BETANEWS.ID, KUDUS – Nur Diana (40) tampak sedang menimbang cabai di tepi Jalan Cipto Kusuma, Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, pagi itu. Selain cabai, ia juga menjajakan aneka sayuran yang baru saja dipanen dari sawah yang digarapnya.
Di sela aktivitasnya menjajakan hasil panen, warga Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus itu lantas berbagi kisah perjalanan hidupnya. Dia mengaku bertani sudah dari kecil karena memang terlahir dari keluarga petani. Bahkan setelah menikah, dia dapat warisan sawah seluas 8.000 meter persegi (sebahu).

“Namun sayang, sawah warisan tersebut harus terjual karena ditipu orang. Padahal sawah itu harganya lebih dari Rp 500 juta,” kenang Nur saat ditemui, Jumat (8/5/2020).
Saat itu, lanjut dia, keuangan keluarganya langsung hancur. Sawah tidak punya, modal pun tiada. Namun, hidup harus terus berjalan dan bertani adalah pilihan paling masuk akal.
Baca juga: Turun Drastis, Harga Cabai di Kudus Tak ‘Sepedas’ Rasanya
Bersama suaminya, dia kemudian bertekad pinjam uang di bank untuk modal. Dengan uang itu, dia mencoba bertani cabai dengan sewa sawah di daerah Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Namun saat panen tiba, cabainya cuma dihargai Rp 3 ribu per kilogram.
“Saat itu kami seolah apes. Sewa sawah satu hektare selama setahun malah rugi. Ditanami cabai rugi karena harga turun, ditanami jagung manis rugi juga,” keluhnya.
Hingga akhirnya, dia didatangi Haji Kosim warga Loram Wetan untuk menagih hutang. Namun, saat tahu keadaan Nur, Haji Kosim pun iba serta mengajak kerja sama mengelola tanah persawahan seluas empat hektare dengan sistem bagi hasil di belakang GOR Kudus, yang sekarang jadi Pasar Baru.
Dia kemudian membagi sawah tersebut menjadi dua, yang dua hektare ditanami padi, dan selebihnya ditanami bawang merah. Kerja sama itu, menurutnya bisa dibilang berhasil. Apalagi, dia bisa punya modal untuk beli mobil pick up.
Setelah sawah di belakang GOR tidak boleh diperpanjang karena akan dibangun pasar dan Balai Jagong, uang modalnya kemudian digunakan untuk menyewa sawah bengkok Desa Loram Wetan seluas dua hektare. Dipandang punya prospek bagus, ia lantas menambah sewa tanah menjadi enam hektare dengan harga sewa Rp 10 juta per hektare.
Baca juga: Kembang Buah, Toko Buah dengan Harga Paling Murah di Kudus
“Sawah tersebut ditanami cabai, timun, padi, kacang panjang serta tomat. Namun yang paling banyak ditanami cabai,” bebernya.
Dia bersyukur, meski dengan sistem sewa lahan, hasilnya bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan membiayai anak sekolah.
“Alhamdulillah hutang uang di bank yang kami pinjam untuk modal sewa tanah dan modal tanam sekarang sudah lunas. Kalau pun masih ada, itu sama saudara,” tutup Nur.
Editor: Ahmad Muhlisin

