BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan burung warna hitam tampak beterbangan mengikuti laju mesin pemanen padi atau combine harvester. Di atas combine bagian samping terlihat dua pria memegangi karung yang sudah berisi padi setengahnya. Sedangkan di kemudi mesin tersebut, tampak pria mengenakan kaca mata hitam dan bertopi begitu cekatan menjalankan armadanya. Pria tersebut yakni Agus Saputra (40) operator mesin combine yang berasal dari Lampung.
Telihat mesin combine tersebut mondar – mandir memangkas padi seluas 1.300 meter persegi. Sekitar 30 menit, semua padi yang ada sudah terpanen semua. Setelah usai memanen, mesin combine pun menepi dan operatornya istirahat sejenak. Di sela istirahat itulah, pria yang akrab disapa Agus sudi berbagi kisah tentang pekerjannya tersebut.
“Saya menjadi opertor mesin pemanen padi itu sejak 2013. Biasanya saya mengoperasikan combine di kampung halaman saya yaitu Lampung. Karena di sana tidak kebagian armada, saya pun harus rela merantau ke Kudus,” ungkapnya kepada betanews.id.
Baca juga : Sri Rejeki Embroidery Bertahan Puluhan Tahun dengan Bordir Manual
Pria yang sudah dikaruniai tiga orang putra itu mengatakan, tidak punya pekerjaan lain selain menjadi operator combine. Oleh karena itu, sejak mengetahui tidak kebagian armada, dia mengaku sempat bingung. Beruntungnya tidak lama ada tawaran pekerjaan mengoperasikan combine di Kudus.
“Tidak pikir dua kali, tawaran itu langsung saya terima. merantau ke Kudus itu harus saya pilih demi nafkahi anak dan istri. Soalnya kalau tidak merantau ke Kudus bisa jadi saya nganggur. Lebih baik terpisah sama keluarga sementara waktu yang penting dapur tetap ngebul,” ujarnya.
Agus mengaku, sudah dua pekan mengoperasikan mesin pemanen padi di Kudus, tepatnya di Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan. Menurutnya, butuh sekitar dua pekan lagi untuk memanen habis seluruh padi di wilayah Undaan.
“Setelah panen di Undaan habis, nanti tergantung dari pemilik mesin combine. Kalau armadanya dikirim ke wilayah yang sedang masa panen, saya juga siap mengoperasikannya,” terangnya.
Dia menuturkan, dengan mesin combine yang dikemudikannya itu dirinya bisa menyelesaikan panen padi seluas dua bahu sehari. Sedangkan upahnya dihitung secara borong. Menurutnya, upah borong memanen padi satu bahu Rp 350 ribu, jadi sehari Agus bisa menerima Rp 700 ribu.
Baca juga : Tengkulak Lebih Pilih Padi yang Dipanen dengan Mesin Modern
“Total uang itu harus saya bagi bertiga. Soalnya saya bekerja tidak sendirian tapi dibantu dua orang kenek. Sedangkan makan dan rokok biasanya sudah disediakan para petani yang menggunakan jasa kami,” ungkapnya.
Bekerja mengoperasikan combine tuturnya, bukan tanpa kendala. Saat hujan turun, aktivitas memanen padi dengan combine tidak bisa dibisa dilakukan. Karena hasilnya akan mengecewakan. Padi akan banyak yang terbuang karena menggumpal bersama daun serta batang padi.
“Kalau hujan turun berarti penghasilan kami berkurang. Begitu juga jika mesin combine bermasalah. Saya sih selalu berdoa agar pekerjaan saya selalu lancar dan jangan hujan dulu,” harap Agus yang diamini kedua temannya.
Editor : Kholistiono

