Beranda blog Halaman 1871

Embung Panguripan Desa Ngemplak Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Air, Ada Area Outbond

0
Embung Panguripan yang tengah disiapkan pemerintah desa (pemdes) setempat menjadi destinasi wisata air. Foto: Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, KUDUS – Rintik gerimis yang membasahi Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Siang itu, tak menyurutkan semangat warga untuk membersihkan Embung Panguripan. Sambil sesekali bersenda gurau, mereka mencabuti eceng gondok di embung yang tengah disiapkan pemerintah desa (pemdes) setempat menjadi destinasi wisata air.

Warga bergotong royong membersihkan area Embung Panguripan yang akan dijadikan destinasi wisata air. Foto: Titis Widjayanti.

Sebagai objek wisata rintisan, letak embung yang dekat dengan Jalan Raya Kudus-Porwodadi atau tepatnya di depan Masjid At-Taqwa antara gang 6 dan 7 ini memang menjadikannya mudah ditemui. Alasan inilah, seperti yang dikemukakan Kepala Desa Ngemplak Safi’i, menjadi pertimbangan pemdes saat mulai membangun Desa Wisata Air Desa Ngemplak.

Baca juga: Taman Nasional Karimunjawa Ditutup untuk Wisata, Ekspedisi dan Penelitian

“Ide awal muncul saat kami kami melihat potensi alam Desa Ngemplak. Kemudian kami menggagas untuk membuat rintisan desa wisata,” ungkap Safi’i saat ditemui di kantornya, Kamis (19/3/2020).

Dalam prosesnya, lanjut Safi’i, pengelolaan embung sepanjang empat kilometer itu akan diampu bidang pariwisata di BUMDes Rejomakmur. Selanjutnya, pembangunan objek pariwisata ini akan dilakukan dalam beberapa tahap. Untuk tahap pertama, pihaknya akan membersihkan embung, pembangunan area swafoto dan tempat edukasi bagi pelajar dan pengunjung secara umum.

“Jadi yang dimaksud edukasi di sini nantinya bisa berupa praktik penanaman padi di sawah atau peternakan,” bebernya.

Berikutnya, saat embung yang lama dimanfaatkan warga untuk pengairan sawah dan memancing itu sudah dibuka untuk umum, pihaknya akan melanjutkan dengan penambahan area outbond yang di dalamnya ada arena off road dan flying fox.

“Semoga anggaran 2020 ini bisa diserap dengan baik, sehingga target pembangunan di tahap awal bisa tercapai,” harapnya.

Baca juga: Keberadaan WKG Diharapkan Bisa Tingkatkan Jumlah Peziarah ke Makam Kiai Gulang

Dia juga berharap, saat Desa Wisata Air Desa Ngemplak sudah ditetapkan melalui SK Bupati Kudus, pola pikir masyarakat terkait pengelolaan pariwisata bisa berubah.

“Semoga pola pikir masyarakat bisa berkembang dan juga bisa menyerap tenaga kerja, khususnya untuk warga desa sini,” pungkas Safi’i.

Editor : Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Curhat Tukang Becak di Tengah Wabah Corona, Mulyadi : ‘Kalau Nggak Dibantu Ya Nggak Makan’

0
Salah satu tukang becak di Semarang dapat jatah nasi kotak dari Pemprov Jateng. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Bukan hanya pengendara ojek online (daring), yang boleh mendapatkan jatah makan siang gratis dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Program berbagi nasi oleh pemprov pada hari ke dua ini, Rabu (1/4/2020) di depan Kantor Gubernur ini juga diserbu warga berbagai kalangan. Di antaranya adalah tukang becak, penyapu jalanan hingga pemulung pun bisa turut merasakan.

Satu di antaranya seorang pengayuh becak tersebut adalah Ahmad Kul (63). Ia mengaku sengaja datang untuk bisa mendapatkan nasi kotak. Perantau asal Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara ini, mengaku sudah lama menjadi tukang becak di Kota Semarang.

Menurutnya, program bantuan nasi gratis itu cukup membantunya. Lantaran, jumlah penumpang merosot drastis setelah adanya wabah Corona.

“Blas (sama sekali) belum dapat tarikan ini. Apalagi sejak ada ramai virus (Corona). Biasanya bisa tiga empat kali nganter, ini belum ada sama sekali,” tuturnya, seusai mengambil nasi kotak di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (1/4/2020).

Baca juga : Ojol Semarang Dapat Jatah Nasi Kotak Selama Dua Pekan

Ia mengaku, dalam kondisi normal, sehari bisa mengantongi uang hingga Rp 70 ribu. Namun kini, pendapatannya semakin tak menentu.

Biasanya, dari pangkalannya di kawasan Simpang Lima, ia bisa mengantar orang ke tujuan wisata. Namun, kondisinya kini berbeda. “Sekali nganter 25 ribu. Nah kalau ini blong-blongan,” keluhnya.

Hal serupa diungkapkan oleh Mulyadi (70). Ia mengaku sejak pagi belum mendapatkan konsumen. Maka dari itu ia memilih untuk antre mengikuti program bagi-bagi nasi. “Kalau gak dibantu ya tidak makan. Wong sekarang Masyaallah sepi,” paparnya.

Kakek asal Pangandaran, Jawa Barat itu bilang, tahu program tersebut dari kawannya. “Serupiah pun dereng angsal, nek mboten diparingi sekul rung madhang (sepeser pun belum dapat, kalau tidak dikasih nasi belum makan),” kata Mulyadi.

Baca juga : Agar Dapur Tetap Ngebul, Agus Merantau ke Kudus Operasikan Combine

Lain lagi dengan seorang pemulung bernama Tarminah (49). Ia mengaku nasi yang diperolehnya untuk bekal makan siang.

“Ngertine nggih Saka tukang becak niku, terus kula mriki (saya tahunya dari pengayuh becak, di gubernuran ada pembagian nasi),” katanya.

Tarminah mengaku bersyukur bisa memeroleh pembagian nasi gratis. Menurutnya, hal ini bisa sedikit meringankan bebannya.

Perlu diketahui, program pembagian nasi oleh Pemprov Jateng telah berlangsung selama dua hari. Ada ribuan nasi kotak yang dibagikan.

Baca juga : Ganjar Siap Laksanakan Darurat Sipil untuk Pembatasan Sosial

Kepala Biro Umum Setda Provinsi Jawa Tengah Edy Supriyanta menyebut, untuk hari Selasa ada 1.500 nasi bungkus yang dibagikan. Bantuan ini ditujukan, untuk merespon kondisi warga tidak mampu yang terdampak wabah virus Corona.

Mereka yang bekerja sebagai tukang ojek, ataupun penarik becak dan warga tak mampu lainnya. Adapun, program ini rencananya akan berlangsung hingga dua pekan ke depan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

BUMD Jateng Donasikan Ribuan Masker dan Hand Sanitizer

0
Ganjar Pranowo menerima secara simbolik dari Dirut PT Sarana Patra Hulu Cepu (SPHC) Muhammad Iqbal di Puri Gedeh Semarang, Rabu (1/4/2020) siang. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menerima donasi puluhan ribu masker dan ribuan liter cairan pembersih tangan (hand sanitizer) dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jawa Tengah. Hal itu sebagai bentuk kepedulian sosial dalam penanganan Covid-19.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menerima secara simbolik dari Dirut PT Sarana Patra Hulu Cepu (SPHC) Muhammad Iqbal di Puri Gedeh Semarang, Rabu (1/4/2020) siang. Setidaknya, ada 1.850 liter hand sanitizer dan 20 ribu masker yang disumbangkan.

Muhammad Iqbal menyampaikan, BUMD Jateng peduli dengan wabah virus Corona. Karena itu, BUMD berupaya berkontribusi dengan mendonasikan cairan pembersih tangan dan masker. Pihaknya juga telah menentukan titik pembuatan tandon air, beserta hand sanitizer, khususnya di daerah pasar yang berpotensi menjadi titik penyebaran wabah virus.

“Termasuk daerah perumahan, alun-alun. Kami ada 11 BUMD di Jateng, termasuk perbankan dan nonperbankan. Kami sangat full support untuk beserta berperan aktif dalam memutus mata rantai Covid-19,” ujar Iqbal.

Baca juga : Risau Ada Penolakan Pemakaman Jenazah Covid-19, Ganjar : ‘Mereka Bukan Musuh’

Sejauh ini, pihaknya telah menyerahkan bantuan dengan total Rp 415 juta, dan akan ditambah lagi. Yakni berupa tandon air dan cairan pembersih tangan di pasar tradisional, dan titik keramaian lainnya.

Direktur PT PRPP Jawa Tengah Titah Listorini menambahkan, masing-masing BUMD telah melakukan gerak kepedulian seperti menyerahkan bantuan nasi kepada pengojek daring (online), wastafel, dan lainnya. “Selain kami bergerak sendiri, juga mengumpulkan donasi menjadi satu,” kata Titah.

Sementara itu, Ganjar Pranowo mengapresiasi langkah masyarakat, yang semakin hari kian serentak melakuka gerak sosial.

“Sebetulnya kita tidak perlu khawatir-khawatir amat, karena masyarakat semua bergerak. Sekarang Perpu sudah turun, PP sudah turun, Perpres sudah turun, kita perbaiki semuanya,” kata Ganjar di sela-sela penyerahan bantuan tersebut.

Baca juga : Bahaya untuk Kesehatan, Ganjar : ‘Stop Penyemprotran Disinfektan Terhadap Orang’

Termasuk sisi ekonomi dan sisi sosial juga diperhatikan. Seperti dengan adanya bantuan tersebut yang datang dari perbankan, BUMD, hingga anak perusahaannya. Mereka bergerak melakukan gerak sosial.

“Mereka peduli kok, mereka bisa membantu kok. Mudah-mudahan bagian dari gerak sosial dan kepekaan masyarakat, kepekaan para perusahaan daerah ini terhadap kondisi masyarakat kita. Mudah-mudahan ini bagian yang bisa kita pakai untuk nantinya membantu masyarakat terus menerus. Termasuk nanti logistiknya juga,” katanya.

Disinggung bagaimana dengan kondisi kebutuhan rumah sakit di Jateng sampai sekarang, Ganjar menuturkan, pihaknya terus menjaganya. Pemerintah provinsi intens komunikasi dengan pemerintah pusat. Dengan harapan tidak ada kekosongan. Karena akan berpengaruh pada pelayanan.

Baca juga : Ganjar Siap Laksanakan Darurat Sipil untuk Pembatasan Sosial

“Maka terus menerus mereka laporkan, dan kita dorong peralatannya. Kami terima kasih karena kelompok masyarakat makin kreatif membuat sendiri dan sebagainya. Jadi yang keluar rumah harus pakai masker. Karena jarak dekat bisa menyemprot dan berbahaya semuanya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Risau Ada Penolakan Pemakaman Jenazah Covid-19, Ganjar : ‘Mereka Bukan Musuh’

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta masyarakat tidak melakukan aksi penolakan pemakaman jenazah warga positif covid-19, demi menghargai perasaan keluarga. Ini disampaikan, lantaran gerakan tersebut mulai terjadi di beberapa wilayah.

Gubernur dua periode itu risau dengan berita penolakan pemakaman. Sehingga, dia memohon dan meminta tolong agar kejadian serupa tidak terulang lagi.

“Tolong, tolong betul saya meminta. Jangan ada lagi penolakan terhadap jenazah yang dinyatakan positif corona. Mari kita jaga perasaan korban dan keluarganya,” pinta Ganjar saat dikonfirmasi di rumahnya, Rabu (1/4/2020).

Baca juga : Bahaya untuk Kesehatan, Ganjar : ‘Stop Penyemprotran Disinfektan Terhadap Orang’

Dirinya menegaskan, pemakaman jenazah Covid-19 yang sudah sesuai prosedur pemakaman tidak akan menimbulkan penularan. Fakta ini didapatkan setelah bertanya ke sejumlah pakar kesehatan.

“Kalau sudah dilakukan sesuai prosedur, jenazah sudah dibungkus dan dikubur, itu tidak apa-apa. Virusnya ikut mati di sana. Yang penting jangan ikut melayat,” tegasnya.

Stigmatisasi dan penolakan itu, lanjut Ganjar, pasti akan menyakitkan keluarga korban. Apalagi, sudah ada beberapa korban yang tidak diterima dimana-mana. Aksi dari masyarakat ini justru semakin membuat keluarga terpukul. Lantaran, mereka yang kehilangan orang tercinta itu tidak boleh mendekat dan melihat wajahnya.

Baca juga : Ganjar Siap Laksanakan Darurat Sipil untuk Pembatasan Sosial

“Jagalah perasaan mereka, kita harus merasakan sakitnya seperti apa mereka saat ini. Mereka sudah sangat sakit dengan kondisi ini, tolong jangan ditambah lagi perasaan sakitnya mereka. Mari kita berikan dukungan dan semangat bersama-sama,” imbau Ganjar.

Maka dari itu, Ganjar memohon pada masyarakat untuk tidak melakukan penolakan. Sebab, pemerintah telah memiliki standar protokol kesehatan menyangkut virus tersebut.

“Kasihan mereka, mereka itu bukan musuh kita. Justru mereka butuh dukungan. Ingat lho, sudah banyak yang sembuh dari penyakit ini,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Agar Dapur Tetap Ngebul, Agus Merantau ke Kudus Operasikan Combine

0
Agus saat istirahat usai mengoperasikan mesin combi. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan burung warna hitam tampak beterbangan mengikuti laju mesin pemanen padi atau combine harvester. Di atas combine bagian samping terlihat dua pria memegangi karung yang sudah berisi padi setengahnya. Sedangkan di kemudi mesin tersebut, tampak pria mengenakan kaca mata hitam dan bertopi begitu cekatan menjalankan armadanya. Pria tersebut yakni Agus Saputra (40) operator mesin combine yang berasal dari Lampung.

Telihat mesin combine tersebut mondar – mandir memangkas padi seluas 1.300 meter persegi. Sekitar 30 menit, semua padi yang ada sudah terpanen semua. Setelah usai memanen, mesin combine pun menepi dan operatornya istirahat sejenak. Di sela istirahat itulah, pria yang akrab disapa Agus sudi berbagi kisah tentang pekerjannya tersebut.

“Saya menjadi opertor mesin pemanen padi itu sejak 2013. Biasanya saya mengoperasikan combine di kampung halaman saya yaitu Lampung. Karena di sana tidak kebagian armada, saya pun harus rela merantau ke Kudus,” ungkapnya kepada betanews.id.

Baca juga : Sri Rejeki Embroidery Bertahan Puluhan Tahun dengan Bordir Manual

Pria yang sudah dikaruniai tiga orang putra itu mengatakan, tidak punya pekerjaan lain selain menjadi operator combine. Oleh karena itu, sejak mengetahui tidak kebagian armada, dia mengaku sempat bingung. Beruntungnya tidak lama ada tawaran pekerjaan mengoperasikan combine di Kudus.

“Tidak pikir dua kali, tawaran itu langsung saya terima. merantau ke Kudus itu harus saya pilih demi nafkahi anak dan istri. Soalnya kalau tidak merantau ke Kudus bisa jadi saya nganggur. Lebih baik terpisah sama keluarga sementara waktu yang penting dapur tetap ngebul,” ujarnya.

Agus mengaku, sudah dua pekan mengoperasikan mesin pemanen padi di Kudus, tepatnya di Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan. Menurutnya, butuh sekitar dua pekan lagi untuk memanen habis seluruh padi di wilayah Undaan.

“Setelah panen di Undaan habis, nanti tergantung dari pemilik mesin combine. Kalau armadanya dikirim ke wilayah yang sedang masa panen, saya juga siap mengoperasikannya,” terangnya.

Dia menuturkan, dengan mesin combine yang dikemudikannya itu dirinya bisa menyelesaikan panen padi seluas dua bahu sehari. Sedangkan upahnya dihitung secara borong. Menurutnya, upah borong memanen padi satu bahu Rp 350 ribu, jadi sehari Agus bisa menerima Rp 700 ribu.

Baca juga : Tengkulak Lebih Pilih Padi yang Dipanen dengan Mesin Modern

“Total uang itu harus saya bagi bertiga. Soalnya saya bekerja tidak sendirian tapi dibantu dua orang kenek. Sedangkan makan dan rokok biasanya sudah disediakan para petani yang menggunakan jasa kami,” ungkapnya.

Bekerja mengoperasikan combine tuturnya, bukan tanpa kendala. Saat hujan turun, aktivitas memanen padi dengan combine tidak bisa dibisa dilakukan. Karena hasilnya akan mengecewakan. Padi akan banyak yang terbuang karena menggumpal bersama daun serta batang padi.

“Kalau hujan turun berarti penghasilan kami berkurang. Begitu juga jika mesin combine bermasalah. Saya sih selalu berdoa agar pekerjaan saya selalu lancar dan jangan hujan dulu,” harap Agus yang diamini kedua temannya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Bahaya untuk Kesehatan, Ganjar : ‘Stop Penyemprotran Disinfektan Terhadap Orang’

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Penyemprotan cairan disinfektan terhadap orang, diminta untuk tidak lagi dilakukan. Sebab, hal itu sangat berbahaya dan dapat berakibat pada Kesehatan. Hal itu ditegaskan langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Dirinya masih banyak melihat di desa-desa, penyemprotan seperti itu masih dilakukan.Untuk itu, sekali lagi dia meminta penyemprotan disinfektan terhadap orang untuk dihentikan. Apalagi, penyemprotan dilakukan tanpa ada pelindung diri.

Menurutnya, penyemprotan cairan disinfektan kepada manusia, akan berdampak buruk bagi kesehatan. Apabila cairan itu masuk ke hidung kemudian ke paru-paru, maka akan menimbulkan sejumlah penyakit di masa yang akan datang.

Baca juga : Pulang Merantau, Warga Gondangmanis Diharuskan Lewati Bilik Sterilisasi

“Tolong kalau bisa hindari penyemprotan itu. Kalau memang harus dilakukan, semprotlah di benda-benda mati yang sering dipakai nongkrong atau sering dipegang,” kata Ganjar Pranowo di rumah dinasnya, Selasa (31/3/2020).

Penyemprotan di benda mati itupun lanjut Ganjar juga tidak boleh dilakukan sembarangan. Bahan-bahan yang digunakan untuk menyemprot, harus sesuai standar yang ada.

“Komposisinya harus dikonsultasikan dengan ahli, jangan sampai asal-asalan dan jangan sampai terhirup,” tambahnya.

Apabila dilakukan penyemprotan ruangan, maka ruangan tersebut harus didiamkan selama kurang lebih empat jam. Selama itu, ruangan tidak boleh dimasuki.

“Tunggu sampai empat jam, baru bisa masuk kembali. Itu cukup untuk menetralisir dan menghindari sesuatu yang tidak diinginkan,” terangnya.

Baca juga : Perangi Covid-19, Rumah Warga Ketitang Wetang Kembali Disemprot Disinfektan

Selain itu, Ganjar juga mengimbau masyarakat untuk sering menggunakan masker. Siapapun yang keluar rumah, wajib memakai masker demi melindungi diri dan sekitarnya.

“Kalau terpaksa keluar rumah, tolong pakai masker. Kalau masker sulit dan harganya mahal, tolong buat sendiri pakai kain dan tengahnya dilapisi tisu. Yang penting semua yang keluar rumah harus pakai masker untuk saling melindungi. Saya doakan semuanya sehat terus,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Tengkulak Lebih Pilih Padi yang Dipanen dengan Mesin Modern

0
Petani di Undaan menggunakan combi untuk memanen padi mereka. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara mesin combine harvester terdengar menderu di antara hamparan padi menguning di Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Mesin berwarna kombinasi merah dan putih itu terlihat mondar- mandir memangkas padi yang memang sudah siap dipanen. Di atas jalan samping sawah tersebut, terlihat pria mengenakan topi cokelat sedang menghitung karung yang sudah terisi padi. Pria tersebut yakni Samsi yang memilih memanen padinya dengan mesin modern.

Setelah menghitung sak yang berisi padi, Samsi sudi memberi penjelasan tentang pilihannya tersebut. Dia mengungkapkan, lebih memilih memanen padinya dengan combine karena hasilnya yang lebih bersih. Proses memanennya juga lebih cepat. Soalnya kalau tidak menggunakan mesin tersebut, padi yang dipanen terancam tidak laku dijual.

“Para bakul padi sekarang itu pilih – pilih. Yang diprioritaskan itu padi yang dipanen menggunakan combine. Kalau tidak memakai combine mereka tidak mau beli. Kalau pun mau beli, harganya sangat murah,” ungkap Samsi kepada betanews.id.

Baca juga : Dianggap Bisnis Tak Bergengsi, Kini Usaha Terasi Selok Jaya Omzetnya Capai Ratusan Juta Sebulan

Pria yang tercatat sebagai warga Undaan Tengah Gang 5, Kecamatan Undaan, Kudus itu mengatakan, alasan para bakul itu, padi yang dipanen tidak menggunakan combine hasilnya itu masih kotor. Karena padi yang berisi masih bercampur dengan sekam atau pun padi gabuk. Mereka diharuskan pintar memprediksi berat bersih padi satu karung jika padi tak berisi itu terpisah.

“Salah prediksi para bakul bisa rugi. Mereka tidak mau ambil risiko, dan lebih memilih padi yang dipanen dengan combine. Itu belum kalau padi kehujanan bisa benar gak laku dijual. Padi yang dipanen dengan combine saja kalau kehujanan para bakul enggan membeli. Apalagi yang dipanen dengan cara lain,” ungkap Samsi.

Dia mengaku pada masa tanam pertama dirinya menanam padi ketan sebanyak satu hektare. Tapi sawah miliknya itu terpisah antara sawah satu dan sawah lainnya. Sehingga proses panennya tidak bisa satu hari, karena waktu tanamnya juga selisih hari.

Baca juga : Televisi LED Paling Diburu Pembeli di Toko Barang Bekas Putra Kudus

“Ini sawah terakhir yang dipanen. Luasnya sekitar 1.300 meter persegi, hasil panennya sekitar satu ton. Kalau harga sudah jadi sama bakul satu kwintal padi dihargai Rp 550 ribu,” jelasnya.

Menurutnya, hasil panennya yang dibeli bakul nanti masih dipotong ongkos combine sebesar Rp 400 ribu untuk luas sawah satu bakon tersebut. Dirinya juga masih memberi sarapan untuk tiga operator combine serta rokok tiga bungkus.

“Meski begitu itu masih lebih hemat jika dibandingkan memanen padi dengan cara lain. Soalnya memanen padi dengan cara lain bayarnya itu per kwintal dan jumlah orang yang memanen juga banyak,” ungkap Samsi.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar Siap Laksanakan Darurat Sipil untuk Pembatasan Sosial

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan siap melaksanakan darurat sipil di wilayahnya. Pihaknya sudah membuat protokol untuk pelaksanaan pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar tersebut.

Ganjar mengatakan, protokol yang dibuat dengan pertimbangan aspek ekonomi dan sosial. Sebagai komando tertinggi di Jawa Tengah, pihaknya sudah memerintahkan bupati dan walikota untuk menghitung seberapa besar sumber daya yang ada di wilayahnya masing-masing.

Baca juga: Ganjar Minta Jakarta Segera Diisolasi, ‘Kami Siap Openi Warga Jateng di Sana’

“Saya sudah memerintahkan agar dihitung dari kecamatan hingga ke desa. Ada berapa toko logistik, bank, rumah sakit, suplai air bersih dan lain sebagainya. Jika ini sudah dilakukan, semua akan bisa dikelola dengan baik,” ujar Ganjar, Selasa (31/3/2020).

Sebetulnya isolasi di tingkat desa sudah dilakukan, kata Ganjar. Satpol PP hingga Linmas, bekerjasama dengan TNI/Polri telah digerakkan untuk memberikan edukasi terhadap masyarakat.

Baca juga: Jokowi ke Gubernur: Tirulah Jateng, Anggarkan Warga Terdampak Corona!

“Namun, model isolasi dengan menggerakkan Polisi Corona itu tetap mengedepankan aspek sosial, kultur, dan psikologi masyarakat,” ujar Ganjar.

Ganjar menuturkan, pemberlakuan darurat sipil yang kemudian diteken menjadi Peraturan Presiden, merupakan langkah yang harus ditempuh pemerintah. Jika kebijakan untuk membatasi jarak tidak berjalan efektif, hal itu memang perlu dilakukan.

Baca juga: 1,8 Juta Warga Jateng Akan Terima BLT, Anggaran Rp 1,4 T Sudah Disiapkan

“Ketika melihat sebuah kebijakan tidak bisa efektif untuk dilaksanakan, memang harus ada perbaikannya. Kalau dilihat grafik perkembangannya naik terus, ada satu kejadian outbreaks, ya memang harus dibuat tindakan” tegasnya.

Ganjar berharap masyarakat tidak perlu khawatir terhadap pemberlakukan pembatasan sosial berskala besar. Karena inti dari pemberlakukan darurat publik tersebut yakni pemberlakuan social distancing.

Baca juga: Teruntuk Perantau, Ganjar : ‘Tolong Jangan Mudik Dulu’

“Apasih prinsipnya dari aturan itu? Ya jaga jarak. Saya tambahi, setiap masyarakat yang keluar rumah harus pakai masker, dengan cara itu maka bisa melindungi,” ucapnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Ramayana Kudus Tutup Sementara Mulai 31 Maret

0
Dampak dari virus corona, untuk sementara Ramayana Kudus ditutup. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan orang terlihat menutup barang-barang yang ada di Mall Ramayana Kudus, Selasa (31/3/2020) pagi. Seorang pria memegang mic tampak memberi arahan kepada puluhan pegawai di sana. Dia adalah Moch Aly Mas’ad (46), Manajer Ramayana Kudus.

Pria yang akrab disapa Mas’ad itu menyampaikan kepada betanews.id tentang penutupan sementara Ramayan Kudus. Hal tersebut demi menghindari penyebaran Virus Covid-19, dan sesuai imbauan pemerintah yang melarang adanya kerumunan warga.

“Tempat perbelanjaan seperti ini kan bisa dikatakan rawan penyebaran Virus Corona. Kami juga ingin menjaga kesehatan karyawan, jadi untuk sementara kami tutup. Selama di rumah, karyawan tidak boleh keluar kecuali ada keperluan penting,” terang Warga Semarang, Jawa Tengah itu.

Baca juga : Sepi Peziarah, Pedagang di Kawasan Menara Kudus Sambat Omzet Turun Drastis

Mas’ad juga mengungkapkan, semenjak maraknya Virus Covid-19, Ramayana Kudus mengalami penurunan omzet sekitar 50 hingga 60 persen. Dia berharap, situasi seperti ini tidak berkepanjangan dan semua bisa kembali normal.

“Saya berharap segera teratasi dan kembali aman. Penutupan mulai 31 Maret hingga 17 April 2020, tetapi bisa maju atau mudur, kondisional menyesuaikan situasi. Selama tutup nanti, akan tetap ada piket karyawan yang jaga,” jelasnya.

Sementara itu, seorang pria berkacamata yang ikut membantu menutup barang di sana juga menambahkan, selama ditutup, sales tetap akan berjualan secara online. Penjualan dilakukan melalui media sosial sales masing-masing.

Baca juga : Produksi Dupa di Kudus Terdampak Corona

Menurut pria bernama Dicky Wira Raharja (23), hal tersebut dilakukan demi memenuhi kebutuhan konsumen yang ingin berbelanja di sana. “Karyawan merupakan aset kami, jadi ini juga demi menjaga kesehatan karyawan. Konsumen juga tetap bisa berbelanja melalui IG kami di @ramayanarb28kudus,” pungkas Supervisor Ramayana itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ojol Semarang Dapat Jatah Nasi Kotak Selama Dua Pekan

0
Pembagian nasi kotak kepada pengemudi ojek online di Semarang. Foto : Istimewa

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pembatasan aktivitas masyarakat akibat adanya wabah virus corona berdampak terhadap lesunya perekonomian, termasuk ojek online. (ojol). Sebab, dengan adanya pembatan aktivitas, membuat orderan terhadap ojol juga minim.

Hal ini juga dirasakan oleh ojol di Kota Semarang. Meski sepi order, namun mereka tetap nekat bekerja di tengah maraknya wabah virus corona. Pendapatan mereka pun menurun drastis dari hari normal.

Pengemudi ojek online di Semarang dapat jatah nasi kotak dari Pemprov Jateng. Foto : Ist

Kondisi inilah yang melatarbelakangi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk memberikan bantuan nasi kotak (bungkus) secara gratis kepada ojol. Giat sosial itu rencananya akan berlangsung selama dua pekan.

Baca juga : Ganjar Minta Jakarta Segera Diisolasi, ‘Kami Siap Openi Warga Jateng di Sana’

Untuk hari ini, Selasa (31/3/2020) ada seribu nasi kotak diberikan langsung kepada ojol yang masih bekerja di lapangan. Titik pengambilan di depan gerbang Kantor Pemprov Jateng, yang dimulai sejak pukul 11.00 WIB. Dalam waktu 30 menit, 1.000 nasi kotak tersebut sudah habis.

Kepala Biro Umum Setda Provinsi Jawa Tengah Edy Supriyanta menyampaikan, bahwa bantuan tersebut merupakan inisiatif Pemprov Jateng dan Gubernur Ganjar Pranowo.

“Hari ini ada sekitar seribu nasi kotak yang di berikan kepada para ojek online, karena terdampak adanya virus corona,” katanya.

Pemberian bantuan nasi kotak, ucapnya, akan dilakukan selama dua pekan ke depan. “Iya, ini akan dilakukan selama dua pekan ke depan. Hari ini 1.000, besok rencananya ada 1.500 nasi kotak. Mengenai anggaran dari APBD dan bantuan PNS,” ucapnya.

Sementara itu, Sugeng, salah satu pengemudi ojek online di Kota Semarang mengaku jika bantuan tersebut cukup untuk mengurangi beban para tukang ojek online. Karena, saat ini orderan sepi.

Baca juga : Jokowi ke Gubernur: Tirulah Jateng, Anggarkan Warga Terdampak Corona!

“Orderan mulai sepi sejak akhir Januari dan terus menurun hingga Maret. Bahkan, saya bekerja dengan rasa was-was oleh ancaman virus yang berasal dari Wuhan, China itu. Apalagi kalau dapat orderan di rumah sakit, bandara, stasiun. Ya, selalu pakai masker. Kalau tidak kerja bagaimana, nggak dapat uang,” lanjutnya.

Trisnoto, ojol lain juga mengeluhkan pendapatannya yang menurun drastis. Dari hari normal bisa mencapai 17 orderan per harinya. Kini, ia paling banyak menerima order 5 kali per hari.”Wah, sepi. Hanya lima kali order per hari. Kalau hari normal biasanya bisa sampai 17 kali,” keluhnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ini Bahan Antiseptik Racikan Hartatik yang Dipakai di Bilik Sterilisasi

0
Hartatik saat buat disinfektan dan hand sanitizer. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang perempuan berjilbab mengenakan masker terlihat menghampiri sejumlah orang yang menunggu Bilik Sterilisasi di Dukuh Kadilangon RT 03 RW 08, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Perempuan itu meminta untuk disemprot tangannya dengan hand sanitizer. Dia tak lain adalah Hartatik (36), satu di antara sejumlah penggagas Bilik Sterilisasi bagi warga yang pulang dari merantau.

Setelah disemprot tangannya, kemudian dia duduk dan berbagi cerita kepada betanews.id tentang upaya pencegahan Virus Covid-19 di dukuhnya itu. Hartatik membuat antiseptik dari bahan yang bisa diterima tubuh untuk Bilik Sterilisasi itu. Menurutnya, disinfektan dengan bahan kimia yang digunakan untuk menyemprot benda mati belum tentu bisa diterima tubuh.

“Antiseptik yang kami gunakan untuk menyemprot tubuh terbuat dari sabun cair yang dicampur dengan air daun sirih dan jeruk nipis. Karena daun sirih mengandung etanol yang membunuh bakteri. Jadi kami usahakan aman untuk tubuh,” ungkap BPD Dukuh Kadilangon, sekaligus donatur Bilik Sterilisasi itu, Senin (30/3/2020).

Baca juga : Pulang Merantau, Warga Gondangmanis Diharuskan Lewati Bilik Sterilisasi

Sebelum membuat Bilik Sterilisasi, Hartatik sudah membuat hand sanitizer untuk dibagikan warga secara gratis. Dia membuat hand sanitizer dari bahan alami, yaitu dari campuran jeruk nipis dan daun sirih. Dia juga menjelaskan secara rinci cara membuat hand sanitizer dan antiseptik yang digunakan untuk menyemprot badan.

Untuk hand sanitizer menggunakan bahan dari daun sirih 50 gram, air jeruk nipis 8 mililiter dengan air 200 mili. Masukkan daun sirih yang sudah dipotong kecil, rebus dengan api kecil selama 30 menit. Kemudian campur dengan air jeruk nipis.

“Setelah itu campur air biasa hingga tidak berwarna, dan hand sanitizer siap digunakan. Bahan yang digunakan penyemprotan di Bilik Sterilisasi bahannya sama, tetapi ditambah sabun cair 1:1000. Jadi satu liter cukup satu sendok sabun cair, karena lebih aman digunakan untuk badan,” tambahnya.

Baca juga : Perangi Covid-19, Rumah Warga Ketitang Wetang Kembali Disemprot Disinfektan

Hartatik juga menambahkan, jika desinfektan biasanya digunakan untuk benda mati. Karena itu dirinya mengantisipasi dengan membuat cairan untuk disemprotkan warga yang mudik setelah merantau. Warga juga dianjurkan setelah sampai rumah tetap mandi dan ganti baju.

“Sedangkan untuk membuat disinfektan, kita gunakan bahan baycline, karbol, so klin lantai. Takarannya, Satu liter air dicampur dengan dua sendok baycline, dua sendok karbol dan empat sendok so klin lantai,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pulang Merantau, Warga Gondangmanis Diharuskan Lewati Bilik Sterilisasi

0
Warga yang baru saja pulang dari merantau harus masuk ke bilik sterilisasi yang dibuat warga Desa Gondangmanis. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah bilik dari plastik tampak di depan rumah warga di Dukuh Kadilangon RT 03 RW 08, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Bilik deng tulisan ‘Jelek bentuknya, fungsinya luar biasa’ itu terlihat dijaga sejumlah orang. Satu di antaranya yakni Munandar (45), selaku Ketua RW 08. Dia menceritakan kepada betanews.id tentang bilik sterilisasi itu.

Munandar menjelaskan, bahwa bilik tersebut disediakan bagi warga yang pulang merantau demi mencegah penyebaran Virus Covid-19. Sebelum pulang ke rumah, seluruh warga yang pulang dari merantau harus ke bilik itu untuk disterilkan sebelum bertemu keluarga.

“Dibuat hari Sabtu, 28 Maret ini dan hari Minggunya sudah bisa digunakan. Saat ini sudah ada 31 orang yang kami sterilkan. Semua gratis, biaya ditanggung oleh Ibu Hartatik selaku BPD,” jelasnya, Senin (30/3/2020).

Baca juga : Perangi Covid-19, Rumah Warga Ketitang Wetang Kembali Disemprot Disinfektan

Dia juga menambahkan, membuat bilik tersebut dikarenakan banyaknya warga Dukuh Kadilangon yang merantau. Sekitar 80 persen, kepala keluarga di sana bekerja merantau. Selain itu, kebanyakan mereka merantau ke Jakarta yang dinyatakan sebagai zona merah Virus Covid-19.

“Selain Ibu Hartatik, kegiatan ini juga di dukung Bapak Maskuri selaku Kadus dan Bapak Mustadi selaku BPD. Warga, khususnya para pemuda juga sangat antusias mendukung. Di dukuh sini ada 3 RW dengan 14 RT. Semua warga antusias, yang pulang merantau juga dengan senang hati kemari,” ungkapnya.

Baca juga : Sederet Kisah Perjuangan Dua Warga Jateng yang Sembuh dari Covid-19

Di bilik sterilisasi itu, menyediakan 10 liter disinfektan untuk menyeterilkan warga yang pulang merantau. Dari 31 orang yang disterilkan, sudah menghabiskan sekitar 8 liter disinfektan.

“Sementara kami membuat 10 liter, tetapi bahan yang kami sediakan masih banyak. Jadi kalau hampir habis kami akan membuat lagi. Bahannya sudah siap jadi tinggal mencampur saja,” tambahnya.

Tak lama setelah memberi penjelasan, terlihat seorang pria mengenakan topi dengan tas ransel dipunggungnya datang. Dia adalah Jodi Saputro (20), warga yang baru pulang dari merantau. Sejumlah orang di sana langsung mengarahkan pria yang akrab disapa Jodi itu untuk masuk ke bilik.

Setelah disemprot seluruh badannya, barang yang dia bawa juga disemprot dengan disinfektan. Jodi mengaku senang dan tidak keberata setelah pulang langsung disterilkan. Karena hal tersebut demi kebaikan bersama.

Baca juga : Teruntuk Perantau, Ganjar : ‘Tolong Jangan Mudik Dulu’

“Saya sudah merasa lega karena ini tadi semua sidah disemprot. Setelah ini saya disuruh pulang dan mandi dengan air hangat. Semua dibersihkan untuk antisipasi,” terang warga Dukuh Kadilangon RT 01 RW 08, yang pulang dari Tangerang itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar Minta Jakarta Segera Diisolasi, ‘Kami Siap Openi Warga Jateng di Sana’

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Jokowi. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta wilayah zona merah, khususnya Jabodetabek segera diisolasi. Usulan tersebut untuk mencegah penyebaran Covid-19 ke wilayah lain, termasuk Jateng. Dirinya siap ngopeni warganya yang berada di sana, jika wilayah-wilayah tersebut diisolasi.

Dia menjelaskan, ngopeni warganya di wilayah Jabodetabek yang dimaksud, yakni memberikan jaminan makanan, biaya kesehatan dan jaminan sosial. Kebijakan itu ditempuh karena pihaknya menyadari sebagai tanggung jawab Pemprov Jateng.

Baca juga: Teruntuk Perantau, Ganjar : ‘Tolong Jangan Mudik Dulu’

“Sudahlah, demi kesehatan kita kunci (isolasi wilayah). Yuk kita iuran jika itu memberatkan. Jika warga tidak mudik maka masing-masing provinsi harus mau ngopeni warganya,” ujar Ganjar, Minggu (23/3/2020).

Ganjar mengungkapkan, saat ini lebih dari 100 ribu warga Jateng telah pulang kampung. Mereka paling banyak pulang dari wilayah Jabodetabek. Padahal wilayah-wilayah tersebut telah ditetapkan sebagai zona merah kasus penyebaran Covid-19.

Baca juga: Jokowi ke Gubernur: Tirulah Jateng, Anggarkan Warga Terdampak Corona!

“Mereka ada yang pulang ke Wonogiri, Jepara, Purbalingga dan Jepara. Dengan melihat ini kami usulkan agar wilayah-wilayah zona merah tadi diisolasi. Tapi kami mengerti risikonya bagaimana, ya harus dikelola,” tuturnya.

Untuk mengatasi penyebaran virus corona di Jateng, Ganjar menyebut telah menganggarkan dana sebesar Rp 1,4 triliun. Anggaran yang disiapkan tersebut sebagai dana Pandemic Respon. Kalkulasi angka itu rencananya akan digunakan untuk jaring pengaman sosial dan ekonomi, termasuk menjamin kehidupan warga jateng yang “terjebak” di wilayah zona merah.

Baca juga: 1,8 Juta Warga Jateng Akan Terima BLT, Anggaran Rp 1,4 T Sudah Disiapkan

Dalam waktu dekat, katanya, Pemerintah Pusat akan membuat aturan terkait isolasi wilayah. Aturan itu sebagai landasan kebijakan pemerintah daerah dalam mengambil keputusan penanganan Covid-19.

“Ya kita (pemerintah daerah) harus bijak menggunakan kewenangan. Kalau ada kebijakan harus lapor ke pusat. Kami terus berkomunikasi intens dengan Pemerintah Pusat, termasuk penyelamatan aspek sosial dan ekonomi,” tegasnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Keberadaan WKG Diharapkan Bisa Tingkatkan Jumlah Peziarah ke Makam Kiai Gulang

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Setiap Minggu pagi, sekitar pukul 05.00 sampai dengan 09.00 WIB, pemandangan berbeda dapat dilihat sepanjang pematang sawah Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Tepatnya arah menuju Makam Kiai Gulang. Ketika sudah sampai di sekitar area persawahan kiri jalan dari arah Desa Loram Wetan, ada sebuah keramaian yang merupakan Wisata Kiai Gulang (WKG). WKG sendiri merupakan nama pasar seminggu sekali menyuguhkan aneka makanan tradisonal.

“Di sini memang yang kami unggulkan ya makanan tradisionalnya. Istilahnya, ciri khas dari wisatanya adalah makanan tempo dulu. Ya awalnya karena kami pikir kok daerah Loram Kulon belum punya ciri khas. Akhirnya kami membentuk pengelola untuk membuat wisata di sini. Nah jadilah ide dan diaplikasikan menjadi pasar seminggu sekali ini,” papar Maria Ulfah (37) sebagai salah satu pengelola kepada betanews.id, Minggu (15/3/2020).

Perempuan berjilbab biru yang duduk di antara dua pengelola lain bernama Eri Santoso (45), M Sarno (48) menceritakan beberapa rencana lain yang akan segera dikembangkan untuk melengkapi fasilitas wisata.

Baca juga : Tak Harus Nunggu Ketika Rajab, Kuliner Sego Iriban Bakal Bisa Dinikmati Setiap Hari

“Nanti kita juga ingin ada museum mainan tempo dulu, tapi masih dalam konsep. Kalau yang mengelola memang kami, dari Desa Loram Kulon yang kemudian membentuk Paguyuban Pengelola WKG. Selain itu, sebenarnya tujuan utama ya karena ada Makam Mbah Kyai Gulang. Biar makamnya ramai, jadi ini salah satu upaya kami. Siapa tahu dengan wisata ini makam beliau tidak sepi. Menghargai sesepuh,” papar dia.

Sejauh ini, Ulfah menambahkan, bahwa penjual memang diutamakan dari masyarakat Loram Kulon. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa dari warga desa lain ikut serta meramaikan sebagai penjual di sana. Sedangkan untuk pendaftaran, cukup ke pengelola lalu dicatat. Bahkan, hingga saat ini sudah sekitar 70 pedagang dengan berbagai olahan makanan.

Baca juga : Nih Ada Tempat yang Asyik Sediakan Aneka Makanan Tempo Dulu

“Untuk pedagang, diutamakan warga Loram Kulon, tapi ya kalau ada dari luar desa boleh. Buat daftar tinggal bilang ke pengelola, nanti kami catat. Nggak ada klasifikasi khusus untuk jualan. Yang penting harga jangan mahal-mahal. Karena yang beli ya kita-kita sendiri,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Nih Ada Tempat yang Asyik Sediakan Aneka Makanan Tempo Dulu

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Pagi itu, sekitar area persawahan Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus tampak cukup ramai. Beberapa orang berlalu lalang menapaki jalanan setapak berukuran sekitar 1,5 meter yang membelah beberapa petak sawah nan hijau. Sepanjang jalan itu, terlihat pula beberapa bendera berwarna biru muda,kuning, putih serta instalasi-instalasi dari bambu di kanan kirinya. Sedangkan tepat di depan jalan, terdapat gapura bambu bertuliskan WKG atau Wisata Kyai Gulang.

Ketika akan masuk, pertama kali kami memarkir motor di penitipan kendaraan seberang gapura masuk. Kemudian salah satu petugas berkaos biru memberikan sebuah kartu karcis penitipan seharga Rp 2 ribu. Setelah itu, kami melangkah masuk ke area wisata tanpa ada karcis lagi. Di sana, tidak hanya pemandangan sawah dengan angin sepoi-sepoi nan sejuk yang dapat dijumpai. Akan tetapi, juga beraneka macam makanan tradisional serta barang-barang lain yang persis seperti pasar mini.

Seorang pengunjung berkaus polo pink yang sebelumnya duduk-duduk santai di salah satu instalasi bambu kemudian bercerita. Ialah Titik Mulyani (50), warga Getas yang datang bersama temannya untuk mencari sarapan di WKG. Titik mengatakan, bahwa hari itu, memang sengaja mampir ke WKG untuk membeli makanan tradisional seusai latihan senam.

Baca juga : Sambal Ontong Penyet Ida Laris Manis di Pasar Kuliner Jadul, Satu Jam 240 Porsi Terjual

“Tiap hari Minggu kan kami senam. Terus kali ini kebetulan sengaja mampir ke sini. Sarapan, cari makanan tradisional. Pepes besusul, nasi aking, buntil. Itu kan di luar jarang ada. Padahal ini sudah agak siang, tapi memang suasananya enak. Nyaman. Selain itu, harganya juga murah. Dengan kisaran harga Rp 3 ribu, punya uang mepet pun masih bisa jajan. Penjualnya juga ramah-ramah,” papar Titik kepada betanews.id, Minggu (15/3/2020).

Perempuan nyentrik berkaca mata ungu tersebut juga mengatakan, bahwa WKG yang dibuka dari pukul 05.30 sampai dengan 09.00 WIB tiap hari Minggu, biasanya ramai pengunjung pada pagi hari. Meskipun begitu, sambil makan kerupuk dan sesekali tertawa ia mengatakan, bahwa suasana sawah yang asri membuat para pengunjung seperti dirinya betah untuk berlama-lama.

Setelah bertanya kepada pengunjung, tim betanews.id selanjutnya menghampiri salah satu penjual yang belum menutup lapaknya. Murtafi’ah (46), perempuan berjilbab merah tua yang duduk lesehan di atas tikar bersama anak lelakinya, hari itu berjualan ketan srondeng, mutiara, dan tahu fantasi. Kemudian bercerita awal mula keikutsertaannya menjadi salah satu penjual.

Baca juga : Tak Harus Nunggu Ketika Rajab, Kuliner Sego Iriban Bakal Bisa Dinikmati Setiap Hari

“Jadi sejak pembukaan pada bulan November 2019 lalu, pada Minggu ke dua saya ikut berjualan. Ya jualan makanan kayak gini, ketan srondeng, mutiara, kadang tahu fantasi yang tengahnya ada telur puyuhnya. Awalnya ya tinggal daftar ke pengelola. Terus boleh jualan. Nggak ada syarat lain, pokoknya tradisional. Tapi memang para pengunjung yang banyak dicari nasi aking, tiwul. Ya tapi jualan saya tetep laku, alhamdulilah,” papar dia.

Dengan harga rata-rata Rp 3 ribu, ternyata tak cuma makanan yang dijual di sana. Beberapa pedagang menawarkan produk lain dari ikan hias sampai pakaian. Bahkan, jika pengunjung ingin berswafoto ria, di sebelah ujung jalan disediakan instalasi tempat duduk tempo dulu beserta televisi model kuno sebagai background. Tak hanya itu, permainan anak seperti odong-odong dan kereta mini yang biasanya disajikan di pasar malam pun ikut andil membuka lapak untuk hiburan anak-anak.

Editor : Kholistiono

- advertisement -