Beranda blog Halaman 1869

Terima Bantuan Alat Medis dari Kagama, Ganjar : ‘Ini Sangat Menolong’

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto : Is

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pengurus Pusat Keluarga Alumni Gadjah Mada (PP Kagama) melalui KagamaCare memberikan bantuan alat bantu tenaga medis kepada rumah sakit rujukan penanganan Covid-19 di Provinsi Jawa Tengah. Bantuan ini secara simbolis diterima oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Senin (6/4/2020).

Bantuan tersebut berupa hand sanitizer, botol hand sanitizer, masker N95, apron, coferall, shoescover, dan face shield.

Salah seorang Pengurus Kagama Jateng, Kartika Rina menjelaskan, bantuan itu diperuntukkan semua rumah sakit yang menangani pasien Virus Corona, termasuk swasta dan puskesmas.

“Alat-alat yang disalurkan ini diproduksi sendiri oleh Kagama. Jadi, ada unit tersendiri di Kagama untuk pembuatan alat (APD), tapi selain masker, ya,” tuturnya saat ditemui di halaman kantor Gubernur Jawa Tengah.

Baca juga: Rumah Sakit Diminta Kelola Limbah Medis Covid-19 dengan Aman

Bantuan ini, lanjut dia, dikumpulkan dari penggalangan dana yang berhasil memperoleh sekitar Rp 407 juta. Dari jumlah ini, yang digunakan untuk pengadaan alat pelindung diri (APD) sebesar Rp 95.009.800 dan hand sanitizer Rp 37.369.000.

“Ini dari penggalangan dana. Hasilnya kita donasikan terutama APD, karena itu yang dibutuhkan di 11 provinsi, termasuk Jawa Tengah,” kata Rina.

Di sisi lain, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo berterimakasih atas bantuan yang disalurkan PP Kagama dan KagamaCare.

“Saya sampaikan terima kasih, Jateng dapat bantuan karya binaan berupa hand sanitizer, APD dan lain-lain,” ujar Gubernur Jawa Tengah dua periode itu.

Baca juga: Lawan Pedagang Nakal, Ganjar Siapkan Produksi Masker Rp 3 ribuan

Setelah diterima, kata Ganjar, bantuan tersebut akan segera didistribusikan ke beberapa rumah sakit rujukan.

“Ada 11 provinsi yang menerima bantuan, dan Jawa Tengah kebagian. Sedikit, tapi ini sangat menolong,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Lawan Pedagang Nakal, Ganjar Siapkan Produksi Masker Rp 3 Ribuan

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat meninjau produksi masker beberapa waktu lalu. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meluncurkan program ’35 Juta Masker untuk Jateng’ sebagai respon gerakan ‘Masker untuk Semua’ yang diinisiasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, gerakan ini juga sebagai tindak lanjut kebijakan pemerintah yang mewajibkan warganya untuk menggunakan masker sebagai pelindung diri dan orang lain dari penularan Covid-19.

Menurut Ganjar, pemilihan angka 35 ini sebagai simbolisasi bahwa 35 kabupaten dan kota di Jateng serentak memproduksi masker besar-besaran. Gerakan ini mengajak seluruh penjahit, pengusaha konveksi, balai latihan kerja, pedagang kain, dan desainer untuk membuat masker murah.

Baca juga: Produksi Masker, Abyadl Konveksi Tidak Ada Niatan Cari Untung dari Pandemi Corona

“Coba kita hitung kalau membuat 35 juta masker, ekonomi Jateng akan bergerak. Ini akan berpengaruh pada BLK di Jateng, usaha ibu-ibu PKK, konveksi, maupun yang tidak memiliki usaha. Kita nanti akan melihat ketika keluar, semua orang memakai masker,” terang Ganjar usai memimpin Rapat Koordinasi Pencegahan Covid-19 di Gedung A Lantai 2, Senin (6/4/2020).

Dia kemudian mewanti-wanti, saat masker ini sudah banyak diproduksi, masyarakat jangan sampai menggunakan masker untuk medis, terutama N95.

“Tolong bisa ditaati, pakai masker buatan sendiri dari kain, yang N95 untuk tenaga medis,” Tegas Ganjar.

Baca juga: Awalnya Ingin Lihat Produksi, Tiba di Pabrik Ganjar Borong 10.000 APD

Ganjar melanjutkan, gerakan ini sekaligus untuk melawan pedagang masker yang menaikkan harga masker secara semena-mena. Makanya, ia meminta harga masker kain yang dijual nanti bisa lebih murah antara Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu.

“Apa sih prinsipnya dari aturan itu? Ya jaga jarak. Saya tambahi, setiap masyarakat yang keluar rumah harus pakai masker. Dengan cara itu, maka bisa melindungi. Tolong ini dipatuhi,” tutup Ganjar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Motoran, Ganjar Jelajah Desa Cek Kesiapan Tempat Karantina Pemudik

0
Ganjar Pranowo menaiki sepeda motor keliling desa untuk mengecek persiapan tempat karantina bagi pemudik. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Bersama komunitas motornya, Bandiyem Grup Motoran, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menaiki sepeda motor berkeliling ke sejumlah desa di Kabupaten Batang dan Kendal, Minggu (5/4/2020). Ganjar mengecek persiapan tempat karantina di desa-desa untuk menyambut pemudik.

Di antara desa yang disambangi Ganjar adalah Desa Trisobo, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Desa Ngadirejo dan Desa Pacet, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang dan Desa Jungsemi, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal. Tak hanya mengecek kesiapan desa, Ganjar juga membagikan sembako untuk membantu mencukupi kebutuhan warga. Ia juga memberikan masker dan hand sanitizer kepada bidan-bidan desa untuk menjaga kesehatannya.

Ketika sampai di Desa Trisobo, Ganjar mendapatkan penjelasan, jika di desa tersebut sudah ada dua ruangan yang disiapkan untuk mengkarantina pemudik.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat berbincang dengan pemudik yang sedang dikarantina di desanya. Foto : Ist

“Kami sudah menyiapkan dua ruangan untuk karantina pemudik. Satu di gedung PKD dan satunya di balai desa. Sampai saat ini belum difungsikan karena baru disiapkan,” kata Pj Kepala Desa Trisobo, Suwondo.

Baca juga : Ganjar Akan Jadikan Desa Pacet Batang Sebagai Percontohan Karantina Pemudik

Saat ini lanjut dia, sudah ada 10 orang. Setelah dicek dan dinyatakan sehat, kesepuluh warganya itu dipulangkan dan menjalani isolasi mandiri di rumah.

Usai dari Trisobo, Ganjar langsung menuju Desa Ngadirejo dan Desa Pacet Kecamatan Reban, Kabupaten Batang. Di dua desa itu, juga sudah disiapkan tempat karantina bagi para pemudik. Bahkan di Desa Pacet, sebanyak 14 pemudik sudah dikarantina.

“Total sudah ada 30 orang yang mudik di desa ini. Begitu pulang langsung kami isolasi. Kami menyiapkan tiga tempat, yakni di gedung PKD dan dua rumah warga. Yang sekarang masih diisolasi, ada 14 orang dan semuanya sehat,” kata Kepala Desa Pacet, Dendy Hermawan.

Baca juga : Demi Isolasi, Sakur Hanya Bisa Memandang Anak Balitanya dari Jauh

Ganjar kemudian melanjutkan perjalanan menuju Desa Jungsemi, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal. Di desa itu, Ganjar mengecek puskesmas serta tempat isolasi. Selain itu, ia juga menyempatkan menengok dua Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang baru saja pulang dari Malaysia. Keduanya sedang menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing.

“Sengaja saya berkeliling untuk mengecek persiapan desa dalam menyambut para pemudik. Beberapa desa yang saya cek tadi, semuanya sudah siap dengan tempat karantina masing-masing. Pintu masuk desa-desa juga sudah dijaga oleh petugas,” kata Ganjar.

Ganjar meminta kepada seluruh kepala desa di Jateng untuk membuat tempat karantina. Tidak harus membuat gedung baru, beberapa gedung yang ada seperti sekolah, balai desa bahkan rumah warga dapat dijadikan tempat karantina.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Dua Pasien Positif Corona di Kudus Sembuh, Tapi Belum Boleh Pulang

0
Perawat di RSUD dr. Loekmono Hadi saat beraktivitas. Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Wajah dr. Andini Aridewi terlihat sedang bahagia saat menemui awak wartawan, Senin (6/4/2020). Dengan mengenakan kaca mata warna coklat dan masker kuning, Juru Bicara Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Kabupaten Kudus itu mengungkapkan, dua pasien positif Virus Corona di Kota Kretek telah sembuh.

Pernyataan ini dikeluarkan setelah mengetahui hasil tes swab evaluasi pertama pasien tersebut yang dinyatakan negatif.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Kabupaten Kudus dr. Andini Aridewi saat memberikan keterangan pers. Foto: Imam Arwindra.

Alhamdulillah setelah dilakukan perawatan dan dilakukan tes swab evaluasi pertama, hasilnya negatif,” jelasnya saat ditemui di Command Center Kudus.

Meski dinyatakan sembuh, dia melanjutkan, dua pasien tersebut masih diisolasi di RSUD dr. Loekmono Hadi dan Rumah Sakit Mardi Rahayu. Pihaknya akan memulangkan jika hasil dari tes swab evaluasi kedua dinyatakan negatif.

“Yang menggembirakan, kondisi pasien semakin membaik. Kondisi tubuhnya pun semakin sehat,” jelasnya sumringah.

Dia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Kudus juga sudah melakukan rapid test kepada 79 orang yang diduga mengalami kontak dengan kedua pasien dan hasilnya dinyatakan negatif.

Baca juga: Penghuni Rusunawa Tolak Huniannya Jadi Tempat Karantina Pemudik

“Rapid test juga sudah kami lakukan kepada semua orang yang mengalami kontak dengan pasien. Hasilnya negatif,” terangnya.

Berdasarkan data resmi Pemerintah Kabupaten Kudus. Terdapat 25 pasien yang masih diisolasi di rumah sakit di Kudus. Pasien dalam pengawasan (PDP) tersebut berasal dari dalam dan luar Kudus. Sementara itu, untuk orang dalam pengawasan (ODP) tercatat 178 orang.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Demi Isolasi, Sakur Hanya Bisa Memandang Anak Balitanya dari Jauh

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berbincang dengan warga yang sedang melakukan isolasi mandiri karena baru pulang dari Malaysia. Foto : Ist

BETANEWS.ID, KENDAL – Sakur (35) dan Anas Muhidin (24) yang merupakan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, memutuskan pulang kampung di Desa Jungsemi, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal, pada 31 Maret 2020 lalu. Kepulangan keduanya tak lain karena alasan pandemic Corona.

Untuk sampai kampung halaman, perjalanan Panjang dilalui keduanya. Mereka beberapa kali harus melewati pengecekan. Ketika sampai di Batam, keduanya juga harus menjalani isolasi selama tiga hari, untuk kemudian dinyatakan sehat dan diperbolehkan terbang ke Jogja.

“Setelah tiga hari di Batam, kami kemudian terbang ke Jogja dan baru tiba di rumah ini dua hari lalu. Langsung kami didata dan dicek kesehatannya. Setelah itu kami isolasi di rumah,” kata Sakur, Minggu (5/4/2020).

Baca juga : Pandemi Corona, Buruh di Jateng yang Kena PHK Bakal ‘Digaji’ Pemerintah

Meski demikian, setibanya di rumah, Sakur yang memiliki anak balita tak dapat melepas kangen padanya. Anaknya itu tinggal bersama ibunya di rumah belakang tempatnya melakukan isolasi. Meski dapat memandang dari kejauhan, namun ia sedih karena tidak bisa menggendongnya.

“Anak saya balita, sejak pulang dari Malaysia, saya dan Anas langsung isolasi mandiri di rumah. Belum berani bertemu keluarga. Rasanya pengen gendong anak,” ucap Sakur lirih.

Rasa kangen bertemu keluarga terpaksa dikubur dalam-dalam. Keduanya sepakat, selama 14 hari tidak akan keluar rumah dan tidak berjumpa dengan keluarga.

“Kalau dikatakan kangen, ya kangen sekali. Tapi belum berani ketemu. Biar menjaga satu sama lain. Saya tidak tahu, apakah saya membawa virus Corona itu atau tidak, yang penting menjaga agar anak dan keluarga tidak tertular,” imbuh Sakur.

Baca juga : Setiap Desa Diwajibkan Sediakan Tempat Karantina untuk Pemudik

Sakur dan Anas berangkat ke Malaysia untuk mengadu nasib. Keduanya bekerja di bagian kelistrikan dan mendapat upah 70 Ringgit sehari.

“Alhamdulillah uangnya masih ada, jadi kalaupun harus isolasi selama dua minggu, masih punya tabungan,” timpal Anas.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang touring ke desa-desa untuk mengecek tempat karantina menyempatkan waktu untuk menengok Sakur dan Anas. Dengan menjaga jarak dan mengenakan masker, Ganjar mengajak ngobrol dua warganya itu serta memberikan motivasi. Ganjar juga memberikan sembako kepada keduanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari selama karantina.

“Pokoknya kudu sabar, sampai 14 hari harus karantina di rumah. Kalau merasa batuk, pilek dan demam, segera telpon bidan desa untuk dilakukan tindakan,” kata Ganjar.

Baca juga : Ternyata, Hanya Ada 4 Pasien di Bawah 50 Tahun Meninggal Akibat Corona di Jateng

Ganjar mendoakan agar keduanya sehat dan tidak terpapar covid-19. Meski begitu, ia tetap meminta agar Kepala Desa serta bidan desa selalu aktif melakukan pemantauan.

Ganjar juga meminta masyarakat di sekitar untuk bergotong royong membantu saudara sekitar. Apabila ada salah satu warga yang terdampak, maka warga yang mampu harus mengulurkan bantuan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Hartopo Bersikukuh Lokasi Karantina Pemudik Sesuai Rencana Awal

0
Plt Bupati Kudus, HM Hartopo. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan orang dari Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), kepala desa dan tokoh masyarakat. berkumpul di Ruang Command Center Kudus. Mereka terlihat tegang mengikuti Rapat Koordinasi dan Evaluasi Penanganan Virus Covid-19 di Kabupaten Kudus, Senin (6/4/2020).

Pada kesempatan itu, Plt Bupati Kudus HM Hartopo menyampaikan, bahwa tiga lokasi yang akan digunakan untuk karantina pemudik tetap akan dilakukan. Menurutnya jika desa menolak, makan pemerintah desa harus menyiapkan tempat sendiri untuk lokasi karantina pemudik.

Rapat koordinasi dan Evaluasi Penanganan Virus Covid -19 di Kabupaten Kudus, Senin (6/4/2020). Foto : Imam Arwindra

“Jika desa menolak. Siapkan sendiri tempatnya. Pakai dana sendiri,” ungkapnya dengan mengenakan masker warna coklat.

Baca juga : Tolak Pemudik Luar Menawan Dikarantina di Balai Diklat Sonya Warih

Pemerintah Kabupaten Kudus merencanakan, tiga lokasi yang akan digunakan untuk karantina pemudik yaitu, rumah rusun sederhana sewa (rusunawa) TB-4 Bakalankrapyak, Balai Diklat Sonya Warih Menawan dan Graha Muria Colo. Namun dalam pelaksanaannya, mendapatkan penolakan dari warga sekitar.

Menurut Hartopo, karantina harus di lokasi khusus, karena untuk mempermudah pemantauan. Dirinya tidak menginginkan adanya karantina mandiri.

“Kalau karantina mandiri harus di rumah masing-masing. Apa nanti dia tidak pakai masker? Apa nanti tidak berbicara dengan keluarganya? Tentu sangat berbahaya,” jelasnya.

Dia melanjutkan, pihaknya meminta bantuan dari setiap kepala desa terutama Desa Colo, Desa Bakalankrapyak dan Desa Menawan untuk membantu mengedukasi warganya.

Baca juga : Alasan Keselamatan, Warga Colo Tolak Karantina Pemudik di Graha Muria

Menurutnya, pemudik yang datang dari Jakarta dan kota besar lainnya statusnya orang dalam pemantauan (OPD). Jadi, sebenarnya sebelum melakukan perjalanan sudah dilakukan tes terlebih dahulu. Sampai Kudus pun juga dilakukan tes. Jika ada tanda-tanda terpapar virus Corona mereka akan langsung diisolasi ke rumah sakit.

“Jadi orang-orangnya sudah steril. Kita karantina selama 14 hari. Jika sudah melewati masa karantina akan langsung dikembalikan ke rumah masing-masing,” jelasnya yang duduk di sebelah Kepala Komando Distrik Militer (Kodim) 0722/Kudus.

Sementara itu, Kepala Desa Bakalankrapyak Susanto menuturkan, pihaknya menginginkan adanya SOP yang jelas. Terutama untuk karantina di Rusunawa Bakalankrapyak.

Dia menginginkan harus ada pembatas seng dengan bangunan lainnya dan jalur khusus. Selain itu, satuan satpam dan petugas kebersihan pun harus khusus.

“Yang pertama harus ada pembatas seperti seng pak. Selanjutnya warga kami ada juga sebagai petugas keamanan dan kebersihan. Jika mereka bertugas di tempat karantina, mereka tidak bisa pulang. Artinya kami minta petugas khusus,” jelasnya dengan mengenakan masker wajah warna merah.

Selanjutnya, permintaan kejelasan SOP pun juga diungkapkan Kepala Desa Menawan Tri Lestari dan Kepala Desa Colo Destari Andreasmoro. Selain itu, edukasi kepada warga pun tidak maksimal.

Baca juga : Warga Bakalankrapyak Blokade Akses Jalan Masuk Rusunawa

Tri Lestari Kepala Desa Menawan menuturkan, warganya kurang mendapatkan pemahaman dan edukasi terkait rencana karantina untuk pemudik berstatus OPD. Dia menilai, Pemerintah Kabupaten Kudus tidak ada kordinasi dan kurang sigap dalam menangani wabah Corona.

“Kami menginginkan adanya SOP yang jelas dan pemerintah harus sigap,” ungkapnya.

Dari penuturan tiga kepala desa tersebut, Plt Bupati Kudus HM Hartopo berjanji akan mengikuti semua usulan yang diberikan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar Akan Jadikan Desa Pacet Batang Sebagai Percontohan Karantina Pemudik

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menengok pemudik yang dikarantina di Desa Pacet, Batang. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, BATANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menengok 14 pemudik yang sedang dikarantina di Gedung PKD, Desa Pacet, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Minggu (5/4/2020). Kedatangannya ini untuk memastikan kebijakan karantina pemudik di setiap desa berjalan sesuai ketentuan pemerintah.

Gubernur dua periode tersebut tiba bersama klub motornya Bandiyem Grup Motoran. Mereka touring selama dua jam menuju lokasi yang berjarak 80 kilometer dari Kota Semarang.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menengok pemudik yang dikarantina di Desa Pacet, Batang. Foto: Ist.

Saat tiba di lokasi, Ganjar segera melihat kondisi pemudik dan berbincang-bincang dengan mereka.

“Semuanya sehat kan? Tetep semangat untuk karantina, ini demi kebaikan bersama,” sapa Ganjar menyemangati pemudik.

Ganjar tertarik mendatangi warganya itu setelah mendengar kabar Desa Pacet melaksanakan arahannya.

“Ternyata ada di Desa Pacet ini yang sudah melaksanakan perintah itu. Semua yang mudik, dikarantina selama 14 hari. Yang tadinya ada 30 pemudik, sekarang tinggal 14 warga yang menjalani karantina. Ini bagus, dan akan saya jadikan contoh untuk desa lainnya,” tegasnya.

Baca juga: Setiap Desa Diwajibkan Sediakan Tempat Karantina untuk Pemudik

Ganjar mengapresiasi 14 warga yang mau dikarantina itu dan memuji mereka sebagai orang-orang hebat. Pujian ini diberikan, lantaran mereka berkenan mengikuti ketentuan yang ada dan mematuhi untuk isolasi.

“Sudah dijalani seminggu, alhamdulillah semuanya sehat,” terangnya.

Dia lantas berpesan kepada seluruh masyarakat di Jawa Tengah untuk memberikan dukungan kepada warga yang isolasi diri. Selain mendukung, mereka juga harus menerima dengan baik saudara-saudara yang sedang menjalani proses karantina.

“Tolong terima mereka dengan baik, jangan ada stempel negatif untuk mereka. Mereka juga saudara kita yang butuh terus didukung,” pesan Ganjar.

Baca juga: Satgas Anti-Corona Berugenjang Pantau Warga dari Rantau

Sementara itu, salah satu warga yang dikarantina, Kusnanto (47) mengatakan, minggu lalu, ia pulang dari Jakarta bersama 14 temannya. Begitu sampai kampung halaman, mereka langsung dikarantina oleh pemerintah desa setempat di Gedung PKD.

“Ini sudah seminggu menjalani karantina. Alhamdulillah semuanya sehat. Kami baru pulang dari Jakarta, kerja proyek di sana,” ucapnya.

Kusnanto mengaku tidak keberatan untuk menjalani isolasi, meski harus menunda bertemu keluarga tercinta.

“Kami rela melakukan ini demi mengikuti aturan pemerintah. Sebenarnya kangen dengan keluarga, tapi ini juga demi kesehatan keluarga di rumah,” kata Kusnanto.

Seperti yang diakuinya, mereka dianjurkan untuk aktif berolahraga selama karantina. Aktifitas fisik itu, kemudian dilakukan di lapangan sepakbola yang berada di depan tempat isolasi.

“Kami juga sering cari rumput, buat kegiatan. Harapannya semua sehat dan bisa segera berkumpul bersama keluarga. Buat kawan-kawan lain yang mau mudik, saya titip pesan untuk mengikuti aturan pemerintah. Kalau disuruh isolasi, ya harus manut,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Tolak Pemudik Luar Menawan Dikarantina di Balai Diklat Sonya Warih

0
Warga melakukan aksi penolakan Balai Diklat Sonya Warih untuk dijadikan tempat karantina pemudik dari luar Desa Menawan. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Teriakan warga menggunakan pengeras suara terdengar jelas di depan Balai Diklat Sonya Warih, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus, Senin (6/4/2020), pagi. Bentangan kain putih bertuliskan ‘Kami Menolak Balai Diklat Menawan Sebagai Tempat Isolasi Pemudik dari Luar Desa Menawan’ terlihat di sana. Seorang pria mengenakan baju berwarna biru dengan mulut tertutup masker tampak mengajak warga untuk berkumpul di depan pintu masuk.

Wahyu Hartanto saat melakukan orasi dalam aksi penolakan Balai Diktlat yang akan dijadikan tempat karantina pemudik dari luar Menawan. Foto : Ahmad Rosyidi

Dia adalah Wahyu Hartanto (32), Koordinator Aksi Penolakan. Warga yang sudah dia kumpulkan di depan pintu masuk, kemudian melakukan doa bersama. Setelah berdoa, mereka melakukan pecah balon sebagai simbol memusnahkan virus Covid-19 dari Indonesia.

“Ini simbol memusnahkan virus Covid-19 dari Indonesia dan dunia. Semoga virus ini segera musnah, kami sudah resah dengan virus ini. Aksi kami menolak bukan berarti tidak peduli, tapi kami mengutamakan warga Menawan terlebih dahulu,” jelas pria yang akrab disapa Argo kepada betanews.id.

Baca juga : Alasan Keselamatan, Warga Colo Tolak Karantina Pemudik di Graha Muria

Dia menambahkan, jika saat ini ada sekitar 120 warga Desa Menawan yang mengkarantina diri di rumah setelah pulang merantau. Warga Menawan saat ini sedang kebingungan mencari tempat bagi pemudik untuk karantina. Kemungkinan, jumlah pemudik di Desa Menawan akan terus bertambah.

“Tempat ini jika digunakan untuk menampung warga Desa Menawan sendiri kemungkinan masih kurang. Kalau tempat ini digunakan untuk karantina pemudik di luar warga Menawan, kami jelas tidak setuju. Kami lebih mengutamakan warga desa, jadi kami menolak,” tegas warga Desa Menawan RT 01 RW 03 itu.

Sebelum melakukan aksi, pihaknya sudah melakukan diplomasi dengan cara membuat surat penolakan. Dengan adanya informasi tempat tersebut akan tetap digunakan, warga kemudian terpicu untuk melakukan turun aksi.

Baca juga : Setiap Desa Diwajibkan Sediakan Tempat Karantina untuk Pemudik

“Kami melakukan aksi secara damai. Dengan aman dan memperhatikan imbauan pemerintah terkait penyebaran virus Covid-19. Jadi ini aksi damai, kami tetap berusaha jaga jarak dan menggunakan masker,” terangnya.

Wahyu berharap, pemudik asli Desa Menawan mendapat perhatian terlebih dahulu. “Jika permintaan kami tidak dipenuhi, kami akan melakukan aksi lebih dari ini. Hari ini memang sengaja kami batasi masanya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Oppo Reno3 Jadi Produk Terlaris di Xtream Cell

0
Agus Musthofa saat menjelaskan fitur-fitur unggulan di Oppo Reno3. Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS,ID, KUDUS – Suara musik terdengar cukup keras di sebuah konter telepon seluler (ponsel) di Jalan Pemuda Nomor 104, Desa Wergu Kulon, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jumat (3/4/2020).

Tiga orang muda-mudi tampak berjoget mengikuti irama dari sebuah ponsel yang digunakan untuk merekam aksi. Beberapa kali tawa renyah mengiringi rekaman video yang gagal, lantaran gerakan yang tidak selaras. Usut punya usut, mereka ternyata sedang membuat video TikTok untuk iklan produk Oppo terbaru.

Karyawan Xtream Cell sedang menjelaskan calon pembeli soal produk-produk yang hendak dibeli. Foto: Ahmad Rosyidi.

Satu di antaranya adalah Agus Musthofa (24). Menurutnya, pembuatan video ini sebagai promosi lanjutan Oppo Reno3 yang laris manis di konter tempat ia bekerja, yakni Xtream Cell.

“Belum genap sepekan, Oppo Reno3 menempati penjualan tertinggi Bulan April 2020,” ungkapnya sumringah.

Smartphone yang dilepas dengan harga Rp 5.5 juta itu, lanjut Agus, memang sudah banyak yang menunggu. Ini bisa dilihat dari jumlah pemesan di masa pre-order yang dilakukan beberapa minggu sebelumnya.

“Oppo Reno3 menjadi produk terbaru yang ada di sini. Masa pre-order handphone ini memang cukup singkat, tapi sambutan masyarakat cukup bagus,” beber warga Desa Undaan Lor RT 02 RW 05, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus itu.

Baca juga: K-Plug, Alat Perekam Canggih Buatan Warga Kudus Diminati Musisi Mancanegara

Agus lantas menjelaskan fitur-fitur unggulan yang membuatnya banyak diburu. Dari sisi fotografi, Oppo Reno3 memiliki empat kamera di bagian belakang. Kamera utama 48MP, ultra wide angle 8MP, telephoto 13MP, dan mono lens 2MP. Sementara pada kamera swafoto, disematkan sensor sebesar 42MP.

https://youtu.be/UNntuHGC7BI

“Kamera selfie terbaik, menurut saya. Handphone ini juga sangat direkomendasikan untuk vloger,” kata Agus.

Selain itu, dengan kapasitas baterai 4.025 mAh dan mendukung teknologi fast charging, Oppo Reno3 sangat cepat dalam urusan pengisian baterai.

“Tidak lebih satu jam, smartphone ini sudah penuh,” jelasnya.

Baca juga: Permudah Laporan SPT Tahunan Secara Online, KPP Pratama Kudus Fasilitasi Kelas Pajak Gratis

Beralih ke sisi dapur pacu, Oppo Reno3 di Indonesia menggunakan prosesor Mediatek Helio P90. Sehingga, ponsel ini sangat cocok untuk multitasking dan gaming.

“Kapasitas memorinya itu RAM 8GB dan ROM 128GB, dan dapat ditingkatkan dengan microSD hingga 256GB,” tutup Agus.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Dirikan Usaha, Marwoto Ingin Ajarkan Filosofi Gusjigang pada Santri

0
Marwoto menunjukkan produk batik khas Kudus yang diproduksi MWT Brand for Domestik Craft. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu, Toko MWT Brand for Domestik Craft tampak lengang. Tak banyak aktivitas yang bisa ditemui di toko yang beralamat di Desa Peganjaran, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, selain sang pemilik Marwoto (29). Ia tampak membersihkan beberapa produk yang ia pajang di tempat tersebut.

Saat ditemui, ia menjelaskan, pendirian toko tersebut berawal dari keinginannya untuk mengajarkan para santri soal filosofi Gusjigang. Usaha yang dirintis sejak 2015 itu menjual berbagai kerajinan warga Kudus, seperti peci dan tas dari karung goni, tas dari bahan blacu, dan sarung batik.

Peci berbahan karung goni yang jadi produk andalan MWT Brand for Domestik Craft. Foto: Rabu Sipan

Alumni Madrasah Qudsiah itu menuturkan, pendirian toko ini bertujuan untuk memfasilitasi perajin lokal, sekaligus sebagai media santri untuk latihan berdagang.

“Saya ingin mengajarkan filosofi Gusjigang kepada santri. Santri itu selain pintar ngaji, seyogyanya juga bisa berdagang agar bisa buat bekal ketahanan ekonomi di kemudian hari,” ujar Marwoto.

Selama ini, ia menjalankan usahanya dengan mengajak para santri yang bersedia bekerjasama. Di antaranya untuk penjualan atau reseller, serta untuk bagian produksi.

Tapi seperti diakuinya, untuk meyakinkan para santri agar mau berbisnis memang tidak mudah. Karena, menurut mereka usaha itu harus punya modal banyak. Namun Marwoto selalu meyakinkan, bahwa yang terpenting dalam usaha itu adalah kemauan, tekat dan selalu cari peluang.

Baca juga: Baru Rilis, Peci dari Karung Goni ini Laris Manis di Pasaran

“Kalau saya pribadi modal usaha itu, ya yang kita punya dalam diri kita. Kemampuan kita itu digunakan untuk mencetak uang yang banyak. Kalau nunggu punya modal banyak, ya kapan kita punya usaha?” tanyanya kemudian.

Marwoto mengatakan, yang bikin produk MWT Brand for Domestik Craft spesial adalah produk kerajinan tangan tersebut diberi sentuhan khas Kota Kretek. Misal tas dari kain blacu diberi gambar ikon kabupaten, seperti Menara Kudus, gerbang pintu masuk Kota Kretek dan lain-lain. Begitu juga dengan sarung batik yang diberi sentuhan motif serupa maupun tradisi yang ada di masyarakat.

Baca juga: Ramayana Kudus Tutup Sementara Mulai 31 Maret

“Setiap sarung yang diberi sentuhan batik itu mengandung tema. Ada yang tema Menara Kudus yang berarti keharmonisan hidup. Ada acara dandangan sebagai tanda datangnya ibadah puasa, tirakat dan taqwa. Serta tema motif lainnya,” tukas Marwoto.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Pandemi Corona, Buruh di Jateng yang Kena PHK Bakal ‘Digaji’ Pemerintah

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat meninjau produksi APD beberapa waktu lalu. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Imbas di sektor perekonomian yang disebabkan Covid-19 mulai dirasakan, khususnya para buruh di Jawa Tengah. Sampai Jumat (3/4/2020), sebanyak 2.869 buruh di Jawa Tengah telah di-PHK dan 454 dirumahkan tanpa upah.

Terkait hal ini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo telah menyiapkan jaring pengaman ekonomi untuk mengkaver para karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dirumahkan. Selain itu, mereka juga berkesempatan menerima bantuan lewat Kartu Pra Kerja.

“Pemprov Jateng telah menyiapkan Rp 1,4 triliun untuk penanganan Covid-19 ini. Dan sekitar Rp 1 triliun untuk jaring pengaman ekonomi,” kata Ganjar, Sabtu (4/4/2020).

Ganjar mengatakan, selain akan dikaver dana tersebut, masyarakat khususnya buruh yang terkena PHK maupun yang dirumahkan juga bakal mendapat sokongan bantuan lewat Kartu Pra Kerja, yang pada awal bulan ini bakal diluncurkan.

Baca juga : Setiap Desa Diwajibkan Sediakan Tempat Karantina untuk Pemudik

“Pemerintah pusat telah menyiapkan program untuk menkaver temen-temen melalui Kartu Pra Kerja. Silakan nanti teman-teman bisa mendaftar,” kata Ganjar.

Menurut Ganjar, Kartu Pra Kerja, yang juga masuk dalam jaring pengamanan ekonomi Covid-19, merupakan bantuan berupa biaya pelatihan bagi masyarakat Indonesia yang ingin memiliki atau meningkatkan keterampilannya yang diluncurkan bulan ini.

“Jawa Tengah mendapat kuota Kartu Pra Kerja sebanyak 241.705. Untuk teknis sedang disiapkan, apalagi ini data penerimanya sangat dinamis,” kata Ganjar.

Untuk mendapatkan kartu tersebut, sesuai petunjuk Kementerian Tenaga Kerja, masyarakat terlebih dahulu mesti mendaftar online di prakerja.go.id.

Bukan hanya mereka yang ditimpa PHK atau dirumahkan, kartu tersebut juga berlaku untuk para pencari pekerjaan atau semua warga Indonesia yang berusia 18 tahun ke atas dan tidak sedang sekolah atau kuliah.

Baca juga : Ternyata, Hanya Ada 4 Pasien di Bawah 50 Tahun Meninggal Akibat Corona di Jateng

“Pendaftaran dibuka 7 April online. Untuk Jawa Tengah total anggarannya mencapai Rp 1,497 triliun,” katanya.

Nantinya para pemegang kartu tersebut bakal menerima beberapa fasilitas dengan total nominal bantuan Rp 3,5 juta. Rinciannya, setiap bulan mereka menerima insentif sebesar Rp 600 ribu selama empat bulan. Ditambah biaya survei senilai Rp 50 ribu sebanyak tiga kali dan pelatihan online satu kali senilai Rp 1 juta.

Ganjar telah meminta sosialisasi dilakukan segera oleh dinas tenaga kerja tiap kabupaten kota.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Alasan Keselamatan, Warga Colo Tolak Karantina Pemudik di Graha Muria

0
Spanduk penolakan Graha Mustika dijadikan tempat karantina pemudik. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Kain putih tampak terbentang di depan gerbang Hotel Graha Muria Colo dengan tulisan ‘Masyarakat Desa Colo Menolak Keras Graha Muria Dijadikan Tempat Karantina Pemudik Kab. Kudus’. Di dekatnya, sejumlah orang sedang mendapat arahan dari pria mengenakan topi dan masker. Pria itu adalah Much Rindho (42), koordinator lapangan aksi penolakan Graha Muria sebagai tempat karantina pemudik.

Hal itu dilakukan demi keselamatan dan keamanan warga. Menurut pria yang akrab disapa Rindho itu, jika karantina dilakukan di tempat tersebut, warga tentu akan merasa cemas. Saat ini warga sudah merasa resah dengan adanya pemberitaan Covid-19, apalagi jika di sana digunakan untuk tempak karantina pemudik.

“Kami sudah merasa resah dan takut dengan pemberitaan Virus Corona. Wisata ditutup membuat kami tidak bekerja, demi keselamatan dan keamanan warga Colo, kami akan menolak dengan keras,” jelas warga Desa Colo, RT 03 RW 03, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus itu kepada betanwes.id.

Baca juga : Warga Bakalankrapyak Blokade Akses Jalan Masuk Rusunawa

Dia berharap, Plt Bupati Kudus dapat memahami situasi yang ada. Mereka juga peduli dengan upaya pencegahan Virus Covid-19. Tetapi kepentingan warga setempat lebih diutamakan.

“Dari segi kemanusiaan kami tentu mendukung upaya memerangi Corona. Tapi keamanan dan keselamatan warga setempat lebih utama. Jadi kami sepakat untuk menolak,” Tegasnya, Sabtu (4/4/2020).

Berjalan memasuki Graha Muria Colo, seorang pria mengenakan baju berwarna biru dongker sedang duduk sambil memegang hanphone. Dia adalah Wagiman Sutrisno (56), Kepala UPT Objek Wisata Colo menjelaskan, bahwa dari pihak Graha Muria Colo sudah siap digunakan untuk mengkarantina pemudik. Di sana sudah siap menampung 50 orang, sedangkan villa yang ada di Colo bisa menampung 20 orang.

Baca juga : Penghuni Rusunawa Tolak Huniannya Jadi Tempat Karantina Pemudik

“Semua Graha Muria ditambah villa yang ada, bisa menampung 70 orang. Untuk keputusan dan negosiasi bukan wewenang saya, jadi tugas saya hanya menyiapkan tempatnya saja. Saya berharap segera ada keputusan dan titik temu demi kebaikan bersama,” tambah warga Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kudus itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Baru Rilis, Peci dari Karung Goni ini Laris Manis di Pasaran

0
Marwoto menunjukkan produk daur ulang karung goni bekas yang diproduksi MWT Brand for Domestik Craft. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Marwoto (29) tak menyangka, peci daur ulang dari karung goni yang baru diproduksinya bulan lalu, laris manis di pasaran. Padahal, ide awal pembuatannya hanya untuk ikut memeriahkan Perayaan Ta’sis (pendirian) Masjid Al Aqsha Menara Kudus, Maret kemarin.

Pemilik MWT Brand for Domestik Craft itu menyampaikan, saat dilepas ke pasaran, ternyata produknya dapat sambutan yang bagus. Bahkan sejak pertengahan Maret hingga saat ini, dia mampu menjual peci sekitar 500 buah, dengan harga Rp 20 ribu untuk grosir dan Rp 30 ribu untuk harga ecer.

Salah satu pegawai di MWT Brand for Domestik Craft sedang menyiapkan bahan karung goni untuk dijadikan peci. Foto: Rabu Sipan.

“Selain peci, kami juga membuat tote bag dan tas sekolah dari bahan yang sama,” bebernya saat ditemui, Senin (30/3/2020).

Warga Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus itu kemudian menjelaskan, pemanfaatan karung goni menjadi berbagai produk daur ulang ini juga cukup mudah. Yang penting, harus jeli memilih bahan yang kuat agar bisa dipakai dalam waktu lama.

“Karung goni itu kan ada serabutnya. Untuk menghilangkannya harus ada proses pembakaran. Setelah ada pembakaran, kemudian peci, tote bag serta tas dari karung goni bisa dikemas,” jelas Marwoto.

Menurut alumni Madrasah Qudsiah itu, peminat produk kerajinan dari karung goni ini lumayan banyak. Selain dari Kudus, permintaan juga datang dari berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta, Semarang, Tulungagung, Jakarta dan lain-lain.

Baca juga: Produksi Masker, Abyadl Konveksi Tidak Ada Niatan Cari Untung dari Pandemi Corona

Makanya ia punya harapan, kelak produknya itu tidak hanya membanjiri pasar nasional saja, tapi juga mampu menembus pasar internasional.

“Saya berharap, khususnya tote bag, kelak tidak hanya diminati orang dalam negeri saja, tapi juga diminati orang luar negeri. Sehingga kami bisa ekspor,” tukas Marwoto.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Warga Bakalankrapyak Blokade Akses Jalan Masuk Rusunawa

0
Suasana di depan Balai Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, usai warga blokade akses jalan masuk rusunawa Kudus, Jumat (3/4/2020) malam. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan orang tampak berkumpul di jalan depan Balai Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Terlihat mereka memenuhi jalan yang merupakan akses masuk rumah susun sewa (rusunawa) Kudus. Beberapa orang terlihat melipat spanduk yang tadinya dibentangkan. Itu adalah sisa aksi pemblokiran jalan warga desa setempat yang menolak rusunawa dijadikan tempat karantina pemudik.

Ditemui di balai desa, Suroto, Kepala Desa Bakalankrapyak membenarkan, bahwa sempat ada pemblokiran jalan akses masuk ke rusunawa Kudus oleh warganya pada Jumat (3/4/2020) malam. Menurutnya, itu hanya sebuah bentuk kekhawatiran warganya, karena tersiar kabar ada pemudik yang akan di karantina di Hotel Graha Muria Colo, tapi ditolak oleh warga di sana.

“Jadi setelah mendengar ada dua orang pemudik yang akan dikarantina di Colo ditolak warga setempat, warga kami khawatir jika nanti mereka akan dipindahkan ke rusunawa Kudus. Hingga akhirnya ada pemblokiran jalan itu,” ujar Suroto kepada betanews.id.

Dia mengaku, bersama Camat Kaliwungu sudah memberi pemahaman kepada warga desa, bahwa pemudik yang ditolak di Colo tidak akan dikarantina di rusunawa Kudus. Saat ini kata dia, dua orang pemudik itu sudah dipulangkan ke rumah mereka masing – masing.

Baca juga : Penghuni Rusunawa Tolak Huniannya Jadi Tempat Karantina Pemudik

“Kabar terakhir yang kami dengar, dua orang pemudik sudah dipulangkan ke rumahnya. Dan warga kami sudah saya mohon untuk menghentikan pemblokiran jalan dan pulang ke rumah masing – masing,” ungkapnya.

Dia menegaskan, sebagai Kepala Desa Bakalankrapyak merasa keberatan jika rusunawa Kudus dijadikan tempat karantina para pemudik. “Sebagai kepala desa saya ya harus mendengar aspirasi warga saya. Kalau warga Bakalankrapyak dan warga rusunawa menolak, saya juga ikut menolak,” cetusnya.

Camat Kaliwungu Harso Widodo menambahkan, ia memberi jaminan bahwa rusunawa tidak akan dijadikan tempat karantina pemudik yang sempat ditolak di Colo. Menurutnya, rusunawa itu alternatif ke tiga setelah, Hotel Graha Muria Colo dan Balai Diklat di Menawan, Gebog.

“Oleh karena itu, untuk menghentikan pemblokiran jalan akses menuju rusunawa oleh warga, saya beri jaminan bahwa dua pemudik yang ditolak di Colo tidak akan dikarantina di rusunawa,” ungkapnya.

Dia mengatakan, guna mencegah penyebaran virus Covid-19 di Kudus, langkah yang diambil bupati mengkarantina para pemudik itu sudah benar. Di posko Terminal Induk Jati Kudus itu juga sudah ada proses sekrining kesehatan bagi para pemudik.

“Di Terminal Jati itu para pemudik sudah dicek kesehatannya. Yang masuk karantina itu yang suhunya di bawah 37 derajat celcius. Sedangkan jika suhu badan pemudik lebih dari angka itu dan ada gejala mengarah terjangkit pandemi corona akan langsung diisolasi ke rumah sakit,” tuturnya.

Baca juga : Setiap Desa Diwajibkan Sediakan Tempat Karantina untuk Pemudik

Dia berharap masyarakat menyadari, bahwa mengkarantina pemudik itu sangat penting. Kalau tidak di karantina, pemudik yang juga warga Kudus itu akan langsung berinteraksi dengan keluarga bahkan masyarakat lainnya.

“Takutnya, pemudik yang langsung pulang ke rumah itu ada yang terjangkit corona, tapi tanpa gejala. Kalau pemudik yang semacam itu tidak dikarantina itu bahaya untuk Kudus,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Setiap Desa Diwajibkan Sediakan Tempat Karantina untuk Pemudik

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo gowes mengecek kesiapan desa menyediakan tempat isolasi pemudik . Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Kepala desa se-Jawa Tengah diminta menyiapkan tempat isolasi khusus untuk menampung para pemudik. Bagi para perantau yang pulang kampung, nantinya wajib diisolasi di tempat khusus yang telah disediakan pemerintah desa selama 14 hari.

Penyiapan tempat khusus untuk isolasi itu, secara langsung diperintahkan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Meski intruksi itu baru dikeluarkan pada Jumat (3/4/2020) malam, namun, setidaknya sudah ada sejumlah desa yang sudah menyiapkan tempat karantina. Untuk membuktikan, Ganjar pun melakukan peninjauan dengan cara gowes keliling sejumlah desa pada Sabtu (4/4/2020).

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengecek gedung yang akan digunakan Pemdes Ngrapah untuk tempat karantina pemudik. Foto : Ist

Dua desa yang dicek Ganjar adalah Desa Ngrapah, Kecamatan Banyubiru dan Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Di dua desa itu, Ganjar senang karena warga sudah menyiapkan tempat isolasi khusus bagi pemudik.

Baca juga : Penghuni Rusunawa Tolak Huniannya Jadi Tempat Karantina Pemudik

Di Desa Ngrapah, warga memanfaatkan gedung olahraga sebagai tempat isolasi. Sementara di Desa Bejalen, disiapkan Balai Desa untuk itu. Saat Ganjar datang, warga sedang bergotong royong membersihkan dan menyiapkan tempat-tempat itu.

“Tadi malam saya komunikasi dengan Kepala Gugus Tugas Covid-19 dan diminta menyiapkan daerah terutama desa untuk membuat tempat khusus sebagai tempat isolasi bagi mereka yang baru pulang dari perantauan. Setelah itu, langsung saya perintahkan kepada seluruh kepala desa melalui WhatsApp group untuk menyediakan. Hari ini saya cek agar desa benar-benar serius melaksaakan ini,” ucap Ganjar.

Ganjar meminta seluruh kepala desa segera menyediakan tempat isolasi. Tidak perlu membangun gedung baru, kepala desa dapat mengoptimalkan gedung balai desa atau gedung pertemuan lain sebagai tempat isolasi itu.

Nantinya lanjut dia, setiap perantau yang pulang kampung harus didata dan diisolasi selama 14 hari di tempat-tempat khusus tersebut. Apabila ada yang menolak, maka TNI/Polri diminta mengambil tindakan tegas.

Baca juga : Ternyata, Hanya Ada 4 Pasien di Bawah 50 Tahun Meninggal Akibat Corona di Jateng

“Nanti kami bantu bagaimana cara mengelolanya. Kami juga sudah minta bantuan TNI/Polri untuk membantu melakukan penjagaan melalui Babinsa dan Babhinkamtibmas di desa-desa,” tegasnya.

Selain kepada pemudik, Ganjar juga meminta seluruh kepala desa untuk mengamankan para lansia dan penyandang disabilitas di desanya masing-masing. Mereka yang termasuk kelompok rentan ini, harus diamankan terlebih dahulu dari dampak penyebaran Covid-19.

“Kalau perlu diisolasi dulu dan tidak boleh bertemu dengan keluarga yang baru pulang dari perantauan. Untuk kebutuhan mereka, desa bisa mencukupi menggunakan anggaran yang ada atau menggerakkan gotong royong masyarakat. Buat lumbung pangan dan gerakkan kembali jimpitan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Ngrapah, Wargiyati mengatakan, dirinya memanfaatkan gedung serbaguna sebagai tempat isolasi. Gedung tersebut dipilih karena cukup besar dan dekat dengan akses kesehatan.

“Setelah tadi malam diperintah, langsung kami eksekusi pagi ini. Ini cukup besar, bisa menampung ratusan orang,” kata dia.

Baca juga : Ganjar Minta Bupati Tegal Kejar Anggaran Penanganan Covid-19

Sampai saat ini lanjut dia, sudah ada 30 warga perantau yang mudik di desanya. Saat ini, mereka masih diwajibkan menjalani isolasi di rumah masing-masing.

“Setiap pemudik yang datang, langsung didatangi bidan dan Babinsa untuk dilakukan pengecekan. Yang sehat harus isolasi di rumah 14 hari, yang sakit langsung dibawa ke rumah sakit. Nanti setelah gedung ini siap, maka seluruh perantau akan kami isolasi di gedung ini,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Bejalen, Sugiharto. Ia mengatakan telah menyiapkan balai desa untuk tempat isolasi para pemudik.

Editor : Kholistiono

- advertisement -