Beranda blog Halaman 1868

Tangani Corona, Pemdes di Semarang Ini Wajib Dicontoh, Apa yang Dilakukan?

0
Ganjar Pranowo meninjau pembuatan tempat karantina di Desa Lerep, Kabupaten Semarang. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KAB.SEMARANG – Gedung Serba Guna Karto Amijoyo Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Rabu (8/4/2020) siang tampak berantakan. Gulungan kepang dan potongan bambu memenuhi ruang gedung tersebut. Sementara sejumlah orang terlihat merangkai bambu yang akan dijadikan bilik untuk mengkarantina para pemudik desa setempat.

Kegiatan itu merupakan bagian dari upaya Pemerintah Desa Lerep untuk mengantisipasi dan mencegah penularan Covid-19. Dana pembuatan bilik-bilik karantina bersumber dari dana desa. Dana yang sedianya akan digunakan untuk pembangunan fisik, direalokasi ke penanggunalangan wabah.

Ganjar Pranowo dicek suhu tubuhnya saat berkunjung ke Desa Lerep. Foto: Ist

Kelapa Desa Lerep, Sumariyadi menerangkan, saat ini pihaknya sedang membahas beberapa pos anggaran yang hendak digeser untuk penanganan Covid-19. Pembahasan itu dilakukan Pemdes bersama Badan Permusyawaratan Desa.

“Jadi alokasi anggaran desa yang sedianya untuk pembangunan fisik dialihkan untuk pembangunan tempat karantina. Kami juga akan mengalokasikan anggaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saat terjadinya wabah corona saat ini,” ujar Sumariyadi, saat menerima kunjungan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Baca juga: Pemegang Kartu Prakerja Bisa Dapat Rp 3,5 Juta, Ganjar: ‘Yang Kena PHK Buruan Daftar!’

Dia menjelaskan, tempat karantina ada dua gedung yang tengah disiapkan, yakni balai desa dan gedung sekolah dasar. Di balai desa, sebanyak 14 bilik isolasi disiapkan yang nantinya dikhususkan untuk perempuan. Sementara Karantina di gedung sekolah dasar disiapkan khusus untuk para pria yang berjumlah 60 ruang isolasi.

Ratusan warga Desa Lerep, kata Sumariyadi, kini tengah mengadu nasib di tanah ranatu. Mereka ada yang berada di dalam negeri dan luar negeri. Setiap warga desa yang memutuskan untuk mudik tahun ini, harus bersedia dikarantina selama dua pekan.

“Saat ini sudah ada 19 warga kami yang datang dari perantauan. Mereka kini tengah diisolasi secara mandiri di rumahnya masing-masing,” katanya.

Baca juga: Warga Jateng Dijatah Rp 200 Ribu per Bulan Selama Wabah Corona

Melihat kesigapan Pemdes Lerep, Ganjar mneyebut langkah taktis yang dilakukan pemdes setempat wajib dicontoh desa di seluruh Indonesia. Karena, selain kekompakan pemerintahan, aparat dan masyarakat dalam penanganan Covid-19, relokasi dan realokasi anggaran desa sudah dolakukan.

Editor: Suwoko

- advertisement -

SMK Jateng Produksi APD, Jika Berlebih Akan Dikirim ke Daerah Lain

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menunjukkan masker hasil karya siswa-siswi SMK. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Siswa-siswi SMK di Jawa Tengah memanfaatkan masa belajar di rumah dengan memproduksi alat pelindung diri (APD) dan masker. Kegiatan tersebut dilakukan untuk membantu pemerintah dalam mencukupi kebutuhan tenaga medis guna penanggulangan penyebaran Covid-19 di Jateng.

Hasil produksi APD dan masker oleh siswa-siswi SMK tersebut dikirim Dinas Pendidikan dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Jateng ke Wisma Perdamaian, hari ini (8/4/2020). Ada sebanyak 2500 APD dan 2.150 masker yang diterima langsung Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Ganjar Pranowo (pakai helm) melihat APD hasil produksi siswa-siswi SMK di Jateng. Foto: Ist

Ketua MKKS Jateng Samiran menjelaskan, APD dan masker tersebut diproduksi oleh siswa-siswi jurusan tata buasana. Modal yang digunakan untuk produksi APD dan masker sebesar Rp 70 juta. Dana tersebut bersumber dari dana tanggap bencana di MKKS.

Baca juga: Perusahaan Leasing Harus Taati Aturan, Ganjar: ‘Jangan Bikin Masyarakat Lebih Susah’

“Kami berkoordinasi dan menggerakkan mereka untuk membantu penanganan Covid-19 di Jateng,” ujar Samiran saat penyerahan APD dan Masker.

Dia mengatakan, kegiatan ini diupayakan untuk pemeruhan kebutuhan tenaga medis di Jawa Tengah. Namun, jika kebututuhan di wilayah ini mencukupi, hasil produksi siswa-siswi SMK ini bisa dikirim ke daerah lain dalam menganggulangi penyebaran virus corona.

Baca juga: Pemegang Kartu Prakerja Bisa Dapat Rp 3,5 Juta, Ganjar: ‘Yang Kena PHK Buruan Daftar!’

“Jika di Jateng sudah terpenuhi, kami berinisiatif untuk membantu daerah lain. Ada beberapa daerah, misal dari Kalimantan, Palembang, Jakarta, meminta kepada kami,” ujar Samiran.

Dalam kesempatan yang sama, Ganjar memberikan apresiasi yang tinggi kepada siswa-siswi SMK di Jateng yang turut andil dalam penanganan Covid-19. Mereka, katanya, adalah siswa-siswi yang terampil menjahit dan mempraktikkan ilmunya.

Baca juga: Warga Jateng Dijatah Rp 200 Ribu per Bulan Selama Wabah Corona

“Saya melihat hasilnya juga bagus. Saya bangga, selain mereka praktik ilmu yang didapat, juga peduli dalam penanganan penyebaran virus corona,” tutur Ganjar.

Ganjar mengaku trenyuh saat ada inisiatif untuk mengirim hasil APD dan masker itu ke daerah lain, ketika kebutuhan di Jateng terpenuhi. Dirinya sangat sepakat, jika hasil produksi bisa dikirim ke wilayah episentrum corona, yakni di DKI Jakarta, Tangerang, Bogor, Bekasi dan daerah lain.

Baca juga: 1,8 Juta Warga Jateng Akan Terima BLT, Anggaran Rp 1,4 T Sudah Disiapkan

Dia mendorong agar para siswa memanfaatkan peluang yang ada saat ini. Mereka bisa memproduksi APD dan masker untuk dijual. Selain mempraktikkan ilmu yang didapat, mereka juga bisa belajar berwirausaha.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Pemkab Kudus Gelontorkan Rp 48 Miliar untuk Hadapi Corona

0
Pengecekan logistik di ADA Swalayan Kudus, oleh Plt Bupati Kudus H.M Hartopo dan Forkopimda, Kamis (2/4/2020). Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus akan menggelontorkan dana sebesar Rp 48 miliar untuk menghadapi pandemi Covid-19. Anggaran ini difokuskan pada penanganan kesehatan sebesar Rp 16,5 miliar, dampak ekonomi Rp 5,5 miliar, dan penyediaan jaring pengaman sosial Rp 26 miliar.

Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Kudus Eko Djumartono menjelaskan, dana tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2020. Rinciannya, alokasi penanganan kesehatan 16,5 miliar diambilkan dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) sebesar Rp 15,3 miliar dan pengalihan dana kegiatan di tiga Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sebanyak Rp 1,2 miliar.

Kepala DPPKAD Kabupaten Kudus Eko Djumartono saat ditemui di ruangannya, Rabu, (8/4/2020).

Sedangkan untuk penanganan dampak ekonomi dan penyediaan jaring pengaman sosial, bersumber dari dana tidak terduga dalam APBD tahun 2020.

“Ada pergeseran anggaran di tiga OPD untuk tambahan penanganan Corona. Yakni dari Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH), Dinas Perhubungan (Dishub), dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar),” beber Eko saat ditemui di ruangannya, Rabu, (8/4/2020).

Baca juga: Pemegang Kartu Prakerja Bisa Dapat Rp 3,5 Juta, Ganjar: ‘Yang Kena PHK Buruan Daftar!’

Untuk anggaran penanganan dampak ekonomi, lanjut Eko, dana tersebut akan difokuskan kepada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kota Kretek. Sedangkan dana jaring pengaman sosial akan diberikan ke tukang ojek dan pedagang kaki lima (PKL) yang terkena imbas Virus Corona.

“Untuk teknis nanti yang akan mengatur dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kudus dan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB),” jelasnya.

Di tempat terpisah, Plt Bupati Kudus HM Hartopo memberi syarat bagi UMKM yang akan mendapatkan bantuan. Kriterianya adalah usaha masih jalan, tapi mempunyai pinjaman, atau tidak mempunyai pinjaman, tapi usahanya berhenti karena adanya Virus Corona.

Baca juga: Ketersediaan Logistik di Kudus Dipastikan Aman

Kemudian untuk jaring pengaman sosial, akan disalurkan kepada 48 ribu keluarga yang terkena imbas Covid-19. Anggaran tersebut bisa digunakan untuk tiga bulan.

“Kita perlu validasi data. Ini masih sinkronisasi dulu dengan Dinsos dan Disnaker (Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi dan UKM Kudus),” tukas Hartopo.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Desa Ternadi Kudus Berlakukan ‘Lockdown’

0
Warga yang memasuki Desa Ternadi terlebih dahulu disemprot untuk mengantisipasi penularan Covid-19. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Wabah pandemi Covid-19 semakin membuat warga Kudus resah. Dari warga yang berdomisili di kota hingga yang tinggal di desa khawatir dengan virus yang berasal dari Cina tersebut. Satu di antaranya Desa Ternadi, Kecamatan Dawe, yang berlakukan ‘lockdown’ untuk mencegah penyebaran virus corona.

Kahono, Pj Kepala Desa Ternadi menjelaskan, lockdown yang diberlakukan itu tidak seperti yang pikirkan banyak orang. Lockdown di desa yang dipimpinnya itu hanya diberlakukan untuk mereka yang berasal dari lain daerah yang datang ke wahana wisata, kafe, serta tempat ziarah. Hal itu dilakukan sebagai langkah antisipasi penyebaran virus corona di Desa Ternadi.

Gapura Masuk Desa Ternadi, Kecamatan Dawe, Kudus. Di desa ini memberlakukan ‘lockdown’ untuk antisipasi corona. Foto : Rabu Sipan

“Sebenarnya imbauan lockdown tempat wisata di Desa Ternadi itu sudah lama. Tapi orang lain daerah itu masih nekat datang ke desa kami. Makanya terus kami pasang portal,” ujar Kahono kepada betanews.id.

Baca juga : Sempat Ditolak, Jenazah PDP Corona Akhirnya Bisa Dimakamkan di Loram Wetan

Sebelum diberi portal, lanjutnya, banyak orang lain desa berdatangan ke Desa Ternadi untuk nongkrong di kafe, datang ke bukit pandang dan wahana wisata lainnya. Hal itu mengakibatkan keresahan warga desa setempat. Apalagi, saat ini lagi ada pagebluk corona. Oleh sebab itu diputuskan setiap jalan masuk desa dipasangi portal.

Dia menuturkan, portal yang dipasang di akses jalan masuk desa itu dijaga bergantian oleh warga selama 24 jam. Sehingga siapa saja yang akan masuk ke desanya itu akan terpantau. Serta tahu maksud dan tujuan orang tersebut datang ke desa penghasil kopi tersebut.

“Kami memang melarang orang lain desa datang ke wahana wisata. Namun, kami tidak melarang orang lain desa yang akan bertamu ke rumah warga Desa Ternadi,” paparnya.

Kahono menuturkan, setiap warga desa lain yang akan bertamu di desanya akan diberhentikan di portal serta ditanya keperluannya. Setelah jelas maksud kedatangannya, orang tersebut akan disemprot disinfektan sebelum memasuki desa.

Baca juga : Kasus Baru, 53 Orang Positif Covid-19 Usai Rapid Test di Jateng

“Yang disemprot disinfektan itu tidak hanya warga desa lain saja. Namun juga warga setempat yang pulang dari luar, entah itu pulang kerja atau dari bepergian jauh pasti disemprot sebelum masuk desa,” ungkapnya.

Terlihat dua akses jalan masuk Desa Ternadi di pasang portal. Satu portal berada di jalan masuk desa dari arah Desa Piji, Kecamatan Dawe, Kudus. Serta yang satunya lagi berada di jalan yang menghubungkan antara Desa Ternadi dan Desa Soco, Kecamatan Dawe, Kudus.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Lewati Terminal Kudus, Penumpang Bus Disterilkan

0
Tahun lalu, pemudik yang masuk Terminal Induk Jati Kudus dicek suhu badannya. Foto : Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang perempuan paruh baya di sebuah ruangan tampak sedang memantau CCTV di sekitar Terminal Induk Tipe A Jati Kudus. Sambil membuka kertas yang ada di depannya, dia sudi berbagi cerita kepada betanews.id terkait pemudik di Kudus. Dirinya mengaku salut dengan pemudik Kudus yang antusias ingin tahu tentang kesehatannya.

Eko Emi Gestarianti (54) menjelaskan, setelah dites kesehatan, pemudik diberi imbauan agar dirumah selama 14 hari. Menurut koordinator terminal itu, dari hasil tes belum ada yang menunjukan tanda-tanda gejala Virus Covid-19. Tetapi dia tetap mengantisipasi hal tersebut.

“Semua pemudik tidak ada tanda-tanda gejala, suhu normal 35 hingga 36 derajat celsius. Tetap saya imbau kepada pemudik untuk mengkarantina diri selama dua pekan. Kami tetap waspada karena ada yang positif Covid-19 tanpa gejala,” terang perempuan yang akrab disapa Emi itu, Selasa (7/4/2020).

Baca juga : Jumlah Kedatangan Pemudik di Terminal Kudus Menurun Tajam

Dia juga menambahkan, jika semua penumpang yang datang akan diperiksa dan disterilkan. Penumpang yang melewati terminal itu di antaranya dari Rembang, Jepara, Pati, Demak dan Kudus. Dirinya juga menyediakan jumlah data pemudik dari sejumlah kota tersebut.

“Data pemudik yang masuk kemudian kami pilah per kota. Jadi data yang masuk ini kami distribusikan ke wilayah mereka masing-masing agar ada tindak lanjut,” tambahnya.

Demi mengantisipasi penyebaran Virus Covid-19, lingkungan terminal juga di semprot menggunakan disinfektan sehari sekali. Tak hanya lingkungan, bus yang datang juga disemprot.

Baca juga : Tolak Pemudik Luar Menawan Dikarantina di Balai Diklat Sonya Warih

“Selain menyemprot lingkungan dan bus, kami juga berusaha menjaga imun dan kesehatan petugas. Setiap pukul 10.00 WIB, kami wajibkan untuk berjemur selama 15 menit. Kami juga difasilitasi vitamin untuk pegawai, jadi setiap hari Jumat wajib minum vitamin,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Albert Home Studio Foto, Siapkan Konsep Kekinian untuk Manjakan Konsumen

0
Albert saat melakukan pemotretan di studio miliknya, Rabu (1/4/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Bunyi jepretan kamera cukup sering terdengar dari sebuah studio foto di Kapling Sawahan RT 07 RW 03, Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Rabu (1/4/2020). Rupanya, di tempat itu sedang ada pemotretan wanita bergaun hitam yang dilakukan oleh pemilik Albert Home Studio Foto, Albert Yakuza (38).

Setelah mengabadikan berbagai pose, Albert kemudian mendekati wanita tersebut untuk menunjukkan hasil kerjanya. Pengambilan foto siang itu selesai setelah melakukan beberapa pose ulang yang dipandang kurang berhasil.

Albert menunjukkan hasil pemotretan kepada konsumen di studio miliknya, Rabu (1/4/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

Sambil memindahkan hasil jepretan ke komputer untuk diolah, Albert lantas menjelaskan, di studio fotonya itu ada sembilan konsep jepretan yang bisa dipilih konsumen. Beberapa konsep itu seperti, rock and roll, street outdoor, dan vintage.

“Yang paling banyak digunakan itu vintage,” beber bapak dua anak itu.

Soal harga, foto keluarga dihargai Rp 150 ribu, pre wedding Rp 250 ribu, maternity Rp 150 ribu, couple Rp 125 ribu, single Rp 80 ribu, dan baby and kids Rp 100 ribu.

“Selain itu saya juga menerima jasa foto produk, dan harganya menyesuaikan jumlah dan tingkat kesulitan. Ada di kisaran Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu,” rincinya.

Baca juga: Produksi Masker, Abyadl Konveksi Tidak Ada Niatan Cari Untung dari Pandemi Corona

Pria yang berkecimpung di dunia fotografi selama 17 tahun ini mengaku mulai membuka jasa pembuatan video. Namun, pengerjaanya masih bekerjasama dengan pihak lain.

“Saya merasa masih butuh belajar, karena saya juga perlu mengembangkan dan berinovasi di bidang ini. Saya juga menerima job video, tetapi bekerjasama dengan tim,” katanya.

Baca juga: Dirikan Usaha, Marwoto Ingin Ajarkan Filosofi Gusjigang pada Santri

Di sisi lain, wanita yang baru saja menggunakan jasanya, Artita Ayu Pratiwi (19) mengaku puas dengan hasil foto di Albert Home Studio Foto. Bahkan, ia sudah tiga kali datang ke tempat tersebut untuk foto berbagai keperluannya.

“Hasilnya bagus. Saya merasa puas dengan hasil foto Koh Albert. Ini tadi saya foto dengan gaun pesta,” pungkas warga Desa Mlati Norowito RT 02 RW 5, Kecamatan Kota Kudus itu.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Pemegang Kartu Prakerja Bisa Dapat Rp 3,5 Juta, Ganjar: ‘Yang Kena PHK Buruan Daftar!’

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pandemi virus corona berdampak begitu nyata pada sektor ekonomi di Indonesia, tak terkecuali di Jawa Tengah. Hingga kini ada puluhan ribu buruh di Jateng terkena PHK dan dirumahkan. Pemerintah telah mengeluarkan Kartu Prakerja sebagai solusi.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta kepada para buruh yang kena pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dirumahkan tetap tenang. Mereka bisa memanfaatkan program dari Pemerintah Pusat untuk mendapatkan Kartu Prakerja.

“Untuk teman-teman yang terkena PHK atau dirumahkan bisa memanfaatkan program dari pemerintah ini. Silakan mendaftar untuk mendapatkan Kartu Prakerja. Teman-teman buruh bisa mendaftar di Dinas Keternagakerjaan kabupaten/kota, atau Dinas Ketenagakerjaan Provinsi,” ujar Ganjar, Selasa (7/4/2020).

Baca juga: Perusahaan Leasing Harus Taati Aturan, Ganjar: ‘Jangan Bikin Masyarakat Lebih Susah’

Ganjar menjelaskan, bagi pemegang kartu akan mendapat sejumlah fasilitas pelatihan selama empat bulan. Selama pelatihan tersebut mereka akan menerima fasilitas senilai Rp 3.550.000.

Dari nilai total tersebut, kata Ganjar, Rp 1 juta di antaranya akan digunakan untuk anggaran pelatihan. Sedangkan Rp 2,4 juta di antaranya akan diberikan kepada pemegang Kartu Prakerja sebagai uang saku selama pelatihan dan Rp 150 ribu untuk uang survei.

Baca juga: Warga Jateng Dijatah Rp 200 Ribu per Bulan Selama Wabah Corona

Untuk bisa mendapatkan Kartu Prakerja, Ganjar mengatakan mereka harus berkewarganegaraan Indonesia, berusia minimal 18 tahun dan tidak sedang mengikuti pendidikan formal.

Provinsi Jawa Tengah, katanya, mendapat kuota Kartu Prakerja untuk 421.705 orang. Total anggaran yang disiapkan untuk pelatihan bagi para buruh yang di-PHK atau dirumahkan sebesar Rp 1,49 triliun.

Baca juga: 1,8 Juta Warga Jateng Akan Terima BLT, Anggaran Rp 1,4 T Sudah Disiapkan

“Sementara hingga kini baru ada 19 ribu orang yang mendaftar. Peluang masih terbuka lebar, karena yang mendaftar baru 5 persen. Silakan teman-teman buruh segera mendaftar. Ini harus dimanfaatkan,” tutur Ganjar.

Ganjar menambahkan, hingga 6 April 2020 tercatat sebanyak 24.200 karyawan terkena PHK dan dirumahkan akibat lesunya kegitan industri. Di Jateng terdapat 191 perusahaan yang merumahkan dan mem-PHK karyawannya. Perusahaan tersebut memiliki total karyawan sebanyak 148.791 orang.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Mif Jahit dan Servis Terpal Punya Omzet Capai Rp 1 Juta per Hari

0
Miftahudin sedang menyelesaikan pesanan terpal. Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, PATI  – Jalan Pantura Pati-Kudus siang itu dirajai oleh truk-truk besar dan mobil pribadi. Bisingnya kendaraan yang lewat di sekitar Desa Margorejo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, tak mampu disaingi deru mesin jahit yang dioperasikan Miftahudin (30) di seberang jalan.

Seperti yang diakuinya, Pria yang punya usaha pembuatan dan servis terpal ini memang tak pernah memusingkan kondisi tersebut. Ini tampak saat ia lebih memilih menyibukkan diri dengan pesanan jahitan terpal berbahan karet yang diterimanya.

Miftahudin sedang menyelesaikan pesanan terpal. Foto: Titis Widjayanti.

Lelaki asli Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus ini mengatakan, usaha ini sudah dimulainya sejak 2013. Kemudian, ia mulai membuka sendiri jasa tersebut pada 2019 di area Pati dengan nama Mif Jahit & Servis Terpal.

“Dulu dari usia 22 tahun sudah kerja di Karya Deklit dan Terpal milik Haji Syahroni di Jekulo, Kudus. Terus mulai tahun 2019, buka sendiri di sini,” papar Miftah saat ditemui, Rabu (25/3/2020).

Di tempatnya, bapak dua anak ini bisa menerima pesanan terpal dari kain, plastik, kanvas, dan karet. Dari jenis itu, yang paling susah dikerjakan adalah terpal karet dan kanvas.

“Sementara ini, kerjaan paling banyak datang dari dari truk-truk yang menyervis terpalnya. Pelanggan dari pabrik juga banyak. Ini lagi mengerjakan pesanan terpal berbahan karet dari Bulog sebanyak 200 lembar,” beber pria yang pernah mengikuti pelatihan menjahit di BLK Kudus itu.

Baca juga: Baru Rilis, Peci dari Karung Goni ini Laris Manis di Pasaran

Untuk harga, lanjut dia, harga servis di tempatnya sesuai dengan tingkat kerusakan terpal. Sedangkan untuk pembuatan, tergantung jenis bahannya. Kalau sepi, sehari ia cuma mendapatkan Rp 50 ribu dan kalau ramai bisa sampai Rp 1 juta.

“Ramai tidaknya itu tergantung musim. Yang paling ramai kalau musim penghujan. Truk-truk yang pakai terpal banyak menyervis atau membuat terpal di sini,” pungkas Miftah.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Sempat Ditolak, Jenazah PDP Corona Akhirnya Bisa Dimakamkan di Loram Wetan

0
Camat Jati Andreas Wahyu saat ditemui di rapat koordinasi penanganan Virus Corona di Balai Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Selasa (7/4/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID – KUDUS – Jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) Corona di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, yang sempat ditolak warga akhirnya bisa dimakamkan di Desa Loram Wetan.

Penolakan ini awalnya dilakukan oleh pengelola makam dengan dalih lokasi kuburan tersebut bersifat khusus. Aksi ini makin kuat saat warga sekitar juga keberatan dengan pemakaman tersebut. Sebab menurut mereka, warga tersebut bukan asli Loram Kulon.

Kejadian ini dibenarkan oleh Camat Jati Andreas Wahyu saat ditemui di rapat koordinasi penanganan Virus Corona di Balai Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Selasa (7/4/2020).

Dalam penjelasannya, pasien PDP itu meninggal di RSUD dr Loekmono Hadi pada Sabtu, 4 April 2020 sekitar pukul 07.20 WIB. Saat hendak dikubur di makam, warga setempat menolaknya.

“Jadi di sana tempat pemakaman keluarga. Meski telah diwakafkan secara lisan, ahli waris tidak memperbolehkan ada PDP yang dimakamkan di sana,” terangnya.

Baca juga: Risau Ada Penolakan Pemakaman Jenazah Covid-19, Ganjar : ‘Mereka Bukan Musuh’

Mendengar penolakan itu, pihaknya melacak alamat asli sesuai dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Sesuai indentitas, jenazah beralamatkan di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati.

“Jenazah PDP akhirnya bisa dimakamkan di Loeam Wetan sesuai dengan tata laksana pemulasaraan jenazah Covid-19,” terangnya.

Menurutnya, protokol pemakaman sudah diatur Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Jadi, warga tak perlu khawatir akan keamanan dan kesehatannya, karena jenazah yang sudah dikebumikan tidak akan menularkan virus.

“Semua prosesnya sudah dipastikan aman. Warga tak perlu khawatir,” tegasnya.

Baca juga: Alasan Keselamatan, Warga Colo Tolak Karantina Pemudik di Graha Muria

Untuk mengantisipasi kejadian serupa tidak terjadi lagi, Andreas bersama Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Jati, telah menyiapkan berbagai langkah preventif. Seperti memberikan imbauan dan edukasi kepada masyarakat secara daring di grup WhatsApp maupun tatap muka mengenai pandemi Covid-19. Harapannya, kejadian serupa tidak terulang lagi.

“Kita akan kuati lagi bersama pemerintah desa tentang hal ini,” tutup Andreas.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Ganjar: Begitu Ramadan Tiba Segeralah Bayar Zakat, Tapi untuk Tarawih Jangan Dulu

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (kiri) bersama Ketua MUI Jateng Ahmad Daroji memimpin rapat, Selasa (7/4/2020). Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jateng meminta masyarakat untuk segera membayar zakat begitu tiba awal Ramadan. Baik zakat fitrah maupun zakat mal diharap segera dikeluarkan untuk jaring pengaman sosial dan penanganan Covid-19.

Hal tersebut nyatakan Ganjar usai rapat koordinasi pembahasan ibadah bulan Ramadan dan Idul Fitri 1441, di Kantor Gubernur Jateng, Selasa (7/4/2020). Rapat tersebut juga dihadiri perwakilan ulama dan ormas Islam se-Jawa Tengah.

“Dalam rapat tadi kami bersepakat untuk mendorong masyarakat membayarkan zakat begitu masuk bulan Ramadan. Baik zakat fitrah maupun zakat mal kami harap segera ditunaikan di awal. Ini akan sangat membantu masyarakat saat dalam kondisi sosial di tengah wabah Covid-19,” ujar Ganjar.

Baca juga: MUI Jateng Larang Masjid Selenggarakan Salat Jumat

Dia mengatakan, Kementrian Agama (Kemenag) RI telah menerbitkan surat edaran Nomor 6 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1441 H di Tengah Pandemi Covid-19. Surat itulah yang akan menjadi pedoman pelaksanaan ibadah di Jawa Tengah.

“Namun, karena banyak ormas Islam, MUI Jateng tadi mengundang perwakilan olama dan pengurus ormas. Jadi ini bagus sekali, karena MUI yang bisa menerjemahkan surat edaran dari Kemenag RI. Kami ingin semua memiliki pemahaman kolektif dalam pelaksanaan ibadah di bulan Ramadan dan Idul Fitri,” ungkap Ganjar.

Baca juga: MUI Jateng: Salat Jumat Tetap Boleh di Masjid, Pengajian Disetop

Selain imbauan untuk menyegerakan pelaksanaan zakat, dalam rapat tersebut, kata Ganjar, juga ada imbauan pada masyarakat untuk mengumandangkan pembacaan ayat suci al-Quran di masjid-masjid. Pembacaaan Ayat Suci diminta untuk dilantunkan orang, bukan dari kaset atau flashdisk. Pembacaan Ayat Suci itu diminta dilakukan dari awal Ramadan hingga menjelang Idul Fitri, agar gaung bulan puasa terasa di tengah masyarakat.

“Ini hanya untuk pembacaan Ayat Suci ya, kalau penyelenggaraan Tarawih, pesantren kilat, takbir keliling atau kegiatan lain jangan dulu, ini sesuai surat edaran dari Kemenag RI,” katanya.

Baca juga: Akibat Corona, Ganjar: ‘Seluruh Sekolah di Jateng Mulai Senin Diliburkan!’

Sementara itu, Ketua MUI Jateng Ahmad Daroji menyatakan masing-masing perwakilan ulama dan ormas sudah menyampaikan pendapat. Dalam pertemuan ada beberapa hal yang belum menjadi keputusan bulat. Dalam sepuluh hari ke depan, perwakilan ormas diberi waktu untuk berpikir.

“Dari Pemerintah Pusat memang diimbau agar salat Tarawih dan salat Idul Fitri ditiadakan. Dalam pertemuan ini belum ada kata sepakat secara bulat. Kami akan bertemu lagi sepuluh hari ke depan untuk membahas ini lagi,” katanya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Jusuf Kalla Akan Serahkan Bantuan 50 Ribu Karbol untuk Masjid Se-Jateng

0
Penyerahan karbol secara simbolik kepada Sekretaris PW DMI Jateng, Multazam Ahmad di Masjid Agung Jawa Tengah. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Dewan Masjid Indonesia (DMI) akan mendistribusikan 50 ribu karbol ke masjid yang tersebar di seluruh Jawa Tengah, sebagai langkah preventif penyebaran Covid-19.

Sekretaris Pimpinan Wilayah (PW) DMI Jawa Tengah, Multazam mengatakan, bantuan dari Pimpinan Pusat (PP) DMI ini akan datang dalam dua tahap. Rencananya, Ketua Umum PP DMI Muhammad Jusuf Kalla akan hadir di Semarang, Rabu, (8/4/2020), untuk menyerahkan bantuan tersebut.

“Sekarang sudah ada 25 ribu karbol yang datang, sisanya nanti 25 ribu lagi dikirim pada hari Rabu. Insya Allah Pak JK datang,” katanya, Senin (6/4/2020).

Penyerahan karbol secara simbolik kepada Sekretaris PW DMI Jateng, Multazam Ahmad di Masjid Agung Jawa Tengah. Foto: Ist.

Bantuan ini, lanjut dia, sebagai bentuk kepedulian DMI dalam menghadapi Virus Corona. Apalagi, masjid menjadi salah satu tempat yang sering dikunjungi masyarakat, baik dalam peribadatan atau kegiatan sosial keagamaan.

“Ini bentuk kepedulian dari Dewan Masjid Indonesia untuk masjid yang ada di Jawa Tengah,” ungkapnya.

Baca juga: Lawan Pedagang Nakal, Ganjar Siapkan Produksi Masker Rp 3 Ribuan

Multazam menjelaskan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pimpinan DMI di kabupaten/kota se Jateng untuk secepatnya mengambil bantuan tersebut.

“Bantuan diambil oleh masing-masing daerah untuk dibagikan ke masjid yang telah didata sebelumnya,” katanya.

Di sisi lain, pihaknya juga berterimakasih kepada pihak-pihak tertentu yang sebelumnya sudah membantu penyemprotan disinfektan di masjid, pemberian gel pembersih tangan praktis, dan lain sebagainya.

“Intinya tidak masalah dapat dari sini (DMI) dan juga dari pihak lain. Saya malah merasa senang kalau banyak yang memperhatikan masjid,” tuturnya.

Baca juga: Terima Bantuan Alat Medis dari Kagama, Ganjar : ‘Ini Sangat Menolong’

Ia juga mewanti-wanti masyarakat untuk selalu melakukan langkah-langkah pencegahan yang sudah dianjurkan pemerintah dan mengamankan masjid dari adanya kemungkinan Virus Corona.

“Kalau bisa bergerak serempak se Jawa Tengah, insya Allah kita aman. Namun yang tak kalah penting, tumbuhnya kesadaran untuk menjaga masjid tetap bersih dan nyaman,” tutup Multazam.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Kasus Baru, 53 Orang Positif Covid-19 Usai Rapid Test di Jateng

0
Ilustrasi petugas medis di sebuah rumah sakit di Semarang sedang melakukan simulasi penanganan Corona. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Sebanyak 53 orang dinyatakan positif Covid-19 usai dilakukan rapid test. Hasil tersebut diketahui setelah Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah melakukan tes terhadap lebih kurang 6.200 warga di seluruh wilayah provinsi ini.

Kepala Dinkes Jawa Tengah dr Yulianto Prabowo mengatakan, jumlah positif Covid-19 tersebut merupakan hasil tes 3.500 orang, dari total 6.200 orang di seluruh Jawa Tengah. Sedangkan hasil sekitar 3.000 orang lainnya belum dilaporkan.

Baca juga: Rapid Test Sudah Tiba di Jateng, ODP Jadi Prioritas

“Total 53 orang yang dinyatakan positif Covid-19 ini tersebar di seluruh wilayah di Jawa Tengah,” ujar Yulianto, Selasa (7/4/2020).

Ditanya terkait jumlah orang yang dinyatakan positif itu apakah ada dari kalangan tenaga medis, Yulianto menjawab ada. Namun pihaknya belum bisa menyebutkan secara rinci jumlahnya.

“Ya (tenaga medis) yang kena ada. Namun kami belum rilis jumlah tenaga medis yang kena. Karena baru kita verifikasi lagi. Jadi positifnya itu, karena pas bekerja, merawat terus tertular, atau mengikuti suatu kegiatan. Contohnya mengikuti seminar kena, itu beda dengan apabila pas merawat pasien. Semua ini baru kita pilah-pilah,” tutur Yulianto.

Baca juga: Di Jateng, Prioritas Rapid Test Covid-19 Bakal Dilakukan di Dua Wilayah

Data hasil rapid test tersebut dinyatakan Yulianto merupakan kasus baru. Dengan rapid test ini pihaknya bisa melakukan upaya untuk mendeteksi sejak awal paparan virus sebelum menyebar lebih luas.

Provinsi Jawa Tengah, katanya, mendapatkan 8.400 alat rapid test. Dengan alat tersebut, tes bisa dilakukan secara cepat, termasuk hasilnya. Alat ini telah disebar ke seluruh rumah sakit di Jawa Tengah, dan dikhususkan untuk orang dalam pengawasan (ODP).

“Dengan hasil tes cepat ini diharapkan penyebaran virus bisa dicegah sedini mungkin. Masyarakat bisa menjaga jarak dengan orang yang dinyatakan positif, tapi jangan lupa selalu mengenakan masker dan rajin cuci tangan,” tuturnya.

Baca juga: APD Mulai Didistribusikan ke 61 Rumah Sakit di Jateng

Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyatakan, warga yang telah dinyatakan positif Covid-19 tersebut akan menjalani isolasi. Hingga kini rapid test terus dilakukan.

Dia menambahkan, semua warga yang telah pulang mudik harus diisolasi. Ganjar meminta pemerintah desa menyiapkan tempat isolasi tersebut. Pihak desa juga diminta untuk mengontrol kesehatan mereka, melalui tenaga medis, bisa dokter puskesmas atau bidan desa.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Jumlah Kedatangan Pemudik di Terminal Kudus Menurun Tajam

0
Terminal Induk Jati Kudus tampak lengang. Foto: Imam Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Satu bus tampak terpakir di Terminal Induk Jati Kudus, Selasa (7/4/2020) siang. Sambil menunggu penumpang, sopir dan kernet angkutan antar kota dan provinsi berwarna kuning itu terlihat membersihkan sampah bekas penumpang.

Selama beberapa minggu ini, terminal itu memang tampak lengang. Tak banyak aktivitas yang bisa ditemui setelah merebaknya Covid-19.

Koordinator Satuan Pelayanan Terminal Induk Jati Kudus, Eko Emi Gestarianti (54) saat memaparkan jumlah pemudik yang tiba di Kudus. Foto: Imam Rosyidi.

Saat ditemui, Koordinator Satuan Pelayanan Terminal Induk Jati Kudus, Eko Emi Gestarianti (54) menjelaskan, dalam beberapa hari ini, jumlah kedatangan pemudik dari berbagai kota, khususnya Jakarta memang terus menurun.

“Maret lalu, rata-rata kedatangan pemudik di terminal Kudus kurang dari 100 orang per hari. Sedangkan memasuki April, angkanya menurun tajam berkisar antara 7 sampai 10 pemudik setiap harinya,” ungkap wanita berkacamata itu.

Emi memperkirakan, penurunan ini terjadi lantaran ada imbauan kepala desa kepada warganya untuk pulang jauh-jauh hari, sebelum daerah-daerah melakukan karantina wilayah.

“Data per 5 April 2020, jumlah pemudik yang tiba di Kudus ada 872 orang. Yang paling banyak berasal dari Kecamatan Gebog,” beber Emi.

Meski begitu, pihaknya tetap melaksanakan protokol kesehatan secara ketat untuk menyambut kedatangan pemudik.

“Sebelum ada penyebaran Virus Covid-19 kami memang sudah melakukan pendataan. Setelah ada penyebaran virus ini, kami lebih ketat. Selain itu juga ada upaya untuk pencegahan dan pemeriksaan bagi pemudik,” jelasnya.

Baca juga: Tolak Pemudik Luar Menawan Dikarantina di Balai Diklat Sonya Warih

Pendataan ini, lanjut dia, akan dilaporkan ke Pemerintah Kabupaten Kudus yang kemudian disebar ke Puskesmas setempat. Dengan adanya data pemudik, pihak Puskesmas bisa lebih siap melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Lebih lanjut, ia juga mengapresiasi warga yang punya inisiatif untuk memeriksakan kondisinya, saat tiba di terminal. Menurutnya, ini sebagai perwujudan tanggung jawab pemudik kepada diri sendiri dan orang lain dalam pencegahan Virus Corona.

“Mereka yang baru datang secara sadar melakukan pemeriksaan diri di terminal. Ini bagus sekali,” bebernya.

Baca juga: Hartopo Bersikukuh Lokasi Karantina Pemudik Sesuai Rencana Awal

Selain itu, pihaknya juga melakukan komunikasi dengan Perusahaan Otobus (PO) untuk mengurangi aktivitas perjalanan. Hal tersebut direspon positif, dan saat ini bus yang beroperasi hanya sebagian kecil.

“Saya datangi PO-PO dan mengimbau agar mengurangi aktivitas perjalanan. Biasanya malam hari full hingga 25 bus, tapi saat ini hanya 3 hingga 5 bus saja,” tukas Emi.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Perusahaan Leasing Harus Taati Aturan, Ganjar: ‘Jangan Bikin Masyarakat Lebih Susah’

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta prusahaan-perusahaan pembiayaan (leasing) membantu pelaksanaan restrukturisasi kredit, sebagaimana diatur pemerintah di tengah sulitnya ekonomi selama pandemi Covid-19. Aturan kebijakan telah dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan perusahaan leasing harus melaksanakannya.

“Saya minta perusahaan-perusahaan leasing taati aturan yang sudah ada. Jangan bikin masyarakat lebih susah di saat kondisi ekonomi seperti sekarang ini. Semua sudah diatur pemerintah, jadi kami mohon akan dibantu pelaksanaannya,” kata Ganjar di Kantor Gubernur Jateng, Selasa (7/4/2020).

Baca juga: Lawan Pedagang Nakal, Ganjar Siapkan Produksi Masker Rp 3 Ribuan

Menurut Ganjar, banyak masyarakat di bawah yang menanyakan realisasi kebijakan relaksasi kredit ini. Perusahaan leasing ada banyak, sehingga banyak pula masyarakat menagih realisasi kebijakan tersebut. Oleh karena itu, pihanya meminta agar perusahaan leasing segera menjalankan kebijakan ini, terlebih OJK hari ini telah mengeluarkan ketentuan, khususnya tentang leasing.

“Kami sudah sampaikan beberapa keputusan terutama yang terkait dengan insentif yang diberikan oleh pemerintah. Bagaimana penjadwalan ulang utang di bank sudah bisa dilakukan. Hari ini sudah dikeluarkan aturan tentang leasing,” tutur Ganjar.

Baca juga: Motoran, Ganjar Jelajah Desa Cek Kesiapan Tempat Karantina Pemudik

Ganjar menambahkan, OJK telah memberikan nomor-nomor telepon untuk bisa diakses. Melalui nomor-nomor tersebut semua bisa mengakses dan melakukan konsultasi dengan OJK.

Terkait dengan penanganan ekonomi yang terdampak pandemi Covid-19, Ganjar menyatakan Pemprov Jateng terus bergerak. Satu di antara yang telah dilakukan, yakni menyiapkan jaring pengaman untuk usaha kecil menengah (UKM) di Jateng. Realisasinya, berupa penyiapan kartu prakerja bagi karyawan yang terkena PHK.

“Alokasi kartu prakerja ini ada banyak, tapi pendaftarnya masih sedikit. Dinas Ketenagakerjaan akan segera menindaklanjuti ini biar bisa diakses lebih cepat,” katanya.

Baca juga: Demi Isolasi, Sakur Hanya Bisa Memandang Anak Balitanya dari Jauh

Meski begitu, Ganjar meminta agar perusahaan tidak melakukan PHK terhadap karyawan. Ada beberapa opsi yang bisa dilakukan di tengah ekonomi yang saat ini sangat sulit. Perusahaan bisa bermusyarawarah secara internal, langkah apa yang bisa ditempuh agar tidak ada PHK.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Jerit Pilu Tukang Becak Kudus saat Pandemi Corona Merebak

0
Beberapa tukang becak yang mangkal di depan Pasar Bitingan Kudus. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa becak berjajar rapi di belakang Pasar Kliwon Kudus. Di atas becak tersebut, terlihat para pengayuhnya. Ada yang sedang ngobrol sesama pengayuh becak, ada juga yang tampak lesu menanti orderan. Satu di antaranya adalah Suparjan yang merasakan dampak corona, yakni orderan sepi.


Suparjan mengatakan, bekerja jadi pengayuh becak di Pasar Kliwon Kudus sudah 15 tahun. Belasan tahun mengayuh kendaraan roda tiga tersebut, dia mengaku saat inilah orderan paling sepi. Saat ada corona, pengunjung Pasar Kliwon Kudus sepi. Tentu juga itu sejalan dengan orderannya yang ikut sepi.

Salah satu tukang becak yang sedang mangkal di Pasar Kliwon Kudus. Foto : Rabu Sipan


“Sejak ada corona, Pasar Kliwon Kudus itu sepi. Biasanya pukul 11.00 WIB, saya bisa dapat delapan tarikan. Setelah ada corona, ini loh saya baru narik sekali,” ujar pria yang akrab disapa Parjan kepada betanews.id, Sabtu (4/4/2020).

Baca juga : Produksi Masker, Abyadl Konveksi Tidak Ada Niatan Cari Untung dari Pandemi Corona


Pria warga Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kudus itu menuturkan, karena orderan sepi itu, penghasilannya juga sangat minim. Bahkan sekarang tuturnya, dirinya juga kesulitan untuk membayar angsuran piutang bank pemerintah serta angsuran kendaraan roda dua.

“Aku kira janji Pak Jokowi itu bisa kami rasakan. Kata Pak Jokowi rakyat kecil yang terkena imbas corona dapat keringanan angsuran. Ternyata tidak, aku tetap disuruh bayar angsuran tepat waktu,” ungkapnya.

Senada dengan Parjan, tukang becak di Pasar Bitingan Kudus nasibnya juga tak jauh berbeda sejak corona merebak. Satu di antaranya Agus Supardi. Pria yang sedang menunggu orderan itu mengaku belum dapat orderan sama sekali.

“Sajak ada corona tidak ada yang naik becak Mas. Ini sudah hampir pukul 10.00 WIB belum dapat penglaris,” ungkap pria yang akrab disapa Agus tersebut.

Pria yang siang itu bersama rekannya menanti orderan di sebelah utara pasar tersebut menuturkan, sebenarnya sepi orderan bagi tukang becak itu sudah terasa sejak ada ojek online di Kudus. Keadaan itu makin parah sejak wabah corona merebak.

Baca juga : Meski Jalan Tertatih, Imam Tetap Kerja Bikin Buis Beton Demi Hidupi Keluarga

“Dulu sebelum ada corona, sehari saya bisa dapat tujuh tarikan. Sekarang paling dapat tiga, mentok lima tarikan. Padahal saya harus menhidupi istri dan tiga anak di rumah,” bebernya.

Dia berharap ada bantuan dari pemerintah. Agar beban rakyat kecil seperti dirinya saat pandemi corona bisa teringankan. “Harapan saya, pemerintah itu ada peran aktif sejahterakan rakyatnya di saat susah seperti ini,” cetusnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -