hektare,” bebernya.

Meski harga lagi turun, Nur mengaku tetap memanen cabai. Sebab kalau tidak dipanen, cabai akan busuk dan tidak ada pemasukan. Kalau dipanen dan dijual, uangnya bisa untuk operasional sehari-hari.

“Setidaknya bisa buat beli bahan bakar kendaraan untuk pulang pergi dari kampungku ke sawah,” kata Nur.

Baca juga: Sa’ad Harus Berangkat Jam 8 Malam Agar Bisa Dapat Tempat Berjualan di Pasar Bitingan

Dia mengaku, tanah seluas enam hektare disewa dengan harga Rp 10 juta per hektare. Tanah tersebut selain ditanami cabai juga ditanami komoditas sayur lain, seperti timun, padi, tomat, serta pembatas sawah keliling ditanaminya kacang panjang. Namun, saat ini hampir semua komoditas harganya turun.

“Sebagai petani saya berharap harga hasil panen secepatnya stabil dan hasil panen selalu bagus,” tutup Nur.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Bagikan Takjil, SPBU Matahari Kudus Wajibkan Warga Pakai Masker

0
Seorang warga sedang mengambil takjil di SPBU Matahari Kudus, Jumat (8/5/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Tumpukan kardus berisi nasi tampak di sebuah meja yang berada di SPBU 4459304 Kudus. Sore itu, dua orang perempuan mengenakan pakaian warna merah hati dengan wajah tertutup mika sedang menyiapkan minuman di samping kardus itu. Setelah semua siap, satu diantara mereka mendatangi petugas operator SPBU.

Dia adalah Zakia (37), Admin SPBU di Jalan A Yani No 3, Kudus atau dikenal SPBU Matahari. Dia mengungkapkan, warga yang ingin mengambil takjil di SPBU tersebut wajib memakai masker. Selain itu juga diwajibkan cuci tangan terlebih dahulu.

Seorang warga sedang mengambil takjil di SPBU Matahari Kudus, Jumat (8/5/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

“Pelanggan yang membeli BBM di sini dan warga boleh mengambil takjil. Tetapi harus menggunakan masker dan cuci tangan dulu. Kali ini kami membagikan 100 takjil untuk warga,” terangnya saat ditemui, Jumat (8/5/2020).

Zakia juga menambahkan, pembagian itu dilakukan secara rutin satu pekan sekali. Meski berbeda dengan tahun-tahun lalu yang bisa membagi takjil setiap hari, dirinya merasa bersyukur karena masih bisa berbagi.

Baca juga: Program Ramadan Cashback, Pertamina Obral Pertamax

“Ini sudah menjadi kegiatan rutin kami di bulan Ramadan. Tetapi karena kondisi pandemi Covid-19 ini ada yang berbeda. Jika sebelumnya setiap hari, ini hanya sepekan sekali. Kami mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai,” tambah warga Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus itu.

Waktu sudah menunjukan pukul 16.00 WIB, sejumlah orang mulai berdatangan untuk mengambil takjil di sana. Satu diantaranya yakni Markhaban (68), dia mengaku senang bisa berbuka gratis, sore itu. Meski sempat ditolak karena tidak memakai masker, tukang becak yang biasa mangkal di sekitar SPBU tersebut akhirnya mendapat takjil.

“Tadi sempat tidak diizinkan ambil takjil karena masker tidak saya pakai. Setelah saya pakai, akhirnya boleh ambil. Ini nanti akan saya makan saat berbuka,” ungkap warga Desa Jepang Wetan, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus itu, sambil memegang kardus takjil.

Sama halnya dengan Anisa yang saat itu pulang kerja dan mengisi BBM di sana. Karena ada takjil gratis, dia kemudian ikut mengambilnya. “Ini tadi disuruh cuci tangan dulu terus boleh ambil takjil,” kata Warga Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus itu.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Pemkab Kudus Bakal Siapkan Dapur Umum di Setiap Kecamatan

0
Plt Bupati Kudus HM Hartopo bersama istri ikut memasak di dapur umum. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Irisan bawang dan bawang terlihat mulai terkumpul di nampan warna biru. Sementara, sejumlah perempuan tampak sedang memotong sayuran dan tempe. Ada pula yang terlihat mengaduk nasi dan ayam yang masih setengah matang. Mereka yakni Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Kudus yang sedang memasak di dapur umum. Makanan yang dimasak itu, akan dibagikan kepada masyarakat yang terdampak Covid-19.

Wakil Ketua I TP PKK Kabupaten Kudus, Mawar Hartopo menuturkan, selain anggota PKK Kabupaten Kudus pihaknya juga mengajak Gabungan Organisasi Wanita (GOW) untuk memasak di dapur umum.

PKK dan GOW Kabupaten Kudus ikut memasak di dapur umum. Foto : Imam Arwindra

“Hari ini masak ayam kecap, terus telur balado dan ongseng tempe. Minumnya ada teh hangat dan buah,” jelasnya saat memasak di dapur umum di kawasan Kantor Pemerintah Kabupaten Kudus, Jumat (8/5/2020).

Baca juga : Dapur Umum TNI-Polri di Kudus Sediakan 500 Porsi Makanan untuk Buka Puasa

Sementara itu, Plt Bupati Kudus HM Hartopo yang ikut memasak menuturkan, kegiatan yang dilakukan PKK Kabupaten ini akan juga dilakukan di sembilan kecamatan di Kabupaten Kudus. Menurutnya, pendirian dapur umum ini akan sangat membantu masyarakat, terutama mereka yang terimbas Covid-19.

“Sebenarnya kalau bicara urgent, ya tidak urgent. Namun kegiatan ini baik untuk membantu masyarakat di tengah pandemi Covid-19,” ungkapnya.

Menurutnya, dengan dibukanya dapur umum di setiap kecamatan, masyarakat yang terkena dampak virus Corona akan banyak yang terbantu. “Semua anggaran sudah disiapkan, termasuk anggaran potongan ASN (aparatur sipil negara),” jelasnya.

Baca juga : Lewat Jogo Tonggo, Warga Jomblang Terdampak Corona Bisa Makan Gratis di Dapur Umum

Dia menyebutnya, dari hasil memasak di dapur umum tersebut, setidaknya menghasilkan 700 porsi. Makanan tersebut kemudian dibungkus dan selanjutnya dibagikan kepada masyarakat untuk berbuka puasa. Rinciannya, 250 boks akan dibagikan sekitar Kantor Pemkab Kudus sisanya akan didistribusikan ke sembilan kecamatan.

“Targetnya masih sama ya, yaitu masyarakat yang berkerja di jalan. Ada tukang becak, PKL dan tukang ojek. Ini juga kita bantu untuk anak yatim,” jelasnya.


Editor : Kholistiono

- advertisement -

41 Warga Kudus Kena PHK di Jabodetabek, Hartopo: ‘Akan Dibantu untuk Pulang’

0
Plt Bupati Kudus HM Hartopo saat ditemui di Pendapa Kabupaten Kudus, Rabu (22/4/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus akan memulangkan 41 warganya yang mengalami kesulitan akibat terdampak Covid-19 di Jabodetabek. Data ini didapatkan dari Forum Komunikasi Masyarakat Kudus (FKMK).

Plt Bupati Kudus HM Hartopo mengatakan, puluhan warganya tersebut terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Selain itu, selama di Jabodetabek, mereka tinggal di rumah kontrakan.

“Informasinya mereka terkena PHK, rumah masih kontrak, mau pulang ke Kudus juga tidak bisa,” tuturnya saat ditemui di Pendopo Kabupaten Kudus, Jumat (8/5/2020).

Baca juga: Kabar Gembira, Pekerja yang Dirumahkan Tetap Dapat THR

Hartopo melanjutkan, selama di Jabodetabek, FKMK selalu membantu kebutuhan pangan mereka.

“Kalau di sana kesulitan sampai tidak bisa makan, ‎nanti kami akan bantu untuk pulang,” tuturnya.

Hartopo juga mendapatkan permintaan dari seorang ibu yang kondisinya sedang kritis, untuk memulangkan anaknya. Menurutnya, anak yang diminta pulang sedang bekerja di Jakarta. Mendapati ini, pihaknya melalui Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus akan membuat surat kepada warga bersangkutan, agar bisa pulang ke Kudus.

“Ada juga ibu yang kondisinya kritis ini minta anaknya pulang ke rumah. Nanti kami bantu membuatkan surat agar bisa melintas ke Kudus,” terangnya.

Baca juga: Tak Mau Terpuruk Usai Kena PHK, Joko Buka Usaha Jahit di Tepi Jalan

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Abdul Halil sudah membuat surat agar anak tersebut bisa pulang ke Kudus sesuai permintaan orang tuanya. Rencananya, yang bersangkutan akan pulang, Sabtu (9/5/2020), besok.

“Sudah kami buatkan surat, rencananya besok Sabtu akan pulang ke Kudus,” tuturnya.

Sedangkan untuk 41 warga Kudus yang kesulitan di Jabodetabek, pihaknya belum memperoleh informasi lebih lanjut.

“Kalau yang 41 orang di Jabodetabek itu saya belum tahu, tapi kalau dibutuhkan nanti kami akan bantu membuat surat,” tandas Halil.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Manjakan Konsumen, Mubarok Shoes Berikan Diskon Jelang Lebaran

0
Mubarok Shoes memberikan diskon menjelang Lebaran ini. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara bising kendaraan bermotor berlalu lalang di sekitar Jembatan Panjang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Lamat-lamat, terdengar pula lagu religi dari sebuah bangunan bernama Mubarok Shoes. Bangunan beratap seng itu, tampak penuh beraneka ragam sepatu dan sandal yang terpajang. Beberapa di antaranya terdapat tulisan diskon dan harga yang murah.

Beberapa pelanggan sedang membeli sandal di Mubarok Shoes. Foto : Titis Widjayanti

Tampak ratusan sandal dan sepatu berbagai jenis dijual di tempat ini. Mulai dari sandal karet hingga sepatu kulit sintetis. Dari supplier pabrikan hingga handcraft pun dijual. Hal tersebut dikatakan oleh salah seorang karyawan toko bernama Firda Nurul Aisyah (19).

Baca juga : Sepatu Safety Paling Diburu di Bursa Sepatu Second

“Di sini ada berbagai macam produk sih. Ada yang karet ada yang kulit sintetis. Terus ada juga yang emang produk buatan tangan dengan berbagai ukuran dan model,” papar Firda, Jumat (8/5/2020).

Sambil menata beberapa sandal, ia menyebutkan, di Mubarok Shoes juga menjual produk lain seperti sepatu, tas dan baju muslim. Meskipun secara kapasitas tidak terlalu banyak dibandingkan dengan sandal. Tetapi macam-macam dan modelnya cukup banyak. Seperti sepatu perempuan, sepatu sport, sepatu sekolah, hingga sepatu pantofel dan booth. Sedangkan bahannya juga berbeda-beda, sesuai dengan merek dan jenis sepatu.

“Kalau sandal paling bagus dan harganya terjangkau itu sandal luofu. Karena bahannya awet dan nyaman digunakan. Kalau sepatu berbagai macam jenis dan harganya juga bervariasi. Mulai dari Rp 20 ribu an sampai dengan Rp 220 an ada. Itu interval harga sandal dan sepatu secara keseluruhan,” papar dia.

Baca juga : Mau Berburu Sneakers Murah Tapi Ori? Toko Nix.id Tempatnya

Firda mengatakan, jika momen Ramadan dan menjelang tahun baru, Mubarok Shoes juga memberikan diskon beberapa produk. Khususnya produk sandal. Diskon tersebut dari harga obral Rp 20 ribu sampai dengan harga Rp 35 ribu yang bisa dipotong lagi jika ada pembelian minimal 3 pcs menjadi Rp 90 ribu saja.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Tak Mempan dengan Keris, Kekebalan Cakil Luntur Karena Disinfektan

0
Penampilan seniman dalam program Panggung Kahanan yang digelar di Rumah Dinas Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Bambangan Cakil, sekuel pertempuran antara Buto Cakil dengan Raden Janaka mewarnai pertunjukan Panggung Kahanan edisi ke 3. Beberapa jurus sampai senjata pamungkas dikeluarkan Sang Buto. Namun apa daya, di ambang kekalahan Janaka, Gareng muncul menyerang Cakil hingga tewas. Bukan dengan keris atau trisula, tapi hanya dengan semprotan disinfektan.

Pertempuran tersebut melibatkan Cakil, Janaka dan Gareng. Gareng yang mengawali pertarungan, menyamakan Cakil dengan penyebab Pandemi saat ini, yaitu Virus Corona. Namun kemampuan kanuragan Gareng jelas tidak sebanding dengan Cakil. Hingga muncullah Janaka, dengan kegagahan serta kemampuannya.

Namun begitu tetap saja Janaka tidak mampu menaklukkan Cakil. Bahkan beberapa tusukan keris yang dia hujamkan, sedikitpun tidak melukai tubuh Cakil. Melihat Janaka kesusahan, Gareng kembali ikut menyerang, dan kali ini justru membawa botol.

“Modar Kowe, modar. Hayo, terusno. Modar Kowe (mati kamu, mati! Ayo lanjutkan. Mati kamu),” seru Gareng sambil terus menyemprotkan cairan yang membuat tubuh Cakil luluh ke tanah dan tewas.

Baca juga : Lewat Jogo Tonggo, Warga Jomblang Terdampak Corona Bisa Makan Gratis di Dapur Umum

Bambangan Cakil tersebut ditampilkan oleh kelompok Wayang Orang Ngesti Pandowo di Panggung Kahanan edisi ke tiga di Puri Gedeh, Jumat (8/5/2020). Pertempuran tersebut jadi perlambang perlawanan dengan Corona.

Sumardagyo, yang berperan Gareng mengatakan pertarungan melawan Corona tidak bisa dilakukan dengan senjata. “Corona hanya bisa kita lawan pakai masker, dengan cairan hand sanitizer atau cuci tangan dan jaga jarak. Maka Cakil yang kita ibaratkan sebagai virus itu tidak mati dengan keris, tapi pakai semprotan hand sanitizer atau disinfektan,” katanya.

Tak ayal aksi ketiga aktor yang diiringi tetabuhan gendang tersebut membuat penonton di Puri Gedeh terpingkal-pingkal, tidak terkecuali Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Memanfaatkan panggung sederhana yang juga disiarkan Livestreaming di channel YouTube dan akun Facebook Ganjar Pranowo itu, kelompok Ngesti Pandowo mampu memadukan kisah pewayangan dengan isu aktual.

Baca juga : Bisa Buat Jokowi Tertawa Terpingkal, Begini Sosok Didi Kempot di Mata Ganjar Pranowo

“Seniman selalu memiliki cara kreatif untuk menyikapi keadaan atau kahanan. Panggung Kahanan ini memang dibuat untuk itu, agar para seniman tidak mati karya meski ada Corona,” katanya.

Panggung Kahanan edisi ke tiga ini juga menampilkan pertunjukan monolog Masmirah dari kelompok teater Matajiwa. Ada pula Bohemian Band yang mendaur lagu-lagunya Iwan Fals dan musik country. Panggung Kahanan sendiri digelar seminggu tiga kali, Senin, Rabu dan Jumat selama bukan Ramadan dari Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah Puri Gedeh dan disiarkan Livestreaming di channel YouTube dan akun Facebook Ganjar Pranowo, mulai pukul 15.30 sampai 17.20 WIB.


Editor : Kholistiono

- advertisement -

8 Reaktif Covid-19 Usai Rapid Test di Menara Kudus dan Pasar Kliwon

0
Beberapa warga sedang mengikuti rapid test yang dilakukan oleh DKK Kudus, Jumat (8/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus melakukan rapid test di Pasar Kliwon dan Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, Jumat (8/5/2020). Hasilnya, delapan warga di Pasar Kliwon diketahui reaktif Covid-19.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) DKK Kudus Muhammad Nasiban mengungkapkan, delapan orang yang reaktif covid-19 itu rencananya akan segera dilakukan tes swab guna memastikan positif Covid-19 atau tidak.

Dia melanjutkan, di Pasar Kliwon pihaknya melakukan tes kepada pedagang dan pengunjung. Namun, tes tersebut hanya dilakukan kepada 100 orang sesuai dengan jumlah rapid test stik yang dibawa ke Pasar Kliwon. Sementara di Masjid Menara Kudus tidak ditemukan warga yang reaktif Covid-19. Dari total 100 alat yang dibawa, masih banyak yang belum terpakai.

“Untuk di sini (Menara Kudus) non reaktif semua,” jelasnya saat ditemui di halaman Masjid Al-Aqsa Menara Kudus.

Baca juga: Kasus Positif Covid-19 di Kudus Bertambah 3, Kini Total Ada 40 Pasien

Dalam tes ini, pihaknya menggunakan rapid test dengan metode stik. Selain itu, tes ini juga akan dilakukan secara gratis kepada masyarakat umum. Sasaran yang akan dituju yakni tempat-tempat ramai.

“Jadi tidak keseluruhan dites. Jika ada yang mau, kami persilahkan,” kata Nasiban.

Video tes cepat Covid-19 di Menara Kudus

Terpisah, Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi menuturkan, secara teori, prosentase sensitifitas menggunakan alat rapid test yakni sebesar 40 persen hingga 50 persen. Menurutnya, alat tersebut tidak bisa digunakan untuk mendiagnosa seseorang positif Covid-19. Pihaknya harus melanjutkan dengan tes swab Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk memastikannya.

Rapid test tidak bisa untuk diagnosis positif Covid-19. Jika nanti ditemukan ada orang yang reaktif, kami akan melanjutkan untuk tes swab PCR,” jelasnya.

Baca juga: Djarum Sumbang Alat Tes Swab ke Pemkab Kudus, Hasil Keluar dalam Satu Hari

Andini menjelaskan, dari informasi tim pengadaan barang di DKK Kudus, alat rapid test di Kota Kretek tinggal 2.000. Total keseluruhan yakni 3.000 dan sudah didistribusikan 1.000.

“Untuk 2.000 diprioritaskan kepada tenaga kesehatan, Orang Tanpa Gejala (OTG), Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP),” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

PPDB 2020 Tingkat SMA Sederajat Gunakan Nilai Rapor, Aturan Zonasi juga Berubah

0
Ilustrasi : Beberapa siswa SMA nampak berjalan melewati ruang kelas. Foto: dokumen betanews.id

BETANEWS.ID, SEMARANG – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2020 tingkat SMA dan SMK mengalami perubahan sebagai imbas tidak adanya ujian nasional akibat pandemi Covid-19. Jika sebelumnya penerimaan siswa mengacu pada hasil Ujian Nasional (UN), tahun ini acuannya adalah nilai rapor dari semester 1-5.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng Jumeri, saat melakukan audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Jumat (8/5/2020).

“Kalau dulu syarat mendaftar acuannya surat keterangan hasil ujian nasional (UN), sekarang karena UN ditiadakan, maka acuannya nilai rapor siswa. Kami sudah perintahkan Kepala Sekolah SMP negeri dan swasta serta MTs untuk membuat surat keterangan nilai rapor itu,” kata Jumeri.

Dia melanjutkan, perubahan lain di PPDB tahun ini adalah aturan zonasi. Jika tahun lalu jalur zonasi ditetapkan 80 persen, zonasi PPDB tahun ini hanya ditetapkan minimal 50 persen. Sisanya diisi jalur prestasi 30 persen, afirmasi untuk anak miskin, difabel dan olahraga sebesar 15 persen dan jalur perpindahan orang tua sebesar 5 persen.

“Untuk pendaftaran jalur inklusi dan kelas olahraga akan dimulai pada 2-4 Juni 2020, sementara jalur reguler kami mulai pada 15-25 Juni,” terangnya.

Baca juga: SD Islam Kauman Pati Berikan Beasiswa Selama Dua Semester untuk Siswa Yatim Piatu

Pendaftaran ini, lanjut Jumeri, akan dilaksanakan secara daring, sehingga siswa dan orang tuanya diminta tidak perlu datang ke sekolah untuk melakukan pendaftaran.

Tak hanya itu, pihaknya juga mengubah sejumlah persyaratan untuk menyesuaikan dengan kondisi terkini. Misalnya surat keterangan sehat dari dokter untuk calon siswa SMK, sekarang diganti dengan pernyataan orang tua.

“Soalnya kalau harus mencari surat itu, nanti mereka berbondong-bondong ke rumah sakit atau puskesmas. Itu cukup berbahaya, sehingga kami mengganti dengan keterangan orang tua,” tegasnya.

Jumeri lantas merinci, PPDB 2020 menampung 216.156 siswa, terdiri dari kapasitas SMA 115.908 dan kapasitas SMK 100.248. Sementara lulusan SMP/MTs tahun ini di Jateng totalnya sekitar 513.178 siswa.

“Kami tidak menambah kuota, karena sisa kuota ini biar ditangkap sekolah-sekolah swasta yang ada,” imbuhnya.

Baca juga: Sakit, Satu Siswa SMAN 1 Kudus Dinyatakan Tidak Lulus

Sementara itu, Ganjar Pranowo tidak mau ada orang tua siswa yang menitipkan atau memalsukan data-data anaknya demi diterima di sekolah tertentu.

“Tolong integritas diperhatikan betul. Buat saja surat pernyataan, kalau melakukan pemalsuan data, sanksinya apa. Apakah bisa dikeluarkan atau bagaimana,” tegasnya.

Ganjar juga mengusulkan kepada Dinas Pendidikan untuk memberikan jalur khusus bagi anak-anak tenaga medis yang berjuang melawan covid-19. Anak-anak itu diminta Ganjar dimasukkan dalam kuota jalur afirmasi.

“Jadi ini usul saja, sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan kepada para tenaga kesehatan yang telah berjuang melawan covid-19,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Sejak April Hingga September 2020, Pemerintah Tanggung Pajak UMKM

0
Kelas pajak yang diadakan di KPP Pratama Kudus beberapa waktu lalu sebelum pandemi. Foto : Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejak April hingga September mendatang, pemerintah resmi menanggung Pajak Penghasilan (PPh) final tarif 0,5 persen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Kebijakan tersebut, tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 44 Tahun 2020 tentang Insentif Pajak untuk Wajib Pajak Terdampak Pandemi Corona Virus Disease 2019 yang mulai berlaku pada Senin (27/4/2020).

Terkait hal itu, wajib pajak UMKM tidak perlu menyetor pajak selama enam bulan. Selain itu, pemotong atau pemungut pajak tidak melakukan pemotongan ataupun pemungutan pajak pada saat melakukan pembayaran kepada pelaku UMKM.

Meski begitu, menurut Bernadette Ning Dijah Prananingrum, insentif pajak Jilid II terkait Covid-19 ini masih belum banyak dimanfaatkan pelaku UMKM di Kudus. Dirinya juga berharap, wajib pajak bisa segera memanfaatkan fasilitas tersebut.

Baca juga : Permudah Laporan SPT Tahunan Secara Online, KPP Pratama Kudus Fasilitasi Kelas Pajak Gratis

“Caranya, ajukan permohonan surat keterangan sesuai format berdasarkan PMK 44 tahun 2020 melalui laman djponline.pajak.go.id. Sampaikan juga laporan realisasi PPH Final DTP setiap masa pajak, paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya,” terang Kepala KPP Pratama Kudus itu kepada betanews.id.

Menurutnya, hal yang harus diperhatikan UMKM adalah bagaimana prosedurnya. Karena untuk memanfaatkan insentif pajak ditanggung pemerintah, UMKM harus mengajukan permohonan surat keterangan dan harus laporan realisasi.

“Harapan saya, UMKM di Kudus bisa segera memanfaatkan fasilitas ini. Kami juga sudah membagikan nomor petugas yang siap membantu. Agar wajib pajak UMKM yang merasa kesulitan bisa menghubungi kami,” terangnya.

Sementara itu, Muhammad Arif (33), Account Representative Seksi Ekstensifikasi dan Penyuluhan KPP Pratama Kudus menambahkan, jika pihaknya sejauh ini sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait insentif tersebut.

“Kami sudah berupaya melakukan sosialisasi melalui radio. Sejak hari Selasa (5/5/2020) sudah ada kelas pajak, melalui siaran langsung di Instagram. Untuk kelas pajak kami buat rutin, satu pekan tiga kali,” terang pria yang akrab disapa Arif itu, Kamis (7/5/2020).

Untuk kelas pajak terdekat KPP Pratama Kudus, yakni hari Jumat (8/5/2020) mulai pukul 09.00 WIB, melalui aplikasi Zoom. Arif juga menyarankan, wajib pajak bisa mengikuti media sosial KPP Pratama Kudus. Pihaknya sudah mencantumkan nomor-nomor petugas yang siap membantu wajib pajak jika ada kendala.

Baca juga : Ini Syarat dan Langkah yang Perlu Kamu Tahu untuk Buat NPWP

“Selain mengadakan kelas pajak, kami juga aktif memberi informasi melalui media sosial. Meski KPP Pratama Kudus menghentikan pelayanan pajak tatap muka hingga Jumat (29/5/2020). Kami tetap siap membantu wajib pajak melalui telephone,” ungkap pria berkacamata itu.

Wajib pajak bisa dapatkan informasi terbaru terkait pelayanan KPP Pratama Kudus melalui telepon (0291)432046, 432047, WA 0853 3330 4087, 0853 3330 4084, 0853 3330 3995. Twitter dan Instagram @pajakkudus, sedangkan untuk Facebook KPP Pratama Kudus.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Lewat Jogo Tonggo, Warga Jomblang Terdampak Corona Bisa Makan Gratis di Dapur Umum

0
Beberapa warga sedang menyiapkan makanan di Dapur Umum Kelurahan Jomblang, Kamis (7/5/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Siang itu, beberapa perempuan tampak sibuk memotong-motong buncis, kubis dan menggoreng perkedel. Sementara itu, para lelaki terlihat menata kursi-kursi biru di halaman rumah warga yang disulap menjadi dapur umum.

Kegiatan di RW 03 Kelurahan Jomblang, Kecamatan Candisari, Kota Semarang itu memang baru terlihat beberapa hari ini. Pendirian dapur umum itu untuk melaksanakan Program Jogo Tonggo yang digagas Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah.

Lurah Jomblang Nurhayati Budiningtyas mengatakan, konsep dapur umum bermula untuk merespon imbas dari Covid-19. Secara gotong royong, warga saling bantu tanpa pamrih.

“Dapur umum di RW 03 ada dua yang melayani kebutuhan makan setiap hari. Ini berkembang, mengingat akses wilayah kampung yang berbukit-bukit. Selain itu ada satu lagi di RW 09 melayani kebutuhan makan seminggu sekali, dengan cara diantar ke rumah-rumah,” jelasnya, Kamis (7/5/2020).

Beberapa warga sedang menyiapkan makanan di Dapur Umum Kelurahan Jomblang, Kamis (7/5/2020). Foto: Ist.

Ia menyebut, konsep seperti ini akan terus disosialisasikannya di kemudian hari. Lantaran, di Kelurahan Jomblang setidaknya ada 1.280 warga yang mendapatkan bantuan terdampak Covid-19.

Di sisi lain, Ketua RW 03 Suryo Setiawan menuturkan, untuk membeli bahan baku makanan, warga bergotong royong mengambil iuran jimpitan. Bahkan, yang memiliki kemampuan lebih bisa menyumbang uang atau beras.

“Di sini jumlah warganya sekitar 350-400 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 150 orang memiliki pekerjaan informal seperti tukang ojek online dan pedagang emperan. Mereka kehilangan pekerjaan,” tuturnya.

Baca juga: Pemuda di Sejumlah Desa di Jepara Bergerak Aplikasikan Program Jogo Tonggo

Suryo melanjutkan, dari hasil jimpitan dan sumbangan warga, kemudian ditampung dalam satu tempat yang digunakan untuk memasak. Setiap hari, ada ratusan porsi makanan dan minuman yang tersaji. Warga pun bebas mengambil, tanpa dipungut biaya.

“Konsepnya swadaya dari warga, untuk membentuk ketahanan pangan. Jadi ketika ada bantuan pemerintah maupun perorangan disalurkan di satu tempat. Kemudian disalurkan kepada warga yang membutuhkan,” imbuhnya.

Suryo berharap, dapur umum ini bisa sedikit meringankan beban mereka yang terimbas Covid-19. Akan tetapi, ia berharap spirit dari saling jaga antar warga tidak luntur meskipun virus tersebut telah musnah.

“Harapannya, semangat dari Jogo Tonggo melalui jimpitan sekaligus ronda tidak hilang. Artinya ketika kita mengambil jimpitan sekaligus menengok tonggo-tonggo, kalau-kalau ada yang kelaparan atau kekurangan. Dengan program ini, mudah-mudahan tidak ada yang kekurangan makan,” harap Suryo.

Baca juga: Begini Konsep Jogo Tonggo yang Diterapkan di Perumahan SUPM Tegalsari Kota Tegal

Seorang warga Jomblang RW 03 Sumadi, mengaku senang dengan adanya dapur umum. Menurutnya, hal itu merupakan solusi dari kesulitan ekonomi yang ia rasakan semenjak dirumahkan.

“Selain bisa berkumpul bersama tetangga-tetangga, saya juga bisa ngirit. Karena sudah sebulanan ini tak bekerja, karena pengunjung warung soto di tempat saya bekerja sepi,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Pemkab Kudus Bantu Isolation Transport untuk Tujuh Rumah Sakit Rujukan Covid-19

0
HM Hartopo, Plt Bupati Kudus menyerahkan bantuan isolation transport untuk rumah sakit rujukan Covid-19 di Kudus. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Tujuh rumah sakit rujukan Covid-19 di Kudus, yakni RSUD dr Loekmono Hadi, Rumah Sakit Mardi Rahayu, RSI Sunan Kudus, RS Kumala Siwi, RS Aisyiah, RS Nurus Syifa dan RS Kartika Husada, mendapatkan bantuan alat pelindung diri (APD), masker N95, ice gel,vitamin, sabun cair dan hand sanitizer dari pemerintah kabupaten setempat.

Selain itu, ada juga bantuan alat isolation transport. Alat tersebut digunakan untuk membawa pasien dalam pengawasan(PDP).

HM Hartopo, Plt Bupati Kudus menyerahkan bantuan APD kepada salah satu rumah sakit di Kudus. Foto : Imam Arwindra

“Isolation transport ini bertujuan untuk memperkecil kemungkinan terjadinya penularan pasien terindikasi maupun terkonfirmasi Covid-19. Hal itu terjadi saat proses pemindahan dari ruangan satu ke ruangan lainnya,” ujar HM Hartopo, Plt Bupati Kudus saat melakukan penyerahan bantuan di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Jumat (8/5/2020).

Baca juga : Djarum Sumbang Alat Tes Swab ke Pemkab Kudus, Hasil Keluar dalam Satu Hari

Hartopo menegaskan, jika alat isolation transport tersebut tidak diperuntukkan untuk menjemput atau memindahkan pasien antarrumah sakit. Sebab, PDP terindikasi Covid-19 yang merupakan rujukan dari rumah sakit lain, akan melalui jalur khusus dan langsung masuk ke ruang isolasi.

Hartopo menjelaskan, alat isolation transport, secara fisik tampak mirip dengan ranjang pasien dengan roda di bawahnya. Namun yang berbeda, yakni memiliki bagian khusus seperti penutup yang dilengkapi teknologi High Efficiency Particulate Air (HEPA) filter atau teknologi penyaringan udara yang dapat menangkap mikropartikel.

“Jadi untuk semua alat perlengkapan medis, saya carikan yang standar medis. Saya tidak ingin beli dari supplier yang sembarangan. Karena ini untuk tenaga medis kita,” jelasnya.

Baca juga : Tarif Rapid Test di RS Mardi Rahayu Rp 400 Ribu, Begini Cara Daftarnya

Sementara itu, satu di antara penerima bantuan yaitu RS Aisyiyah Kudus. Hilal Ariadi, Dirut RS Aisiyah menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan dari Pemkab Kudus. Hilal menuturkan, bantuan yang diberikan sangat berarti bagi keamanan tenaga medisnya

“Terima kasih atas bantuan dari Pemerintah Kabupaten Kudus. Ini untuk tenaga medis kami yang merawat pasien,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sempat Terpuruk Usaha Baksonya Bangkrut, Resa Bangkit Jual Sembako dan Lauk Segar

0
Resa kini berjualan lauk dan sembako setelah usaha baksonya bangkrut karena Corona. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi Jalan Kudus – Jepara tepatnya di selatan lampu merah Yakis, Desa Garunglor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus tampak sebuah bangunan beratap galvalum. Tepat di bawah atap terbentang tulisan bakso balungan dan mie ayam ceker. Tempat tersebut, dulunya adalah warung Bakso King yang tutup akibat corona.

Resa Desiana (32) pemilik kedai Bakso King menuturkan, sejak pandemi corona masuk Indonesia, omzet penjualan di Bakso King terus merosot. Bahkan sampai titik di mana pendapatan itu tidak mampu untuk digunakan membeli bahan baku bakso.

Warung bakso dan mi ayam yang kini berubah fungsi untuk berjualan sembako dan lauk segar. Foto : Rabu Sipan

“Sejak ada corona omzet Bakso King turun terus. Saya pun rugi dan bangkrut. Dengan terpaksa saya menutup semua kedai bakso yang ku punya,” ujar perempuan yang akrab disapa Resa kepada betanews.id, Kamis (7/5/2020).

Perempuan yang tercatat sebagai warga Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus itu menuturkan, mempunyai delapan kedai bakso yang tersebar di Kudus, Demak, dan Jepara. Saat ada virus Covid-19 semua kedainya itu ditutup karena sepi pembeli.

Baca juga : Kisah Aji, Pernah Dicemooh saat Awal Rintis Usaha Servis Jok Karena Penghasilan Kecil

“Akibat dari kerugian itu, saya jadi punya utang banyak. Saya pusing dan nangis terus. Bahkan sempat menutup diri dari pergaulan, serta minder bertemu orang,” beber perempuan berambut pirang tersebut.

Namun, kata dia, di saat menutup diri dan merenung, dirinya kepikiran nasib karyawannya. Kalau dia yang punya usaha bisa terdampak begitu hebatnya, apalagi mereka yang menggantungkan nasib pada dirinya. Sejak itulah Resa mulai berfikiran untuk merintis usaha lagi.

Dia pun mengaku memeras otak, usaha apa yang sekiranya cocok di saat virus corona merebak. Maka dipilihlah usaha jualan sembako dan aneka ikan serta daging segar. Menurutnya, sembako dan ikan serta daging pasti tetap dibutuhkan masyarakat. Apalagi kalau dijual dengan harga murah pasti laris manis.

“Benar saja aneka sembako dan dan lauk pauk segar yang saya jual diburu pembeli. Bahkan pelanggan tidak hanya orang Kudus saja melainkan juga ada yang datang dari Jepara,” ujar Resa yang mengaku mulai berjualan sembako dan lauk pauk segar sejak sebulan yang lalu.

Perempuan yang mempunyai enam anak itu menuturkan, menjual berbagai macam sembako dan lauk segar dengan harga di bawah pasar. Antara lain, daging ayam, daging sapi, daging kerbau, telur, aneka ikan laut. Ada juga sempolan, adonan bakso ayam dan bakso sapi.

Baca juga : Kisah Pilu Pak Slamet, Sudah Kena Tipu Masih Terlilit Utang

“Kami juga menyediakan minyak goreng, dan aneka buah di antaranya, pisang, semangka serta melon,” jelas perempuan berkaca mata tersebut.

Dia bersyukur, dagangan yang dijualnya laris manis diserbu pembeli. Sehingga dia tidak sampai merumahkan karyawannya. Serta bisa membayar gaji mereka yang tertunggak.

“Tentunya juga bisa untuk bertahan hidup dan bisa untuk menghidupi keluarga. Semoga saja jualan saya makin lancar dan laris,” harap Resa yang diamin oleh pekerjanya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kisah Mbah Rogo Moyo, Penyebar Agama Islam dan Maestro Rumah Adat Kudus

0
Makam Mbah Rogo Moyo di Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di Dukuh Proko Winong, Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, tampak sebuah bangunan masjid lawas. Di serambi masjid terlihat empat pria paruh baya sedang ngobrol seusai Salat Dzuhur. Di ruang utama masjid terlihat empat tiang atau saka penyangga atap utama masjid. Kemudian di pagar keliling bangunan menggunakan bata merah dengan relief khas Hindu – Budha. Masjid itu bernama Masjid Alit Darul Istiqomah.

Miran (60) Juru Kunci Makam Mbah Rogo Moyo mengatakan, Masjid Alit Darul Istiqomah itu dulunya merupakan tempat pasujudan Mbah Rogo Moyo. Mbah Rogo Moyo sendiri seorang ulama penyebar agama Islam di Kaliwungu, Kudus. Sekaligus sang arsitek rumah adat Kudus.

Kitab peninggalan Mbah Rogo Moyo. Foto : Rabu Sipan

“Bila Sunan Kalijaga punya gamelan dan Sunan Kudus punya menara sebagai simbol penyebaran agama Islam, Mbah Rogo Moyo punya Joglo Tumpang Songo, atau rumah adat Kudus sebagai simbol penyebaran agama Islam,” tutur Miran kepada betanews.id, Rabu (6/5/2020).

Baca juga : Dibangun Sunan Kudus dan Arya Penangsang, Begini Sejarah Masjid Wali Jepang

Pria yang sudah dikaruniai tiga anak itu menuturkan, Mbah Rogo sendiri konon adalah pengikut setia Pangeran Diponegoro. Karena pada tahun 1830, Sang Pangeran ditangkap oleh penjajah Belanda, Mbah Rogo Moyo pun melakukan pengembaraan. Sehingga sampailah di Dukuh Prokowinong, Kaliwungu, Kudus.

Setelah sampai di kecamatan paling barat Kudus, lanjutnya, Mbah Rogo Moyo dengan dibantu Mbah Rogo Perti, Mbah Rogo Joyo, Mbah Rogo Dadi, serta Mbok Sumi bertekad untuk menyiarkan agama Islam. Tak hanya itu, Mbah Rogo ingin meningkatkan ekonomi masyarakat, dengan cara mengajari mereka agar punya keterampilan jadi tukang kayu.

“Mbah Rogo Moyo sendiri merupakan orang yang ahli dalam pertukangan. Bisa dibilang beliau itu arsitek zaman dulu,” jelas Miran.

Menurutnya, dalam penyebaran agama Islam, Mbah Rogo Moyo sangat arif dan bijaksana. Serta dengan keahliannya, Mbah Rogo Moyo pun membuat Rumah Tumpang Songo dan penuh ukiran. Sehingga banyak mematik minat masyarakat yang masih banyak beragama Hindu dan Budha datang melihat.

Tidak hanya itu saja, tuturnya, mereka juga ingin belajar agar bisa membuat rumah serupa. Mbah Rogo Moyo pun dengan senang hati menyambut keinginan masyarakat. Di sela mengajarkan cara bertukang itulah beliau juga mengajarkan agama Islam kepada mereka.

“Dengan cara tersebut, ajaran agama Islam yang disampaikan Mbah Rogo Moyo dengan senang hati diterima masyarkat. Rumah Tumpang Sembilan buatan beliau saat itu juga jadi perbincangan di seluruh Kudus,” ungkapnya.

Sehingga lanjutnya, Mbah Rogo Moyo diminta oleh Bupati Kudus yang kedua yakni Condro Negoro untuk membuat Rumah Tumpang Sembilan di Pendopo Kabupaten. Kelak Rumah Tumpang Sembilan itu dikenal sebagai Rumah Adat Kudus.
“Rumah Joglo Tumpang Songo, sekarang itu jadi Rumah Adat Kudus. Di pendopo itu yang membuat Mbah Rogo Moyo,” jelas Miran.

Dia menuturkan, dalam pembuatan Rumah Adat Kudus itu sempat terjadi keanehan. Dikarenakan saat pendirian rumah, sang bupati justru tidak melibatkan Mbah Rogo Moyo. Sehingga, Tumpang Sembilan yang tadinya ukurannya pas, saat akan dipasang ukurannya kepanjangan semua.

Namun, setelah dipotong disesuaikan ukuran lokasi, saat akan dipasang malah jadi kependekan. Mengetahui hal itu, sang bupati langsung datang dan minta maaf kepada Mbah Rogo Moyo, sekaligus mohon kesediaannya agar sudi ikut serta dalam pendirian Rumah Adat Kudus di kabuputen.

Baca juga : Masjid Wali Hadiwarno, Satu Abad Lebih Tua dari Masjid Menara Kudus

Mbah Rogo Moyo pun menyetujui, serta mempersilakan Sang Bupati untuk berangkat terlebih dulu naik kereta kuda. Sesampai di pendopo, Sang Bupati terkejut, karena Mbah Rogo Moyo malah sudah sampai terlebih dulu.

“Setelah Mbah Rogo Moyo ikut mendirikan Rumah Adat Kudus, pengerjaannya pun tanpa kendala dan lancar. Ukurannya yang tadinya tidak pas, jadi sesuai seperti sedia kala,” bebernya.

Sedangkan peninggalan Mbah Rogo Moyo yang masih hingga sekarang adalah, kitab bertuliskan huruf Jawa, berbahasa Sansekerta, besi siku serta jongko. “Saat ini barang tersebut disimpan oleh adikku,” ujar Miran.

Editor : Kholistiono

- advertisement -