Produksi Dupa di Kudus Terdampak Corona

BETANEWS. ID, KUDUS – Aroma dupa tercium di sebuah ruangan berukuran 4,5 x 3 meter di Desa Loram Kulon, RT 01 RW 02, Kecamatan Jati, Kudus. Di dalam ruangan tersebut, terlihat seorang pria berkacamata sedang membungkus dupa. Dia adalah Samuel Hidayat (29), pemilik S.A HIO 168.

Sambil membungkus dupa, Semmy begitu dia akrab disapa, berbagi cerita kepada betanews.id tentang usahanya itu. Karena bahan membuat dupa dia impor dari Cina, adanya virus Corona membuatnya tidak bisa membeli bahan baku.

“Saya ambil bahan baku dari Cina. Adanya virus Corona jelas berpengaruh dalam bisnis saya. Sementara ini saya cuma bisa menghabiskan stok bahan yang ada, mungkin bertahan satu hingga dua bulan ke depan,” ungkapnya, Rabu (18/3/2020).

-Advertisement-

Baca juga : Sepi Peziarah, Pedagang di Kawasan Menara Kudus Sambat Omzet Turun Drastis

Saat ini, stok bahan baku S.A HIO 168 ada di Jakarta. Menurutnya, lokasi di Kudus belum mampu menampung banyak bahan. Semmy juga menambahkan, jika dia bekerja sama dengan produsen di Surabaya. Dia mengirim bahan baku ke Surabaya, kemudian proses pemberian aroma dan pengemasannya di Kudus.

“Saya menyiapkan sejumlah aroma sesuai permintaan konsumen. Ada aroma bunga melati, cendana, cempaka, mawar, dan racikan sendiri namanya Maharaja. Untuk aroma gaharu memang dari aroma kayunya asli,” jelasnya.

Dia menyediakan beberapa jenis ukuran dupa, di antaranya 39 cm, 42cm dan 48cm. Harga dupa per satu kilogram ukuran 39 cm Rp 42 ribu, 42 cm Rp 51 ribu dan 48 cm isi 10 batang harganya Rp 45 ribu.

Baca juga : Virus Corona Merebak, PO Haryanto Kandangkan Armada

“Awal pemasaran dulu ditolak-tolak, sekarang sudah banyak yang pesan. Penjualan sudah hampir seluruh wilayah Indonesia. Saya jual secara online dan langsung menawarkan ke Klenteng. Omzet dalam sebulan kurang lebih Rp 40 hingga Rp 50 juta,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER