31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Dirikan Usaha, Marwoto Ingin Ajarkan Filosofi Gusjigang pada Santri

BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu, Toko MWT Brand for Domestik Craft tampak lengang. Tak banyak aktivitas yang bisa ditemui di toko yang beralamat di Desa Peganjaran, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, selain sang pemilik Marwoto (29). Ia tampak membersihkan beberapa produk yang ia pajang di tempat tersebut.

Saat ditemui, ia menjelaskan, pendirian toko tersebut berawal dari keinginannya untuk mengajarkan para santri soal filosofi Gusjigang. Usaha yang dirintis sejak 2015 itu menjual berbagai kerajinan warga Kudus, seperti peci dan tas dari karung goni, tas dari bahan blacu, dan sarung batik.

Peci berbahan karung goni yang jadi produk andalan MWT Brand for Domestik Craft. Foto: Rabu Sipan

Alumni Madrasah Qudsiah itu menuturkan, pendirian toko ini bertujuan untuk memfasilitasi perajin lokal, sekaligus sebagai media santri untuk latihan berdagang.

-Advertisement-

“Saya ingin mengajarkan filosofi Gusjigang kepada santri. Santri itu selain pintar ngaji, seyogyanya juga bisa berdagang agar bisa buat bekal ketahanan ekonomi di kemudian hari,” ujar Marwoto.

Selama ini, ia menjalankan usahanya dengan mengajak para santri yang bersedia bekerjasama. Di antaranya untuk penjualan atau reseller, serta untuk bagian produksi.

Tapi seperti diakuinya, untuk meyakinkan para santri agar mau berbisnis memang tidak mudah. Karena, menurut mereka usaha itu harus punya modal banyak. Namun Marwoto selalu meyakinkan, bahwa yang terpenting dalam usaha itu adalah kemauan, tekat dan selalu cari peluang.

Baca juga: Baru Rilis, Peci dari Karung Goni ini Laris Manis di Pasaran

“Kalau saya pribadi modal usaha itu, ya yang kita punya dalam diri kita. Kemampuan kita itu digunakan untuk mencetak uang yang banyak. Kalau nunggu punya modal banyak, ya kapan kita punya usaha?” tanyanya kemudian.

Marwoto mengatakan, yang bikin produk MWT Brand for Domestik Craft spesial adalah produk kerajinan tangan tersebut diberi sentuhan khas Kota Kretek. Misal tas dari kain blacu diberi gambar ikon kabupaten, seperti Menara Kudus, gerbang pintu masuk Kota Kretek dan lain-lain. Begitu juga dengan sarung batik yang diberi sentuhan motif serupa maupun tradisi yang ada di masyarakat.

Baca juga: Ramayana Kudus Tutup Sementara Mulai 31 Maret

“Setiap sarung yang diberi sentuhan batik itu mengandung tema. Ada yang tema Menara Kudus yang berarti keharmonisan hidup. Ada acara dandangan sebagai tanda datangnya ibadah puasa, tirakat dan taqwa. Serta tema motif lainnya,” tukas Marwoto.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER