BETANEWS.ID, JEPARA – Terletak di kaki Gunung Muria, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, memiliki kondisi alam yang cocok untuk pertanian dan perkebunan.
Selama ini, Tempur dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi. Padahal, desa ini juga menghasilkan berbagai komoditas pertanian lainnya, seperti bahan pokok berupa padi dan jagung, serta tanaman hortikultura yang tumbuh baik di wilayah tersebut.
Potensi itu kemudian dikembangkan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DKPP) Kabupaten Jepara dengan membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Giri Asri di Desa Tempur.
Ketua KWT Giri Asri, Muntiah (56), mengatakan kelompok tersebut mulai didirikan pada tahun 2017. Anggotanya beragam, mulai dari guru, pedagang, hingga petani perempuan di Desa Tempur.
“Total anggotanya ada 40 orang, tetapi yang aktif sekitar 25 orang, semuanya ibu-ibu,” kata Muntiah saat ditemui di greenhouse tanaman selada di Dukuh Duplak, Desa Tempur, beberapa waktu lalu.
Dengan adanya KWT tersebut, Muntiah mengatakan banyak ibu-ibu yang merasa terbantu karena memperoleh pengalaman dan pemahaman baru terkait pertanian.
Baca juga : Kelola Sampah Mandiri, Desa Tempur Tunggu Dukungan Alat dari Pemkab Jepara
Selama ini, petani perempuan di desa tersebut biasanya hanya membantu suami mereka merawat kopi di ladang.
“Kalau sekarang jadi tambah pengalaman, tambah pemahamannya tentang cara menanam sayur,” ujar Muntiah.
Sejak didirikan pada tahun 2017, KWT Giri Asri telah menanam berbagai jenis sayuran, di antaranya sawi dan buncis.
Namun, pada tahun 2024 mereka mulai menanam selada dengan sistem hidroponik NFT di dalam greenhouse. Dengan memanfaatkan pipa paralon dan lahan sewa milik warga sekitar, KWT Giri Asri kini dapat menanam selada tanpa menggunakan tanah.
Ada sekitar 100 bibit selada yang ditanam dan dapat dipanen setelah dua bulan sejak masa pembibitan. Hasil panen selada dijual, salah satunya kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG di wilayah Kecamatan Keling.
“Dijualnya ke MBG, harganya Rp25 ribu per kilogram. Kadang juga ke kafe atau penjual kebab di daerah Keling dan Kelet,” sebut Muntiah.
Greenhouse tersebut setiap hari dikelola oleh dua anggota KWT, yakni Sri Handayani (37) dan Puji Astuti. Mereka bertugas merawat tanaman selada setiap pagi dan sore.
Sri Handayani mengatakan budidaya tanaman selada tidak sulit. Pada awalnya, ia mengaku kesulitan dalam menentukan takaran pupuk.
“Kalau pupuknya kebanyakan, seladanya jadi mati, enggak bisa tumbuh,” ungkap Sri Handayani.
Meskipun harus merawat tanaman setiap pagi dan sore, ia mengaku senang karena kini memiliki aktivitas tambahan.
“Senang, daripada di rumah terus, jadi bisa ada aktivitas lain,” pungkas Sri Handayani.
Editor: Kholistiono

