BETANEWS.ID, SEMARANG – Seluruh rumah sakit di Jawa Tengah diminta untuk memperhatikan pengelolaan limbah medis. Terlebih dengan merebaknya Covid-19, jumlah limbah dipastikan meningkat tinggi.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, telah menginstruksikan seluruh rumah sakit rujukan untuk melakukan pengawasan secara khusus. Terlebih setiap hari ada penambahan pasien, yang berimbas langsung pada kuantitas limbah.
“Seluruh rumah sakit harus mengawasi ini karena pasti ada kenaikan kuantitasnya. Maka harus hati-hati,” katanya.
Ia katakana, sejak munculnya kasus Antraks, TBC, SARS dan MERS pengelolaan limbahnya memang dilakukan secara khusus. Dari tempat pembuangan sampai proses pengolahan.
“Jadi kalau mereka masuk biasanya ada tempat sampahnya, biasanya berwarna kuning. Terus diolah, yang biasanya dilakukan oleh profesional dari penyedia jasa yang sudah teruji,” ujar Ganjar, Kamis (2/4/2020).
Sampai saat ini, Ganjar menyampaikan, belum ada kendala berarti terkait limbah medis di Jawa Tengah selama penanganan Covid-19 ini. Artinya semua limbah masih terkelola dengan semestinya. Namun, Ganjar juga tidak ingin kecolongan nantinya, jika kondisi semakin memburuk.
“Kita mendisiplinkan dan melakukan kontrol agar tidak bocor. Makanya harus disiapkan betul-betul agar tidak bocor,” kata Ganjar.
Salah satunya menjaga agar tidak terjadi kebocoran dengan pemanfaatan ulang limbah-limbah medis. Ganjar mengungkapkan, dirinya telah menerima aduan pemanfaatan limbah medis, berupa masker. Setelah dibuang, masker-masker yang telah digunakan itu dicuci kemudian diperjual belikan.
“Makanya tadi saya tanya ke dokter, bagaimana maskernya? Lebih baik digunting setelah digunakan. Sehingga tidak bisa dipakai atau diolah dan dijual,” katanya.
Lebih jauh Ganjar menjelaskan, pemanfaatan ulang limbah-limbah medis tersebut juga sangat membahayakan. Terlebih jika dilakukan oleh pihak yang tidak memiliki kompetensi serta didukung peralatan yang memadai.
“Karena yang mengambil berbahaya, yang mengolah dan apalagi yang memakai ulang itu berbahaya. Karena pasti pengolahannya tidak seperti di dunia kedokteran atau di rumah sakit. Di sana kan canggih ada pembunuh kumannya, virus dengan cara dan alat-alat yang canggih,” pungkasnya.
Pengunjung tampak sedang memilih alat musik di Toko Wisma Musik Harapan yang hendak dibeli dengan bantuan pegawai. Foto: Rabu Sipan.
BETANEWS.ID, KUDUS – Toko Wisma Musik Harapan siang itu cukup ramai. Selain pemilik dan pegawai yang sibuk dengan aktivitas masing-masing, tampak juga beberapa pengunjung yang sedang mencari-cari alat musik impian dengan dibantu karyawan.
Toko yang terletak di Jalan Wakhid Hasyim, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus ini memang jadi surga bagi pecinta musik di Kota Kretek. Lantaran, setiap pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai jenis alat musik yang berjajar rapi.
Tak salah jika sang pemilik, Thomas, mengklaim tokonya jadi yang terbesar dan terlengkap di Karesidenan Pati.
Pemilik Toko, Thomas, saat menjelaskan berbagai alat musik yang dijual di Toko Wisma Musik Harapan. Foto: Rabu Sipan.
“Di Wisma Musik Harapan, semua jenis alat musik itu ada. Pokoknya lengkap. Dari alat musik yang elektrik maupun klasik di toko saya ini tersedia semua,” ungkapnya saat ditemui, Jumat (27/3/2020).
Pria berkacamata itu menuturkan, toko
yang punya nama lain Yamaha Musik Square ini menjual berbagai macam alat musik seperti
piano, gitar, keyboard, elektone, drum, mandolin, biola, saxophone dan masih
banyak yang lainnya.
“Bahkan peralatan musik marching
band juga tersedia di Wisma Musik Harapan,” beber Thomas.
Selain itu, lanjut dia, toko yang dirintis sejak 1984 itu juga menjual peralatan sound system, speaker dan mixer. Termasuk senar gitar lengkap dari yang termurah dengan harga Rp 25 ribu hingga paling mahal Rp 175 ribu per set.
“Ada diskon 10 persen untuk
pembelian satu unit alat musik,” infonya.
Tak hanya itu, di tempat tersebut juga tersedia berbagai jenis piano. Antara lain piano elektrik, piano digital dengan fitur ritemnya, serta ada juga piano akustik merk Yamaha. Berbeda dengan alat musik lain yang didiskon 10 persen, khusus untuk piano akustik diskonnya lebih besar.
“Piano akustik Yamaha yang tersedia itu kami banderol Rp 141 juta per unit. Tapi harga itu nanti masih bisa berkurang karena kami beri diskon lebih dari 10 persen,” terang Thomas.
Sebagai agen Yamaha Musik, ia tak
menampik jika 70 persen alat musik yang tersedia di tokonya merupakan produk
dari Yamaha.
“Toko saya memang agen resmi aneka alat musik merk Yamaha. Jadi dijamin barangnya asli tidak BM (black market, Red), serta ada garansi resmi dari pihak Yamaha,” jelas Thomas.
Menurutnya, karena ada garansi resmi serta jaminan kualitas, tokonya mampu bertahan hingga puluhan tahun. Bahkan pembeli yang datang tidak hanya dari Kudus saja, melainkan juga datang dari lain daerah seperti, Demak, Jepara, Pati, Purwodadi dan sekitarnya.
“Saya itu dari kecil hobi main musik. Saya mahir main gitar dan piano. Karena kemahiran itu, pihak Yamaha mengajak kerja sama di bidang penjualan aneka alat musik produk Yamaha,” tutupnya.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat menelepon salah satu warganya yang dinyatakan sembuh dari Covid-19. Foto : Ist
BETANEWS.ID, SEMARANG – Ada fakta menarik di balik angka kematian akibat kasus Covid-19 di Jawa Tengah. Dari total 18 pasien yang meninggal hingga saat ini, hanya ada empat pasien yang usianya di bawah umur 50 tahun.
Data tersebut diungkapkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Jumat (3/4/2020) malam. Bahkan, dia mengatakan sebagian besar pasien yang meninggal dalam kasus corona telah memiliki penyakit bawaan.
“Saya mendapat laporan mereka yang mrninggal (akibat corona) memang sebelumnya sudah memiliki penyakit bawaan. Ada banyak kejadian, ada yang usai pulang dari wilayah episentrum sudah mengalami sakit, setelah pulang meninggal. Itu satu contoh,” ujar Ganjar.
Data terbaru pada Jumat kemarin, kata Ganjar, total ada 114 kasus positif corona di Jawa Tengah. Dari total kasus tersebut, 85 pasien di antaranya masih dalam masa perawatan di rumah sakit. Sedangkan 11 orang di antaranya telah dinyatakan sembuh, dan 18 pasien dinyatakan meninggal. Dari total jumlah meninggal, sebanyak 14 pasien berusia lebih dari 50 tahun.
Berdasarkan catatan yang dimiliki, Ganjar menyebut pada 8 maret ada dua kasus meninggal. Korbannya, satu perempuan berusia 59 tahun dan lelaki berusia 60 tahun. Setelah itu pada 13 Maret ada perempuan 44 tahun yang meninggsl.
“Selanjutnya, pada 21 Maret ada kasus meninggal lagi, yakni laki-laki usia 77 tahun, 25 Maret laki-laki usia 22 tahun, 28 Maret laki-laki usia 65 tahun. Sehari setelahnya, ada laki-laki usia 70 tahun yang meninggal, dan 31 Maret laki-laki usia 62 tahun,” bebernya.
Kemudian, kata Ganjar menyebut pada 1 April ada tujuh orang yang meninggal. Mereka itu yakni lima laki-laki usia 64, 69, dan 45, 56, dan 43 tahun serta dua perempuan usia 67 dan 72 tahun. Terakhir pada 2 April ada dua laki-laki meninggal usia 64 tahun dan 73 tahun.
“Terus kemudian pada 2 April juga ada satu lagi yang meninggal. Data di Dinkes Jateng masih berstatus PDP dengan hasil tes yang belum diterima. Tapi kemungkinan besar positif,” kata Ganjar.
Sementara itu, berdasarkan data siaran pers Pemerintah Pusat, tertulis kasus meninggal di Jawa Tengah bertambah 11 orang dalam sehari kemarin. Melihat data tersebut, Ganjar meluruskan data yang dianggapnya kurang tepat itu.
“Itu meninggal sebelas orang bukan satu hari, tapi itu angka akumulatif . Itu akumulasi sejak pertama sama yang kemarin. Kami sejak pertama mencatat, tiba-tiba ada angka sebelas yang dimasukkan. Kita juga kaget tadi membacanya. Maka setelah di clearance tidak ada. Itu akumulatif,” katanya.
Ganjar juga menegaskan selaku menerima laporan real-time dari jajarannya ketika ada penambahan kasus. Tapi khusus untuk kasus pasien positif COVID-19 yang meninggal, Ganjar menyampaikan pihak rumah sakit mesti melakukan clearance terlebih dahulu.
“Kalau kita sudah ada datanya. Pusat baru menginformasikan ini. Karena setiap ada yang meninggal mereka (rumah sakit) clearance dulu baru dilaporkan ke kita. Maka seringkali laporannya terlambat. Tidak otomatis ketika ada yang meninggal laporannya langsung masuk ke kita,” katanya.
BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta Walikota Tegal untuk segera menyiapkan anggaran untuk penanganan Covid-19. Karena pasca-keputusan penutupan akses jalan, pemerintah kota itu belum menyiapkan anggaran.
“Kota Tegal saya minta untuk meniru Kabupaten Wonogiri yang berhasil mengumpulkan anggaran Rp 100 miliar lebih. Karena mereka sudah terlanjur menyiapkan (lockdown) tapi anggaran belum siap. Saya minta (anggaran) itu untuk dikejar,” ujar Ganjar, Kamis (2/4/2020).
Ganjar menyatakan, setelah Pemerintah Pusat memutuskan opsi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBP) untuk penanganan Covid-19, seluruh kepala daerah, termasuk Kota Tegal, harus menyesuaikan. Dirinya meminta, agar kebijakan lockdown yang telah diputuskan, dievaluasi.
Menurutnya, Pemkot Tegal harus membuat skenario ulang setelah lockdown dilakukan. Apalagi ada satu hal lain yang harus dihadapi saat ini, yakni persoalan pemudik dari Jakarta.
“Sebenarnya tidak hanya Tegal, tapi seluruh kabupaten dan kota di Jateng harus menyiapkan skenario. Termasuk ketika ada warga yang mudik dari Jakarta kembali ke daerahnya. Nah harus menyiapkan skenario, bagaimana menyiapkan pencegahan dari aspek kesehatan maupun jaring pengamannya (sosial dan ekonomi),” ujar Ganjar.
Ganjar mewanti-wanti betul kepada seluruh bupati dan walikota di Jateng untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan terkait PSBB. Segala aspek harus menjadi pertimbangan, termasuk terkait kesiapan anggaran.
“Memang harus disiapkan dulu segala sesuatunya. Jangan statement dulu lalu bingung karena tenyata belum siap. Lebih baik siapkan dulu, baru statement,” katanya.
Pasca memutuskan lockdown, Ganjar menceritakan, Walikota Tegal intens berkomunikasi dengan dirinya. Melalui komunikasi itu, akhirnya Ganjar mengetahui yang sebenarnya. Bahkan keputusan tersebut sempat ditanyakan Presiden Joko Widodo saat menggelar rapat terbatas yang diikutinya.
“Saya ditanya soal lockdown itu, ya saya jelaskan kepada Pak Presiden, yang dimaksud lockdown di Kota Tegal hanya menutup akses jalan,” tuturnya.
Akhlish Fuadi menunjukkan masker yang diproduksi Abyadl Toko dan Konveksi. Foto: Titis Widjayanti.
BETANEWS.ID, KUDUS – Rintik hujan di sekitar Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus mulai reda, saat Akhlish Fuadi (30) membuka toko konveksinya yang dinamai ‘Abyadl Toko & Konveksi’, Kamis (2/4/2020).
Sambil membersihkan tokonya, pria yang biasa disapa Acik itu menjelaskan awal mula memproduksi masker yang ternyata dilakukan secara mendadak, saat ada pesanan dalam jumlah besar. Sebelumnya, sehari-hari ia memproduksi seragam sekolah meliputi seragam, sabuk, kaos kaki, kaos olahraga dan kebutuhan lain.
Beberapa jenis masker yang diproduksi Abyadl Toko & Konveksi. Foto: Titis Widjayanti.
Pria berkacamata itu mengatakan, pengalihan produksi seragam sekolah ke pembuatan masker adalah untuk mencukupi kebutuhan pasar setelah merebaknya Virus Corona. Langkah ini diambil, lantaran banyak permintaan dari pelanggan untuk menyediakan salah satu barang penting dalam menghadapi pandemi itu.
“Kami sempat kewalahan. Namun
akhirnya kami memfokuskan diri untuk memproduksi masker. Kemarin juga ada yang pesan
Alat Pelindung Diri (APD), tapi kami tidak mampu,” beber Acik sambil
memperlihatkan proses produksi masker di tempatnya.
Acik menegaskan, pihaknya tidak
bermaksud mengambil untung di tengah wabah Covid-19 ini. Pengalihan produksi semata-mata
karena ada banyak yang memerlukan.
“Sekarang memang sedang memproduksi masker. Tapi dari awal tidak ada niatan untuk memanfaatkan momen apapun. Buktinya kami baru produksi sekitar satu minggu ini, bukan awal-awal ada wabah itu,” ungkapnya.
Sambil memperlihatkan beberapa contoh masker, Acik melanjutkan, pihaknya memproduksi tiga jenis masker dari bahan kain drill, polyester, dan katun. Dari jenis itu, kain drill jika dipakai lebih panas, sedangkan polyester dan katun tidak terlalu panas.
“Untuk harga kami samakan yaitu Rp 5 ribu. Padahal kalau dihitung dari segi bahan, harganya beda-beda. Paling mahal memang kain drill. Lagi-lagi karena kami tidak bermaksud mengambil momen, jadi ya, pokoknya niat produksi karena ada yang membutuhkan,” pungkas pria berkacamata itu.
Penghuni rusunawa Kudus sedang melakukan dialog terkait penggunaan rusunawa sebagai tempat karantina pemudik. Foto : Rabu Sipan
BETANEWS.ID, KUDUS – Di bagian sebelah timur Twin Block (TB)-4 rumah susun sewa (rusunawa) Kudus yang berlokasi di Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, terlihat beberapa orang sedang berdiri. Di antara mereka tampak seorang pria mengenakan baju putih mengawali pembicaraan menggunakan pengeras suara. Di hadapan pria yang memegang pengeras suara itu berdiri pria berambut gondrong mengenakan kaus oblong. Pagi itu, ada mediasi antara penghuni rusunawa dan dinas terkait mengenai rusunawa sebagai tempat karantina para pemudik.
Salah satu penghuni rusunawa sedang mengemasi barangnya untuk pindah di blok lain. Foto : Rabu Sipan
“Kami sebagai warga rusunawa merasa keberatan tempat kami digunakan untuk karantina para pemudik dengan status orang dalam pemantauan (ODP),” ujar Agus Subagyo, Ketua Paguyuban Waga Rusunawa, Jumat (3/4/2020).
Dia menyadari, pandemi corona sudah menjadi tragedi kemanusiaan. Namun di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Kudus juga harus mengerti, bahwa di rusunawa juga ada manusia yang harus diperhatikan dan manusiakan juga.
Menurutnya, saat rusunawa akan dijadikan tempat karantina para pemudik, tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Imbauannya berupa seruan agar warga yang menghuni rusunawa TB-4 untuk pindah.
“Jadi kita disuruh pindah dengan secara paksa. Juga tidak ada informasi sebelumnya untuk apa kok disuruh pindah,” ungkap pria yang akrab disapa Gosek kepada betanews.id
Rusunawa sendiri tambahnya, merupakan pemukiman padat penduduk. Di tempat tinggal bertingkat itu juga banyak para lansia serta anak kecil yang rentan terkena imbas dari Covid-19. Sebab, lanjutnya, organisasi kesehatan dunia (WHO) mengatakan, virus corona itu bisa menjangkit tidak hanya lewat interaksi saja tapi juga bisa melalui udara.
“Saat kami singgung tentang jaminan kesehatan untuk warga penghuni rusun, pihak Dinas Kesehatan Kudus tidak berani memberi jaminan secara pasti,” ujarnya.
Selain dampak kesehatan tuturnya, juga akan ada dampak ekonomi sosial bagi warga penghuni rusun. Karena ada perusahaan swasta di Kudus yang akan merumahkan warga rusunawa jika rusunawa Kudus dijadikan tempat karantina.
“Mereka itu dirumahkan tanpa gaji lo. Dan itu akan jadi persoalan lagi bagi kami. Penghuni rusunawa ini rata – rata kelas menengah ke bawah, yang rentan secara ekonomi,” cetusnya.
Dia mengungkapkan, sebenarnya para penghuni rusun itu sudah terimbas sejak virus corona merebak. Malah ditambah dengan persoalan seperti ini. Oleh sebab itu para warga rusunawa keberatan jika rusunawa dijadikan tempat karantina.
Dia pun mempertanyakan, kenapa tidak tempat yang jauh dari pemukiman warga yang dijadikan tempat karantina. Sebab, Bupati Kudus, katanya juga sudah menyatakan bahwa ada anggaran untuk membuat tempat karantina.
“Kalau ada anggarannya kenapa anggaran itu tidak digunakan untuk membuat tempat karantina yang jauh dari pemukiman penduduk. Bukan malah dijadikan satu dengan pemukian warga. Artinya akan menambah persoalan baru di kami,” ujarnya.
Di sisi lain, Agung Karyanto Kepala Dinas PKPLH Kudus meminta kesadaran warga penghuni rusunawa, agar merelakan TB-4 untuk dijadikan karantina pemudik. Hal itu dilakukan sebagai pencegahan mewabahnya virus corona di Kudus.
Menurutnya, rusunawa itu opsi ke empat setelah Balai Diklat di Menawan, Hotel Graha Muria Colo serta Pondok Wisata. Setelah ke tiga tempat awal itu penuh, baru kemudian ditampung di rusunawa Kudus.
“Mereka yang mudik itu juga warga Kudus. Kalau tidak dikarantina terlebih dulu dan dibiarkan pulang ke rumah masing-masing, ini akan menjadi bencana di Kudus. Tentunya kita tidak ingin itu terjadi,” jelasnya.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengunjungi pabrik garmen di Semarang, Jumat (3/4/2020). Foto: Ist
BETANEWS.ID, SEMARANG – Seperti kebiasaan sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melakukan gowes pagi tiap Jumat. Pagi ini (3/4/2020) dirinya berkunjung sambil gowes ke sebuah pabrik garmen di Kasawasan Industri Candi, Semarang. Dia ingin melihat proses produksi alat pelindung diri (APD).
Setelah tiba di lokasi, yakni PT Arindo Garmentama, ganjar melihat ribuan pegawai yang tengah menjahit APD. Bahan yang digunakan kain-kain sisa produksi. Ada yang dibuat menjadi masker dan ada pula yang dibuat menjadi APD. Namun hasil produksi sudah sesuai standar yang ditetapkan pemerintah.
Setelah melihat proses produksi, pihak pabrik mengatakan siap memproduksi 10.000 APD. Setelah jadi, APD tersebut akan dijual dengan harga murah.
“Meski menggunakan bahan sisa produksi, tapi kualitasnya sudah standar. Katanya tadi akan dijual murah, ya sudah saya borong semua,” ujar Ganjar.
Ganjar mengatakan, APD dan masker yang diborong itu kemudian akan dibagikan kepada petugas puskesman dan layanan kesehatan lainnya. Sebagai petugas yang berada di garda terdepan, mereka layak mendapatkan perhatian lebih dengan diberikan APD sebagai perlindungan diri.
“Pasien datang kan tidak tahu mereka sakit atau tidak. Sehingga penting bagi mereka untuk mengenakan alat pelindung diri agar tidak tertular,” ungkapnya.
Pada hari yang sama, Ganjar juga menerima bantuan 200 APD dari perusahaan garmen lain di Jawa Tengah. Bantuan diterima Ganjar di Gedung Bappeda Jawa Tengah. Perusahaan itu yakni Dunia Tex.
Ganjar menuturkan, pihaknya gembira banyak komponen masyarakat dan swasta yang ikut terlibat dalam pencegahan penyebaran virus corona. Banyak pabrik di Jawa Tengah yang ikut bergotongroyong bersama-sama melakukan gerakan.
“Jadi sekarang tidak hanya pemerintah yang bergerak, ada pihak swasta yang ikut berpartisipasi, ada juga ulama, tokoh agama juga bersama-sama bergerak untuk menangani pencegahan Covid-19,” katanya.
Satgas Anti-Corona mendata warga Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kudus. Foto: Rabu Sipan
BETANEWS.ID, KUDUS – Kamis (2/4/2020) pagi di halaman Balai Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kudus, tampak Hansip, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta petugas kesehatan berbaris rapi. Dengan cermat dan seksama mereka mendengarkan arahan kepala desa setempat. Mereka yakni Satgas Anti-Corona Desa Berugenjang.
Setelah mendapat arahan, dengan mengendarai sepeda motor mereka meninggalkan balai desa dan menuju rumah orang dalam pantauan (ODP) yang baru pulang dari rantau. Kiswo, Kepala Desa Berugenjang menuturkan, kegiatan tersebut merupakan lanjutan serangkaian kegiatan pencegahan mewabahnya Virus Covid-19 di Desa Berugenjang.
Satgas Anti-Corona sedang mengecek suhu badan warga Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kudus. Foto: Rabu Sipan
“Kemarin kita sudah lakukan penyemprotan massal di seluruh desa. Hari ini kita datangi para ODP, mereka akan dicek serta didata, dan diberi imbauan. Karena kita tidak tahu mereka dari mana, khawatirnya mereka pulang dari wilayah yang sudah menentukan status darurat pandemik Corona,” ujar Kiswo kepada betanews.id, Kamis (2/4/2020).
Menurutnya, kunjungan ke rumah para ODP Desa Berugenjang akan dilakukan rutin setiap dua hari sekali. Pemeriksaan kesehatan juga tidak hanya fokus kepada ODP saja. Melainkan juga kepada para anggota keluarganya. Hal itu dilakukan agar saat ada keluhan atau gejala, para satgas mengetahuinya dan bisa langsung dilakukan tindakan.
Kepala desa yang terpilih dua kali itu mengatakan, saat ini di desanya ada beberapa orang dalam pantauan. Mereka kebanyakan pulang kerja dari daerah wilayah Jakarta, serta ada juga yang pulang dari luar Jawa.
Dia berharap, semua warganya yang pulang dari rantau itu sehat dan tidak ada yang terjangkit Covid-19. Dia juga meyakini, dengan suhu panas di Desa Berugenjang, desa yang dipimpinnya itu aman dari virus Corona.
“Suhu udara Desa Berugenjang itu panas. Penduduknya juga kebanyakan tani. Pagi-pagi sudah bekerja di sawah dan badan terjemur matahari. Jadi saya yakin Berugenjang aman dari Corona,” ungkapnya.
Setelah mengikuti Satgas Anti-Corona menyambangi warga Desa Berugenjang, tim betanews.id pun punya kesempatan untuk mewancarai Sarah Hariani, Ketua Satgas Anti Corona Desa Berugenjang. Dia mengatakan, setiap warga yang pulang dari rantau akan diberi sosialisasi dan edukasi tentang ODP.
Para ODP, lanjutnya dianjurkan untuk mengisolasi diri selama dua pekan, makan – makanan bergizi dan minum vitamin. Selalu jaga jarak aman dengan orang lain, selalu cuci tangan dan berjemur saat pukul 10.00 WIB.
“Kami tadi sudah megajarkan cara cuci tangan yang benar sebagai pencegahan tertular dari virus Corona. Kami juga membagikan vitamin C. Serta menganjurkan berjemur sekitar 15 menit,” ujar perempuan yang akrab disapa Sarah tersebut.
Perempuan yang juga Bidan Desa Berugenjang itu menambahkan, para ODP juga dites suhu badannya. Mereka juga ditanya telah berinteraksi dengan siapa saja. Serta mengalami gejala apa saja sebelum dan sudah sampai rumah.
Selama pengecekan dan sosialiasi tuturnya, belum ada gejala di antara ODP yang punya gejala virus Corona. Tapi dia bersama timnya akan menyekrining kesehatan secara rutin. Soalnya dalam kasus Corona itu ada istilah orang tanpa gejala (OTG).
“Kami juga telah mengimbau kepada mereka para ODP, bila mengalami gejala flu, batuk dan demam untuk menghubungi Ketua RT, atau menghubungi tim kami. Biar bisa langsung ada pertolongan dan tindakan,” ujarnya.
BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria tampak berjalan tertatih mendorong lori berisi pasir di tepi selatan Jalan Kudus – Jepara, tepatnya di Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Setelah didorong mendekati drum terbelah, kemudian pasir itu dituang. Lalu pria tersebut dengan tertatih pula mengambil semen dan batu koral untuk kemudian diaduk. Pria tersebut yakni Imam Fahruzi (31) yang tetap bekerja membuat buis beton meski kakinya sedang sakit.
Beberapa buis beton yang dibuat oleh Imam. Foto : Rabu Sipan
Seusai menyelesaikan pekerjaan, pria yang akrab disapa Imam itu sudi menjelaskan tentang keadannya. Dia mengungkapkan, bekerja membuat buis beton sudah setahun lamanya. Tapi sejak sebulan lalu dirinya mengalami sakit saraf pada kakinya, hingga mengakibatkan berjalannya tertatih – tatih.
“Dengan keadaan saya seperti ini, sebenarnya saya ingin istirahat dan fokus berobat untuk menyembuhkan sakit saraf pada kaki saya. Tapi keadaan tidak memungkinkan, karena saya punya anak istri. Kalau saya tidak bekerja anak dan istri saya nanti makan apa?,” ungkap Imam kepada betanews.id.
Pria yang sudah dikaruniai satu anak itu menuturkan, sebenarnya dulu keadaan dia sangat sehat dan juga sudah terbiasa kerja berat. Tapi semenjak pahanya terasa nyeri, kesehatan Imam mulai terganggu. Rasa nyeri yang tidak dirasanya itu lama – kelamaan makin parah dan membuat berjalannya tertatih – tatih.
Menurutnya, keadaan kakinya yang sekarang agak mendingan. Soalnya pas lagi kumat dan terasa nyeri yang tidak tertahan, Imam mengaku harus berjalan pakai tongkat. “Biasanya kalau keadaan seperti itu terpaksa saya istirahat kerja dan harus terapi saraf,” ujar Imam sambil memijit pahanya.
Pria yang merupakan warga Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus itu mengaku, kerja membuat buis beton dengan sistem borong. Harga upah untuk pembuatan bus beton bervariasi. Mulai dari Rp 2 ribu hingga Rp 10 ribu per buah. Menurutnya, harga tergantung ukuran buis beton yang dibuat.
“Kalau badan fit, dari harga tersebut saya bisa membuat sekitar 10 buis beton berbagai ukuran. Dan mampu mendapatkan uang Rp 100 ribu sehari. Tapi kalau badan tidak fit, palingan sehari saya hanya bisa membawa uang Rp 70 ribu,” ungkapnya.
Dia berharap pekerjaannya itu berkah, sehingga hasilnya bisa dinikmati keluarga dan bisa menabung. Agar kelak bisa mempunyai usaha pembuatan buis beton sendiri. “Saya punya harapan kelak punya usaha seperti ini sendiri. Agar tidak jadi buruh terus,” harap Imam.
Sutomo sedang meluruskan rangka sepeda motor di bengkelnya. Foto: Ahmad Rosyidi.
BETANEWS.ID, KUDUS – Aroma karbit mencuat ketika Sutomo (36) memasukkan salah satu bahan utama pengelasan itu ke sebuah tabung. Setelah memastikan tabung terkunci rapat, ia bergeser mengambil selang las untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sesekali, ia bercengkerama dengan pelanggan bengkelnya yang siang itu cukup ramai. Mereka rata-rata memperbaiki rangka kendaraan yang jadi spesialisasinya. Beberapa jasanya seperti perbaikan segitiga (bengkok dan tidak center), sok drat, sasis motor, dan lain-lain.
Sutomo sedang memasang mata las yang digunakannya sehari-hari. Foto: Ahmad Rosyidi.
Pria yang sehari-hari bisa ditemui di bengkelnya di Desa Prambatan Kidul RT 2 RW 2, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus ini menceritakan, dirinya mulai merintis jasa perbaikan sepeda motor sejak 2007.
Sedangkan untuk pemilihan angka 99 di Bengkel Center 99 diyakininya membawa hoki. Mengingat, tempat usahanya cukup ramai setiap harinya.
“Saya memang memilih angka 99 karena angka hoki dan hingga saat ini cukup ramai pelanggan. Dalam satu hari ada sekitar lima pelanggan ke sini. Kalau ramai biasanya saya lembur hingga malam, terutama proses pembetulan rangka karena butuh konsentrasi,” ungkapnya, Rabu (11/3/2020).
Pria yang meliburkan bengkelnya setiap Jumat ini menjelaskan, pihaknya cukup sering menjadi jujugan bengkel lain yang tidak punya alat atau menerima limpahan pekerjaan yang sesuai kemampuannya.
“Di sini alatnya masih
manual, jadi saya masih menggunakan las karbit dan tabung oksigen,” bebernya di
bengkel yang buka mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.30 WIB ini.
Sementara itu, salah satu pelanggan Muhammad Soleh (27) mengaku sering ke bengkel tersebut dengan membawa sepeda motor yang tidak bisa diperbaiki di bengkel tempat ia bekerja. Siang itu, ia akan memperbaiki bagian dudukan cakram depan.
“Untuk kerusakan-kerusakan yang sekiranya di bengkel belum ada alatnya, ya saya bawa kesini. Selain cepat, di sini juga hasilnya bagus,” tutup warga Desa Papringan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus itu.
Pengecekan logistik di ADA Swalayan Kudus, oleh Plt Bupati Kudus H.M Hartopo dan Forkopimda, Kamis (2/4/2020). Foto : Ahmad Rosyidi
BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah mobil patwal polisi yang diikuti sejumlah mobil di belakangnya terlihat berhenti di ADA Swalayan Kudus, Kamis (2/4/2020) siang. Puluhan orang turun dari sejumlah mobil itu, kemudian memasuki pusat perbelanjaan tersebut. Seorang pria mengenakan baju putih dengan topi hitam dengan didampingi sejumlah orang mulai berjalan melihat suasana di sana.
Pantauan Posko Terpadu di Terminal Kudus, Kamis (2/4/2020). Foto : Ahmad Rosyidi.
Dia tak lain adalah H.M Hartopo, sedang melakukan pemantauan ketersediaan logistik di Kudus. Usai memantau di swalayan itu, Plt. Bupati Kudus itu menjelaskan bahwa ketersediaan logistik yang ada di Kudus masih aman. Selain memantau logistik, dia bersama Forkopimda Kudus juga memantau Pos Terpadu Pencegahan Penyebaran Virus Covid-19 yang ada di Kudus.
“Kami dari Forkopimda Kudus melakukan pengecekan Pos Terpadu yang ada di Kudus dan pengecekan logistik di pusat-pusat perbelanjaan. Semua masih aman, logistik masih aman. Di Pos Terpadu juga dengan personil lengkap, Polri, TNI dan tim medis semua siap ada di sana,” terangnya kepada betanews.id.
Hartopo juga menyampaikan, bahwa sudah memberi imbauan kepada petugas di terminal Kudus agar melakukan pendataan bagi pendatang dengan baik dan teliti. Agar bisa dilakukan tindak lanjut pemantauan di tingkat kecamatan maupun desa.
Selain itu, dia juga memberi imbauan di pusat-pusat perbelanjaan agar tetap menjaga jarak, tidak berkerumun dan setelah belanja langsung pulang. Untuk pasar tradisional, saat ini tetap diizinkan buka, tetapi tutupnya lebih awal.
“Pasar tradisional bisa buka pukul 07.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB. Kami imbau untuk tutup lebih awal dari biasanya. Ketersediaan beras di bulog juga sudah kami komunikasikan dan hasilnya masih aman,” jelasnya.
Seorang wanita berjilbab yang berdiri di samping Plt Bupati Kudus juga menambahkan, di Swalayan ADA Kudus mulai tanggal 1 April 2020 tutup lebih awal, pukul 20.00 WIB. Saat ini bagian yang ditutup adalah tempat mainan.
“Sejauh ini ketersediaan logistik masih aman. Khusus gula kami batasi jumlah pembeliannya, maksimal hanya 2 Kilogram. Meski ada penurunan pembeli di sini, belum ada pengurangan karyawan,” tambah Setyowati, Manajer ADA Swalayan Kudus.
Program pembagian makan siang gratis oleh Pemprov Jateng di halaman Kantor Gubernur Jateng, Kamis (02/04/2020). Foto : Ist
BETANEWS.ID, SEMARANG – Lelaki paruh baya itu tampak menitikkan air mata usai menerima makan siang dan sebungkus telur ayam dari petugas depan di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kamis (2/4/2020). Dia teringat anak dan istrinya yang sudah dua hari belum makan karena penghasilannya dari berjualan berkurang drastis akibart penutupan di Kota Lama.
Lelaki yang kesehariannya berjualan es teh keliling itu, bernama Kadir. Dia merupakan warga yang tinggal di daerah Semarang Utara.
Kadir mengaku sengaja datang ke halaman kantor Gubernur Jawa Tengah setelah mendengar dari temannya kalau ada pembagian makan siang gratis. Ia jauh-jauh mengayuh sepeda ontelnya di tengah gerimis yang tersisa usai hujan deras mengguyur Kota Semarang. Hal itu dilakukan demi anak-istrinya.
“Gimana ya, anak-istri saya sudah dua hari belum bisa makan. Alhamdulillah sekali ada pembagian ini. Saya dengar dari teman ada pembagian makan di Kantor Gubernur. Dari pelabuhan (Tanjung Emas) saya langsung ke sini,” kata Kadir dengan terbata sambil membasuh air matanya yang menetes.
Kadir sendiri, biasanya menjajakan es teh keliling di Kawasan Kota Lama Semarang. Ia mengaku sudah hampir 1,5 bulan tidak berjualan karena ada penutupan di Kota Lama. Selama itu juga ia tidak mendapat pemasukan yang pasti.
“Sehari-hari saya jual es teh keliling di Kota Lama, sekarang kan ditutup sementara jadi tidak bisa jualan dulu. Sudah hampir 1,5 bulan ini,” ucap Kadir.
Terpisah, Bejo, warga Kampung Batik, Semarang Timur mengatakan, bantuan makan siang gratis tersebut dapat sedikit membantu menyambung makan hariannya. Sejak ada Covid-19 pendapatannya menurun drastis.
“Ada sedikit untuk menyambung harian makan. Susah cari makan sekarang. Hari ini belum dapat penumpang. Sejak ada Corona sepi sekali, satu pekan ini baru tiga kali. Mulai tutupan ini tidak ada sama sekali. Biasanya bisa sampai tiga kali sehari,” ujar Bejo yang bekerja sebagai tukang becak tersebut.
BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah segera merealisasikan bantuan sosial untuk masyarakat saat Covid-19 mewabah. Sebanyak 1,8 juta warga akan mendapat jatah Rp 200 ribu perbulan selama tiga bulan.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan, dana Rp 1,4 triliun yang telah dianggarkan, Rp 1 triliun lebih di antaranya akan digunakan untuk bantuan sosial kepada masyarakat. Dalam waktu tak lama lagi, bantuan tersebut akan segera didistribusikan.
“Bantuan sosial ini akan ditujukan untuk sekitar 1,8 juta warga di Jateng. Hari ini targetnya secara administratif selesai, biar bisa segera direalisasikan,” ujar Ganjar usai menggelar rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo melalui video conference, Kamis (2/4/2020).
Ganjar menjelaskan, bantuan sosial akan diberikan senilai Rp 200 ribu perbulan. Bantuan tersebut tidak berupa uang tunai melainkan dalam bentuk sembako. Bantuan akan diberikan selama tiga bulan.
Bansos ini, kata Ganjar, akan diperuntukkan bagi warga miskin desil 3 dan 4. Untuk desil 1 dan 2 sudah menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat melalui Kementrian Sosial. Baik bansos dari pusat maupun Jateng, nominal bantuan yang diberikan tidak berbeda, yakni sebesar Rp 200 ribu perbulan.
Untuk pelaksnaan distribusi bantuan tersebut, Ganjar mengatakan telah berkoordinasi dengan bupati dan walikota di Jateng. Dia berharap bantuan dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi ini bisa tepat sasaran.
“Kami sudah komunikasi intens dengan bupati dan walikota terkait ralokasi dan realokasi anggaran untuk bansos. Ini agar tidak terjadi tunpang tindih, tapi saling melengkapi. Dengan begitu masyarakat yang dijangkau bisa lebih luas,” ujar Ganjar.
Agar bantuan bisa lebih besar, pihaknya terus mendorong kelompok masyarakat dan swasta ikut serta membantu. Tidak hanya dana CSR dari swasta, tapi zakat infaq dan sodaqoh bisa dioptimalkan.
Khayra Lathifa Yasmine, model cilik asal Kudus. Foto : Ist
BETANEWS.ID, KUDUS – Sore itu, salah satu toko hijab dan baju muslim bernama Bunda Mariya House Of Fashion, yang berada di utara Jalan Mayor Basuno, Kelurahan Sunggingan, Kecamatan Kota, Kudus nampak seorang perempuan berhijab sedang melayani salah satu pembeli. Ia adalah Mariya Ulfa (39), ibu dari Khayra Lathifa Yasmine (5), model cilik yang pada Juni mendatang menjadi salah satu wakil Indonesia di ajang model Internasional di Singapura.
Khayra Lathifa Yasmine saat mengikuti Indonesian Face Model. Foto : Ist
Bunda Mariya, begitu ia akrab disapa menceritakan kisah putri kecilnya yang akrab dipanggil Si Nok atau Ayra tersebut. Dikatakannya, Si Nok memang sedari kecil sudah pintar bergaya di depan kamera ketika di foto. Selanjutnya, baru sekitar pertengahan tahun 2019, dirinya berdiskusi dengan sang suami yang berprofesi sebagai guru salah satu SMP di Kudus untuk menyekolahkan anak perempuannya di sekolah modeling. Awal mula sang suami menolak, ia lebih merekomendasikan si anak untuk kursus atau sekolah musik. Namun, Bunda Mariya memberikan pengertian dan akhirnya Ayra bergabung dengan Studio 5 Kudus.
“Kebetulan baru sekitar tahun lalu ikut bergabungnya. Ya dari diskusi dengan ayahnya. Saya lihat sejak kecil Si Nok ini kok kewes banget waktu difoto. Udah bisa bergaya gitu Mbak. Akhirnya setelah cari-cari referensi sekolah modeling di sini yang bagus yang mana, akhirnya bergabung ke Studio 5 itu,” ujarnya, Sabtu (14/3/2020).
Setelah itu, baru empat kali ikut serta dalam kelas modeling, sang pelatih menyarankan Ayra untuk mengikuti ajang perlombaan modeling pertama di foodcourt PHD Kudus. Di sana, Ayra menyabet juara dalam kategori catwalk. Semenjak itu, Ayra dan dirinya menjadi lebih semangat dan antusias. Padahal, sebelumnya ia katakan tidak punya angan-angan untuk menyabet juara. Hal tersebut didasarkan pada kepasrahan dari Bunda Mariya yang merasa bahwa saingan anaknya juga bagus-bagus dan umurnya lebih tua.
“Melihat Si Nok ini berjalan di catwalk lancar dan berani saja sudah alhamdulilah. Apalagi lomba pertama ya seadanya, pakai gaun yang dipunya. Gaun pesta, terus saya kasih jepit pita. Pokoknya kostum seadanya. Tapi ternyata dapet juara. Akhrinya dari sana Si Nok juga senang, saya juga semakin semangat,” jelas dia.
Sejauh ini, Ayra sudah menyabet juara hingga lebih dari kali sepuluh. Dari bermacam kategori hingga juara umum. Bahkan di kejuaraan yang terakhir kemaren, Bunda Mariya sempat minder dan pasrah karena setelah berhasil menyabet juara dari tingkat kota hingga nasional, saingan Ayra semakin ketat dan bagus-bagus. Namun ia tetap tak menyerah dan berdoa supaya anaknya mendapatkan hasil yang terbaik. Dikatakannya, ketika di Jakarta, sang anak dikarantina seminggu dan ada tiga kali penilaian. Pertama intelegensi, kedua adalah bakat dan ketiga adalah catwalk. Sedangkan untuk catwalk ada dua kali sesi. Yakni catwalk baju batik dan baju pesta.
“Waktu sebelum penampilan bakat, saya berpikir bahwa anak saya harus berbeda. Kebetulan, selain modeling Si Nok ini sudah beberapa bulan saya latih baca puisi untuk acara di sekolah. Nah kebetulan kok berguna di ajang ini juga. Awalnya dia mau nyanyi, tapi saya pikir dan bilang langsung kalau nyanyi itu udah biasa. Semua anak pasti bisa. Dan akhirnya dia mau baca puisi,” kata dia.
Setelah itu, ia katakan bahwa sampai pada pengumuman akhir yang ia ingat hampir pukul 00.00 WIB dan semua piala habis, ia sudah pasrah. Bunda Mariya yang waktu itu seorang diri menemani sang anak di dalam gedung, memutuskan untuk keluar dan menjemput Ayra di belakang podium. Sesampainya di sana, ia melihat si anak sedang duduk sambil menahan kantuk sendirian. Merasa tak tega, ia menggendong sang anak dan mengajaknya kembali ke kamar hotel untuk tidur.
“Ya saya kasihan dan nggak tega melihat anak saya yang masih kecil begitu, hampir jatuh nahan ngantuk di kursi sendirian. Terus tak bopong mau balik kamar. Tapi sesampainya di luar gedung tiba-tiba mendengar samar-samar pengumuman selanjutnya. Yakni juara harapan dua dengan nama yang tak asing. Untuk memastikan, saya bertanya dengan beberapa orang yang kebetulan sedang berjalan di dekat saya. Dari sana saya baru yakin, bahwa nama dan nomor undi yang disebutkan adalah Khayra Lathifa Yasmine. Lantas saya bergegas kembali ke belakang podium, dan langsung berlari ke dalam gedung untuk menyaksikan dari arah depan sambil menangis,” ucapnya.
Dirinya tidak menyangka, anaknya bisa dapat juara. “Saya nggak berhenti nangis sambil maju di depan panggung. Saya berterima kasih sekali pada Allah, sama guru-gurunya juga yang sudah melatih. Ternyata semua pengorbanan selama ini nggak sia-sia,” pungkasnya.
BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo merasa lega dengan telah ditetapkannya aturan dari pemerintah pusat mengenai kebijakan penanganan Covid-19.Menurutnya, aturan-aturan itu dapat membantu pemerintah daerah untuk segera melakukan aksi.
Dua aturan diterbitkan pemerintah pusat yakni, Peraturan Pemerintah (PP) Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Keputusan Presiden (Keppres) tentang penetapan kedaruratan kesehatan masyarakat.
Menurut Ganjar, apa yang sudah disiapkan kemarin, sekarang sudah terpayungi. Tugas pemerintah daerah selanjutnya, katanya, adalah mengakselerasi kebijakan tersebut agar bisa segera dieksekusi.
Ganjar menerangkan, ada tiga fokus yang akan digarap dalam penanganan virus corona di Jateng. Ketiganya adalah sisi kesehatan, ekonomi dan jaring pengamanan sosial.
“Akan segera kami tindaklanjuti. Saya harap kawan-kawan di pemprov bisa cepat melakukan aksi. APBD nya dikoreksi, refocusing, relokasi dan realokasi anggaran dipercepat untuk mendukung tiga sektor utama itu,” kata Ganjar, Rabu (1/4/2020).
Disinggung terkait pembatasan wilayah di Jateng, Ganjar menerangkan, bahwa belum menetapkan daerah mana saja yang akan dilakukan pembatasan. Pihaknya terus berkomunikasi dengan bupati/wali kota se-Jateng untuk menghitung secara teliti berdasarkan fakta dan data di lapangan.
“Saya minta teliti betul, agar ini bisa menyejukkan masyarakat. Jangan lupa masyarakat dilibatkan, agar mereka mengerti dan tidak panik,” terangnya.
Sebenarnya, lanjut Ganjar, pembatasan wilayah dapat digunakan dengan basis yang paling mudah. Yakni, daerah yang ada pasien positif, maka rumah sakit tempat mereka di rawat serta tempat tinggal dapat dibatasi.
“Selain itu, di Jateng sudah berjalan pembatasan hingga level desa. Itu sudah sangat bagus, hanya saya ingatkan agar tidak berlebihan. Siapa saja yang datang tidak usah disemprot, karena itu berbahaya bagi kesehatan. Cukup mereka menggunakan masker, jaga jarak tidak terlalu dekat, itu sudah bagus,” terangnya.