Beranda blog Halaman 1867

Antisipasi Lonjakan Pasien Covid-19 Akhir April, Boyolali Sulap Rusun Jadi RS Darurat

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meninjau RSD Covid-19 Bololali, Jumat (10/4/2020). Foto: Ist

BETANEWS.ID, BOYOLALI – Langkap cepat ditunjukkan Pemerintah Kabupaten Boyolali dalam penanggulangan penyebaran Covid-19. Pemerintah setempat menyulap rusunawa menjadi rumah sakit darurat khusus pasien corona.

Petugas Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 Boyolali dr Nugroho menjelaskan, rumah sakit tersebut akan digunakan untuk mengantisipasi lonjakan pasien corona yang diperkirakan terjadi pada akhir April nanti.

Dia menjelaskan, rusunawa yang dijadikan rumah sakit darurat ini terletak di Kampung Rejosari Kelurahan Kemiri Kecamatan Mojosongo. Ada 18 kamar di rusunawa yang dimanfaatkan untuk tempat perawatan pasien. Setiap kamar memiliki dua tempat tidur.

Baca juga: Pemegang Kartu Prakerja Bisa Dapat Rp 3,5 Juta, Ganjar: ‘Yang Kena PHK Buruan Daftar!’

“Sebenarnya rusanawa ini memiliki lima lantai dengan kapasitas 114 unit. Namun tidak semua dimanfaatkan untuk ruang perawatan. Kami baru memanfaatkan ruangan di lantai satu,” ujar Nugroho kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat berkunjung, Jumat (10/4/2020).

RSD Covid-19 Boyolali, kata Nugroho, memiliki fasilitas ruang IGD, radiologi, ruang isolasi dan ruang rawat inap. RSD tersebut didesain kedap udara, karena lantai satu rusunawa seluruhnya telah berlapis kaca.

“Kami di sini memiliki 123 medis. Untuk saat ini kami sudah menerima pasien, jumlah ada delapan orang. Mereka dirujuk dari puskesmas. Tidak hanya dari Boyolali, tapi ada yang dari luar juga,” ungkapnya.

Nugroho menambahkan, pasien yang datang ke RSD ada yang dirawat dua hari dan ada pula yang dirawat tiga hari. Selanjutnya para pasien melakukan isolasi mandiri di rumah.

Baca juga: Warga Jateng Dijatah Rp 200 Ribu per Bulan Selama Wabah Corona

“Jadi RSD ini khusus untuk ODP dan PDP ringan sedang. Sedangkan untuk PDP berat dirawat di RSUD Pandan Arang (Boyolali),” ungkapnya.

Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat meninjau RSD Covid-19 Boyolali melihat ruangan-ruangan perawatan. Ganjar juga mendapat penjelasan dari petugas medis yang berada di sana.

Baca juga: Berdayakan Ojek untuk Distribusi Pangan di Jateng

Dia mengaku bungah karena langkahnya juga diikuti bupati dan walikota di Jawa Tengah, termasuk Pemkab Boyolali. Respon cepat dan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi lonjakan pasien harus dilakukan semua kepala daerah.

“Sebenarnya ini cara yang bisa kita siapkan dengan urut-urutan. Ini tindakan-tindakan yang mesti dilakukan kabupaten kota untuk berjaga-jaga,” kata Ganjar.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Muria Batik Kudus Produksi dan Bagikan Masker Batik Secara Gratis

0
Yuli Astuti sedang mengepak masker batik yang diproduksi Muria Batik Kudus, Rabu (8/4/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Azan asar mulai berkumandang saat Yuli Astuti (38) membagikan masker batik kepada para tetangganya di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Dengan membawa beberapa masker bertuliskan ‘stay at home’, ia berkeliling menyambangi mereka sekaligus menjelaskan kegunaan masker selama pandemi Covid-19.

Setelah habis, ia kembali ke tempat usaha Muria Batik Kudus miliknya, untuk membantu para karyawan memproduksi barang yang tengah langka di pasaran itu.

Dua karyawan Muria Batik Kudus sedang membatik kain yang akan dibuat masker, Rabu (8/4/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Di rumah khas Kudus itu, terlihat beberapa karyawan tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ada yang mendapat bagian memotong kain, ada pula yang membatik, dan beberapa lainnya dapat tugas menjahit.

Yuli kemudian memilih untuk membantu pengepakan masker kain di ruang tamu yang sekaligus juga sebagai tempat memajang hasil produksi batiknya.

Di sela-sela pengepakan, Yuli menjelaskan, pihaknya tergerak memproduksi masker untuk mencukupi kebutuhan masyarakat yang terbilang tinggi, tapi ketersediaan barangnya langka.

“Kami akan membagikan secara gratis, agar tumbuh kesadaran dari masyarakat untuk selalu menggunakan masker,” beber Yuli saat ditemui, Rabu (8/4/2020).

Wanita yang sore itu menggunakan baju batik warna pink itu melanjutkan, pembagian masker secara cuma-cuma itu sudah dijalankannya selama tiga minggu. Dalam rentang waktu itu, ada sekitar 300 masker yang sudah diberikan kepada para tetangga, karyawan, ojek online, dan masyarakat yang datang untuk mengambil masker batik di tempat tersebut.

“Pelanggan Muria Batik Kudus yang ada di Jakarta, Palembang, Semarang dan kota lain juga minta dikirimi masker batik ini. Mereka tertarik karena maskernya bagus dan stylist,” ungkapnya.

Baca juga: Produksi Masker, Abyadl Konveksi Tidak Ada Niatan Cari Untung dari Pandemi Corona

Namun, sampai saat ini tempatnya baru bisa memproduksi masker sekitar 100 buah per hari. Ini disebabkan proses pembuatan batik membutuhkan waktu cukup lama. Untuk mengakalinya, pihaknya kemudian memanfaatkan kain-kain sisa yang masih bisa digunakan, sambil menunggu kain batik jadi.

“Kami membuat maskernya dari 50an corak batik yang ada di sini. Jadi pilihannya banyak sekali,” kata Yuli.

Baca juga: Siapkan Anggaran Rp 2 Miliar, Pemkab Kudus Kesulitan Cari Masker Medis

Penggunaan batik tulis sebagai bahan juga sebagai langkah memberdayakan para pembatik agar tetap bisa bekerja, meski pesanan lagi sepi.

“Meski sedang ada pandemi, para pembatik diupayakan tetap punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluargannya,” pungkas Yuli.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Toyo Semringah Dikasih Bingkisan Sembako dari Polisi

0
Kapolres Kudus AKBP Catur Gatot Efendi menyerahkan bantuan warga dari perantauan yang terdampak Covid-19. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Wajah lelaki berkulit sawo matang terlihat semringah ketika beberapa orang dari Kepolisian Resor (Polres ) Kudus datang ke rumahnya memberikan bantuan sembako. Warga Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, bernama Sutoyo (45) ini, baru saja mudik dari Jakarta. Dia harus pulang dari perantauan karena imbas dari Covid-19.

Selama tinggal di rumah dirinya mengaku mengangur.”Saya terpaksa pulang karena di sana tidak ada kerja,” ungkap pria yang mengaku sebagai buruh bangunan itu, Kamis (9/4/2020).

Kapolres Kudus membagikan masker kepada warga. Foto : Imam Arwindra

Dia yang sudah 10 hari di rumah mengaku bingung harus mencukupi kebutuhan keluarganya. Sementara dirinya harus 14 hari tinggal di rumah sesuai dengan imbauan pemerintah.

Baca juga : Siapkan Anggaran Rp 2 Miliar, Pemkab Kudus Kesulitan Cari Masker Medis

“Serba repot Mas musim penyakit ini. Maka dari itu saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pak Polisi,” tuturnya.

Senasib dengan Toyo, Jumadi yang juga pemudik dari Jakarta mengaku senang mendapatkan bantuan sembako dari Polres Kudus. Menurutnya, bantuan yang diberikan sangat membantu keluarganya di saat pandemi ini.”Saya sudah tiga minggu di rumah. Tidak bisa bekerja,” ungkap warga Honggosoco ini.

Menurutnya, selama merantau ke Jakarta, Jumadi bekerja sebagai buruh bangunan juga. Dan harus pulang karena imbas Covid-19.

Sementara itu, Kapolres Kudus AKBP Catur Gatot Efendi menuturkan, kegiatan yang dilakukan hari ini yakni bentuk kepedulian Polri kepada masyarakat yang terkena dampak Covid-19.

Menurutnya, pihaknya membagikan sembako kepada masyarakat yang membutuhkan. Terutama para perantau yang harus pulang ke rumah karena dampak virus Corona.

“Jadi sasaran kita yakni warga kurang mampu, pemudik yang tidak mempunyai pekerjaan dan masyarakat yang terkena PHK,” jelasnya.

Baca juga : Kawan Lama Sumbang Thermometer untuk Tenaga Medis

Dalam pelaksanaannya, pihaknya mengaku akan melakukan kegiatan serupa secara rutin dimulai hari Kamis 9 April 2020. Untuk hari ini pihaknya membagikan 50 paket sembako yang dibagikan secara merata ke seluruh daerah di Kudus.

“Dananya itu hasil iuran anggota sendiri. Jadi kita iuran untuk membantu masyarakat,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kawan Lama Sumbang Thermometer untuk Tenaga Medis

0
Ganjar Pranowo terima bantuan thermometer dari Kawan Lama. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Satu persatu perusahaan, kelompok masyarakat dan instansi berbondong-bondong memberikan bantuan kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dalam menanggulangi Virus Covid-19, khususnya di Jawa Tengah.

Ganjar menyebut, yang terbaru, dirinya mendapatkan bantuan infrared thermometer dari Kawan Lama Foundation. Yayasan tersebut menaungi CSR Kawan Lama Group yang didalamnya terdapat Ace Hardware dan Informa Indonesia ini memberikan 100 unit alat pengecek suhu kepada Pemprov Jateng.

Bantuan diberikan langsung oleh Area Manager PT Ace Hardware Indonesia Jawa Tengah, Aries Haryo kepada Ganjar di rumah dinas gubernur, Kamis (9/4/2020). “Di tengah gencarnya penanganan covid-19 oleh pemerintah, kami memberikan alat pengukur suhu ini yang mudah-mudahan dapat bermanfaat,” kata Aries.

Baca juga : Ganjar : Pokoknya Kalau Keluar Rumah Wajib Pakai Masker

Ganjar sendiri mewakili seluruh masyarakat Jawa Tengah mengucapkan terima kasih kepada Kawan Lama Foundation atas bantuan tersebut. Menurutnya, thermometer merupakan salah satu alat yang paling dibutuhkan saat ini.

“Alat ini banyak dicari dan menjadi sulit saat ini. Alhamdulillah berkat doa semuanya, Kawan Lama saya ini memberikan bantuan. Tentu alat ini sangat bermanfaat dan sudah lama ditunggu masyarakat,” kata Ganjar.

Baca juga : Tangani Corona, Pemdes di Semarang Ini Wajib Dicontoh, Apa yang Dilakukan?

Nantinya, alat thermometer tersebut akan didistribusikan kepada penjaga gawang kesehatan di Jawa Tengah. Mereka-mereka yang menjadi garda terdepan di rumah sakit, puskesmas dan klinik kesehatan akan menjadi sasaran penerimanya.

“Mudah-mudahan alat ini bisa membantu mereka untuk bekerja. Sebab, mereka tidak pernah tahu yang datang itu apakah membawa virus covid-19 atau tidak,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Berdayakan Ojek untuk Distribusi Pangan di Jateng

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bakal menggandeng ojek untuk pendistribusian pangan di Jateng. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Stok pangan menjelang Ramadan di wilayah Jawa Tengah dipastikan aman. Hal itu ditegaskan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Meski begitu, ada kendala terkait dengan pendistribusiannya.

“Permasalahan yang ada adalah soal distribusi transportasi langsung kepada konsumen. Karena kalau distribusinya tidak lancar saya khawatir inflasi lebih tinggi dari bulan kemarin,” kata Ganjar.

Jurus yang digunakan Ganjar untuk mengatasi distribusi tersebut adalah dengan memberdayakan para pengemudi ojek online maupun konvensional. Dengan catatan, karena masih di tengah Pandemi Covid-19, maka para pengendara ojek tersebut mesti diberi bekal pengetahuan tentang protokol kesehatan. Bahkan dalam waktu dekat Ganjar bakal meneken MoU dengan operator ojek online maupun konvensional.

Baca juga : Tangani Corona, Pemdes di Semarang Ini Wajib Dicontoh, Apa yang Dilakukan?

“Ini pemberdayaan yang kita sampaikan agar komoditas yang tersedia bagus tapi distribusinya tidak lancar maka di tengahnya ini, yang distribusi mesti diisi. Inilah pentingnya kerjasama dengan para transporter (ojek) itu. Bisa mobil maupun sepeda motor. Sehingga ada lapangan kerja baru. Tentu dengan pengelolaan yang lebih ketat,” katanya.

Ganjar menyampaikan, secara keseluruhan kebutuhan bahan pokok di Jawa Tengah menurut Ganjar Pranowo masih mampu untuk mencukupi sampai tiga bukan ke depan. Bahkan pada kebutuhan pokok jenis tertentu, beras misalnya, mampu bertahan hingga tujuh bulan.

“Hari ini pangan Jateng masih aman. Stok dalam tiga bulan masih aman. Bergantung jenisnya. Kalau untuk beras bisa bertahan sampai tujuh bulan. Hari ini bagus ya. Ada laporan yang bisa memantau kondisi di lapangan,” kata Ganjar, Kamis (9/4/2020).

Baca juga : SMK Jateng Produksi APD, Jika Berlebih Akan Dikirim ke Daerah Lain

Namun ada pula beberapa jenis kebutuhan pokok yang mengalami penurunan harga maupun kekurangan. Untuk mengatasi hal tersebut, Ganjar telah menerjunkan dinas terkait agar memelototi perkembangan lebih serius. Jika sampai luput, dia khawatir akan memicu tingginya inflasi di Jawa Tengah.

“Hari ini mungkin harga ayam agak jatuh. Terus gula, sampai hari ini belum turun ke pasar, tapi pelan-pelan sudah dimasuki. Meski sudah turun tapi belum signifikan. Di lain itu bawang. Selain itu kita masih ok,” katanya.

Sebagai catatan, Ganjar mengatakan, pada bulan Maret inflasi di Jawa Tengah hanya 0,02 persen atau lebih rendah dari bulan lalu Februari yang sebesar 0,44 persen dan nasionalnya 0,10 persen. Namun dirinya juga telah menyiapkan strategi untuk menutup adanya kemungkinan pemicu melambungnya inflasi dari jalan lain.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Siapkan Anggaran Rp 2 Miliar, Pemkab Kudus Kesulitan Cari Masker Medis

0
Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, Muhammad Nasiban saat ditemui di ruangannya, Rabu (8/4/2010). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus kesulitan mencari masker N95 dan masker bedah untuk mencukupi kebutuhan alat medis selama pandemi Covid-19. Padahal, anggaran untuk mencukupi kebutuhan ini sudah disiapkan sebanyak Rp 2 miliar.

Anggaran ini menjadi bagian dari penanganan kesehatan yang telah dianggarkan Pemkab Kudus untuk antisipasi penyebaran Virus Corona sebanyak Rp 48 miliar.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, Muhammad Nasiban mengaku, sampai saat ini, pihaknya kesulitan mencari masker N95, masker bedah dan virus transfer media (VTM).

“Selain penyedia yang sedikit, barangnya pun langka,” ungkap Nasiban saat ditemui di ruangannya, Kamis (8/4/2020).

Baca juga: Pemkab Kudus Gelontorkan Rp 48 Miliar untuk Hadapi Corona

Untuk masker N95, pihaknya sudah menganggarkan Rp 1,3 miliar dan masker bedah Rp 701 juta. Dalam perkembangannya, Nasiban sudah menerima penawaran dari delapan vendor untuk pengadaan.

“Modelnya lelang terbuka. Diutamakan mana yang barangnya ready dan kecepatan pengiriman,” jelasnya.

Selain masker, DKK Kudus juga mengalokasikan pembelian alat rapid test sebanyak Rp 1 miliar. Dengan alokasi tersebut, ia memperkirakan akan mendapatkan 10 ribu alat rapid test. Sedangkan untuk VTM, anggarannya sebesar Rp 429 juta.

“Untuk alat rapid test kira-kira dapat 200 boks yang setiap boksnya berisi 50 buah. Kalau VTM, dengan anggaran tersebut akan memperoleh 14.300 buah. Pembelian tersebut hanya untuk selama pandemi Covid-19 saja. Bukan untuk stok,” ungkapnya sambil mengolak-alik kertas daftar belanja.

Baca juga: Ketersediaan Logistik di Kudus Dipastikan Aman

Nasiban melanjutkan, dana yang dikucurkan pemkab untuk penanganan kesehatan sudah mencapai Rp 15,3 miliar yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Sedangkan pengalihan dana kegiatan di tiga Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sebanyak Rp 1,2 miliar belum cair.

“Penyerapan anggaran baru sebesar Rp 2,6 miliar. Dana ini untuk pengadaan hand sanitizer, alat pelindung diri, termometer infrared, wastafel portable dan vitamin. Nanti tidak dibelikan semua. Kita melihat situasi,” pungkas Nasiban.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Prihatin dengan Stok Darah di Kudus, Santi Tergugah Ikut Donor Darah

0
Santi Kristiani saat melakukan donor darah. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang perempuan mengenakan kaus berwarna hitam terlihat berbaring di tempat tidur yang ada di markas PMI Kudus. Tangan kirinya ditusuk jarum, sehingga darahnya tampak mengalir melalui selang menuju sebuah kantong. Dia tak lain adalah Santi Kristiani (43), yang sedang melakukan donor darah. Dia mengaku tergugah untuk donor setelah membaca berita, jika stok darah di Kudus menipis.

Perempuan yang akrab disapa Santi itu sudah lama tidak donor darah. Karena sebelumnya, dia mendapat tugas PBB di Republik Demokratik Kongo. “Saya membaca berita tentang stok darah di Kudus yang menipis, jadi saya ke PMI untuk donor,” terang warga Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, yang pulang dari Kongo pada Desember 2019 itu.

Tak lama kemudian, Santi dihampiri seorang pria mengenakan baju putih dan diajak berbincang-bincang. Pria itu adalah dr. Arief Adi Saputro, Kepala Unit Donor Darah PMI Kudus. Dia mengatakan, donor darah saat ini menggunakan prosedur tambahan.

Baca juga : Stok Darah di PMI Kudus Menipis

“Misal pengecekan suhu badan dan gejala-gejala Virus Covid-19. Jika ada gejala demam, sesak napas atau gejala-gejala lain, kami tunda dulu. Secara prosedur juga harus menggunakan masker, hand sanitizer, jarak juga tidak berdekatan,” paparnya.

Arif begitu dia akrab disapa menambahkan tentang manfaat donor darah. Di antaranya dapat mengontrol kesehatan dan membantu proses regenerasi sel darah merah. Jadi bagus jika donor darah rutin dua hingga tiga bulan sekali.

Darah yang sudah didonorkan, nantinya akan diskrining menggunakan alat infeksi menular lewat transfusi darah (IMLTD). Alat tersebut akan mengidentifikasi empat jenis penyakit menular. Seperti virus HIV, Hepatitis C, Hepatitis B atau Sifilis.

Baca juga : Pemkab Kudus Gelontorkan Rp 48 Miliar untuk Hadapi Corona

“Proses skrining satu sampel darah membutuhkan waktu sekitar 31 menit. Setelah keluar aman, maka bisa kami gunakan. Tetapi jika ada penyakit menular maka kami akan mengkomunikasikan dengan pendonor agar segera ditangani,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pasien Positif Covid-19 di Kudus Sembuh Pertama, Sukarsih: ‘Kuncinya Selalu Gembira’

0
Plt Bupati Kudus Hartopo memberikan karangan bunga kepada pasien positif Covid-19 yang dinyatakan sembuh. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Hari ini (9/4/2020) merupakan hari istimewa bagi Plt Bupati Kudus Hartopo. Bagaimana tidak, dirinya menerima tamu spesial, seorang pasien pertama positif Covid-19 yang telah dinyatakan sembuh, di pendapa kabupaten. Sukarsih (28) namanya, seroang petugas medis di RS Mardirahayu Kudus.

Di depan awak media, Hartopo menyambut perempuan berambut lurus itu dengan rangkaian bunga berwarna merah. Ungkapan selamat atas kesembuhannya tersebut disambut Sukarsih dengan hangat. Usai itu, Hartopo mempersilakannya untuk berbagi cerita di podium.

Baca juga: Pemkab Kudus Gelontorkan Rp 48 Miliar untuk Hadapi Corona

Sukarsih bercerita, pada 21 Maret lalu dirinya mendapat tugas untuk merawat pasien corona di ruang isolasi. Empat hari kemudian dia merasakan nyeri haid dan diare.

“Saat saya masuk di ruang isolasi status saya berarti sudah orang dalam pengawasan (ODP),” ungkap perempuan yang berasal dari Kabupaten Pati tersebut, di pendapa kabupaten.

Sukarsih menceritakan pengalamannya selama dikarantina hingga kemudian sembuh. Foto: Imam Arwindra

Setelah merasakan nyeri haid dan diare, dirinya langsung dirawat khusus di ruang isolasi. Saat itu dokter dan tenaga medis yang merawatnya mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap. Selama di sana dia tidak diperbolehkan untuk dijenguk.

Baca juga: Sempat Ditolak, Jenazah PDP Corona Akhirnya Bisa Dimakamkan di Loram Wetan

Pada 27 Maret 2020, tubuh Sukarsih di-scan. Hasilnya, pernyataan dokter yang merawatnya mengarah dirinya terpapar virus corona. Sejak saat itu dirinya berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

Sehari setelah itu, Sukarsih langsung dites menggunakan rapid test. Dan hasilnya menyatakan dirinya positif Covid-19. “Saat itu saya menekankan diri saya untuk tidak boleh takut, hati harus gembira dan pokoknya selalu menyenangkan hati,” ungkapnya.

Pada 29 Maret 2020 dokter melakukan test swab pertama. Hasilnya diketahui pada 3 April 2020, tes swab juga menyatakan dirnya positif.

Selama masa isolasi, Sukarsih mengatakan terus mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman-temannya melalui daring. Selain itu, tim medis yang merawatnya pun selalu memberikan semangat untuk sembuh.

Baca juga: Alasan Keselamatan, Warga Colo Tolak Karantina Pemudik di Graha Muria

“Saya tidak pernah merasa kesepian. Semua support saya. Saya merasa senang,” lagi-lagi diungkapkan Sukarsih dengan penuh semangat.

Pada tanggal 4 dan 5 April 2010, hasil swab kedua telah keluar. Hasilnya menyatakan Sumarsih negatif. Dia mengatakan, menurut dokter yang merawatnya, jika hasil tes swab negatif berarti dia sembuh total.

Saat ditanya apakah ada obat atau penanganan khusus, Sukarsih mengungkapkan obatnya yakni antibiotik, vitamin dan hati yang gembira. “Bagi teman-teman PDP jangan panik, jangan takut, harus gembira. Ikuti aturan dokter,” tuturnya.

Baca juga: Penghuni Rusunawa Tolak Huniannya Jadi Tempat Karantina Pemudik

Kepada masyarakat dia berpesan agar selalu menjaga jarak fisik kepada orang lain. Selain itu sering cuci tangan pakai sabun dan selalu pakai masker.

Sementara itu, dalam sambutannya Hartopo mengaku senang ada pasien postif Covid-19 yang dinyatakan sembuh. Dia memberi dukungan kepada Sukarsih dan semua tenaga medis yang berada di garda terdepan berperang melawan corona.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Stok Darah di PMI Kudus Menipis

0
Petugas PMI Kudus sedang mengecek stok darah. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria mengenakan baju putih tampak sedang mengecek persediaan darah di markas PMI Kudus, Jalan Kudus-Purwodadi, Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Setelah melihat stok darah yang ada, kemudian dia berjalan menuju tempat skrining darah. Dia adalah dr Arief Adi Saputro, Kepala Unit Donor Darah PMI Kudus.

Arif begitu dia akrab disapa, sudi berbagi penjelasan tentang stok darah di sana. Dirinya mengungkapkan, bahwa stok darah yang ada di PMI Kudus saat ini belum aman. Hal tersebut terjadi karena sejumlah perusahaan di Kudus menunda jadwal donor darah.

“Kami berusaha menggandeng kepala desa dan camat di Kudus. Perusahaan juga sudah kami ajak komunikasi agar bisa segera diizinkan membuka donor darah. Dan saat ini sudah mulai berjalan di perusahaan, meski ada penurunan pendonor,” terangnya, Rabu (8/4/2020) siang.

Baca juga : Pemkab Kudus Gelontorkan Rp 48 Miliar untuk Hadapi Corona

Dia juga merinci stok darah yang ada di PMI Kudus. Untuk darah golongan A, ada 51 kantong dan satu kantong trombosit. Golongan darah B ada 58 kantong dan 11 kantong trombosit.

“Sedangkan golongan darah AB ada 25 kantong dan trombosit kosong. Golongan darah O ada 58 kantong dan 12 kantong trombosit. Total keseluruhan stok yang tersedia 219 kantong darah,” terangnya sambil berjalan menuju ruang donor darah di markas itu.

Sedangkan stok darah bisa dibilang aman jika dalam sehari ada 400 hingga 500 kantong. Dengan stok darah yang ada saat ini, hanya disediakan untuk rumah sakit yang ada di Kudus saja. Berbeda dengan sebelumnya, PMI Kudus bisa mengirim ke Jepara, Demak dan Pati.

Baca juga : Lewati Terminal Kudus, Penumpang Bus Disterilkan

“Untuk desa yang sudah terjadwal pada tanggal 10 April 2020 akan melaksanakan donor darah di Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kudus. Sedangkan untuk desa-desa yang lain akan menyusul. Sedangkan setiap hari Senin kami bergilir pindah-pindah kecamatan di Kudus selama bulan April,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar : Pokoknya Kalau Keluar Rumah Wajib Pakai Masker

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat membagikan masker kepada warga. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Mengenakan kaos bertuliskan ‘Bersama Lawan Corona’ dan ‘Cuci Tangan Terus, Biar Tidak Kena Corona Virus’, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengunjungi sejumlah perkampungan dan pasar di Kota Semarang. Setiap melihat warga yang sedang belanja, tukang becak yang mangkal tanpa memakai masker, Ganjar langsung berhenti dan melakukan edukasi.

Ganjar yang ditemani kawan-kawan gowesernya serta istri tercinta Siti Atikoh, juga membagikan masker secara gratis kepada warga. Dengan gowes, Ganjar keliling kampung-kampung.
“Nganggo masker kabeh (semua harus pakai masker). Pokoke nek metu omah, wajib maskeran (Pokoknya kalau keluar rumah wajib pakai masker,” kata Ganjar memberi imbauan menggunakan mic wireless.

Sambil Ganjar mengedukasi, Atikoh turun dari sepedanya dan membagikan masker kain kepada warga. Beberapa warga berebut untuk mendapat masker dan berdesakan.

“Jangan berdesakan, nanti kebagian semua. Jaga jarak ya, maskernya langsung dipakai. Nanti kalau sudah dipakai, bisa dicuci dan dipakai lagi,” timpal Atikoh.

Baca juga : SMK Jateng Produksi APD, Jika Berlebih Akan Dikirim ke Daerah Lain

Kampung-kampung sempit dan pasar menjadi sasaran Ganjar dan Atikoh untuk mengedukasi warga dan membagikan masker. Ratusan masker kain dibagikan percuma kepada warga.

“Alhamdulillah dapat masker, bisa dipakai untuk melindungi diri. Kemarin-kemarin tidak pakai karena tidak punya,” kata Siti Arofah,50, salah satu warga Ngaglik Lama Semarang.

Awalnya, Arofah tidak tahu bahwa perempuan yang memberinya masker adalah Siti Atikoh. Karena memakai masker, wajah istri orang nomor satu di Jawa Tengah itu tidak terlihat.

“Ternyata bu Atikoh. Seneng sekali melihat pemimpin kami dua-duanya kompak mengedukasi warga. Nanti saya juga akan ikut mengedukasi karena saya aktif di PKK,” ucapnya.

Program bagi-bagi masker memang menjadi rutinitas Ganjar setiap sepedaan. Sambil tak pernah lelah mengedukasi warga, ia membagikan masker kain sumbangan dari berbagai pihak.

Baca juga : Tangani Corona, Pemdes di Semarang Ini Wajib Dicontoh, Apa yang Dilakukan?

“Semoga kesadaran masyarakat untuk pakai masker terus tumbuh. Saya targetkan, 35 juta warga Jateng tertib pakai masker setiap keluar rumah,” ucapnya.

Ganjar sendiri menerangkan, memakai masker merupakan cara mudah untuk menangkal penyebaran virus corona. Dengan memakai masker, jaga jarak dan rajin cuci tangan, maka masyarakat akan terhindar dari virus yang telah menjadi pandemik itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Diminta Cukupi Kebutuhan Masyarakat, Ramayana Kudus Buka Lebih Cepat

0
Karyawan Mall Ramayanan Kudus saat menata kebutuhan pokok untuk persiapan buka kembali. Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Wajah Moch Aly Mas’ad (46) tampak serius saat memberi arahan kepada beberapa orang yang sedang menata kebutuhan pokok di pintu masuk Mall Ramayana Kudus, Rabu (8/4/2020) siang. Ada yang menata meja, sebagian mengangkat puluhan kardus dan mengeluarkan isinya, dan sebagian lagi melakukan bersih-bersih mall.

Dengan menggunakan masker, ia sibuk lalu lalang memastikan persiapan pembukaan mall yang tutup sejak 31 Maret, berjalan sukses. Tak hanya mengarahkan, ia juga tampak ikut membantu menata sembako agar cepat selesai.

Manajer Mall Ramayana Kudus Moch Aly Mas’ad ikut membantu menyiapkan sembako. Foto: Ahmad Rosyidi.

Mepetnya waktu persiapan, membuat lelaki yang siang itu menggunakan polo warna merah agak ketar-ketir. Maka dari itu, wajahnya kemudian begitu sumringah saat semua hal yang dibutuhkan untuk mulai buka, sudah sesuai dengan arahan.

Di sela-sela persiapan buka, pria yang menjabat Manajer Mall Ramayana Kudus itu mengaku dapat permintaan dari Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus untuk buka lebih cepat. Sedianya, mall yang berada di dekat Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus itu tutup mulai 31 Maret dan kembali buka 17 April mendatang.

“Rencana kami buka mulai 17 April 2020. Namun kami buka lebih cepat di tanggal 7 April sesuai anjuran Pemerintah Kudus. Kemarin kami dihubungi Dinas Perdagangan. Mereka mengusulkan untuk segera buka agar masyarakat tidak tambah khawatir,” jelas Pria yang akrab disapa Mas’ad itu.

Selain buka lebih awal, pihak Ramayana juga menyediakan sembako. Itu dilakukan untuk mempermudah warga yang ingin membeli kebutuhan rumah tangga.

Baca juga: Ramayana Kudus Tutup Sementara Mulai 31 Maret

“Sembako yang disediakan seperti gula, beras, minyak, dan kebutuhan pokok lainnya. Rencananya, kami akan menjual sembako hingga kondisi kembali normal,” beber Warga Semarang, Jawa Tengah itu.

Baca juga: Ketersediaan Logistik di Kudus Dipastikan Aman

Sebagai langkah preventif, Ramayana Kudus akan mengikuti aturan pemerintah terkait antisipasi penyebaran Virus Corona, seperti penyediaan hand sanitizer, penggunaan masker bagi karyawan, dan mengatur jarak antar individu. Termasuk memperpendek jam buka mulai pukul 10.00 WIB hingga 18.00 WIB.

“Kami akan selalu mengingatkan karyawan agar jaga jarak dan tidak berkerumun, selalu menjaga kebersihan dan selalu memakai masker,” pungkas Mas’ad.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Kotot Beri Nama Bengkel Cat Mobilnya Sesuai Wasiat Sang Kakek

0
Ekhsan sedang melakukan tahap proses pengecetan bodi mobil. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Ditepi utara Jalan Lingkar Barat, tepatnya di Dukuh Bendaran, Desa Garung Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kudus tampak beberapa mobil sedang terparkir. Di antara mobil tersebut terlihat seoang pria mengenakan kemeja lengan pendek sedang menutup lampu mobil dengan koran. Sedangkan pria satunya lagi mengenakan caping Jawa tampak menyemprot mobil warna silver. Pria tersebut yakni Nor Ekhsan (42) pemilik bengkel cat mobil Sumber Agung.

Di sela aktivitasnya itu, Nor Ekhsan sudi berbagi kisah kepada betanews.id tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, mulai merintis usaha cat mobil sejak tahun 2012. Menurutnya, usaha cat mobil itu sengaja diberi nama Sumber Agung karena wasiat dari mendiang kakeknya.

Salah satu pekerja di bengkel cat mobil Sumber Agung sedang melakukan pendempulan bodi mobil. Foto : Rabu Sipan

“Kakek saya itu meninggalnya usia 95 tahun. Sebelum meninggal beliau memberi wasiat kepada saya, ‘nak, kelakk kalau kamu bisa eker – eker sendiri atau bisa punya usaha sendiri tolong diberi Sumber Agung ya,” ujar pria yang akrab disapa Kotot menirukan ucapan mendiang kakeknya.

Baca juga : Nama Faeza Pondasi Diharap Memberi Tuah Kelancaran Usaha Ari

Setelah dapat wasiat itu, selang enam bulan Kotot membuka usaha cat mobil sendiri, setelah sebelumnya bekerja di bidang yang sama selama lima tahun di Jepara. Usahanya tersebut diberi nama sesuai wasiat eyangnya yakni Bengkel Cat Sumber Agung.

“Saya pribadi tidak mengerti filosofi atau tujuan kakek saya memberi wasiat nama untuk usahaku. Tapi saya percaya, pasti ada harapan dan makna yang baik dibalik nama yang diberikan kakeknya itu,” ungkap Kotot, Sabtu (28/3/2020).

Pria yang dikaruniai satu anak itu mengatakan, awal memulai usaha tidaklah mudah. Karena belum dikenal, sepekan paling ada hanya satu pelanggan saja. Oleh sebab itu selain menerima orderan pengecatan mobil sendiri, dia juga ikut kerja di beberapa bengkel orang lain di Kudus.

“Hal itu saya lakukan selama dua tahun. Setelah itu barulah bengkel cat mobil Sumber Agung mulai dikenal banyak orang,” ungkapnya.

Dia menuturkan, selama menjalankan usahanya tersebut, dirinya tidak mematok harga pasti. Karena menurutnya, biaya pengecatan selalu dibicarakan secara kekeluargaan.

“Yang saya patok harga pasti itu kalau pengecatan full satu mobil. Biasanya saya banderol mulai Rp 2,5 juta. Tapi kalau pengecatan sedikit – sedikit biasanya saya dibayar keiklasan para pelanggan. Yang penting saya tidak rugi saja,” ujarnya.

Baca juga : Dianggap Bisnis Tak Bergengsi, Kini Usaha Terasi Selok Jaya Omzetnya Capai Ratusan Juta Sebulan

Karena harga kekeluargaan itu lanjutnya, kini pelanggannya sudah lumayan banyak. Tidak hanya orang Kudus saja, melainkan juga ada yang datang dari Demak, Jepara, serta Pati.

Dia mengakui, tak jarang ada beberapa pelanggan yang komplain dengan hasil pekerjaannya. Tapi dia selalu melayani dengan hati dan memperbaiki pekerjaannya sesuai dengan apa yang diharapkan para pelanggannya.

“Dengan menerima komplain dan selalu mau memperbaiki saat ada komplai dari pelanggan. Maka pelanggan akan puas dan akan data lagi di lain waktu,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Tak Diizinkan Sekolah Fotografi, Albert Pernah Kabur dari Rumah

0
Albert saat melakukan pemotretan di studio miliknya, Rabu (1/4/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Albert Yakuza (38) tampak sibuk mengarahkan berbagai pose kepada seorang wanita di studio miliknya Albert Home Studio Foto. Dengan kamera di tangan, ia cukup aktif bergerak untuk menyesuaikan objek foto yang dibidik. Sesekali, dilihatlah hasil jepretannya dan mengulangi lagi saat hasilnya dirasa kurang bagus.

Begitulah kegiatan sehari-hari pria yang berkecimpung di dunia fotografi selama 17 tahun itu. Studio foto yang baru dibuka 1 Maret lalu itu, bahkan sudah punya beberapa pelanggan yang sering menggunakan jasanya.

Salah seorang pelanggan Albert Home Studio Foto sedang dirias. Foto: Imam Rosyidi.

Meski usahanya cukup ramai, bapak beranak dua itu pernah tidak mendapatkan restu orang tuanya saat hendak belajar fotografi.

“Sejak kecil memang sudah tertarik dengan fotografi. Jadi selepas SMA, saya ingin sekolah fotografi, tapi orang tua saya tidak setuju,” ungkapnya saat ditemui di studio miliknya yang berada di Kapling Sawahan RT 07 RW 03, Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Rabu (1/4/2020).

Akibat penolakan itu, Albert nekat memutuskan kabur dari rumah. Aksi tersebut akhirnya membuat orang tuanya luluh dan mengizinkannya sekolah fotografi di Jakarta.

“Waktu itu, orang tua menginginkan saya bekerja di perusahaan. Karena saya nggak suka, jadi sempat kabur dari rumah,” bebernya.

Di Jakarta, ia sekolah fotografi selama tujuh tahun. Setelah lulus, ia sempat bekerja di sana, sebelum kembali ke Kudus untuk membuka studio miliknya sendiri.

Baca juga: Albert Home Studio Foto, Siapkan Konsep Kekinian untuk Manjakan Konsumen

Menurutnya, pekerjaan yang sesuai passion akan lebih bisa dinikmati. Oleh sebab itulah Albert belum pernah bekerja di luar dunia fotografi di sepanjang hidupnya.

“Jika bekerja di bidang yang kita sukai, pasti kita akan menikmati. Seperti saat ini, studio foto sedang sepi, tapi saya tetap menikmati,” ujarnya.

Baca juga: Sarat Filosofi, Sangkar Burung Perkutut Akim Berharga Rp 5 Juta

Sejak ada Virus Corona, studionya memang cukup sepi. Bahkan ia tadinya punya 12 job yang semuanya harus ditunda. Walaupun merasa pusing, dia tetap menikmati pekerjannya.

“Saya tetap bersyukur karena masih ada pelanggan yang datang ke studio foto ini,” tukas Albert.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Ojek Colo Tutup, Idho : ‘Ini Bertahan Hidup dengan Sisa-sisa Tabungan’

0
Pangkalan Ojek di Colo yang terlihat sepi sejak ditutupnya wisata religi Makam Sunan Muria. Foto : Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara lalu-lalang kendaraan terdengar di Pangkalan Ojek Muria. Sejumlah orang terlihat sedang ngobrol dengan raut wajah tampak murung di sana. Satu di antaranya adalah Idho Suprastio (34), dia sedang bersantai di pos ojek itu.

Idho begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepad betanews.id tentang kondisi perekonomiannya saat ini. Sudah satu pekan dia tidak bekerja. Sedangkan dua pekan sebelumnya penumpang ojek di kawasan wisata Muria sudah sepi.

“Sudah sepekan ini nggak kerja, mulai bingung ini tidak ada penghasilan lain. Masih mikir angsuran motor, sebentar lagi Lebaran. Menjelang Ramadan biasanya ramai, ini malah nggak kerja,” keluh tukang Ojek Muria itu, Sabtu (4/4/2020).

Baca juga : Jumlah Kedatangan Pemudik di Terminal Kudus Menurun Tajam

Bapak satu anak itu juga menjelaskan, saat menjelang Ramadan biasanya banyak peziarah berdatangan. Sehingga penghasilannya bisa naik hingga dua kali lipat, bahkan lebih. Idho sudah menginginkan semua kembali seperti semula, bisa bekerja dan tidak ada lagi wabah Virus Covid-19.

“Bulan-bulan seperti ini biasanya tukang ojek Muria panen penumpang. Ini ya bertahan hidup dengan sisa-sisa tabungan. Kalau kurang ya utang,” terang warga Desa Colo, RT 03 RW 03, Kecamatan Dawe, Kudus itu.

Satu di antara sejumlah teman Idho yang ada di sana, seorang pria berkumis tebal mengenakan topi sedang duduk terdiam. Dia yakni Sikatno (47), dia menambahkan, jika saat ini perekonomian warga Colo sedang lesu. Khususnya warga yang mata pencariannya di lokasi wisata Muria.

Baca juga : Tolak Pemudik Luar Menawan Dikarantina di Balai Diklat Sonya Warih

“Pedagang tutup, ojek tutup, semua mengeluh dampak virus ini. Semoga segera teratasi dan kembali seperti semula. Ya kita bertahan saja demi menghindari wabah Virus Corona ini,” pungkas tukang ojek Muria sekaligus Ketua RT 05 RW 03 Desa Colo itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Karang Taruna Ngudi Kawruh Adakan Pelatihan Pembuatan Disinfektan

0
Cairan disifektan yang dibuat oleh Karang Taruna Ngudi Kawruh Desa Ketitang Wetang. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, PATI – Pagi itu suasana Balai Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati nampak ramai dengan kedatangan para pemuda desa setempat. Mereka merupakan anggota Karang Taruna Ngudi Kawruh Desa Ketitang Wetan yang akan mengadakan pelatihan pembuatan disinfektan organik. Belasan orang yang ke semuanya lelaki, nampak antusias menyambut mentor dari CV Muara Nusa dan Pembina Karang Taruna, Agus Sujadi (56).

Pelatihan membuat disinfektan yang diadakan oleh Karang Taruna Desa Ketitang Wetan. Foto : Titis Widjayanti

Sebelum pelatihan dimulai, para pemuda saling bergantian menyiapkan bahan-bahan yang dipandu oleh mentor. Setelah semua siap, dua orang mentor akhirnya memulai langkah awal pembuatan disinfektan organik yang dimaksud. Sambil melihat secara cermat, beberapa orang mencatat perbandingan bahan dan yang lain mengabadikan moment foto dan video melalui handphone.

“Bahannya ada texapon, sodium sulfat, soda api, alkohol, garam alkali, daun sirih, lalu air akuades, pewangi pakaian serta pewarna makanan. Nah kalau campuran seperti ini, diusahakan airnya yang dituang, bukan air akuadesnya. Lalu ditambah beberapa bahan. Terus kalau ngaduk, semua larutan itu diaduk dari arah kanan ke kiri. Berbanding terbalik dengan arah jarum jam. Secara hukum kimia seperti itu. Kalau terbalik, ada yang tidak larut. Tetapi adonannya naik, misal disinfektan ini, bisa berbuih banyak, tapi tidak larut adonannya. Tidak tercampur,” papar M Adi Yunus Al-fatih (35), salah satu mentor pelatihan kepada betanews.id, Minggu (5/3/2020).

Baca juga : Perangi Covid-19, Rumah Warga Ketitang Wetang Kembali Disemprot Disinfektan

Sementara salah satu mentor, Ujang Abdul Na’im (26) yang merupakan warga asli Desa Ketitang Wetan masih mengaduk campuran bahan-bahan di ember hingga jadi. Setelah itu, larutan didiamkan beberapa jam hingga air berwarna merah muda itu menjadi bening dan siap untuk digunakan.

“Kalau biasanya, disinfektan yang akhir-akhir ini digunakan masyarakat secara umum itu berbahaya. Itu karena bahan-bahan yang digunakan memakai banyak bahan kimia. Misal klorin, itu untuk benda nggak papa, tapi untuk tubuh manusia itu berbahaya. Bisa jadi kalau kulitnya sensitif, ya alergi. Semacam iritasi. Terus untuk yang punya penyakit paru-paru dan asma juga berbahaya. Karena itu baunya juga menyengat. Bisa memperparah malah. Sedangkan, kita membuat obat penawar semacam ini kan gunanya untuk pembunuh kuman atau virus. Nah, kalau tadi pakai garam, pewarna makanan, terus rebusan daun sirih sama pewangi pakaian yang memang aman untuk manusia,” papar Adi lagi.

Sementara itu, menurut pengakuan Agus, kegiatan siang itu memang salah satu program yang dicanangkan karang taruna dalam merespon wabah Covid-19. Selain itu, lelaki bertopi hitam itu menambahkan, jika langkah tersebut diambil sebagai bentuk kewaspadaan terhadap mewabahnya virus tersebut dengan cara yang aman.

Baca juga : Ini Bahan Antiseptik Racikan Hartatik yang Dipakai di Bilik Sterilisasi

Lalu, ia juga berharap ke depan program semacam ini tidak berhenti ketika wabah Covid-19 usai. Akan tetapi, bisa berlanjut menjadi salah satu produk ekonomis yang bisa diproduksi bahkan dipasarkan ke masyarakat umum.

Editor : Kholistiono

- advertisement -