BETANEWS.ID, KUDUS – Teriakan warga menggunakan pengeras suara terdengar jelas di depan Balai Diklat Sonya Warih, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus, Senin (6/4/2020), pagi. Bentangan kain putih bertuliskan ‘Kami Menolak Balai Diklat Menawan Sebagai Tempat Isolasi Pemudik dari Luar Desa Menawan’ terlihat di sana. Seorang pria mengenakan baju berwarna biru dengan mulut tertutup masker tampak mengajak warga untuk berkumpul di depan pintu masuk.

Dia adalah Wahyu Hartanto (32), Koordinator Aksi Penolakan. Warga yang sudah dia kumpulkan di depan pintu masuk, kemudian melakukan doa bersama. Setelah berdoa, mereka melakukan pecah balon sebagai simbol memusnahkan virus Covid-19 dari Indonesia.
“Ini simbol memusnahkan virus Covid-19 dari Indonesia dan dunia. Semoga virus ini segera musnah, kami sudah resah dengan virus ini. Aksi kami menolak bukan berarti tidak peduli, tapi kami mengutamakan warga Menawan terlebih dahulu,” jelas pria yang akrab disapa Argo kepada betanews.id.
Baca juga : Alasan Keselamatan, Warga Colo Tolak Karantina Pemudik di Graha Muria
Dia menambahkan, jika saat ini ada sekitar 120 warga Desa Menawan yang mengkarantina diri di rumah setelah pulang merantau. Warga Menawan saat ini sedang kebingungan mencari tempat bagi pemudik untuk karantina. Kemungkinan, jumlah pemudik di Desa Menawan akan terus bertambah.
“Tempat ini jika digunakan untuk menampung warga Desa Menawan sendiri kemungkinan masih kurang. Kalau tempat ini digunakan untuk karantina pemudik di luar warga Menawan, kami jelas tidak setuju. Kami lebih mengutamakan warga desa, jadi kami menolak,” tegas warga Desa Menawan RT 01 RW 03 itu.
Sebelum melakukan aksi, pihaknya sudah melakukan diplomasi dengan cara membuat surat penolakan. Dengan adanya informasi tempat tersebut akan tetap digunakan, warga kemudian terpicu untuk melakukan turun aksi.
Baca juga : Setiap Desa Diwajibkan Sediakan Tempat Karantina untuk Pemudik
“Kami melakukan aksi secara damai. Dengan aman dan memperhatikan imbauan pemerintah terkait penyebaran virus Covid-19. Jadi ini aksi damai, kami tetap berusaha jaga jarak dan menggunakan masker,” terangnya.
Wahyu berharap, pemudik asli Desa Menawan mendapat perhatian terlebih dahulu. “Jika permintaan kami tidak dipenuhi, kami akan melakukan aksi lebih dari ini. Hari ini memang sengaja kami batasi masanya,” pungkasnya.
Editor : Kholistiono

