Beranda blog Halaman 1846

132 UMKM Sektor Makanan dan Minuman Dapat Bantuan dari Dinkop UKM Jateng

0
Proses pengumpulan berkas UMKM yang bakal mendapatkan bantuan. Foto : Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang perempuan mengenakan jilbab berwarna abu-abu terlihat sedang mengawasi proses penyerahan berkas. Sambil duduk di depan laptop, dia menjelaskan, saat ini Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Dinkop UKM) Provinsi Jawa Tengah, mengutamakan UMKM terdampak Covid-19 yang bergerak di bidang makanan dan minuman.

Perempuan bernama Siti Makhmudah itu menjelaskan, Di Kudus yang mendapat bantuan sosial berupa bahan pokok ada sekitar 132 UMKM. Data UMKM dimasukkan ke sistem aplikasi yang disediakan Dinkop UKM Jawa Tengah pada tanggal 30 Maret 2020.

Baca juga : 239 UMKM di Kudus Diusulkan Dapat Bantuan

“Beberapa waktu yang lalu, data tersebut ditindaklanjuti, dan ada 132 UMKM yang terjaring. UMKM tersebut bergerak di bidang makanan dan minuman. Jadi nanti mendapat bantuan berupa bahan,” jelas Cimut, sapaan akrabnya, Senin (11/5/2020).

Pendamping dari Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah itu juga menrinci, bantuan yang akan diterima nantinya berupa telur sebanyak 50 Kilogram, gula 50 Kilogram, tepung 75 Kilogram. Selain itu penerima juga memilih di antara minyak  goreng 25 liter atau mentega.

“Bahan ini nanti harus digunakan sebaik-baiknya. Karena pelaku UMKM harus melaporkan perkembangan usahanya. Karena ini hari terakhir, harapan saya hari ini semua UMKM segera melengkapi persyaratannya,” ungkapnya kepada betanews.id.

Baca juga : 239 UMKM di Kudus Diusulkan Dapat Bantuan


Sedangkan menurut Diah Ayuningtiyas (33), pemilik usaha catering dan ceriping pisang, mengaku belum tahu kapan bantuan akan diterima. Selain itu dia juga belum tahu wujud bantuannya apa.

“Saya belum tahu bantuan ini kapan bisa diterima. Ini kan usaha sepi, jadi saya bersyukur jika bisa mendapat bantuan. Semoga usaha saya bisa berjalan dan berkembang,” harap warga Desa Bakalan Karapyak, RT 08 RW 02 Kaliwunggu, Kudus itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Cek Kesiapan Protokol Kesehatan Stasiun Tawang, Ganjar Minta Semarang Terapkan Aturan Ketat

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengecek kesiapan protokol kesehatan di Stasiun Tawang. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah memutuskan kembali membuka pelayanan transportasi umum untuk mengangkut orang-orang khusus. Untuk perjalanan kereta api, rencananya mulai Selasa (12/5/2020) besok PT Kereta Api Indonesia mengoperasikan perjalanan Kereta Api Luar Biasa.

Salah satu daerah yang akan menjadi titik henti dan persinggahan KA Luar Biasa itu adalah Stasiun Tawang di Kota Semarang. Untuk memastikan kondisi dan persiapan, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo melakukan sidak ke stasiun tersebut.

Kedatangannya yang tidak disiapkan, membuat sejumlah petugas yang sedang berjaga terkejut. Meski begitu, Ganjar nampak tenang menyusuri sejumlah lokasi yang ada di stasiun itu.

Baca juga : Tak Dapat Bantuan dari Pemprov DKI, Ganjar Akan Kirim Bantuan ke 26 Ribu Warganya

Kondisi stasiun nampak lengang karena sepi penumpang. Memang sejak wabah Covid-19 melanda, banyak perjalanan moda transportasi umum yang dibatasi bahkan ditiadakan.

Lokasi yang pertama ditengok Ganjar adalah pintu masuk ke area peron. Di tempat itu, ia melihat sudah ada petugas jaga lengkap dengan thermal gun dan handsanitizer untuk kesiapan. Ganjar juga sempat masuk ke peron dan melihat ada kereta yang parkir di dalam.

“Itu keretanya tidak jalan ya, hanya parkir kan?,” tanya Ganjar.

Tak beberapa lama, Kepala Stasiun Tawang, Prasetyo datang menghampiri Ganjar. Kepada Ganjar, Prasetyo menerangkan, bahwa perjalanan kereta api baru masuk ke Stasiun Tawang pada Selasa (12/5/2020) besok.

“Besok kereta pertama dari Surabaya Turi menuju Jakarta tiba di sini pukul 10.00 WIB. Sementara kereta kedua dari Jakarta menuju Surabaya berhenti di sini pukul 14.00 WIB,” terang Prasetyo.

Prasetyo juga mengajak Ganjar menengok posko Covid-19 yang telah disiapkan. Nantinya di posko itu, semua penumpang yang naik atau turun akan menjalani pemeriksaan.

“Jadi karena angkutan ini hanya untuk orang-orang khusus, maka syaratnya juga khusus. Akan kami cek di sini sebelum mereka bisa beli tiket atau bisa melanjutkan perjalanan,” terangnya.

Pihaknya, lanjut Prasetyo, sudah melakukan simulasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Semua kekuatan sudah disiapkan untuk melaksanakan program itu.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan, dirinya sengaja mengecek kesiapan Stasiun Tawang karena menurut daftar memang masuk stasiun yang akan dilewati kereta. Dari hasil pengecekan, semuanya sudah disiapkan dengan baik oleh PT KAI.

“Sehingga mulai besok sudah ada KA lewat, dari Surabaya dan dari Jakarta. Saya senang karena sudah disiapkan, sudah ada poskonya dan saya harap nanti checkingnya betul-betul dilaksanakan dengan baik,” katanya.

Ganjar juga mendengar laporan bahwa meskipun dibuka, pelayanan KA hanya untuk mengangkut orang-orang khusus. Artinya, masyarakat bukan berarti boleh bepergian dengan dibukanya moda transportasi umum itu.

Baca juga : Pasar Tradisional di Indonesia Diminta Contoh Jateng yang Terapkan Jaga Jarak Antarpedagang

“Ada persyaratannya, mereka sudah rapid test dan kekhususan lainnya. Ini yang harus dipahami masyarakat, tidak semua boleh bepergian,” tegasnya.

Ganjar berharap, pembukaan jalur KA luar biasa pada esok haru berjalan lancar. PT KAI harus ketat dalam persoalan syarat masyarakat boleh menggunakan transportasi itu.

Di antara persyaratannya adalah dalam rangka apa bepergian, siapa yang mengutus, kepentingan kekhususannya apa, syarat kesehatan sudah terpenuhi atau belum, KTP dan surat lainnya sampai syarat tekhnis seperti physical distancing dan menggunakan masker.

“Saya minta di Semarang ini aturannya benar-benar dilaksanakan ketat. Kalau tidak lengkap, harus pulang,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Meski Sering Kena Tegur, Alex Sangat Mendukung Satgas Jogo Tonggo di Menawan

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Jalan Rahtawu Raya masih tampak basah setelah diguyur hujan siang itu. Sejumlah orang yang sedang duduk di depan Musala Hidayatul Muttakin, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus terlihat didatangi sekelompok orang. Mereka yakni rombongan bidang keamanan Satgas Jogo Tonggo RW 03 Desa Menawan.

Mereka mendatangi warga yang sedang berkumpul. Satu di antara sejumlah warga yakni Alex Rohmadi (52). Dirinya mendapat teguran karena tidak menggunakan masker. Selain itu juga diimbau untuk menjaga jarak demi mencegah penyebaran Covid-19.

Gapura pintu masuk di RW O1 Desa Menawan dipasang spanduk tentang larangan masuk. Foto : Ahmad Rosyidi

Warga RT 06 RW 03 itu merasa senang karena diingatkan. “Karena saya sering lupa, jadi memang perlu diingatkan. Saya juga senang dan berterima kasih, adanya satgas seperti ini warga merasa dapat perhatian,” ungkap pria yang akrab disapa Rohmadi itu, Sabtu (9/5/2020).

Baca juga : Lumbung Pangan jadi Prioritas Program Jogo Tonggo di Desa Menawan

Satu di antara rombongan satgas tersebut yakni Ragil Purwanto (60), Ketua Satgas Jogo Tonggo RW 03 Desa Menawan. Dia menegur warga yang sedang berkumpul dan tidak mengenakan masker. Selain itu juga memastikan warga sudah punya masker atau belum.

“Ini kegiatan rutin bidang keamanan Satgas Jogo Tonggo. Mengecek tempat-tempat yang biasa dibuat berkerumun warga. Memang perlu kita ingatkan terus hingga ada kesadaran dari warga,” jelas Ketua RW 03 itu.

Dia juga mengungkapkan, jika Satgas Jogo Tonggo biasanya mulai berjaga di pos pukul 16.00 WIB hingga pagi. Saat ini untuk Satgas Jogo Tonggo di RW 03 belum dipasang portal. Rencana segera dipasang, di RW tersebut ada sekitar lima akses jalan yang diportal.

Baca juga : Desa Menawan Kudus Terapkan Program Jogo Tonggo

Sementara itu, Pasri Shodiq (56) Satgas Ketua Jogo Tonggo di RW 01 mengungkapkan, di sana sudah ada portal. Selain itu juga sudah ada dapur umum yang bisa digunakan. Dirinya belum tahu di RW lain, yang jelas setiap RW di Desa Menawan sudah ada Satgas Jogo Tonggo.

“Yang jelas di enam RW sudah ada Satgas Jogo Tonggo, tetapi saya kurang tahu detail kondisinya. Kalau kami jaga mulai pukul 20.00 WIB hingga pagi. Karena mayoritas warga masih bekerja kalau siang hari. Jadi jaga mulai malam,” terang ketua RW 01 itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

1.069 Warga Kudus Terima Bantuan Rp 600 Ribu dari Kemensos

0
Plt Bupati Kudus HM Hartopo saat penyerahan BST secara simbolis di Kantor Pos Kudus, Senin (11/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebanyak 1.069 warga Kabupaten Kudus terdampak Covid-19 mendapatkan Bantuan Sosial Tunai (BST) tahap pertama senilai Rp 600 ribu yang berasal dari Kementerian Sosial (Kemensos). Penyerahan diberikan secara simbolis oleh Plt Bupati Kudus HM Hartopo di Kantor Pos Kudus, Senin (11/5/2020).

Hartopo menyampaikan, dalam tahap pertama ini, warga yang mendapatkan bantuan ada sebanyak 1.069 warga, dari total keseluruhan masyarakat yang akan menerima BST yakni 6.004 orang. Data ini kemungkinan akan bertambah hingga 9 ribuan. Nantinya, bantuan tersebut akan diberikan selama tiga bulan mendatang mulai April 2020.

Salah seorang warga penerima bantuan sosial tunai saat mengurus pencairan di Kantor Pos Kudus, Senin (11/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

“Jadi semua yang diserahkan saat ini ada 6.004. Ada data tambahan yang total semuanya 9 ribu sekian. Saya tidak hapal detail angkanya,” tuturnya.

Mekanismenya, lanjut dia, masyarakat akan menerima surat terlebih dahulu dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kabupaten Kudus. Selanjutnya, dalam surat tersebut terdapat jadwal dan tempat pengambilan uang.

“Semua memakai sistem by name dan address. Jadi tidak akan ada data ganda,” jelasnya.

Baca juga: 239 UMKM di Kudus Diusulkan Dapat Bantuan

Hartopo juga telah menginstruksikan Dinas Sosial untuk membuat skala prioritas bagi para penerima bantuan sosial. Penerima harus dari masyarakat yang sedang terpuruk akibat Covid-19. Dia berharap, bantuan sosial tersebut dapat tepat sasaran dan benar-benar berguna bagi masyarakat.

“Dari Dinsos membuat skala prioritas untuk yang mendapatkan bantuan, dan diutamakan orang-orang yang sedang terpuruk. Jangan sampai terjadi kecemburuan di masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, penerima BST Musyarofah mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan. Menurutnya, dengan adanya bantuan dari pemerintah bisa meringankan bebannya. Ia mengaku, saat pandemi Covid-19 omzet jualan baksonya menurun drastis, dari sebelum pandemi pemasukan kotornya bisa mencapai Rp 500 ribu, tapi sekarang sekitar Rp 150 ribu.

“Itu omset kotor, ya. Kadang sepi sekali,” jelas Warga Desa Burikan, Kecamatan Kota, Kudus itu.

Baca juga: Tak Dapat Bantuan dari Pemprov DKI, Ganjar Akan Kirim Bantuan ke 26 Ribu Warganya

Menurutnya, proses pencairan dana BST tidak sulit. Dirinya hanya perlu datang ke tempat yang disarankan sambil membawa selembar surat dan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Setelah itu, petugas memverifikasi data dan menyerahkan selembar kertas untuk ditandatangani. Terakhir, petugas memfoto wajah dan bantuan yang diterima untuk diunggah ke sistem.

Dia mengungkapkan, uang bantuan tersebut akan digunakan untuk kebutuhan hidup, dan jika sisa akan ditabung untuk biaya sekolah anaknya.

“Yang masih sekolah baru kelas tiga SD,” tutup Musyarofah.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

239 UMKM di Kudus Diusulkan Dapat Bantuan

0
Puluhan UMKM di Kudus sedang mengumpulkan berkas. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Belasan warga tampak berdatangan ke Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disnakerperinkopukm) Kabupaten Kudus, Rabu (11/5/2020) pagi. Mereka tak lain adalah pelaku UMKM di Kudus yang sedang mengumpulkan persyaratan agar dapat bantuan dari Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Dinkop UKM) Provinsi Jawa Tengah.

Puluhan orang yang sedang duduk di lantai dua dinas tersebut terlihat mendapat arahan dari seorang pria, agar tidak duduk berdekatan. Dia adalah Bambang Tri Waluyo (59), yang saat itu sedang melihat suasana pengumpulan syarat untuk diajukan bantuan.

“Semua UMKM yang ada di Kudus nanti akan kami ajukan semua. Yang penting memenuhi syarat dan memiliki izin usaha. Saat ini yang kami ajukan ada sekitar 239 UMKM, nanti biar dari provinsi yang menyeleksi,” terang Kepala Dinas tersebut kepada betanews.id.

Baca juga : Pemkab Kudus Salurkan Bantuan Sosial Tahap Pertama pada 239 Karyawan UMKM

Pria yang akrab disapa Bambang itu juga menambahakan, untuk wujud bantuannya, dia masih belum tahu. Menurutnya, yang terpenting setiap UMKM yang terdata di Disnakerperinkopukm Kudus dan memiliki izin usaha akan diajukan.

Sementara itu, Triyatningsih, Staf SDM Disnakerperinkopukm yang sedang melakukan pengecekan berkas mengungkapkan, pengumpulan berkas dibuka mulai hari Jumat (8/5/2020). Pada hari itu ada sekitar 44 UMKM yang sudah melakukan pemberkasan persyaratan.

“Pada hari Jumat kemarin, ada 44 yang sudah mengumpulkan. Ini hari terakhir sudah ada 24 UMKM. Syaratnya membawa KTP dan izin usaha. Selain itu juga mengisi formulir pernyataan,” jelasnya.

Baca juga : Kabar Gembira, Pekerja yang Dirumahkan Tetap Dapat THR

Untuk pernyataannya, harus menyatakan memiliki UMKM dan terdampak Covid-19. Tercatat di data base UMKM terdampak Covid-19 di https://dinkopumkm.jatengprov.go.id/. Tidak mendapat bantuan sosial dari pemerintah. Tidak masuk data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS).

“Selain itu juga tidak menerima bantuan dari jaringan pengaman sosial (JPS), maupun jaringan pengaman ekonomi (JPE) APBN, APBD Provinsi maupun Kabupaten. Memiliki legalitas, berkomitmen menggunakan bantuan dan melaporkan perkembangan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Datangi Rumah Dinas Ganjar, Duo Simbah Serahkan Uang Tabungan dan Minta Jadi Relawan

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menerima sumbangan untuk penanganan Covid-19 dari pasangan suami istri yang sudah lansia. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Semangat Mbah Sumiati Sastro Kaelan (69) dan Setyabudi Sutanto (72) patut diacungi jempol. Bukan karena tetap energik di usia senja, namun kepedulian sosialnya yang masih membara. Hal itu terlihat ketika keduanya nampak terseok saat menaiki tangga teras Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Dengan kardus besar di tangan, Mbah Sumiati nampak cukup kesulitan menapaki anak tangga itu.

Pasangan suami istri berusia lanjut asal Jl Sidorejo Dr Cipto Kota Semarang itu sengaja mendatangi rumah dinas Ganjar Pranowo untuk menyampaikan bantuan. Tak banyak yang diberikan, yakni masker kain sebanyak 100 buah dan uang tunai Rp 500.000.

Niki kulo mbeto masker (ini saya bawa masker). Niki duit sekedik monggo ditompo (ini uang sedikit silahkan diterima),” kata Sumiati saat bertemu Ganjar, Senin (11/5/2020).

Selain itu, Sumiati juga memberikan surat pengantar serta buku hasil perjalanan spiritualnya. Buku itu diakuinya ditulis oleh salah seorang cendekia UNDIP Semarang dan berisi pesan moral untuk bangsa dan bernegara.

Baca juga : Tak Dapat Bantuan dari Pemprov DKI, Ganjar Akan Kirim Bantuan ke 26 Ribu Warganya

“Alhamdulilah oleh duit aku (alhamdulillah saya dapat uang),” canda Ganjar.

Namun belum selesai ngomong, Sumiati langsung menampis tangan Ganjar yang memegang amplop berisi uang sumbangannya. Dengan lucu, dia mengatakan bahwa uang itu bukan untuk Ganjar.

Mboten nggo njenengan (bukan untuk kamu), cuma lewat saja,” ucapnya disambut tawa terpingkal-pingkal Ganjar.

Kepada Ganjar, Sumiyati mengatakan tergerak untuk memberikan bantuan saat melihat video Ganjar. Salah satu kata yang membuatnya tergugah adalah saat Ganjar mengajak semua orang untuk ngrogoh roso kamanungsan (merengkuh rasa kemanusiaan) untuk membantu sesama di tengah pandemi covid-19 ini.

“Lalu saya berdoa, supaya saya yang tua ini bisa ikut membantu. Ndilalah ada anak-anak yang membuat masker dan dikasih saya, ada juga yang ngasih uang kemudian saya tabung dan saya berikan sekarang,” ucapnya.

Meski tak banyak, namun masker dan uang tabungan itu lanjut Sumiati diharapkan mampu membantu pemerintah dalam menanggulangi covid-19. Bahkan, tak hanya memberikan bantuan, Sumiati juga menawarkan diri menjadi relawan covid.

“Saya dulu mantan perawat di RSUP Kariadi. Setelah suami kecelakaan di tahun 1975, saya keluar dan fokus merawat suami. Sekarang nganggur dan merasa tubuh masih sehat. Jadi tolong Pak Ganjar, saya mau jadi relawan untuk membantu tenaga medis menghadapi penyakit ini,” ucapnya.

Apa yang disampaikan dua simbah itu membuat Ganjar terenyuh. Ia tak menyangka, meski usai senja, keduanya tetap peduli untuk ikut membantu dan bahkan mengajukan diri menjadi relawan.

Baca juga : Surati Ganjar, Bupati Nias Minta Warganya yang Ada di Jateng Dibantu

“Saya terima bantuan masker dan uangnya ya mbah, terima kasih banyak. Nanti kami salurkan pada masyarakat yang membutuhkan,” kata Ganjar.

Ganjar pun mengamini permintaan dua simbah itu untuk menjadi relawan. Namun bukan di rumah sakit, melainkan di lingkungan sekitar rumahnya.

“Njenengan membantu seperti ini, sudah menjadi relawan. Kalau mau lebih, saya punya program jogo tonggo, menjaga tetangga supaya tidak kelaparan. Monggo simbah berdua ikut berpartisipasi, menggerakkan lingkungan untuk peduli. Yang mampu membantu yang tidak mampu, yang kekurangan dibantu,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Hijab Masker Produksi Rumah Jilbab Laku Keras di Pasaran

0
Pegawai Rumah Jilbab sedang memraktikkan penggunaan Hijab Masker, Sabtu (9/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Toko Rumah Jilbab (RJ) yang berwarna pink itu nampak mencolok dibanding dengan deretan toko-toko lain di sekitarnya. Berada tepat di pojok Perempatan Jember, Kabupaten Kudus, pengguna jalan akan dengan mudah melihat toko yang sedang hangat diperbincangkan para pengguna hijab tersebut.

Seperti hari itu, Rabu (6/5/2020), Dilla Kartika Sari (25) terpaksa memberi kabar tidak enak kepada pembeli yang datang, lantaran stok kerudung masker ludes terjual. Menurutnya, produk tersebut memang cukup laris di pasaran, bahkan hari itu, stok habis karena banyak yang membeli.

Beberapa pengendara kendaraan bermotor tampak melewati Toko Rumah Jilbab di Perempatan Jember, Rabu (6/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Dilla melanjutkan, kerudung masker ini diproduksi sendiri oleh Rumah Jilbab. Ide awal pembuatannya adalah ingin membuat hijab yang disesuaikan dengan kondisi wabah Covid-19. Secara bentuk, model yang dibuat adalah kerudung langsungan yang ada kain tambahan di bagian dagu dan berfungsi sebagai masker.

“Kalau untuk produk sendiri, ya kerudung masker itu. Kebetulan memang ada customer dari Jawa Timur yang meminta produk tersebut. Dan kami support untuk mengisi tokonya,” kata wanita yang jadi admin di toko tersebut.

Baca juga: Saptaria Fashion, Produksi Hijab Premium Harga Miring

Selain produksi sendiri, usaha yang dimiliki dua bersaudara Rindy dan Rizka asal Demak itu juga menerima barang dari supplier. Kemudian untuk pasarnya sudah merambah pasar lokal di Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga internasional, seperti Hong Kong dan Malaysia.

“Sebenarnya untuk produk RJ sendiri campuran. Ada yang produk buatan sendiri, ada yang dari supplier. Tapi memang kebanyakan dari supplier. Kami ambil langsung dari supplier pusat. Ada yang dari luar negeri seperti China, ada yang produk lokal seperti dari Jakarta,” paparnya.

Dilla lantas merinci harga jilbab di toko yang sudah berdiri sejak tujuh tahun lalu itu. Ia menyebut, Jilbab langsung (instan) dijual mulai harga Rp 20 ribu sampai Rp 60 ribu dan kerudung segi empat mulai Rp 15 ribu sampai Rp 35 ribu.

“Di hari normal, rata-rata Rumah Jilbab bisa menjual hingga 500 kerudung. Akan tetapi, akhir-akhir ini hanya mampu menjual sekitar 200 kerudung per hari. Ini dampak dari pandemi Covid-19,” kata Dilla.

Baca juga: Sambut Lebaran, Saptaria Fashion Luncurkan Hijab Couple Ibu dan Anak

Selain menjual di toko, Rumah Jilbab juga melayani reseller. Mekanismenya, setiap ambil tiga kerudung ada potongan harga sekitar Rp 2 ribu per kerudung. Jika ambil banyak, tentunya bisa mendapat potongan lebih banyak.

“Kalau akhir-akhir ini, mungkin karena Covid-19 juga, jadi penjualan per hari cuma bisa segitu. Tetapi memang kami juga punya agen-agen atau reseller sendiri yang tiap hari dipastikan mengambil cukup banyak kerudung,” tutup Dilla.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Lumbung Pangan jadi Prioritas Program Jogo Tonggo di Desa Menawan

0
Program Jogo Tonggo yang diterapkan di Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah orang terlihat sedang berjaga di Pos Jogo Tonggo RW 03, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Mereka tak lain adalah Satgas Jogo Tonggo yang hendak melakukan pengecekan tempat-tempat kerumunan. Satu di antaranya yakni Ragil Purwanto (60), Ketua Satgas di RW tersebut.

Setelah memberi arahan kepada bidang keamanan, dirinya berbagi penjelasan kepada betanews.id tentang Satgas Jogo Tonggo di sana. Menurutnya, satgas tersebut sebenarnya lebih mengutamankan lumbung pangan. Dalam kondisi perekonomian seperti saat ini, hal yang perlu diutamakan adalah memastikan warga masih aman dari segi pangan.

Ketua Satgas Jogo Tonggo RW 03 Desa Menawan sedang memberikan pengarahan kepada warga. Foto : Ahmad Rosyidi

“Kami dari Satgas Jogo Tonggo akan melakukan penggalangan bantuan, jadi warga yang mampu biar menyumbang. Kemudian hasil bantuan tersebut kita serahkan ke lumbung pangan di desa. Jika ada warga yang membutuhkan, kita mengajukan ke desa, agar disiapkan,” jelas Ketua RW 03 itu, Sabtu (9/5/2020).

Baca juga : Desa Menawan Kudus Terapkan Program Jogo Tonggo

Selanjutnya, satgas di setiap RW akan menyalurkan bantuan langsung kepada warga yang membutuhkan. Satgas Jogo Tonggo juga melibatkan ketua RT. Di RW 03 sendiri ada 6 RT, dan setiap RT mengirim enam orang untuk menjadi anggota.

“Dengan melibatkan RT, kami bisa tahu warga yang membutuhkan. Jadi bantuan yang diberikan bisa tepat sasaran. Selain itu, untuk melakukan pemantauan warga, peran RT juga sangat diperlukan,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Desa Menawan, Tri Lestari menambahkan, dalam Program Jogo Tonggo terdapat empat bidang yang memiliki peran dan fungsi berbeda. Antara lain, bidang kesehatan, bidang ekonomi, bidang sosial dan bidang hiburan.

Pada bidang ekonomi akan didorong untuk fokus pada Lumbung Pangan. “Lumbung Pangan kita galang dari donatur dalam maupun luar desa. Hasilnya akan kita berikan kepada warga terdampak Covid-19,” tambah perempuan yang akrab disapa Ririn itu.

Baca juga : Pemkab Kudus Bakal Siapkan Dapur Umum di Setiap Kecamatan

Menurutnya, sebelum dibentuk Program Jogo Tonggo, warga Desa Menawan memang sudah kompak dalam melawan Covid-19. Mulai dari pemerintah desa hingga tingkat RT, semua terlibat. Sehingga dalam melaksanakan Program Jogo Tonggo di enam RW berjalan lancar.

“Memang sebelumnya sudah ada sistem seperti ini. Perangkat desa, RW hingga RT sudah kompak melakukan upaya pencegahan Covid-19. Tetapi setelah mencanangkan Program Jogo Tonggo jadi lebih terorganisir,” pungkasnya.


Editor : Kholistiono

- advertisement -

Surati Ganjar, Bupati Nias Minta Warganya yang Ada di Jateng Dibantu

0
Ganjar Pranowo saat menyambangi asrama mahasiswa asal Nias. Ganjar juga memborong kue buatan mereka. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Sambil gowes, pada Minggu (10/5/2020) sore, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo kembali menyambangi kos-kosan yang ditempati mahasiswa dan pelajar asal Nias. Terletak di Jl Papandayan Kota Semarang, kos-kosan tersebut ditempati beberapa mahasiswa dan pelajar yang memutuskan tidak pulang.

“Saya itu beberapa waktu lalu disurati Bupati Nias, beliau minta tolong agar warganya yang ada di Jateng diperhatikan. Ini saya datang untuk memastikan anak-anak di sini semuanya sehat. Pak Bupati, anak-anakmu di sini semuanya sehat dan berjanji tidak pulang,” kata Ganjar.

Tak hanya dengan tangan kosong, kedatangan Ganjar ke kos-kosan pelajar dan mahasiswa Nias itu untuk memberikan bantuan. Bantuan berupa sembako dan buah-buahan diberikan Ganjar kepada mereka.

Baca juga : Disambangi Ganjar di Rusunawa, Mahasiswa Curhat Sudah 3 Bulan Belum Dapat Kiriman

“Ini untuk kalian masak bareng-bareng, kalau ada apa-apa kontak saya. Bisa DM di medsos kok,” ucapnya.

Seperti biasa, Ganjar tak hanya berdiri di halaman kos-kosan. Ia selalu masuk ke dalam untuk mengecek dapur dan persediaan makanan.

Ganjar Pranowo, Gubernjur Jateng saat menyambangi asrama mahasiswa asal Nias. Foto : Ist

Saat melakukan aksinya itu, perhatian Ganjar tertuju pada tumpukan kue Lebaran yang ada di meja. Saat melihat ke dapur, Ganjar juga terkejut karena di dalamnya ada dua kolam kecil berisi ikan lele.

Sambil bertanya, kenapa mahasiswa memiliki kue sebanyak itu. Ia juga penasaran kenapa ada ikan lele banyak di kos-kosan mereka.

“Kue itu kami bikin sendiri Pak, kami jual kepada masyarakat. Kalau bapak berkenan, boleh Pak diborong. Kalau lele hanya untuk iseng Pak, selain untuk lauk makan, juga biasanya dibagi ke masyarakat sekitar,” kata Daniel, salah satu mahasiswa.

Ganjar pun langsung mengiyakan. Ia membeli beberapa jenis kue untuk dibawanya pulang. Tak hanya membeli, Ganjar juga ngevlog sambil mempromosikan kue buatan mahasiswa dan pelajar Nias itu.

“Ini keren, jadi di sela waktu luang, teman-teman ini kreatif bikin kue Lebaran dan dijual. Ayo dibeli, saya aja beli masa kamu tidak,” ucap Ganjar dalam vlognya.

Baca juga : Ngabuburit ala Ganjar, Motoran Kunjungi Mahasiswa Luar Daerah

Kunjungan dan bantuan dari Ganjar tersebut disambut antusias oleh para mahasiswa dan pelajar di sana. Mereka mengucapkan terima kasih karena telah diperhatikan, meskipun bukan warga Jawa Tengah.

“Terima kasih Pak Ganjar, semoga sembako yang diberikan bermanfaat buat kami. Kami doakan Pak Ganjar sehat selalu dan rezekinya diperbanyak,” kata Daniel.

Ia juga sangat senang karena Ganjar mau membeli kue produksinya serta mau mengiklankan pada masyarakat melalui media sosialnya.

“Kami buat kue itu inisiatif sendiri, karena kami tidak ada kegiatan dan harus di rumah, jadi kami buat kue untuk dijual. Senang sekali ini Pak Ganjar datang, selain bagi sembako juga memborong kue kami,” tutup warga Nias Selatan ini.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Tak Dapat Bantuan dari Pemprov DKI, Ganjar Akan Kirim Bantuan ke 26 Ribu Warganya

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah akan segera mengirimkan bantuan kepada 26 ribu warganya yang berada di Jakarta dan sekitarnya. Penyaluran ini ditempuh, setelah Pemprov DKI Jakarta tak kunjung memberikan bantuan seperti yang telah dijanjikan.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, anggaran untuk bantuan warga Jateng yang tidak bisa pulang dari Jabodetabek sudah disiapkan. Mekanisme penyaluran bantuan berupa sembako itu juga sudah dibicarakan.

“Ini sekarang kami sedang menyiapkan dengan PT POS. Mudah-mudahan tidak lama segera kelar. Tinggal hitungan teknis dan pembiayaannya (biaya pengiriman). Saya minta cepat, mudah-mudahan minggu depan sudah bisa dikirim ke sana,” tegas Ganjar saat ditemui di rumah dinasnya, Minggu (10/5/2020).

Baca juga: Ganjar Telepon Anies Gegara Banyak Warga Jateng Belum Terima Bantuan

Menurut Ganjar, dari 60 ribu orang yang terdaftar, setelah diverifikasi menjadi 26 ribu orang. Pengurangan sebanyak itu karena ada warga yang sudah pulang kampung.

“Hasil verifikasi kami terakhir sekitar 26.000 dari sekitar 60.000 lebih data yang masuk ke kami. Namun, kami minta ini tidak ditutup dulu datanya karena masih banyak yang ingin menyumbang,” jelasnya.

Di sisi lain, pihaknya belum bisa memastikan sampai kapan akan menanggung warganya yang ada di Jabodetabek.

“Kita belum tahu sampai kapan, tapi minimal secepatnya yang ada itu dibantu dulu. Mereka yang tidak tercover bantuan bisa selamat dulu setidaknya sebulan ke depan dia aman,” katanya.

Baca juga: Warga Jateng di Luar Daerah Sulit Dapat Bantuan, Silakan Hubungi Nomor Ini

Ganjar juga meminta semua pihak yang ingin membantu untuk berkoordinasi dengan Pemprov Jateng. Badan Penghubung Jateng yang ada di Jakarta juga diminta aktif berkoordinasi dalam penyaluran bantuan.

“Kawan-kawan dari Jateng siapapun yang akan memberikan bantuan, tolong komunikasikan dengan perwakilan kami di sana agar diketahui siapa yang sudah dapat dan siapa yang belum. Ini supaya bisa merata, jangan sampai ada yang dapat dobel sementara lainnya belum dapat,” tegasnya.

Permintaan ini, lanjut Ganjar, lantaran ada beberapa instansi maupun komunitas dan lembaga sudah terlebih dahulu memberikan bantuan. Dirinya mendapat laporan dari Bupati Kebumen, ada salah satu desa bernama Winong yang sudah mengirimkan bantuan ke Jakarta.

“Bupati Batang juga menyampaikan sudah mengirim, lalu ada alumni SMAN 1 Tegal yang mengirimkan bantuan serupa. Memang ini sporadis, maka kami minta dijadikan satu agar bisa tepat sasaran,” tutup Ganjar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Mengenal Band Tanpa Nada, Tak Persoalkan Aliran Musik Agar Leluasa Berkarya

0
Band Tanpa Nada. Foto: Facebook/Tanpa Nada

BETANEWS.ID, SEMARANG – Band Tanpa Nada beberapa hari ini banyak disorot setelah mengeluarkan lagu “Tak Terhitung” yang dipersembahkan khusus untuk pejuang Covid-19. Lagu ini merupakan hasil kolaborasi band asal Semarang itu dengan dua penyanyi perempuan, yakni Devia dari grup duo-pop Figura Renata dan Fanny dari grup trio-pop folk Soegi Bornean.

Salah seorang personel Band Tanpa Nada Aristya Kusuma Verdana (34) mengatakan, lagu ini merupakan cara mereka merespon fenomena terkini, yaitu adanya pandemi Covid-19. Khusunya untuk tenaga medis sebagai garda terdepan, pasien yang berjuang, dan masyarakat yang senantiasa menjaga kesehatan.

Menurutnya, kecenderungan untuk merespon berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat, membuat band yang sudah berdiri selama 12 tahun itu tak pernah mempertahankan jenis aliran musik khusus di setiap karyanya. Makanya, Tanpa Nada lebih leluasa merespon berbagai fenomena untuk selanjutnya dituangkan menjadi karya.

“Dari awal kami suka eksplorasi. Setiap karya punya keunikannya sendiri. Tidak ada jenis musik khusus yang kami patuhi. Karena memang dari masing-masing personel juga punya latar belakang aliran sendiri, seperti hardcore, emo, punk, metal, rock hingga tradisional,” terangnya, Jumat (8/4/2020).

Baca juga: Tak Mempan dengan Keris, Kekebalan Cakil Luntur Karena Disinfektan

Tak hanya latar belakang bermusik, lanjut Aristya, perjalanan karir anggota band yang berisi tujuh orang itu juga tidak sama. Ia menyebut, mereka datang dari berbagai profesi, mulai dari teater, sastra, dosen, jurnalis, marketing, event organizer, hingga kontraktor.

“Perpaduan tersebut membuat pandangan dalam berkarya kami jadi holistik, bukan parsial. Dan kami memandang musik adalah gagasan yang tidak pernah memiliki batas,” papar pria yang juga berprofesi sebagai jurnalis itu.

Selain mengeluarkan single, band yang digawangi Erick (vokal), Fajar “Cepot” Leksono (vokal), Lutfi Firmansyah (Gitar/Vokal), Adi “Kempul” Prasetyo (gitar), Samid (bass), Lazuardy “Ambon” Inu (drum) dan dirinya sendiri di etnik, sejauh ini sudah mengeluarkan dua album. Album pertama berjudul Duniaku Ini Duniamu rilis 2010 dan Diorama Kakofani pada 2017.

Baca juga: ‘Tak Terhitung’, Lagu Ciptaan Band Tanpa Nada untuk Pejuang Covid-19

Sedangkan khusus untuk lagu Tak Terhitung, mereka berkolaborasi dengan dua vokalis wanita, kemudian Antok Riyanto dalam mixing dan mastering. Untuk pembuatan video musik digarap oleh @officialgemb dan sampul lagu dirancang oleh Nur Soleh, dengan merespons foto karya Dini Failasufa.

“Dari berbagai kerja sama tersebut, akhirnya lahir karya Tak Terhitung yang diharapkan mampu dinikmati oleh seluruh pendengar,” pungkas Aristya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Utamakan Kualitas dan Harga Mede, Kunci Sukses Didik Jalankan Usaha Pemasangan Stiker Motor

0
Raja Stiker, usaha yang ditekuni oleh Didik dan kini sudah memiliki pelanggan tidak hanya dari Kudus saja. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi Jalan Lingkar Utara, Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus tampak sebuah bangunan bercat ungu. Di bangunan tersebut terlihat ramai aktivitas. Beberapa pria tampak sibuk memasang stiker pada kendaraan roda dua. Satu di antaranya yakni Didik Irawan (32) pemilik Raja Stiker.

Di sela aktivitasnya, pria yang akrab disapa Didik itu sudi berbagi kisah tentang usahanya kepada betanews.id. Dia mengungkapkan, mulai terjun usaha pemasangan stiker pada kendaraan sejak 2008. Menurutnya, untuk bertahan dari persaingan, dia mengandalkan hasil, kelengkapan dan harga yang bersaing.

Pemasangan stiker motor di Raja Stiker. Foto : Rabu Sipan

“Pemasangan stiker di Raja Stiker itu jaminan hasilnya bagus. Sesuai permintaan pelanggan. Banyak pilihannya dan harganya tak bikin kantong bolong,” ujar Didik yang tercatat sebagai warga Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kudus.

Baca juga : Agar Terlihat Keren dan Bikin Cewek Terpikat, Abdul Modif Motornya di Raja Stiker

Pria yang sudah dikaruniai satu anak itu mengatakan, Raja Stiker menyediakan aneka macam stiker. Dari yang biasa hingga hasil cutting sendiri. Dari stiker bahan standar, bagus hingga stiker dengan kelas premium. Untuk harga, selisihnya sekitar Rp 10 ribu dari kualitas bahan tersebut.

Di Raja Stiker lanjutnya, juga melayani pemasangan stiker untuk kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat. Dari pemasangan blok full body untuk motor, maupun pemasangan stiker dari bagian tertentu kendaraan.

“Untuk harga relatif murah. Dari yang Rp 5 ribu hingga blok full body motor yang rata – rata harganya Rp 250 ribu,” jelas Didik sambil melanjutkan memasang stiker.

Sedangkan untuk mobil, tuturnya, biasanya pemasangan kaca film dan variasi. Harga berkisar antara Rp 100 ribu sampai Rp 800 ribu. Banderol tersebut tergantung motif stiker yang dipilih pelanggan.

“Dengan harga yang relatif bersaing serta hasil yang memuaskan pelanggan. Raja Stiker jadi punya banyak pelanggan. Tidak hanya dari Kudus, tapi juga ada pelanggan yang datang dari Demak, Jepara serta Pati,” bebernya.

Baca juga : Selain Pelayanan Cepat, Jadux Stiker Juga Beri Garansi

Dia menuturkan, dalam sehari biasanya mampu mengerjakan sekitar 20 kendaraan roda dua. Untuk blok full body sekitar enam kendaraan. Dan sisanya itu pemasangan stiker pada bagian tertentu.

Sedangkan pemasangan stiker pada mobil, dia mengaku tidak pernah menghitung secara pasti. Untuk menyelesaikan pekerjaannya itu Didik dibantu lima karyawan, yang bekerja mulai pukul 09:00 WIB sampai pukul 17:00 WIB.

“Saya buka setiap hari kecuali hari Jumat. Karena hari itu untuk Jumatan,” ungkapnya sambil tersenyum, serta berharap usahanya makin lancar dan makin ramai pelanggan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sempat Jual Tanah Hingga Tertipu Rp 500 Juta Lebih, Nur Diana Bangkit dengan Bartani

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Nur Diana (40) tampak sedang menimbang cabai di tepi Jalan Cipto Kusuma, Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, pagi itu. Selain cabai, ia juga menjajakan aneka sayuran yang baru saja dipanen dari sawah yang digarapnya.

Di sela aktivitasnya menjajakan hasil panen, warga Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus itu lantas berbagi kisah perjalanan hidupnya. Dia mengaku bertani sudah dari kecil karena memang terlahir dari keluarga petani. Bahkan setelah menikah, dia dapat warisan sawah seluas 8.000 meter persegi (sebahu).

Suami Nor Diana sedang mengangkat timun untuk dibawa pulang. Foto: Rabu Sipan.

“Namun sayang, sawah warisan tersebut harus terjual karena ditipu orang. Padahal sawah itu harganya lebih dari Rp 500 juta,” kenang Nur saat ditemui, Jumat (8/5/2020).

Saat itu, lanjut dia, keuangan keluarganya langsung hancur. Sawah tidak punya, modal pun tiada. Namun, hidup harus terus berjalan dan bertani adalah pilihan paling masuk akal.

Baca juga: Turun Drastis, Harga Cabai di Kudus Tak ‘Sepedas’ Rasanya

Bersama suaminya, dia kemudian bertekad pinjam uang di bank untuk modal. Dengan uang itu, dia mencoba bertani cabai dengan sewa sawah di daerah Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Namun saat panen tiba, cabainya cuma dihargai Rp 3 ribu per kilogram.

“Saat itu kami seolah apes. Sewa sawah satu hektare selama setahun malah rugi. Ditanami cabai rugi karena harga turun, ditanami jagung manis rugi juga,” keluhnya.

Hingga akhirnya, dia didatangi Haji Kosim warga Loram Wetan untuk menagih hutang. Namun, saat tahu keadaan Nur, Haji Kosim pun iba serta mengajak kerja sama mengelola tanah persawahan seluas empat hektare dengan sistem bagi hasil di belakang GOR Kudus, yang sekarang jadi Pasar Baru.

Dia kemudian membagi sawah tersebut menjadi dua, yang dua hektare ditanami padi, dan selebihnya ditanami bawang merah. Kerja sama itu, menurutnya bisa dibilang berhasil. Apalagi, dia bisa punya modal untuk beli mobil pick up.

Setelah sawah di belakang GOR tidak boleh diperpanjang karena akan dibangun pasar dan Balai Jagong, uang modalnya kemudian digunakan untuk menyewa sawah bengkok Desa Loram Wetan seluas dua hektare. Dipandang punya prospek bagus, ia lantas menambah sewa tanah menjadi enam hektare dengan harga sewa Rp 10 juta per hektare.

Baca juga: Kembang Buah, Toko Buah dengan Harga Paling Murah di Kudus

“Sawah tersebut ditanami cabai, timun, padi, kacang panjang serta tomat. Namun yang paling banyak ditanami cabai,” bebernya.

Dia bersyukur, meski dengan sistem sewa lahan, hasilnya bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan membiayai anak sekolah.

Alhamdulillah hutang uang di bank yang kami pinjam untuk modal sewa tanah dan modal tanam sekarang sudah lunas. Kalau pun masih ada, itu sama saudara,” tutup Nur.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

‘Tak Terhitung’, Lagu Ciptaan Band Tanpa Nada untuk Pejuang Covid-19

0
Band Tanpa Nada. Foto: Facebook/Tanpa Nada

BETANEWS.ID, SEMARANG – Band Tanpa Nada mencipatakan lagu “Tak Terhitung” sebagai wujud dukungan kepada para pejuang Covid-19. Lagu tersebut sudah diluncurkan Kamis (7/5/2020) pukul 19.00 WIB di kanal youtube mereka.

Salah seorang personel Band Tanpa Nada Aristya Kusuma Verdana (34) mengatakan, lagu tersebut dipersembahkan untuk para pejuang Covid-19, mulai dari tenaga medis sebagai garda terdepan, pasien yang berjuang, dan masyarakat yang senantiasa menjaga kesehatan.

“Lagu ini memang kami persembahkan, khususnya untuk tenaga medis, sebagai apresiasi dan doa. Judulnya Tak Terhitung. Nggak tahu kenapa, mungkin karena memang sudah seharusnya, ya. Sebagai pemusik, kesadaran tersebut muncul dan terus bergejolak. Dari sana, kalimat demi kalimat muncul di benak kami, membentuk lirik, puisi dan doa,” papar pria yang juga berprofesi sebagai jurnalis itu, Jumat (8/5/2020).

Baca juga: Tak Mempan dengan Keris, Kekebalan Cakil Luntur Karena Disinfektan

Dalam lagu ini, Band Asal Semarang itu menggandeng dua penyanyi perempuan, yakni Devia dari grup duo-pop Figura Renata dan Fanny dari grup trio-pop folk Soegi Bornean.

Lelaki berambut gondrong itu menjelaskan, rangkaian kalimat dan musik yang disuguhkan merupakan bentuk dari ungkapan kasih antar sesama, sebagai salah satu media penghubung energi positif satu sama lain. Ini semua tergambar jelas di video klip yang menggambarkan beberapa orang mengucapkan ungkapan penyemangat, doa, dan rasa terima kasih kepada para pejuang Covid-19 melalui media kertas.

“Untuk penggarapan kami konsep sedemikian rupa, utamanya secara visual. Karena musik dan lirik sudah jadi, keterlibatan masyarakat luas kami masukkan dalam bentuk visual. Bahwa mereka juga peduli, berterima kasih dan tetap mendoakan yang terbaik, khususnya untuk garda terdepan. Sebelumnya kami sebar permintaan tersebut melalui kanal media sosial dan aplikasi daring yang kami punya,” bebernya.

Baca juga: Ganjar Rela jadi Bintang Iklan Gratis untuk Produk Warganya

Aristya melanjutkan, lagu berdurasi sekitar 6 menit ini direkam di studio 4WD Music Studio yang berada di Jalan Soekarno Hatta No 233, Semarang. 

“Saya berharap, vibrasinya sampai untuk para pejuang Covid-19 dan masyarakat secara umum. Supaya tetap menjaga diri, menghadapi berbagai kabar dengan bijaksana, serta selalu menguatkan batin,” tukasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Agar Terlihat Keren dan Bikin Cewek Terpikat, Abdul Modif Motornya di Raja Stiker

0
Proses pemasangan stiker motor di Raja Stiker. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Sore itu di Raja Stiker yang berada di tepi Jalan Lingkar Utara, tepatnya di Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kudus tampak ramai aktivitas. Ada beberapa sepeda motor yang masih dipasangi stiker. Satu di antaranya motor matic bongsor bermerk NMAX. Motor tersebut yakni milik Abdul Ghofur (23) yang membranding motornya dengan stiker biar terlihat gagah dan menarik.

Terlihat motor milik pria yang akrab disapa Abdul itu dipasang stiker full body. Dengan warna kuning, garis kombinasi putih. Dia mengaku, sengaja membranding motornya dengan stiker agar terlihat lebih gagah, serta keren. Serta agar kalau di jalan motornya bisa jadi perhatian.

Proses pemasangan stiker milik salah satu konsumen di Raja Stiker. Foto : Rabu Sipan

“Ya selain biar lebih gagah, motorku juga biar terlihat keren dan semakin menarik. Biar cewek – cewek terpesona dan minta dibonceng,” ujar Abdul sambil tersenyum kepada betanews.id, Sabtu (9/5/2020).

Baca juga : Utamakan Kualitas dan Harga Mede, Kunci Sukses Didik Jalankan Usaha Pemasangan Stiker Motor

Pria yang merupakan warga Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kudus itu mengatakan, mempercayakan pemasangan stiker di motornya kepada Raja Stiker, karena pengerjaannya rapi serta hasilnya memuaskan. Karena memang sebelumnya, Abdul pernah membranding motornya yang terdahulu dengan stiker di Raja Stiker.

“Pengerjaan pemasangan stiker di Raja Stiker itu rapi, hasilnya bagus dan memuaskan. Harga lumayan murah, dibanding tempat lain,” beber Abdul yang mengaku membranding full body motor NMAXnya dengan harga Rp 250 ribu.

Hal senada juga diutarakan Setiyadi (35), warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus. Dia membranding motor All New NMAX 2020 nya dengan stiker di Raja Stiker. Dia mengaku, membranding kendaraannya tersebut dengan stiker film hitam agar terlihat gahar. Serta sebagai pelindung cat asli motor.

“Kalau saya sih lebih memilih warna stiker senada dengan warna aslinya saja. Ya agar cat asli motornya terlindungi dan tidak gampang baret serta rusak,” ujar Setiyadi.

Baca juga : Selain Pelayanan Cepat, Jadux Stiker Juga Beri Garansi

Dia menuturkan, baru pertama kali memasang stiker untuk kendaraannya di Raja Stiker. Meski baru pertama dan setelah melihat hasil pengerjaannya, dia mengaku puas dengan hasilnya. Menurutnya hasilnya bagus sesuai yang diharapkannya.

“Hasil pengerjaannya sangat bagus. Sangat teliti serta rapi. Pokoknya memuaskan. Harganya juga relatif murah,” ungkap Setiyadi sembari menghidupkan motornya dan berlalu untuk pulang.

Editor : Kholistiono

- advertisement -