Beranda blog Halaman 1845

Berbekal Ilmu Elektro yang Dipelajari Ketika SMP, Suyuti Ciptakan Mesin Penetas Telur

0
Alat penetas telur yang dibuat oleh Suyuti. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara mesin gergaji listrik pemotong kayu terdengar di sebuah pelataran rumah di Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Gergaji listrik yang sedang digunakan untuk memotong triplek tersebut terlihat dikendalikan seorang pria mengenakan kaus oblong warna merah. Setelah terbelah triplek dengan tebal dua sentimeter itu dirangkai jadi sebuah kotak. Pria itu bernama Suyuti (45) pembuat mesin tetas telur.

Di sela aktivitasnya, pria yang akrab disapa Yuti itu sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengatakan, membuat mesin penetas telur sejak tiga tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2017. Menurutnya, pembuatan mesin penetas telur itu dikarenakan keadaan yang memaksanya.

Sebab, kata dia, dulu itu ia pernah ternak ayam. Di saat ayam peliharaannya itu pada bertelur, anehnya tidak ada satupun indukannya yang sudi mengerami telurnya. Yang ada malah telurnya itu dipatuk indukannya, dan musnah sia – sia.

Baca juga : K-Plug, Alat Perekam Canggih Buatan Warga Kudus Diminati Musisi Mancanegara

“Keadaan itulah yang membuatku berpikir. Kalau begini terus, ternak bukannya untung malan buntung ini. Akhirnya saya pun memutar otak dan membuat mesin penetas sendiri,” ujar Suyuti kepada betanews.id, Senin (11/5/2020).

Pria yang dikaruniai dua putra itu menuturkan, membuat mesin penetas telur secara otodidak. Dengan berbekal ilmu elektro yang digemari dan dipelajari saat masih duduk di bangku SMP, Suyuti mampu menciptakan mesin tetas telur manual, dengan kapasitas 30 butir telur.

Awalnya, tutur dia, mesin tetas itu digunakan sendiri. Namun dengan seiring berjalannya waktu, banyak rekan peternak ayam yang main ke rumah. Serta melihat mesin tetas telur hasil karyanya. Dari situ, mereka pada pesan dan minta dibuatkan mesin tetas telur serupa.


“Saya pun menyanggupinya. Malah dari mulut ke mulut rekan itu, mesin tetas telur hasil karyaku banyak diketahui orang dan pesanan pun berdatangan,” ungkapnya sambil meletakkan obeng.

Hingga, lanjutnya, dia pun memutuskan untuk memproduksi mesin tetas telur manual kapasitas di bawah 300 butir setiap hari. Antara lain mesin tetas kapasitas 30 butir, kapasitas 50 butir, 100 butir telur, 200 dan kapasitas 300 butir telur.

Baca juga : Siapkan Aplikasi Arsip EMAS, Ganjar Dorong Data Keluarga Disimpan Secara Digital

“Kapasitas tersebut saya berani produksi setiap hari, karena memang peminatnya banyak. Namun untuk kapasitas di atas 300 butir, saya hanya melayani pesanan saja,” ungkapnya sambil momotong siku aluminium.

Saat ini, dia juga sudah memproduksi mesin tetas full otomatis. Dia pun bersyukur, mesin tetas yang diberi label Surya Anugrah Jaya (SAJ) diminati banyak orang. Pelanggan hampir seantereo Pulau Jawa, Sumatra dan Kalimantan.

“Semoga saja usahaku ini makin lancar dan banyak pemesan,” ujar Suyuti yang juga seorang karyawan di perusahaan kertas terbesar di Kudus tersebut.


Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar Salurkan Dana Baznas Rp 2,3 Miliar untuk Santri Tak Mudik

0
Ganjar saat memberikan bantuan yang diserahkan secara simbolis kepada salah satu pengurus pondok pesantren di Masjid Baiturrahman Semarang, beberapa waktu lalu. Foto: Ist.

BETANEWS.ID SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyalurkan bantuan sebesar Rp 2,3 miliar kepada puluhan ribu santri yang tidak mudik. Bantuan tersebut diambilkan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jateng.

Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Ganjar kepada salah satu pengurus pondok pesantren di Masjid Baiturrahman Semarang, Rabu (13/5/2020). Dalam kesempatan itu juga diserahkan bantuan 2.000 paket sembako dari berbagai Lembaga Amil Zakat (LAZ) Jawa Tengah kepada Pemkot Semarang.

Ganjar mengatakan, di Jawa Tengah, masih ada 23.000 lebih santri yang ada di 400 pondok pesantren yang berasal dari sejumlah daerah, baik dari Jateng maupun luar Jawa. Mereka memutuskan untuk tidak pulang. Jadi pihaknya kemudian memutuskan untuk memberikan bantuan kepada para santri yang tidak mudik itu.

“Mereka adalah patriot bangsa karena rela tidak pulang. Sehingga hidupnya harus kita jamin. Saya berpesan pada pengurus pondok pesantren untuk menjaga agar tidak pulang, ngaji saja di pondok,” tegasnya.

Baca juga: Tak Dapat Bantuan dari Pemprov DKI, Ganjar Akan Kirim Bantuan ke 26 Ribu Warganya

Tak hanya santri, Ganjar juga memastikan bantuan pada masyarakat yang membutuhkan terus berjalan. Hari ini, bantuan provinsi untuk beberapa kota di Jawa Tengah juga mulai didistribusikan.

“Untuk kawan-kawan kita yang ada di Jabodetabek, kami juga akan segera kirim bantuan. Insya Allah minggu depan kami kirim agar mereka di sana terjamin,” tutupnya.

Sementara itu, salah satu pengurus pondok pesantren Al-Mas’udiyah Bandungan Semarang Muhammad Tohirudin mengatakan, bantuan dari pemerintah itu sangat membantu para santri. Di pondoknya, ada 340 santri yang tidak pulang.

“Jadi bantuan ini sangat membantu kami yang tidak pulang ini. Soalnya sekarang sedang susah, kiriman dari rumah juga seret,” imbuhnya.

Baca juga: Gibran Dapat Pesan Khusus dari Ganjar saat Serahkan Bantuan APD

Tohirudin menerangkan, jumlah total santri di pondok pesantren tersebut ada sekitar 1.800 santri. Mayoritas santri yang berasal dari daerah dekat pondok, diperbolehkan untuk pulang.

“Tapi yang dari jauh dan luar kota atau luar pulau tidak boleh pulang. Apalagi yang daerahnya sudah ditetapkan sebagai zona merah. Kami meminta mereka semua tetap di pondok dan ngaji bersama,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Gibran Dapat Pesan Khusus dari Ganjar saat Serahkan Bantuan APD

0
Gibran Rakabuming ngobrol bersama Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gibran Rakabuming tiba di Puri Gedeh, Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah di Semarang sekitar pukul 08.30 WIB, pada Rabu (13/5/2020). Beberapa relawan tampak turut mendampingi pria yang mencalonkan diri sebagai Walikota Surakarta. Kedatangan mereka kali ini dalam rangka memberikan bantuan logistik penanganan Covid-19. Kepada Ganjar, Gibran mengatakan, membawa beberapa APD serta multivitamin.

“Izin menyampaikan juga, di Solo kami sudah menyebarkan APD ini kurang lebih kepada 22 rumah sakit di Solo dan sekitarnya,” kata Gibran.

APD yang dibawa tersebut, disampaikan Gibran merupakan asli buatan Solo dan pabriknya juga ada di Solo. Mereka setiap hari bisa memproduksi 7.000 sampai 10.000 pcs perhari.

“Untuk APD ini sudah dites di Kemenkes. Nanti silakan dicek quality control-nya,” kata Gibran saat menjelaskan kepada Ganjar.

Baca juga : Bantu Seniman yang Kehilangan Penghasilan, Ganjar Galang Donasi Lewat Panggung Kahanan

Adapun bantuan yang diserahkan Gibran kepada Ganjar berupa hazmat sebanyak 2.000 Pcs, vitamin helmigs 10.000 sachet, masker N-95 sebanyak 1.000 Pcs, masker Surgiface 1.000 pcs dan masker kain sebanyak 10.000 pcs.


Gibran mengatakan, kegiatannya tersebut juga disokong oleh para relawan yang selama ini mendukungnya. Menurut dia, setelah Solo ditetapkan sebagai KLB, relawannya langsung bergerak, dari relawan politik menjadi relawan kemanusiaan.

“Setiap hari mereka berkoordinasi dengan RT/RW setempat, jika ada warga yang membutuhkan atau yang kena PHK, relawan tersebut langsung turun tangan,” pungkas Gibran.

Setelah memberi penjelasan, Gibran nampak bicara serius dengan Ganjar sekitar tiga menit. Beberapa relawan Gibran sempat melarang juru warta yang hendak mengambil perbincangan tersebut. Saat dikonfirmasi isi obrolan tersebut, Gibran menjawab singkat bahwa dirinya mendapat pesan khusus dari sang Gubernur. Isinya?

“Banyak, tapi rahasia. Nanti saja. Rahasia kok dibocorkan,” kata Ayah Jan Ethes itu.

Ketika ditanya apakah pesan dari Ganjar berkaitan dengan pencalonan dirinya sebagai Walikota Surakarta, pemilik Chili Catering itu pun secara diplomatis memberi penjelasan.

Baca juga : Datangi Rumah Dinas Ganjar, Duo Simbah Serahkan Uang Tabungan dan Minta Jadi Relawan

“Politik nanti dulu setelah musibah selesai. Kita fokus ke kegiatan kemanusiaan dulu,” tandasnya.

Terkait pesan rahasia tersebut, Ganjar tidak memberi penjelasan lebih lanjut. Namun dia mengapresiasi apa yang dilakukan Gibran bersama sejumlah relawannya yang turut aksi penanganan Covid-19. Terlebih, lanjut Ganjar, Kota Surakarta mirip dengan Kota Semarang yang memerlukan penanganan khusus.

“Saya mengikuti bagaimana relawan itu bergerak, karena Solo Raya sama dengan Semarang Raya, sama-sama zona yang dalam pantauan tetap, sudah merah dan kita mesti dorong new normal itu,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Resep Turun Temurun yang Membuat Madu Mongso Mbah Uti Selalu Diburu Pembeli

0
Zulifa Ariani menunjukkan produk Madu Mongso Mbah Uti, Senin (11/5/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Adonan warna hitam yang diaduk seorang wanita paruh baya di sebuah wajan terlihat mulai mengental. Setelah memastikan adonannya itu sudah cukup keras, dia lalu mengangkat dan membawanya ke ruang lain.

Di sana, seorang wanita yang lain terlihat sedang memotong-motong adonan menggunakan tangan terbungkus plastik. Adonan itu dipotong sekitar lima sentimeter dan dibungkus plastik transparan. Rumah tersebut yakni tempat produksi Madu Mongso Mbah Uti di Dukuh Kauman, Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

Zulifa Ariani sedang mengecek pengepakan produk Madu Mongso Mbah Uti, Senin (11/5/2020). Foto: Rabu Sipan.

Pemilik usaha, Zulifa Ariani (37) menuturkan, usaha pembuatan madu mongso ini sudah dimulai leluhurnya sejak 1960 dengan merek Kelapa Gading. Usaha ini terus berlanjut turun temurun hingga sekarang dengan merek Madu Mongso Mbah Uti.

“Bisa dibilang resep turun temurun. Dari mbah buyut kemudian turun ke mama saya,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Senin (11/5/2020).

Baca juga: Andalkan Resep Leluhur, Keciput Baskuni Jaya Tetap Bertahan Lebih dari Dua Dasawarsa

Wanita yang akrab disapa Ani itu menambahkan, ciri khas produknya itu rasanya manis, kecut, gurih serta legit. Rasa ini didapatkan dari bahan ketan hitam pilihan, gula pasir serta santan yang kental. Berbeda dengan madu mongso di tempat lain, produknya dikemas dengan plastik transparan.

“Keunggulan lain madu mongso kami, bahannya full tape ketan hitam. Jadi warna lebih bagus, teksturnya itu agak lengket saat digigit serta agak mulur. Jadi legit nikmat serta kecut-kecut, gimana gitu,” beber wanita berkerudung hitam tersebut.

Perempuan yang dikaruniai lima anak itu mengatakan, Madu Mongso Mbah Uti diproduksi setiap menjelang bulan Ramadan. Pemilihan waktu ini, karena madu mongso seolah jadi hidangan wajib di Hari Raya Idul Fitri, khususnya di Kudus.

Biasanya, lanjut Ani, ibunya bisa memproduksi sekitar 2,4 kwintal madu mongso, yang menghabiskan beras ketan hitam 1,5 kwintal sehari. Namun, sejak ada pandemi Corona, produksinya turun.

“Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini produksi Madu Mongso Mbah Uti turun. Yang dulunya mampu menghabiskan 1,5 kwintal beras ketan hitam sehari, kini paling hanya 50 kilogram sehari,” jelas Ani.

Baca juga: Kopi dan Ketan, Menu Andalan yang Jadi Nama Kafe

Ani menjelaskan, produk tersebut dijual dengan harga Rp 75 ribu per kilogram. Kemasan yang tersedia ada dua ukuran, yakni setengah kilogram dan seperempat kilogram.

“Ukuran seperempat kilogram itu biasanya digunakan untuk parsel,” ungkap Ani.

Untuk pemasaran, kata dia, Madu Mongso Mbah Uti dipasarkan lewat media daring. Berbeda dengan zaman dulu yang hanya mengandalkan mulut ke mulut.

“Madu Mongso Mbah Uti juga sudah punya pelanggan tetap, meliputi Karesidenan Pati, Semarang, Surabaya, Solo, Jakarta, Lampung, Jambi, Balikpapan, dan kota lainnya,” tutup Ani.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Hotel @Hom Umumkan Tenaga Medis Pemenang Paket Honeymoon Pekan Depan

0
Perwakilan Hotel @Hom Tika Encim saat menghadiri pengumuman pemenang nikah gratis bagi tenaga medis di Taman Mega Sahwahita, Senin (11/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa orang tampak sibuk memasang spanduk warna putih di bagian depan Taman Mega Sahwahita Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Senin (11/5/2020). Spanduk bertuliskan “Gratis Untukmu Pahlawan Anti Covid-19” itu ternyata akan digunakan untuk penyerahan hadiah secara simbolis kepada 10 tenaga medis yang terpilih mendapatkan paket pernikahan gratis.

Di dalam taman, dua orang tenaga medis terlihat sudah hadir dan sedang berbincang-bincang dengan vendor yang tergabung dalam Komunitas Vendor Bersama (Kavesa) Kudus. Selang beberapa saat, mereka kemudian menuju tempat spanduk untuk penyerahan hadiah.

Salah satu tenaga medis yang beruntung mendapatkan paket nikah gratis dari Kavesa, Senin (11/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Perwakilan Hotel @Hom Tika Encim (26) mengatakan, selain pengumuman tenaga medis yang terpilih mendapatkan paket pernikahan gratis, Kavesa bekerjasama dengan Hotel @Hom juga menyediakan paket bulan madu untuk satu pasangan terpilih selama satu malam.

“Pengundian dan pengumuman pemenang akan dilaksanakan sekitar satu minggu mendatang,” katanya yang sore itu hadir dalam penyerahan hadiah.

Baca juga: Kavesa Umumkan 10 Tenaga Medis yang Beruntung Nikah Gratis

Keterlibatan ini, lanjut dia, sebagai bentuk kepedulian kepada tenga medis yang berada di garda depan penanganan Covid-19.

“Sementara memang untuk satu pasangan saja. Yang beruntung, akan mendapatkan fasilitas kamar pengantin umum dengan single bed dan include sarapan. Untuk konsep kamar kami set up honeymoon standar hotel,” kata Tika.

Di sisi lain, fasilitas lain yang akan didapatkan 10 tenaga medis adalah jasa wedding organizer (WO), tray mahar akrilik, make up, foto, dekorasi, lighting, dan sound system.

Perwakilan Raja Seserahan, Marta (31) mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan berbagai model pengemasan sarasehan dari akrilik yang bisa dipilih calon pengantin. Mulai dari seserahan berwujud mukena, hingga perhiasan. “Semua disesuaikan dengan keinginan dari mempelai pria,” terang Marta.

Baca juga: Tenaga Medis Covid-19 Bisa Nikah Gratis di Pati, Pendaftaran Tutup Akhir Ramadan

Sedangkan untuk make up pengantin, pihak Litaru Mua juga sudah mempersiapkan paket-paket yang bisa dipilih calon pengantin. Perwakilan Litaru Mua Narisa Ilmi (27) menyampaikan, fasilitas make up dan hairdo untuk pemenang akan disesuaikan dengan keinginan pengantin, baik konsep modern maupun tradisional.

“Akan tetapi, untuk fasilitas lain seperti gaun, bucket bunga pengantin, dan jasa hyena pengantin harus menambah budget sendiri,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Tiara Manfaatkan Waktu Luang Kuliah dengan Kerja di Distro

0
Tiara Indah Ilya, mahasiswi yang nyambi kerja di Distro Starcross Kudus. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di dalam Distro Starcross, terlihat seorang perempuan mengenakan kaus kuning, hijab hitam sedang melayani pembeli. Dengan telaten dan sabar dia menemani calon pembeli mengelilingi toko, mencari pakaian yang diinginkan. Perempuan tersebut yakni Tiara Indah Ilya (19) yang memanfaatkan waktu luang kuliah untuk bekerja di Starcross Kudus.

Seusai melayani pembeli, perempuan yang akrab disapa Tiara itu sudi berbagi kisah tentang hidupnya. Dia mengatakan, kerja di Distro Starcross sejak beberapa bulan yang lalu. Tepatnya sejak dia duduk di bangku kuliah semester tiga. Hal itu dilakukan agar bisa merasakan punya penghasilan sendiri.

Tiara sedang melayani pembeli. Foto : Rabu Sipan

“Kerja ya biar punya penghasilan sendiri. Biar bisa bantu orang tua dan bisa bayar iuran kuliah sendiri,” ujar Tiara kepada betanews.id, Sabtu (9/5/2020).

Baca juga : Starcross Kudus Jorjoran Diskon Hingaa 50 Persen

Meski sebenarnya, tutur dia, semua iuran dan uang saku sudah dicukupi semua sama orang tuanya. Namun karena ingin belajar mandiri dan ingin merasakan kerja ikut orang, kerja part time di sela waktu kuliah pun dipilihnya.

Dengan bekerja ikut orang lain, lanjutnya, Tiara mengaku bisa belajar bertanggung jawab dengan tugasnya. Serta, biar bisa menghargai uang. Karena sadar untuk mendapatkan uang itu dia harus bekerja dulu. Tidak hanya minta ke orang tua dan menghabiskannya.

“Dengan bekerja, saya juga bisa belajar mengelola usaha. Soalnya saya itu punya cita – cita kelak bisa punya usaha sendiri. Serta bisa ciptakan brand pakaian sendiri,” ungkap anak kedua dari empat bersaudara itu.

Perempuan yang masih tercatat sebagai mahasiswi IAIN Kudus jurusan Bimbingan Konseling Islam semester empat itu menuturkan, sebelum ada pandemi corona ia bekerja paruh waktu, setelah pulang kuliah. Berangkat kerja pukul 16.00 WIB serta pulang pukul 22.00 WIB.
Namun, kata dia, sejak ada virus Covid-19 mewabah, sehingga semua kegiatan belajar mengajar di kampus diliburkan, dia pun bisa kerja full time. Mulai pukul 10.00 sampai pukul 22.00 WIB.

Baca juga : Hijab Masker Produksi Rumah Jilbab Laku Keras di Pasaran

“Semoga saja corona cepat hilang. Biar saya bisa kuliah sambil kerja lagi. Biar cepat lulus terus merintis usaha,” beber Tiara yang mulai menyisihkan penghasilannya untuk ditabung.

Perempuan warga Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kudus itu menuturkan, tempat kerjanya Starcross menyediakan aneka pakaian kualitas premium. Nyaman dipakai serta desain kekinian. Sehingga diminati banyak orang.

“Starcross brand lokal yang sudah terkenal. Menyediakan aneka jenis pakaian segala usia dari anak – anak, remaja hingga dewasa dengan harga terjangkau,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Begini Situasi Stasiun Tawang di Hari Pertama Disinggahi KA Luar Biasa

0
Kereta Luar Biasa yang beroperasi di hari pertama singgah di Stasiun Tawang Semarang. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah mengoperasikan perjalanan Kereta Luar Biasa (KLB) pada hari pertama, Selasa (12/5/2020). Stasiun Semarang Tawang, menjadi satu dari beberapa stasiun yang menjadi tempat singgah untuk naik atau turunnya penumpang. Terpantau, di hari pertama ada dua perjalanan KLB di Stasiun Tawang.

Manajer Humas PT KAI Daop 4 Semarang Krisbiyantoro menjelaskan, ada dua perjalanan KA untuk KLB, terkait untuk percepatan penanganan Covid-19. Pertama, untuk perjalanan KLB di pagi hari dari Surabaya tujuan Gambir Jakarta, datang pukul 10.16 WIB kemudian berangkat pukul 10.31 WIB.

Sedangkan untuk perjalanan KLB yang kedua yakni sore hari. Tepatnya pukul 14.55 WIB datang, kemudian berangkat pukul 15.10 WIB. KLB ini datang dari Gambir Jakarta tujuan Surabaya Pasar Turi.

Baca juga : Cek Kesiapan Protokol Kesehatan Stasiun Tawang, Ganjar Minta Semarang Terapkan Aturan Ketat

“Di hari pertama ini, untuk penumpang naik dari Semarang untuk tujuan Gambir ada 3 orang. Kemudian untuk penumpang naik (dari Semarang) tujuan Surabaya ada 1 orang. Sedangkan untuk penumpang turun dari Gambir tujuan Semarang turun di Semarang ada 7 orang. Sedangkan dari Surabaya turun di Semarang tidak ada,” katanya, Selasa sore.

Terpantau, di Stasiun Tawang Semarang Selasa sore pukul 15.00, KLB bersiap membawa penumpang. Sekitar pukul 15.10, KLB berangkat. Di dalam KLB, diisi sedikit penumpang. Hampir seluruh penumpang terlihat mengenakan masker. Mereka duduk berjarak satu sama lain. Setiap gerbong KLB, diisi sekitar 3 penumpang saja.

Seorang penumpang KLB di Stasiun Tawang, Isac ditemui di tempat duduknya mengatakan, dia melakukan perjalan dari Cirebon Jawa Barat menuju Surabaya. “(Naik KLB) karena ada perjalanan tugas di swasta (perusahaan swasta),” kata Isac.

Dia menerangkan, dari pekerjaannya itu mengharuskannya melakukan perjalanan menggunakan KLB. Isac mengaku bekerja sebagai engineering di perusahaan perkapalan. “Memang mengharuskan (melakukan perjalanan),” ungkapnya.

Baca juga : Datangi Rumah Dinas Ganjar, Duo Simbah Serahkan Uang Tabungan dan Minta Jadi Relawan

Sementara dari rilis pers PT KAI yang diterima, mereka mengoperasikan perjalanan KLB untuk berbagai rute mulai tanggal 12 sampai 31 Mei 2020. VP Public Relations KAI Joni Martinus menjelaskan ada 6 perjalanan KLB yang dioperasikan untuk masyarakat yang dikecualikan sesuai aturan pemerintah dengan penerapan protokol pencegahan Covid-19 yang ketat.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, telah melihat langsung kesiapan Stasiun Semarang Tawang yang menjadi satu dari beberapa stasiun naik atau turunnya penumpang, untuk lintas utara angkutan KLB.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Bantu Seniman yang Kehilangan Penghasilan, Ganjar Galang Donasi Lewat Panggung Kahanan

0
Penampilan dari Kasidah EzzurA, grup musik generasi ke empat kasidah legendaris dari Semarang, Nasida Ria. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pertunjukan virtual Panggung Kahanan yang digelar di Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo kini jadi ajang penggalangan donasi untuk para seniman. Dibukanya penggalangan tersebut semakin spesial dengan penampilan Kasidah EzzurA, generasi ke empat Nasida Ria saat beraksi di Panggung Kahanan edisi ke empat, Senin (11/5/2020).

Berbagai genre seni selalu disajikan dalam Panggung Kahanan yang digelar seminggu tiga kali, yakni hari Senin, Rabu dan Jumat. Pada edisi ke tiga, yakni Jumat (8/5/2020), Ganjar Pranowo berinisiatif melakukan penggalangan dana untuk seniman. Menurut Ganjar, semasa pandemi ini para seniman telah kehilangan panggung, yang berarti hilang pula penghasilannya.

“Mudah-mudahan Panggung Kahanan ini tetap mendorong seniman untuk berkarya. Makanya kita dorong untuk ada donasi agar teman-teman seniman tetap urip (hidup),” kata Ganjar.

Baca juga : Tak Mempan dengan Keris, Kekebalan Cakil Luntur Karena Disinfektan

Donasi bisa disalurkan lewat rekening Bank Jateng No Rekening 2032191919 an Panggung Kahanan. Atau juga bisa disimak pada tayangan Livestreaming di Channel YouTube dan akun Facebook Ganjar Pranowo yang setiap kali live streaming bisa disaksikan mencapai 1 juta tayangan.

“Semoga para seniman yang terdampak Covid-19 ini tetap berkreasi, tetap berkarya,” katanya.

Pada Senin (11/5/2020) sore, meski gerimis, Panggung Kahanan juga tetap diselenggarakan. Para penampil pun tetap menunjukkan kreativitasnya, dari tari tradisional, wayang rotan Jepara, sampai pantomim.

Pertunjukan semakin menarik dengan penampilan dari Kasidah EzzurA, grup musik generasi ke empat kasidah legendaris dari Semarang, Nasida Ria. Lagu pertama yang mereka dendangkan adalah Selawat Badar. Berturut-turut lagu selanjutnya yang dimainkan adalah Lagu Kami, Hikmah Ramadan dan ditutup dengan lagu fenomenal, Perdamaian.

Baca juga : ‘Tak Terhitung’, Lagu Ciptaan Band Tanpa Nada untuk Pejuang Covid-19

Adanya Panggung Kahanan dikatakan Zahrotul Walidah, Vokalis EzzurA, sebagai berkah Ramadan di tengah wabah. Karena sejak kali pertama Covid-19 masuk ke Tanah Air, dirinya bersama rekan-rekannya tidak diperbolehkan manggung.

“Tapi memang kita mesti tetap kreatif dan tidak boleh berhenti berkarya. Harapan kami semoga kreativitas dari Pak Ganjar dengan menyediakan ruang ini bisa ditiru teman-teman seniman,” katanya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Hartopo Lantik 437 ASN Baru Secara Daring

0
Plt Bupati Kudus HM Hartopo saat melantik 437 pegawai negeri sipil (PNS) baru, Selasa (12/5/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, KUDUS – Plt Bupati Kudus HM Hartopo melantik 437 Pegawai Negeri Sipil (PNS) baru, Selasa (12/5/2020). Ratusan abdi negara tersebut menyaksikan prosesi pelantikan di Command Center secara daring dari berbagai tempat yang telah disiapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus.

Di Command Center sendiri, ada empat perwakilan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang secara simbolis melaksanakan tata cara pelantikan, dengan diikuti ratusan abdi negara di tempat lain.

Pengambilan sumpah janji tersebut, turut disaksikan oleh Sekretaris Daerah Sam’ani Intakoris, Plt Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Catur Widyatno dan para asisten administrasi Sekda Kudus.

Perwakilan ASN Baru saat dilantik di Command Center Kudus, Selasa (12/5/2020). Foto: Ist.

Hartopo menuturkan, sebelumnya, meraka sudah bekerja dengan status Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kudus. Setelah melewati berbagai penilaian dan masa percobaan minimal satu tahun dan maksimal dua tahun, mereka diangkat menjadi PNS dan akan menempati berbagai posisi di lingkungan Pemkab Kudus.

“Selamat bagi saudara-saudara sekalian yang usai dilantik. Sekarang saudara telah resmi menjadi abdi negara,” ungkapnya.

Baca juga: Perpusda Kudus Sediakan 326 E-Book di Aplikasi iKudus

Hartopo menjelaskan, berbagai posisi yang diisi PNS baru itu meliputi tenaga kesehatan, pendidikan dan umum. Ada juga delapan orang dari Kemendagri.

“Selalu bersyukur atas tugas yang diberikan. Dan dilakukan dengan semangat bertugas melayani masyarakat,” pesan Hartopo.

Hartopo juga berpesan agar dalam bekerja, para abdi negara harus meningkatkan kualitas dan kapasitas diri. Satu di antaranya dengan cara membuat inovasi dalam pelayanan.

“Dalam hal pelayanan saudara harus membuat inovasi. Dengan adanya inovasi tersebut masyarakat akan terlayani dengan baik,” ungkapnya.

Baca juga: Pelantikan 344 Kepala Sekolah di Kudus Dilakukan Secara Daring

Namun yang lebih penting, lanjut Hartopo, yakni menanamkan sikap tanggung jawab dalam bekerja. ASN (Aparatur Sipil Negara) tidak boleh acuh tak acuh apa lagi lepas tanggung jawab.

“Jangan lupa jadi juga figur yang kompeten,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

PT Djarum Bagikan THR Rp 97,02 Miliar

1
Buruh di PT Djarum menerima THR. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – PT Djarum membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada karyawannya sebesar Rp 97,02 miliar, Selasa (12/5/2020). Uang tersebut dibagikan kepada karyawan sejumlah 48.118 orang. Rinciannya, buruh harian sebanyak 6.774 orang dialokasikan Rp 16,01 miliar. Sedangkan untuk buruh borong sebanyak 41.344 orang mendapatkan alokasi Rp 81,01 miliar.

Menurut Public Affairs Manager PT Djarum Kudus, Rahma Mochtar Kusumasastra, THR dibagikan 11 hari menjelang Hari Raya Idul Fitri. Pembagian THR, katanya serentak diberikan kepada seluruh karyawan di berbagai daerah. Yakni di Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Lombok, Temanggung dan Demak.

Beberapa buruh PT Djarum sedang menghitung uang THR. Foto : Imam Arwindra

Katanya, THR yang dikeluarkan di tahun 2020 lebih banyak dibandingkan tahun 2019. Pada 2019 lalu, PT Djarum Kudus membayarkan THR sejumlah Rp 95,8 miliar. Sementara di tahun 2020 naik menjadi Rp 97,02 miliar. Kenaikan terhitung Rp 1,2 miliar.

Baca juga : Kabar Gembira, Pekerja yang Dirumahkan Tetap Dapat THR

“Pegawai PT Djarum statusnya ada harian dan borongan. Untuk keseluruhan tahun 2019 pegawai kami sebanyak 47.306 orang. Sedangkan untuk tahun 2020 ini sebanyak 48.118 orang,” tuturnya saat ditemui di Brak Djarum Bitingan Lama, Jalan dr Loekmono Hadi Kudus.

Dalam besarannya, nilai uang yang diterima disesuaikan dengan masa lama kerja. Mochtar merata-rata, karyawan yang sudah bekerja lebih dari satu tahun akan mendapatkan THR sekitar Rp 2,2 juta.

Dia menuturkan, saat ini secara pendapatan perusahaan dan produksi rokok menurun karena Covid-19. Namun pihaknya tetap berkomitmen untuk membayarkan hak karyawannya. Menurutnya, uang THR penting untuk mencukupi kebutuhan selama merayakan Hari Raya Idul Fitri.

“Jadi uangnya bisa untuk membeli kebutuhan Lebaran, bisa juga beli baju dan ditabung,” ungkapnya.

Sementara itu, Safinatun (25), salah satu buruh borong di PT Djarum tampak gembira saat menghitung uang yang didapatkannya. Dia mengungkapkan, mendapatkan uang Rp 1,1 Juta.”Saya baru bekerja enam bulan,” jelasnya.

Dia yang bekerja membuat rokok Sigaret Kretek Tangan(SKT) mengungkapkan, akan menggunakan uang THR tersebut untuk membeli bebek entog dan nantinya dimasak saat Lebaran. Menurutnya, saat Lebaran menu tersebut wajib ada.

Baca juga : Djarum Sumbang Alat Tes Swab ke Pemkab Kudus, Hasil Keluar dalam Satu Hari

“Beli entog Mas, sama baju Lebaran,” tutur warga yang tinggal di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus.

Sama seperti Safinatun, Riska Zuliani (18) juga ingin membeli baju baru. Namun tidak membeli bebek entog. Dia yang tinggal di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus mengaku bersyukur PT Djarum memberikan THR. Menurutnya banyak cerita, perusahaan tempat temannya bekerja tidak memberikan THR. Hal tersebut dikarenakan ada pandemi Covid-19.

“Alhamdulillah, terima kasih Djarum,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kavesa Umumkan 10 Tenaga Medis yang Beruntung Nikah Gratis

0
Salah satu tenaga medis yang beruntung mendapatkan paket nikah gratis dari Kavesa, Senin (11/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Kesejukan begitu terasa di dalam area Taman Mega Sahwahita, Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Sabtu (9/5/2020). Dari kejauhan, tampak dua anak kecil yang sedang berlatih panah dengan seorang pendamping laki-laki di taman yang disewakan untuk berbagai acara, seperti pesta pernikahan, pertemuan, outbound, hingga camping itu.

Di sisi lain, beberapa orang sedang berbincang-bincang di dekat gerbang, termasuk Abu Sofyan (38), Pengelola Taman Mega Sahwahita. Hari itu, dia mengabarkan pemenang program nikah gratis bagi tenaga medis Covid-19 yang diselenggarakan oleh Komunitas Vendor Bersama (Kavesa) Kudus.

Taman Mega Sahwahita. Foto: Titis Widjayanti.

Lelaki berkacamata itu mengatakan, dari kuota awal sejumlah 15 sampai 20 pasang, pihaknya memutuskan 10 pasang calon pengantin yang akan dapat memanfaatkan program nikah gratis. Mereka lolos setelah melihat beberapa pertimbangan, antara lain berdasarkan tanggal akad yang paling dekat, serta berkas yang sudah terdaftar di Kantor Urusan Agama (KUA) hingga Agustus 2020.

Mereka adalah Choridah, Ana, Sintania, Irma Zuliana, Ami Nurjannah, Siti Istianah, Verani Indraswari, Dea Fitria Mitha, Safitri Nurhayati, dan Noor Meila Rizka Adha.

“Kalau jumlah pendaftar ada sekitar 60an orang. Awalnya memang kami merencanakan sekitar 15-20 kuota, tapi akhirnya kami putuskan 10 kuota yang beruntung mendapatkan program tersebut. Alasannya selain tanggal akad yang paling dekat, juga mereka sudah mendaftar di KUA,” papar pemilik Swatantra Event Organizer (SEO) itu.

Baca juga: Kavesa Gratiskan Biaya Nikah Tenaga Medis Covid-19 di Kudus, Ini Syaratnya

Sebelumnya, pihak kavesa juga sudah menginfokan kepada calon peserta untuk melakukan pendaftaran nikah di KUA secara daring. Mengingat, KUA secara resmi telah membuka pendaftaran online mulai 23 April 2020. Sejak itu, ia terus memantau hasil dari pendaftar.

“Di program ini, kami memang batasi pelaksanaannya hingga Agustus 2020. Artinya, para pemenang tersebut tanggal akadnya sampai bulan Agustus tahun ini,” beber pria yang juga berprofesi sebagai salah satu guru SMP Negeri di Kota Kudus itu.

Dia kemudian merinci, 10 tenaga medis ini kebanyakan adalah perawat yang bekerja di Kabupaten Kudus dengan jumlah sembilan orang. Sedangkan satu lainnya berprofesi sebagai apoteker di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus. Untuk apoteker itu tetap dimasukkan, karena mereka juga berada di wilayah yang sama, yaitu garda paling depan yang bisa saja menghadapi virus tersebut.

“Pengumuman tanggal 10-11 ini, melalui WA (WhatsApp) dan akun media sosial tiap vendor,” ungkap Abu yang juga buka les vokal di studionya itu.

Baca juga: Tenaga Medis Covid-19 Bisa Nikah Gratis di Pati, Pendaftaran Tutup Akhir Ramadan

Sejauh ini, lanjut Abu, sudah ada dua pemenang yang mengonfirmasi ingin menggelar akad di Taman Mega Sahwahita. Yang menarik, jika akad nikah dan resepsi dilaksanakan di tempat tersebut, pihaknya akan menggratiskan tempat resepsi dan dekorasi pernikahan.

“Untuk pemenang di program pertama nanti boleh menggelar akad di sini, boleh di tempat lain. Yang jelas fasilitas sesuai dengan yang kami jelaskan di awal. Sejauh ini sudah ada dua nama yang mengonfirmasi ingin menggelar akad di sini. Delapan lainnya belum ada konfirmasi,” tutup dia.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Hartopo Minta Data Penerima Bansos Ditempelkan di Setiap RT

0
Salah seorang warga penerima bantuan sosial tunai saat mengurus pencairan di Kantor Pos Kudus, Senin (11/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWSW.ID, KUDUS – Plt Bupati Kudus HM Hartopo meminta desa untuk menempelkan daftar penerima bantuan sosial di setiap Rukun Tetangga (RT). Hal tersebut dilakukan guna menghindari adanya tumpang tindih data warga yang mendapatkan santunan.

Dia menuturkan, saat ini bantuan sosial untuk penanggulangan Covid-19 dari pemerintah sangatlah banyak, mulai dari APBN pemerintah pusat, APBD Provinsi Jawa Tengah, APBD Kabupaten Kudus dan Dana Desa. Makanya, dia tidak menginginkan ada warga yang menerima bantuan secara ganda.

“Sudah dapat BLT (Bantuan Langsung Tunai) dari pusat, namun masih dapat bantuan dari provinsi dan pemkab. Tentu ini kurang baik,” jelasnya saat disela-sela kegiatan simbolis penyaluran Bantuan Sosial Tunai di Kantor Pos Kudus, Senin (11/5/2020).

Baca juga: 1.069 Warga Kudus Terima Bantuan Rp 600 Ribu dari Kemensos

Menurutnya, pelibatan hingga tingkat RT dalam penyaluran bantuan sosial dimaksudkan untuk mendapatkan data valid dan tidak tumpang tindih. Karena menurut Hartopo, pengurus RT akan lebih mengerti kondisi warganya langsung. Selain itu, setelah data penerima bantuan ditempelkan di setiap RT dan kantor desa, masyarakat juga akan membantu untuk mengawasi dan memverifikasi.

“RT pasti tahu, mana warga yang bisa makan dan kesulitan makan, sehingga berhak mendapatkan bantuan,” tuturnya.

Selanjutnya, dari bantuan yang disediakan pemerintah, pengurus RT, desa dan pemerintah kabupaten membuat skala prioritas. Yang paling miskin mendapatkan dana Rp 600 dari pusat atau dari dana desa.

“Sedangkan warga dengan kemampuan tidak terlalu miskin bisa mendapatkan bantuan dari Pemkab Kudus, berupa beras 10 kilogram dan uang Rp 100 ribu,” beber Hartopo.

Baca juga: 132 UMKM Sektor Makanan dan Minuman Dapat Bantuan dari Dinkop UKM Jateng

Soal penempelan data, Hartopo sudah mengkonfirmasi kepada Plt Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kabupaten Kudus Sunardi, bahwa penempelan data penerima bantuan akan selesai pekan ini.

“Nah dengar, ya, tadi selesai minggu ini. Beneran, ya, pak, selesai minggu ini. Nanti saya cek,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Starcross Kudus Jorjoran Diskon Hingga 50 Persen

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi barat Jalan Pattimura, Keluarahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus, tepatnya di dekat lampu lalulintas GOR Kudus, tampak sebuah bangunan dengan pintu kaca. Di dalam bangunan terlihat aneka jenis pakaian tergantung rapi. Ada juga yang terlipat di sebuah rak. Tempat tersebut yakni Distro Starcross Kudus yang lagi jorjoran diskon.

Ahmad Susanto (20) Shop Keeper Starcross menuturkan, pada momen tertentu, distro tempatnya bekerja memang sering memberikan diskon harga. Dan saat Ramadan kali ini, Starcross Kudus sudah jorjoran diskon hingga 50 persen.

Toko Starcross Kudus beri diskon hingga 50 persen. Foto : Rabu Sipan

“Starcross sudah memberi diskon sejak Ramadan kurang sepekan. Potongan harga di Starcross Kudus juga lumayan tinggi, yakni hingga separuh harga,” ujar pria yang akrab disapa Sansan itu kepada betanews.id, Sabtu (9/5/2020).

Baca juga : Rexsove, Brand Tas Lokal Berkualitas Buatan Loram Wetan

Pria yang sudah bekerja dua tahun di Starcross itu menuturkan, Starcross merupakan brand lokal asal Yogyakarta yang lumayan sudah dikenal. Starcross sendiri memproduksi aneka jenis pakaian, antara lain, kaus dan kemeja lengan pendek serta panjang.

Ada juga celana panjang maupun pendek berbahan jeans maupun kain katun. Jaket berbahan parasit dan jeans juga diproduksinya. Serta ada sweater, topi aneka model, jam tangan, sandal, ikat pinggang, dan tas punggung maupun tas pinggang.

“Semua produk itu lengkap dengan berbagai macam ukuran. Serta tersedia untuk pria dan wanita. Oh iya, dompet juga ada,” bebernya.

Pria yang tercatat sebagai warga Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus itu menuturkan, selain merk Starcross, di tempatnya bekerja juga menyediakan pakaian merk lain yakni Rown Division yang didiskon 40 persen untuk all item.

Baca juga : Dirikan Usaha, Marwoto Ingin Ajarkan Filosofi Gusjigang pada Santri

Lanjutnya, ada juga merk Supersas yang berdiskon 30 persen, dan TNGR yang didiskon sama dengan Supercross, yakni 50 persen. Dengan diskon yang diberikan tersebut Starcross Kudus mampu menjual ratusan pcs sebulan.

“Sejak ada diskon penjualan kami mengalami peningkatan. Pelanggan juga lumayan banyak meliputi Kudus, Demak, Jepara, serta Pati,” uangkapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Rindy dan Rizka Mulai Jual Hijab Pintu ke Pintu Hingga Tembus Pasar Mancanegara

0
Pegawai Rumah Jilbab sedang menata hijab di Toko Rumah Jilbab Rabu (6/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Para wanita berhijab tampak hilir mudik di sebuah toko Rumah Jilbab yang berada di Perempatan Jember, Kabupaten Kudus, sore itu. Di dalam toko, tiga orang perempuan terlihat sibuk melayani pembeli yang datang. Ada yang mendampingi pembeli dalam memilih jilbab, ada juga yang menunggu di tempat kasir untuk menunggu proses pembayaran.

Toko yang dirintis sejak tujuh tahun lalu itu dimiliki oleh dua orang bersaudara asal Kabupaten Demak. Mereka adalah Rindy Jihan (30) dan Rizka Aprillia (27) yang sukses mengembangkan bisnis hijab hingga bisa menembus pasar mancanegara.

Calon pembeli sedang mencoba kerudung di Toko Rumah Jilbab Rabu (6/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Rindy menjelaskan, kesuksesannya dalam berbisnis ini berawal dari keinginan mereka berdua untuk tidak merepotkan keluarganya. Apalagi sejak ayahnya meninggal saat kecil, keinginan untuk mendapatkan penghasilan sendiri terpatri kuat dalam diri.

“Latar belakangnya, karena dari kecil kami sudah ditinggal bapak. Beliau meninggal dan ibu kami menjadi single parrent. Meskipun dari keluarga bapak sanggup memberikan materi kepada saya dan adik, tapi saya pribadi tidak mau bergantung pada orang. Dari sana saya berusaha apa saja supaya bisa menghasilkan uang sendiri. Mulai jadi guru les privat sampai nyambi jualan jilbab. Alhamdulilah, usaha kami itu membuahkan hasil,” papar Rindy, Rabu (6/5/2020).

Baca juga: Hijab Masker Produksi Rumah Jilbab Laku Keras di Pasaran

Dijelaskan Rindy, awal mula jualan hijab adalah saat ia kuliah di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Waktu itu, ia nyambi jualan kerudung kepada teman-teman sendiri. Hal yang sama juga dilakukan oleh adiknya, Rizka, yang jualan jilbab saat kuliah di Universitas Ngudi Waluyo Semarang.

“Dulu sewaktu kuliah, kira-kira sejak uisa 19 tahun saya sudah mulai menjual kerudung dari pintu kost satu ke pintu kost lain. Menawarkan kerudung kepada teman-teman sendiri. Begitupun adik saya sewaktu kuliah,” ungkap wanita asal Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak itu.

Usaha jualan jilbab masih mereka teruskan sampai lulus kuliah, saat keduanya sama-sama bekerja di bank. Melihat usaha jilbabnya makin berkembang, Rindy kemudian memutuskan keluar dari pekerjaan agar bisa fokus mengelola bisnis bersama suaminya. Belakangan, suaminya juga akhirnya keluar dari Rumah Sakit Keluarga Sehat (KSH) Pati.

“Dari kerja di bank itu, uangnya saya kumpulkan untuk modal menyewa toko. Sampai akhirnya punya anak dan merasa harus fokus untuk anak juga. Jadi ya, sekalian fokus mengurus bisnis jilbab bersama suami. Kalau adik saya sekarang masih sambil kerja di Bank Mandiri Kudus,” kata dia.

Baca juga: Tampil Beda dengan Gamis Eksklusif Produksi Aneka Griya Muslim

Meski sudah cukup besar, Rindy belum tertarik untuk membuka cabang. Dirinya memilih fokus berjualan di toko online dan menggarap pasar mancanegara. Sampai saat ini, tokonya sudah punya pelanggan-pelanggan tetap dari Jawa Tengah, Jawa Timur hingga luar negeri seperti Hong Kong dan Malaysia.

“Siang ini kami akan kirim dua karung jilbab ke Hong Kong. Setiap minggu pasti ada permintaan dari sana. Jumlahnya per minggu rata-rata 30 sampai 50 pack. Ya sekitar 300 sampai 500 jilbab. Akhir-akhir ini permintaan justru naik sampai sekitar 100 sampai 500 pack, atau 1.000 sampai 1.500 kerudung,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Dinsos Masih Tunggu Data Penerima JPS Tahap Dua dari Pemdes

0
Plt Kepala Dinsos P3AP2KB Kudus Sunardi mendampingi Plt Bupati Kudus HM Hartopo menyerahkan bantuan sosial. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kabupaten Kudus tengah mendata penerima bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS) tahap kedua. Dari total rencana keseluruhan 26 ribu kepala keluarga (KK), tahap kedua ini ditargetkan 6 ribu orang yang mendapatkannya.

Plt Kepala Dinsos P3AP2KB Kudus Sunardi menuturkan, sebelumnya pada tahap pertama, pihaknya telah menyalurkan bantuan JPS kepada 4.424 orang yang terkena dampak Covid-19. Penyaluran bantuan tersebut dilakukan di bulan April 2020.

Menurutnya, penerima bantuan sosial mendapatkan beras sebanyak 10 Kilogram dan uang tunai senilai Rp 100 ribu.

Baca juga : 1.069 Warga Kudus Terima Bantuan Rp 600 Ribu dari Kemensos

“Jumlah anggarannya Rp 200 ribu. Berbentuk beras 10 kilogram dan uang Rp 100 ribu,” jelasnya saat ditemui di Command Center, Senin (11/5/2020).

Untuk penerima tahap kedua, nilai bantuan yang diberikan sama, yakni beras 10 kilogram dan uang Rp 100 ribu.

Sunardi menjelaskan, dalam proses pendataan tahap kedua, pihaknya masih menunggu data dari desa. Menurutnya, Ketua RT masih proses melakukan pendataan untuk disetorkan ke desa. Selanjutnya, data akan diterima di dinas.

“Kita memang ingin bantuan ini tepat sasaran. Benar-benar memang yang terimbas karena Corona,” tuturnya.

Dia mengakui, lambannya penyaluran bantuan sosial memang sering terjadi. Dikarenakan, satu di antaranya terbentur dengan proses pendataan.

Pemerintah desa harus melakukan verifikasi terhadap warganya yang masuk dalam kategori miskin‎. Selanjutnya, pihaknya akan memasukkan data penerima sesuai nomor induk kependudukan (NIK) ke dalam sistem. Hal tersebut berguna untuk mencegah adanya tumpang tindih bantuan.

Baca juga : 239 UMKM di Kudus Diusulkan Dapat Bantuan

“Sehingga jika sudah menerima bantuan dari Pemkab Kudus, tidak bisa menerima bantuan dari pemprov atau pemerintah pusat,” jelasnya.

Dirinya menargetkan, sebelum hari Raya Idul Fitri pihaknya bisa merampungkan datanya. Supaya bantuan JPS dari Pemerintah Kabupaten Kudus ini bisa secepatnya tersalurkan.

Diketahui sebelumnya, jumlah anggaran untuk penangan Covid-19 di Kudus yakni Rp 48 miliiar.


Menurut Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kabupaten Kudus, Eko Djumartono, dari anggaran tersebut dialokasikan menjadi tiga penanganan.

Yakni, penanganan kesehatan Rp 16,5 miliar, penanganan dampak ekonomi Rp 5,5 miliar dan penyediaan pengaman jaringan sosial Rp 26 miliar.

“Anggaran untuk jaring pengaman sosial yakni bagi mereka yang terdampak Covid-19. Seperti PKL, tukang ojek dan masyarakat miskin. Intinya non-UMKM. Karena UMKM sudah ada Rp 5,5 miliar,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -